
Bersamamu
Aku mengenal dikau
Tak cukup lama…separuh usia ku
Namun begitu banyak..pelajaran
Yang aku terima
Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud Harmony…
Aku memandang wajahnya yang cool dengan perasaan jengkel.
“Ini nggak adil bos!”.
Delta tak berkata apapun, hanya mengangsurkan selembar amplop.
“Aku dipecat?”.
“Iqra’...”, bisiknya parau. Aku meraih amplop itu dengan jengkel dan membaca KOP nya. Mutasi. Sudah kuduga, aku membayangkan lembah Borneo yang penuh Anaconda dan Lembah Baliem yang dikelilingi muara penuh buaya. Bagus! Paling tidak aku bisa berburu gratis di hutan nanti.
“Apa kau tidak bisa berpakaian lebih baik lagi kalau menghadap pimpinan seperti ini?”, gumam Delta. Ya Tuhan! Menikah sudah membuat otaknya meleleh rupanya, biasanya dia tidak memperdulikan penampilanku. Aku menyukai jeans belel yang sobek di sana sini dan kaos distro BlackSide ku yang suram. Aku menggaruk rambutku yang sudah nggak nyium aer seminggu, penampilan ini cocok untuk anak jalanan dan ini membuatku nyaman. Perduli amat dengan penampilan, toh aku baru bertugas dan tiga hari ini aku tidak tidur.
Kubaca dengan malas surat mutasiku.
“Dimutasikan di....what the HELL HERE?”.
Aku melotot ke arah Delta. “I can’t do that!”, teriakku kalap.
Delta berdiri mewaspadai gerakanku, dia tahu karakterku dan aku tak pernah luput menembak satu kalipun!
“Hanya kau yang cocok dengan tugas ini Snik”.
“Kenapa? Kenapa?”.
“Karena kau satu-satunya perempuan yang bisa kami andalkan di divisi ini”.
“Kenapa bukan Erleen atau Naura?”.
“Erleen terlalu glamour dan dia blasteran Prancis, nggak ada yang bakal percaya dia bisa jadi guru yang sopan dan terhormat, Naura, istriku sedang hamil 6 bulan, dia istirahat total di rumah dan ..... ya Tuhan! Wajahmu begitu polos, itu salah satu modalmu, Krusnik...”.
Aku terbahak-bahak.
“Jadi, aku akan mengajar di sekolah preman atau sekolah anak nakal? Jadi guru Kewarganegaraan? Begitu bos? Krusnik 02... bisakah kau bikin skenario yang agak bagus sedikit bos?”.
Delta nyengir. “Sudah kubilang Snik, Iqra’...bacalah!”.
Aku mencermati surat di genggamanku.
Sedetik, dua detik, tiga...
“Whoa!!! Al-Azhar?, nggak salah neh? Itu kan Sekolah paling bagus di kota ini, anaknya alim dan pintar-pintar, semua bibit pilihan, mereka bahkan tinggal di asrama pondok, yang benar saja, masa ada gembong narkoba di sini yang harus diselidiki?”.
Delta dengan acuh menjawab,
“Kamulfase, Krusnik 02...sasaran kita adalah SMK Harapan Kita, banyak anak pemakai di sana, tapi jika kamu langsung aku terjunkan di sana, akan mencurigakan, jadi kamu akan mengajar, untungnya bukan Kewarganegaraan karena kelakuanmu juga nggak begitu baik di divisi ini, kamu ngajar Komputer, itu keahlianmu...tapi ingat, bukan bikin virus atau jebolin data perusahaan, kamu nggak boleh ngeHack apapun”.
“Jadi, ntar anak-anak gue ajarin apaan boz?”.
“Kami sudah persiapkan Silabus dan RPP yang bisa kamu pelajari nanti...pokoknya perincian tugas kamu di Al-Azhar sudah kami siapkan, kamu tinggal mengajar dan mengawasi gerak-gerik target di SMK HK, setiap dua minggu sekali ada rapat antar guru komputer antar SMK dan kamu bisa gali info atau apapun dari sana, hati-hatilah, nggak tertutup kemungkinan di tempat sekelas Al-Azhar disusupi mafia narkoba ini”.
Aku mengerdikkan bahu,
“Kayaknya nggak terlalu buruk, aku hanya ngajar komputer kan? Aku nggak perlu ikutan pengajian di pondoklah, doa-doa bareng mereka....well, aku nyamar jadi Ustadz ney?”.
Delta melempar sebuah ransel hitam ke arahku.
“Buka aja”.
Aku membuka ritsleting ransel itu.
“OMG! Ini nggak mungkin!”.
Aku memandang nanar baju seragam guru itu dengan mual.
“Aaaaa...nggak mau!”.
“Di sana wajib pakai seragam itu dan dari batik sampai baju olahraga ada jilbabnya untuk guru putri, jangan lupa, sepatu cewek! Nggak boleh pakai sepatu kets!”.
Aku menepuk dahiku.
“Boz, kirim aku ke Afghanistan....Palestina atau manapun...Kutub Utara juga boleh”.
“Maaf, perintah nggak bisa diganggu gugat, atau kau dipecat! Satu hal lagi..Ya Kau memang jadi Ustadzah disana, ya kau akan belajar Al-Qur’an, kau akan tinggal di pondok dan ikut pengajian!”.
Mampuslah aku!
---
Don't want to think about it
Don't want to talk about it
I'm just so sick about it
Can't believe it's ending this way
Just so confused about it
Feeling the blues about it
I just can't do without you
Tell me is this fair?
Aku memandangi komplek small city education itu melalui Google Map di ¬¬¬-Smartphoneku, menghafalkan letak SMK AL-Azhar dengan seksama, di komplek ini tersedia sekolah dari bangku PAUD sampai Kuliahan. PAUD AL-Azhar sampai Al-Azhar University. Segala jurusan bahkan Digital Forensik yang mendatangkan dosen dari MIT!. Kunyalakan GPS dan menghafal jalan ke SMK Al-Azhar II, tempat aku akan bertugas sekarang. Dengan sepatu cewek yang baru kali ini kupakai seumur hidupku, jilbab lumayan lebar dan membuatku ngeri melihat bagaimana keadaan wajahku sekarang, aku bersumpah nggak akan bercermin untuk sementara waktu...aku menuju ke SMK Al-Azhar II.
Sekolah ini cukup luas, untungnya aku datang tepat setelah anak-anak sudah masuk kelas sehingga dengan tenang aku bisa mencari ruang kepala sekolah. Setelah dipersilahkan masuk oleh pak satpam yang lumayan ganteng, lalu masuk ke ruang Tata usaha untuk mengisi biodata, aku dipersilahkan masuk menemui bapak Kepala Sekolah. Tipikal kepala sekolah yang berwibawa, agak gemuk tapi bahasanya agak jadul, beliau memeriksa kualifikasiku yang (selain nilai mata kuliah) semuanya sudah dipalsukan oleh Xnuxer, ahli dokumentasi (dan pemalsuan dokumen) divisi kami.
“Nilai anda lumayan bagus, lulusan Universitas yang bagus, sayang sangat mahal ya bu kuliah di sana?”.
“Tidak juga pak”.
“Hmm...setelah membaca referensi anda dan kebetulan kami memang mendesak membutuhkan guru Komputer, karena guru komputer di sini hanya tujuh orang, kami membutuhkan seorang lagi menggantikan posisi bapak Ramadhan Dwi Putra yang sekarang kuliah S2 di Jerman untuk mengajar anak-anak kelas I dan II, anda mulai besok sudah bisa masuk untuk mengajar, masalah jam dan jadwal, silahkan menghubungi Kurikulum kami, nanti temui saja staf TU dan tanyakan dimana pak Artha Nugraha”.
“Ya pak”. (Boz Delta menyuruhku hanya berkata Ya, tidak, dan kata singkat lain agar wawancara ini nggak kacau)
Hanya butuh sepuluh menit bicara dengan pak Artha dan menyesuaikan schedule jadwal, aku keluar dan bersiap pulang. Saat keluar dari kantor waka Kurikulum, sekilas kudengar seseorang berteriak, latihan bertahun-tahun membuatku reflek terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarku, diantara kertas yang bertebaran dari balkon, aku menangkap dua buku tebal yang terjatuh hampir kena kepalaku. Alchemy dan Aljabar.
Aku memandang ke atas...diantara kertas yang jatuh betebaran seperti bulu sayap malaikat.
Seraut wajah menawan terlihat bagai kilasan-kilasan.
Dia cantik.
Seperti lukisan Lord Gabrielle. Dia memandangku dari balkon di atas sana dengan cantiknya, aku jadi teringat kisah Romeo, saat pertama memandang Juliet dari balkon...
Aku tidak tahu dia berkata apa dari balkon, saat tersadar dia sudah tidak ada di sana lagi, aku mengerjapkan mata.
“Itu tadi...apa?”, gumamku.
“Maaf...maaf...”, aku mendengar suara sehalus beledru.....
Aku menoleh dan melihat wajah itu, dia...cantik!
Dengan rambut agak ikal, pandangan mata lembut bagai anak rusa, hidung mancung, gigi putih berbaris rapi....jenggot tipis khas ustadz pondok....
Jantungku berdetak kencang!!!
“Anda baik-baik saja?”, dia bertanya sambil memandangku cemas. Andai dia tahu, aku sudah sering diberondong Uzi dan revolver tapi aku masih tegak berdiri sampai hari ini.
“I’m Ok! Don’t worry about that...”, aku mengangsurkan buku ditanganku yang kuyakin adalah miliknya.
“Jazakumullahu...ukhti, anda?”.
“A...saya Krus...ehm! Aurya Nikita Kanaya, panggil aja Naya...saya guru komputer yang baru”, aku mengangsurkan tangan hendak menyalaminya.
Dia menyelipkan kedua buku itu di lengannya dan menangkupkan kedua tangan sambil berkata, “Saya Rayhanu Khanzacky, guru Kimia dan Aljabar, well, nice to meet you”.
“Nice to meet you too Mr...Khanza?”.
“Rayhan, anak-anak memanggil saya pak Ray, hanya di rumah saya dipanggil...emm...Khanza”.
“Boleh saya panggil Khanza..ehm, pak Khanza aja? Lebih bagus....”, tawarku. Iyalah! Kalau denger Ray di pikiran kita pasti inget yang Tinggi, Besar, berotot dan berkumis silang kayak instruktur menembakku di kantor! Kalau Khanza kan imut bangetz!
Dia mengerdikkan bahu...”Yaaa....tidak masalah...”.
Lalu dia melihat di sekeliling kami dengan pandangan ngeri.
“Masya Allah”, jeritnya sambil memegangi kedua pipinya (imut banget gak seeeh?!!)
“Itu kan kertas ulangan Aljabar anak-anak kelas A....karena saya tergesa-gesa mau masuk kelas D mengajar Alchemy, malah terpeleset dan kertasnya bertebaran deh....”.
Dia berjongkok dan mengumpulkan kertas-kertas itu. Aku jadi ngerasa jadi aktor utama film Bollywod jaman-jaman Inspektur Vijay vs Tuan Takur jaman aku SD dulu. Si cowok nabrak si cewek, lalu buku-bukunya jatuh en mereka berdua memunguti buku-buku lalu kenalan deh!
Kubantu si imut itu mengumpulkan kertas-kertas ulangan, untung lapangan di bawah balkon ini sudah di paving block mengkilap, jadinya kertas nggak terlalu kotor!.
“Ini pak kertas ulangannya”, aku mengangusrkan bagianku.
Oh God! Dia tersenyum manis sekali, sampai matanya kelihatan sipit....imuuuuuuttt!!!
“Jazakumullahu ukhti...”.
“I...iya, sama-sama.....”.
“Baiklah, saya mau mengajar kelas D dulu, sampai jumpa lagi....”.
Aku hanya mengangguk kayak orang bego dan membiarkan Khanza berlalu.

