Selasa, 30 Maret 2010


Bersamamu
Aku mengenal dikau
Tak cukup lama…separuh usia ku
Namun begitu banyak..pelajaran
Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud Harmony…

Aku memandang wajahnya yang cool dengan perasaan jengkel.
“Ini nggak adil bos!”.
Delta tak berkata apapun, hanya mengangsurkan selembar amplop.
“Aku dipecat?”.
“Iqra’...”, bisiknya parau. Aku meraih amplop itu dengan jengkel dan membaca KOP nya. Mutasi. Sudah kuduga, aku membayangkan lembah Borneo yang penuh Anaconda dan Lembah Baliem yang dikelilingi muara penuh buaya. Bagus! Paling tidak aku bisa berburu gratis di hutan nanti.
“Apa kau tidak bisa berpakaian lebih baik lagi kalau menghadap pimpinan seperti ini?”, gumam Delta. Ya Tuhan! Menikah sudah membuat otaknya meleleh rupanya, biasanya dia tidak memperdulikan penampilanku. Aku menyukai jeans belel yang sobek di sana sini dan kaos distro BlackSide ku yang suram. Aku menggaruk rambutku yang sudah nggak nyium aer seminggu, penampilan ini cocok untuk anak jalanan dan ini membuatku nyaman. Perduli amat dengan penampilan, toh aku baru bertugas dan tiga hari ini aku tidak tidur.
Kubaca dengan malas surat mutasiku.
“Dimutasikan di....what the HELL HERE?”.
Aku melotot ke arah Delta. “I can’t do that!”, teriakku kalap.
Delta berdiri mewaspadai gerakanku, dia tahu karakterku dan aku tak pernah luput menembak satu kalipun!
“Hanya kau yang cocok dengan tugas ini Snik”.
“Kenapa? Kenapa?”.
“Karena kau satu-satunya perempuan yang bisa kami andalkan di divisi ini”.
“Kenapa bukan Erleen atau Naura?”.
“Erleen terlalu glamour dan dia blasteran Prancis, nggak ada yang bakal percaya dia bisa jadi guru yang sopan dan terhormat, Naura, istriku sedang hamil 6 bulan, dia istirahat total di rumah dan ..... ya Tuhan! Wajahmu begitu polos, itu salah satu modalmu, Krusnik...”.
Aku terbahak-bahak.
“Jadi, aku akan mengajar di sekolah preman atau sekolah anak nakal? Jadi guru Kewarganegaraan? Begitu bos? Krusnik 02... bisakah kau bikin skenario yang agak bagus sedikit bos?”.
Delta nyengir. “Sudah kubilang Snik, Iqra’...bacalah!”.
Aku mencermati surat di genggamanku.
Sedetik, dua detik, tiga...
“Whoa!!! Al-Azhar?, nggak salah neh? Itu kan Sekolah paling bagus di kota ini, anaknya alim dan pintar-pintar, semua bibit pilihan, mereka bahkan tinggal di asrama pondok, yang benar saja, masa ada gembong narkoba di sini yang harus diselidiki?”.
Delta dengan acuh menjawab,
“Kamulfase, Krusnik 02...sasaran kita adalah SMK Harapan Kita, banyak anak pemakai di sana, tapi jika kamu langsung aku terjunkan di sana, akan mencurigakan, jadi kamu akan mengajar, untungnya bukan Kewarganegaraan karena kelakuanmu juga nggak begitu baik di divisi ini, kamu ngajar Komputer, itu keahlianmu...tapi ingat, bukan bikin virus atau jebolin data perusahaan, kamu nggak boleh ngeHack apapun”.
“Jadi, ntar anak-anak gue ajarin apaan boz?”.
“Kami sudah persiapkan Silabus dan RPP yang bisa kamu pelajari nanti...pokoknya perincian tugas kamu di Al-Azhar sudah kami siapkan, kamu tinggal mengajar dan mengawasi gerak-gerik target di SMK HK, setiap dua minggu sekali ada rapat antar guru komputer antar SMK dan kamu bisa gali info atau apapun dari sana, hati-hatilah, nggak tertutup kemungkinan di tempat sekelas Al-Azhar disusupi mafia narkoba ini”.
Aku mengerdikkan bahu,
“Kayaknya nggak terlalu buruk, aku hanya ngajar komputer kan? Aku nggak perlu ikutan pengajian di pondoklah, doa-doa bareng mereka....well, aku nyamar jadi Ustadz ney?”.
Delta melempar sebuah ransel hitam ke arahku.
“Buka aja”.
Aku membuka ritsleting ransel itu.
“OMG! Ini nggak mungkin!”.
Aku memandang nanar baju seragam guru itu dengan mual.
“Aaaaa...nggak mau!”.
“Di sana wajib pakai seragam itu dan dari batik sampai baju olahraga ada jilbabnya untuk guru putri, jangan lupa, sepatu cewek! Nggak boleh pakai sepatu kets!”.
Aku menepuk dahiku.
“Boz, kirim aku ke Afghanistan....Palestina atau manapun...Kutub Utara juga boleh”.
“Maaf, perintah nggak bisa diganggu gugat, atau kau dipecat! Satu hal lagi..Ya Kau memang jadi Ustadzah disana, ya kau akan belajar Al-Qur’an, kau akan tinggal di pondok dan ikut pengajian!”.
Mampuslah aku!
---
Don't want to think about it
Don't want to talk about it
I'm just so sick about it
Can't believe it's ending this way
Just so confused about it
Feeling the blues about it
I just can't do without you
Tell me is this fair?

Aku memandangi komplek small city education itu melalui Google Map di ¬¬¬-Smartphoneku, menghafalkan letak SMK AL-Azhar dengan seksama, di komplek ini tersedia sekolah dari bangku PAUD sampai Kuliahan. PAUD AL-Azhar sampai Al-Azhar University. Segala jurusan bahkan Digital Forensik yang mendatangkan dosen dari MIT!. Kunyalakan GPS dan menghafal jalan ke SMK Al-Azhar II, tempat aku akan bertugas sekarang. Dengan sepatu cewek yang baru kali ini kupakai seumur hidupku, jilbab lumayan lebar dan membuatku ngeri melihat bagaimana keadaan wajahku sekarang, aku bersumpah nggak akan bercermin untuk sementara waktu...aku menuju ke SMK Al-Azhar II.
Sekolah ini cukup luas, untungnya aku datang tepat setelah anak-anak sudah masuk kelas sehingga dengan tenang aku bisa mencari ruang kepala sekolah. Setelah dipersilahkan masuk oleh pak satpam yang lumayan ganteng, lalu masuk ke ruang Tata usaha untuk mengisi biodata, aku dipersilahkan masuk menemui bapak Kepala Sekolah. Tipikal kepala sekolah yang berwibawa, agak gemuk tapi bahasanya agak jadul, beliau memeriksa kualifikasiku yang (selain nilai mata kuliah) semuanya sudah dipalsukan oleh Xnuxer, ahli dokumentasi (dan pemalsuan dokumen) divisi kami.
“Nilai anda lumayan bagus, lulusan Universitas yang bagus, sayang sangat mahal ya bu kuliah di sana?”.
“Tidak juga pak”.
“Hmm...setelah membaca referensi anda dan kebetulan kami memang mendesak membutuhkan guru Komputer, karena guru komputer di sini hanya tujuh orang, kami membutuhkan seorang lagi menggantikan posisi bapak Ramadhan Dwi Putra yang sekarang kuliah S2 di Jerman untuk mengajar anak-anak kelas I dan II, anda mulai besok sudah bisa masuk untuk mengajar, masalah jam dan jadwal, silahkan menghubungi Kurikulum kami, nanti temui saja staf TU dan tanyakan dimana pak Artha Nugraha”.
“Ya pak”. (Boz Delta menyuruhku hanya berkata Ya, tidak, dan kata singkat lain agar wawancara ini nggak kacau)
Hanya butuh sepuluh menit bicara dengan pak Artha dan menyesuaikan schedule jadwal, aku keluar dan bersiap pulang. Saat keluar dari kantor waka Kurikulum, sekilas kudengar seseorang berteriak, latihan bertahun-tahun membuatku reflek terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarku, diantara kertas yang bertebaran dari balkon, aku menangkap dua buku tebal yang terjatuh hampir kena kepalaku. Alchemy dan Aljabar.
Aku memandang ke atas...diantara kertas yang jatuh betebaran seperti bulu sayap malaikat.
Seraut wajah menawan terlihat bagai kilasan-kilasan.
Dia cantik.
Seperti lukisan Lord Gabrielle. Dia memandangku dari balkon di atas sana dengan cantiknya, aku jadi teringat kisah Romeo, saat pertama memandang Juliet dari balkon...
Aku tidak tahu dia berkata apa dari balkon, saat tersadar dia sudah tidak ada di sana lagi, aku mengerjapkan mata.
“Itu tadi...apa?”, gumamku.
“Maaf...maaf...”, aku mendengar suara sehalus beledru.....
Aku menoleh dan melihat wajah itu, dia...cantik!
Dengan rambut agak ikal, pandangan mata lembut bagai anak rusa, hidung mancung, gigi putih berbaris rapi....jenggot tipis khas ustadz pondok....
Jantungku berdetak kencang!!!
“Anda baik-baik saja?”, dia bertanya sambil memandangku cemas. Andai dia tahu, aku sudah sering diberondong Uzi dan revolver tapi aku masih tegak berdiri sampai hari ini.
“I’m Ok! Don’t worry about that...”, aku mengangsurkan buku ditanganku yang kuyakin adalah miliknya.
“Jazakumullahu...ukhti, anda?”.
“A...saya Krus...ehm! Aurya Nikita Kanaya, panggil aja Naya...saya guru komputer yang baru”, aku mengangsurkan tangan hendak menyalaminya.
Dia menyelipkan kedua buku itu di lengannya dan menangkupkan kedua tangan sambil berkata, “Saya Rayhanu Khanzacky, guru Kimia dan Aljabar, well, nice to meet you”.
“Nice to meet you too Mr...Khanza?”.
“Rayhan, anak-anak memanggil saya pak Ray, hanya di rumah saya dipanggil...emm...Khanza”.
“Boleh saya panggil Khanza..ehm, pak Khanza aja? Lebih bagus....”, tawarku. Iyalah! Kalau denger Ray di pikiran kita pasti inget yang Tinggi, Besar, berotot dan berkumis silang kayak instruktur menembakku di kantor! Kalau Khanza kan imut bangetz!
Dia mengerdikkan bahu...”Yaaa....tidak masalah...”.
Lalu dia melihat di sekeliling kami dengan pandangan ngeri.
“Masya Allah”, jeritnya sambil memegangi kedua pipinya (imut banget gak seeeh?!!)
“Itu kan kertas ulangan Aljabar anak-anak kelas A....karena saya tergesa-gesa mau masuk kelas D mengajar Alchemy, malah terpeleset dan kertasnya bertebaran deh....”.
Dia berjongkok dan mengumpulkan kertas-kertas itu. Aku jadi ngerasa jadi aktor utama film Bollywod jaman-jaman Inspektur Vijay vs Tuan Takur jaman aku SD dulu. Si cowok nabrak si cewek, lalu buku-bukunya jatuh en mereka berdua memunguti buku-buku lalu kenalan deh!
Kubantu si imut itu mengumpulkan kertas-kertas ulangan, untung lapangan di bawah balkon ini sudah di paving block mengkilap, jadinya kertas nggak terlalu kotor!.
“Ini pak kertas ulangannya”, aku mengangusrkan bagianku.
Oh God! Dia tersenyum manis sekali, sampai matanya kelihatan sipit....imuuuuuuttt!!!
“Jazakumullahu ukhti...”.
“I...iya, sama-sama.....”.
“Baiklah, saya mau mengajar kelas D dulu, sampai jumpa lagi....”.
Aku hanya mengangguk kayak orang bego dan membiarkan Khanza berlalu.

Selasa, 16 Maret 2010

Saat ArYa Patah Hati


Saat Arya patah hati
Aku memang tak berhati besar, untuk memahami, hatimu di sana
Aku memang tak berlapang dada, untuk menyadari, kau bukan milikku lagi
Dengar, dengarkan aku, aku akan bertahan sampai kapanpun
Maafkan aku yang tak sempurna tuk dirimu
Usailah sudah kisah yang tak sempurna tuk kita...kenang...

Arya memandang potongan kertas yang baru saja dia print dari warnet, isinya padat dan singkat. Tapi jelas. Tapi entah kenapa, dia nggak kaget, jawaban yang bakal diterimanya pasti seperti ini. Dia dan Dania sudah lama bersahabat, tapi, selama ini Arya suka sama Dania, dia nggak lagi bisa bohong sama diri sendiri. Sudah bertahun-tahun mereka menjalani hubungan layaknya sahabat, tapi bagi Arya, hubungan ini terasa menyesakkan. Dania menganggapnya sahabat, sedangkan dia mencintai Dania, gimana nih?. Akhirnya Arya nekat menyatakan perasaannya, tentu saja bukan tanpa pengorbanan. Resiko terbesar adalah kehilangan Dania, untuk selamanya. Dan ternyata perkiraannya benar, Dania hanya menganggapnya sahabat, tak lebih, padahal sahabat adalah sahabat, tidak boleh ada cinta dalam persahabatan, atau persahabatan itu akan rusak.
Arya jadi ingat kata-kata Willy. “Bro, kalau hubungan kalian adalah persahabatan sementara lo memendam rasa, itu namanya penghianatan atas persahabatan itu sendiri”.
Mungkin Willy benar, dan kalau ini yang harus terjadi, Arya menerima segala konsekuensinya, toh dia sudah bertanya pada Tuhan, apa yang terbaik, dalam mimpinya, dia melihat dirinya menulis surat berwarna merah jambu, dan itulah yang dia lakukan, dia sudah melakukan bagiannya, seandainya Tuhan menentukan lain, inilah jawabannya. Tapi, kalau dipikir-pikir, Dania memang terlalu sempurna untuknya
“Semoga elo mendapat seseorang yang lo inginkan Dania, memang berat buat ngelupain elo, mungkin butuh sepuluh atau duapuluh tahun, tapi, gue rasa gue harus tetap berjalan”.
Tiba-tiba lagunya Peterpan mengalun, “Terus melangkah, melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu, jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan, perlahan mimpi terasa mengganggu, ku coba untuk terus menjauh, perlahan hatiku terbelenggu, ku coba untuk lanjutkan hidup, engkau bukanlah segalaku...bukan tempat tuk hentikan langkahku, usai sudah, semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu...”.
“Try to forget you? Huh?”, Arya mengacungkan jempolnya pada I-Bram, pemilik warnet. “Gue cabut dulu, bro...ngomong2...lagu yang lo stel timingnya tepat!”, I-Bram hanya tersenyum kecil menanggapi ulah Arya.
Wajah Arya tampak mendung, keadaannya terbalik dengan langit Yogya yang begitu cerah. Dilihatnya awan kecil putih di langit...
”Dania, andai lo bilang satu kata :Menunggu...itu udah cukup, tapi kalau semua memang harus dihentikan, gue akan berhenti...gue enggak bisa jadi orang munafik, selama ini lo anggap gue sahabat, tapi gue adalah penghianat, karena gue nggak pernah anggap lo sahabat, gue pergi Dania, dan semoga lo bahagia...”. Arya mencoba tersenyum dan melangkah. Mo pulang ke kost malas, detik begitu menjemukan di kala hati resah. Mo ke angkringan? Lagi nggak selera, kayaknya perutnya merasa mual dan menolak makanan kesukaannya :Nasi Kucing.
Kakinya berjalan nggak tentu arah. Mo ke utara atau ke selatan, terserahlah, ngikut aja ke mana angin berhembus.
“Kompas gue lagi rusak ya...”, Arya nyengir. Setelah menenangkan diri sejenak di masjid dan shalat Ashar, kakinya kembali melangkah. Tahu-tahu dia nyampai Jalan Solo, terus melangkah menuju bundaran Gramedia, menyapa kumpulan anak-anak Punk yang asyik kumpul di sana.
“Mo ke mana, Ar?”, tanya Donny, anak ATA (Akademi Arsitektur) yang juga wakil anak-anak punk itu.
“Main...”, jawab Arya asal. Dilihatnya juga Radja sedang asyik main gitar. Kayaknya asyik kalau nongkrong bareng mereka, ah tapi...Arya lebih memilih membuang resah dengan meneruskan jalannya. Heran, kakinya enggak merasa capek, saat dilihatnya Tugu, monumen ciri khas Yogyakarta berada di depannya.
“Sudah berapa lama kau berdiri di sana? berapa lama kau menanti?”. Arya menghela nafas. Gempa beberapa tahun lalu memporak-porandakan berbagai bangunan besar, tapi tugu kecil ini, retak aja enggak.
“Hebat lo, gue bisa tangguh kayak elo kagak ya?”, seperti orang gila, cowok itu cengar-cengir di depan tugu, lalu menyebrang jalan menyusuri Jalan Mangkubumi. Beberapa kupu-kupu malam mulai keluar, menyapa malam. Seharusnya mereka sudah punah, tapi satu-dua masih terlihat di sini...tempat yang dulunya terkenal sebagai Pasar kembangnya Yogya. Hati Arya mulai dag-dig-dug saat melewati rombongan banci. Entah kenapa, dia paling geli sama banci. Beberapa banci mulai meliriknya, Arya mempercepat langkah kakinya.
Pedagang souvenir sepanjang Jalan Malioboro mulai membenahi dagangannya, digantikan penjual makanan. Ada banyak makanan khas yang ditawarkan di sini. Arya terus berjalan, menyusuri halaman depan pasar Bringharjo, melewati taman kota dan sampailah di bangku pojok depan benteng Vre De Burg. Kayaknya kaki sudah lumayan capek. Apalagi kaki kirinya pernah cedera, denyut yang dikenalnya mulai menyerang. Arya cepat-cepat meluruskan kakinya. Suasana mulai gelap, lampu kota satu-per satu menyala, Arya memandang takjub. Ternyata suasana sore hari di depan Monumen Supersemar bisa demikian indah. Beberapa anak jalanan mulai beraksi, ada juga tukang sulap dan pedagang kaki lima yang turut meramaikan suasana. Terdengar lagu “Seandainya”,The Titans mengalun pelan. Arya memejamkan mata.
“The last song...”, pikirnya.
“Mas...mas...”, tiba-tiba dua orang anak kecil berpakaian kumal berada di depannya.
“Ya?”.
“Mo request lagu nggak?”.
“Request?”.
“Iya...”, jawab bocah yang berbaju merah kumal.
“Cuman seribu kok mas...”.
“Busyet, mahal amat...”.
“Request dong mas...”, bujuk bocah yang berbaju biru. Arya nyengir.
“Gimana kalau 11 Januarinya Gigi?”.
Kedua bocah itu bengong. “Lagu apaan tuh mas?”.
“Lagunya Gigi Band...katanya disuruh request, harusnya kalian apal lagu-lagu paling Top dong...”. kedua anak itu malah saling pandang. Arya tertawa.
“Boleh pinjam gitarnya?”, si baju merah menyerahkan gitar acak adut yang stem-nya juga acak adut, pasti nih gitar cuman asal bunyi doang.
“Gila nih gitar...cool abis...”, Arya mencoba beberapa nada, lalu nyanyi,
“Sebelas januari bertemu...menjalani kisah cinta ini...Pernah ku menyakiti hatimu, pernah kau melupakan janji ini Semua karena kita ini manusia...”, nggak terasa lagunya selesai.
“Lho, kok jadi gue yang nyanyi”.
“Suara mas, bagus kok”, puji si baju merah.
“Gue kagak butuh receh”, jawab Arya.
“Tapi kita butuh receh, mas...”. Arya mengernyit.
“Baiklah, kalian bisa nyanyi lagu apa?”. “Stasiun balapan, Jablai...Kucing Garong...”,
“Halah...Stop...stop...ya udah, stadion apa tadi?”.
“Stasiun Balapan...”,
“Iya, itu aja...”. dan dengan suara acak adut, kedua bocah yang kira-kira kelas empat SD itu beraksi. Yang pake baju biru nge-gitar, yang merah nyanyi.
“Ing stasiun Balapan, kota Solo sing dadi kenangan, kowe karo Asuuuu...”, bocah yang pakai baju biru langsung nginjek kaki bocah berbaju merah.
“Bukan Asu, tapi aku...”.
“Gitu tho?”, Arya bengong melihat kedua bocah itu.
“Udah, udah...cukup...gue sudah nggak minat”.
“Mas...bayar dong...”.
“Nggak, gue nggak bakalan ngasih uang sama elo-elo pada...”.
“Tapi mas...”. Arya memandang kedua bocah itu.
“Kalau uang, ntar dipalak, gimana kalau gue traktir kalian gudeg, mau nggak?”. Kedua bocah itu gantian bengong.
“Mau kagak?...”. Arya melangkah...tak lama kedua pengamen kecil itu mengikuti di belakangnya.
Mereka berkenalan sambil menunggu pesanan datang. Si baju merah bernama Syarief, yang baju biru Fajar.
“Lagi jadian po Mas, kok malah traktiran...”, tanya Syarief.
“Alaaaa...elo bocah kemaren sore tahu apa soal jadian...”, Arya nyengir.
“Gila, orang gue baru Broken, ditolak cewek, malah makan-makan...halah!”, pikirnya.
Tak lama pesanan datang, dipandangnya kedua bocah yang makan dengan lahap di hadapannya. Selera makan Arya jadi timbul.
“Elo pada, kayak nggak pernah makan gudeg aja...pelan aja makannya”. Fajar mencomot paha ayam di piringnya.
“Kita harus kembali kerja, mas, kalau nggak nyetor, berabe...”. Arya tercenung. Masya Allah, hari ini dia merasa, Allah memberinya cobaan, tapi lihatlah, anak-anak ini...mereka berjuang untuk hidup...beban mereka ratusan kali lebih berat. Mereka tak hanya menghadapi kerasnya jalanan, ada juga tukang palak dan preman jalanan yang lebih berkuasa, menghadang mereka. Belum lagi masalah penyakit paru-paru yang rentan menyerang mereka karena mereka mengakrabi angin malam, kadang tidur di trotoar. Arya trenyuh mendengar cerita dari bibir Fajar. Anak jalanan juga rentan terhadap pelecehan seksual alias sodomi. Siapa yang bisa melindungi mereka?.
Adzan maghrib terdengar syahdu. Arya menyelesaikan makannya dan mengajak kedua bocah itu ke mushola kecil.
“Mending jangan sholat di sini mas...”, Syarief memperingatkan.
“Kita cari mushola lain aja”.
“Nggak ada waktu, emang kenapa kalau di sini?”.
“Ntar di pel lho...”. tadinya Arya nggak mudeng, dia nekat aja ngajak kedua bocah itu shalat di mushola beratap kotak itu. selama shalat, emang serasa ada yang mengawasi, begitu mereka selesai dan hendak keluar, bekas mereka shalat langsung dipel sama bapak-bapak yang jaga mushalla. Arya jadi paham.
“Oh, nggak satu aliran nih ceritanya? Masya Allah, kita kayak mengandung najis aje...gila tuh orang...harusnya dia nyadar, Allah nggak pernah mengkotak-kotakkan manusia berdasarklan aliran, tapi berdasar iman...”, lalu diajaknya kedua bocah itu keluar mushalla.
“Nih buat sangu, kalau bisa, sembunyiin, jangan sampai kena palak, buat cadangan uang sekolah...”, Arya menjejalkan uang puluhan ribu. Kedua bocah itu tak hentinya mengucapkan terima kasih.
“Kalau nggak, kalian mampir ke Sari Ilmu, beli beberapa buku, titipin ke teman, trus sisanya buat setoran...”, Arya melambai.
“Makasih mas...”, kata Syarief dan Fajar penuh haru.
“Sama-sama...”.
Arya menyusuri kembali trotoar depan Monumen Super Semar. Niatnya sih mau ke Shopping, nyari beberapa buku buat menemaninya menghabiskan malam, menghapus resah. Kayaknya beberapa buku karangan Goenawan Mohammad bisa memperbaiki kinerja sistem otaknya yang mulai berkabut. Lagi-lagi kakinya terasa sakit. Diingatnya nasehat Heri, sahabatnya.
“Tubuh harus dijaga, jangan membebani tubuh yang sudah bekerja keras dengan pikiran yang berat...”. Ah, ya...lepaskan saja semua yang membebani pikiran, positif thinking aja sama semua yang terjadi hari ini. Arya pun duduk di kursi beton yang banyak tersedia di sepanjang trotoar. Seorang kakek tua tiba-tiba menjajari duduknya. Wajahnya keriput di makan usia, terlihat jelas di bawah terang lampu kota. Tampaknya kakek itu lelah sekali, tapi senyum seolah tak lepas dari wajahnya.
“Numpang istirahat ya nak”.
“Monggo, mbah”. Sejenak mereka terdiam, tak banyak berkata-kata.
“Asli sini, nak?”.
“Iya mbah, daerah Nggrojogan...Wirokerten, tapi sekarang kost di Pemancar Timur”.
“O..oo, kelihatannya kamu anak kuliahan ya?”. Arya hanya mengangguk.
“Mumpung ada kesempatan, belajarlah sebaik-baiknya, biar jadi orang berguna, biar nggak keliling-keliling kayak simbah...”. Arya menengok bawaan kakek itu. ada beberapa kawat mencuat dan gulungan payung-payung kusam, sepertinya tukang memperbaiki payung.
“Seharian keliling mana saja mbah?”.
“Wah, nggak terhitung, blusukan ke mana-mana, le, asalkan ada yang menyewa jasa simbah”.
“Aslinya simbah dari mana?”.
“Demangan”,
“Wah jauh juga, seharian gini bisa dapat berapa mbah?”.
“Ya tergantung rizki, kadang limaribu, kadang sepuluh, kadang ndak dapat...tapi simbah tetap bersyukur sama Gusti Allah, le, pokoknya uang simbah halal dan bisa cukup untuk makan...”.
Filosofi yang mengagumkan. Arya nyengir, merasa kalah. Setelah kondisinya pulih, dia pamit pada si kakek dan berlalu diiringi senyuman kakek itu. setelah mendapat buku yang dia inginkan, dia menuju tempat bus ngetem, sepanjang jalan, dia mencoba menghayati orang-orang di sekitarnya. Ada pemulung yang mengais tempat sampah di depan sebuah restoran siap saji, mencari sisa makanan yang bisa dia makan untuk mengganjal perut. Diam-diam Arya membeli sebuah roti lalu membungkusnya dengan plastik, ditaruhnya di tutup tempat sampah. Tak lama pemulung itu lewat, melihat kantung plastik di tutup tempat sampah dan membuka bungkusan itu, Arya merasa hatinya sesak, terharu, melihat binar di mata si pemulung. Ada juga beberapa pengemis tua di pinggir trotoar mengharap belas kasih, sudah tua, cacat pula, apakah ada yang mengurus mereka? Mungkin ada, tapi nggak semua benar-benar tulus menolong, kadang mereka hanya dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan sendiri.
Di halte, dia melihat beberapa bocah pengamen bernyanyi dengan semangat. Bahkan ada pengamen bisu yang nekat tetep nyanyi, meski dari bibirnya hanya keluar kata :”Awa..wa...wa...” yang bikin orang tertawa dan mungkin trenyuh, sehingga ngasih dia uang receh. Terlihat beberapa bocah yang mungkin masih berumur lima tahun memegang ecek-ecek, nyanyi asal-asalan. Ah, seharusnya mereka ada di rumah, tidur dalam pelukan ibu mereka yang hangat. Arya jadi ingat, waktu seumuran bocah-bocah itu, dia memiliki masa kecil yang sangat indah, punya banyak teman dan main sepuasnya. Tapi, meski keadaan anak-anak jalanan itu kurang begitu baik, Arya yakin, mereka pasti pernah merasakan bahagia. Mereka selalu bersyukur pada Allah. Bukankah Allah itu maha adil? Burung, semut, bahkan cacing tanah saja tiap hari dikasih rizki, manusia yang berusaha pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.
“Mereka saja survive, hidup adalah perjuangan Ar, dan asal lo tahu, Allah memberi lo segalanya, apa yang lo butuhkan selalu tersedia, lo punya fisik lumayan sempurna, paling nggak, mata lo bisa ngelihat, lo enggak bisu, enggak tuli, enggak lumpuh. Lo punya keluarga yang sayang sama elo, selama ini bokap lo selalu nurutin apapun kemauan elo. Dan elo, punya sahabat-sahabat yang sangat baik, care, en selalu ada kalau elo lagi butuh bantuan...apakah itu belum cukup, Ar?. Kalau elo diberi cobaan untuk patah hati, itu adalah suatu pelajaran, kadang Allah memberi apa yang lo butuhkan meski bukan yang lo ingin, tapi, setelah lo mengalami kejadian hari ini, masih pantaskah lo ngerasa sedih cuman gara-gara patah hati?
Masih banyak hal yang bisa lo kerjakan, Ar...dan dunia nggak butuh orang yang cengeng...”. Arya tersenyum. Nggak lama bus menuju Pemancar Timur datang, Arya naik, lumayan sesak, nggak kebagian tempat duduk pula. Tapi lagu “I will Survive”-nya Cake yang terdengar dari radio bus itu, membuatnya berdecak heran.
“Hari ini, kenapa lagu-lagu yang gue denger, seolah nyindir gue ya? tapi mungkin itu juga petunjuk, Thank’s God...I’ll survive...”.
Meski terasa penat, hari ini lumayan menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan patah hatinya. Arya nggak begitu saja membaringkan tubuhnya, dinyalakannya komputer kesayangannya, yang dia namai Ardan. Ardan dari kata ARya-DANia, bahkan password komputer ini adalah nama lengkap Dania.
“Nggak akan ada yang gue ubah...termasuk perasaan ini, biarkan saja terus mengalir. Gimanapun juga, elo pernah jadi bagian dari hidup gue Dania, dan akan selalu jadi bagian hidup yang tak terlupakan. Thanks Dania...berkat elo, hari ini gue belajar banyak hal...by the way, cinta ini bakalan gue bagi lagi, buat orang-orang yang membutuhkan, elo kagak keberatan, kan Dania?”.
Arya memandang lampu kota yang berkelip seperti bintang dari jendela kamarnya. Begitu indah. Dinyalakannya Winamp...mengalunkan lagu-lagu kesukaannya. Malam masih panjang, Arya menuliskan pengalamannya hari ini di lembar-lembar Microsoft Word.

Bagaimana persahabatan itu bukan merupakan sesuatu yang ideal ?
Seandainya "Persahabatan" itu adalah jembatan, Sebuah jembatan emas, Yang membentang antara pegunungan benci dan cinta, Yang membelah jurang menjadi jurang musuh dan kekasih, Yang menghubungkan antara aku dan dia...
Maka, Ketika engkau terjerumus ke dalam jurang yang sebelah kiri, Jadilah engkau menjadi musuh bagi yang lainnya,
Ketika engkau terjerumus ke dalam jurang sebelah kanan, Jadilah engkau menjadi kekasih bagi yang lainnya,
Bayangkanlah !
Betapa sulitnya untuk tetap berjalan di atas jembatan emas,
Jembatan "Persahabatan" .
Ketika kudendangkan nada-nada persahabatan, Ketika kubacakan sajak keindahan persahabatan, Kuberharap jatuhnya diriku ke dalam sisi jurang yang sebelah kanan, Biarlah satu waktu nanti, bila pintu-pintu pagar sudah terbuka, Aku akan melontarkan diriku dari jembatan emas ini, Jatuh kedalam sisi jurang yang sebelah kanan.
Biarlah satu waktu nanti, Bila kutemukan gerbang diri yang terbuka, Aku akan melemparkan diriku ke dalam jurang seorang kekasih, Biarlah satu waktu nanti, Bila tlah kutemukan kunci pintu diri, Aku akan menenggelamkan diriku ke dalam lautan cinta,
Jembatan emas telah mengantarkanku ke dalam kebimbangan dan penantian, Jembatan emas telah menemaniku di dalam kekhawatiran dan penegasan... .

Mungkin akan dia kirim ke beberapa majalah, syukur-syukur kalau dimuat, bisa nambah penghasilan dan bertahan hidup dua atau tiga hari. Nggak terasa tengah malam berlalu dan menginjak pukul satu. Diliriknya HP-nya yang sunyi. Cowok itu tersenyum. “Bagaimanapun, pernah ada saat-saat yang indah, gue bersyukur untuk itu, semoga, suatu hari, akan ada seseorang yang bisa menemani gue dalam menghadapi segala resah...amin”, Arya keluar dan berwudhu. Apapun yang terjadi, asalkan Allah masih berada di hati, semua akan baik-baik saja. > END
After Editing, Between Imogiri_Tembalang_Bekasi, January’09

Minggu, 28 Februari 2010

Froggie




Gie....

dia berkata...
"Aku....
manusia biasa yang terbiasa bisa
pendek, jelek, item, gendut
berkumis, rambut keriting dan idup pula
umurku 33
tapi kawan, jangan pandang aku dari fisik saja
aku, adalah sahabat yang setia "

yup, itu alasan aku sayang sama temenku yang satu ini
biar penampilan kayak brokoli
tapi dia baik, dan bisa membuat lingkungan di sekitarnya
tertawa ceria......

gimana enggak? tiap kali telpon, tidurpun sampe terlupa
saking lucunya hal yang dibahas, dari ngegosip cowok berponi dengan kumis enam lembar
ngegosipin Hafizah, si cowok cantik (luarbiasa jelita) tapi berkumis....
sampai rok temen SD yang berpincuk dan waktu jadi dirigen upacara di sekolah
penitinya tanggal dan bubarlah 'pincuknya'
terpaksa.....upacara hari itu dibubarkan....

Froggie, pangeran kodok yang jelek....
tapi hatinya baik kayak oom William arthur Philippe Louise

Froggie.....yang meskipun walaupun seperti itu
emaknya sayang banget sama dia....

Kamis, 25 Februari 2010


(Part I :Codename: Gunslinger)

Jendra mengumpat pelan saat sebuah sepeda motor melesat hampir menyerempet mobil sport silver metaliknya. Apa pengendara sialan itu nggak tahu ini jalan perumahan, bukan jalan raya?. Kalau sedikit saja mobil yang dibelinya susah payah dengan keringatnya sendiri dan dimodifikasi Excel, temannya di MIT yang ahli mesin, sampai terserempet motor sialan itu, dia bertekad akan mengejar pemiliknya sampai ke ujung dunia.
Dengan malas dibelokkannya pelan mobil itu sambil melirik sekilas catatan yang digenggamnya, kalau nggak salah rumah nomor 22...yups...itu dia...Jl. Earthalliance no. 22. Jendra mengklakson keras membuat satpam yang tengah tidur melompat dari kursinya.
Jendra memasuki gerbang besar itu dan terkejut mendapati motor yang berpapasan dengannya tampak angkuh terparkir di halaman, kalau menuruti emosinya, hampir ditabraknya motor balap berwarna biru terang bernomor 46...wah, pemiliknya pasti penggemar fanatik Valentino Rossi. Dasar bocah!. Rutuk Jendra dalam hati. “Hendak bertemu siapa tuan?”, seorang wanita separuh baya yang tengah menyiram tanaman menghampirinya yang tengah meneliti catatan di tangannya. “Benar ini rumah tuan Arya Sanjaya?. Saya Jendra Rahadewa, yang akan menyewa kamar, kost...”.
Wanita itu memperkenalkan dirinya. “Saya Bu Ranti, yang mengurus rumah ini, memang ada beberapa kamar yang disewakan,tuan juga sudah menelpon saya, apakah anda putra tuan Mahendra?. Tadi tuan telpon ada salah seorang putra rekannya yang akan menyewa tempat ini...”. “Benar, ayah saya yang merekomendasikan tempat ini, bisa saya bertemu nyonya rumah, kemudian melihat-lihat kamar yang akan saya tempati?”. Bu Ranti tersenyum. “Maaf, tuan dan nyonya sedang keluar negeri, jadi putri tunggal mereka, non Tasya yang mengurusnya, mohon anda menunggu sebentar dan saya akan memanggilnya”. Bu Ranti memasuki pintu rumah yang sedikit terbuka.
Jendra mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi yang empuk di ruang tunggu, rumah ini sangat besar, kawasan elite, penataannya pun indah, suasananya yang sepi menjamin ketenangannya, apalagi sebagai seorang arsitek dia butuh ketenangan yang lebih, saat dilihatnya motor balap itu, Jendra sedikit gusar, mungkin itu motor pacar si pemilik rumah, siapa namanya tadi..Tania? Tasya?. Tapi tempat ini sangat strategis, dekat dengan Westside University, kampus dimana dia akan mengajar. Sedikit tersenyum dia membayangkan ketidaksetujuan ayahnya. “Kamu bisa bekerja di kantor papa, Jendra, untuk apa mengajar di Westside?”. “Jendra sudah besar pa, Jendra ingin memiliki kemampuan sendiri untuk hidup, selama ini Jendra sudah banyak dibantu papa, semuanya papa yang mengurus, kali ini Jendra yang akan mengatur hidup Jendra, bekerja dan memiliki uang yang Jendra hasilkan sendiri, please, papa ngertiin Jendra...ini jalan hidup Jendra”. Mahendra hanya menghela nafas, putra bungsunya sudah dewasa sekarang, bukan bocah kecil yang cengeng dan penakut itu, wajah kanak-kanaknya sudah menjelma, bermetamorfosis menjadi lelaki dewasa dan sama angkuh dengan dirinya, Mahendra seperti melihat dirinya waktu muda di cermin. “Baiklah, tapi saat papa butuh bantuanmu, kau harus mau meluangkan waktumu, kau tahu, rencana papa sebenarnya ingin kau bekerja di sini, jadi setiap hari kau bisa pulang dan menemani kami, mamamu sangat membutuhkan kehadiranmu, seharusnya kau diam di rumah dan carilah seorang istri yang baik, kau ini anak bungsu...setelah jauh-jauh kuliah di Amerika, masa kau tega meninggalkan mamamu dan bekerja di kota yang jauh?”. Jendra tertawa. “Please...Jendra bukan anak kecil lagi pa...tapi Jendra sama sekali tak bisa berpikir untuk menikah”.
Lamunannya buyar saat melihat bu Ranti datang bersama seorang pemuda berkaus oblong, berjacket distro hitam dan celana gombrongnya yang longgar menyapu lantai. Mana Tasya...kenapa cowoknya yang datang?. Tapi saat pemuda itu mendekat dan Jendra jelas-jelas melihat wajah cemberut yang malas-malasan di balik topi kumal itu, dia merasa bingung, cowok itu berwajah manis. “Kamu yang akan menyewa kamar?”, suaranya seperti anak perempuan. “Yup’s”. Pemuda itu memandang Jendra sejenak. “Coba kulihat KTP kamu...”. Jendra mengambil dompetnya di saku dan mengangsurkan KTPnya. Bocah berandalan itu melihatnya sejenak lalu mengangguk pada Bu Ranti. “Benar dia orangnya bu, baiklah, ayo kita lihat kamarmu...”. Busyet! Kurangajar banget nih bocah, manggil aku-kamu seenaknya, paling tidak harusnya dia manggil Bang, Mas, Kak, apa nggak diajari sopan santun?.
Jendra mengikuti Bu Ranti dan pemuda itu menuju sisi samping rumah yang terdiri atas beberapa kamar berteras luar. “Buka kuncinya bu...”, kata pemuda itu. “Baik non”. Jendra mengernyit. Non?. Dipandangnya tajam pemuda berwajah halus itu. “Kamu Tasya?”, tanyanya sambil mengernyit. Tasya hanya mengerdikkan bahu. “Gitu deh, nah, kamu lihat kamarnya, kalau cocok papa bilang uang mukanya langsung kasih ke aku...”. Jendra melihat kamar besar itu, kondisinya bagus, sangat luas, apalagi ada jendela besar yang membuat kamar jadi terang, meja gambarnya akan dia tempatkan di dekat jendela itu. Lalu kamar mandi dalamnya juga sangat mewah dan nyaman, jacuzzinya cukup untuk empat orang, Jendra membayangkan betapa nyamannya berendam di sana sehabis mengajar. “Bagus...eh, apakah kamar ini pernah ada yang menempati?”, tanya Jendra pada Tasya. “Nggak, rumah ini baru dibangun dua tahun yang lalu, disiapkan untukku, aku kuliah di Westside semester besok...”.
Jendra bergumam kesal. Bocah kemarin sore! Ternyata baru calon mahasiswa semester pertama. Sedangkan dia adalah dosen di universitas itu. “Ambil apa?”, tanya Jendra. “Eh?”. “Kamu kuliah apa?”. Dia memandang wajah yang separuh tertutup topi itu. “Ekonomi...kamu sendiri kuliah apa?”, tanya Tasya. Jendra menggerutu kesal dalam hati. “Nggak kuliah, ngajar...jadi dosen Arsitektur semester ini”. “Oh...”, Tasya menggaruk telinganya lalu memandang Jendra. “Jadi gimana, kamu suka kamarnya nggak? Jadi nyewa nggak?. Ada yang perlu diganti...wallpapernya atau apa?’. Jendra menghela nafas. Jadi cuma ‘oh’ yang meluncur dari mulut gadis itu. Jadi dosen itu pekerjaan yang nggak gampang didapat tau!. “Nggak usah, kalau itu biar kuurus, aku sudah menyewa penata ruang sendiri”. “Terserah kau saja, kalau sudah setuju biar Bu Ranti ambilkan cek yang harus kamu bayar...selamat datang di Westside...siapa namamu?”.
Jendra hampir mati kesal mendengar gaya Tasya yang cuek saat bicara. “Jendra”, sekilas Jendra menyalami tangan kecil itu, kontras dalam genggaman tangannya yang besar. Lalu gadis itu menarik tangannya dan memasukannya ke saku, menoleh ke arah bu Ranti. “Kita sudah deal bu, Bu Ranti urus semuanya ya...Tasya mau mandi dulu...”, lalu tanpa menoleh lagi pergi meninggalkan Jendra.
Jendra tersenyum sinis, dasar bocah! Rutuknya. Biasanya gadis seperti apapun akan tunduk dalam pesona mata elangnya. Ya Tuhan, umurnya baru duapuluh delapan! Apakah gadis kecil itu menganggapnya terlalu tua?. Bu Ranti mendekat. “Bagaimana tuan?”. “Baiklah, saya ambil kamar ini, besok barang-barang saya akan tiba, secepatnya saya akan menempatinya karena seminggu lagi saya sudah bekerja di WU. Bisa kuncinya saya bawa sekarang?”, bu Ranti mengangguk dan menyerahkan cek plus kunci. Jendra mengambil cek itu dan memasukkannya di saku.
---
Dua hari kemudian semuanya sudah beres. Dengan puas Jendra memandangi hasil kerja penata ruangan yang disewanya. Sekarang kamar besar itu terlihat elegan dengan dinding abu-abu keperakan ditegaskan warna hitam pada pinggirnya yang kontras, barang-barangnya yang hampir semua berwarna hitam atau perak membuat ruangan begitu maskulin. Dia menata letak cahaya hingga penerangannya menjadi sempurna untuknya bekerja. Saat tak menggunakan lampu utama, cahaya biru samar akan menerangi kamar, membantunya rileks saat tidur. Kamarnya memiliki dua pintu, yang satu menuju beranda dan satunya...Jendra membuka pintu. Terhubung dengan ruang utama, tuan rumah memang menyiapkan ruangan itu terhubung langsung karena anak yang kost disana juga dijamin makanannya. Karena hanya Tasya dan dia yang menempati rumah ini, ayah Tasya mengatakan melalui telepon kalau Jendra bisa sekalian makan bersama di rumah itu, Bu Ranti juga merupakan koki yang handal, Jendra setuju, apalagi pekerjaannya menuntut banyak perhatian, jika ada yang mengurus makanannya, semua jadi lebih baik. Dia juga bisa menggunakan garasi untuk mobil sport peraknya. Berdampingan dengan jaguar hitam yang tak digunakan pemiliknya, Jendra sempat heran melihat motor balap merek Yamaha itu juga nongkrong di garasi. Sekilas Jendra melihat ruang makan lalu kembali menuju kamarnya. Menyibukkan diri dengan laptopnya dan menyiapkan silabus untuk mahasiswanya besok.
---
Seminggu ini dia ingin merilekskan dirinya sebelum mengajar. Sejak pulang dari Amerika dia belum sempat menikmati liburan. Karena setelah mendengar lowongan kerja di Westside dia cepat-cepat mengurusnya dan dia harus membantu ayahnya menyelesaikan beberapa proyek besar. Sedikit banyak tenaganya sudah terkuras. Dibukanya kulkas kecil yang memang dia sengaja tempatkan di kamar, nyengir melihat isinya, dia belum sempat belanja. Isinya hanya beberapa kaleng juice. Nggak bagus minum juice jeruk pagi-pagi. Diliriknya jam di dinding. Masih pukul enam. Diambilnya sebuah handuk bersih dari lemari, lalu keluar kamar menuju halaman belakang, dia boleh memakai kolam renang rumah itu. “Terserah...”, kata Tasya cuek saat dia menanyakannya. Jendra hanya nyengir melihat bocah itu, selalu berpenampilan acak-acakan dan terkesan kucel.
Air kolam yang dingin membuat Jendra sepenuhnya bangun, kantuknya sudah lenyap. Bolak-balik mencoba menciptakan rekornya sendiri, Jendra menikmati kecepatan yang dia buat, lalu dia menyelam. Melatih nafasnya, sejak kecil dia sudah berlatih bertahan di bawah air, ingin tahu, seberapa kuat paru-parunya. Olahraga rutin yang dia lakukan membuatnya selalu tampil bugar. Memangnya tubuh bagus datang tiba-tiba dari Tuhan? Sudah terbentuk sejak lahir?. Jendra tersenyum sinis. Orang hanya bisa memandang iri, tanpa tahu, dia selalu menjaga makan dan olahraga teratur untuk mempertahankan bentuk tubuhnya. Beberapa menit kemudian dia kembali ke permukaan. Setelah mengatur nafas dia naik ke tepi. Rasanya sudah cukup, sarapan pagi mungkin sudah menunggu.
Tasya kaget, saat dibukanya pintu halaman belakang, dia melihat Jendra berdiri di tepi kolam renang, basah. Hanya memakai celana renang pendek, dan handuk melilit lehernya. Tubuhnya bagus, kulitnya kecoklatan, sepertinya dia selalu melawan matahari. Pria itu tampak semakin tinggi. “Hai...”, sapa Jendra. Tasya memakai t-shirt putih dan celana pendek, kepalanya tertutup topi hitam jelek. Jendra seperti melihat seorang bocah lelaki, tapi saat diliriknya dada bocah itu dia tersenyum kecil, itu yang membedakannya dari anak lelaki. Tasya merasa jengah saat pandangan mereka beradu, tatapan pria itu seolah menguasainya, seperti magnet, menggodanya untuk melangkah mendekat....Menarik, wajah itu mengingatkannya akan tokoh Vaan di game FF 12.Tasya menghela nafas lalu mundur dan masuk ke dalam rumah.
Dengan sudut matanya Tasya melihat Jendra menuju ruang makan, sudah berganti pakaian, celana hitam longgar dan kaus senada bertuliskan huruf-huruf putih besar. “Full Metal Archie”. Rambutnya yang gondong sebahu agak basah. Cepat-cepat Tasya mengalihkan pandangannya pada bu Ranti yang membawa semangkuk sup besar dan berbau lezat, memandang pria itu membuatnya...ah, aneh. Sedapat mungkin dia mencoba tak acuh pada pria itu, tapi Jendra seolah memiliki magnet di wajahnya, yang menarik siapapun untuk meliriknya.Wajahnya tampan dan menantang, tapi tatapan matanya tajam dan terkesan sinis, Tasya agak takut dengan sorot mata itu, terlalu tajam, terlalu menguasai. Dan lagi Jendra adalah pria dewasa, pengalamannya pasti banyak, dari gayanya yang santai, Tasya tahu, Jendra berbahaya. Pria itu seolah tahu betul apa yang pantas bagi dirinya, gaya berpakaiannya selalu pas dengan keadaan, pas dengan tubuhnya. Dia terlihat dewasa dan elegan saat memakai jas dan kemeja di kampus, tapi dapat juga terlihat kalem, begitu muda dan energik dengan kaos tanpa lengan dan celana longgar. Seperti poster Slim Shady yang menghiasi kamarnya. “Trims..”, kata Jendra saat bu Ranti melayaninya. Tiba-tiba terdengar dering HP, pria itu mengambil HP dari saku celananya. “Oh, Joe...what’s up...?”, bahasa Inggrisnya bagus dan lancar, kelihatan banget dia sudah lama berada di luar negeri. Tasya memang pernah mendengar kalau pria itu sempat tinggal di Amerika. Setelah bicara agak lama, pria itu mematikan HPnya dan kembali menikmati sarapannya.

Suara motor yang berisik terdengar memasuki halaman. Jendra memandang sekilas dari jendela kamarnya. Beberapa motor balap masuk, mungkin teman-teman bocah itu, dilihatnya beberapa anak laki-laki berpenampilan berandalan memasuki ruang depan. Tak lama Tasya keluar, pakaiannya sudah berganti, jacket distro hitam dan celana panjang gombrong gadis itu berbicara dengan salah satu cowok, lalu dilihatnya gerombolan itu menuju garasi, mungkin pacar bocah itu mau mengambil motor di garasi. Alis Jendra terangkat saat melihat Tasya sendirilah yang mengeluarkan motor dari garasi, mengendarainya dengan gagah, menjajarkannya dengan motor milik temannya. Setelah berbicara beberapa saat, gerombolan itu dengan berisik meninggalkan halaman depan. “Gila!”, Jendra nyengir, ternyata motor balap itu milik Tasya!.
---
Raungan suara motor membangunkan Jendra, dilihatnya jam di dinding, masih setengah tujuh, dia mengajar jam delapan nanti, dengan kesal pria itu menyibakkan tirai berat yang menutupi jendela. Mungkin pacar bocah itu, ngapain pagi-pagi menyetel motornya? Mengganggu sekali, lalu pria itu keluar dan menuju halaman. Tapi di sana dia malah melihat sosok ramping yang asyik mengutak-atik mesin motor. Jendra mengernyit, tak menyangka Tasya tahu seluk beluk mesin motor besar itu. Meski sama kucelnya dengan penampilannya setiap harinya, Tasya terlihat seperti cewek, karena rambut panjang-ikalnya yang biasa tersembunyi di balik topinya, sekarang tergerai berkibar tertiup angin pagi.
“Pagi”, Tasya membalikkan badan mendengar suara serak pria menyapanya. Jendra hanya memakai celana panjang longgar, dadanya yang coklat dan telanjang dibiarkannya tersapu angin, apa pria itu nggak takut masuk angin?, pikir Tasya. Masih dengan mata yang acuh seperti biasa Tasya menggumam,”Pagi juga...”, lalu serius memandang mesin motornya. “Kenapa motor itu?”, Jendra berjongkok di dekat Tasya hingga gadis itu dapat mencium aroma tubuh Jendra. “Hanya butuh perbaikan sedikit, suaranya agak aneh, waktu roadrace kemarin ada yang janggal...”, Tasya fokus pada mesin motornya. “Roadrace? Kamu?”, Jendra memandang gadis itu. “Ya...kenapa? itu hobbyku...”, Jendra bersiul lalu meneliti mesin motor itu. “Coba kubantu...”.
Tasya heran melihat pria itu bekerja dengan terampil, sepertinya Jendra tahu soal mesin. “Gimana sekarang?”, Jendra memutar gas dan mendengar suara mesin motor dengan seksama. “Ya...sepertinya sudah baik...tapi biar kucoba dulu...”, Tasya menggeser standar, menaiki motornya dan sekejap melintasi halaman dengan suara meraung. Dia berputar dengan gerakan memutar yang berani dan mengerem mendadak di depan Jendra. Pria itu tak bergerak seolah tahu Tasya hanya menggodanya dengan pura-pura hampir menabraknya. “Sudah bagus?”, tanya Jendra. Tasya nyengir. “Oke...kerjamu bagus...ternyata kamu tahu soal motor juga ya?”. Jendra tak menjawab, langsung pergi meninggalkan Tasya. 1-1, pikirnya. Kemarin dia yang dicuekin, sekarang gantian.
Tasya hanya mengerdikkan bahu. Lalu dijalankannya motor itu menuju garasi, dia nggak mau terlambat masuk kuliah di hari pertamanya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam rumah dan mandi. Hampir menabrak bu Ranti yang membawa semangkuk sup. “Eh, non, hati-hati...”. “Sorry bu, Tasya keburu, jam delapan masuk kuliah nih, Tasya mo mandi dulu”. Bu Ranti hanya geleng-geleng kepala. Tasya memang berandalan, karena gadis itu tak pernah diperhatikan orangtuanya, sifat keras kepala dan sulit diaturnya sebenarnya hanya sikap memberontak untuk mencari perhatian kedua orangtuanya yang terlampau sibuk, tapi bu Ranti tahu, Tasya sebenarnya anak yang baik dan lembut, dia sering melihat sorot mata gadis yang baru tumbuh dewasa itu terlihat sedih dan kesepian saat memandangi kolam renang. Dia berharap kedatangan Jendra bisa mencairkan kesepian Tasya, mungkin Jendra bisa menjadi kakak yang baik untuk Tasya, harap bu Ranti, dia melihat Jendra sebagai pria yang baik dan memiliki tanggungjawab.
Jendra hampir memasukkan sesuap nasi ke mulutnya saat dilihatnya Tasya menuruni tangga dengan suara gaduh. “Bu Ranti lihat sepatu hitam Tasya nggak? Hari pertama harus pakai sepatu hitam nih, mo Opspek...”, Bu Ranti yang sedang melayani Jendra terkejut lalu tersenyum kecil. “Di rak belakang, kemarin baru ibu cuci, kan non Tasya yang suruh...”, Tasya menuju ruang belakang dan tak lama mencangking sepatunya. Sekilas dilihatnya Jendra memandangnya. “Kenapa? Lucu ya?”, dengan kesal dia memainkan rambut ikalnya yang dikuncir tiga dengan pita warna-warni, itu syarat Opspeknya, belum lagi rok pendek dan kemeja putih yang harus dipakainya, dia merasa kesal terlihat sebagai cewek. Nyebelin, ingin dia memakai jacket hitam dan celana gombrongnya, gagah!. “Kenapa sih harus ada Opspek...”, gerutunya pada diri sendiri. Suara serak Jendra menjawabnya. “Yah, supaya anak baru tahu aturan perkuliahan...”. Tasya tak suka cara pria itu memandangnya, memandang tubuhnya. Risih! Dia paling benci dianggap seperti perempuan. Dengan kesal diambilnya sarapan bagiannya dan pura-pura mengabaikan pandangan Jendra.
“Mo bareng?”, tiba-tiba mobil sport perak itu meluncur di sampingnya, Jendra membuka pintu samping. Tasya memang harus memakai taksi, Jaguar ayahnya belum diperbaiki, makanya dia tak bisa diantar pak Rinto, lagipula terlalu mencolok, kalau kakak kelasnya melihatnya pake Jaguar itu, bisa jadi sasaran empuk dikerjain kakak kelasnya, dianggap sombong. Motornya tak bisa digunakan dengan rok pendek yang dikenakannya, satu-satunya jalan adalah memakai taksi, tapi sialnya, taksi yang biasanya berkeliaran di jalan perumahan tak terlihat, dia menyesal tak memesan Taksi sebelumnya, mana ponselnya tertinggal karena dia tergesa-gesa tadi. Terpaksa dia menerima tawaran Jendra. Apalagi jam sudah menunjukkan waktu limit. Tasya sedikit heran, bagaimana mungkin tubuh jangkung Jendra bisa memasuki mobil yang terlihat rendah itu?. “Pakai sabuk pengamannya!”, kata Jendra. Di dalamnya Tasya menjadi sedikit berbaring saking rendahnya mobil itu, mobil yang terkesan genit. Jadi kalau Jendra berkencan dengan wanita, dia bisa melihat posisi wanita itu terbaring. Tasya menelan ludah. Dia memang gadis kecil yang baru tumbuh, tapi hatinya tak bisa mengingkari betapa menawannya Jendra, secuek apapun dia berusaha, matanya tak bisa mengabaikan begitu saja wajah tampan berahang kokoh dan dilengkapi senyum sinis itu, seperti sepaket lengkap, pria itu memiliki sifat arogan, seperti dewa perang dalam komik cowok yang pernah dibacanya. Tapi Tasya tahu, pria dewasa seperti Jendra hanya menganggapnya bocah kecil yang tak menarik.
Sepanjang perjalanan pria itu melajukan mobilnya secepat halilintar, Tasya yang gemar beradu balap menikmati setiap gerakan yang dibuat Jendra saat menyalip mobil atau truck di depan mereka. Pria itu membiarkan angin menyapu rambutnya yang sedikit gondrong, mencapai bahu. Tangannya hanya satu yang memegang setir, tangannya yang lain menyiku di jendela mobil. Tatapan matanya yang tajam tetap fokus ke depan, konsentrasi, tapi cuek, seperti sedang memainkan game F1 saja. Tak lama mereka melihat gerbang Westside University. Tasya melirik jam yang melingkar di tangannya. “Belum terlambat, bukan?”, tanya Jendra. Tasya mengangguk, sebenarnya dia hanya memeriksa waktu tempuh Jendra. Gila...10 menit kurang!
Padahal biasanya dengan motornya dia merasa puas menempuh jarak dari rumahnya ke Westside selama 20 menit, itu sudah dirasanya cepat, saat mengambil formulir pendaftaran kemarin dia bisa mencapai 17 menit 34 detik. Jendra memarkir mobilnya dengan anggun di tempat parkir khusus dosen. Tasya melepas sabuk pengamannya dan cepat-cepat kabur menuju lapangan Westside University. Jendra mengumpat. “Dasar bocah...ngomong makasih kek!”.
Opspek hari itu sangat melelahkan, Tasya merasa kesal menjadi korban kakak-kakak kelasnya, apalagi yang cewek, judes banget. Karena melawan dan tak mau mengelap sepatu kakak kelasnya, dia dihukum memutari lapangan besar itu sekali. Tasya mengeluh, seluruh tulangnya serasa remuk. Saat taksi berhenti di depan rumahnya dia cepat-cepat menuju dapur, tenggorokannya terasa kering, sekilas diliriknya jam di ruang tamu, pukul tujuh malam. Di dapur dia terkejut melihat Jendra berada di sana, pria itu meminum cairan jingga dengan gelas besar. “Apa itu?”, Jendra memutar tubuhnya saat mendengar suara Tasya. Setelah menyelesaikan tegukannya, pria itu meletakkan gelas dengan kasar. “Juice Wortel...”. “Ih...”, Tasya menggigit bibir, dia nggak suka wortel. “Bodoh, ini supaya matamu nggak kehilangan kemampuan, pandanganku masih senormal waktu bayi karena minum ini...”. Tasya percaya, karena mata itu kini ,menyorotnya tajam seperti laser.
Pintu di belakang terbuka dan bu Ranti masuk. “Gimana Juicenya Tuan muda...wortel itu sayuran organik seperti pesanan tuan, ibu juga sengaja memarutnya, tidak pakai blender, jadi rasanya masih asli...”. Jendra memandang gelasnya yang kosong. “Enak, rasanya segar makanya habis dalam sekali teguk, terimakasih bu, besok pagi tolong siapkan lagi segelas”, lalu pria itu pergi keluar dapur menuju kamarnya. Bu Ranti ganti memandang Tasya. “Non capek? Ibu siapkan makan malam ya?”, Tasya heran, tiba-tiba hausnya telah hilang. “Em, Tasya pengen mandi dulu, nanti kalau sudah siap panggil saja Tasya...”. “Ya non”.
Saat makan malam, Tasya menunggu bu Ranti mengambilkan nasi dan lauk untuknya sambil melihat isi amplop dari panitia Opspek tentang apa yang harus dia siapkan besok. Terdengar Jendra membuka pintu kamarnya dan langkah beratnya menuju ruang makan. Pria itu memakai celana gombrong berwarna putih dan kaus tanpa lengan senada, seperti atlet capoera saja, tampaknya dia memang nggak punya masalah dengan tubuhnya. Ototnya bagus, perutnya ramping. Tasya merasa iri yang aneh, mengapa Tuhan menciptakan pria ini begitu sempurna?
Andai gadis itu tahu, perjuangan Jendra menjadi seperti sekarang lumayan berat. Dulu waktu kecil dia bocah kerempeng dan cengeng, meski pandai, dia selalu jadi bulan-bulanan teman cowoknya di kelas, tiada hari tanpa menangis karena dikerjai. Sifatnya cengeng, karena sebagai anak bungsu ibunya selalu memanjakannya. Bosan mendengar tangis putranya tiap pulang sekolah, ayahnya akhirnya membawa Jendra ke salah satu kenalannya, Makoto Sensei, guru beladiri asli Jepang. Mulai kelas lima SD bocah itu dijejali latihan Kendo dan Jetkundo. Perlahan tubuh kerempengnya mulai terisi, kulitnya yang putih seperti ibunya berubah coklat karena setiap latihan selalu terbakar matahari. Guru Kendonya sangat keras, bocah itu selalu dilatih di pantai yang panas, dengan beban berat di tangan dan kakinya. Jendra yang tadinya merasa tersiksa karena latihan fisik yang tak biasa dilakukannya, lama kelamaan menyukai bahkan latihan itu membuatnya ketagihan. Hal lain yang jadi imbasnya, tubuhnya yang jangkung dan kekar membuat mata para gadis menoleh padanya.
“Gunting tanaman, untuk kegiatan gotong royong, bisa pinjam mang Udin, buku tulis merek A, kebetulan dia punya, Pensil merek B warna biru...ntar bisa beli di toko 24 jam di depan perumahan, kertas karton putih...di sana mungkin juga ada...”, pikirnya tiba-tiba matanya terbelalak, Oh Tuhan, Opspek di Westside kenapa nyebelin banget?. “Sialan...kurangajar banget panitianya....”, teriaknya kesal tanpa sadar Jendra memperhatikannya. Dengan gemas ditekuknya amplop pemberitahuan itu dan dilemparnya di atas meja. Wajahnya ikut tertekuk sambil mengunyah nasi tanpa selera. “Kalau di meja makan, jangan teriak-teriak non, emangnya ada apa, kok kesal gitu?”, tanya Jendra. Tasya menghela nafas panjang. “Besok...para ceweknya pakai kebaya...para cowoknya pakai baju adat Jawa...”, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya. Lalu ide itu terhempas begitu saja. “Yah...papa pasti nggak punya baju adat Jawa, kalaupun ada pasti kegedean...”, gerutunya. Jendra tersenyum kecil. “Heh, masa kau mau nyamar jadi cowok, kalau ketahuan kau akan ikut Opspek lagi tahun berikutnya, karena dianggap gagal”. Tasya menggigit bibirnya kesal. “Kebaya...kebayanya siapa coba...lagian malam-malam gini mana ada salon yang masih buka?”, katanya kesal. Lalu diliriknya bu Ranti yang sedang mengisi air di gelasnya. “Eh, bu Ranti punya nggak?”, tanya Tasya. Bu Ranti sejenak memandang Tasya lalu tergelak. “Tentu saja ada, tapi tubuh bu Ranti kan agak gemuk...non Tasya mana bisa ngepas memakainya?. Terlalu besar buat non...oh ya, coba periksa lemari nyonya, kan banyak gaun dan kebaya untuk pesta...tubuh nyonya kan langsing, pasti pas untuk non Tasya”. Gadis itu menelungkupkan kepala di atas meja. “Mampus gue...kalau teman-teman lihat, mau ditaruh dimana muka gue, masa gue pakai kebaya...busyet, mana bisa begitu...”. lalu dengan lesu dia bangkit dari duduknya dan mengajak bu Ranti memeriksa lemari pakaian mamanya. Jendra hanya menggelengkan kepala, dia merasa geli dengan kelakuan Tasya. Masa sudah segede itu belum nyadar juga kalau dia itu perempuan?. Apa salahnya pakai kebaya?.
---
Jendra merapikan dasinya. Kemeja hitamnya dipadu dasi hitam bergaris perak dan setelan jas abu-abu. Perfect!. Nanti sore dia sekalian mengikuti penutupan Opspek mahasiswa baru. Sentuhan terakhir adalah parfumnya, dia tak pernah memakainya banyak-banyak, hanya sedikit dan samar-samar. Dilihatnya lagi dirinya di cermin. Merapikan rambutnya yang agak gondrong. Lalu dengan kesal keluar kamar. Entah kenapa dia akhir-akhir ini merasa agak narsis seperti bocah remaja yang baru jatuh cinta. Siapa sih yang ingin dibuatnya terkesan?. Dia menepis keras bayangan Tasya. Ngapain dia mikir bocah tomboi yang suka memakai pakaian kumal berandalan itu? . dibukanya pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan.
(bersambung)

Senin, 25 Januari 2010

Kuhapus Hitamku ... untukmu (Erased my BLACKSIDE)

“Cinta itu fitrah, kenapa kamu takut jatuh cinta?”, Adam memandangku. “Siapa yang takut jatuh cinta? Aku hanya takut berbuat kesalahan saja, sudahlah, mungkin belum waktunya. Aku masih banyak pekerjaan nih, nanti sore juga kuliah, hei, besok jangan lupa ... ada pengajian jam tujuh malam di pondok, tolong bantu persiapannya ya”. Adam hanya mengerdikkan bahu. Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan masygul, ada beberapa beban pikiran yang tak bisa kuhindari meski kucoba melenyapkannya. Kulihat sesosok tubuh tinggi langsing berjalan ke arahku, kucoba tak menghiraukannya. “Ardan, wait for a minute”, gadis itu menghadang langkahku. “Ya?”. “Mau pulang?”. Aku berfikir sejenak. “Nggak, ada keperluan di GSG, biasa, Halaqah, terus mau perbaiki website Halaqah online, kenapa?”. Gadis itu tersenyum. “Nggak, kirain bisa bareng, ya sudah, have a nice day”. “Thanks”.
Aku sebenarnya akan segera pulang, aku hanya tak ingin Shiva memboncengku, itu saja. Dulu, kami sering berangkat bersama karena kami mengajar di sekolah yang sama dan kebetulan dia satu desa denganku, tapi, setelah aku tahu dari Adam kalau Shiva menyukaiku, aku merasa jengah. Apa salah dan dosaku, ya Allah, kenapa beberapa kali aku selalu menyakiti orang di sekitarku?. Aku kembali menelusuri dosa masa laluku.
Annisa. Gadis pertama yang kusakiti. Kami saling menyayangi, sejak kelas dua SMU. Aku hampir menikah muda waktu itu sesuai cita-citaku. Tapi, kedua orang tuaku menentang keinginan kami. Aku terpaku di persimpangan jalan. Keinginan bunda untuk aku segera kuliah dan keinginanku sendiri. Aku sebenarnya tak bisa membenarkan pacaran, karena hubungan seperti itu akan merugikan Nisa. Kalau kami putus, dia akan menyandang predikat “Mantannya Ardan”. Waktu itu aku sudah menamatkan sekolahku dengan nilai tertinggi. Kupikir, aku mampu menjalani kehidupan rumah tangga meski aku hanya lulusan SMU, tapi ayah berkehendak lain. “Jadilah manusia yang berguna dulu, cari penghasilan barulah kamu menikah”. Aku meminta Nisa menungguku. “Aku akan cari pekerjaan dan melamarmu”. Tapi kedua orang tua Nisa telah menjodohkannya dengan orang lain yang sudah bekerja, Nisa dan aku tak punya kekuatan untuk menentang semuanya. Kami harus hidup di jalan masing-masing.
Nadia. Gadis itu rekan kerjaku di Blackside, sebuah toko komputer di tengah kota Yogyakarta. Dia gadis yang Smart dan mengerti keadaanku. Darinya aku belajar banyak hal mengenai Teknik Komputer dan Informatika, dia bahkan mengajariku sistem jaringan komputer sampai teknik Hacking. Kupikir, meski aku belum tamat kuliah, toh aku sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan lumayan, tapi saat kuutarakan keinginanku pada Bunda, beliau menolak keinginanku. Alasannya sederhana. “Gadis itu terlalu ... gimana ya Dan, Bunda ingin gadis yang sederhana saja, yang berjilbab gitu...”. hubungan pun berakhir begitu saja, karena suasana kerja yang tidak lagi nyaman, aku pindah kerja ke toko lain sambil menjadi gitaris band sebuah Cafe terkenal di Yogya dan Semarang. Aku merasa tak bisa lagi jatuh hati. Dan aku tenggelam dalam dunia gelapku. Aku selalu berada di tengah keramaian tapi hatiku merasakan kekosongan. Aku selalu berteriak dan bertanya apa arti hidup ini, kehidupan seperti apakah yang harus kujalani?. Bertahun-tahun aku akrab dengan duniaku. Aku sedikit membenci keluargaku dan menyepi dalam kegelapan. Aku hampir tak pernah pulang ke rumah, hingga suatu hari Yopi, sahabat baikku, vocalist bandku, ditemukan tak bernyawa di sebuah hotel dalam keadaan OD.
“Hidup ini singkat, pulanglah ... selesaikan studymu di kota kita saja, di sana sudah ada Universitas berbasis Qur’an, ayah ingin kamu belajar agama”, bisik ayah saat menengokku terakhir kali di Yogyakarta. Aku hanya terdiam. “Ayah mohon Dan, pulanglah...”. Aku membutuhkan waktu lama sebelum mengabulkan permintaan ayah.
Hanya dalam hitungan bulan, kehidupanku berubah drastis. Semula aku seorang Rock Boy, aku memakai kaos oblong dan jeans belel tiap harinya. Di kampusku yang baru, aku memakai baju koko dan kopiah. Kalau sekilas orang melihat, aku jadi mirip Ustadz. Sering pula ibu-ibu teman arisan bunda menyangka aku sudah jadi Ustadz, lagipula ayah menyarankan aku mondok di pesantren dekat kampus. Aku turuti keinginan ayahku. Aku selalu teringat Yopi, andai hidupku singkat, aku takkan menyia-nyiakan lagi hidupku. Harmoni hidupku kurasakan semakin teratur, aku menikmati rhytme yang mengalun damai.
Semester empat aku ditawari mengajar di sebuah SMK. Mula-mula aku menolak, karena aku merasa ilmuku masih rendah, tapi Bunda mendorongku. “Cobalah, kau jangan menyerah sebelum mencobanya, bukan?”. Bunda, ah, beliau adalah kompasku. Sejak kecil, beliau mengajariku banyak hal. Orang boleh bilang aku anak mami atau apalah, terserah. Tapi, Bundalah pelitaku. Waktu SD aku selalu rangking dua, saat pembagian raport aku selalu menangis, aku merasa tak kalah dari Tomo, sahabatku sekaligus rivalku. “Ardan anaknya terlalu pasif, pemalu, itu kekurangannya dibandingkan dengan Tomo”. Bunda mengelus kepalaku dan memandang mataku. “Nah, mulai besok, Ardan harus aktif, kalau bu guru tanya, kamu acungkan jari, kalau ada pemilihan ketua kelas, kamu harus jadi ketua, nggak usah cengeng, Ardan harus jadi pemberani”.
Keberanianku semakin menjadi saat aku SMP, lalu di SMU aku bahkan terkenal sebagai cowok paling keren dan cool. Bassistnya D’Garde!. Siapa sih yang nggak kenal Ardansyach Farazzi?. Seperti itulah hidup membentukku, dari seekor ulat tak menarik, bermetamorphosis menjadi kupu-kupu yang menawan. Aku sendiri heran akan perubahan tampilan wajahku, waktu SMP aku agak gemuk dan hitam. Sejak tinggal di Yogya, mungkin karena pola makan yang hanya pagi dan sore, tubuhku menjadi langsing, belum lagi kebiasaan olahraga setiap pagi di UGM, membuatku semakin fit dan segar. Kulitku pun agak putih sekarang.
Dari cowok cafe, jadi ustadz? Hmm, aku sendiri tak percaya, tiap Senin sampai Rabu sore aku sudah dipercaya mengajar mengaji anak-anak TPA. Tiga kali seminggu aku mengajar komputer di salah satu SMA Swasta di kotaku, sore hari kuliah seperti biasa. Setiap malam aku bekerja menjadi asisten drafter di salah satu perusahaan kontraktor. Capek memang, tapi aku merasa hidupku semakin terisi, aku semakin menghayati ayat-ayat di surat Al Ashr.
Aku hidup di pondok tiga kali seminggu. Menginap di sana sekaligus membawahi Al-Qud’s, sebagai ketua pondokan santri putra yang mengatur 100 orang santri. Ada dua belas kelompok di sini, keseluruhan santri putra mencapai 1200 orang. Banyak sekali nasehat, kata-kata indah dan mutiara kehidupan kutemukan di pondok, hidupku menjadi lebih damai, aku semakin menangis dalam keheningan malamku, mensyukuri langkah baruku, bersyukur, dahulu aku tidak tersesat terlalu jauh. Meski kuakui, pernah berada di daerah hitam, membuatku berani mengambil jalan menuju tempat terang, aku penasaran pada cahaya, seberapa terangkah cahaya itu dapat membasuh tubuhku, dosa-dosaku dan masa laluku yang gelap?. Hari-hariku berjalan begitu damai hingga suatu hari Kyai Haji Muhammad Akbar, pemilik pondok, memanggilku menghadapnya.

“Hampir satu tahun kamu berada di Al-Fatah, bagaimana menurutmu pengaruh pondok ini terhadap kehidupanmu?”, tanya beliau. Aku tak berani memandang mata beliau yang berwibawa. “Hidup saya menjadi lebih tenang pak Kyai”. “Jangan panggil aku pak Kyai, panggil saja abah, aku sudah rindu ingin memiliki seorang anak laki-laki”. “Baik Pak...eh...abah”. Aku merasa sedikit tegang. Beliau memandangku seraya tersenyum. “Kuperhatikan, kamu memiliki semangat juang yang tinggi, hafalan kamu maju pesat, dalam waktu singkat sudah hafal beberapa juz, kamu juga orang yang tegas dan tangguh, juga bertanggung jawab, anak yang menakjubkanku”. Dudukku semakin tidak tenang. “Aku ingin menjodohkanmu dengan Layla, putriku, bagaimana menurutmu?”.
Dalam benakku, terbayang seraut wajah bidadari, putih, bersih, cantik. Pandangan matanya sayu, membuat pria manapun menjadi rindu. Aku pernah berjumpa dengan Layla Syabilla beberapa kali. “Afwan jiddan, abah, saya... merasa tidak pantas, masa lalu saya begitu gelap, saya rasa Layla juga takkan suka dijodohkan dengan saya”. Pak Kyai tersenyum. “Putriku justru yang mendesakku mengatakan padamu, dia jatuh hati padamu sejak lama, jangan kecewakan hatinya”. Tiba-tiba terbayang wajah bijak bunda. “Afwan, tapi, bolehkah saya mengajak Layla menemui orang tua saya, karena merekalah yang lebih berhak memutuskan semua ini”. “Bawalah Layla menemui orangtuamu”.
Ayahku begitu gembira. Beliau menepuk pundakku. “Ayah bangga, kamu bisa berubah Dan, menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan pak Kyai Akbar menghendaki engkau jadi menantunya, apa kau sudah siap?”. Aku siap menikah sejak umur enambelas tahun, tapi dahulu bunda menentangku, sekarang umurku menginjak dua puluh dua, aku takkan menolak perjodohan ini.
Bunda hanya terdiam. Saat kukenalkan Layla padanya, beliau hanya tersenyum samar. Setelah aku mengantarkan Layla pulang, bunda menelponku dan menyuruhku pulang, kami kembali bicara panjang lebar. Pada intinya bunda lagi-lagi tak setuju. “Apa kamu sanggup menjadi menantu Pak Kyai Akbar? Kelak kamu yang akan memimpin pesantren karena Layla putri beliau satu-satunya, sementara kakak lelaki gadis itu sudah menikah dan mengurus pesantren di Jawa Timur. Bunda senang kamu lebih mencintai agamamu, tapi bunda sangsi kamu bisa menjalani kehidupan pondok selamanya, cita-citamu harus kau kaji kembali, apakah kau akan meneruskan kuliah Teknikmu atau bagaimana? Semua terserah kamu, hanya kamu yang tahu apa yang kamu inginkan”.
Layla kemudian menjadi salah satu kepingan mozaik masa lalu. Aku mendapat surat darinya, betapa menderitanya dia karena penolakanku dan sebagainya. Aku sudah menyakiti tiga wanita. Entah kenapa, itu serasa kurang saja. Ketika pulang, Bunda menjodohkanku dengan Asih, anak seorang temannya. Gadis itu lumayan cantik dan patuh. Bunda menyukainya, dia pun mengakui kalau dia jatuh hati padaku, kali ini masalahnya, aku tak bisa menyukainya. Ah, hidup sungguh menyebalkan waktu itu. Aku harus mengarang seribu satu alasan untuk menjauh dari Asih. Dia menangis, bahkan tak mau makan gara-gara aku. Lagi-lagi aku yang disalahkan. Tapi, aku menginginkan pendampingku adalah gadis yang smart dan energik, bukan tipe pasrah dan patuh seperti putri solo, sangat monoton dan membosankan, dia tak akan tahan dengan rhytme hidupku yang begitu tajam. Aku sungguh meminta maaf pada bunda karena hal itu. Bunda pada akhirnya memahamiku. “Dalam berumah tangga harus ada cinta, bunda, walau sedikit ... aku tak bisa mencintai gadis itu...”.

Setelah itu, aku tenggelam dalam kesunyian dan kesendirianku yang panjang, tapi aku menikmatinya. Rhytme hidupku semakin menanjak, kuliahku mendekati semester akhir, aku bekerja di dua SMA, jabatanku di perusahaan kontraktorpun meningkat sehingga aku sangat sibuk, tapi tak mengurangi kegiatanku di pondok. Abah Akbar sungguh berhati besar, meski aku gagal menjadi menantu beliau, abah tetap ramah dan menyayangiku.
Banyak gadis menyatakan cinta, banyak gadis menggoda. Sesama rekan guru, teman mahasiswa, bahkan muridku! Aku sendiri heran, bagaimana mungkin murid-muridku di SMA secara terus terang mengirimkan berbagai surat cinta, kado, coklat yang diletakkan di lockerku!. Di sini setiap guru memiliki locker untuk murid yang akan menumpuk tugas tapi terlambat, tapi lockerku beralih fungsi menjadi tempat penampungan curahan hati. Aku merasa hampa, hatiku sudah terlalu beku. Cinta? Apa itu Cinta?. Cinta yang abadi dan sejati hanya untuk Allah, hanya milik Allah.
Kupandang wajahku di cermin. Biasa saja. Tidak setampan Ariel Peterpan, tapi malah agak mirip Giring Nidji. Kupakai kacamataku, penglihatanku sangat payah sejak menjadi drafter. Aku jadi merasa mirip dengan Bill Gates. Aku merasa tua dan tak menarik, usiaku 23 tahun sekarang.
---
“Dapat salam dari Shiva”, gurau Adam. “Guru Akuntansi itu lho...”. aku tersenyum. “Wa’alaikum salam, kok aku nggak dapat salam dari guru Matematika ya?”, sindirku pada Adam, dia guru matematika. “Salam dariku juga deh ...”, seru Adam sambil nyengir, dia tahu, aku tak terlalu suka digoda seperti itu. “Dari bu Ely juga .... wah, pak Ardan laku juga nih”, teriak Usep, penjaga sekolah. Aku nyengir kesal. “Sudah, lama-lama satu sekolah kalian sebutin semua”, gerutuku. “Bu Lina, guru tataboga, jangan lupa... kayaknya dia naksir pak Ardan juga lho”, Bu Mirna menimpali, wajahku terasa panas.
“Nanti ada calon guru yang akan magang di sini lho, pak Indra sedang rapat, jadi, Pak Ardan yang menemui mereka”, Bu Mirna mengangsurkan Memo dari Kepala Sekolah. Aku menerimanya setengah hati. “Baiklah, untung nanti saya tidak ada jam setelah istirahat pertama, calon gurunya dari mana sih?”. “Titipan dari kampus bapak kok, siapa tahu pak Ardan kenal”, bu Mirna merapikan jilbabnya lalu beranjak. “Saya mengajar dulu ya, pak?”. Aku mengangguk. Adam tersenyum memandangku. “Kenapa?”, tanyaku. “Kadang aku ingin berdoa, agar jangan para gadis saja yang jatuh hati padamu, suatu saat, kau yang jatuh cinta, kau yang blingsatan ... “. Aku berdecak. “Kau kira aku belum pernah suka sama seseorang? Rasanya juga sakit tahu... waktu aku tidak direstui menikah...oleh Bunda”. Adam menepuk bahuku. “Itu bukan cinta namanya Dan, itu hanya ‘suka’, kalau cinta, kau tak hanya menentang Bunda, tapi juga Dunia untuk mendapatkan cinta itu”. “Ah, nggak terpikir Dam, bukankah surga terletak di bawah kaki ibu? Menentang bunda hanya akan membawa petaka”. Adam menghela nafas panjang. “Dan, bundamu juga manusia, terkadang, kau harus bertanya pada hatimu, apa yang sebenarnya kau inginkan .... ingat. Allah mewajibkan kita untuk berusaha, mengusahakan sesuatu ... tak hanya berdoa saja, kadang, kau harus perjuangkan keinginanmu, oke?”. Aku hanya mengangguk saja.
Pukul sepuluh pagi.
Para calon guru yang magang di sekolahku berdatangan. Ada empat orang. Kulihat seorang pemuda yang mengendarai Tiger keluaran terbaru berwarna hitam, dengan sembrono memutar balik kendaraannya. Dasar bocah! Mau pamer kemampuan rupanya! Berandalan seperti itu mau jadi guru?.
Tiga orang pemuda dan seorang gadis manis berjilbab. Aku mengernyit, bukankah seharusnya dua orang laki-laki dan dua orang perempuan?. Pemuda yang mengendarai Tiger itu membuka helm besarnya. Ternyata dia anak perempuan! Di balik helm dan jacketnya ternyata dia memakai jilbab. Dia memandangku tanpa basa-basi. “Maaf mas, bisa bertemu Bapak Ardansyach Farazzi? Wakasek SMA 2 Al Azhar?”. Aku memandangnya. “Saya sendiri orangnya, silahkan masuk ...”. Gadis itu hanya tersenyum dan melempar pandangan jahil pada ketiga temannya. “Afwan, gue nggak tahu, kalau waka-nya ternyata masih mas-mas, gue bayanginnya udah bangkotan sih, hehe...”. Dia tak sadar, aku mendengar bisikannya yang lumayan keras. Aku duduk di ruang tamu dan kupersilahkan para tamuku duduk. “Ada keperluan apa?”. “Kami yang akan magang di sini, ini surat tugasnya”, kata seorang pemuda berwajah halus sambil tersenyum santun memandangku. “Saya Harits Maulana, ketua dari kelompok kami ini, sebelah saya Faiz Nur Rahman”, dia mengenalkan pemuda jangkung kurus yang wajahnya mengingatkan aku pada Amrozi. “Alisya Faqih”, gadis mungil berjilbab lebar di sebelahnya tersenyum santun dan terakhir, gadis berandalan itu. “Farah Rifqan”, dia menangkupkan tangannya dengan santun, tapi wajahnya yang tampan menyimpan kejahilan. “Kami diutus Bapak Faqih Ramdhani untuk magang di SMA 2 Al Azhar selama tiga minggu sebagai bekal untuk mengajar di SMA Islam. Semoga pihak dari SMA 2 berkenan menerima kedatangan kami untuk menimba ilmu dengan rekan guru di sini, kami semua fresh graduate, jadi, mohon kerjasamanya”. Aku tersenyum, mereka sudah lulus, aku saja belum lulus, masih semester tujuh. “Kami menerima kehadiran saudara sekalian, akan kami usahakan semoga dalam waktu yang singkat anda mendapatkan ilmu secara maksimal dari rekan guru di SMA 2 Al Azhar. Baiklah, pertama-tama saya akan tanyakan spesifikasi anda sekalian sehingga saya dapat menepatkan saudara di posisi yang tepat. Silahkan anda terangkan, saudara Harits”.
Harits mengangguk lalu menerangkan. “Saya dari jurusan matematika. Faiz Teknik Mekanik Otomotif, Alisya dari Akuntansi dan Farah Teknik Informatika, kami berharap dapat menimba ilmu dari rekan yang pendidikannya sama dengan kami pak, mohon kerjasamanya”. Aku meminta surat tugas mereka dan segera mengatur penempatan keempat orang itu. Kupanggil setiap orang yang terkait dengan pelatihan ini. “Pak Harits akan dipandu Pak Adam, beliau guru matematika di sini, Pak Faiz dengan Bu Andrea, jangan salah, ahli mesin kami adalah seorang wanita, tapi beliau tidak kalah hebat dengan guru lelaki, Bu Alisya dengan Bu Shiva dan anda ... bu ... Farah, dengan saya, saya pengajar TIK di sini”. Farah memandangku tajam, dia lupa menerapkan ghadhdhul bashar rupanya. “Baik pak ... “, jawab gadis itu pelan. “Oh ya, ada satu peraturan yang harus dipatuhi, bu Farah, tidak boleh memakai celana waktu mengajar. Guru putri harus memakai rok panjang dan wajib berjilbab. Saya harap besok anda menerapkan aturan itu”. Farah tertegun lalu bertanya pada Faiz. “Terus gimana pakai motornya kalau disuruh pakai rok gitu?”, Faiz tertawa. “Gampang, sampai sekolah kau ganti celana dengan rok, jadi, kau bawa bekal rok aja Far, ya nggak pak?”. Aku mengerdikkan bahu. “Sebaiknya sih dari rumah pakai rok, terus ke sininya pakai motor cewek saja, Tiger terlalu macho, itu motor kakak anda?”. Farah menggeleng. “Bukan kok, itu punya saya. Wah, kayaknya lebih oke usulnya Faiz deh, sampai di sekolah, saya ganti rok, oke bos?”, tanya Farah padaku. Aku berdecak. “Terserah anda sajalah...”. Farah nyengir. “Makasih Bos!”. “Panggil saya Pak Ardan”. “Ya Pak ... galak banget sih, padahal kita kan seumur, kamu eh, anda kelahiran tahun berapa sih?”. “Delapan lima”. “Sama dong, bulannya apa?”. “Desember, tanggal 21”. Farah terbelalak. “Tua saya dong, saya 20 Desember...”. “Tapi di lingkungan kerja, saya harus panggil anda Bu, dan anda wajib panggil saya Pak!”.
Dalam waktu singkat, Farah sangat Populer di Al-Azhar. “Guru gaul”, julukan itu diberikan anak-anak padanya. Sifatnya yang supel dan lucu membuat kelas terasa lebih hidup. Pembelajarannya yang menarik dan dilengkapi gambar-gambar presentasi unik membuat akan-anak lebih memperhatikan penjelasannya. Aku mengakui kehebatan strateginya menggunakan Electronic Learning.
“Pak Danny... “, aku menoleh memandang ke arah gadis yang tersenyum manis padaku itu dengan jengkel. “Nama saya Ardan, bukan Danny”. Dia malah tersenyum makin lebar. “SD Nusantara 1?”, tanya Farah. Aku mengernyit tak mengerti. “Dulu anda sekolah di Nusantara 1 kan?. Kelas A, saya kelas D. Kalau nggak salah dulu di SD anda dipanggilnya Danny, bukan Ardan, makanya saya nggak kenal. Kemarin nggak sengaja saya ketemu Radit, teman SD dulu, terus ngobrol kalau saya magang di Al-Azhar 2, eh, Radit tanya “Berarti kamu ketemu Danny? Ardansyach? Dia juga kerja di sana, jadi guru ...”, ternyata yang dia maksud itu anda...”. aku tersenyum. “Yup’s, aku juga pernah mikir, di mana ya ketemu sama kamu Bu Farah, ternyata kita dulu satu SD, cuman nggak sekelas ya, gimana kabarnya Radit?”. “Baik, katanya besok Desember sehabis Idul Adha, ada reunian, pak Danny bisa ikut nggak?”. Aku melihat scheduleku di E-book. ”Tanggal berapa bu?”. “Duabelas”. “Wah, saya nggak bisa, ada acara lain, sampaikan permintaan maaf saya pada Radit, mungkin lain kali bisa kumpul lagi”. Farah terlihat kecewa. “Sampai besok, bu”, aku mengangguk ke arahnya dan menuju parkiran sekolah. Aku merasa sebuah pandangan mengawasiku tajam. Aku larikan motorku secepatnya. Hariku begitu sibuk.
---
Keesokan harinya aku berangkat lebih awal. Ternyata Farah sudah di kantor. “Mengajar jam pertama, bu?”, gadis itu mengangguk. Aku membuka laptopku seraya mengetik RAB yang belum selesai. Farah mendekatiku. “Basic anda komputer kan Pak? Saya dengar anda kerja di konsultan-kontraktor? Kok bisa sih pak?”. Aku tertawa. “Kok tahu?”. Farah nyengir. “Banyak yang bilang, anda workaholic, guru-guru di sini, terutama yang putri, sering membicarakan bapak”. “Oh”. Farah kembali ke mejanya. Sepertinya dia hendak mengulangi pertanyaannya tapi tak jadi. “Saya sudah tamat kuliah di Teknik Sipil, bu, semester enam di TS saya nyambi kuliah lagi di TI, sekarang saya mengejar kuliah saya di Informatika, semester akhir. Saya waktu SMP dan SMU ikut kelas asklerasi, jadinya sekolah saya cepat selesai”. “Wah, jadi bapak tidak bisa menikmati masa muda dong, yang lain bersenang-senang, bapak belajar mulu”. “Nggak juga, saya sempat mencicipi jadi anak band, hura-hura seperti anak muda lain, yah, nggak banyak beda dari mereka”. Farah memandangku lalu memalingkan muka. Mungkin dia heran. Atau ...?. “Bapak keren deh, nggak salah kalau banyak wanita yang naksir bapak, sayangnya bapak terlalu muda, makanya mereka minder”. “Muda kan relatif bu, banyak anak muda yang pemikirannya dewasa, lelaki dan perempuan kan lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam saja menikah sama wanita yang umurnya jauh lebih tua”, aku sendiri tak mengerti mengapa kata-kata seperti itu muncul dari bibirku. O ow! Watch out Ardan!. It could be dangers! Aku tak boleh membuka hatiku. Aku tak boleh menyakiti orang lagi, pamali!
“Kapan pak Ardan nikah?”, tanya Farah tiba-tiba. “Kalau boleh dan Allah mengizinkan, mungkin setelah kuliah saya selesai”. Biarlah dia berfikir aku sudah punya calon. “Tapi ... kalau rizki saya sebelum kuliah selesai malah akad duluan ya itu takdir”. Aku kembali meneruskan pekerjaanku. Farah termangu sejenak lalu Faiz dan Alisya datang memasuki ruangan.
Sudah satu minggu kelompok Farah dan kawannya magang di tempatku. Aku tahu, Farah semakin penasaran tentangku. Terkadang kudapati dia memandangku dan kelihatan berfikir. Sering dia terlihat ingin bicara sesuatu tapi tak tersampaikan. Penampilannya semakin hari semakin baik, jilbabnya lebar, bukan Ukhwit lagi, tapi sudah akhwat sekarang ... dia banyak bertanya soal agama padaku.
“Pengajian di sini yang bagus di mana, pak?”. “Di Al-Aqsa, pembicaranya biasanya ustadz dari Pondok Al-Fatah, kajiannya bagus-bagus, kadang malah dakwahnya pakai power point lho, E-Learning juga, Farah tertarik?”. Gadis itu mengangguk. “Tiap hari apa aja pak?”. “Wah, saya nggak hafal, nanti saya tanya sahabat saya, dia takmir di sana, kalau ada pengajian saya hubungi Bu Farah. Tumben bu, mau ikut pengajian, kenapa?”. “Yah, pengen aja dapat hidayah, terus memperbaiki diri, saya ini merasa saya sudah menjalani hidup dengan sia-sia, kajian saya saja nggak lancar pak, dulu terlalu ngejar duniawi sih. Sekarang saya berharap bisa jadi orang baik, jadi kelak dapat jodoh orang yang baik pula”. “Amin!”, aku memandangnya sejenak. “Boleh saya bertanya sesuatu, bu?”. Dia terlihat gugup. Wah, ada apa ini? Apa mungkin dia menyukai ... aku? Segera kutepis perasaan itu. Dia nggak boleh menyukaiku, aku sudah terlalu banyak menyakiti orang. “Dulu bu Farah ikut Jama’ah gitu nggak?”. Farah mengernyit, lalu menggeleng. “Oh, kalau pernah ikut kajian dan sudah memilih suatu aliran kan lebih gampang. Atau anda orang yang universal?”. “Islam saya universal pak, apa yang baik saya ambil yang buruk saya tinggalkan”. “Wah, prinsip anda kayak maling sandal di masjid”. Dia terhenyak memandangku. “Bercanda!”, sahutku. Setelah dia bisa membaca maksud ucapanku, dia tertawa. “Pak Ardan bisa lucu juga ya?”. Aku tak menjawab dan berjalan masuk ruang kerjaku. Aku sadar, aku mulai menyukai gadis ini, dia istimewa, masih pure, gampang diarahkan dan dibentuk meski ada sedikit sifatnya yang keras. Aku segera beristighfar. Kututup pintu hatiku dari virus merah jambu itu. Empat kali pengalaman dalam cinta, sudah bisa membuatku mengendalikan perasaan hatiku, anehnya, aku bisa membatasi diri dengan mudah sekarang, perasaan yang semula meluap, kini terkendalikan dan aku mengosongkan hatiku. Benar-benar kosong.
Farah SMS. “Gimana kabar bapak hari ini? Oh ya pak, buku yang bagus menurut bapak, apa, boleh dong kasih tahu referensinya?”. Kujawab singkat. “Gue Never Die. Salim A Fillah. Pro U Media”. Dia SMS lagi. “Bapak punya buku apa saja? Saya boleh pinjam?”. Tak-tik kuda Troya?. Virus Trojan Hourse. Astaghfirullah. Aku mulai Suuzhzhan. Aku tak menjawab SMSnya. Mungkin lebih baik begitu.
Aku tahu perlahan dia mulai menyukaiku, mungkin sudah taraf cinta. Aku harus menyelamatkannya. Dia mulai mendekati Adam dan bertanya macam-macam hal tentangku. “Pak Ardan dah punya pacar belum? Pak Ardan sukanya apa saja? Sifatnya seperti apa?”. Adam banyak bicara padaku. “Kasihan Farah, Dan, mau kamu cuekin gitu aja?”. Aku tak menjawab. “Dia pengen ta’aruf sama kamu, gimana?”. “Percuma”. “Terus aku harus bilang apa sama dia?”. “Bilang saja aku dah dijodohin sama keluargaku, pokoknya dia nggak boleh jatuh hati padaku”. “Kejam, Allah saja tidak pernah melarang Farah jatuh hati sama kamu, kok”. Aku beristighfar dalam hati. “Sebaiknya dia jatuh hati sama kamu Dam, kamu orang yang ribuan kali lebih baik dariku”. Adam hanya mengerdikkan bahu. “Aku kadang berharap, kamu benar-benar jatuh cinta sama seseorang, kamu bisa merasakan pedih yang dialami Farah”. “Percayalah Dam, aku sudah pernah mengalami kepedihan yang lebih parah dari itu berkali-kali hingga aku bisa belajar pada satu titik nadir: Ikhlas... “. “Tapi Farah bukan kamu Dan, sebaiknya kamu tolak dia tegas dan dia akan melupakanmu”.
Aku tak berani. Bahkan untuk menolak sekalipun. Mungkin, yah, kuakui, aku menyukai gadis itu juga, tapi, cintaku bisa menyakitinya, aku sadari itu. Sebelum kami terlanjur mengutarakan isi hati, sebelum ada perjanjian yang lebih jauh, aku harus tegas padanya. Aku teringat kekecewaan wajah Annisa, aku teringat air mata Nadia, aku teringat puisi jeritan hati yang berdarah-darah milik Layla, dan aku juga teringat Asih. Mereka adalah makhluk mulia bernama perempuan yang harus dilindungi, bukan disakiti, begitu juga Farah. Aku tak ingin menyakitinya, tapi pisau berada di genggaman tanganku. Tapi, mungkin masih ada satu kesempatan.
“Nyari software di sini sulit banget yah? Kalau di dekat kampusku dulu bejibun”, Farah menggerutu pada Faiz. “Kalau di sini memang agak mahal, satu Software 30 ribuan, mau kuantar mencarikan?”. “Nggak usah, tunjukin aja tempatnya. Aku nyari sendiri aja”. “Di belakang Masjid Al-Aqsa, ada Alva Computa, dari software dan hardware lengkap”. Aku mendekati mereka berdua. “Bu Farah nyari software apa?”. “MYOB Accounting, pak”. Farah terlihat kaget melihatku menghampirinya. “Saya punya yang versi 12 sampai 15, bu Farah butuh yang mana?”. “Kalau bisa yang 15”. “Besok datang aja ke rumah saya, nanti saya kasih, kalau hari Minggu besok saya di rumah”, aku memberikannya kartu namaku yang sudah tertera nama dan alamatku di sana. “Terimakasih pak”. Aku mengangguk lalu kembali ke ruanganku.
“Wah, diundang bos besar nih, nanti lanjutannya candle light dinner neh”, goda Faiz. Farah bergumam, “Ya nggak lah, ke rumahnya paling siang hari, nge burn CD lalu aku ditendang pulang”. “Hehe... kayaknya bos suka sama kamu neh, lagian kalau cuman bantu, Bos pasti hanya ngasih CD yang udah di Burn software, nah ini, undangan langsung ke Istana Negara, bow... Goodluck deh...”, Faiz berdiri dan menyentil kepala Farah. “Met kenalan dengan Camer ya... hahaha...”. Farah hanya menggerutu kesal.
---
Ya, aku berniat mengenalkan Farah pada Bunda. Sekedar menilai saja. Apakah gadis itu bisa meluluhkan hati bunda?. Semoga saja. Aku sendiri tak habis pikir. Seberapa lamakah aku harus menunggu untuk menemukan gadis yang bisa Bunda cintai dan aku cintai. Kapankah aku dan Bunda dapat mewujudkan Harmoni terhadap keinginan kami. Aku sangat menantikan saat-saat seperti itu terjadi. Aku rindu, untuk bisa menyayangi seseorang, aku rindu perasaan hangat di hatiku, mencairkan seluruh es Himalaya yang hampir mengabadikan kebekuan hatiku. Aku rindu kehidupan.
---
Aku melihat jam di dinding ruang kerjaku. Sudah pukul sembilan lewat. Farah belum datang juga. Aku sedikit gelisah. “Menunggu teman?”, bunda menuangkan teh di mug-ku. “Yah, begitulah...”. “Lelaki? Tomo?”. Biasanya yang main ke rumahku adalah sahabat Ikhwan dan tetangga dekat. Di rumahku memang Internet On-Line jadi mereka sering main game on-line di ruang kerjaku. “Bukan, Tomo sedang Pelatihan di pabrik, nanti yang datang rekan dari SMA Al-Azhar. Dia ingin nge-burn Software”. Bunda menepuk bahuku. “Perempuan?”. Aku hanya tersenyum, aku melihat sedikit kecemasan di wajah Bunda. Kekerasan hati Bunda sempat kurasakan, aku jadi teringat Kak Rani, kakak perempuanku, kisahnya tak kalah pedih dariku, meski pada akhirnya berakhir dengan bahagia. Aku teringat perjuangan Bang Arifin saat melamar kak Rani, bunda tidak menyetujui hubungan mereka. Ditolaknya mentah-mentah lamaran bang Arifin. “Preman seperti itu mau kau nikahi Ran? Bunda tak sudi!”.
Kak Rani hanya tersenyum sabar. “Jangan menilai orang dari penampilannya, bun, Bang Ifin bukan preman, tapi Intel. Penampilannya memang seperti itu”. Bunda ngeri melihat wajah Bang Arifin yang tak terawat dan jacket belelnya yang kumuh. “Tapi, kerjaannya kan selalu berdekatan dengan Preman! Tidak mustahil dia juga pemabuk, pemain judi, siapa yang tahu? Sifatnya sama dengan para preman itu!”. Kak Rani dengan sabar menerangkan. “Tidak seperti itu Bun, kak Ifin orangnya baik, Intel itu seperti Polisi, tapi menyamar ... karena tugasnya mengawasi penjahat yang diincarnya”. Bunda tetap tak mau mengerti. Kak Arifin pun orang yang tangguh. Meski lamarannya ditolak, dia bergeming. Dia setia menunggu kak Rani menerimanya dengan cara menunggu di depan rumah, baik panas maupun hujan. Selama hampir tiga bulan, dia menunggu, tidur di Mushala belakang rumahku dan shalat tahajud tiap malam. Seringkali kak Rani membujukku untuk diam-diam mengantarkan makanan ke mushalla, waktu itu umurku masih enam tahun. Dengan bujukan segenggam permen, aku dengan senang hati mengendap-endap melaksanakan misiku. “Apa Ardan bisa jadi detektif seperti Abang Ifin?”, tanyaku saat duduk di beranda mushalla pada suatu malam bersama pria yang kurus dan pucat itu. “Jangan, kerjaan abang berbahaya, Ardan anak yang pandai, mungkin kelak bisa jadi dokter”. “Ardan tak mau jadi dokter bang, sekolahnya mahal”. Bang Ifin mengacak rambutku. “Ya sudah, jadi guru atau dosen saja ...”, dia menggelitiki perutku hingga aku tergelak. Seperti biasanya pula, dia akan menitipkan sebuah kertas dari sobekan buku sakunya. Kak Rani selalu menangis saat membaca kertas lusuh yang dititipkan bang Ifin padaku. “Bersabarlah, karena buah kesabaran itu begitu indahnya ...”. Begitu salah satu kalimat yang pernah dibisikkan kak Rani saat membaca salah satu suratnya. Aku hanya memandangnya tak mengerti.
Hati bunda bukan karang, masih terdiri atas darah dan daging. Melihat kesungguhan kak Arifin dan tubuh kak Rani yang seperti bunga tak pernah tersentuh air, bunda luluh. Penantian hampir tiga bulan itu mendapat buah yang indah. Restu bunda. Aku takkan melupakan hari indah itu. Bunda memeluk Bang Arifin. Kesungguhan pemuda itu membuatnya yakin untuk melepaskan kak Rani dan membiarkan bang Arifin menjaganya. Waktu lamaran, aku terkejut, melihat seorang pemuda tampan dengan wajah berseri mendatangi rumah kami. Dengan izin atasannya, Bang Arifin mengambil cuti dan memotong rambut gondrongnya dan memangkas habis cambang dan kumisnya, hanya menyisakan sedikit jenggot yang dipotong pendek. Wajahnya seperti Pangeran Brunei. Bukan lagi memakai jeans belel dan jacket kumuh, tapi koko putih dan sarung yang serasi dengan bajunya. Kakak perempuanku sampai terpana memandang penampilan Bang Arifin. “Ini hanya untuk sementara dik, kalau nanti abang kembali bertugas, wajah abang akan kembali seperti semula, nggak papa ya?”, kak Rani hanya tersenyum. Senyum terindah yang pernah kulihat dari bibir kakakku.
Undangan hijau keperakan bertuliskan nama Syachrani Aulia Dewi binti Herman Syamsudin Farazzi dan Arifin Maulana bin Muhammad Iskandar segera tersebar, satu bulan kemudian diadakan akad nikah dibarengi Walimatul ‘Ursy. Foto indah yang mengabadikan hari itu sampai sekarang terpajang manis di ruang tamu rumahku. Mereka sudah memiliki dua anak lelaki, kembar, nakal pula, tapi rumahtangga mereka bahagia. Aku mendesah. Sungguh tak adil rasanya kalau aku menginginkan ketangguhan yang dimiliki kak Arifin pada diri Farah. Gadis itu mungkin kuat dan tabah, tapi, apakah bisa melalui ujian seperti kak Arifin?. Aku tak berdaya. Seharusnya akulah yang berada di posisi berjuang, seharusnya akulah yang menantang hujan dan terik matahari. Bukan Farah.
Bel berbunyi dan aku segera membukanya. Farah datang dengan wajah berseri dan tersenyum di depan pintu rumahku. Aku melongok keluar. “Sendirian?”. Dia mengangguk. Syukurlah dia tidak mengendarai Tiger hitamnya yang berisik itu. “Mana motormu?”. “Bannya bocor, jadi saya naik angkot”. Aku mempersilahkan dia masuk. “Bawa flashdisk atau CD?”. Dia mengangguk lalu mengaduk-aduk tas ranselnya, mengangsurkan flashdisk yang kuminta. “Em, pak, kalau ada sekalian anti virus, yang ringan sajalah ...”.. ”Oke. Tunggu sebentar ya, silahkan duduk, biar aku copykan dulu softwarenya”.
Aku masuk ruang kerjaku dan menyalakan laptopku. Kudengar suara bunda berbincang dengan Farah di ruang tamu. Tawa renyah Farah mengisi ruangan. Semoga dia bisa cocok dengan bunda.
Sengaja, aku membiarkan bunda dan Farah berbincang agak lama. Aku diam-diam berdoa. Karena sejak pertama aku melihat gadis itu di SMA Al-Azhar, perlahan kebekuan hatiku mulai mencair. Waktu kakinya terluka dan terpaksa membonceng pada Faiz, aku merasakan kecemburuan di hatiku, memandangnya pergi bersama Faiz, dan waktu itu pandanganku terarah padanya seolah tak rela. Andai aku saja yang dia mintai tolong waktu itu. Aku menghela nafas, panjang. Lalu kulepas flashdisk itu dari laptopku, melangkah perlahan menuju ruang tamu.
“Sudah selesai, pak?”, Farah memandangku. Aku tersenyum. “Maaf...nunggu lama ya? Tadi saya up date dulu antivirusnya”. “Wah, makasih banyak lho pak, saya ngerepotin nih, jadinya”. “Nggak papa, selama saya bisa bantu, jangan sungkan ya”. Farah tersenyum. Kulihat bunda juga tersenyum. “Farah sudah bekerja atau masih kuliah?”, tanya Bunda. “Dua-duanya Bu, masih belum selesai akta IV tapi sudah mulai mengajar, mohon doanya bu, biar Farah cepat selesai kuliah”. Bunda mengangguk saja. Lalu beliau mulai bercerita tentang masa kecilku. “Dulu Danny cengeng waktu kecil, penakut, makanya Bunda selalu dorong dia biar jadi anak pemberani, anak bungsu sih, makanya agak manja”. Aku tersipu, hilang sudah kewibawaanku. Farah mengernyit, mungkin tak menyangka karena sekarang aku dikenal sebagai orang yang tegas dan berani. Bahkan murid-muridku paling keder kalau ujian lisan denganku. “Dulu saya satu SD dengan pak Ardan Bu, di Nusantara 1, tapi beda kelas, dia di kelas A, tempatnya anak-anak pintar, saya cuman sampai level kelas D”. Setelah berbicang agak lama, Farah pamit.
Aku dan bunda agak lama terdiam di ruang tamu. “Anak itu temanmu?”, tanya Bunda. Aku tersenyum saja. “Kukira dia lebih tua darimu, apa benar begitu?”. “Ya, cuman selisih satu hari. Tanggal lahirnya 20 Desember”. “Kalau cari istri sebaiknya jangan yang seumur, selisih enam atau tujuh tahunlah, jadi kau bisa mengatur istrimu”. “Bang Arifin dan kak Rani sebaya, bahkan Rasulullah dengan Bunda Khadijah selisih 15 tahun, sepertinya umur bukan masalah Bun”. “Apa kau menyukai gadis ini?”, tanya bunda tajam, aku tak berani menjawab. “Sepertinya dia agak tomboi ya, gaya bicaranya juga lepas”. “Dia lama kuliah di Yogya”. Bunda mengernyit. Saat itu aku kembali suuzhzhan. Seandainya bidadari yang datang ke rumah inipun, jika bunda tak berkenan aku melepaskan masa lajangku, beliau takkan setuju. Hanya kak Farish, kakak lelakiku, yang kisah cintanya tidak terlalu berliku. Dia sejak SD menyukai kak Arisya, tetangga kampung sebelah, sejak kak Arisya pindah di SD Nusantara 1 saat kak Farish kelas dua SD, hati kanak-kanak kak Farish yang murni, terpaut pada gadis cilik berkepang dua yang punya lesung pipit di kedua pipinya itu. Ada saja alasan kak Farish untuk mengajak Arisya belajar kelompok bersamanya.
Sepulang sekolah mereka belajar bersama, sampai menjelang maghrib. Dengan lihai kak Farish mengarang cerita kalau jembatan di dekat rumah kami angker, Arisya yang penakut biasanya meminta kak Farish mengantarnya melewati jembatan itu kemudian lari terbirit-birit setelahnya. Aku tak pernah mengerti, kenapa kak Farish begitu terkesan dengan kisah konyol itu. Keesokan paginya, Arisya akan dengan gemas mencubiti lengan Farish. “Aku nggak mau lagi belajar bareng kamu kalau kamu nakut-nakuti aku! Dasar nyebelin!”. Tapi, mungkin karena diam-diam Arisya menyukai kak Farish atau sudah menjadi penggemar berat bakwan buatan Bunda yang selalu tersaji ketika mereka belajar bareng, Arisya betah saja berlama-lama belajar di rumahku. “Bakwannya enak ...”, komentar itu sering kudengar darinya, kadang aku kesal kalau Arisya dengan lahap menghabiskan sepiring bakwan yang disajikan. Aku yang dua tingkat berada di bawahnya, waktu itu dia kelas lima dan aku kelas tiga, tak berani meminta bagianku. Farish malahan sangat rela kalau bagiannya diambil Arisya. Waktu SMP kedua sejoli itu pisah, Farish di Bandung dan Arisya tetap tinggal di kota ini. Saat SMU mereka masih terpisah jauh, bahkan sampai kuliah. Baru setelah Arisya menamatkan sarjana Ekonominya di Yogya dan Farish menggondol sertifikat S1 Teknik Mesinnya, bunda memperbolehkan keduanya bertunangan, kemudian setelah masing-masing bekerja, mereka menikah. Sekarang kedua orang yang beruntung karena menemukan pecahan mozaik jiwanya sejak SD itu sama-sama sedang meneruskan master di bidangnya masing-masing, padahal Arisya sedang hamil, sering juga mereka ribut saat pulang, tapi dengan cepat kembali berbaikan. Menurutku, keduanya adalah makhluk konyol dan aneh, meski sebagian besar tetanggaku berpendapat (waktu mereka menikah) keduanya adalah pasangan serasi, seperti dongeng cinderella dan sang pangeran, cantik bertemu tampan, sama-sama pintar, tapi di mataku mereka masih sepasang anak kelas dua SD yang asyik berdebat gimana sih cara bikin pe-er yang baik, gimana sih caranya ngumpetin sepatunya Bu Iim yang galak, biar kapok!. Keduanya adalah Partner in Crime. Dan Bu Iim yang gemuk itu tak habis pikir, bagaimana mungkin, murid teladan di SD Nusantara 1 sekaligus merupakan berandalan cilik yang membuatnya merasa semakin bertambah tua sepuluh tahun kalau Farish dan Arisya sudah kompak berbuat jahil.
Pernah Farish melepaskan sekotak kodok di dalam kelas yang membuat anak perempuan menjerit-jerit dan anak lelaki kegirangan. Bu Iim hampir pingsan karena beliau phobia dengan hewan-hewan sejenis itu. Lagi-lagi ayah dipanggil untuk memperbaiki kelakuan anaknya. Farish mendapat hukuman tidak dikasih uang jajan seminggu, tapi partnernya dengan senang hati membagi dua bekalnya untuk dimakan bersama dan Farish justru keasyikan karena ibu Arisya yang guru tataboga itu pandai memasak. Waktu kelas 6 SD, mereka sedang tegang-tegangnya belajar untuk ujian akhir, Farish masih saja berbuat jahil. Dia mencuri sebatang rokok ayah, untuk menyukut mercon besar yang sudah dia siapkan di kamar mandi rusak dan tak terawat di belakang kelas 6. Saat kelas sedang hening dan anak-anak konsentrasi akan ujian, mercon meledak dahsyat. Bu Iim dan pak Tulus yang sedang menjaga ujian terlonjak kaget, anak-anak ribut. Tentu saja tak ada yang tahu pelakunya kecuali aku. Tapi Farish sudah menyogok akan membelikan bakso dua mangkok sepulang sekolah, jadi aku diam saja. Kekacauan waktu ujian dimanfaatkan sebagian anak untuk mencontek, karena Farish yang paling pandai di kelas, dia yang terpaksa ngasih contekan. Termakan ulahnya sendiri. Tapi dia cukup puas meninggalkan kenangan yang takkan dilupakan guru dan teman-temannya. Meski akhirnya kelak dia ketahuan, tapi itu saat pembagian ijazah dan dia bersiap menuju ke Bandung, meneruskan SMP di sana.
Sebenarnya Arisya juga tomboi, seumuran dengan Farish pula. Tapi, kenapa bunda menyetujui hubungan mereka? Apa karena sudah mengenal Arisya sejak kecil?. Terkadang gadis itu membuatnya jengkel karena meski sedang hamil tiga bulan, masih memanjat pohon mangga di depan rumahku. “Farish nggak mau memetikkan sih Bun, jadi aku panjat aja sendiri, udah ngidam nih”. Bunda hanya mengelus dada. “Sudah, jangan diulangi! Nanti bunda belikan rujak paling enak di pasar! Dan kamu Rish, jaga istrimu baik-baik, dia itu anteng kitiran! Maunya gerak terus, nggak baik untuk kandungan yang masih muda”. Farish hanya mengangguk pasrah. Arisya tergelak lalu memeluk bunda. “Nah, kalau kata bunda pasti diturutinya, kalau aku ... wah, sampai berteriakpun mana mau Farish mendengar? Rahasianya apaan sih Bun...?”. Bunda hanya mendesah jengkel lalu masuk rumah sambil bergumam kesal. “Tentu saja, aku ini kan ibunya, ah, kalian memang masih kekanak-kanakan, belum pantas momong, sekarang, belajarlah lebih dewasa sedikit!”, Arisya yang cuek hanya terkikik dan melempar pandangan mesra ke arah Farish, kalau sudah begitu, aku yang sedikit iri, merasa lebih baik menyingkir.
---
“Kapan nikah Dan? Kamu kan udah kerja, mumpung masih cakep, masih banyak yang mau, eh, kalau dipikir lucu juga ya, dulu kamu masih ingusan, cengeng, amit-amit deh, sekarang bisa cakep juga”, gumam Arisya. Aku tak berkomentar. “Gimana kalau kukenalin sama temenku, banyak lho, ukhti yang manis dan terpelajar, agamanya juga bagus ...”. aku tersenyum lalu menunjuk bunda yang duduk di seberang dan asyik berbincang dengan Farish. “Boleh, tapi tahu sendirilah, bunda...”, aku tak perlu menjelaskan, Arisya sudah mafhum. “Tapi, yang bunda bilangin ke kita, semua demi kebaikan kita kok, coba dulu aku sama Farish nekat nikah muda, mungkin malah akan menyesal karena pernikahan itu mungkin karena terdorong nafsu, saat sama-sama sudah mengetahui arti tanggung jawab, ternyata kita akhirnya bisa faham maksud bunda supaya kami cari kerjaan dulu”, Arisya meringis dan memegang perutnya. “Kenapa?”, aku bertanya khawatir. “Nggak, baru terbiasa saja ... ah, aku bersyukur pada Tuhan, aku bisa mendapat anugrah seindah ini, doain semua lancar ya Dan”, aku hanya mengangguk.
Setelah mendengar komentar bunda tentang Farah, aku tak pernah lagi SMS dan berbicara dengan gadis itu. Aku takut semakin mencintainya, semakin terkesan memberikan harapan, padahal aku sendiri tak berdaya. Sepulang dari mengajar, Adam bercerita padaku, lalu bertanya serius. “Farah sampai tak habis pikir, apa kesalahannya padamu sehingga kamu sedingin ini Dan?”. “Tidak ada apa-apa, sudahlah, bilang saja jangan berfikir yang tidak-tidak tentangku, aku memang orangnya seperti ini”. “Paling tidak, kalau kau tak bersedia membalas perasaannya, bilang saja kau tidak menyukainya, sebenarnya aku capek dan, menjadi tempat curhatnya, Afwan Dan, aku takut, aku malah mencintainya”. Kata-kata Adam membuatku seperti tersengat listrik. “Apa?!”. “Kami sering jalan bareng, meski membicarakan dirimu, karena dia takut langsung mendekatimu, tapi, aku kan hanya manusia biasa, kalau aku terlalu dekat dengannya, bisa-bisa aku malah yang jatuh hati padanya, sudah ya Dan, aku nggak berani lagi jadi tempat curhat Farah. Biar dia curhat sama yang lain saja”. “Terserah, nggak ada hubungannya denganku”. Aku mengambil helm di lockerku yang semakin penuh surat dan coklat. Ini hari Valentine, aku mendengus. Perayaan yang nggak Islami tapi sedang trend dikalangan anak muda, momen yang dimanfaatkan pabrik cokelat agar produknya laris. Aku berteriak memanggil Usup, penjaga sekolah. “Tolong bersihkan locker saya pak”. “Lho, itu kan coklat pak”. “Buat anda saja”.
Ayah. Ayahku adalah tipe pria pendiam. Sagitarius, sama sepertiku. Tapi jangan salah, kalau sudah marah, wajah sabarnya bisa merah membara, tapi, saat-saat kebandelan Farish dan aku sudah berakhir, beliau jarang marah, hanya saja aku sering mengingatkannya agar tidak terlalu banyak merokok. Aku disiplin tidak merokok setelah mengurus pesantren. Ayah sulit sekali menghentikan kebiasaan yang paling dibenci Bunda itu. Setiap beliau merokok, ayah menyingkir di Gazebo depan rumah yang khusus dibuat ayah untuk merokok dan menghindar dari pandangan tak setuju bunda.
Aku duduk di sebelahnya dan tersenyum. “Masih belum bisa berhenti?”. Ayah tertawa, “Sulit Dan, bahkan Bundamu takkan bisa membuat ayah berhenti mencintai benda ini”. Lalu beliau memandangku bijak. “Ada masalah?”. ‘Tidak”. “Jangan bohong, ayah bisa melihat kegelisahan di matamu, hei, jangan bilang kalau kau ... sedang jatuh cinta?”. Aku menghela nafas panjang. “Sulit yah, jatuh cinta itu ... “. Ayah memandangku tajam. “Karena bunda?”, aku mengangguk. “Ardan, kau ini seperti tak tahu saja sifat bundamu itu. Ayah merayunya untuk jadi istri ayah saja, sulitnya luar biasa ... padahal ayah juga tahu, dia mencintai ayah. Tapi, ah, gimana ya ... jadi bongkar masa lalu nih”. “Ceritakan saja yah”, aku jadi bersemangat. Ayah tertegun lalu berkata.
“Sebenarnya dulu, orangtua bunda tak setuju bunda nikah dengan ayah, karena ayah masih pegawai kecil di suatu perusahaan swasta. Buruh yang tak punya apa-apa. Orang tua ayahpun minder bermantukan Bundamu. Keluarga bunda juga kolot, masih trah darah biru dan bunda tadinya seperti memiliki keangkuhan turun-temurun dari keluarganya. Waktu kami dikenalkan Safitri, teman ayah, Bundamu sama sekali tak mau melihat ke arah ayah, melengos. Bayangkan, apakah kau bisa percaya suatu hari kelak bunda mengaku, dia jatuh hati pada ayah ya waktu pertama ketemu itu. Masa sifatnya kurangajar sekali, tak mau salaman sama ayah sekalipun. Tapi ayah terlanjur suka sama gadis angkuh putra pak Lurah, gadis itu punya mata sebening telaga. Ayah terus-terusan nekat mendatangi mushala, menunggunya selesai mengaji dan nekat pula mengantarnya pulang meski hanya disuguhi wajah masam kakekmu. Empat bulan kemudian, saat kami memahami kalau cinta kami tak mungkin terpisahkan lagi, ayah nekat melamar bundamu, tentu saja kakekmu tak setuju dan menganggap ayah tak menganggap derajatnya yang tinggi. Tentu saja sakit sekali Dan, didamprat secara kasar dan tak manusiawi, tapi ayah tegar. Saat itu keadaan makin gawat karena bundamu akan dinikahkan secara paksa dengan anak juragan teh di desa kami, terpaksa ayah melarikan bundamu ke Jakarta dan menikah di sana. Bertahun-tahun dan, kami dikucilkan dan tak diakui kedua orang tua kami. Tapi perjuangan berbuah manis saat Rani lahir, mereka bisa menerima keadaan kami, ditambah saat Farish dan kau hadir, wah, nenekmu ... sampai sekarangpun rajin berkunjung, kan?”. Ayah tertawa lalu memandangku. “Badai pasti berlalu Dan, kalau kamu bisa dan sanggup, ini bukan masalah kemampuan, tapi kemauan, kalau hanya ada niat tapi tak melaksanakan ya hanya mubadzir, hanya jadi angan-angan”. Aku merenung. “Maksud ayah, aku kabur bersama gadisku ini dan kelak Bunda akan merestui?”. Ayah hanya memandangku, misterius lalu berkata. “Yah, tidak harus seperti itu, caranya terserah kamu saja, tapi yang sesuai hati nurani, karena, kata hati yang murnilah yang akan menuntunmu pada kebahagiaan sejati. Kamu lelaki Dan, lelaki memiliki otak, wanita memiliki perasaan. Tanamkan pada hatimu, kau bukan orang yang lemah, kau pejuang dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, tapi, sebisa mungkin, libatkanlah Allah dalam setiap keputusan yang kau buat. Allah memberikan yang kau butuhkan, meski terkadang, hal itu bukan yang kau inginkan, tapi terbaik untuk hidupmu”.
Banyak yang kurenungkan akhir-akhir ini. Sampai mengendarai motor sepulang sekolahpun agak melamun. Hujan yang turun rintik-rintik membuat badan jalan agak licin, motorku salip dan aku terjatuh tanpa merasakan sakit, semua gelap.
---
Adam memandangku dengan senyuman. Aku tahu apa yang dia tertawakan, ketidakberdayaanku. “Ah, entah kenapa, aku malah bersyukur kamu di sini, pada akhirnya bisa istirahat juga, selama beberapa minggu ini kamu workaholic, seolah bekerja keras untuk mengalihkan perhatian dari sesuatu, ya nggak?”. Aku tak perlu menjawab. Kupandang lenganku yang diperban. Kepalaku sedikit pusing saat memaksakan bangun. “Relaks, Superman ... kamu harus istirahat!”. “Yang ngajar menggantikan aku siapa?”. “Farah, sudahlah, istirahatkan otakmu itu! Semua dalam kendali. Oh ya, dapat salam dari Farah”. “Kamu bilang aku masuk RS?”. “Yup’s, dia sampai panik, sempet nangis juga loh, kemarin juga menjenguk sebentar waktu kamu masih dibius. Wah, kayak Maria sama Fahri di AAC, seru!”. “Apa?”. “Nggak. Dia hanya menepuk pipimu, nggak sampai mencium kok, hahaha, kan ada aku”. Sialan! Dikiranya ini lucu?. Wajahku terasa panas. “Lain kali kamu cegah dong, kita kan bukan muhrim”. “Nggak ada lain kali, oh ya, kau juga musti berterimakasih padanya, dia nyumbang darah buat kamu, sekarang darahnya mengalir di tubuhmu juga”. Aku tertegun, tak bisa berkata-kata. Lalu ambruk dan memejamkan mata. Masalah ini membuatku ngilu, lebih menyakitkan dari luka di tubuhku. “Aku tak bisa membalas kebaikannya. Aku nggak berguna”. Adam memandangku lalu menepuk bahuku tanda simpati. “Kamu ... hanyalah orang yang terlalu sensitif, berhati-hati dan perfectsionis, terkadang kamu harus berfikir seperti orang biasa, santai sajalah, hidup kan bagaikan air mengalir, nikmati aja”. “Kalau ngalirnya ke septictank ya ogah ...”. “Kau samakan Farah dengan septictank?”. “Nggak, maksudku ... kalau nggak mengalir di tempat yang nggak benar ya harus dibelokkan ...”. “Farah bukan tempat yang benar? Kebenaran seperti apa yang kamu inginkan, wahai orang beriman yang sombong?”. Adam menjitak kepalaku. “Aww, sakit tau!”. “Tau kok, tuh kepala baru dijahit lima jahitan, tapi bung, janganlah terlalu sombong, hidup nggak selamanya diatas, dapat Farah seharusnya karunia yang paling indah bagimu, kalau aku jadi kau...”. “Ya, ya, sebaiknya kau saja yang bersama Farah...dia lebih cocok denganmu, kata-katamu lebih lembut, menenangkan dan kamu sangat baik hati, tidak angkuh sepertiku”. “Marah nih? Oke, jujur aja, aku maunya juga begitu, tapi cinta Farah hanya buat kamu, Mr. Busy ... kamu memang Mr. Wrong, tapi di matanya kamulah Mr. Right. Aku ingin sekali memiliki cinta itu, cinta yang terlalu indah untuk diinjak-injak orang sepertimu ...”. Baru kali ini aku melihat seorang Adam bisa jengkel juga, biasanya dia adalah makhluk tersabar dan terlembut yang bisa ditemukan di SMA Al Azhar. Aku memejamkan mataku. “Berisik Dam...”. Pemuda itu menarik nafas dalam dan menuju ke pintu. “Jangan membuat keputusan yang salah Dan, ikutilah kata hatimu, karena di sanalah kebahagiaanmu”. Kata-kata klise. Aku tak mau mendengarkan.
---
Aku semakin menyibukkan diri dengan beberapa usaha baru patungan dengan temanku. Sebuah toko komputer mungil tapi lengkap, G-Fun (Gadget Fun) Comp. Dan warnet unik X-Side. Di warnet yang baru terdiri dari 10 ruangan no Smoking dan 2 buah ruangan mini untuk menyetel film itu, sebagian waktuku kuhabiskan. Kurancang warna hitam dan merah mendominasi X-Side. Ruangan Mini Theater-nya cukup untuk 10 orang. Tepat untuk having fun sampai meeting. Aku cukup puas.
Sekali penyetelan Film dihitung 50.000, sesuai kocek pelajar, apalagi yang datang sekelompok lebih dari 5 orang, biayanya bisa ditanggung rame-rame diantara mereka. Filmnya pun kami pilih sendiri, dilarang membawa film dari luar. Sehingga yang ada hanya film action, fiksi ilmiah, film ringan bahkan education. Aku tak ingin membuat tempat usaha yang sembarangan, suatu hari aku bercita-cita membuat Cafe yang Islami, antara Akhwat dan Ikhwan tempatnya tersendiri, bagi pasangan suami istri pun tersedia sendiri. Tapi berhubung biaya usahanya terbilang besar, aku belum berani berinvestasi untuk Cafe. Sementara cukuplah dengan toko komputer dan Warnet kecil. Kegiatanku semakin bertambah, tak jarang aku pulang menjelang dini hari, langsung shalat malam, istirahat sejenak kemudian bangun saat subuh, mandi, sarapan lalu mengajar. Waktuku habis untuk bekerja, tak kalah dengan seorang dokter. Tapi aku harus mengakui, aku manusia biasa yang bisa terkapar lemah, terlalu capek, aku menambah beberapa pegawai dan merancang liburan untuk diriku sendiri.
---
“Pak Ardan liburan semester nanti mau ke mana?”, tanya Chika, salah satu muridku, cantik, genit dan sering terang-terangan menunjukkan perasaannya padaku. “DRS alias di rumah saja”. “Yah, nggak asyik dong, ke Bali aja yuk pak”. “Sudah sering, bosan, lebih baik istirahat saja di rumah, nah, tugas yang tadi saya berikan sudah selesai kan? Silahkan dikumpulkan pada ketua kelas , Aris, kamu ketuanya kan? Nanti bukunya ditumpuk di meja saya saja”. Aku beranjak meninggalkan kelas. Berpapasan sebentar dengan Farah, matanya merah, seperti habis menangis. Aku berusaha keras tidak bertanya dan tidak memperdulikannya. “Pak Ardan ... tunggu sebentar”, Farah menghentikan langkahku. “Bisa kita bicara?”. “Saya sibuk bu, lain kali saja”. “Saya mohon pak, sekali ini saja, penting”. “Tapi ...”. “Please...”, Farah memandangku. “Bawa motor?”, tanyaku. Farah menggeleng. “Kita ke warnet saya saja, di sana lebih leluasa ngomongnya”.
Aku memboncengkannya pelan. Gadis itu tidak berani berpegangan padaku. Waktu yang kutempuh jadi lebih lambar dua kali lipat dibanding biasanya. Aku tak segera ke Warnet, kami mampir dulu di Jami’ dan shalat bersama, aku yang jadi Imamnya. Aku mengabaikan kalau gadis itu semakin cantik saja. Tiba-tiba terbayang sesosok gadis kecil berambut ikal yang senyumnya manis waktu aku SD dulu. Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja menemukan album foto tua di gudang waktu beres-beres. Ada fotoku waktu latihan lomba cerdas cermat, di grup kelas A ada Aku, Syamsul Farid dan Priyo Hutomo, di kelas D ada Stevano Gunawan, Mohamad Badarudin dan Farah Rifqan. Gadis kecil imut yang nakal itu, yang suka berkelahi dengan anak cowok dan sering dihukum pakai topi keledai bego di ruang Kepsek, sekarang udah jadi gadis manis yang bisa merontokkan (paling tidak) hatiku. Hati seorang Ardansyach Herman Farazzi. Selesai shalat dan berdoa (kulihat dia berdoa sambil menangis) aku mengajaknya keluar. Tumben masjid sepi, takut juga sih, gini-gini aku lelaki tulen, pernah jadi cowok cafe pula, hatiku jadi tak karuan, pokoknya keluar dulu...
“Mau bicara apa?”, aku menyuruhnya duduk di salah satu ruang mini Theater dan menyalakan TV plasma yang segera mempertontonkan adegan action-nya Will Smith di I-Robot. Film lama sih, tapi aku suka aja. Robot, tapi lumayan manusiawi. Aku kangen dengan sepatu Sneaker Converse ku yang mirip dengan punya Mr. Smith. Sayangnya, sejak jadi guru, aku hanya bisa memakai sneakers kalau olahraga di hari Minggu, itu saja kalau ada waktu luang. Aku memesan French Pottatos plus Warm Lemon Tea dua porsi. Farah tak berani memandangku. Dia sepertinya berat mengutarakan maksudnya. Aku menghela nafas, ini waktunya. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Ada apa Bu, ada yang bisa saya bantu?”. Farah mendongak, matanya berkaca-kaca. “Begini pak, saya ... dijodohkan dengan orang tua saya”. “Lalu?”. Hei, apakah suaraku terdengar begitu dingin?. Farah hanya memandangku, diam, air matanya mengalir. Aku hampir saja meraihnya ke pelukanku, oh Tuhanku, aku harus tega. Gadis itu seperti bingung mau berkata apa, lalu dengan berani memandangku. “Saya suka sama bapak, saya tahu saya lancang, tapi saya harus tahu, apakah bapak bisa menerima saya atau tidak”. “Maksudmu?”. “Anda tahu maksud saya ...”, gadis itu berkata pelan, oh, aku sudah sangat keterlaluan menyakitinya, tentu saja aku tahu apa maksudnya. “Saya tahu saya memiliki banyak kekurangan, saya berandalan, bapak alim, bapak mengelola sebuah pesantren dan hafal al-Qur’an, saya hanya orang bodoh, bapak orang yang sangat pintar, dan ... saya lebih tua meski hanya terpaut satu hari dengan bapak, saya tahu saya bukan calon istri yang ideal, dan saya lancang mengajukan diri saya, tapi ... saya harus jujur pada diri saya sebelum saya menyesali langkah yang nanti saya ambil”.
“Maksudmu, jika aku menerimamu, kau akan mencampakkan calon suami yang akan dikenalkan oleh orang tuamu? Sungguh tak adil. Kau kira siapa dirimu?”. Farah terhenyak mendengar kata-kata kasarku. Biarlah, biarkan dia membenciku untuk saat ini. “Dengar Farah, percayalah padaku, calon yang akan diperkenalkan oleh orangtuamu akan cocok denganmu, aku hanya bisa berkata demikian, selamat tinggal!”, aku meraih jacketku dan meninggalkannya begitu saja. Farah tampak shock.
---
Setelah maghrib aku memacu motorku menuju sebuah hotel. Setelah memarkir motorku, perlahan aku menuju ruangan yang mewah di Hotel Alrich. Kak Farish memandangku, mungkin menanyakan keterlambatanku. “Macet ...”, bisikku. “Mana ayah dan Bunda?”. “Dalam perjalanan juga”. Kami berdua memasuki restoran hotel dan menemui sebuah keluarga. Hari ini, lagi-lagi aku akan berkenalan dengan seorang gadis. Ta’aruf. Kali ini aku yakin pada pilihanku, gadis itu berada di tengah orangtuanya, tertunduk tak memandangku. Jilbab putihnya membuat si gadis tampak rapuh. “Maaf saya terlambat”, suaraku menyentak, mengagetkan gadis yang tertunduk itu, perlahan wajahnya yang cantik memandangku dengan terkejut.
Tak lama kedua orangtuaku datang bersama Arisya yang tertawa cerah. Dasar cewek badung, senyum jahilnya nggak berubah sejak SD dulu. Di belakangnya menyusul bang Arifin dan kak Rani plus si kembar bengal, Fadil dan Fadli. Seperti rombongan pawai saja. Setelah semua duduk, aku memandang tajam gadis yang berhadapan denganku di seberang meja. “Afwan jiddan ...”, aku berusaha menahan perasaan haru di hatiku. “Kalau tadi siang saya sudah melukai hati Farah ... saya serius dengan ucapan saya tadi siang, calon suami yang akan dikenalkan dengan Farah, Insyaallah akan cocok dengan Farah”, aku menahan senyumanku. “Tapi, berkat kejadian tadi siang, saya jadi tahu seberapa besar perasaan Farah terhadap saya, saya sangat ... eh, tersanjung, hari ini saya ingin mengutarakan niatan saya untuk Ta’aruf dengan Farah, sebelum melanjutkan ke walimatul ursy”. Keringat dingin membasahi keningku. Stay cool, Dan!. Ayah dan ibu Farah memandang putrinya. “Kalau kami, dari pihak keluarga Farah, hanya bisa menyetujui, andai putri kami menyetujui pula niatan nak Ardan, nah, ?Farah, bagaimana jawabanmu?”.
Gadis itu memandangku sekilas. Aku merasa, air mata yang dia tumpahkan karena aku tadi siang masih belumlah kering. “Maafkan Farah ... “, gadis itu memandangku lagi lalu berujar pelan “Farah tidak bisa ....”.
Aku merasakan hatiku jatuh ke dasar jurang yang dalam. Sepertinya Farah terlalu marah atas perbuatanku tadi siang. Aku hanya bisa beristighfar dalam hatiku. “Maafkan Farah, Pak Ardan, Farah tidak bisa menolak niatan bapak ...”. Kepalaku pening, gadis ini , ah, lidahku kelu tak bisa berkata-kata. Kuanggap posisi kami seri sekarang. Ayah menepuk bahuku dan tersenyum, bunda hanya memandangku datar. Semoga, suatu saat, restunya akan menghampiri kami. Aku mendapat ucapan selamat dari kakak-kakakku. Kedua keponakanku seolah mengerti bakal ada perayaan, segera berbisik pada mamanya sambil menunjuk-nunjuk ice cream vanilla besar yang didorong pelayan ke meja kami. Hidangan makan malam lengkap segera tersaji di meja. Aku merasa beban di pundakku separuh terangkat. Tinggal restu Bunda, maka kebahagiaanku akan lengkap.
---
“Tega sekali pak Ardan ngerjain aku”, Farah berdecak di sampingku, kami menikmati suasana malam Alrich yang gemerlap. Aku meneguk minumanku. “Kalau tadi siang aku bilang ‘aku akan menyelamatkanmu dari perjodohan konyol itu’ maka kita nggak akan bertemu di sini”. Farah tersenyum. “Bodohnya aku, aku bahkan tak bertanya pada orangtuaku siapa yang akan dijodohkan denganku”. “Aku kenal ayahmu, kami sering bertemu di rapat pembangunan Mushalla Al-Hidayah. Aku sengaja ingin membuat kejutan sehingga kukatakan pada ayahmu untuk merahasiakan namaku”. “Kenapa?”. “Takut ditolak, karena selama ini aku sudah bersikap sangat keterlaluan terhadapmu, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memutuskan hubungan komunikasi begitu saja bukan? Akan konyol kalau kau tahu aku tiba-tiba mengajukan Ta’aruf”. Farah mengangguk. “Mungkin ... untung semua berakhir dengan baik”. Aku mengangguk.
“Pak ..?”.
“Hmm?”.
“Ta’aruf itu ngapain aja sih?”.
Aku tersedak. Lalu memandangnya. “Pernah pacaran?”. Farah menggeleng. “Sama sekali?”. Gadis itu mengangguk dan memandangku yang tak yakin atas pengakuannya. “Saya low quality jomblo, hehe...bukannya nggak mau pacaran kayak akhwat lain, tapi memang nasib aja ...”, aku tak percaya, tapi harus percaya. “Kalau bapak nggak percaya, silahkan bapak bikin pengumuman, kalau ada seorang lelaki yang bisa membuktikan saya pernah pacaran dengannya, saya akan kasih dia dua juta”. Aku tersenyum. “Nggak perlu, Allah maha tahu, yah, Ta’aruf itu perkenalan, kalau pacaran kan hanya antara kau dan aku, tapi kalau Ta’aruf antara kau dan aku, keluargamu dan keluargaku, kita boleh jalan bareng, dalam batasan Syar’i. Paling banter aku ngapel ke rumahmu, kalau mau nonton bioskop harus tetap bawa rombongan, kak Farish dan Arisya pasti senang jadi bodyguard kita. Seperti itulah, tetap nggak boleh dua-duaan, kecuali sudah akad”. “Berapa lama Ta’arufnya”. “Biasanya tiga bulanan, tapi, kalau mau dipercepat boleh, toh sebenarnya kita sudah kenal dari kecil, bukan?”. Farah mengangguk-angguk tanda mengerti. “Tapi saya masih heran, dulu sepertinya bapak menghindari saya, kenapa sekarang ...”.
Aku menceritakan dengan jujur setiap alasanku. “Pada akhirnya, aku akan membuang sifat sok perfectsionisku dan akan menjadi manusia yang berfikir normal plus sederhana saja, aku ingin menyempurnakan separuh agama, aku menemukanmu, menyukaimu, dan aku takkan mengingkari kata hatiku, karena di sanalah letak kebahagiaanku, mungkin juga kebahagiaanmu ... “. Mata Farah berkaca-kaca. Aku hampir mengulurkan tangan memeluknya. Ah....belum saatnya! (Ups!)
Pertama kali aku datang ke rumahnya untuk ngapel.
Norak mungkin, tak ada seikat bunga, tak ada secarik kertas berisi puisi. Aku membawakan buku tebal bersampul kuning ‘La Tahzan’ dan buku ‘Agar Bidadari Cemburu Padamu’ karya Salim A. Fillah. “Semoga Farah suka”, aku meletakkan buku itu di meja. Farah mengambilnya dan membawanya masuk setelah mempersilahkan aku duduk.
Tak lama sepiring cake coklat buatan sendiri dan teh manis dibawa oleh Farah, disajikannya untukku. Aku memperhatikannya sejenak. “Kalau malam minggu seperti ini biasanya Farah ngapain?”. Dia duduk dan memandangku sekilas. “Yah, paling ngutak-atik komputer, main game, kalau bunda sedang praktek resep kue baru ya ikutan bikin kue, saya nggak pernah kemana-mana”. “Kok kayaknya tegang banget ya, biar lebih akrab, kita ganti aku-kau aja, gimana, kau keberatan?”. “Agak, apa nggak sebaiknya mulai sekarang saya latihan bilang Bang Ardan?”. “Boleh juga, tapi kalau di sekolah masih harus pakai istilah Pak Ardan lho”, gadis itu tertawa. “Iya..iya...Pak Guru ...”. Kami bicara tentang musik, gadget, software, sampai game. Dilanjutkan dengan buku kesukaan dan beberapa masalah keagamaan. “Kau ikut partai tertentu?”. “Nggak, aku sih nggak pernah ngikut aliran tertentu, atau partai tertentu, karena waktu kuliah, aku ikut suatu aliran malah disusupi pihak yang tidak bertanggung jawab. Malas jadinya, kuputuskan, kalau sudah punya suami kelak, baru suami yang memutuskan akan pakai aliran mana, aku ikut aja”. “Kalau suamimu alirannya sesat gimana?”. Farah tertawa. “Sepertinya dia alirannya Pop Rock deh ...”. “Nggak juga, D’Garde, group Bandku dulu, alirannya Rock murni, kok, hanya saja, selera pasar waktu itu lagu Pop, jadinya kami kebanyakan menyanyikan lagu sok imut itu”. “Ih, memangnya Bang Ardan udah yakin bakalan jadi suamiku?”. “Insyaallah...”. “Aliran abang apa dong ...”. “Tebak dong...”. “Kasih petunjuk, please”. aku tak bisa menahan senyumku melihat alisnya yang bertaut tak sabar. “Gini, lihat Lembaga Pendidikan yang menaungi Al-Azhar, sudah mudeng belum?”. Farah berfikir sejenak lalu mengangguk. “Lega deh, soalnya satu aliran sama ayah”. “Aku kan udah pernah bilang, kami ikut kepanitiaan membangun Mushalla Al-Hidayah, jadinya aku dan ayahmu satu aliran, hehe...”.
---
“Cintailah ayahku, ibuku, ibuku, ibuku, lalu, cintailah aku”. Itu satu syarat yang kuminta pada calon istriku. Farah tersenyum ,”Kamu bukan orang yang egois ya ... cukup 20% aja, tapi, aku maunya cinta darimu 100%”. “Lho ...?”. “Diluar cintamu pada Allah, rasul, dan keluargamu ...”. “Okey, itu sih ... kuusahakan”. “Kok diusahakan sih?”. “Setiap tahun kukasih 2%, nanti kau total sendiri setelah bertahun-tahun kita hidup bersama, sepakat?”. “Kok gitu?”. “Biar cintaku nggak habis-habis buatmu”. “Cinta kok sistemnya kredit?”, tanya Farah sambil memandang gemas padaku. Aku tak menjawab, lalu melangkah ke ruangan Wakasek dan kututup pintunya setelah melepas senyuman jahil padanya yang semakin cemberut. Kunyalakan laptopku dan memesan undangan pada sahabat lamaku di Yogyakarta yang memiliki usaha design grafis. “20 September 2009”. Tinggal beberapa minggu lagi dan aku akan membangun separuh tiang agamaku. Semoga Allah memberikan rahmat dan barokahnya kepada keluarga kecilku nanti.
Dalam setiap sujud malamku, dalam lirih permintaan doaku, dalam keheningan malam yang membuatku berarti, kutampung seluruh airmataku dalam satu keinginan, “Ya Allah, sukseskanlah hidupku, akhiratku, duniaku, letakkanlah dunia dalam genggaman tangan kami, dan akhirat dalam hati kami. Berkatilah seluruh keluargaku, luruskanlah jalanku dalam sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah”.