First Love
I ask God for a rose
He gave me a garden
I ask God for a drop of water
He gave me on ocean
I asked God for a best friend
And He gave me....You...
“From the first moment when I hear your name, something in my heart came alive”Remembering You: Steven Curtis Chapman
Cinta... Aku sebenarnya tak tahu...
Apakah sebenarnya cinta itu
Tapi jika perasaanku ini bukanlah cinta
Maka tak ada yang namanya cinta di dunia ini
------
Kupandang langit kota tua ini, begitu biru, begitu cerah. Meski jacket hitamku dan celana panjangku terselimut debu, tubuhku terlalu lelah untuk berjalan, tapi hatiku tenang. Dia sudah ada di sampingku. Menemukanku. “Tersesat?”, senyumnya mengembang, Tuhan, Kau tahu hatiku tak bisa berbohong, hanya berada di sampingnya saja aku merasa tenang, debaran di jantungku sepertinya menguat, bereaksi merasakan degup jantung makhluk di sampingku. “Begitulah, kota ini lumayan menyesatkan, jalur busnya lumayan membingungkan, padahal kau tahu, penyakit lamaku...”. “Buta arah...muahahaha....”. Entah kenapa, derai tawanya menular padaku. Ah, senangnya, akhirnya aku sampai juga di kota ini, melihat-lihat bangunan tua dan menyusuri sejarah di dalamnya.
“Bagaimana kabarmu?”, tanyanya. “Yah, seperti yang kau lihat, bagaimana menurutmu?”. Dia menopang dagunya dengan tangan dan melihatku sejenak. “Kurasa kau baik-baik saja...”, kami berjalan memutar alun-alun dan duduk di taman kota. Sejenak menikmati keindahan bunga mawar yang mulai mekar dan terhanyut dalam pikiran kami masing-masing. “Something wrong?”, suaranya mengagetkanku. “Eh?”. “Tampaknya kau seperti sedang memikirkan sesuatu...gimana kuliahmu?”. “Yah, hampir berakhir, bentar lagi wisuda...”, jawabku acuh. “Wah, enak nih, tinggal melamar, atau dilamar, hehe, pilih yang mana?”, tanyanya sambil tertawa, duh, giginya itu lho, aku iri, betapa rapinya gigi itu berbaris, putih bersih, seperti senyum cowok di iklan pasta gigi saja. Aku berfikir sejenak. “Ya...kalau Valentino Rossi melamarku, aku nggak nolak kok...”. “Busyet...seleramu tinggi ‘kali...”. “Begitulah, seleraku memang ‘tinggi’ hehe...”, jawabku sambil menghela nafas. Ngerasa nggak ya ni orang...
“Ih...ih...dari nada bicaramu, kayaknya ada sesuatu deh...kamu udah ketemu tambatan hati ya? Cie...udah dewasa dong sekarang...tell me about him...”. Aku memandangnya lalu tertawa. “Kau ini ada-ada saja...ehm, beneran nih mau tahu seperti apa ceritanya? Panjang dan lama lho...”. Dia pura-pura melihat jamnya. “Konsultasi setiap satu jamnya kuhitung sepuluh ribu, tarif antar temen, gimana?”. “Busyet...mahal amat...”. “Itu sudah murah, tahu...udah termasuk diskon 20%”. Aku berdecak. “Baiklah...baiklah, nah, dengarkan ya nak, ceritaku ini baik-baik...”.
---
“Aku, yah, kisahku mungkin terdengar aneh, mulai dari mana ya, aku jadi bingung...”, aku menggaruk kepalaku. “Dari kau kenalan dengannya, dimana dan bagaimana...”. Aku menghela nafas. “Wah...kisahku nggak seperti itu...ini mungkin kedengarannya aneh bagi kamu, tapi, aku mencintai orang ini jauh...jauh sebelum aku bertemu dengannya...”. “Eh?”. “Begini...kau kan tahu aku ini suka menulis cerpen?”. “Yup’s”. “Setiap menulis sebuah cerita, tentu kubayangkan dulu, seperti apa tokohnya, bukan?. Sejak aku SMU, aku membayangkan seorang cowok, sesuai imajinasiku, semakin lama, bayangan itu berkembang semakin nyata. Seperti seorang seniman, yang jatuh hati pada karyanya sendiri. Dari posturnya, wajahnya, rambutnya, pakaian yang dikenakan,...ah, pokoknya semuanya deh...dari suatu bayangan abstrak menjadi manusia yang sesungguhnya”. “Wow, jadi, sekedar pacar khayalan?”, tanyanya. Aku mengerdik. “Mulanya begitu...kukira aku hanya bisa menghayalkan saja tentangnya, betapa lembutnya dia, baik hati dan penuh kasih...yah, kayak gitu lah, tapi pada suatu hari, saat aku dalam perjalanan pulang, waktu itu aku berada di dalam bus, aku nggak sengaja melihat keluar jendela, eh, di terminal Westside..kau sering melewatinya kan?”. “He-eh..”, “Aku melihat seorang pemuda, dia sedang berdiri, bersandar di tembok...dekat pertokoan terminal, kau bisa bayangkan...kan kelihatan tuh kalau dilihat dari jendela bus, aku benar-benar kaget...pemuda itu persis sekali seperti tokoh dalam cerpenku, aku terpana, eh, waktu busku melaju, aku tersentak, ingin sekali aku menemuinya, tapi aku hanya bisa memandangnya saja, bus perlahan menjauh dan aku merasa sangat sedih...seperti baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga”. Tak sadar aku menghela nafas. “Ceritamu masih belum menarik”, katanya. “Iya...sabar dunk,menariknya setelah ini”.
“Seminggu kemudian, aku mengerjakan tugas pajak di tempat temenku, karena dia cowok, pintu kamar kami biarkan terbuka dan aku...eh...nyontek kerjaannya. Lagi asyik nyontek, tiba-tiba sebuah buku tipis berwarna..apa ya, agak pink mungkin, jatuh menimpa kepalaku, sambil menggerutu kuletakkan buku itu di depanku, hanya kubuka covernya saja, ternyata cuma buku kenangan SMU, aku cuekin dan mulai nyontek lagi, hehe. Tiba-tiba saja angin bertiup dari pintu dan lembar demi lembar selanjutnya buku itu terbuka. Kau tahu, seraut wajah lembut mengejutkanku”. “Ada hantu di buku itu?”. “Enggak...dengerin dulu dong...”. “Iye...iye...terusin...”. “Aku ngeliat wajah cowok yang di terminal, nggak salah lagi, wajah yang selalu ada di pikiranku, saat kubaca huruf demi huruf, namanya terasa nggak asing, tanggal lahirnya...lho...kok tempat dia lahir sama denganku ya...saat itulah aku menyadari sesuatu, mungkin ini rencana Tuhan atau apalah...yang pasti aku merasa senang, sedih, campur aduk...ternyata ada juga kisah yang diatur seaneh ini...ternyata aku memang sudah mengenalnya jauh sebelum ini”.
“Aku bertanya pada temanku itu, apakah dia kenal dengan cowok yang ada di buku kenangan itu?. temanku mengangguk. ‘Oh, ini...anaknya tinggi-jangkung, orangnya ramah, baik hati, dia suka ngedengerin R&B...’. ‘Udah punya pacar belum’ tanyaku waktu itu, temenku hanya mengerdikkan bahu. ‘Nggak tahu ya, tapi kayaknya enggak deh, anaknya kan alim...’ namanya juga cowok, dia nggak bertanya lagi. Tapi aku terus berusaha mengumpulkan informasi tentang orang ini, aku juga nggak tahu, apa ini yang disebut naksir atau apa, aku terus mencari tahu tentangnya”.
“Suatu hari, tanpa sengaja aku mendapatkan nomor HP cowok itu, bicara dengannya, mendengar suaranya, sepertinya dia sudah 80% menjelma,dari suatu bayangan ke wujud nyata. Kau tahu, rasanya seperti sebuah keajaiban. Kami saling SMS, kirim kabar...aku tahu dia kuliah di mana. Aku ingin sekali bertemu dengannya, sangat ingin. Tapi aku tak bisa”. “Kenapa?”. “Entahlah, aku ingin dia yang menemuiku, aku ingin dia yang menemukanku, bahkan, saat dia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit, aku tak mampu melangkahkan kakiku untuk menemuinya, padahal hatiku begitu hancur, khawatir, kalau aku tak ingat janjiku pada ayahku untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin, sudah kutinggalkan ujianku dan terbang menemuinya. Malamnya, aku bermimpi berada di rumah sakit, melihat keadaannya, lukanya, memegang tangannya...dia tertidur karena obat penenang”.
“Aku sadar, aku gila...suatu hal yang aneh bukan, menyadari kegilaan yang terdapat di dirimu”. “Entahlah...teruskan, ceritamu mulai menarik”. Aku menahan airmataku, mencoba tersenyum. “Yah, suatu hari ada seorang teman perempuan datang ke tempatku, dia menceritakan banyak hal tentang cowok itu. dia bercerita, kalau cowok itu sedang naksir kakak kelasnya yang alim dan cantik. Wah, bisa kau bayangkan perasaanku?. Tapi mungkin itu peringatan Tuhan agar aku tak terlalu berharap banyak. Lagipula bisa mengenal cowok itu saja sudah cukup bagiku. Meski cinta yang tertulis di lembaran kisahku sangatlah aneh, aku tetap saja bersyukur, meski mencintai dengan cara yang seperti ini, aku merasa senang, inilah kisahku yang Tuhan tuliskan. Kupikir aku akan menyimpannya baik-baik, andai perasaanku tak tersampaikan, aku yakin, doa-doaku akan tersampaikan. Aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin bertemu dengannya”.
“Sampai suatu hari, dia berkunjung ke rumahku, Tuhan, apa maksud semua ini? Apakah kisah ini belum berakhir?. Aku merasa, hari itu sangat indah, seperti mimpi saja, bisa bicara langsung, memandang wajahnya dan...kau tahu...dia persis seperti cowok yang kugenggam tangannya dalam mimpi, apa itu bukan suatu hal yang aneh? Aku jadi takut kalau aku menjadi terobsesi atau apalah...”. aku menatap rumput di kakiku. “Memangnya kau belum pernah jatuh cinta...eh, maksudku, waktu SMP, SMU atau kuliah kan kau berinteraksi dengan banyak orang, apa nggak pernah sekalipun kau jatuh cinta selain pada cowok khayalan ini?”, tanya dia sambil menyentuh bahuku. Aku berpikir sejenak, mengingat. “Ehm, kalau naksir kakak kelas yang pandai atau gimana sih pernah, tapi kalau jatuh cinta...aku nggak tahu, aku tidak pernah memikirkan orang sampai sedalam ini kecuali sama cowok khayalanku itu, pernah sih waktu SMU naksir cowok, tapi entah kenapa sepertinya hatiku selalu memikirkan cowok khayalanku ini lebih kuat, jadinya jomblo deh seumur-umur, tapi karena temanku buanyak...jadi nggak ngerasa jomblo deh...”. “Berarti kau ini bodoh ya...”, katanya. “Kenapa?”. “Karena kau setia pada orang yang bahkan perasaanmu padanya saja dia nggak tahu, eh, sebaiknya kau katakan saja padanya, kan sayang tuh, perasaan cinta yang begitu besar dan murni kau sembunyikan terus di hatimu”. “Inget, dia sudah naksir cewek lain...”, kataku. Dia mengernyit. “Yah...nggak papa...namanya juga usaha...hehe...”.
“Menurutmu, lebih baik dicintai atau mencintai?”, tanyaku. “Saling mencintai”, jawabnya pendek. “Kalau kau mencintai orang tapi orang itu cuek sama kamu?”. “Cari yang lain, masih banyaaaak orang yang bisa kita cintai, cinta buatku Universal, kau cinta sama ibumu kan, ayahmu...saudara-saudaramu, bahkan anak-anak jalanan itu...sedikit cinta dan perhatianmu bisa sangat berarti buat mereka”. “Susah ngomong sama orang sosialis kayak kamu, gak ada romantis-romantisnya...”. dia tertawa mendengar gerutuanku. “Maaf...maaf...”,lalu dia diam sambil memandangku. “Oke, kudengarkan, non”. “Kamu udah pernah mencintai?”. “Lho...lho...introgasinya kok jadi aku...”, gerutunya “Ih, jawab dulu pertanyaanku...”. dia hanya diam, lama, sampai aku nggak sabar lagi. Matanya yang hitam terlihat semakin kelam di balik kacamata itu. Apa dia bisa melihat hatiku?. “Ya...menyukai mungkin pernah, mengagumi seseorang, tapi mencintai, aku nggak tahu, apa ini yang disebut cinta, setiap orang pernah menyukai, bukan?. Itu sesuatu yang wajar. Aku pernah suka sama kakak kelasku...”, katanya sambil mengalihkan pandangannya dariku dan menerawang menatap langit. “Gimana rasanya?”. “Suka ya suka...that’s it”. “Oh...”. aku nggak tahu mesti ngomong apa. Sedikit banyak pengakuannya membuatku terguncang. Dia pernah menyukai seseorang, pernah ada seseorang menempati hatinya, aku mencoba tersenyum. “Kau bilang sama dia kalau kau menyukainya?”. “Pengennya sih gitu, tapi...kayaknya kuliah sama kerjaanku lebih penting dari itu, mungkin nanti kalau aku sudah lulus, sudah punya kerjaan tetap, tinggal kulamar dia...”. “PD banget...nggak takut dia sudah dilamar orang?”. “Kalau jodoh nggak bakal lari ke mana, kalau nggak jodoh, akan kutemukan yang lebih baik”, katanya cuek. “Wow...”. “Kenapa?”. “Ada ya, orang kayak kamu?”. Dia tertawa, “Aku lebih percaya sama Allah, Dia memberi yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan, dan semua yang akan terjadi adalah yang terbaik. Yang kulakukan hanyalah berdoa...untuk yang terbaik, itu saja, halah! Sekarang giliranmu bicara...kenapa kamu nggak ngomong langsung ke cowok itu kau suka padanya?”.
“Banyak faktor...yang pertama aku ini kan cewek”. “Sekarang sudah zaman emansipasi non”. “Tetap saja nggak bisa...yang kedua...argh! pokoknya banyak faktor lah...dia sudah menganggapku sahabat sejati, tahu! Kalau dia tahu aku menodai persahabatan ini dengan mencintainya...wah, aku nggak mau ambil resiko, persahabatan yang sudah sedemikian lama bisa hancur, ntar dia nggak mau sahabatan sama aku lagi gimana...ah, sudahlah, lebih baik kita bicarain hal lain saja ya, doain saja Tuhan bikin aku kecelakaan dan hilang ingatan tentangnya, jadi duniaku menjadi normal lagi”. “Eh? Bukannya malah jadi hampa...kalau broken heart ya terima aja nasibmu”, katanya sambil tertawa. “Ih, enak banget kamu ngomong...”, aku menggerutu.
“Baiklah, alihkan pembicaraan, hehe...udah jalan ke mana aja tadi?”. “Kemana-mana, pokoknya yang menarik kupotret aja...”. “Nanti mau terusin jalan-jalannya?”. “Nggak, capek, ntar aku langsung pulang...lagian kamu hari Sabtu sore ada kuliah kan, jadi gak bisa nganter aku...”, aku memasang I-Pod ku dan mendengarkan lagu-lagu kesayanganku. “Maaf ya...habis aku gak bisa ninggalin kuliahku, Minggu juga ada Praktikum yang tertunda...”. “Wow, kerjaanmu banyak ya, dikit lagi botak tuh kepala...tapi, aku akan selalu mendukungmu, bro...don’t worry...”. dia hanya menggelengkan kepala memandangku. “Ck..ck..kalau udah main I-Pod gitu kamu nggak kelihatan kayak orang lagi broken...tapi dari cara kamu cerita, kayaknya rasa sayang kamu ke cowok itu begitu besar...”. “Yo’i, sampai-sampai pernah kepikiran aku gak pengen nikah kalau gak sama dia, biar aja jomblo seumur-umur”. “Pasti kesepian, nggak ada orang yang betah jomblo seumur-umur”. “Nggak juga, aku pengen dia donorin spermanya, aku pengen ikut program Inseminasi buatan...gimana menurutmu, itu melanggar aturan Tuhan nggak? Paling tidak, wajah seorang bocah yang lucu, yang mirip dengannya bisa menghibur hatiku yang pedih ini, hiks...”. Dia terbatuk-batuk, lalu meletakkan sebotol air mineral yang semula diminumnya. “Gila! Sampai sebegitunya kamu...”. “Itu kan cuma pemikiranku, jangan dianggap serius deh...hidup masih panjang, aku nggak bakal berhenti berharap...sebelum nisan menancap, aku akan terus berharap, semoga Tuhan ngasih aku keajaiban”. “Halah...itu namanya obsesi, bukan cinta!”. “Udah tahu...cuman bercanda kok, aku juga tahu kapan aku harus menyerah...”. aku tersenyum, sambil memandangnya, mata di balik kacamata itu...dia balas tersenyum.
“Sebelum kau mengantarku pulang, biarkan aku duduk sebentar di sini ya...lima menit saja”, gadis itu tersenyum, lebih tepatnya mencoba tersenyum, cowok di sampingnya tak berkata apa-apa, hanya memandang ke arah luar taman, beberapa ekor burung terlihat beterbangan di puncak-puncak pohon, membuat sarang yang nyaman untuk telur-telur mereka. Gadis itu memperhatikan dengan seksama. Ah, andai aku terlahir kembali, aku ingin menjadi seekor burung...memiliki sayap yang membuatku bisa pergi ke mana saja, ke seluruh sudut dunia, melarikan diri...
First Love (Part I)
Westside University, Oldtown, 06 February 07
Hanya kau yang akan menjadi cinta itu
Hanya kaulah satu-satunya yang menempati hatiku
Akan kuingat selamanya memori tentangmu
Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku
Sekarang...dan selamanya, kaulah cinta pertama itu
First Love, by:(Utada Hikaru)
Misha membuka matanya. Sekilas tadi didengarnya HPnya berdering, First Love Utada Hikaru, hanya satu orang yang dia khususkan pada nada itu. sekejap, bayangan seorang cowok berkacamata dan tersenyum manis berkelebat dalam benaknya, wajah yang selalu menenangkannya, dia rindukan dan dia sayangi. Setengah mengantuk diliriknya HP dan diperiksanya siapa yang miss call barusan. Benar saja, orang itu, tumben, biasanya kalau nggak di SMS duluan dia nggak perneh SMS ataupun Miss call. Senyuman lebar tak terasa menghiasi wajah Misha. Tapi segera surut. “Yah...miss call doang, SMS kek, dasar Kakek!”. Dengan enggan Misha menyingkirkan selimut dan merapikan beberapa buku yang berserakan di kasurnya. Tersenyum kecil saat melihat seraut wajah di sampul buku Trinity Blood. Abel Nightroad.
Abel Nightroad, cowok jangkung berkacamata yang sifatnya aneh, lucu, ramah dan sekilas terkesan tak bisa diandalkan. Tapi di balik wajahnya yang polos, dia memiliki satu wajah lain, Krusnik, Abel bukan manusia biasa, tapi vampir istimewa yang hanya meminum darah vampir. Bermata semerah darah dan memiliki sayap hitam yang terbentuk dari ribuan pedang. Abel, cowok berhati lembut itu, dan Snik, cowok misterius yang cool...Abel dan Snik adalah satu. Entah kenapa, Misha merasa cowok yang dia sayangi mirip Abel, meskipun dalam kesehariannya Evan tampak ceria dan langkahnya ringan, di balik itu sepertinya ada beban berat yang dia pikul di pundaknya. Abel menyayangi Esther, karena hati Abel lembut dan penyayang, dia tak ingin Esther melihat wujudnya sebagai Krusnik, andai Abel tahu, seperti apapun dirinya, siapapun dirinya, Esther akan selalu menyayanginya.
Ah, Evan, andai kau tahu aku begitu menyayangimu, dari kau kecil sampai sekarang, hanya dirimu yang bisa menempati ruang hatiku. Sudah kucoba menyingkirkan bayanganmu, menipu diriku, berusaha menyukai orang lain, tetapi selalu gagal. Kau selalu menjadi raja dalam mimpiku, menempati ruang terluas di hatiku. Misha mendesah, kuliah hari ini sampai sore. Menyebalkan, apalagi ada nilainya yang begitu buruk, sehingga dia harus berusaha ekstra mengejar nilainya. Diambilnya handuk dan bersiap ke kamar mandi ketika HP berbunyi, sebuah pesan masuk. “Misha, aku mau ke Southside nih, di Middle Town ada pameran buku kan, gimana kalau kita ketemuan di sana?”. Misha menghela nafas. Evan? Evan mau ke sini! Hatinya girang bukan kepalang. Tapi saat diingatnya hari ini dia kuliah dan tak bisa bolos, dia merasa ingin menangis. “Tuhan, aku ingin ketemu Evan, please, beri aku kesempatan...”. lalu dibalasnya SMS Evan. “Ah, Evan hari ini aku kuliah, gimana kalau besok aja kamu kesininya? Aku besok libur dan kita bisa jalan-jalan”. Tapi, sesuai karakter Evan, cowok itu nggak ngebales SMS.
Beberapa jam kemudian, saat mau berangkat kuliah, HP Misha bunyi. SMS dari Evan. “Hoi, aku di East Fountain nih, kalau menuju Middle Town lewat mana ya...”. Misha nyengir. “Lurus aja, kalau kamu sudah lihat tugu perdamaian, belok kiri, nah, di kanan jalan kamu akan lihat gedung putih...Economy College, setelah kau bertemu denganku baru kuberi tahu arah yang tepat ke Middle Town, hehe...”. Evan tak membalas, Misha memakai sepatunya dan berjalan ke kampusnya. Dasar kakek! Kau tahu, aku kangen sama kamu nih...Misha menggerutu, sesampainya di depan gerbang kampus, tak sadar dia tetap berdiri di sana dan melihat motor yang berseliweran di jalan depan, tak sadar dia menunggu seseorang. “Bodoh, apa mungkin Evan mau meluangkan waktunya untuk menemuimu?”, Misha menunggu sampai seperempat jam lalu tersenyum sedih, dengan lesu dia berjalan ke kelasnya.
Misha asyik termenung menunggu kelas dimulai ketika HPnya bergetar dan cewek itu membuka pesan masuk.”Lho, kok aku sudah berada di depan pintu masuk Economy College ya? Kamu dimana Misha? Aku kangen nih!”. Misha menepuk pipinya, ini mimpi nggak ya...lalu dibacanya pesan itu sekali lagi, memang benar, itu dari Evan!. Tergesa-gesa Misha berlari sampai anak-anak memperhatikannya. Di telponnya nomor Evan. “Kakek! Kamu dimana? Jangan bohong ya...kamu beneran di sini nih?”. “He eh...di gerbang depan dekat pos satpam, kamu dimana?”. Misha berlari sampai paru-parunya terasa hampir meledak, dari jauh bisa dilihatnya sosok Evan yang tingginya diatas rata-rata itu. Evan memang jangkung, tak hanya itu, wajahnya yang lembut dan selalu tersenyum itu, persis seperti wajah dalam mimpinya. “Evaaannn!”, teriak Misha. “Aku nggak nyangka kamu sampai juga kesini...”, Evan tersenyum. Aih, manisnya...andai waktu berhenti, ingin rasanya Misha terus memandangi wajah cakep itu, tapi saat diingatnya siapa Evan, Misha menunduk. Nggak boleh! Jangan lihat wajah Evan seperti itu! jangan sampai dia tahu kau sangat menyukainya...
“Gimana kabarmu?”, tanya Misha. “Baik...”, jawab Evan. “Kamu di sini bareng siapa?”, tanya cowok itu. “Sendirian aja, eh, aku seneng lho lihat kamu...”, kata Misha. “Aku juga, andai kamu cowok, sudah kupeluk dari tadi...”, kata Evan. Misha tersenyum, sedih. Tuhan, aku ingin jadi cowok, biar dia peluk aku!. Lalu dialihkan pandangan pada teman Evan. Cowok itu datang bersama temannya, berboncengan motor, uh, karena terpaku sama Evan jadi lupa dia ada temannya. “Dari Westside?”, cowok itu mengangguk. “Wah, kukira Evan bareng temen ceweknya...ternyata sama cowok, hehe...eh, Van, mampir ke kostku ya...setelah urusanmu selesai dan lihat pameran buku...”, Evan memandang ke arah jalan. “Eh, memangnya nggak ada yang marah Misha...cowokmu gimana...”, Misha tertawa. “Cowok apaan, kamu tahu ayahku kan, kalau belum lulus S1 gak boleh pacaran...”. Evan tertawa. “Bagus itu...”, mereka berbincang kira-kira sepuluh menit. “Kamu mau masuk kuliah kan...sana gih, ntar telat lho, aku juga harus pergi...”, kata Evan. Misha menghela nafas. “Baiklah...take care Evan, kalau sempat mampir lagi ya...please..please...”. “Oh ya, jalan ke Middle town?”. “Lurus aja, setelah itu mentok belok kanan, eh, ntar mampir lagi ya, please...”... cowok itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Aih, tangan itu...ingin sekali Misha menyentuhnya, menggenggamnya. Motor Evan melaju meninggalkan Misha, gadis itu hanya bisa memandang sampai motor Evan lenyap di kejauhan. Tak terasa air mata Misha mengalir, “I Love You Evan...aku mencintaimu...”, betapa mudahnya diucapkan, tapi saat Evan berada di depannya tadi, kenapa kata-kata itu sangat sulit terucap? Misha tak pernah mengerti.
Evan, cowok itu adalah sahabat Misha waktu SD, umurnya tujuh tahun saat pertama melihat Evan diperkenalkan di depan kelas, betapa manisnya wajah itu, terlihat ramah dan lembut, mungkin sedikit cengeng. Misha suka semua yang ada di diri Evan, kepintarannya, kebaikannya, pokoknya semuanya!. Kedekatan mereka di kelas kadang jadi bahan ejekan anak-anak, mulanya Misha marah, malu, tapi hati kanak-kanaknya yang polos mengakui, dia suka sama Evan. Tak banyak yang Misha bisa ingat, karena saat mereka kelas lima SD, Evan pindah ke luar kota, tanpa pamit. Yang Misha tahu, saat liburan kenaikan kelas berakhir, cowok itu tak pernah muncul lagi di sekolah, Misha bertanya pada Bunda, kenapa rumah Evan kosong?. Bunda bilang, Evan sudah pindah...berhari-hari Misha nangis, karena kangen dan benci. Benci! Kenapa Evan nggak pernah bilang kalau dia mau pindah? Nggak ninggalin alamat atau nomor telpon...gimana Misha bisa menghubunginya?.
Misha berusaha keras memperhatikan penjelasan Pak Agus di depan kelas. Wajah Evan masih saja membayanginya. “Dasar Kakek!”, gerutunya. Kakek adalah panggilan Misha buat Evan, habis cowok itu tiap kali SMS selalu memberikan nasehat, seperti kakek-kakek aja, tapi Misha suka kata-kata yang disampaikan Evan melalui SMS, selalu memberikan arti yang dalam dan bisa direnungkan. Misha tersenyum. Apa Evan percaya, kalau kukatakan aku menyayanginya? Hehe, dia pasti hanya menganggapku ngelantur atau apa, mungkin juga dia menyadari aku menyukainya, tapi selalu tak ingin mengakuinya, ah, entahlah, aku juga nggak mengerti kenapa perasaan ini ada di hatiku? Dan kenapa harus Evan? Tuhan, Kaulah pemilik Cinta. Kau jugalah yang menciptakan cinta ini, bukan?. Setelah berpisah jarak dan ruang yang begitu jauh dengannya, kau pertemukan kami kembali, meskipun aku tahu aku bukan orang yang bisa dia cintai, aku tak pernah berhenti mencintainya. Evan pun tak berhak melarangku mencintainya, bukan?. Kumohon Tuhan, izinkan aku mencintainya, dan...berharap dicintai olehnya...Misha tersenyum, sedih. Cinta...apakah yang membuat jantungnya berdetak tak wajar tiap bertemu Evan, apakah yang membuat wajahnya panas saat menatap cowok itu...apakah yang membuatnya ingin selalu melihat cowok itu tersenyum adalah perasaan yang disebut Cinta?
---
Misha kaget saat merasakan getaran yang begitu keras mengguncang kamarnya. Gempa. Setahun belakangan di Southside emang sering terjadi gempa, meskipun dalam skala kecil cukup mengagetkan dan membuatnya takut, tanpa disadarinya dia SMS ke nomor Evan. “Kakek, tahu gak...Misha takut nih, ada gempa lagi...”, nah lho, padahal ini pukul tiga pagi, Evan juga khan masih tidur, lagian Evan bisa apa?. Cowok itu jauh di Westside sana! Tapi logika memang selalu kalah. Misha merasa tenang, walau hanya memberi kabar seperti itu pada Evan, duh, Misha sendiri nggak ngerti, kenapa di depan Evan dia seperti menjelma kembali menjadi bocah SD yang manja dan cengeng itu. padahal di kampus dia terkenal cool dan galak, wakil kelas PM lagi! Misha menjadi seperti memiliki dua sosok. Dia tak bisa membayangkan wajah Evan kalau cowok itu tahu Misha bisa juga galak dan teriak-teriak mengatur temannya bertransaksi saham di kelas simulasi Pasar Modal, aih!
Esoknya Evan baru membalas. “Mungkin Southside butuh pengorbanan darah segar darimu non, biar gempanya reda...hehehe”. Misha nyengir, betapa kekanak-kanakkannya! Tapi dia merasa senang, sepatah dua patah kata dari Evan selalu membuatnya bersemangat, tapi selama ini dia memang hanya bisa curhat sama Evan meski dalam bentuk terselubung. “Kenapa Tuhan menciptakan cinta jika kita nggak boleh pacaran?”. Pertanyaan itu belum Evan jawab sampai sekarang.
11 February 2007
Misha berpikir, apa sebaiknya dia membuang perasaan cintanya ke tempat sampah? Atau ke laut saja? Kalau beruntung biar Evan menemukannya, atau jadi makanan ikan sekalian. Andai cinta bisa di delete, dan daripada mikirin si jangkung itu kan energinya bisa untuk mikirin yang lain, Banjir di Neo City misalnya, gara-gara proyek pembangunan gedung dan Mall tanpa diimbangi sanitasi yang baik, seminggu ini Neocity terendam banjir!. Sungguh memalukan, padahal Neocity kan ibukota negara, Central, malu-maluin nih negara di mata dunia aja...uh! Tuhan, tolonglah hambamu ini...kalau Evan tahu aku jatuh hati padanya sampai rasanya mau mampus gini, bisakah...bisakah aku hilang ingatan saja...bikin aku kecelakaan atau gimana, jangan sampai cacat, tapi cukup hingga otakku melupakan Evan, perasaan ini begitu menyiksa, menghancurkan bahkan membunuhku perlahan-lahan. Aku tak ingin jatuh cinta dan menghianati persahabatanku dengannya...please Tuhan, berikan jawaban padaku, pertanda padaku, apa yang harus kulakukan...aku sangat menyayanginya hingga tak mampu kehilangannya, cinta ini mungkin bisa menyakitinya, aku nggak mau itu, aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin berada di sampingnya, tapi tetap saja hatiku ini kotor, aku mencintainya, menginginkannya untuk diriku sendiri...tolong aku Tuhan, tolonglah aku.
Ikhwan terhormat, muka malaikat, tuan suci tak ternoda bernama Evan, yang digoda setan penggoda bernama Misha! Sungguh cerita yang sangat bagus! Apalagi Evan tuh berhati selembut salju, baik sama siapa saja, baik sama cewek-cewek, jadi Misha gak boleh GR tuh, dan lagi...banyak loh, yang naksir sama Evan! Gimana enggak? Sudah cakep, bodynya bagus, pinter...kurang apa sih seorang Evan? Mungkin sifat jeleknya adalah terlalu polos dan baik hati...kalaupun Misha nekat mencium bibir malaikat itu, Evan mungkin hanya menatapnya sedih dan menangis. “Misha...jangan jatuh cinta padaku...dosa...aku nggak mau kamu terlibat dosa gara-gara aku...hiks!”.
Busyet! Kenapa Tuhan? Kenapa tak kau buat dia saja yang jatuh hati padaku, tergila-gila, biar dia rasakan betapa tersiksanya batin ini, pura-pura alim di depannya, menyentuh tangannya saja aku tak bisa, padahal hatiku ingin sekali menyentuh wajah lembut itu, menatap matanya dan bilang betapa aku sangat menyayanginya, tapi sentuhan tanganku bagai lidah api neraka yang bisa menghanguskan tubuhnya. Tuhan, aku sadari posisiku, aku tahu siapa diriku...cewek yang biasa saja, cantik enggak, pinter enggak...wuih! Tuhan, kenapa Kau ciptakan Evan begitu sempurna? Begitu...ah...tak tersentuh? Seperti apakah wanita yang kelak bersamanya? Apakah sebentuk sosok yang sempurna juga...wanita yang sangat cantik, alim, lembut...makhluk sejenis dengan Evan.
Evan...Evan..Evan...yang menasehatiku untuk selalu mencintaiMu, selalu menyebut namaMu, bernafas dengan menyebut namaMu...”Cinta itu milik Tuhan, Misha...”. ya, aku tahu...aku tak boleh memikirkan Evan lebih daripada aku memikirkanMu, jadi Tuhan, tolong, cintailah aku, bukankah Engkau maha pencemburu?. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya, atau...tolonglah aku...keluarkan aku dari kegelapan ini...
Misha menuangkan semua perasaannya di laptop, merenung sejenak, ah, betapa cepat waktu berlalu, jika Evan berada di sampingnya, padahal, saat sendirian dan sedih seperti ini, dia merasa waktu terlalu lambat bergulir. Gadis itu kembali mengetik dan mencoba mengingat apa yang bisa dia ingat. Waktumu tak banyak Misha, tapi kau tahu satu hal, hidup ini sudah memberi banyak hal, Tuhan sangat menyayangimu, jadi kau tak boleh serakah..
Gadis itu terbatuk dan cowok berkacamata yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan pandangan bertanya. “Are you okey?”, gadis itu mencoba tersenyum tapi gagal, sebuah rasa sakit yang dalam menghentak dadanya dan tak sengaja darah memercik dari bibirnya. Oh, God, semoga dia tidak melihatnya. “Misha...”, Evan mengernyit tangannya terulur. “Bibirmu berdarah...”, gadis itu dengan gugup mengelap bibirnya. “Uh, pasti karena tergigit tadi...uhum...”, dia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba berpikir lagi. “Misha...ada apa sebenarnya, tampaknya kamu ada masalah dengan pernafasanmu...aku...”, Misha mengangkat tangan, mencegah Evan bicara. “Nggak papa...”. cowok itu malah berlutut di depan Misha dan memandang gadis itu tajam. “Realy?”. Misha memandang Evan, wajahnya mengernyit. “Tidak...aku, sebenarnya aku...kena kanker paru-paru stadium dua...umurku tinggal menghitung bulan lagi...”.
Evan memandang kedalaman mata Misha, wajah cowok itu berubah keruh, dahinya mengernyit. Misha menggigit bibirnya, lalu menoleh, menghindari tatapan mata Evan, pandangan matanya terasa kabur, wajahnya memanas. Tak lama tawa Misha berderai memecah kesunyian taman. “Mmmuahaha...lihat tampangmu itu Van...kau ini...aduduh, apa bicaraku sudah keterlaluan hingga tampangmu jadi kayak orang patah hati gitu? Cep..cep...jangan nangis, aku cuman bercanda...”. Evan berdiri, dia tidak tertawa, bahkan tersenyum seperti dugaan Misha, cowok itu kini berdiri seperti mendung menghalangi cahaya matahari menyinari Misha. “Nggak lucu, tahu....bodoh! kalau kau cowok sudah kupukul hidungmu!”, Misha tak mengira Evan marah. “Ah, sudahlah, lagipula masak mahasiswa FK Pro sepertimu bisa ketipu sih...haha...gimana mengatasi pasienmu kelak?”, Misha ikut berdiri, menepis debu yang menempel di jacket hitamnya. “Wah...wah...gimana pernafasanku nggak terganggu coba, kota ini sudah berubah ya, jadi kota industri...bikin nafas sesak, padahal kita sudah ada di taman, yah, sebaiknya kita segera ke Terminal, sudah pukul dua, aku nggak mau ketinggalan bus”.
Misha membaca tulisan di laptopnya, mengenang masa-masa itu. “Siangnya dia mengantarku pulang, kami berdiri di Terminal Old Town, menunggu Bisku. Tak lama bisku datang dan aku masuk, sungguh berat rasanya, meninggalkan kota ini, meninggalkannya. Andai aku bisa, ingin kuteriakkan padanya. “Aku mencintaimu, kau tahu?”. Ingin kusentuh tangannya, kugenggam kehangatannya, tak hanya dalam mimpi saja. Tapi aku perempuan. Dan kisah ini Tuhan yang memiliki, tapi aku tak pernah menganggap ini suatu kebodohan. Kupandang dia dari jendela bus, seperti saat itu...tapi kali ini dia memandangku, aku menoleh ke arah depan, supaya dia tak melihat airmataku yang tak tertahan lagi....”
Evan, aku tak pernah menyesal mengenalmu, kau tahu, kau seperti bintang yang membuatku bertahan, mengatasi semua hal yang menderaku, mengatasi segala rasa sakit yang timbul, rasa sakit yang rasanya ingin kutukar dengan apapun yang kumiliki kecuali nyawaku, ya, Evan, aku masih ingin hidup, seratus, atau seribu tahun lagi...menikmati keindahan dunia ini, oh, baiklah, sampai Palestina dan Israel memperoleh kata sepakat damai! Kalau dunia ini sudah peace and love, barulah dia bisa mati dengan tenang, lalu gadis itu nyengir lebar. “Semangat Misha! Hidup nggak untuk ditangisi, tapi dinikmati”. Tak lama gadis itu keluar kamar kosnya dan memanggil penjual sate yang kebetulan lewat. “Benar juga kata Evan, yang bisa membuatku bergairah adalah sesuatu yang berawalan dengan huruf F, ‘Food’ haha...tapi, apa sih yang lebih penting dari makanan?”.
“Apa aku akan mati?”, Caesar menghela nafas, menatap Misha tak mengerti. “What the...”. “Bilang saja...apa aku akan mati muda heh?”, dokter muda itu mengambil kertas yang diacungkan Misha di depan hidungnya. Pagi itu Misha sengaja mendatangi kos Caesar yang berada di samping tempat kosnya. Cowok itu baru saja diwisuda dan sekarang sudah Intership di Southside International Hospital. “Kanker paru-paru? Kamu?”, Caesar memandang Misha tak percaya. “Si tukang makan dan gemar berkelahi sama cowok? Kalau gangguan syaraf sih aku percaya...tapi kanker...”, Caesar mencoba mencairkan suasana. “Makanya, kalau memar di paru-paru karena aku main baku hantam sama Donny dulu sih, aku percaya, tapi kalau diagnosisnya kayak gitu, aku kira ada kekeliruan. Bukannya aku tak percaya pada takdir, kematian, atau apa, tapi aku masih nggak percaya, jadi, tolong...temani aku periksa sekali lagi ya...kalau ternyata benar, aku memang benar-benar harus pasrah nih”. Caesar tersenyum. “Misha, aku juga berharap demikian, semoga ini seperti sebuah lelucon untuk kehidupanmu, aku juga curiga, dengan kondisi tubuhmu dan cara nafasmu yang kayak putri duyung itu...sepertinya kau memperoleh diagnosis yang salah...”.
---
Misha mencoba berpikir realistis, kadang juga agak berkhayal, semua ini hanya mimpi, tapi rasa sakit di dadanya benar-benar nyata, nafasnya aneh, sakit...rasanya memang ada sesuatu di paru-parunya. Oh Tuhan...jangan dulu...aku belum mau mati, masih banyak hal yang ingin kulakukan, aku belum ke tanah suciMu, belum membahagiakan kedua orangtuaku, belum...apa ya...sebenarnya aku pengen ke Itali ketemu Valentino Rossy, itu kalau Kau izinkan dan kasih bonus untuk hidupku yang singkat ini, dan oh, aku hampir lupa...Evan, my Obsesion...my Wish...
“Selamat tinggal kekasih hatiku, ku harus pergi tinggalkan engkau. Tapi, percayalah satu hal...cinta ini adalah milikmu. Temukanlah kebahagiaan, dan biarkan aku berbahagia dengan sayap yang diberikan Tuhan padaku. Kuterima undangan Tuhan dan tinggalkan Engkau, terimakasih kau melewatkan hari-hari bersamaku, menghiburku dan mencintaiku...”, sebait lagu berjudul Angel milik NeoHope terdengar dari radio Putri, membangunkan Misha yang asyik tertidur. “Busyet! Kenceng banget, gak tahu orang lagi asyik mimpi apa?”, Misha menyingkirkan selimutnya dan melirik jam di dinding. “Oh my God...lagi-lagi aku telat subuhan....”, Misha setengah berlari menuju tempat cuci dan berwudhu. Setelah melakukan kewajibannya dan berdoa, uhm, lebih tepatnya merengek, “Please Tuhan...berikan aku kesempatan kedua...kali ini aku nggak nakal lagi deh, janji! Aku akan manfaatkan hidupku sebaik mungkin, nggak berantem lagi, nggak malak makanan temanku, dan...Tuhan, jagalah Evan, bahagiakan dia, dia itu orangnya sangat baik, Kau tentu tahu, jadi, please, berikanlah apa yang dia inginkan...yang dia butuhkan...I Love You Tuhan....”. lalu dilepasnya mukena dan kembali duduk di depan laptopnya. Hari minggu, seperti biasa, dia menuliskan apa yang ada di hatinya. “Kalau benar aku memang sakit Kanker, yah, mo gimana lagi? Tapi aku janji, itu nggak akan mengubah apapun yang ada dalam hidupku, Tuhan memberikan apa yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan...lagipula, mengutarakan perasaanku pada Evan sekarang, bisa mengganggu studynya, kuliahnya saja sudah berat, aku nggak mau perasaan cengeng seperti ini mengganggunya, aku ingin dia tetap penuh semangat, aku nggak mau memberikan kesedihan di hatinya yang baik itu”.
Kamis, 20 Agustus 2009
Part II : Never Die
Never Die (Part II)
Westside University, February 2007
“Saat bunga Lonceng Desember mekar, dia mempersembahkan keindahannya pada musim dingin, saat musim dingin tiba, bunga itu layu, luruh dan kembali ke tanah. Tapi, suatu saat...dan selalu...akan ada kuncup yang perlahan mekar, berkembang dengan indahnya...untuk kembali luruh...”
Rumah kecil berwarna putih itu berada di sebelah kost Misha. Misha sangat suka memandang rumah itu, suasananya terasa nyaman, gaya rumah itu kuno, memiliki jendela-jendela panjang dan bertirai putih. Dindingnya setinggi satu meter tersusun dari batu kali yang dibiarkan terlihat alami sisanya dinding putih biasa yang menjulang sampai ke atas, rumah itu tersusun dengan dua lantai. Beranda rumah itu juga terasa nyaman dengan beberapa pot bunga dan suasana kunonya terasa dengan beberapa kursi tua yang ditempatkan serasi dibawah lampu gantung yang mungkin usianya setua rumah ini. Konon, ini rumah seorang dokter, mungkin itu yang membuat suasananya jadi ‘agak’ mengingatkan Misha pada rumah sakit, sekarang rumah itu disewakan menjadi kost-kostan, meski terlihat mungil, tapi mungkin rumah itu punya banyak kamar, dilihatnya sedan putih Caesar berada di depan rumah, jadi anak itu pasti ada di dalam. Misha menekan bel pintu. Seraut wajah muncul di balik jendela, seorang pria paruh baya berkacamata membukakan pintu. Bapak kost, pria itu tinggal sendirian di rumah ini, kata Caesar sih pria yang menjadi tuan rumah kostnya itu bujangan tua. Misha baru kali ini bertemu dengannya, karena biasanya Caesar sendiri yang membukakan pintu. Misha mengira-ira, umur pria itu mungkin sekitar empat puluh tahun, wajahnya masih terlihat tampan, tampaknya orang itu habis bercukur, rambutnya yang lurus tebal, belum beruban, tampaknya dia pria yang kalem dan sabar, sepertinya pikirannya tertata dan tidak mudah stress, tubuhnya lumayan jangkung, tapi tidak kurus, karena mengenakan kemeja lengan pendek putih, Misha bisa melihat otot lengannya yang tampak menonjol, kulitnya kecoklatan, seperti terbakar sinar matahari dalam waktu yang lama, ada luka di alis kanannya. Matanya...pria itu memandangnya ramah, seulas senyuman menghiasi bibirnya. “Nyari siapa anak manis?”. “Caesar Oom...”. Pria itu memandang ke dalam sebentar. “Biar kubangunkan, anak itu pulang pukul empat tadi pagi, Intership...sekarang pasti masih memeluk gulingnya, sebaiknya kau duduk dulu di beranda...”. “Ya oom...”, pria itu masuk ke dalam, Misha memutar tubuhnya dan menuju kursi di beranda. Diliriknya jam tangannya, pukul delapan pagi. Apa terlalu pagi ya?.
“Hallo...”, seraut wajah lesu layaknya orang baru bangun tidur membuat Misha merasa sedikit bersalah, membangunkan Caesar. Cowok manis yang wajahnya masih terlihat kekanakan itu duduk di depannya. Wah, siapa yang mengira kalau di balik wajah anak-anaknya, tersembunyi otak yang brilian, di usianya yang ke 21 dia sudah mendapat gelar dokter?. Sekilas Caesar bisa dikira masih SMU, apalagi tingginya hanya 170 cm dan tubuhnya...Misha merasa bisa menggendong tubuh Caesar dengan mudah. Kadang dia bertanya-tanya, benarkah makhluk di depannya itu seorang dokter?. Caesar menempuh SMP dan SMU dengan kelas unggulan, jadi usia 16 dia sudah lulus SMU, masuk ke fakultas kedokteran Southside termuda kedua setelah Erial Bramastha, yang berumur 15 tahun. Tapi saat cowok itu menunjukkan ijazah cum laudenya, Misha nyengir. “Iya deh...percaya...”, melihat wajah Caesar mengingatkan Misha pada tokoh Peter Pan, wajah anak-anak yang polos, mungkin selamanya akan seperti itu...Misha tak bisa membayangkan Caesar jadi dewasa. Innocent sejati!
“Gimana hasil pemeriksaanku...kau bawa tidak?”, cowok itu menggaruk rambutnya dan kembali tertidur di kursi! “Busyet! Oi, bangun...ini hidup mati orang, kamu malah molor...dok...kodok...”, Misha memandang bulu mata lentik pemuda itu tak bergerak. Dengan tak sabar ditendangnya kaki Caesar. “Bangun! Kamu ini dokter bukan sih?”. Cowok itu membuka mata dan nyengir. “Pasti! Cum laude pula...nggak kayak kamu, masa kuliah ekonomi aja tiga tahun nggak lulus? Malu-maluin bangsa dan negara aja...”. Misha nyengir, ingin rasanya dia jitak kepala bocah sok tua itu, mentang mentang pinter, dokter...cum laude pula...wah, menyebalkan.
Caesar masuk sebentar dan membawa selembar kertas. “Negatif mbak...”. “Apanya?”. “Kamu nggak hamil, oke? Jadi tenang sajalah...berarti aku nggak perlu bertanggung jawab padamu...”, Misha berdiri dan mengacungkan kepalan tangannya. “Tangan kanan masuk rumah sakit, tangan kiri masuk kuburan, pilih mana?”, cowok itu nyengir. “Ampun...aku dah 18 jam di rumah sakit...rasanya pusing kalau melihat rumah sakit, kalau kuburan aku nggak mau ke sana dulu...selama masih banyak orang sepertimu berkeliaran, aku belum tenang kalau mati...”. lalu dia duduk dan bersikap layaknya dokter mau memvonis mati pasiennya. “Gimana?”, tanya Misha harap-harap cemas. “Negatif...”. “Jangan becanda Sar...serius nih”. “Aku juga serius loh, kamu emang nggak kena kanker, diagnosamu keliru, tertukar sama pasien setelahmu...”. Misha nyengir lebar. “...nah...kan...”, Caesar mengangkat tangan. “Aku belum selesai bicara...jangan hepi dulu...”. Misha sudah terlanjur girang. “Ala...pokoknya aku nggak kena kanker ini...”. Caesar menghela nafas. “Memang benar, tapi paru-parumu itu kena flek, lumayan parah! Terkadang kau merasa sakit di dadamu kan, berani taruhan, kadang ludahmu ada darahnya...”. Misha memperbaiki posisi duduknya. “And then...”. “Kamu harus hati-hati, aku sudah buatkan makanan apa saja yang harus kau hindari, kamu harus ikut olahraga yang aku sarankan, hindari asap rokok, minum air putih paling sedikit delapan gelas sehari, kalau bisa dua gelas besar tiap habis bangun tidur”. Caesar mengambil sesuatu di sakunya. “Nih, daftar obat yang benar, tebus di apotek...and...ini...menu yang harus kamu hindari...”. Misha melotot. “Busyet, ini kan makanan kesukaanku semua, kamu mau bunuh aku pelan-pelan?”. Ganti Caesar yang melotot. “Justru makanan itu yang akan membunuhmu pelan-pelan, bego! Dan...untuk sementara ikut aja fitness center di kampusmu daripada kumpul-kumpul ama temen berandalanmu yang penggemar berat rokok itu”.
Mereka berbincang-bincang lumayan lama. Karena Caesar dokter, Misha jadi banyak bertanya, Evan kan juga calon dokter, Misha pengen tahu seperti apa kehidupan seorang dokter itu. “Enak ya, kerja di rumah sakit, cuma memeriksa pasien trus dapat duit banyak...”. Caesar berdecak kesal. “Eh...enak banget ngomong gitu...delapan belas jam tahu...dari pukul sembilan pagi sampai tiga pagi keesokan harinya, rasanya mau mampus, lagi istirahat sebentar...”STAT dokter Caesar...ruang 201”, busyet, memangnya aku ini bola, di ping-pong kesana kemari, kau tahu sendiri lah, Southside International Hospital gedenya kayak apa...rasanya mau pecah kepalaku... “, lalu cowok itu asyik ngomel. “Belum lagi pasien kamar 409. gila! Kakek tua itu bisa-bisanya pengen lihat ijazahku, dikiranya aku anak SMU nyasar yang masuk ruangannya!”, Misha terbahak, emang orang ini nggak nyadar betapa imutnya dia? Wajahnya memang kayak anak SMU sih. “Eh, ngomong-ngomong bapak kostmu baru kelihatan...emang selama ini dia di mana sih?”. “Afghanistan...”. Misha mengernyit. “Eh?”. Caesar memandang Misha. “Eh, once...kamu nggak pernah perhatikan itu ya?”, Misha melihat arah yang ditunjuk Caesar. Sebuah papan nama kecil yang hampir tertutup daun serumpun bambu jepang di sampingnya. “Apa itu...”. “Ntar kalau kau keluar dari sini, bacalah...”. “Aku nggak ngerti”. Caesar mengerdikkan bahu. “Yah...oom Pandu itu dokter, tapi bukan dokter biasa, dia anggota Mer-C. Tugasnya di daerah bencana atau daerah perang, dia juga anggota palang merah internasional dan WHO, sering pergi ke daerah berbahaya gitu deh...makanya kamu jangan mikir kalau jadi dokter tuh enak...kalau dokter beneran kayak oom Pandu itu...wuih! Keren abis...”. “Makanya nggak ada yang mau jadi istrinya...”, cibir Misha. Caesar terbelalak. “Oi...kalau nggak tahu apa-apa jangan ngomong sembarangan ya...”.
“Banyak lho yang naksir Oom Pandu...konon dia dulu cowok paling cakep di fakultas kedokteran Southside...cie...berarti satu almamater denganku ya...”. “Berhentilah memuji diri sendiri...terusin ceritamu”. “Ih, emang ya...cewek tuh, kalau soal gosip ginian langsung tertarik”. “Yeee, ini bukan gosip, tapi kisah nyata...ceritain dong, kau kan tahu aku kadang nulis cerpen...siapa tahu dapet ide dari ceritamu itu”. Caesar menggaruk kepalanya. “Ya, aku sih nggak tahu bener enggaknya ya...tapi kalau kulihat foto-foto Oom Pandu...tuh di ruang tamu...dia emang cakep banget waktu muda, aku yang cowok aja mengakui...padahal aku ini juga cakep...”. “Narsis”. “Dikit, hehe...ah, pokoknya Oom Pandu itu pinter gitu...sebenarnya dia bisa jadi dosen lho, tapi dia lebih memilih jalur kemanusiaan, sejak lulus dia selalu tugas luar, aku pernah lihat foto-fotonya, menjelajah rimba ataupun padang pasir...wuih...kayak dr.Tenma! Paul Farmer gabung ama Robinson Curse...nggak hanya pasien yang dia hadapi, tapi tentara dan teroris, kadang terpaksa jadi negosiator, aku sendiri salut...dia tuh nggak hanya menyelamatkan jiwa orang lain, tapi mampu mempertaruhkan jiwanya sendiri demi orang lain”. “Wow, keren juga, terus kisah cintanya kayak gimana”. Caesar angkat bahu. “Entahlah...bukan urusanku”. Misha cemberut. “Ih...bohong...tadi kamu bilang kan banyak cewek yang suka sama dia, tapi kenapa dia memilih nggak nikah?”. “Bukan urusanku...”. “Saaar! Please, jangan bikin aku penasaran”. Cowok itu tertawa melihat wajah Misha yang tertekuk. “Idiiih...jangan-jangan kamu naksir Oom Pandu ya...cie...ternyata seleramu Oom-oom nih, pantesan, meski selama ini gaul sama Bram, Khrisna, Indra...dan banyak cowok cakep lain, nggak ada yang nyantol di hati kamu...kukira kamu lines lho, ternyata...seleramu...haha...”. Misha ingin sekali memukul hidung mancung makhluk di depannya. “Kisah cintaku bukan urusanmu”. “Kisah cinta oom Pandu juga bukan urusanmu”. Misha menghela nafas, Caesar nggak pernah bicara berbelit-belit gini, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Romanus Caesare Denovan...kalau nggak mau hidungmu patah, lebih baik kau cerita...”, Misha mengepalkan tangannya. “Nggak mau...kecuali upah cerpenmu kau bagi dua denganku”. Misha berpikir sejenak. “Seperempat...”. “Setengah..titik!”. “Baiklah...”. cowok itu menerawang dan menyandarkan bahunya di kursi. “Oom Pandu itu yatim-piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan waktu dia berumur lima tahun, di rumah ini dia tinggal dengan neneknya, untung ayah dan ibu Oom Pandu memiliki harta yang cukup banyak untuk menghidupi mereka berdua, ditambah lagi Oom Pandu juga pintar, jadi nggak susah baginya untuk masuk ke Fakultas kedokteran. Waktu dia semester pertama, neneknya meninggal, dia hidup sendirian, tapi karena temannya banyak, dia nggak kesepian, apalagi ada pak Imron, itu...tukang kebun merangkap penjaga rumah ini”. “Yang orangnya agak gemuk dan pakai topi jerami itu?”. “He eh...”. “Terusin ceritamu”. “Nah, waktu semester empat...yah, pokoknya waktu dia masih kuliah gitu, dia deket sama seorang cewek, kuliahnya di tempatmu”. “EC?”. “Iya...di EC, gadis manis itu sangat mencintai oom Pandu, tapi Oom Pandu belum bisa menerima perasaan siapapun, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menamatkan studynya secepat mungkin, apalagi harta orangtuanya semakin berkurang untuk kuliah dan hidupnya sehari-hari, bisa dibilang masa depannya masih belum tentu, sementara gadis yang menyukainya anak orang kaya, klise banget yah...”. “Mungkin, kayak cerita di novel aja”. “Gadis itu akhirnya mengutarakan perasaannya, tapi Oom Pandu menolaknya halus, meski begitu, si gadis bersikeras menunggu oom Pandu, wah, coba aku jadi Oom Pandu, udah kupacarin gadis cantik kayak gitu”. “Eh, kok kamu tahu dia cantik?”. “Ada tuh fotonya di meja kerja oom Pandu, waktu aku pinjem komputernya karena laptopku kena virus, aku pernah masuk kamar kerjanya, aku sih hanya menebak, tapi foto berwarna Sephia itu tampaknya spesial, terpajang di meja kerjanya...pasti gadis itu yang pernah diceritakan oom Pandu...saat kuperiksa, di balik bingkai memang ada sebait puisi. “Aku mencintaimu seperti aku mencintai surga...akan kulakukan apapun untuk menuju ke sana, aku yakin kau berada di sana, menungguku...Layla”. Misha mengernyit. “Layla? Surga? Gadis itu sudah mati?”. Caesar mendesis. “Ssh...ntar dulu, ceritanya belum selesai nih...”. “Iya, aku dengarkan”.
“Waktu Oom Pandu mau meneruskan kuliah ke Jerman karena dapat beasiswa, gadis itu meminta oom Pandu menemuinya di stasiun Southside sebelum Oom Pandu menuju Westside, waktu itu kan bandaranya baru ada di Westside...nggak disangka, sebuah mobil menabraknya, Layla terluka parah dan dibawa ke SIH”. “Astaga...jadi dia mati karena ketabrak mobil?”. Caesar berdecak kesal. “Nih anak...jangan memotong cerita orang ya...kamu tuh suka ambil kesimpulan sendiri deh, sok jadi Sherlock Holmes aja...”. “Emang aku kayak Sherlock Holmes kok...”. “Mau diem atau kuhentikan ceritaku?”. “Diem...”. Caesar tersenyum. “Nah, dengarkan ya...Layla nggak meninggal, tapi...kedua kakinya harus diamputasi...lukanya sangat parah...”. Misha menggigit bibirnya. Oom Pandu segera ke rumah sakit itu saat tahu Layla dirawat di sana, gadis itu terus bersikeras agar kakinya jangan diamputasi...dia tak ingin jadi cacat, tapi dokter tetap pada keputusannya, oom Pandu sebisa mungkin menghibur gadis itu dia bilang...”.
Misha seolah melihat sendiri adegan di salah satu ruangan rumah sakit terbesar di Southside itu, ruangan putih yang besar, tapi suasananya suram, banyak kesedihan telah terjadi di dalamnya, seorang pemuda tengah duduk di samping ranjang putih rumah sakit, tangannya memegang jemari gadis yang sedang menangis di ranjang. “Dengan, atau tanpa kakimu itu, Layla, aku mencintaimu...aku selalu mencintaimu, karena yang kucintai bukan tubuhmu, tapi hatimu”. Gadis itu semakin terisak. “Jangan menghiburku, Pandu...aku nggak butuh belas kasihanmu, aku...aku tahu kau tak menyukaiku”. “Siapa bilang...aku mencintaimu, apa yang harus kuberikan, kubuktikan padamu supaya kau percaya?”. “Tapi, selama ini kau selalu menghindariku, menjauhiku, aku seperti bayangan gelap yang mengejarmu, Pandu...kau pria yang baik, meskipun kata-katamu bohong untuk menghiburku, kau tetaplah Pandu yang baik...”, gadis itu mengusap airmatanya dan mencoba tersenyum. “Terimakasih kau menghiburku...sekarang, pergilah, kau harus bersiap ke Jerman,bukan?”. “Layla...”. “Pergilah Pandu, kini aku baru menyadari, mungkin inilah cinta, selama ini aku selalu egois, memaksa, semua yang kuinginkan harus menjadi milikku, tapi, ah, ternyata yang namanya cinta itu...seperti ini...”. dipandangnya Pandu dengan lembut. “Aku ingin kamu bahagia lebih dari aku ingin memilikimu...”, Pandu tak mampu berkata-kata lagi, dipeluknya gadis itu erat-erat. “Kau salah...aku menghindarimu karena aku menahan diriku, aku menyukaimu, sangat, kalau tak kau ganggu aku sehari saja, rasanya ada yang kurang, tapi aku harus belajar dan menyelesaikan studyku, aku harus jadi dokter, Layla, sementara uang orangtuaku mulai menipis, aku tak mau mengulang satu mata kuliahpun sebisa mungkin...karena itu aku berpikir pacaran dengan orang sepertiku, yang tak punya uang lebih bahkan untuk mentraktirmu semangkuk bakso, hanya akan mengesalkanmu saja...jadi, aku belajar, dan berusaha, kalau aku sudah jadi dokter dan punya banyak uang, aku baru bisa menjadi bagian dari keluargamu”. Layla tercekat. “Kau ini bodoh...aku nggak pernah berpikir seperti itu...senyumanmu saja sudah cukup...lebih berharga dari emas batangan sekalipun...”, Layla terisak. “Nah, sebaiknya kau setujui saran dokter...nyawamu dalam bahaya kalau kau terus seperti ini...”.
Kaki Layla akhirnya diamputasi, selama beberapa minggu Pandu merawatnya. Menghabiskan minggu-minggu terakhirnya sebelum dia menuju Jerman. Layla jadi tahu, betapa pemuda itu sangat menyayanginya, mengasihinya, dia jadi merasa bersalah. Saat Pandu pergi ke Jerman, Layla tersenyum. “Semoga berhasil, aku mencintaimu”. “Aku juga...”, Pandu memeluk Layla dan pergi, tanpa menyadari itu terakhir kalinya ia bisa bertemu Layla. Setelah kepergian Pandu, Layla diberitahu dokter, infeksi sudah menyebar, amputasi di kakinya tak bisa mencegah infeksi yang terlanjur menyebar di tubuhnya. Gadis itu selama berminggu-minggu membuat surat-surat yang secara berkala terkirim ke Jerman, meminta sepupunya menggantikan dia membalas surat-surat Pandu.
Beberapa tahun kemudian, saat Pandu pulang ke Southside dan berharap bertemu Layla, di stasiun dia hanya bertemu sepupu Layla yang bernama Sandra. Sandra menceritakan, setelah setahun kepergian Pandu, Layla tak bisa bertahan karena infeksi sudah mencapai jantungnya. Gadis itu meninggal dan menitipkan Diarynya untuk Pandu. Pemuda itu terisak di makam Layla dan membaca baris demi baris kalimat yang dituliskan kekasihnya itu. “Terimakasih Pandu, kau menemaniku saat berada di rumah sakit, aku sangat bahagia, sepertinya aku hanya bermimpi saat kau bercerita dan tertawa bersamaku. Tapi, aku sadar, aku harus pergi, selamat tinggal kekasihku, temukanlah kebahagiaanmu...cintamu...aku harus pergi meski aku tak ingin, tapi aku membawa sebentuk cinta yang kau berikan kepadaku, aku akan membawanya, Pandu, cinta yang ada di hatiku, selamanya milikmu, aku tahu, suatu hari nanti kau akan menjadi dokter yang berdedikasi dan handal, dokter terbaik yang dimiliki Southside...bantulah orang sebanyak mungkin, karena dengan itu kau bisa memiliki banyak pahala, hehe, dan dengan pahala yang kau kumpulkan siapa tahu kita bisa bertemu di surga, ya, semoga Tuhan bersedia menampungku di Surga...meskipun dosaku sangat banyak...aku selalu mengganggumu, kau ingat? Maafkan atas semua kesalahanku, Pandu...maafkan aku karena aku mencintaimu”.
Sandra menghibur Pandu. “Ikhlaskan dia, Pandu”. Sandra jadi paham, kenapa Layla sangat mencintai pemuda di depannya itu, selain sangat tampan, sorot matanya lembut. Saat menjemput di stasiun tadi, dia tak mengira yang bernama Pandu Harjuna ternyata sangat tampan, seperti Arjuna saja, selama dia menggantikan Layla membalas surat-surat Pandu, dia jadi merasa dekat dengan Pandu, mengetahui betapa lembutnya hati cowok itu. hanya dengan surat-surat dan bahasanya saja, Sandra bisa jatuh cinta padanya.
Beberapa bulan kemudian Sandra berani menyatakan perasaannya pada Pandu, tapi pemuda itu menolak dengan halus, seperti dia menolak gadis-gadis lainnya di kemudian hari, satu-satunya keinginannya sekarang adalah menjadi dokter sebaik mungkin, menjelajah dunia, tapi kemanapun dia pergi, Layla seolah menemaninya, menghiburnya...saat dia terluka parah di Sukkur, perbatasan Pakistan, gadis itu hadir dalam mimpinya, membuatnya bertahan. “Masih banyak hal yang harus kau lakukan, Pandu, jangan menyerah dulu...bertahanlah...”, gadis itu meraih kepala Pandu dan menyandarkan di pangkuannya. Mengelus helai rambut pemuda itu. “Bertahanlah...”.
---
Misha tak menyadari airmatanya mengalir di kedua pipinya, Caesar hanya melongo memandangnya. Ternyata Misha bisa nangis juga? Waktu dia jatuh dari tangga kostnya dan terpaksa di bawa ke rumah sakit, Misha tidak menangis, padahal tulang kakinya retak, waktu terjebak tawuran di jalan Middletown dan tangannya tergores kawat, gadis itu hanya menggerutu saat Caesar membalut lengannya yang luka cukup dalam, sampai-sampai Caesar bertanya-tanya, apa Misha pernah menangis? Tubuh cewek itu seolah terbuat dari mesin. Kayak robot. Sekarang, saat dilihatnya Misha menangis, cowok itu hanya bisa memandang, lagian kalau berani mengusap air mata di pipi Misha, bisa-bisa dia yang nantinya menangis karena Misha bisa saja memukulinya. “Cep...cep...jangan nangis...ceritanya emang sedih, tapi duapuluh tahun udah lewat neng, nggak ada yang bisa disesali ataupun ditangisi lagi”. Misha menyeka airmatanya dan mengelap ingusnya. “Ih jorok...”, komentar Caesar. “Masa anak cewek gak punya tissue atau sapu tangan?”. Misha hanya diam.
Misha melipat hasil pemeriksaannya dan memasukannya ke dalam tas. “Ya udah, aku pergi dulu ya, kamu silahkan meneruskan tidurmu...”, Caesar berdiri. “Emang udah jam berapa?”. “Masih jam sebelas kok, tolong pamitkan sama oom Pandu ya...”. Caesar keburu menuju pintu dan berteriak ke lantai dua. “Oom, temenku mau pamitan nih...”. Misha kaget. “Eh, kok malah panggil dia sih?”. Caesar hanya tersenyum misterius. Tak lama dilihatnya oom Pandu berjalan dari dalam. Misha tersenyum kikuk. “Pamit dulu oom, terimakasih sudah manggilin Caesar tadi...”. Pria itu malah memandang Misha sambil mengernyit. “Kamu habis nangis? Diapain Caesar?”. Tangan pria itu terulur dan menyentuh pipi Misha, sebentar, tapi cukup membuat Misha kaget. Pria itupun cepat menarik tangannya kembali, seperti ada aliran listrik yang menyengatnya, menyadarkannya. “Kamu kuliah di mana?”, tanya Pandu. “EC...semester tujuh...”, kata Misha lalu dia memandang Caesar. “Udah ya...dadah Caesar...aku mau ke apotek dulu..bye!”. lalu tersenyum pada Pandu dan meneruskan langkahnya keluar. Membawa sebuah kisah yang akan dia tuliskan. Kisah Pandu dan Layla. Misha menghela nafas. Sepertinya kisah itu begitu lekat, begitu nyata tergambar dalam benaknya seolah dia sendiri yang mengalaminya. Misha mengira-ira, mungkin kesedihan karena kehilangan Layla yang membuat pria itu berani menghadapi setiap kondisi dan dengan ikhlas mempertaruhkan jiwa raganya demi kemanusiaan, Pandu jadi tidak takut mati, seolah dia sudah bersiap untuk mati dan bertemu Layla. Misha tersenyum. “Mungkin begitu ya...cinta sejati itu memang tak harus memiliki...tapi tetap saja terasa berat...”.
“Pacarmu manis...”, kata Pandu pada Caesar. Cowok itu tertawa. “Eh...dia temenku kok, ih, amit-amit punya pacar kayak dia...”. “Lho?”. “Dia bukan cewek Oom, tomboinya itu lho, sering kok dia luka gara-gara berantem sama cowok, pokoknya Misha itu enggak cewek, tapi juga bukan cowok”. “Oh ya? Tapi wajahnya itu...aku jadi ingat seseorang...”. Caesar menghela nafas. “Misha...mirip Layla kan Oom?”. Pandu tersenyum sedih. “Sangat mirip, saat aku membuka tirai dan melihat wajahnya dari balik jendela tadi...kupikir ada malaikat yang mampir ke rumahku, kupikir Layla yang datang...tapi saat kulihat gadis itu mengenakan jacket army...”. “Dia jadi mirip berandalan, haha...seandainya Misha mau memakai gaun atau rok, Oom pasti udah nangis di depannya”. Pandu tertawa lalu menepuk bahu Caesar. “Bisa saja kau ini, ngomong-ngomong, sarapan sudah siap tuh...”. “Yeah...nasi goreng ala Pakistan?”. “Yup’s”.
---
Evan memandang sekumpulan bunga Lonceng Desember, namanya Lonceng Desember, tapi sampai Februarypun masih tetap mekar, entah kenapa bunga itu mengingatkannya akan Misha. Oh ya...di halaman depan rumah Misha kan ada bunga itu...Evan jadi nyengir kalau mengingat Misha, semangatnya yang meledak-ledak, cita-citanya yang pengen jadi wartawan perang, wah! Evan jadi tertawa, padahal Misha kan takut banget sama cicak...kadal...gimana mau jadi wartawan perang dan meliput ke Afghanistan?. “Hoi...kayak orang gila aja, ketawa sendiri...”, seorang cowok menjajari duduk Evan. “Lagi ingat sesuatu yang lucu aja...”, kata Evan. Thomas mengusap peluhnya dengan handuk kecil yang melilit di lehernya. Hari Minggu kayak gini biasanya anak-anak asrama cowok Westside menggunakan waktunya untuk olahraga atau sekedar jogging di sekitar Central Park, menyusuri taman di Westside Park dekat kantor gubernur dan menikmati roti bakar plus susu hangat di pagi hari. Thomas tentu saja punya agenda lain: ngelirik cewek-cewek dengan baju olahraga seksi...wuih, surga dunia deh, banyak cewek asyik jogging juga. Mata Thomas berkeliaran. “Wuih, cakep ‘kali tuh...yang pakai celana pendek merah...’that’s hot’...wow...”. Evan tak menghiraukan ocehan Thomas, cowok itu malah asyik bersandar di bangku taman dan mendengarkan alunan lagu lewat I-Podnya, lagu ini dikasih Misha. Anak itu suka banget lagu-lagu Jepang. Broken Wings-Trinity Blood, First Love dan Exodus Utada Hikaru, 081512, Dear-Laruku, DAI dan BOA...meski Evan mulanya nggak terlalu suka, tapi lama-lama dia menikmati musik itu, meski nggak terlalu paham bahasanya, tapi dia merasa asyik saja mendengarkannya. “Pendapat itu kan beragam, tapi sebaiknya bikinlah pendapat yang enak di dengar, seperti musik...”, kata Misha saat Evan bertanya apa dia paham arti lagu jepang itu. “Yang penting aku suka ngedengernya...kalau musik itu kan bahasa universal Van, nggak tahu arti lagunya, kalau dihayati kita bisa tahu, apa maksud pencipta lagunya hanya dari musiknya, hehe, itu menurutku sih”.
“Bangun oy, mau tidur di situ sampai kapan?”, Thomas mengguncang bahu Evan. Cowok jangkung itu membuka mata dan memandang Thomas. “Sudah pukul berapa?”, cowok berambut ikal itu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sembilan...memangnya kenapa?”. “Mau ke Warnet...”, kata Evan. “Ngapain? Nggak ada tugas, bukan?”. “Mo kirim email kok”. Thomas memandang kepergian Evan sambil mengernyit. “Oi, ikut dong...”. “Cepatlah...ntar siang kita ada praktikum pengganti hari Rabu kemarin, kan?”. “Oh, iya...”. mereka menuju tempat parkir dan mengambil motor.
--
“Dasar kakek!”, Misha menggerutu membaca email Evan. Sejak dulu, bahasa cowok itu selalu resmi, kaku, santun, dan seperti kepribadiannya, cowok itu kalau nulis email selalu singkat. To the point tanpa basa-basi, kalau Misha sih bisa berlembar-lembar, enggak perduli mau dibaca Evan atau tidak, dia selalu menuliskan apa yang dia rasakan, lain dengan Evan yang terkesan hati-hati dalam setiap emailnya. “Ass...halo Misha...gimana kabarmu, aku harap kamu sehat-sehat saja”, kalau ini bukan email Evan sudah diacuhkan Misha dari tadi. “Kayak anak SD saja nih kakek kalau nulis email”, lalu diteruskannya membaca. “Aku sedang sibuk praktikum nih, jadi maaf ya kalau udah lama gak bales email kamu”. Misha mendesah. “Sibuk sih sibuk, tapi paling tidak, SMS kek...Miss call kek...dasar kakek!”. “Kapan-kapan aku main lagi ke Southside...aku juga kengen sama kamu hehe...”, Misha merasa hatinya berdebar. “Jangan GR Misha, kangennya Evan sama kamu tuh sebagai seorang teman...nggak lebih...”. gadis itu menghela nafas, melirik seorang cowok dua bangku di sebelah kanannya. Mahendra Putra Radjasa. Cowok cool berkacamata yang mengingatkannya akan Evan itu beberapa minggu lalu pernah mengutarakan perasaannya pada Misha. Menyukai Misha...menyayangi Misha. Tentu saja gadis itu kaget setengah mati, Hendra yang cool dan pandai, yang disukai banyak cewek di kelas, tiap Hendra masuk, cewek-cewek langsung berbisik mengaguminya, gimana bisa Hendra naksir Misha?. Yang terkenal serampangan dan berandalan di EC?. “Diam-diam aku selalu memperhatikanmu, melihatmu bicara...kamu seperti virus yang membuatku tak berdaya...”, kata-kata puitis, romantis, semua cewek pasti klepek-klepek dibilangin seperti itu, apalagi oleh seorang Hendra!. Tapi Misha malah tertawa terbahak-bahak. “Ngaco kamu...kacamata kamu itu mesti dilepas deh...jangan-jangan kamu salah lihat orang Ndra, aku ini...lihatlah, nggak ada manis-manisnya...”. “Menurutku kamu cantik, baik, lembut...”. Misha hampir meloncat dari lantai tiga. “Cantik? Lembut? Dilihat dari mana? Sedotan?’, batin Misha geli. Orang di sekeliling mereka aja tahu, siapa cewek yang sering berantem dan mukuli orang di EC. Teman-teman Misha aja berandalan semua, kalau Hendra bilang dia cantik,lembut, cinta benar-benar telah membutakan tak hanya matanya, tapi hatinya. Misha dengan halus menolak cinta Mahendra. “Terus terang Ndra, aku sendiri kagum sama kamu, kamu tuh pandai, alim, pantang menyerah dan udah jadi bisnismen di usia semuda ini, tapi...aku sama sekali bukan orang yang tepat untuk kamu”. “Kenapa?”. “Yah, banyak faktor...”, Misha mengarang alasan. “Dan lagi, di agama kita kan pacaran itu haram, ya nggak?”. Hendra menghela nafas. “Satu pertanyaan Misha, aku ingin kau menjawabnya...’Kenapa Allah menciptakan cinta kalau kita nggak boleh pacaran’...bisakah kau menjawabnya?”. Misha mengerdikkan bahu. “Kalau aku bertemu denganNya...akan kusampaikan pertanyaanmu itu”.
Pertanyaan itulah yang ingin Misha tanyakan balik pada Evan, sebenarnya dia pernah SMS pertanyaan Hendra itu ke Evan, tapi cowok itu mem-pending jawaban pertanyaannya. Misha segera meninggalkan Pusat komputer begitu selesai menulis emailnya. Hendra memandangi kepergian Misha, sejak tadi diam-diam dia memperhatikan Misha, hanya dengan seperti itu saja hatinya merasa lega, melihat gadis yang disukainya, memandangnya dari jauh, sudah cukup membuatnya bahagia. Aih Misha, tapi kulihat sesuatu mengganjal di hatimu, apa karena cowok mu itu? seperti apakah dia? Kata temen-temenmu, cowok itu agak mirip denganku? Benarkah demikian?
Cinta, begitu rumitkah cinta itu? Misha hanya ingin mencintai Evan, Hendra hanya ingin mencintai Misha...cinta siapakah yang akan menang, padahal dalam cinta seharusnya tak ada kemenangan dan kekalahan. Mahendra..kenapa aku tak jatuh cinta padamu saja? Kenapa aku tak bisa berpaling dari Evan? Padahal kau cowok yang baik, sangat baik malah, mungkin kau malah mencintaiku lebih dari Evan, tapi kenapa aku tetap tak bisa menerimamu di hatiku? Misha menghela nafas dan memandang bangunan putih kampusnya. “Tuhan...aku tahu, Kau memberikan yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan...tapi, izinkan aku bermimpi dan berharap, meski esok terjaga”.
Misha mengendap-endap, seperti dulu, kalau mau iseng sama Caesar dia diam-diam menuju jendela kamar cowok itu dan mengagetkannya kalau lagi tidur. Sedan civic putih Cesar terparkir di depan, jadi si tukang tidur itu pasti lagi molor, atau kalau tidak terkantuk di meja belajar, seperti dulu, Misha jadi geli,saat cowok itu setengah ngantuk menghafal anatomi di meja belajarnya, Misha tiba-tiba muncul dari jendela dan mengagetkan Caesar yang setengah ngantuk berpangku tangan di meja belajarnya, otomatis cowok itu berteriak dan menyebut semua bagian pencernaan manusia. Busyet! Misha tertawa puas dan Caesar menghadiahinya lemparan buku catatannya yang langsung kena dahi! Untung cowok itu nggak melempar kamus kedokterannya yang beratnya hampir tiga kilo, bisa kayak Lou Han jidat Misha!. “Becanda bro!”, Caesar cuman manyun. “Kukira kuntilanak dari mana...”
Jendela kamar itu terbuka, nah...cowok itu memang suka angin sore membuai tidurnya. Semoga dia emang lagi molor...Misha menyesal tadi di jalan tidak membeli petasan, kan asyik tuh, diledakin di kamar Caesar...hehe. sekilas tadi dilihatnya kepala cowok itu terkulai di meja belajar...kesempatan bagus nih...Misha mengendap dan berteriak. “Hoiii! Bangun dodol!”, kali ini tak hanya orang itu yang kaget, Misha juga. Ternyata yang tertidur di meja belajar adalah Pandu, bukan Caesar. Misha cengar-cengir. “:Sorry oom...saya kira si Caesar...hehehe...”. Pandu masih termangu, kagetnya memang sudah hilang, tapi dia jadi teringat sebuah kenangan yang tak terlupakan...Layla dulu juga sering mengagetkannya seperti itu, menggodanya, mengganggu belajarnya, mengajaknya bermain...sekilas tadi sepertinya peristiwa itu terulang lagi. Pandu memandang gadis di bawah jendela kamar itu. Mirip sekali dengan Layla. “Oom?”, Misha melambai, apakah Pandu terlalu kaget sehingga melamun seperti itu. “Eh, Misha ya...kok kamu di situ?”. Gadis itu tertawa. “Biasa deh oom, kalau lagi iseng sama Caesar, tuh anak ke mana ya oom? Misha kaget, tadi kirain Caesar, kok Oom yang di kamarnya Caesar?”. Pandu menghela nafas. “Oh, Caesar sedang membuat laporan di ruang kerja oom, laptopnya sedang rusak, sementara oom juga butuh tempat untuk memeriksa beberapa surat...lampu di kamar Oom mati, dan hanya kamar ini yang terang karena jendelanya menghadap ke barat, oom pinjam kamar Caesar, ketiduran dan kamu kagetin...”. “Maaf deh oom...ya udah, kalau Caesar masih sibuk, Misha pamit dulu...”. “Eh? Nggak ketemu Caesar dulu?”. “Nggak lah, kasihan dia...sibuk, Misha takut gangguin”. Pandu memandang Misha dan tersenyum. “Kamu dah makan?”. “Belum...”. “Kita masak yuk, sambil nunggu Caesar, gimana?”. Misha yang jatuh hati setengah mati dengan kata ‘makan’ langsung setuju, hore...makan...gratis...pikirnya polos.
Misha masuk melalui pintu depan yang dibukakan Pandu. “Mau masak apa nih Oom?”, tanya Misha. “Ada deh...kesukaan Caesar...”. “Dia sih apa-apa suka...asalkan nggak banyak lemaknya, dia kan ngejaga banget bodynya yang kayak sapu ijuk itu...padahal kalau mau gemuk dikit pasti cakep”. Misha baru masuk ke rumah itu, melihat-lihat ruang di dalamnya dengan takjub, tertata rapi dan kelihatannya familier, yang memasuki rumah ini pasti merasa nyaman, banyak foto terpasang di ruang tamu, mereka menuju ke lantai dua. “Kok dapurnya di atas?”. “Begitulah sejak dulu...yang merancang rumah ini ayahku...dia dokter juga, tapi sedikit mempelajari ilmu bangunan...”. Misha mengikuti langkah Pandu. Mereka tiba di dapur yang nyaman dan bersih, nggak kayak tempat hunian bujangan, Pandu ternyata pria yang sangat memperhatikan kebersihan, apa karena dia dokter?. “Kok sepi Oom, anak-anak yang lain kemana?”. “Andi dan Syarief kan sudah lulus, mereka Intershipnya tidak di sini, jadi tinggal Caesar sama Oom”. “Oh iya juga...”.
Gadis itu memakai celemek yang diberikan Pandu. Warnanya hitam, khas cowok. Terdengar lagu I will survive nya Cake dari arah lorong. Pasti Caesar, ngerjain laporannya sambil ngedengerin MP3. Misha membantu Pandu menumbuk bumbu yang sudah disiapkan pria itu di ulekan. “Yang halus ya...”. “Oke Oom, kalau masalah mukul memukul sih aku ahlinya, hehe”. Pria itu tertawa. “Berapa orang yang sudah kau pukul? Kata Caesar kau pegang track recordnya”. “Gitu deh...”. “Kamu tomboi ya?”. Misha tertawa. “Gimana nggak tomboi? Kakakku dua, kembar, lelaki semua, adikku juga lelaki, ayahku kayak bos gengster gitu deh, padahal pekerjaan aslinya pegawai negeri, dari SD temanku cowok semuanya, di Doujo Karate-Do juga temanku anak-anak cowok, wah, jadi gini deh”. Mereka tertawa bareng. “Oom..”. “Ya?”. “Di Afghan tuh rasanya gimana sih...”. “Apanya?”. “Ya semuanya...keadaannya, perangnya, Oom masa’ nggak takut ke sana?”. Pandu menyalakan kompor dan meraih wajan di dinding. “Takut? Nggak ada yang Oom takutkan di dunia ini kecuali Tuhan, kau pun harus demikian, Misha”. “Emang sih, tapi di sana kan bahaya oom, banyak tentara, keadaan perang...nggak takut kena peluru nyasar?”. Pandu menuangkan minyak dan mengaduknya pelan. “Takut sih enggak, yah, mungkin sedikit, itu wajar, apalagi kita berada di daerah asing, beda banget sama negara kita yang beriklim tropis, di sana panas banget dan bahasanya agak sulit dimengerti, oom juga pernah terluka, tapi, demi tugas...semua harus dihadapi kan?”. Misha meletakkan bumbu di dekat Pandu. “Mirip ya...”. “Eh?”. Misha memandang Pandu sambil tersenyum. “Oom mirip dengan seseorang yang kukenal...dia...pemberani, pantang menyerah dan punya cita-cita kemanusiaan yang tinggi, mungkin kelak dia juga menjadi dokter bedah yang andal di Mer-C. Aku nggak kaget kalau dia jadi anggota Mer-C”. Pandu memandang Misha sekilas lalu meneruskan pekerjaannya, menggoreng bumbu yang ditumbuk Misha. “Aih Misha...kau juga mirip seseorang”, batinnya pilu. Seseorang yang membuatnya memilih kehidupan seperti ini, sendiri, tapi Pandu merasa senang. Karena baginya, kenangan akan Layla takkan pernah mati. Tidak akan!. “Kalau dia dewasa nanti pasti mirip sama Oom”, kata Misha lagi. “Benarkah?”.
“Baunya enak...”, kata Misha sambil melirik ke wajan. “Ambilkan nasi di meja itu Misha...”. Misha mengambil apa yang ditunjuk Pandu. dengan lihai pria itu menggoreng nasi dan mengaduknya. “Bau kare...”. “Semua makanan di Pakistan memang beraroma demikian, semuanya pakai bumbu kare”, kata Pandu sambil menunjuk sebotol bumbu kare di dekatnya. “Pakistan? Oom juga pernah ke sana?”. “Misi terakhir kemarin...dan...”, katanya sambil memandang Misha sekilas. “Secret! Jangan bertanya lagi, nona manis!”. Tiba-tiba Caesar muncul dari lorong, dia kaget melihat Misha bersama Pandu. “Ngapain kamu?”. Misha nyengir. “Diajak makan gratis sama oom Pandu nih...kamu kan tahu...”,Caesar menepuk jidatnya. “Oh Tuhan...kamu emang nggak berubah ya, kalau dipancing dengan makanan, langsung menyambar umpan, dasar! Perut karung”. “Biarin...”. mereka asyik bertengkar dan mengejek. “Hoi, sudah matang nih...”, kata Pandu sambil melerai kedua anak itu dan memasukkan nasi goreng ke mangkuk besar. “Sar, ambil piring...dan kau Misha...bawa mangkuk ini ke meja makan...”.
Mereka bertiga makan dengan nikmat, apalagi Misha. “Sering-sering deh oom, masakan oom enak deh...”, kata Misha. “Nggak tahu malu...kalau makan gratis aja...langsung deh...”, ejek Caesar. “Habis uang sakuku pas-pasan, sekarang aku kan udah tobat malak orang, kalau sering gini kan aku tertolong”, Pandu tertawa melihat wajah Misha yang cemberut, ah, miripnya...kalau Layla merajuk, wajahnya seperti itu...Pandu mengalihkan pandangannya, dadanya terasa sesak.
Devil and Angel (Part III)
Southside University 2004-2007(Bram Memories)
“Tumben mampir”, cowok berkacamata hitam itu memandang layar komputernya tak berkedip, meski begitu, sekilas tadi dia tahu siapa yang masuk ke tokonya. Misha nyengir. “Sok Cool banget sih kau, eh, anak-anak mana?”. Bram berdiri dan memutari meja kerjanya. “Lagi main ke pantai, jadi tinggal aku sendirian jaga toko”. Misha mengikuti langkah Bram. “Gimana, pesenanku, ada nggak?”. Cowok itu mengangsurkan sebuah kotak kecil pada Misha. “Nih...”. Misha membukanya. TV Tunner. “Buat apa sih Sha?”. “Nonton TV dong, di kost ku nggak ada TV tau, betapa kesepiannya, padahal di rumah, uh, dari TV sampai player...game sampai internet semua ada...perasaanku di kost kayak ikan tanpa air...eh harganya seperti biasa kan?”. Bram mengangguk. “125, antenanya gratis deh...”. Misha tertawa. “Bagus!”. Toko elektronik kecil itu memang terkenal di kalangan anak-anak EC, barang di sana murah dan terjangkau, karena sebagian barangnya BM. Namanya juga mahasiswa, banyak yang mau bergaya tapi uang pas-pasan. Apalagi kalau sudah kenal deket sama Bram, bisa didiskon gede!. Cowok itu kuliah TI di Southside University. Dia pemilik toko ini yang dia namai “Blackside”. Anak-anak geng Misha selalu mengandalkan barang-barang dari toko ini. Kamera digital, ponsel, dan berbagai alat elektronik canggih lain tesedia di sana, kenapa harganya bisa murah? Hanya Bram yang tahu, tapi semua anak juga tahu, cowok ganteng berwajah angkuh itu juga seorang hacker handal. Entah apa yang membuatnya terjun di dunia maya dan menjadi hacker, padahal orangtuanya sangat kaya. Ayahnya salah satu direktur besar yang membawahi perusahaan telekomunikasi di kota ini. Tapi Bram seolah ingin terpisah dari nama besar ayahnya dan dia berusaha untuk hidup sendiri dengan membuka Blackside.
Misha belum pernah melihat cowok setampan Bram, gayanya seperti Clouds Final Fantasy, cool. Entah kenapa cowok itu sepertinya tidak hidup di dunia nyata, tapi seperti keluar dari sebuah game virtual. Misha pernah naksir Bram, tapi dalam artian naksir penampilannya dan gaya hidupnya yang cuek, cowok itu juga berbahaya, hacker! Suatu tantangan tersendiri, suatu kekaguman tersendiri bisa bicara dan mengobrol tentang rahasia dunia maya bersamanya, Misha sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan internet, beberapa trik dan rahasia kecil Bram ajarkan padanya, membuat Misha takjub, tapi dia tak ingin bertindak terlalu jauh. Kalau Bram sih posisinya kuat, nggak gampang memenjarakan cowok itu, ayahnya sangat berkuasa di kota ini, Bram pernah membuat kasus skala besar, tapi ayahnya entah dengan cara apa, bisa membuat Bram tetap bisa berlenggang bebas, tak tersentuh hukum, tapi sekarang tampaknya Bram agak bertobat, dia juga nggak lagi bersikap sinis dan angkuh seperti saat mereka kenal pertama kali. Keberadaan Blackside membuat Misha memiliki barang yang sebenarnya agak berat untuk dia beli: laptop, HP, Kamera digital dan MP4 mininya berasal dari toko ini, hampir semuanya dia beli dengan mendapat diskon gede, bahkan kamera digitalnya hanya setengah harga dari toko lain di luar sana. Hari minggu kayak gini toko tutup, hanya orang tertentu saja, yang kenal dengan Bram, bisa masuk melalui pintu belakang, karena hari minggu cowok itu melakukan pengecekan barang dan menghitung penghasilannya. Di hari biasa, toko itu penuh sesak, dari anak-anak yang hanya ingin melihat atau memang berniat membeli. Toko itu, meski kecil hampir semua barang ada di dalamnya. Di bawah tanah terdapat gudang barang. Misha nggak terlalu ngerti bisnis Bram legal atau tidak, sebagian memang legal, tapi, untuk orang secerdik Bram, tidak mustahil dia membeli barang dengan cara yang unik. Sering diartikan Black Market karena tak membayar pajak, tapi, tanpa pajak, harga barang memang hanya setengahnya saja. Cocok dengan kantong mahasiswa yang pas-pasan. Misha memasukkan tunner itu dan berpamitan. “Thanks Bram!”. “Yo’i!”.
Semua orang punya kisah cinta. Tapi kisah Bram cukup unik, seunik orangnya. Misha mendengarnya dari Leon, siapa lagi yang seneng ngegosip di kelompok mereka selain cowok berambut jabrik yang ujung-ujungnya dia cat perak itu. Bram adalah ketua BEM di kampusnya, selayaknya ketua BEM lain, dia juga mengurusi kalau mahasiswa melakukan demo dan sebagainya. Waktu menangani demo mahasiswa Southside yang memprotes pembangunan Mal besar-besaran yang membuat kota itu dan hampir menghapus banyak sisi tradisional yang menjadi khas kota itu, Bram berusaha sebaik mungkin menanganinya. Semula demo berjalan lancar sampai jam tiga sore, mereka hampir bubar. Tak disangka, ternyata demo itu disusupi pihak yang tak bertanggung jawab, terjadi kekacauan yang menyebabkan tentara terpaksa menggunakan kekerasan untuk mencegah pengrusakan yang dilakukan massa, karena kantor gubernur dijaga ketat, massa turun ke jalan, melempari apa saja, toko-toko di sepanjang Middletown, mengacau lalu lintas bahkan membakar beberapa mall besar di Middletown. Di tengan kekacauan itu, seseorang sempat menusuk perut Bram, tak tahu siapa lawan siapa kawan, banyak orang terluka, Bram terpaksa melarikan diri dengan lukanya itu, dia memasuki sebuah bangunan yang belum selesai dikerjakan, menunggu amukan massa reda di luar sana. Hujan rintik-rintik membasahi kota, seolah langit ikut prihatin dengan kebrutalan yang terjadi di sana.
Tiba-tiba seseorang masuk, Bram sudah pasrah, apakah dia akan mati dikeroyok atau apa, terserah, dia sudah tak bisa bergerak, tapi ternyata seorang gadis sebayanya berdiri di depannya, mengernyit melihat seorang pemuda terluka di gedung setengah jadi itu. tadinya gadis itu juga hanya ingin bersembunyi, tak dia sangka menemukan seorang pemuda terluka di sana, saat dilihat baik-baik, gadis itu mengenali siapa pemuda itu. Bramantya Dewangga Jati, ketua BEM kampusnya, semua orang kenal cowok jurusan TI itu, selain terkenal cool dan pandai, Bram pernah beberapa kali menjuarai lomba design grafis di luar negeri, wajahnya sering muncul di koran lokal ataupun majalah mahasiswa Southside. Bram memandang gadis itu. “Tenanglah...jangan banyak bergerak ya...”, gadis itu membuka jilbab putihnya, rambutnya yang hitam panjang terurai. “Maafkan aku Tuhan, tapi ini terpaksa...”, gumamnya. Dengan cekatan dibukanya kaus Bram yang penuh darah dan dibalutnya luka itu dengan hati-hati dengan jilbabnya. “Lukamu parah, harus dibawa ke rumah sakit...”. Bram tak bisa menjawab. Tubuhnya terasa lemas dan dingin. Suara di luar masih terdengar riuh dan ramai. Gadis itu menghubungi seseorang lewat ponselnya. “Assalamualaikum...kak Firman? Tolongin Mecca kak, terjebak di jalan Balance 23. ya...di gedung yang belum jadi...kalau kakak bisa mencapai daerah ini segeralah kemari, ada teman Mecca yang terluka”.
Begitu sadar, Bram sudah berada di rumah sakit, lamat-lamat dilihatnya seorang gadis berbaring di ranjang seberangnya. Mereka terhubung selang, gadis itu mendonorkan darahnya untuk Bram, dia sedang asyik membaca buku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terkulai di sampingnya. Kaki kirinya dia tekuk untuk menyangga buku itu, asyik sekali dengan bacaannya sampai tak sadar Bram memperhatikannya, tapi kesadaran cowok itu kembali hilang.
Keesokan harinya saat dia kembali siuman, ranjangnya sudah dikelilingi keluarganya, ayahnya, ibunya, dan beberapa kerabat, Bram anak tunggal, tidak memiliki saudara, beberapa temannya di BEM juga hadir menengoknya, mata Bram mencari-cari gadis yang menolongnya. Yang dia tahu cuma nama gadis itu, Mecca.
Berhari-hari setelah keluar dari rumah sakit, Bram mencari identitas gadis itu di komputer. Ternyata mahasiswa Southside juga, anak kedokteran semester tiga, pantas dia begitu terampil membalut luka Bram. Gadis itu tak pernah muncul lagi di rumah sakit setelah mendonorkan darahnya, terpaksa Bram membongkar data mahasiswa di kampusnya. Dia berkesimpulan kalau gadis itu berkuliah di universitas yang sama dengannya karena di jilbab putih gadis itu tercetak lambang universitas Southside. Jilbab itu sampai sekarang masih di tangan Bram, menjadi semacam benda kenangan bagi pemuda itu. Dibacanya data mahasiswa yang tertera di layar komputernya, untuk anak TI seperti Bram, adalah hal yang mudah mengutak-atik program di kampus, banyak sistem keamanan yang mudah dilemahkan. “Mecca Aisha Salsabila. Ttl: Mekkah, 7 Desember 1985. mungkin itu sebabnya gadis itu dinamai Mecca, artinya Mekkah. Ayahnya ternyata seorang duta besar, pernah berpindah-pindah ke berbagai negara, mungkin kebetulan pas gadis itu lahir, orangtuanya sedang menjadi duta di Mekkah. Anak kedua dari dua bersaudara. Dia punya kakak ...mungkin lelaki yang membantu gadis itu mengangkat Bram ke mobil dan membawanya ke rumah sakit? Bram dengan seksama melihat foto Mecca, meski foto itu kecil dia mengenali wajah itu, malaikat penolongnya.
“Hai...”, Bram nggak tahu musti bicara apa, gadis itu sedang bicara dengan beberapa temannya yang juga memakai jilbab. Mecca menoleh dan tersenyum melihat siapa yang menyapanya. “Sudah sembuh?”, cowok itu mengangguk kaku. Busyet! Padahal selama ini, berhadapan dengan Rektor, Dosen sekumpulan ketua mahasiswa, dia nggak pernah grogi...kenapa di depan cewek ini dunia yang dia pijak serasa bergoyang? Bram merasa aneh, banyak cewek yang dekat dengannya, pacarnya entah sudah berapa banyak, tak terhitung, tapi baru kali ini dia mati kutu, ngomong saja nggak mampu, oh, kenapa? Apa ada yang salah dengan dirinya?. “Bi...bisa kita bicara berdua?”, tanya Bram. Gadis itu memandang teman-temannya sebentar. “Eh, kalian duluan saja, nanti aku menyusul...”. Mecca berjalan menghampiri Bram. “Lukamu sudah baikan?”. Bram mengangguk. Mereka menuju ke taman di depan fakultas kedokteran dan duduk di kursi putih dekat kolam kecil yang dinaungi pohon beringin, suasananya terasa sejuk. Bram membuka jacketnya dan mengeluarkan selembar kain putih, jilbab Mecca. “Eh, ini...terimakasih ya...kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah mati kehabisan darah”. Mecca melongo. “Oh itu...sudahlah, sesama manusia kita kan memang harus saling menolong”. Mecca membentangkan kain itu. “Wow, putih bersih...kau mencucinya pakai apa?”. Bram menggaruk rambutnya. “Se...sebenarnya...aku beli sih, yang kena noda darahku itu nggak terselamatkan lagi”. Padahal dia pengen menyimpannya sebagai kenangan. “Waduh, seharusnya nggak usah repot gini...nggak usah diganti juga tak apa”, kata Mecca. Bram tersenyum, kaku. “Eh...kan sudah dibeli, sebaiknya kau gunakan saja, aku kan nggak mungkin pakai jilbab”. “Benar juga, terimakasih ya...”. lalu gadis itu berdiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Maaf ya, sebentar lagi praktikum, aku harus ke laborat, udah nggak ada keperluan lagi kan?”. Bram ikut berdiri dan memandang air di kolam. “Gimana...kalau sepulang kuliah kau kujemput...sekedar makan siang? Kau kan sudah menolongku”. Gadis itu tertawa. “Hei, sudahlah, nggak perlu sampai mentraktirku segala...”.
Bram menyusul langkah Mecca. “Please? Karena aku masih ingin bicara denganmu”. Mecca menghentikan langkahnya. “Soal apa?”. “Banyak...”, kata Bram lalu mengulurkan kartu namanya. “Di situ ada nomor ponselku...kalau kau setuju SMS aja ke nomor itu...”, lalu Bram berlalu meninggalkan Mecca yang bengong. “Mau ngomong soal apa lagi?”,pikir Mecca. Lalu gadis itu beranjak.
---
“Halo Bram, lukamu sudah sembuh?”, seorang gadis cantik menyapa Bram sepulang kuliah. “Lumayan”. Gadis itu memegang lengan Bram dan bergelayut manja. “Main yuk...udah lama nggak ke cafe nih, anak-anak kangen sama kamu”. Bram melepas pegangan gadis itu di lengannya. “Nggak bisa Sheryll, aku ada janji”. Gadis itu cemberut. “Janji? Sama siapa?”. Bram tak menjawab, langsung menuju tempat parkir dan duduk di BMW silvernya. Tadi SMS dari Mecca diterimanya, gadis itu setuju makan siang dengannya. Tergesa Bram mengendarai mobilnya menuju depan fakultas kedokteran. Mecca sudah menunggu, tapi gadis itu asyik menekuri buku yang dipegangnya, tidak menyadari kalau Bram tengah menuju ke arahnya. “Asyik banget...baca apa sih?’. Mecca terkejut melihat Bram sudah ada di sampingnya. Bram membalik buku itu. “Ilmu kesehatan Masyarakat...”, kata cowok itu lalu memandang Mecca. “Jadi pergi kan?”. Mecca mengangguk. “Kamu bawa mobil?”. Tanya Bram, cewek itu menggeleng. “Aku pulang pergi kampus naik bis kok...”. Bram mengernyit. “Bis? Ayahmu kan mantan duta besar...masa kamu ke kampus naik bis?”. Giliran gadis itu memandang Bram heran. “Eh...kok kamu tahu? Anak di kelas, temen-temenku gak ada yang kuberi tahu...kok kamu bisa tahu?”. Bram terhenyak, aduh! Gawat, keceplosan nih. “Eh...hanya kebetulan, ayahku kenal ayahmu...”. “Ayahmu nggak kenal aku...”, tampaknya Mecca lumayan cerdas. “Sebenarnya...”. Bram akhirnya mengaku kalau dia menerobos jaringan kampus, entah kenapa dia sepertinya nggak bisa bohong di depan gadis itu, Bram khawatir Mecca marah, tapi mau gimana lagi?
“Wow...”, gadis itu malah takjub. “Kriminal kamu ya...bisa kulaporkan lho”, kata Mecca. Bram mengerdikkan bahu tak berdaya. “Aku pasrah Mecca...aku kan hanya ingin tahu tentangmu, habis, setelah kau donorkan darah padaku kau nggak ninggalin alamat atau apapun sebagai jalan aku menemuimu dan ngucapin makasih”. Mereka menuju parkiran dan Bram mempersilahkan Mecca masuk ke mobilnya. “Mau ke mana kita?”, tanya Mecca.”Terserah kamu, ke Boz Cafe& Lounge? Atau Restoran De Luxe?”. Mecca berpikir sejenak. “Warung makan Bu Haji aja, itu...deket masjid Agung, ayam gorengnya enak lho, sekalian aku sholat Dzuhur...gimana?”. Bram hanya menurut.
Mereka bicara banyak hal, ternyata Mecca tahu banyak soal politik, mungkin karena ayahnya Duta Besar yang sering berhubungan dengan politik. Lalu kembali ke masalah mereka. “Yang menolongku waktu itu...membawaku ke mobil, kakakmu?”. Mecca mengangguk “He eh, Firman Farazzi. Dia juga yang menjahit lukamu”. “Eh?”. “Kakakku dokter di SIH”. “Southside Hospital?”. “Yup’s...dia juga yang bilang kalau kau kekurangan darah, golongan darahmu lumayan sulit dan langka jenisnya, sementara orangtuamu belum bisa dihubungi, jadi...”. “Kau mendonorkan darahmu kan?”. Mecca mengangkat alisnya yang tebal. “Kok tahu?”. “Aku sempat sadar sebentar...oh ya...dua kali utang nyawa tuh aku...kalau nggak ada kamu...aku sudah mati”. “Ngawur...hidup mati di tangan Tuhan, lagian kebetulan darah kita sama, AB, Tuhan yang membimbingku masuk ke bangunan itu, karena kebetulan darah kita sama, hehe...mungkin begitu ya...”, kata Mecca.
Bram termenung memandang betapa khusyuknya gadis itu sholat di masjid, selama ini Bram hampir tak pernah masuk masjid, agamanya memang Islam tapi orang tuanya tak pernah mengenalkan secara gamblang agama yang mereka anut. Ke masjid hanya kalau lebaran saja, waktu kecil dia pernah ikut mengaji bersama temannya di kompleks perumahan mereka, tapi selepas SMP dia bergaul dengan anak-anak nggak bener, berandalan. Bram kesepian di rumahnya yang besar, orangtuanya selalu sibuk, di rumah hanya bersama sopir dan pembantu. Nggak ada yang membimbingnya, ayahnya mendidik Bram dengan uang, bukan kasih sayang. Saat memasuki rumah Tuhan ini, cowok itu merasa hatinya tenang. Seperti pulang ke rumah yang dia dambakan.
Mecca terkejut melihat Bram berdiri di belakangnya. “Kamu sudah sholat?”, tanya Mecca, tapi cowok itu menggeleng. “Aku sudah lupa caranya...”. Mecca mengerutkan alis. “Maksudmu?”. Cowok itu duduk di dekat Mecca dan bercerita. “Aku memang beragama Islam, waktu kecil juga ikut mengaji dan tarawih seperti anak lain, tapi, selepas SMP dan mulai bergaul dengan dunia malam, teman-temanku yang baru, dan mencari kesenangan...ketenangan..jati diri di luar rumah, aku sudah lupa akan apa itu Tuhan, hidupku hampa, tapi saat aku berjuang mencari untuk apa sebenarnya aku hidup, aku malah semakin jauh dari eksistensiku yang sebenarnya, larut dalam duniaku sendiri...tak ada yang memberitahuku, di mana Tuhan harus kutemukan, orang tuaku saja tak pernah perduli”.
Cowok itu pasrah, mungkin Mecca akan mengejeknya, menyalahkannya atau apapun, Bram tak akan mengelak, dia memang bukan orang alim. Dia tahu Mecca aktif di kegiatan sosial dan mahasiswa Islam, cewek itu alim, santun, berhati malaikat. Sementara dia...pendosa, tak tahu aturan dan tak percaya Tuhan. Keangkuhan merajai dirinya, menjabat sebagai ketua BEM membuatnya angkuh, bisa mengatur semua mahasiswa di kampus, semua mahasiswa takut dan hormat padanya, tapi Bram juga sadar, mungkin pengaruh kekayaan ayahnya juga yang menyebabkan dirinya disegani. Kekuasaan itu tak murni dia peroleh. Ada nama besar Dewangga Jati di belakangnya.
Bram merasa seperti setan, dan gadis di depannya bagai malaikat Tuhan. Mecca menghela nafas. “Tuhan, tak pernah hilang...dia selalu ada di hatimu, kau bisa melupakannya, tapi Dia tidak...selama ini Dia selalu ada, tapi kamu yang menolaknya...”. gadis itu tersenyum. “Belum terlambat Bram, selama kamu bernafas, nafas itu adalah namaNya...nafas itu kehidupan yang diberikanNya...kau tahu, Dia sangat mencintaimu, karena itu Dia ingin kau pulang ke rumahNya Bram...”.
Sejak hari itu Bram banyak belajar, seperti bayi, mencoba merangkak, berdiri lalu berjalan, lidahnya kaku saat membaca kembali surat-surat cinta dari Allah, tapi pemuda itu mencoba mengejar keterlambatannya. Mecca memperkenalkannya pada seorang Ustadz yang pandai tapi gaul, jadi saat Bram belajar padanya, ustadz Reyhan bisa memahami jiwa muda Bram, mengupas sisi gelap pemuda itu perlahan dan melepaskan selubung hitam yang melingkupi hati pemuda itu. “Aku juga pernah muda Bram, melakukan banyak kesalahan, bahkan masuk penjara...aku dulu pencuri”. Bram terhenyak menatap Ustadz Reyhan, wajahnya yang putih menyejukkan dan alim itu...mustahil. “Bukan pencuri biasa, aku ahli membongkar brankas dengan trik yang kupelajari dari seorang sahabatku di Jerman...membongkar brankas bank kulakukan dengan mudah, aku menguasai seni membuat dan membongkar kunci...tapi pada akhirnya aku mendapat hidayah...aku tertangkap dan masuk penjara, tak kusangka, di penjara itu aku menemukan jati diriku, mempelajari banyak hal dari Ustadz yang mengajariku mengaji dan sholat. Jadi, aku yakin kau pun bisa melakukannya, kau pemuda yang baik”.
Teman-teman Bram banyak yang heran akan perubahan pemuda itu, keangkuhannya berkurang, nggak pilih-pilih teman lagi, bahasanya pun tak sekasar dulu. Bram sendiri menyadari perubahannya. Tak hanya itu...dia semakin menyadari...dia jatuh hati sama Mecca. Cinta...baru kali ini dia mengenal cinta yang seperti ini, dia pernah pacaran, punya banyak pengalaman, mengobral kata-kata manis, tapi itu bukan cinta. Bram tersenyum saat melihat sosok Mecca berlari ke koridor laboratorium. Dari atap fakultas tekhnik, laboratorium FK memang terlihat. Nah, hanya memandangnya saja Bram sudah merasa senang. Bicara dengan Mecca apalagi, senyum tak bisa lepas dari bibir Bram. Mecca memang cantik, cantik yang alami, wajahnya hanya dipoles bedak tipis dan lipstik samar, gayanya alim, tak pernah genit seperti gadis lain yang Bram kenal, bicaranya sopan dan spontan, apa yang ada di hatinya itu yang dia keluarkan. Polos dan kadang naif. Kepolosan itu yang membuat Bram tertawa, kok ada sih gadis sepolos itu di zaman sekarang?. Tapi sepertinya Mecca dibesarkan di keluarga yang harmonis dan bahagia, gadis itu belum melihat dunia yang sesungguhnya, belum pernah sakit hati atau dikhianati, apa Tuhan terlalu melindungi hatinya yang lembut itu?.
Hari Minggu yang cerah, sepulang mendengarkan ceramah dari Ustadz Reyhan, Bram mengajak Mecca ke perpustakaan masjid agung. Saat gadis itu asyik memilih buku, Bram mengutarakan perasaannya. “Eh...Mecca...maukah..maukah...”, gadis itu memandang Bram heran. “Apa?”. “Maukah kamu jadi pacarku?”. Mecca malah tersenyum. “Heh...?”. Bram merasa lidahnya kelu dipandang Mecca seperti itu. “Se...sejak kamu menolongku saat luka, aku...aku merasa menyukaimu, dan sekarang perasaan itu semakin besar...aku mencintaimu Mecca, maukah kau jadi pacarku?”.
“Nggak mau...”, kata Mecca tegas. Bram terkejut setengah mati, baru kali ini cintanya ditolak, selama ini cewek-cewek yang mengejarnya. Ego cowok itu terluka, tapi rasa sayangnya yang sedemikian besar pada Mecca tak mampu menyulut amarahnya. “Kenapa? Apa kekuranganku Mecca? Apakah kau menyukai orang lain?”. Gadis itu menuju meja baca membawa beberapa buku dan Bram mengikutinya. “Apakah cinta itu, Bram?”, tanya Mecca. “Entahlah, aku sendiri tak tahu, pokoknya aku merasa bahagia kalau kau ada di sampingku...”. “Cuma itu?”. “Nggak, banyak hal yang membuatku menyukaimu...aku nggak bisa menjelaskan dengan kata-kata”. Gadis itu tersenyum. “Aku juga mengalami hal seperti itu Bram”. “Eh, sama siapa? Kau menyukai seseorang?”. “Begitulah...”, wajah Bram berubah muram. “Orang itu kamu, Bram”. Cowok itu kembali memandang Mecca, tak percaya. “Tapi...kalau kau menyukaiku juga, kenapa nggak mau jadi pacarku?”. “Karena pacaran itu haram...hasrat, keinginan, yang muncul dalam diri kita adalah perbuatan setan, cinta seperti obat dan racun, cinta...kalau kadarnya pas bisa menjadi obat, salah takar sedikit bisa meracunimu”. “Aku nggak ngerti”. “Perasaan seperti ini harus kita kendalikan, pacaran, bisa membuat hatiku kacau, aku ingin menyentuhmu, padahal sentuhan tanganku di kulitmu adalah dosa, seperti api neraka yang bisa membakarmu...justru karena aku mencintaimu, aku tak ingin kau terjebak dalam dosa yang seperti itu”, kata Mecca. Bram masih belum mengerti. “Terus, bagaimana dengan cinta ini?”. Mecca tersenyum samar. “Tuhan pasti punya jawaban di setiap pertanyaan, kau cari saja jawabannya, karena aku tak mungkin memintanya...”. “Maksudmu?”. “Yah, pasti ada suatu cara yang membuat cinta bersatu tanpa tercampur dosa, Tuhan selalu memberikan jalan, Bram, kau temukan saja jawaban itu sendiri, oke?”, gadis itu berdiri dan keluar ruangan, tapi Bram sempat melihat rona merah di pipi Mecca. Cowok itu masih termangu, nggak ngerti.
“Pernikahan”, kata Ustadz Reyhan saat Bram bertanya. “Apa ada sesuatu yang bisa menyatukan cinta tapi tidak membuat dosa tercampur di dalamnya?”. Bram mengernyit. “Begini Bram, kalau kamu pacaran, hasrat dan keinginan di hatimu adalah dosa, kau menyentuhnya, menciumnya, bagai membakarnya dengan bara api neraka. Tapi kalau kau menikah dengannya, sentuhanmu, ciumanmu...apapun yang kau lakukan padanya adalah pahala...karena kau memilikinya atas nama Tuhan, Bram...kau sudah mengerti maksudku?”. Cowok itu perlahan menyadari maksud Mecca dan tersenyum. “Menikah?”. Bram masih muda, umurnya belum lagi duapuluh, tapi apa salahnya menikah?.
---
Mecca tersenyum saat membaca pesan Bram di HPnya. “Sorry Mecca, maksudku bukan ‘Pacaran Yuk’ tapi..’Menikah yuk’....serius nih...”. gadis itu tertawa dan berjalan ke kamar abangnya. “Kak Firman...Mecca mau curhat nih...”. Firman yang asyik menekuni buku Farmakologi dan Terapi memandang adiknya yang tersenyum ceria. “Kayak orang baru dilamar aja...emang ada apa sih Ca?”. Mecca semakin memperlebar senyumnya. “Emang Mecca baru dilamar, kok”. “Hah?”.
Tentu saja kedua orang tua mereka menentang keras rencana pernikahan itu. tapi dengan senang hati mengadakan acara pertunangan. “Kalian masih muda, paling tidak, tunggu Bram selesai kuliah dulu...”, kata ayah Mecca. “Sebaiknya tunangan dulu lah, Bram...kau ini kan masih semester tiga...tiga tahun bukan waktu yang lama. Lagipula putri Pak Rasyidin itu masih kecil, kan? Umurnya saja baru sembilan belas...batas usia nikah itu 21 Bram...”, bujuk ayahnya. Pemuda itu merenung, benar juga, mereka masih muda, lagipula dia belum memiliki kerjaan, mau dikasih makan apa Mecca?. Kerikil?. Orang tua mereka memang kaya, tapi Bram tak mau bergantung pada orangtuanya. Dia harus jadi lelaki sejati, bisa cari penghasilan sendiri.
---
Pertunangan mereka dilakukan sederhana saja di rumah keluarga Rasyidin Farazzi. Kedua keluarga hanya mengundang kerabat dekat. Bram tersenyum memandang Mecca yang cantik dengan jilbab putih dan baju muslim senada. “Kamu cantik sekali...”, katanya. Mecca tersipu saat Bram memasukkan cincin platina di jari manisnya. “Udah boleh ciuman belum ya...”, tanyanya menggoda pada Mecca. Firman yang menjawab. “No...no...enak aja....belum muhrim bung...”, katanya dengan galak. Bram dan Mecca tertawa. “Iye...bercanda...abang...”, kata Bram.
---
Meski tanpa bergandengan tangan dan belum boleh pelukan, mereka berdua sering jalan bareng, sekedar menikmati keramaian di Middle town atau menyusuri jalan di sekitar alun-alun untuk menikmati berbagai makanan khas di sana. Mecca gadis yang sangat menyenangkan, Bram selalu merasa bahagia saat bicara, bahkan saat berdebat dengan Mecca. Dari makanan sampai politik, dari kasus kerusuhan yang sering terjadi di kota mereka sampai kejahatan di dunia maya yang akhir-akhir ini marak dibicarakan. “Kamu sudah bertobat kan, Bram?”, tanya Mecca. “Insya Allah, ukhti...”, kata cowok itu sambil memakan sate manisnya dengan lahap. Mecca tersenyum, memandang rambut gondrong Bram yang tertiup angin sore, betapa tampannya wajah itu. Mecca jadi teringat, saat di rumah sakit dulu, setelah dia mendonorkan darahnya, dia melihat Bram tertidur karena bius, sejenak dia tertegun, tangannya hampir terulur memegang wajah yang terlihat rapuh itu...cepat-cepat dia keluar ruangan dan berusaha melupakan betapa tampannya wajah yang tertidur itu.
Saat menyusuri balik jalan ke arah Middletown dan menuju tempat parkiran, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh keributan yang terjadi di toko emas di dekat mereka. Beberapa orang pria bertopeng menembakkan senjata dan mengancam orang di sekitarnya menyingkir. Salah seorang menyenggol tubuh Bram dan membuat keduanya terjatuh. Sekantong penuh perhiasan terlempar ke jalan, tersebar, orang itu marah dan melampiaskan pada Bram, senjatanya teracung tepat di kepala pemuda itu, pria itu menembak, Mecca menyeruak diantara mereka, melindungi Bram. Saat tubuh gadis itu terjatuh ke arah Bram, terdengar sirine polisi dari kejauhan, komplotan itu segera pergi dari TKP, meninggalkan separuh kejahatannya dan membiarkan seorang gadis terluka.
Bram memeluk tubuh Mecca, tubuhnya gemetar, penuh amarah, marah pada para perampok itu, bercampur rasa takut yang luar biasa...takut kehilangan Mecca. Gadis itu tertembak di dada... darah membasahi kemeja putih Bram, pemuda itu hanya bisa memandang wajah Mecca dengan kalut. “Mecca...Mecca...bertahanlah...”. Gadis itu mengernyit menahan sakit dan di bibirnya membisikkan sesuatu. “Allah...Allah...”, dada Bram semakin nyeri mendengar bisikan Mecca. “Allah akan menolongmu, Allah pasti melindungimu...bertahanlah...”. dibopongnya tubuh gadis itu menuju mobilnya dan dengan kecepatan yang entah seperti apa, dia menuju rumah sakit. Bram tak sabar menunggu ambulance datang, Mecca harus segera ditangani!.
---
Firman memeluk Bram erat. “Sabar ya Bram..kita harus ikhlas...”. Firman merasa sangat sedih, selama ini dia sudah menangani banyak kasus, banyak nyawa bisa terselamatkan, tapi sekarang, nyawa adiknya sendiri tak bisa dia tolong, tapi dia harus tabah. Mecca telah pergi...Firman shock, begitupun ayah dan ibu mereka. Firman merasa sangat sedih, tapi saat dilihatnya Bram tak bergerak di ruang tunggu, pandangan matanya kosong, Firman merasa, Bram ribuan kali lebih sedih darinya. Tubuh Bram tak bergerak dalam pelukannya. “Ikhlas Bram...istighfar...”. cowok itu tak menjawab, bahkan saat Firman mengguncangkan bahunya. “Bram?”, Firman menepuk pipi pemuda itu, Bram bahkan tak bergeming. Pandangannya masih kosong. Firman tercekat, Bram seolah ikut pergi bersama Mecca. Tubuh Bram tiba-tiba ambruk dan Firman menyangganya.
---
Firman memandang sedih pemuda di dalam ruangan. “Dia masih Shock”, kata Firman pada Dewangga. “Tidak mau makan, kami terpaksa memasangkan infus, itupun selalu dia cabut, jadi kami kasih dia obat penenang dan mengikatnya di tempat tidur...”. Dewangga memeluk istrinya dan memandang Bram yang tertidur di ruangan itu. Bram...putra tunggalnya, kesayangannya...ah, dia merasa menyayangi Bram, tapi, apakah selama ini dia memperhatikan pemuda itu? lihat Dewa...anakmu...bukan lagi bocah kecil yang mengganggumu dengan berbagai pertanyaan cerdas. “Kenapa balon udara bisa terbang, ayah? Apa yang membuat pesawat bisa terbang? Apa Bram bisa terbang? Kenapa...”. ah, Dewa merindukan saat-saat itu, tiba-tiba saja dia merasa Bram sudah dewasa, tak mengetahui seperti apa perkembangan saat bocah kecil itu bermetamorfosa jadi dewasa. Dewa merasa menyesal, mengabaikan Bramantya selama ini. Dengan sedih dielusnya wajah pemuda itu. “Maafkan ayah Bram, selama ini yang kamu minta selalu ayah bisa kabulkan, tapi ayah takkan pernah bisa membawa Mecca kembali padamu, meski ayah tahu, itu mungkin satu-satunya yang kau inginkan...ayah jadi menyadari, uang bukanlah segalanya”.
Hampir satu bulan setelah kepergian Mecca. Tak ada perubahan dalam diri Bram, sepertinya pemuda itu tak ingin bangun dari tidurnya. Kalaupun dia membuka mata, dia tak mau bicara, hanya memandang langit-langit kamar rawat. Saat ayahnya mengajak bicara, Bram hanya diam, ibunya membujuknya makan, pemuda itu menutup matanya. Seolah menikmati penderitaan yang mendera tubuhnya. Firman tak tahan melihatnya.
“Kau nggak tahu terimakasih...”, pancing Firman. “Mecca hanya sia-sia saja berkorban, menyelamatkanmu, kalau pada akhirnya kau hanya menjadi mayat hidup, Bram...ini bukan keinginan Mecca...”. Firman melihat sekilas kilatan di mata pemuda itu. “Kau sia-siakan nyawa Mecca...dia menolongmu agar kau bertahan, bukan untuk mati...”. “Diamlah...”. “Mecca pasti sedih melihatmu begini”. “Kubilang Diam!”, kata Bram, bangkit dari tidurnya, matanya tak lagi kosong. “Aku nggak akan diam Bram, sebelum kau menyadari...kenapa Mecca menyelamatkanmu...karena dia tahu kau berharga, kau harus hidup, banyak hal yang bisa kau lakukan, jadi kalau kau seperti ini...pengorbanannya akan sia-sia...”. Bram memandang Firman marah. “Kau tahu apa? Kau tak tahu apapun! Tuhan...dimana Dia? Kenapa Dia tidak selamatkan Mecca? Apakah Mecca tak pantas diselamatkan?”. Firman terhenyak. “Bram...”, dipeluknya pemuda itu. “Justru Tuhan sayang sama Mecca, makanya Dia memanggil Mecca untuk bersamaNya, di sisiNya Mecca lebih bahagia...kau mengerti?”. Firman merasa tubuh Bram berguncang dalam pelukannya. “Menangislah Bram...kita memang hanya manusia...wajar kalau kau keluarkan airmatamu, kau sudah menahannya sebulan...pasti terasa sakit kan...menangislah...”.
---
Identitas para perampok itu belum diketahui. Polisi sangat kesulitan mencari keberadaan mereka. Bram dengan geram membaca berita kasus yang masih menggantung itu. “Apa sih kerjaan polisi itu...kenapa para bedebah itu belum juga tertangkap?”. Bram mengepalkan tangannya dan meninju dinding kamarnya. “Brengsek!”, teriaknya kesal. Lalu pemuda itu terduduk di ranjangnya, saat memandang foto Mecca di dinding kamar, Bram merasa hatinya tersayat. Perlahan dirabanya cincin di jari manisnya. Cincin pertunangan mereka. Satu cincin lagi milik Mecca sudah diserahkan Firman padanya. Bram menuju laci meja belajarnya dan menemukan sebuah kotak di sana, cincin Mecca. Dengan sedih dilepasnya cincin di jari manisnya, lalu disatukannya kedua cincin itu pada sebuah kalung platina dan dipakainya di leher. Tiba-tiba Bram menyadari sesuatu. Cincin...perhiasan...bukankah toko yang dirampok itu toko perhiasan?.
Tergesa pemuda itu mengambil jacketnya dan menuju kantor polisi yang menangani kasus perampokan itu, Bram mengutarakan maksudnya. “Saya ingin mengetahui rincian perhiasan yang dirampok itu”. “Untuk apa?”, tanya kapten polisi Adnan. “Tentu saja melacak keberadaannya...”. “Kau pikir, kami para polisi tidak melakukannya? Kami juga mengawasi jalannya transaksi perhiasan, tapi hasilnya nihil”. Bram mengernyit. “Anda sudah memeriksa daftar di pasar Jack Royale BM?”. “Apa itu?”. “Black market, tapi ini bukan di dunia nyata, tapi pasar gelap di internet, biasanya barang rampokan atau curian ditawarkan secara terselubung di sana”. “Aku baru dengar...”. Bram berdecak kesal. “Pak, bisakah saya melacaknya dengan komputer kantor kepolisian pusat ini?. Saya yakin barang itu ditawarkan di sana...tolong beri saya wewenang untuk melacaknya...saya mohon, kalau kita tidak cepat...barang itu keburu sudah terjual dan kita lebih sulit lagi melacaknya”. Kapten Adnan mengernyit, tapi sepertinya pemuda ini bisa dipercaya, lagipula apa salahnya. “Kau bisa mengaksesnya?”.
Berjam-jam Bram bekerja di ruangan khusus itu, diawasi beberapa polisi yang mengetahui kerja tekhnologi Informasi, mereka berdecak saat melihat kemampuan Bram mengoperasikan Software yang dibawanya, melacak satu demi satu transaksi ilegal yang terjadi di Wired. Membandingkan jenis perhiasan yang hilang dan contoh barang yang ditawarkan. Ternyata banyak sekali transaksi ilegal yang terjadi, sudah banyak pula situs yang menawarkan barang gelap seperti hasil rampokan atau curian, selama ini polisi belum terlalu serius menangani kasus di dunia maya. Tapi ternyata hal itu tak bisa dianggap remeh, transaksi di Wired ternyata lebih besar dibandingkan di real world. Pemuda itu berpacu dengan waktu, memecah dan menerobos kode-kode sindikat rahasia.
“Gotca!”, teriak Bram, rambut gondrongnya sudah acak-acakan karena beberapa kali dia meremasnya dan memaksa otaknya terus berpikir. “Lihat...ini perhiasan yang sama dengan yang dicuri...transaksi untuk saudara X harus di transfer dengan nomor rekening...wah, bisa kita lacak..”. Bram mendapatkan sebuah nama yang terdaftar di bank tertentu. “Kemungkinan identitas ini palsu, jadi sebaiknya kita tangkap orangnya saat melakukan pengambilan uang di bank”. “Kalau dia memakai ATM?”, tanya polisi di sebelahnya. “Benar juga...”, Bram melacak apakah pemilik rekening itu memiliki ATM terdaftar. “Ah, untung dia belum mendaftar ATM...agak ceroboh...keuntungan untuk kita, sebaiknya anda sekalian bersiap...ini alamat bank tempat rekening itu terdaftar...”. para polisi itu saling berpandangan, salah satu menepuk bahu Bram. “Untung kau ada di pihak kami...ah, baiklah segera laporkan kapten dan bersiap...”, lalu polisi itu memandang Bram. “Jangan salah gunakan kemampuanmu, bocah...aku tak ingin menangkapmu kelak...”, Bram hanya nyengir.
---
Setelah salah satu anggota komplotan tertangkap, mudah untuk mengetahui identitas yang lain, tak sampai dua minggu kemudian semua pelaku sudah tertangkap. Bram memandang wajah para perampok itu, komputer di kamarnya diam-diam telah dia akses ke kantor kepolisian pusat. Otaknya menyimpan memori beberapa kode rahasia dan kelemahan sistem kantor kepolisian pusat. Salah satu dari perampok ini yang membunuh Mecca...ingin rasanya Bram membunuh mereka semua...”Kalian harus mati...atau...kematian terlalu bagus?”, saat dia memandang foto Mecca di sampingnya Bram tersenyum. “Maaf Mecca...seharusnya aku tidak berpikir seperti itu ya...kau pasti sedih kalau aku memiliki dendam di hatiku...baiklah...aku menurut padamu...biar Tuhan yang membalas mereka...bukankah begitu? Itu kemauanmu kan?”. Seolah dilihatnya gadis itu tersenyum padanya, Bram merasa hatinya tersayat. Airmatanya kembali luruh. “Aku merindukanmu, Mecca, kau tahu...aku sangat merindukanmu...apa kau bahagia di sana?. Yah...kau harus bahagia, kau pasti bahagia, bukan?”. Lalu dengan sedih digenggamnya cincin pertunangan mereka yang tergantung di lehernya. Dikecupnya cincin itu dengan sedih. “Kau harus bahagia...Mecca. Tuhan, kutitipkan dia padaMu, bahagiakan dia, jagalah dia...Kau pasti menyayanginya lebih dari pada aku, mencintainya lebih dari cintaku padanya...”.
Bram mematikan komputernya dan menuju ke tempat tidur. Beberapa minggu kemarin dia tak bisa tidur, saat kasus ini selesai dia baru bisa merasa lega, Insomnianya sembuh. Bram memejamkan mata dan tertidur. Seorang gadis tersenyum dalam mimpinya, tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum, tapi dari pandangan matanya, Bram tahu, Mecca ingin dia juga bahagia...
Westside University, February 2007
“Saat bunga Lonceng Desember mekar, dia mempersembahkan keindahannya pada musim dingin, saat musim dingin tiba, bunga itu layu, luruh dan kembali ke tanah. Tapi, suatu saat...dan selalu...akan ada kuncup yang perlahan mekar, berkembang dengan indahnya...untuk kembali luruh...”
Rumah kecil berwarna putih itu berada di sebelah kost Misha. Misha sangat suka memandang rumah itu, suasananya terasa nyaman, gaya rumah itu kuno, memiliki jendela-jendela panjang dan bertirai putih. Dindingnya setinggi satu meter tersusun dari batu kali yang dibiarkan terlihat alami sisanya dinding putih biasa yang menjulang sampai ke atas, rumah itu tersusun dengan dua lantai. Beranda rumah itu juga terasa nyaman dengan beberapa pot bunga dan suasana kunonya terasa dengan beberapa kursi tua yang ditempatkan serasi dibawah lampu gantung yang mungkin usianya setua rumah ini. Konon, ini rumah seorang dokter, mungkin itu yang membuat suasananya jadi ‘agak’ mengingatkan Misha pada rumah sakit, sekarang rumah itu disewakan menjadi kost-kostan, meski terlihat mungil, tapi mungkin rumah itu punya banyak kamar, dilihatnya sedan putih Caesar berada di depan rumah, jadi anak itu pasti ada di dalam. Misha menekan bel pintu. Seraut wajah muncul di balik jendela, seorang pria paruh baya berkacamata membukakan pintu. Bapak kost, pria itu tinggal sendirian di rumah ini, kata Caesar sih pria yang menjadi tuan rumah kostnya itu bujangan tua. Misha baru kali ini bertemu dengannya, karena biasanya Caesar sendiri yang membukakan pintu. Misha mengira-ira, umur pria itu mungkin sekitar empat puluh tahun, wajahnya masih terlihat tampan, tampaknya orang itu habis bercukur, rambutnya yang lurus tebal, belum beruban, tampaknya dia pria yang kalem dan sabar, sepertinya pikirannya tertata dan tidak mudah stress, tubuhnya lumayan jangkung, tapi tidak kurus, karena mengenakan kemeja lengan pendek putih, Misha bisa melihat otot lengannya yang tampak menonjol, kulitnya kecoklatan, seperti terbakar sinar matahari dalam waktu yang lama, ada luka di alis kanannya. Matanya...pria itu memandangnya ramah, seulas senyuman menghiasi bibirnya. “Nyari siapa anak manis?”. “Caesar Oom...”. Pria itu memandang ke dalam sebentar. “Biar kubangunkan, anak itu pulang pukul empat tadi pagi, Intership...sekarang pasti masih memeluk gulingnya, sebaiknya kau duduk dulu di beranda...”. “Ya oom...”, pria itu masuk ke dalam, Misha memutar tubuhnya dan menuju kursi di beranda. Diliriknya jam tangannya, pukul delapan pagi. Apa terlalu pagi ya?.
“Hallo...”, seraut wajah lesu layaknya orang baru bangun tidur membuat Misha merasa sedikit bersalah, membangunkan Caesar. Cowok manis yang wajahnya masih terlihat kekanakan itu duduk di depannya. Wah, siapa yang mengira kalau di balik wajah anak-anaknya, tersembunyi otak yang brilian, di usianya yang ke 21 dia sudah mendapat gelar dokter?. Sekilas Caesar bisa dikira masih SMU, apalagi tingginya hanya 170 cm dan tubuhnya...Misha merasa bisa menggendong tubuh Caesar dengan mudah. Kadang dia bertanya-tanya, benarkah makhluk di depannya itu seorang dokter?. Caesar menempuh SMP dan SMU dengan kelas unggulan, jadi usia 16 dia sudah lulus SMU, masuk ke fakultas kedokteran Southside termuda kedua setelah Erial Bramastha, yang berumur 15 tahun. Tapi saat cowok itu menunjukkan ijazah cum laudenya, Misha nyengir. “Iya deh...percaya...”, melihat wajah Caesar mengingatkan Misha pada tokoh Peter Pan, wajah anak-anak yang polos, mungkin selamanya akan seperti itu...Misha tak bisa membayangkan Caesar jadi dewasa. Innocent sejati!
“Gimana hasil pemeriksaanku...kau bawa tidak?”, cowok itu menggaruk rambutnya dan kembali tertidur di kursi! “Busyet! Oi, bangun...ini hidup mati orang, kamu malah molor...dok...kodok...”, Misha memandang bulu mata lentik pemuda itu tak bergerak. Dengan tak sabar ditendangnya kaki Caesar. “Bangun! Kamu ini dokter bukan sih?”. Cowok itu membuka mata dan nyengir. “Pasti! Cum laude pula...nggak kayak kamu, masa kuliah ekonomi aja tiga tahun nggak lulus? Malu-maluin bangsa dan negara aja...”. Misha nyengir, ingin rasanya dia jitak kepala bocah sok tua itu, mentang mentang pinter, dokter...cum laude pula...wah, menyebalkan.
Caesar masuk sebentar dan membawa selembar kertas. “Negatif mbak...”. “Apanya?”. “Kamu nggak hamil, oke? Jadi tenang sajalah...berarti aku nggak perlu bertanggung jawab padamu...”, Misha berdiri dan mengacungkan kepalan tangannya. “Tangan kanan masuk rumah sakit, tangan kiri masuk kuburan, pilih mana?”, cowok itu nyengir. “Ampun...aku dah 18 jam di rumah sakit...rasanya pusing kalau melihat rumah sakit, kalau kuburan aku nggak mau ke sana dulu...selama masih banyak orang sepertimu berkeliaran, aku belum tenang kalau mati...”. lalu dia duduk dan bersikap layaknya dokter mau memvonis mati pasiennya. “Gimana?”, tanya Misha harap-harap cemas. “Negatif...”. “Jangan becanda Sar...serius nih”. “Aku juga serius loh, kamu emang nggak kena kanker, diagnosamu keliru, tertukar sama pasien setelahmu...”. Misha nyengir lebar. “...nah...kan...”, Caesar mengangkat tangan. “Aku belum selesai bicara...jangan hepi dulu...”. Misha sudah terlanjur girang. “Ala...pokoknya aku nggak kena kanker ini...”. Caesar menghela nafas. “Memang benar, tapi paru-parumu itu kena flek, lumayan parah! Terkadang kau merasa sakit di dadamu kan, berani taruhan, kadang ludahmu ada darahnya...”. Misha memperbaiki posisi duduknya. “And then...”. “Kamu harus hati-hati, aku sudah buatkan makanan apa saja yang harus kau hindari, kamu harus ikut olahraga yang aku sarankan, hindari asap rokok, minum air putih paling sedikit delapan gelas sehari, kalau bisa dua gelas besar tiap habis bangun tidur”. Caesar mengambil sesuatu di sakunya. “Nih, daftar obat yang benar, tebus di apotek...and...ini...menu yang harus kamu hindari...”. Misha melotot. “Busyet, ini kan makanan kesukaanku semua, kamu mau bunuh aku pelan-pelan?”. Ganti Caesar yang melotot. “Justru makanan itu yang akan membunuhmu pelan-pelan, bego! Dan...untuk sementara ikut aja fitness center di kampusmu daripada kumpul-kumpul ama temen berandalanmu yang penggemar berat rokok itu”.
Mereka berbincang-bincang lumayan lama. Karena Caesar dokter, Misha jadi banyak bertanya, Evan kan juga calon dokter, Misha pengen tahu seperti apa kehidupan seorang dokter itu. “Enak ya, kerja di rumah sakit, cuma memeriksa pasien trus dapat duit banyak...”. Caesar berdecak kesal. “Eh...enak banget ngomong gitu...delapan belas jam tahu...dari pukul sembilan pagi sampai tiga pagi keesokan harinya, rasanya mau mampus, lagi istirahat sebentar...”STAT dokter Caesar...ruang 201”, busyet, memangnya aku ini bola, di ping-pong kesana kemari, kau tahu sendiri lah, Southside International Hospital gedenya kayak apa...rasanya mau pecah kepalaku... “, lalu cowok itu asyik ngomel. “Belum lagi pasien kamar 409. gila! Kakek tua itu bisa-bisanya pengen lihat ijazahku, dikiranya aku anak SMU nyasar yang masuk ruangannya!”, Misha terbahak, emang orang ini nggak nyadar betapa imutnya dia? Wajahnya memang kayak anak SMU sih. “Eh, ngomong-ngomong bapak kostmu baru kelihatan...emang selama ini dia di mana sih?”. “Afghanistan...”. Misha mengernyit. “Eh?”. Caesar memandang Misha. “Eh, once...kamu nggak pernah perhatikan itu ya?”, Misha melihat arah yang ditunjuk Caesar. Sebuah papan nama kecil yang hampir tertutup daun serumpun bambu jepang di sampingnya. “Apa itu...”. “Ntar kalau kau keluar dari sini, bacalah...”. “Aku nggak ngerti”. Caesar mengerdikkan bahu. “Yah...oom Pandu itu dokter, tapi bukan dokter biasa, dia anggota Mer-C. Tugasnya di daerah bencana atau daerah perang, dia juga anggota palang merah internasional dan WHO, sering pergi ke daerah berbahaya gitu deh...makanya kamu jangan mikir kalau jadi dokter tuh enak...kalau dokter beneran kayak oom Pandu itu...wuih! Keren abis...”. “Makanya nggak ada yang mau jadi istrinya...”, cibir Misha. Caesar terbelalak. “Oi...kalau nggak tahu apa-apa jangan ngomong sembarangan ya...”.
“Banyak lho yang naksir Oom Pandu...konon dia dulu cowok paling cakep di fakultas kedokteran Southside...cie...berarti satu almamater denganku ya...”. “Berhentilah memuji diri sendiri...terusin ceritamu”. “Ih, emang ya...cewek tuh, kalau soal gosip ginian langsung tertarik”. “Yeee, ini bukan gosip, tapi kisah nyata...ceritain dong, kau kan tahu aku kadang nulis cerpen...siapa tahu dapet ide dari ceritamu itu”. Caesar menggaruk kepalanya. “Ya, aku sih nggak tahu bener enggaknya ya...tapi kalau kulihat foto-foto Oom Pandu...tuh di ruang tamu...dia emang cakep banget waktu muda, aku yang cowok aja mengakui...padahal aku ini juga cakep...”. “Narsis”. “Dikit, hehe...ah, pokoknya Oom Pandu itu pinter gitu...sebenarnya dia bisa jadi dosen lho, tapi dia lebih memilih jalur kemanusiaan, sejak lulus dia selalu tugas luar, aku pernah lihat foto-fotonya, menjelajah rimba ataupun padang pasir...wuih...kayak dr.Tenma! Paul Farmer gabung ama Robinson Curse...nggak hanya pasien yang dia hadapi, tapi tentara dan teroris, kadang terpaksa jadi negosiator, aku sendiri salut...dia tuh nggak hanya menyelamatkan jiwa orang lain, tapi mampu mempertaruhkan jiwanya sendiri demi orang lain”. “Wow, keren juga, terus kisah cintanya kayak gimana”. Caesar angkat bahu. “Entahlah...bukan urusanku”. Misha cemberut. “Ih...bohong...tadi kamu bilang kan banyak cewek yang suka sama dia, tapi kenapa dia memilih nggak nikah?”. “Bukan urusanku...”. “Saaar! Please, jangan bikin aku penasaran”. Cowok itu tertawa melihat wajah Misha yang tertekuk. “Idiiih...jangan-jangan kamu naksir Oom Pandu ya...cie...ternyata seleramu Oom-oom nih, pantesan, meski selama ini gaul sama Bram, Khrisna, Indra...dan banyak cowok cakep lain, nggak ada yang nyantol di hati kamu...kukira kamu lines lho, ternyata...seleramu...haha...”. Misha ingin sekali memukul hidung mancung makhluk di depannya. “Kisah cintaku bukan urusanmu”. “Kisah cinta oom Pandu juga bukan urusanmu”. Misha menghela nafas, Caesar nggak pernah bicara berbelit-belit gini, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Romanus Caesare Denovan...kalau nggak mau hidungmu patah, lebih baik kau cerita...”, Misha mengepalkan tangannya. “Nggak mau...kecuali upah cerpenmu kau bagi dua denganku”. Misha berpikir sejenak. “Seperempat...”. “Setengah..titik!”. “Baiklah...”. cowok itu menerawang dan menyandarkan bahunya di kursi. “Oom Pandu itu yatim-piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan waktu dia berumur lima tahun, di rumah ini dia tinggal dengan neneknya, untung ayah dan ibu Oom Pandu memiliki harta yang cukup banyak untuk menghidupi mereka berdua, ditambah lagi Oom Pandu juga pintar, jadi nggak susah baginya untuk masuk ke Fakultas kedokteran. Waktu dia semester pertama, neneknya meninggal, dia hidup sendirian, tapi karena temannya banyak, dia nggak kesepian, apalagi ada pak Imron, itu...tukang kebun merangkap penjaga rumah ini”. “Yang orangnya agak gemuk dan pakai topi jerami itu?”. “He eh...”. “Terusin ceritamu”. “Nah, waktu semester empat...yah, pokoknya waktu dia masih kuliah gitu, dia deket sama seorang cewek, kuliahnya di tempatmu”. “EC?”. “Iya...di EC, gadis manis itu sangat mencintai oom Pandu, tapi Oom Pandu belum bisa menerima perasaan siapapun, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menamatkan studynya secepat mungkin, apalagi harta orangtuanya semakin berkurang untuk kuliah dan hidupnya sehari-hari, bisa dibilang masa depannya masih belum tentu, sementara gadis yang menyukainya anak orang kaya, klise banget yah...”. “Mungkin, kayak cerita di novel aja”. “Gadis itu akhirnya mengutarakan perasaannya, tapi Oom Pandu menolaknya halus, meski begitu, si gadis bersikeras menunggu oom Pandu, wah, coba aku jadi Oom Pandu, udah kupacarin gadis cantik kayak gitu”. “Eh, kok kamu tahu dia cantik?”. “Ada tuh fotonya di meja kerja oom Pandu, waktu aku pinjem komputernya karena laptopku kena virus, aku pernah masuk kamar kerjanya, aku sih hanya menebak, tapi foto berwarna Sephia itu tampaknya spesial, terpajang di meja kerjanya...pasti gadis itu yang pernah diceritakan oom Pandu...saat kuperiksa, di balik bingkai memang ada sebait puisi. “Aku mencintaimu seperti aku mencintai surga...akan kulakukan apapun untuk menuju ke sana, aku yakin kau berada di sana, menungguku...Layla”. Misha mengernyit. “Layla? Surga? Gadis itu sudah mati?”. Caesar mendesis. “Ssh...ntar dulu, ceritanya belum selesai nih...”. “Iya, aku dengarkan”.
“Waktu Oom Pandu mau meneruskan kuliah ke Jerman karena dapat beasiswa, gadis itu meminta oom Pandu menemuinya di stasiun Southside sebelum Oom Pandu menuju Westside, waktu itu kan bandaranya baru ada di Westside...nggak disangka, sebuah mobil menabraknya, Layla terluka parah dan dibawa ke SIH”. “Astaga...jadi dia mati karena ketabrak mobil?”. Caesar berdecak kesal. “Nih anak...jangan memotong cerita orang ya...kamu tuh suka ambil kesimpulan sendiri deh, sok jadi Sherlock Holmes aja...”. “Emang aku kayak Sherlock Holmes kok...”. “Mau diem atau kuhentikan ceritaku?”. “Diem...”. Caesar tersenyum. “Nah, dengarkan ya...Layla nggak meninggal, tapi...kedua kakinya harus diamputasi...lukanya sangat parah...”. Misha menggigit bibirnya. Oom Pandu segera ke rumah sakit itu saat tahu Layla dirawat di sana, gadis itu terus bersikeras agar kakinya jangan diamputasi...dia tak ingin jadi cacat, tapi dokter tetap pada keputusannya, oom Pandu sebisa mungkin menghibur gadis itu dia bilang...”.
Misha seolah melihat sendiri adegan di salah satu ruangan rumah sakit terbesar di Southside itu, ruangan putih yang besar, tapi suasananya suram, banyak kesedihan telah terjadi di dalamnya, seorang pemuda tengah duduk di samping ranjang putih rumah sakit, tangannya memegang jemari gadis yang sedang menangis di ranjang. “Dengan, atau tanpa kakimu itu, Layla, aku mencintaimu...aku selalu mencintaimu, karena yang kucintai bukan tubuhmu, tapi hatimu”. Gadis itu semakin terisak. “Jangan menghiburku, Pandu...aku nggak butuh belas kasihanmu, aku...aku tahu kau tak menyukaiku”. “Siapa bilang...aku mencintaimu, apa yang harus kuberikan, kubuktikan padamu supaya kau percaya?”. “Tapi, selama ini kau selalu menghindariku, menjauhiku, aku seperti bayangan gelap yang mengejarmu, Pandu...kau pria yang baik, meskipun kata-katamu bohong untuk menghiburku, kau tetaplah Pandu yang baik...”, gadis itu mengusap airmatanya dan mencoba tersenyum. “Terimakasih kau menghiburku...sekarang, pergilah, kau harus bersiap ke Jerman,bukan?”. “Layla...”. “Pergilah Pandu, kini aku baru menyadari, mungkin inilah cinta, selama ini aku selalu egois, memaksa, semua yang kuinginkan harus menjadi milikku, tapi, ah, ternyata yang namanya cinta itu...seperti ini...”. dipandangnya Pandu dengan lembut. “Aku ingin kamu bahagia lebih dari aku ingin memilikimu...”, Pandu tak mampu berkata-kata lagi, dipeluknya gadis itu erat-erat. “Kau salah...aku menghindarimu karena aku menahan diriku, aku menyukaimu, sangat, kalau tak kau ganggu aku sehari saja, rasanya ada yang kurang, tapi aku harus belajar dan menyelesaikan studyku, aku harus jadi dokter, Layla, sementara uang orangtuaku mulai menipis, aku tak mau mengulang satu mata kuliahpun sebisa mungkin...karena itu aku berpikir pacaran dengan orang sepertiku, yang tak punya uang lebih bahkan untuk mentraktirmu semangkuk bakso, hanya akan mengesalkanmu saja...jadi, aku belajar, dan berusaha, kalau aku sudah jadi dokter dan punya banyak uang, aku baru bisa menjadi bagian dari keluargamu”. Layla tercekat. “Kau ini bodoh...aku nggak pernah berpikir seperti itu...senyumanmu saja sudah cukup...lebih berharga dari emas batangan sekalipun...”, Layla terisak. “Nah, sebaiknya kau setujui saran dokter...nyawamu dalam bahaya kalau kau terus seperti ini...”.
Kaki Layla akhirnya diamputasi, selama beberapa minggu Pandu merawatnya. Menghabiskan minggu-minggu terakhirnya sebelum dia menuju Jerman. Layla jadi tahu, betapa pemuda itu sangat menyayanginya, mengasihinya, dia jadi merasa bersalah. Saat Pandu pergi ke Jerman, Layla tersenyum. “Semoga berhasil, aku mencintaimu”. “Aku juga...”, Pandu memeluk Layla dan pergi, tanpa menyadari itu terakhir kalinya ia bisa bertemu Layla. Setelah kepergian Pandu, Layla diberitahu dokter, infeksi sudah menyebar, amputasi di kakinya tak bisa mencegah infeksi yang terlanjur menyebar di tubuhnya. Gadis itu selama berminggu-minggu membuat surat-surat yang secara berkala terkirim ke Jerman, meminta sepupunya menggantikan dia membalas surat-surat Pandu.
Beberapa tahun kemudian, saat Pandu pulang ke Southside dan berharap bertemu Layla, di stasiun dia hanya bertemu sepupu Layla yang bernama Sandra. Sandra menceritakan, setelah setahun kepergian Pandu, Layla tak bisa bertahan karena infeksi sudah mencapai jantungnya. Gadis itu meninggal dan menitipkan Diarynya untuk Pandu. Pemuda itu terisak di makam Layla dan membaca baris demi baris kalimat yang dituliskan kekasihnya itu. “Terimakasih Pandu, kau menemaniku saat berada di rumah sakit, aku sangat bahagia, sepertinya aku hanya bermimpi saat kau bercerita dan tertawa bersamaku. Tapi, aku sadar, aku harus pergi, selamat tinggal kekasihku, temukanlah kebahagiaanmu...cintamu...aku harus pergi meski aku tak ingin, tapi aku membawa sebentuk cinta yang kau berikan kepadaku, aku akan membawanya, Pandu, cinta yang ada di hatiku, selamanya milikmu, aku tahu, suatu hari nanti kau akan menjadi dokter yang berdedikasi dan handal, dokter terbaik yang dimiliki Southside...bantulah orang sebanyak mungkin, karena dengan itu kau bisa memiliki banyak pahala, hehe, dan dengan pahala yang kau kumpulkan siapa tahu kita bisa bertemu di surga, ya, semoga Tuhan bersedia menampungku di Surga...meskipun dosaku sangat banyak...aku selalu mengganggumu, kau ingat? Maafkan atas semua kesalahanku, Pandu...maafkan aku karena aku mencintaimu”.
Sandra menghibur Pandu. “Ikhlaskan dia, Pandu”. Sandra jadi paham, kenapa Layla sangat mencintai pemuda di depannya itu, selain sangat tampan, sorot matanya lembut. Saat menjemput di stasiun tadi, dia tak mengira yang bernama Pandu Harjuna ternyata sangat tampan, seperti Arjuna saja, selama dia menggantikan Layla membalas surat-surat Pandu, dia jadi merasa dekat dengan Pandu, mengetahui betapa lembutnya hati cowok itu. hanya dengan surat-surat dan bahasanya saja, Sandra bisa jatuh cinta padanya.
Beberapa bulan kemudian Sandra berani menyatakan perasaannya pada Pandu, tapi pemuda itu menolak dengan halus, seperti dia menolak gadis-gadis lainnya di kemudian hari, satu-satunya keinginannya sekarang adalah menjadi dokter sebaik mungkin, menjelajah dunia, tapi kemanapun dia pergi, Layla seolah menemaninya, menghiburnya...saat dia terluka parah di Sukkur, perbatasan Pakistan, gadis itu hadir dalam mimpinya, membuatnya bertahan. “Masih banyak hal yang harus kau lakukan, Pandu, jangan menyerah dulu...bertahanlah...”, gadis itu meraih kepala Pandu dan menyandarkan di pangkuannya. Mengelus helai rambut pemuda itu. “Bertahanlah...”.
---
Misha tak menyadari airmatanya mengalir di kedua pipinya, Caesar hanya melongo memandangnya. Ternyata Misha bisa nangis juga? Waktu dia jatuh dari tangga kostnya dan terpaksa di bawa ke rumah sakit, Misha tidak menangis, padahal tulang kakinya retak, waktu terjebak tawuran di jalan Middletown dan tangannya tergores kawat, gadis itu hanya menggerutu saat Caesar membalut lengannya yang luka cukup dalam, sampai-sampai Caesar bertanya-tanya, apa Misha pernah menangis? Tubuh cewek itu seolah terbuat dari mesin. Kayak robot. Sekarang, saat dilihatnya Misha menangis, cowok itu hanya bisa memandang, lagian kalau berani mengusap air mata di pipi Misha, bisa-bisa dia yang nantinya menangis karena Misha bisa saja memukulinya. “Cep...cep...jangan nangis...ceritanya emang sedih, tapi duapuluh tahun udah lewat neng, nggak ada yang bisa disesali ataupun ditangisi lagi”. Misha menyeka airmatanya dan mengelap ingusnya. “Ih jorok...”, komentar Caesar. “Masa anak cewek gak punya tissue atau sapu tangan?”. Misha hanya diam.
Misha melipat hasil pemeriksaannya dan memasukannya ke dalam tas. “Ya udah, aku pergi dulu ya, kamu silahkan meneruskan tidurmu...”, Caesar berdiri. “Emang udah jam berapa?”. “Masih jam sebelas kok, tolong pamitkan sama oom Pandu ya...”. Caesar keburu menuju pintu dan berteriak ke lantai dua. “Oom, temenku mau pamitan nih...”. Misha kaget. “Eh, kok malah panggil dia sih?”. Caesar hanya tersenyum misterius. Tak lama dilihatnya oom Pandu berjalan dari dalam. Misha tersenyum kikuk. “Pamit dulu oom, terimakasih sudah manggilin Caesar tadi...”. Pria itu malah memandang Misha sambil mengernyit. “Kamu habis nangis? Diapain Caesar?”. Tangan pria itu terulur dan menyentuh pipi Misha, sebentar, tapi cukup membuat Misha kaget. Pria itupun cepat menarik tangannya kembali, seperti ada aliran listrik yang menyengatnya, menyadarkannya. “Kamu kuliah di mana?”, tanya Pandu. “EC...semester tujuh...”, kata Misha lalu dia memandang Caesar. “Udah ya...dadah Caesar...aku mau ke apotek dulu..bye!”. lalu tersenyum pada Pandu dan meneruskan langkahnya keluar. Membawa sebuah kisah yang akan dia tuliskan. Kisah Pandu dan Layla. Misha menghela nafas. Sepertinya kisah itu begitu lekat, begitu nyata tergambar dalam benaknya seolah dia sendiri yang mengalaminya. Misha mengira-ira, mungkin kesedihan karena kehilangan Layla yang membuat pria itu berani menghadapi setiap kondisi dan dengan ikhlas mempertaruhkan jiwa raganya demi kemanusiaan, Pandu jadi tidak takut mati, seolah dia sudah bersiap untuk mati dan bertemu Layla. Misha tersenyum. “Mungkin begitu ya...cinta sejati itu memang tak harus memiliki...tapi tetap saja terasa berat...”.
“Pacarmu manis...”, kata Pandu pada Caesar. Cowok itu tertawa. “Eh...dia temenku kok, ih, amit-amit punya pacar kayak dia...”. “Lho?”. “Dia bukan cewek Oom, tomboinya itu lho, sering kok dia luka gara-gara berantem sama cowok, pokoknya Misha itu enggak cewek, tapi juga bukan cowok”. “Oh ya? Tapi wajahnya itu...aku jadi ingat seseorang...”. Caesar menghela nafas. “Misha...mirip Layla kan Oom?”. Pandu tersenyum sedih. “Sangat mirip, saat aku membuka tirai dan melihat wajahnya dari balik jendela tadi...kupikir ada malaikat yang mampir ke rumahku, kupikir Layla yang datang...tapi saat kulihat gadis itu mengenakan jacket army...”. “Dia jadi mirip berandalan, haha...seandainya Misha mau memakai gaun atau rok, Oom pasti udah nangis di depannya”. Pandu tertawa lalu menepuk bahu Caesar. “Bisa saja kau ini, ngomong-ngomong, sarapan sudah siap tuh...”. “Yeah...nasi goreng ala Pakistan?”. “Yup’s”.
---
Evan memandang sekumpulan bunga Lonceng Desember, namanya Lonceng Desember, tapi sampai Februarypun masih tetap mekar, entah kenapa bunga itu mengingatkannya akan Misha. Oh ya...di halaman depan rumah Misha kan ada bunga itu...Evan jadi nyengir kalau mengingat Misha, semangatnya yang meledak-ledak, cita-citanya yang pengen jadi wartawan perang, wah! Evan jadi tertawa, padahal Misha kan takut banget sama cicak...kadal...gimana mau jadi wartawan perang dan meliput ke Afghanistan?. “Hoi...kayak orang gila aja, ketawa sendiri...”, seorang cowok menjajari duduk Evan. “Lagi ingat sesuatu yang lucu aja...”, kata Evan. Thomas mengusap peluhnya dengan handuk kecil yang melilit di lehernya. Hari Minggu kayak gini biasanya anak-anak asrama cowok Westside menggunakan waktunya untuk olahraga atau sekedar jogging di sekitar Central Park, menyusuri taman di Westside Park dekat kantor gubernur dan menikmati roti bakar plus susu hangat di pagi hari. Thomas tentu saja punya agenda lain: ngelirik cewek-cewek dengan baju olahraga seksi...wuih, surga dunia deh, banyak cewek asyik jogging juga. Mata Thomas berkeliaran. “Wuih, cakep ‘kali tuh...yang pakai celana pendek merah...’that’s hot’...wow...”. Evan tak menghiraukan ocehan Thomas, cowok itu malah asyik bersandar di bangku taman dan mendengarkan alunan lagu lewat I-Podnya, lagu ini dikasih Misha. Anak itu suka banget lagu-lagu Jepang. Broken Wings-Trinity Blood, First Love dan Exodus Utada Hikaru, 081512, Dear-Laruku, DAI dan BOA...meski Evan mulanya nggak terlalu suka, tapi lama-lama dia menikmati musik itu, meski nggak terlalu paham bahasanya, tapi dia merasa asyik saja mendengarkannya. “Pendapat itu kan beragam, tapi sebaiknya bikinlah pendapat yang enak di dengar, seperti musik...”, kata Misha saat Evan bertanya apa dia paham arti lagu jepang itu. “Yang penting aku suka ngedengernya...kalau musik itu kan bahasa universal Van, nggak tahu arti lagunya, kalau dihayati kita bisa tahu, apa maksud pencipta lagunya hanya dari musiknya, hehe, itu menurutku sih”.
“Bangun oy, mau tidur di situ sampai kapan?”, Thomas mengguncang bahu Evan. Cowok jangkung itu membuka mata dan memandang Thomas. “Sudah pukul berapa?”, cowok berambut ikal itu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sembilan...memangnya kenapa?”. “Mau ke Warnet...”, kata Evan. “Ngapain? Nggak ada tugas, bukan?”. “Mo kirim email kok”. Thomas memandang kepergian Evan sambil mengernyit. “Oi, ikut dong...”. “Cepatlah...ntar siang kita ada praktikum pengganti hari Rabu kemarin, kan?”. “Oh, iya...”. mereka menuju tempat parkir dan mengambil motor.
--
“Dasar kakek!”, Misha menggerutu membaca email Evan. Sejak dulu, bahasa cowok itu selalu resmi, kaku, santun, dan seperti kepribadiannya, cowok itu kalau nulis email selalu singkat. To the point tanpa basa-basi, kalau Misha sih bisa berlembar-lembar, enggak perduli mau dibaca Evan atau tidak, dia selalu menuliskan apa yang dia rasakan, lain dengan Evan yang terkesan hati-hati dalam setiap emailnya. “Ass...halo Misha...gimana kabarmu, aku harap kamu sehat-sehat saja”, kalau ini bukan email Evan sudah diacuhkan Misha dari tadi. “Kayak anak SD saja nih kakek kalau nulis email”, lalu diteruskannya membaca. “Aku sedang sibuk praktikum nih, jadi maaf ya kalau udah lama gak bales email kamu”. Misha mendesah. “Sibuk sih sibuk, tapi paling tidak, SMS kek...Miss call kek...dasar kakek!”. “Kapan-kapan aku main lagi ke Southside...aku juga kengen sama kamu hehe...”, Misha merasa hatinya berdebar. “Jangan GR Misha, kangennya Evan sama kamu tuh sebagai seorang teman...nggak lebih...”. gadis itu menghela nafas, melirik seorang cowok dua bangku di sebelah kanannya. Mahendra Putra Radjasa. Cowok cool berkacamata yang mengingatkannya akan Evan itu beberapa minggu lalu pernah mengutarakan perasaannya pada Misha. Menyukai Misha...menyayangi Misha. Tentu saja gadis itu kaget setengah mati, Hendra yang cool dan pandai, yang disukai banyak cewek di kelas, tiap Hendra masuk, cewek-cewek langsung berbisik mengaguminya, gimana bisa Hendra naksir Misha?. Yang terkenal serampangan dan berandalan di EC?. “Diam-diam aku selalu memperhatikanmu, melihatmu bicara...kamu seperti virus yang membuatku tak berdaya...”, kata-kata puitis, romantis, semua cewek pasti klepek-klepek dibilangin seperti itu, apalagi oleh seorang Hendra!. Tapi Misha malah tertawa terbahak-bahak. “Ngaco kamu...kacamata kamu itu mesti dilepas deh...jangan-jangan kamu salah lihat orang Ndra, aku ini...lihatlah, nggak ada manis-manisnya...”. “Menurutku kamu cantik, baik, lembut...”. Misha hampir meloncat dari lantai tiga. “Cantik? Lembut? Dilihat dari mana? Sedotan?’, batin Misha geli. Orang di sekeliling mereka aja tahu, siapa cewek yang sering berantem dan mukuli orang di EC. Teman-teman Misha aja berandalan semua, kalau Hendra bilang dia cantik,lembut, cinta benar-benar telah membutakan tak hanya matanya, tapi hatinya. Misha dengan halus menolak cinta Mahendra. “Terus terang Ndra, aku sendiri kagum sama kamu, kamu tuh pandai, alim, pantang menyerah dan udah jadi bisnismen di usia semuda ini, tapi...aku sama sekali bukan orang yang tepat untuk kamu”. “Kenapa?”. “Yah, banyak faktor...”, Misha mengarang alasan. “Dan lagi, di agama kita kan pacaran itu haram, ya nggak?”. Hendra menghela nafas. “Satu pertanyaan Misha, aku ingin kau menjawabnya...’Kenapa Allah menciptakan cinta kalau kita nggak boleh pacaran’...bisakah kau menjawabnya?”. Misha mengerdikkan bahu. “Kalau aku bertemu denganNya...akan kusampaikan pertanyaanmu itu”.
Pertanyaan itulah yang ingin Misha tanyakan balik pada Evan, sebenarnya dia pernah SMS pertanyaan Hendra itu ke Evan, tapi cowok itu mem-pending jawaban pertanyaannya. Misha segera meninggalkan Pusat komputer begitu selesai menulis emailnya. Hendra memandangi kepergian Misha, sejak tadi diam-diam dia memperhatikan Misha, hanya dengan seperti itu saja hatinya merasa lega, melihat gadis yang disukainya, memandangnya dari jauh, sudah cukup membuatnya bahagia. Aih Misha, tapi kulihat sesuatu mengganjal di hatimu, apa karena cowok mu itu? seperti apakah dia? Kata temen-temenmu, cowok itu agak mirip denganku? Benarkah demikian?
Cinta, begitu rumitkah cinta itu? Misha hanya ingin mencintai Evan, Hendra hanya ingin mencintai Misha...cinta siapakah yang akan menang, padahal dalam cinta seharusnya tak ada kemenangan dan kekalahan. Mahendra..kenapa aku tak jatuh cinta padamu saja? Kenapa aku tak bisa berpaling dari Evan? Padahal kau cowok yang baik, sangat baik malah, mungkin kau malah mencintaiku lebih dari Evan, tapi kenapa aku tetap tak bisa menerimamu di hatiku? Misha menghela nafas dan memandang bangunan putih kampusnya. “Tuhan...aku tahu, Kau memberikan yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan...tapi, izinkan aku bermimpi dan berharap, meski esok terjaga”.
Misha mengendap-endap, seperti dulu, kalau mau iseng sama Caesar dia diam-diam menuju jendela kamar cowok itu dan mengagetkannya kalau lagi tidur. Sedan civic putih Cesar terparkir di depan, jadi si tukang tidur itu pasti lagi molor, atau kalau tidak terkantuk di meja belajar, seperti dulu, Misha jadi geli,saat cowok itu setengah ngantuk menghafal anatomi di meja belajarnya, Misha tiba-tiba muncul dari jendela dan mengagetkan Caesar yang setengah ngantuk berpangku tangan di meja belajarnya, otomatis cowok itu berteriak dan menyebut semua bagian pencernaan manusia. Busyet! Misha tertawa puas dan Caesar menghadiahinya lemparan buku catatannya yang langsung kena dahi! Untung cowok itu nggak melempar kamus kedokterannya yang beratnya hampir tiga kilo, bisa kayak Lou Han jidat Misha!. “Becanda bro!”, Caesar cuman manyun. “Kukira kuntilanak dari mana...”
Jendela kamar itu terbuka, nah...cowok itu memang suka angin sore membuai tidurnya. Semoga dia emang lagi molor...Misha menyesal tadi di jalan tidak membeli petasan, kan asyik tuh, diledakin di kamar Caesar...hehe. sekilas tadi dilihatnya kepala cowok itu terkulai di meja belajar...kesempatan bagus nih...Misha mengendap dan berteriak. “Hoiii! Bangun dodol!”, kali ini tak hanya orang itu yang kaget, Misha juga. Ternyata yang tertidur di meja belajar adalah Pandu, bukan Caesar. Misha cengar-cengir. “:Sorry oom...saya kira si Caesar...hehehe...”. Pandu masih termangu, kagetnya memang sudah hilang, tapi dia jadi teringat sebuah kenangan yang tak terlupakan...Layla dulu juga sering mengagetkannya seperti itu, menggodanya, mengganggu belajarnya, mengajaknya bermain...sekilas tadi sepertinya peristiwa itu terulang lagi. Pandu memandang gadis di bawah jendela kamar itu. Mirip sekali dengan Layla. “Oom?”, Misha melambai, apakah Pandu terlalu kaget sehingga melamun seperti itu. “Eh, Misha ya...kok kamu di situ?”. Gadis itu tertawa. “Biasa deh oom, kalau lagi iseng sama Caesar, tuh anak ke mana ya oom? Misha kaget, tadi kirain Caesar, kok Oom yang di kamarnya Caesar?”. Pandu menghela nafas. “Oh, Caesar sedang membuat laporan di ruang kerja oom, laptopnya sedang rusak, sementara oom juga butuh tempat untuk memeriksa beberapa surat...lampu di kamar Oom mati, dan hanya kamar ini yang terang karena jendelanya menghadap ke barat, oom pinjam kamar Caesar, ketiduran dan kamu kagetin...”. “Maaf deh oom...ya udah, kalau Caesar masih sibuk, Misha pamit dulu...”. “Eh? Nggak ketemu Caesar dulu?”. “Nggak lah, kasihan dia...sibuk, Misha takut gangguin”. Pandu memandang Misha dan tersenyum. “Kamu dah makan?”. “Belum...”. “Kita masak yuk, sambil nunggu Caesar, gimana?”. Misha yang jatuh hati setengah mati dengan kata ‘makan’ langsung setuju, hore...makan...gratis...pikirnya polos.
Misha masuk melalui pintu depan yang dibukakan Pandu. “Mau masak apa nih Oom?”, tanya Misha. “Ada deh...kesukaan Caesar...”. “Dia sih apa-apa suka...asalkan nggak banyak lemaknya, dia kan ngejaga banget bodynya yang kayak sapu ijuk itu...padahal kalau mau gemuk dikit pasti cakep”. Misha baru masuk ke rumah itu, melihat-lihat ruang di dalamnya dengan takjub, tertata rapi dan kelihatannya familier, yang memasuki rumah ini pasti merasa nyaman, banyak foto terpasang di ruang tamu, mereka menuju ke lantai dua. “Kok dapurnya di atas?”. “Begitulah sejak dulu...yang merancang rumah ini ayahku...dia dokter juga, tapi sedikit mempelajari ilmu bangunan...”. Misha mengikuti langkah Pandu. Mereka tiba di dapur yang nyaman dan bersih, nggak kayak tempat hunian bujangan, Pandu ternyata pria yang sangat memperhatikan kebersihan, apa karena dia dokter?. “Kok sepi Oom, anak-anak yang lain kemana?”. “Andi dan Syarief kan sudah lulus, mereka Intershipnya tidak di sini, jadi tinggal Caesar sama Oom”. “Oh iya juga...”.
Gadis itu memakai celemek yang diberikan Pandu. Warnanya hitam, khas cowok. Terdengar lagu I will survive nya Cake dari arah lorong. Pasti Caesar, ngerjain laporannya sambil ngedengerin MP3. Misha membantu Pandu menumbuk bumbu yang sudah disiapkan pria itu di ulekan. “Yang halus ya...”. “Oke Oom, kalau masalah mukul memukul sih aku ahlinya, hehe”. Pria itu tertawa. “Berapa orang yang sudah kau pukul? Kata Caesar kau pegang track recordnya”. “Gitu deh...”. “Kamu tomboi ya?”. Misha tertawa. “Gimana nggak tomboi? Kakakku dua, kembar, lelaki semua, adikku juga lelaki, ayahku kayak bos gengster gitu deh, padahal pekerjaan aslinya pegawai negeri, dari SD temanku cowok semuanya, di Doujo Karate-Do juga temanku anak-anak cowok, wah, jadi gini deh”. Mereka tertawa bareng. “Oom..”. “Ya?”. “Di Afghan tuh rasanya gimana sih...”. “Apanya?”. “Ya semuanya...keadaannya, perangnya, Oom masa’ nggak takut ke sana?”. Pandu menyalakan kompor dan meraih wajan di dinding. “Takut? Nggak ada yang Oom takutkan di dunia ini kecuali Tuhan, kau pun harus demikian, Misha”. “Emang sih, tapi di sana kan bahaya oom, banyak tentara, keadaan perang...nggak takut kena peluru nyasar?”. Pandu menuangkan minyak dan mengaduknya pelan. “Takut sih enggak, yah, mungkin sedikit, itu wajar, apalagi kita berada di daerah asing, beda banget sama negara kita yang beriklim tropis, di sana panas banget dan bahasanya agak sulit dimengerti, oom juga pernah terluka, tapi, demi tugas...semua harus dihadapi kan?”. Misha meletakkan bumbu di dekat Pandu. “Mirip ya...”. “Eh?”. Misha memandang Pandu sambil tersenyum. “Oom mirip dengan seseorang yang kukenal...dia...pemberani, pantang menyerah dan punya cita-cita kemanusiaan yang tinggi, mungkin kelak dia juga menjadi dokter bedah yang andal di Mer-C. Aku nggak kaget kalau dia jadi anggota Mer-C”. Pandu memandang Misha sekilas lalu meneruskan pekerjaannya, menggoreng bumbu yang ditumbuk Misha. “Aih Misha...kau juga mirip seseorang”, batinnya pilu. Seseorang yang membuatnya memilih kehidupan seperti ini, sendiri, tapi Pandu merasa senang. Karena baginya, kenangan akan Layla takkan pernah mati. Tidak akan!. “Kalau dia dewasa nanti pasti mirip sama Oom”, kata Misha lagi. “Benarkah?”.
“Baunya enak...”, kata Misha sambil melirik ke wajan. “Ambilkan nasi di meja itu Misha...”. Misha mengambil apa yang ditunjuk Pandu. dengan lihai pria itu menggoreng nasi dan mengaduknya. “Bau kare...”. “Semua makanan di Pakistan memang beraroma demikian, semuanya pakai bumbu kare”, kata Pandu sambil menunjuk sebotol bumbu kare di dekatnya. “Pakistan? Oom juga pernah ke sana?”. “Misi terakhir kemarin...dan...”, katanya sambil memandang Misha sekilas. “Secret! Jangan bertanya lagi, nona manis!”. Tiba-tiba Caesar muncul dari lorong, dia kaget melihat Misha bersama Pandu. “Ngapain kamu?”. Misha nyengir. “Diajak makan gratis sama oom Pandu nih...kamu kan tahu...”,Caesar menepuk jidatnya. “Oh Tuhan...kamu emang nggak berubah ya, kalau dipancing dengan makanan, langsung menyambar umpan, dasar! Perut karung”. “Biarin...”. mereka asyik bertengkar dan mengejek. “Hoi, sudah matang nih...”, kata Pandu sambil melerai kedua anak itu dan memasukkan nasi goreng ke mangkuk besar. “Sar, ambil piring...dan kau Misha...bawa mangkuk ini ke meja makan...”.
Mereka bertiga makan dengan nikmat, apalagi Misha. “Sering-sering deh oom, masakan oom enak deh...”, kata Misha. “Nggak tahu malu...kalau makan gratis aja...langsung deh...”, ejek Caesar. “Habis uang sakuku pas-pasan, sekarang aku kan udah tobat malak orang, kalau sering gini kan aku tertolong”, Pandu tertawa melihat wajah Misha yang cemberut, ah, miripnya...kalau Layla merajuk, wajahnya seperti itu...Pandu mengalihkan pandangannya, dadanya terasa sesak.
Devil and Angel (Part III)
Southside University 2004-2007(Bram Memories)
“Tumben mampir”, cowok berkacamata hitam itu memandang layar komputernya tak berkedip, meski begitu, sekilas tadi dia tahu siapa yang masuk ke tokonya. Misha nyengir. “Sok Cool banget sih kau, eh, anak-anak mana?”. Bram berdiri dan memutari meja kerjanya. “Lagi main ke pantai, jadi tinggal aku sendirian jaga toko”. Misha mengikuti langkah Bram. “Gimana, pesenanku, ada nggak?”. Cowok itu mengangsurkan sebuah kotak kecil pada Misha. “Nih...”. Misha membukanya. TV Tunner. “Buat apa sih Sha?”. “Nonton TV dong, di kost ku nggak ada TV tau, betapa kesepiannya, padahal di rumah, uh, dari TV sampai player...game sampai internet semua ada...perasaanku di kost kayak ikan tanpa air...eh harganya seperti biasa kan?”. Bram mengangguk. “125, antenanya gratis deh...”. Misha tertawa. “Bagus!”. Toko elektronik kecil itu memang terkenal di kalangan anak-anak EC, barang di sana murah dan terjangkau, karena sebagian barangnya BM. Namanya juga mahasiswa, banyak yang mau bergaya tapi uang pas-pasan. Apalagi kalau sudah kenal deket sama Bram, bisa didiskon gede!. Cowok itu kuliah TI di Southside University. Dia pemilik toko ini yang dia namai “Blackside”. Anak-anak geng Misha selalu mengandalkan barang-barang dari toko ini. Kamera digital, ponsel, dan berbagai alat elektronik canggih lain tesedia di sana, kenapa harganya bisa murah? Hanya Bram yang tahu, tapi semua anak juga tahu, cowok ganteng berwajah angkuh itu juga seorang hacker handal. Entah apa yang membuatnya terjun di dunia maya dan menjadi hacker, padahal orangtuanya sangat kaya. Ayahnya salah satu direktur besar yang membawahi perusahaan telekomunikasi di kota ini. Tapi Bram seolah ingin terpisah dari nama besar ayahnya dan dia berusaha untuk hidup sendiri dengan membuka Blackside.
Misha belum pernah melihat cowok setampan Bram, gayanya seperti Clouds Final Fantasy, cool. Entah kenapa cowok itu sepertinya tidak hidup di dunia nyata, tapi seperti keluar dari sebuah game virtual. Misha pernah naksir Bram, tapi dalam artian naksir penampilannya dan gaya hidupnya yang cuek, cowok itu juga berbahaya, hacker! Suatu tantangan tersendiri, suatu kekaguman tersendiri bisa bicara dan mengobrol tentang rahasia dunia maya bersamanya, Misha sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan internet, beberapa trik dan rahasia kecil Bram ajarkan padanya, membuat Misha takjub, tapi dia tak ingin bertindak terlalu jauh. Kalau Bram sih posisinya kuat, nggak gampang memenjarakan cowok itu, ayahnya sangat berkuasa di kota ini, Bram pernah membuat kasus skala besar, tapi ayahnya entah dengan cara apa, bisa membuat Bram tetap bisa berlenggang bebas, tak tersentuh hukum, tapi sekarang tampaknya Bram agak bertobat, dia juga nggak lagi bersikap sinis dan angkuh seperti saat mereka kenal pertama kali. Keberadaan Blackside membuat Misha memiliki barang yang sebenarnya agak berat untuk dia beli: laptop, HP, Kamera digital dan MP4 mininya berasal dari toko ini, hampir semuanya dia beli dengan mendapat diskon gede, bahkan kamera digitalnya hanya setengah harga dari toko lain di luar sana. Hari minggu kayak gini toko tutup, hanya orang tertentu saja, yang kenal dengan Bram, bisa masuk melalui pintu belakang, karena hari minggu cowok itu melakukan pengecekan barang dan menghitung penghasilannya. Di hari biasa, toko itu penuh sesak, dari anak-anak yang hanya ingin melihat atau memang berniat membeli. Toko itu, meski kecil hampir semua barang ada di dalamnya. Di bawah tanah terdapat gudang barang. Misha nggak terlalu ngerti bisnis Bram legal atau tidak, sebagian memang legal, tapi, untuk orang secerdik Bram, tidak mustahil dia membeli barang dengan cara yang unik. Sering diartikan Black Market karena tak membayar pajak, tapi, tanpa pajak, harga barang memang hanya setengahnya saja. Cocok dengan kantong mahasiswa yang pas-pasan. Misha memasukkan tunner itu dan berpamitan. “Thanks Bram!”. “Yo’i!”.
Semua orang punya kisah cinta. Tapi kisah Bram cukup unik, seunik orangnya. Misha mendengarnya dari Leon, siapa lagi yang seneng ngegosip di kelompok mereka selain cowok berambut jabrik yang ujung-ujungnya dia cat perak itu. Bram adalah ketua BEM di kampusnya, selayaknya ketua BEM lain, dia juga mengurusi kalau mahasiswa melakukan demo dan sebagainya. Waktu menangani demo mahasiswa Southside yang memprotes pembangunan Mal besar-besaran yang membuat kota itu dan hampir menghapus banyak sisi tradisional yang menjadi khas kota itu, Bram berusaha sebaik mungkin menanganinya. Semula demo berjalan lancar sampai jam tiga sore, mereka hampir bubar. Tak disangka, ternyata demo itu disusupi pihak yang tak bertanggung jawab, terjadi kekacauan yang menyebabkan tentara terpaksa menggunakan kekerasan untuk mencegah pengrusakan yang dilakukan massa, karena kantor gubernur dijaga ketat, massa turun ke jalan, melempari apa saja, toko-toko di sepanjang Middletown, mengacau lalu lintas bahkan membakar beberapa mall besar di Middletown. Di tengan kekacauan itu, seseorang sempat menusuk perut Bram, tak tahu siapa lawan siapa kawan, banyak orang terluka, Bram terpaksa melarikan diri dengan lukanya itu, dia memasuki sebuah bangunan yang belum selesai dikerjakan, menunggu amukan massa reda di luar sana. Hujan rintik-rintik membasahi kota, seolah langit ikut prihatin dengan kebrutalan yang terjadi di sana.
Tiba-tiba seseorang masuk, Bram sudah pasrah, apakah dia akan mati dikeroyok atau apa, terserah, dia sudah tak bisa bergerak, tapi ternyata seorang gadis sebayanya berdiri di depannya, mengernyit melihat seorang pemuda terluka di gedung setengah jadi itu. tadinya gadis itu juga hanya ingin bersembunyi, tak dia sangka menemukan seorang pemuda terluka di sana, saat dilihat baik-baik, gadis itu mengenali siapa pemuda itu. Bramantya Dewangga Jati, ketua BEM kampusnya, semua orang kenal cowok jurusan TI itu, selain terkenal cool dan pandai, Bram pernah beberapa kali menjuarai lomba design grafis di luar negeri, wajahnya sering muncul di koran lokal ataupun majalah mahasiswa Southside. Bram memandang gadis itu. “Tenanglah...jangan banyak bergerak ya...”, gadis itu membuka jilbab putihnya, rambutnya yang hitam panjang terurai. “Maafkan aku Tuhan, tapi ini terpaksa...”, gumamnya. Dengan cekatan dibukanya kaus Bram yang penuh darah dan dibalutnya luka itu dengan hati-hati dengan jilbabnya. “Lukamu parah, harus dibawa ke rumah sakit...”. Bram tak bisa menjawab. Tubuhnya terasa lemas dan dingin. Suara di luar masih terdengar riuh dan ramai. Gadis itu menghubungi seseorang lewat ponselnya. “Assalamualaikum...kak Firman? Tolongin Mecca kak, terjebak di jalan Balance 23. ya...di gedung yang belum jadi...kalau kakak bisa mencapai daerah ini segeralah kemari, ada teman Mecca yang terluka”.
Begitu sadar, Bram sudah berada di rumah sakit, lamat-lamat dilihatnya seorang gadis berbaring di ranjang seberangnya. Mereka terhubung selang, gadis itu mendonorkan darahnya untuk Bram, dia sedang asyik membaca buku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terkulai di sampingnya. Kaki kirinya dia tekuk untuk menyangga buku itu, asyik sekali dengan bacaannya sampai tak sadar Bram memperhatikannya, tapi kesadaran cowok itu kembali hilang.
Keesokan harinya saat dia kembali siuman, ranjangnya sudah dikelilingi keluarganya, ayahnya, ibunya, dan beberapa kerabat, Bram anak tunggal, tidak memiliki saudara, beberapa temannya di BEM juga hadir menengoknya, mata Bram mencari-cari gadis yang menolongnya. Yang dia tahu cuma nama gadis itu, Mecca.
Berhari-hari setelah keluar dari rumah sakit, Bram mencari identitas gadis itu di komputer. Ternyata mahasiswa Southside juga, anak kedokteran semester tiga, pantas dia begitu terampil membalut luka Bram. Gadis itu tak pernah muncul lagi di rumah sakit setelah mendonorkan darahnya, terpaksa Bram membongkar data mahasiswa di kampusnya. Dia berkesimpulan kalau gadis itu berkuliah di universitas yang sama dengannya karena di jilbab putih gadis itu tercetak lambang universitas Southside. Jilbab itu sampai sekarang masih di tangan Bram, menjadi semacam benda kenangan bagi pemuda itu. Dibacanya data mahasiswa yang tertera di layar komputernya, untuk anak TI seperti Bram, adalah hal yang mudah mengutak-atik program di kampus, banyak sistem keamanan yang mudah dilemahkan. “Mecca Aisha Salsabila. Ttl: Mekkah, 7 Desember 1985. mungkin itu sebabnya gadis itu dinamai Mecca, artinya Mekkah. Ayahnya ternyata seorang duta besar, pernah berpindah-pindah ke berbagai negara, mungkin kebetulan pas gadis itu lahir, orangtuanya sedang menjadi duta di Mekkah. Anak kedua dari dua bersaudara. Dia punya kakak ...mungkin lelaki yang membantu gadis itu mengangkat Bram ke mobil dan membawanya ke rumah sakit? Bram dengan seksama melihat foto Mecca, meski foto itu kecil dia mengenali wajah itu, malaikat penolongnya.
“Hai...”, Bram nggak tahu musti bicara apa, gadis itu sedang bicara dengan beberapa temannya yang juga memakai jilbab. Mecca menoleh dan tersenyum melihat siapa yang menyapanya. “Sudah sembuh?”, cowok itu mengangguk kaku. Busyet! Padahal selama ini, berhadapan dengan Rektor, Dosen sekumpulan ketua mahasiswa, dia nggak pernah grogi...kenapa di depan cewek ini dunia yang dia pijak serasa bergoyang? Bram merasa aneh, banyak cewek yang dekat dengannya, pacarnya entah sudah berapa banyak, tak terhitung, tapi baru kali ini dia mati kutu, ngomong saja nggak mampu, oh, kenapa? Apa ada yang salah dengan dirinya?. “Bi...bisa kita bicara berdua?”, tanya Bram. Gadis itu memandang teman-temannya sebentar. “Eh, kalian duluan saja, nanti aku menyusul...”. Mecca berjalan menghampiri Bram. “Lukamu sudah baikan?”. Bram mengangguk. Mereka menuju ke taman di depan fakultas kedokteran dan duduk di kursi putih dekat kolam kecil yang dinaungi pohon beringin, suasananya terasa sejuk. Bram membuka jacketnya dan mengeluarkan selembar kain putih, jilbab Mecca. “Eh, ini...terimakasih ya...kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah mati kehabisan darah”. Mecca melongo. “Oh itu...sudahlah, sesama manusia kita kan memang harus saling menolong”. Mecca membentangkan kain itu. “Wow, putih bersih...kau mencucinya pakai apa?”. Bram menggaruk rambutnya. “Se...sebenarnya...aku beli sih, yang kena noda darahku itu nggak terselamatkan lagi”. Padahal dia pengen menyimpannya sebagai kenangan. “Waduh, seharusnya nggak usah repot gini...nggak usah diganti juga tak apa”, kata Mecca. Bram tersenyum, kaku. “Eh...kan sudah dibeli, sebaiknya kau gunakan saja, aku kan nggak mungkin pakai jilbab”. “Benar juga, terimakasih ya...”. lalu gadis itu berdiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Maaf ya, sebentar lagi praktikum, aku harus ke laborat, udah nggak ada keperluan lagi kan?”. Bram ikut berdiri dan memandang air di kolam. “Gimana...kalau sepulang kuliah kau kujemput...sekedar makan siang? Kau kan sudah menolongku”. Gadis itu tertawa. “Hei, sudahlah, nggak perlu sampai mentraktirku segala...”.
Bram menyusul langkah Mecca. “Please? Karena aku masih ingin bicara denganmu”. Mecca menghentikan langkahnya. “Soal apa?”. “Banyak...”, kata Bram lalu mengulurkan kartu namanya. “Di situ ada nomor ponselku...kalau kau setuju SMS aja ke nomor itu...”, lalu Bram berlalu meninggalkan Mecca yang bengong. “Mau ngomong soal apa lagi?”,pikir Mecca. Lalu gadis itu beranjak.
---
“Halo Bram, lukamu sudah sembuh?”, seorang gadis cantik menyapa Bram sepulang kuliah. “Lumayan”. Gadis itu memegang lengan Bram dan bergelayut manja. “Main yuk...udah lama nggak ke cafe nih, anak-anak kangen sama kamu”. Bram melepas pegangan gadis itu di lengannya. “Nggak bisa Sheryll, aku ada janji”. Gadis itu cemberut. “Janji? Sama siapa?”. Bram tak menjawab, langsung menuju tempat parkir dan duduk di BMW silvernya. Tadi SMS dari Mecca diterimanya, gadis itu setuju makan siang dengannya. Tergesa Bram mengendarai mobilnya menuju depan fakultas kedokteran. Mecca sudah menunggu, tapi gadis itu asyik menekuri buku yang dipegangnya, tidak menyadari kalau Bram tengah menuju ke arahnya. “Asyik banget...baca apa sih?’. Mecca terkejut melihat Bram sudah ada di sampingnya. Bram membalik buku itu. “Ilmu kesehatan Masyarakat...”, kata cowok itu lalu memandang Mecca. “Jadi pergi kan?”. Mecca mengangguk. “Kamu bawa mobil?”. Tanya Bram, cewek itu menggeleng. “Aku pulang pergi kampus naik bis kok...”. Bram mengernyit. “Bis? Ayahmu kan mantan duta besar...masa kamu ke kampus naik bis?”. Giliran gadis itu memandang Bram heran. “Eh...kok kamu tahu? Anak di kelas, temen-temenku gak ada yang kuberi tahu...kok kamu bisa tahu?”. Bram terhenyak, aduh! Gawat, keceplosan nih. “Eh...hanya kebetulan, ayahku kenal ayahmu...”. “Ayahmu nggak kenal aku...”, tampaknya Mecca lumayan cerdas. “Sebenarnya...”. Bram akhirnya mengaku kalau dia menerobos jaringan kampus, entah kenapa dia sepertinya nggak bisa bohong di depan gadis itu, Bram khawatir Mecca marah, tapi mau gimana lagi?
“Wow...”, gadis itu malah takjub. “Kriminal kamu ya...bisa kulaporkan lho”, kata Mecca. Bram mengerdikkan bahu tak berdaya. “Aku pasrah Mecca...aku kan hanya ingin tahu tentangmu, habis, setelah kau donorkan darah padaku kau nggak ninggalin alamat atau apapun sebagai jalan aku menemuimu dan ngucapin makasih”. Mereka menuju parkiran dan Bram mempersilahkan Mecca masuk ke mobilnya. “Mau ke mana kita?”, tanya Mecca.”Terserah kamu, ke Boz Cafe& Lounge? Atau Restoran De Luxe?”. Mecca berpikir sejenak. “Warung makan Bu Haji aja, itu...deket masjid Agung, ayam gorengnya enak lho, sekalian aku sholat Dzuhur...gimana?”. Bram hanya menurut.
Mereka bicara banyak hal, ternyata Mecca tahu banyak soal politik, mungkin karena ayahnya Duta Besar yang sering berhubungan dengan politik. Lalu kembali ke masalah mereka. “Yang menolongku waktu itu...membawaku ke mobil, kakakmu?”. Mecca mengangguk “He eh, Firman Farazzi. Dia juga yang menjahit lukamu”. “Eh?”. “Kakakku dokter di SIH”. “Southside Hospital?”. “Yup’s...dia juga yang bilang kalau kau kekurangan darah, golongan darahmu lumayan sulit dan langka jenisnya, sementara orangtuamu belum bisa dihubungi, jadi...”. “Kau mendonorkan darahmu kan?”. Mecca mengangkat alisnya yang tebal. “Kok tahu?”. “Aku sempat sadar sebentar...oh ya...dua kali utang nyawa tuh aku...kalau nggak ada kamu...aku sudah mati”. “Ngawur...hidup mati di tangan Tuhan, lagian kebetulan darah kita sama, AB, Tuhan yang membimbingku masuk ke bangunan itu, karena kebetulan darah kita sama, hehe...mungkin begitu ya...”, kata Mecca.
Bram termenung memandang betapa khusyuknya gadis itu sholat di masjid, selama ini Bram hampir tak pernah masuk masjid, agamanya memang Islam tapi orang tuanya tak pernah mengenalkan secara gamblang agama yang mereka anut. Ke masjid hanya kalau lebaran saja, waktu kecil dia pernah ikut mengaji bersama temannya di kompleks perumahan mereka, tapi selepas SMP dia bergaul dengan anak-anak nggak bener, berandalan. Bram kesepian di rumahnya yang besar, orangtuanya selalu sibuk, di rumah hanya bersama sopir dan pembantu. Nggak ada yang membimbingnya, ayahnya mendidik Bram dengan uang, bukan kasih sayang. Saat memasuki rumah Tuhan ini, cowok itu merasa hatinya tenang. Seperti pulang ke rumah yang dia dambakan.
Mecca terkejut melihat Bram berdiri di belakangnya. “Kamu sudah sholat?”, tanya Mecca, tapi cowok itu menggeleng. “Aku sudah lupa caranya...”. Mecca mengerutkan alis. “Maksudmu?”. Cowok itu duduk di dekat Mecca dan bercerita. “Aku memang beragama Islam, waktu kecil juga ikut mengaji dan tarawih seperti anak lain, tapi, selepas SMP dan mulai bergaul dengan dunia malam, teman-temanku yang baru, dan mencari kesenangan...ketenangan..jati diri di luar rumah, aku sudah lupa akan apa itu Tuhan, hidupku hampa, tapi saat aku berjuang mencari untuk apa sebenarnya aku hidup, aku malah semakin jauh dari eksistensiku yang sebenarnya, larut dalam duniaku sendiri...tak ada yang memberitahuku, di mana Tuhan harus kutemukan, orang tuaku saja tak pernah perduli”.
Cowok itu pasrah, mungkin Mecca akan mengejeknya, menyalahkannya atau apapun, Bram tak akan mengelak, dia memang bukan orang alim. Dia tahu Mecca aktif di kegiatan sosial dan mahasiswa Islam, cewek itu alim, santun, berhati malaikat. Sementara dia...pendosa, tak tahu aturan dan tak percaya Tuhan. Keangkuhan merajai dirinya, menjabat sebagai ketua BEM membuatnya angkuh, bisa mengatur semua mahasiswa di kampus, semua mahasiswa takut dan hormat padanya, tapi Bram juga sadar, mungkin pengaruh kekayaan ayahnya juga yang menyebabkan dirinya disegani. Kekuasaan itu tak murni dia peroleh. Ada nama besar Dewangga Jati di belakangnya.
Bram merasa seperti setan, dan gadis di depannya bagai malaikat Tuhan. Mecca menghela nafas. “Tuhan, tak pernah hilang...dia selalu ada di hatimu, kau bisa melupakannya, tapi Dia tidak...selama ini Dia selalu ada, tapi kamu yang menolaknya...”. gadis itu tersenyum. “Belum terlambat Bram, selama kamu bernafas, nafas itu adalah namaNya...nafas itu kehidupan yang diberikanNya...kau tahu, Dia sangat mencintaimu, karena itu Dia ingin kau pulang ke rumahNya Bram...”.
Sejak hari itu Bram banyak belajar, seperti bayi, mencoba merangkak, berdiri lalu berjalan, lidahnya kaku saat membaca kembali surat-surat cinta dari Allah, tapi pemuda itu mencoba mengejar keterlambatannya. Mecca memperkenalkannya pada seorang Ustadz yang pandai tapi gaul, jadi saat Bram belajar padanya, ustadz Reyhan bisa memahami jiwa muda Bram, mengupas sisi gelap pemuda itu perlahan dan melepaskan selubung hitam yang melingkupi hati pemuda itu. “Aku juga pernah muda Bram, melakukan banyak kesalahan, bahkan masuk penjara...aku dulu pencuri”. Bram terhenyak menatap Ustadz Reyhan, wajahnya yang putih menyejukkan dan alim itu...mustahil. “Bukan pencuri biasa, aku ahli membongkar brankas dengan trik yang kupelajari dari seorang sahabatku di Jerman...membongkar brankas bank kulakukan dengan mudah, aku menguasai seni membuat dan membongkar kunci...tapi pada akhirnya aku mendapat hidayah...aku tertangkap dan masuk penjara, tak kusangka, di penjara itu aku menemukan jati diriku, mempelajari banyak hal dari Ustadz yang mengajariku mengaji dan sholat. Jadi, aku yakin kau pun bisa melakukannya, kau pemuda yang baik”.
Teman-teman Bram banyak yang heran akan perubahan pemuda itu, keangkuhannya berkurang, nggak pilih-pilih teman lagi, bahasanya pun tak sekasar dulu. Bram sendiri menyadari perubahannya. Tak hanya itu...dia semakin menyadari...dia jatuh hati sama Mecca. Cinta...baru kali ini dia mengenal cinta yang seperti ini, dia pernah pacaran, punya banyak pengalaman, mengobral kata-kata manis, tapi itu bukan cinta. Bram tersenyum saat melihat sosok Mecca berlari ke koridor laboratorium. Dari atap fakultas tekhnik, laboratorium FK memang terlihat. Nah, hanya memandangnya saja Bram sudah merasa senang. Bicara dengan Mecca apalagi, senyum tak bisa lepas dari bibir Bram. Mecca memang cantik, cantik yang alami, wajahnya hanya dipoles bedak tipis dan lipstik samar, gayanya alim, tak pernah genit seperti gadis lain yang Bram kenal, bicaranya sopan dan spontan, apa yang ada di hatinya itu yang dia keluarkan. Polos dan kadang naif. Kepolosan itu yang membuat Bram tertawa, kok ada sih gadis sepolos itu di zaman sekarang?. Tapi sepertinya Mecca dibesarkan di keluarga yang harmonis dan bahagia, gadis itu belum melihat dunia yang sesungguhnya, belum pernah sakit hati atau dikhianati, apa Tuhan terlalu melindungi hatinya yang lembut itu?.
Hari Minggu yang cerah, sepulang mendengarkan ceramah dari Ustadz Reyhan, Bram mengajak Mecca ke perpustakaan masjid agung. Saat gadis itu asyik memilih buku, Bram mengutarakan perasaannya. “Eh...Mecca...maukah..maukah...”, gadis itu memandang Bram heran. “Apa?”. “Maukah kamu jadi pacarku?”. Mecca malah tersenyum. “Heh...?”. Bram merasa lidahnya kelu dipandang Mecca seperti itu. “Se...sejak kamu menolongku saat luka, aku...aku merasa menyukaimu, dan sekarang perasaan itu semakin besar...aku mencintaimu Mecca, maukah kau jadi pacarku?”.
“Nggak mau...”, kata Mecca tegas. Bram terkejut setengah mati, baru kali ini cintanya ditolak, selama ini cewek-cewek yang mengejarnya. Ego cowok itu terluka, tapi rasa sayangnya yang sedemikian besar pada Mecca tak mampu menyulut amarahnya. “Kenapa? Apa kekuranganku Mecca? Apakah kau menyukai orang lain?”. Gadis itu menuju meja baca membawa beberapa buku dan Bram mengikutinya. “Apakah cinta itu, Bram?”, tanya Mecca. “Entahlah, aku sendiri tak tahu, pokoknya aku merasa bahagia kalau kau ada di sampingku...”. “Cuma itu?”. “Nggak, banyak hal yang membuatku menyukaimu...aku nggak bisa menjelaskan dengan kata-kata”. Gadis itu tersenyum. “Aku juga mengalami hal seperti itu Bram”. “Eh, sama siapa? Kau menyukai seseorang?”. “Begitulah...”, wajah Bram berubah muram. “Orang itu kamu, Bram”. Cowok itu kembali memandang Mecca, tak percaya. “Tapi...kalau kau menyukaiku juga, kenapa nggak mau jadi pacarku?”. “Karena pacaran itu haram...hasrat, keinginan, yang muncul dalam diri kita adalah perbuatan setan, cinta seperti obat dan racun, cinta...kalau kadarnya pas bisa menjadi obat, salah takar sedikit bisa meracunimu”. “Aku nggak ngerti”. “Perasaan seperti ini harus kita kendalikan, pacaran, bisa membuat hatiku kacau, aku ingin menyentuhmu, padahal sentuhan tanganku di kulitmu adalah dosa, seperti api neraka yang bisa membakarmu...justru karena aku mencintaimu, aku tak ingin kau terjebak dalam dosa yang seperti itu”, kata Mecca. Bram masih belum mengerti. “Terus, bagaimana dengan cinta ini?”. Mecca tersenyum samar. “Tuhan pasti punya jawaban di setiap pertanyaan, kau cari saja jawabannya, karena aku tak mungkin memintanya...”. “Maksudmu?”. “Yah, pasti ada suatu cara yang membuat cinta bersatu tanpa tercampur dosa, Tuhan selalu memberikan jalan, Bram, kau temukan saja jawaban itu sendiri, oke?”, gadis itu berdiri dan keluar ruangan, tapi Bram sempat melihat rona merah di pipi Mecca. Cowok itu masih termangu, nggak ngerti.
“Pernikahan”, kata Ustadz Reyhan saat Bram bertanya. “Apa ada sesuatu yang bisa menyatukan cinta tapi tidak membuat dosa tercampur di dalamnya?”. Bram mengernyit. “Begini Bram, kalau kamu pacaran, hasrat dan keinginan di hatimu adalah dosa, kau menyentuhnya, menciumnya, bagai membakarnya dengan bara api neraka. Tapi kalau kau menikah dengannya, sentuhanmu, ciumanmu...apapun yang kau lakukan padanya adalah pahala...karena kau memilikinya atas nama Tuhan, Bram...kau sudah mengerti maksudku?”. Cowok itu perlahan menyadari maksud Mecca dan tersenyum. “Menikah?”. Bram masih muda, umurnya belum lagi duapuluh, tapi apa salahnya menikah?.
---
Mecca tersenyum saat membaca pesan Bram di HPnya. “Sorry Mecca, maksudku bukan ‘Pacaran Yuk’ tapi..’Menikah yuk’....serius nih...”. gadis itu tertawa dan berjalan ke kamar abangnya. “Kak Firman...Mecca mau curhat nih...”. Firman yang asyik menekuni buku Farmakologi dan Terapi memandang adiknya yang tersenyum ceria. “Kayak orang baru dilamar aja...emang ada apa sih Ca?”. Mecca semakin memperlebar senyumnya. “Emang Mecca baru dilamar, kok”. “Hah?”.
Tentu saja kedua orang tua mereka menentang keras rencana pernikahan itu. tapi dengan senang hati mengadakan acara pertunangan. “Kalian masih muda, paling tidak, tunggu Bram selesai kuliah dulu...”, kata ayah Mecca. “Sebaiknya tunangan dulu lah, Bram...kau ini kan masih semester tiga...tiga tahun bukan waktu yang lama. Lagipula putri Pak Rasyidin itu masih kecil, kan? Umurnya saja baru sembilan belas...batas usia nikah itu 21 Bram...”, bujuk ayahnya. Pemuda itu merenung, benar juga, mereka masih muda, lagipula dia belum memiliki kerjaan, mau dikasih makan apa Mecca?. Kerikil?. Orang tua mereka memang kaya, tapi Bram tak mau bergantung pada orangtuanya. Dia harus jadi lelaki sejati, bisa cari penghasilan sendiri.
---
Pertunangan mereka dilakukan sederhana saja di rumah keluarga Rasyidin Farazzi. Kedua keluarga hanya mengundang kerabat dekat. Bram tersenyum memandang Mecca yang cantik dengan jilbab putih dan baju muslim senada. “Kamu cantik sekali...”, katanya. Mecca tersipu saat Bram memasukkan cincin platina di jari manisnya. “Udah boleh ciuman belum ya...”, tanyanya menggoda pada Mecca. Firman yang menjawab. “No...no...enak aja....belum muhrim bung...”, katanya dengan galak. Bram dan Mecca tertawa. “Iye...bercanda...abang...”, kata Bram.
---
Meski tanpa bergandengan tangan dan belum boleh pelukan, mereka berdua sering jalan bareng, sekedar menikmati keramaian di Middle town atau menyusuri jalan di sekitar alun-alun untuk menikmati berbagai makanan khas di sana. Mecca gadis yang sangat menyenangkan, Bram selalu merasa bahagia saat bicara, bahkan saat berdebat dengan Mecca. Dari makanan sampai politik, dari kasus kerusuhan yang sering terjadi di kota mereka sampai kejahatan di dunia maya yang akhir-akhir ini marak dibicarakan. “Kamu sudah bertobat kan, Bram?”, tanya Mecca. “Insya Allah, ukhti...”, kata cowok itu sambil memakan sate manisnya dengan lahap. Mecca tersenyum, memandang rambut gondrong Bram yang tertiup angin sore, betapa tampannya wajah itu. Mecca jadi teringat, saat di rumah sakit dulu, setelah dia mendonorkan darahnya, dia melihat Bram tertidur karena bius, sejenak dia tertegun, tangannya hampir terulur memegang wajah yang terlihat rapuh itu...cepat-cepat dia keluar ruangan dan berusaha melupakan betapa tampannya wajah yang tertidur itu.
Saat menyusuri balik jalan ke arah Middletown dan menuju tempat parkiran, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh keributan yang terjadi di toko emas di dekat mereka. Beberapa orang pria bertopeng menembakkan senjata dan mengancam orang di sekitarnya menyingkir. Salah seorang menyenggol tubuh Bram dan membuat keduanya terjatuh. Sekantong penuh perhiasan terlempar ke jalan, tersebar, orang itu marah dan melampiaskan pada Bram, senjatanya teracung tepat di kepala pemuda itu, pria itu menembak, Mecca menyeruak diantara mereka, melindungi Bram. Saat tubuh gadis itu terjatuh ke arah Bram, terdengar sirine polisi dari kejauhan, komplotan itu segera pergi dari TKP, meninggalkan separuh kejahatannya dan membiarkan seorang gadis terluka.
Bram memeluk tubuh Mecca, tubuhnya gemetar, penuh amarah, marah pada para perampok itu, bercampur rasa takut yang luar biasa...takut kehilangan Mecca. Gadis itu tertembak di dada... darah membasahi kemeja putih Bram, pemuda itu hanya bisa memandang wajah Mecca dengan kalut. “Mecca...Mecca...bertahanlah...”. Gadis itu mengernyit menahan sakit dan di bibirnya membisikkan sesuatu. “Allah...Allah...”, dada Bram semakin nyeri mendengar bisikan Mecca. “Allah akan menolongmu, Allah pasti melindungimu...bertahanlah...”. dibopongnya tubuh gadis itu menuju mobilnya dan dengan kecepatan yang entah seperti apa, dia menuju rumah sakit. Bram tak sabar menunggu ambulance datang, Mecca harus segera ditangani!.
---
Firman memeluk Bram erat. “Sabar ya Bram..kita harus ikhlas...”. Firman merasa sangat sedih, selama ini dia sudah menangani banyak kasus, banyak nyawa bisa terselamatkan, tapi sekarang, nyawa adiknya sendiri tak bisa dia tolong, tapi dia harus tabah. Mecca telah pergi...Firman shock, begitupun ayah dan ibu mereka. Firman merasa sangat sedih, tapi saat dilihatnya Bram tak bergerak di ruang tunggu, pandangan matanya kosong, Firman merasa, Bram ribuan kali lebih sedih darinya. Tubuh Bram tak bergerak dalam pelukannya. “Ikhlas Bram...istighfar...”. cowok itu tak menjawab, bahkan saat Firman mengguncangkan bahunya. “Bram?”, Firman menepuk pipi pemuda itu, Bram bahkan tak bergeming. Pandangannya masih kosong. Firman tercekat, Bram seolah ikut pergi bersama Mecca. Tubuh Bram tiba-tiba ambruk dan Firman menyangganya.
---
Firman memandang sedih pemuda di dalam ruangan. “Dia masih Shock”, kata Firman pada Dewangga. “Tidak mau makan, kami terpaksa memasangkan infus, itupun selalu dia cabut, jadi kami kasih dia obat penenang dan mengikatnya di tempat tidur...”. Dewangga memeluk istrinya dan memandang Bram yang tertidur di ruangan itu. Bram...putra tunggalnya, kesayangannya...ah, dia merasa menyayangi Bram, tapi, apakah selama ini dia memperhatikan pemuda itu? lihat Dewa...anakmu...bukan lagi bocah kecil yang mengganggumu dengan berbagai pertanyaan cerdas. “Kenapa balon udara bisa terbang, ayah? Apa yang membuat pesawat bisa terbang? Apa Bram bisa terbang? Kenapa...”. ah, Dewa merindukan saat-saat itu, tiba-tiba saja dia merasa Bram sudah dewasa, tak mengetahui seperti apa perkembangan saat bocah kecil itu bermetamorfosa jadi dewasa. Dewa merasa menyesal, mengabaikan Bramantya selama ini. Dengan sedih dielusnya wajah pemuda itu. “Maafkan ayah Bram, selama ini yang kamu minta selalu ayah bisa kabulkan, tapi ayah takkan pernah bisa membawa Mecca kembali padamu, meski ayah tahu, itu mungkin satu-satunya yang kau inginkan...ayah jadi menyadari, uang bukanlah segalanya”.
Hampir satu bulan setelah kepergian Mecca. Tak ada perubahan dalam diri Bram, sepertinya pemuda itu tak ingin bangun dari tidurnya. Kalaupun dia membuka mata, dia tak mau bicara, hanya memandang langit-langit kamar rawat. Saat ayahnya mengajak bicara, Bram hanya diam, ibunya membujuknya makan, pemuda itu menutup matanya. Seolah menikmati penderitaan yang mendera tubuhnya. Firman tak tahan melihatnya.
“Kau nggak tahu terimakasih...”, pancing Firman. “Mecca hanya sia-sia saja berkorban, menyelamatkanmu, kalau pada akhirnya kau hanya menjadi mayat hidup, Bram...ini bukan keinginan Mecca...”. Firman melihat sekilas kilatan di mata pemuda itu. “Kau sia-siakan nyawa Mecca...dia menolongmu agar kau bertahan, bukan untuk mati...”. “Diamlah...”. “Mecca pasti sedih melihatmu begini”. “Kubilang Diam!”, kata Bram, bangkit dari tidurnya, matanya tak lagi kosong. “Aku nggak akan diam Bram, sebelum kau menyadari...kenapa Mecca menyelamatkanmu...karena dia tahu kau berharga, kau harus hidup, banyak hal yang bisa kau lakukan, jadi kalau kau seperti ini...pengorbanannya akan sia-sia...”. Bram memandang Firman marah. “Kau tahu apa? Kau tak tahu apapun! Tuhan...dimana Dia? Kenapa Dia tidak selamatkan Mecca? Apakah Mecca tak pantas diselamatkan?”. Firman terhenyak. “Bram...”, dipeluknya pemuda itu. “Justru Tuhan sayang sama Mecca, makanya Dia memanggil Mecca untuk bersamaNya, di sisiNya Mecca lebih bahagia...kau mengerti?”. Firman merasa tubuh Bram berguncang dalam pelukannya. “Menangislah Bram...kita memang hanya manusia...wajar kalau kau keluarkan airmatamu, kau sudah menahannya sebulan...pasti terasa sakit kan...menangislah...”.
---
Identitas para perampok itu belum diketahui. Polisi sangat kesulitan mencari keberadaan mereka. Bram dengan geram membaca berita kasus yang masih menggantung itu. “Apa sih kerjaan polisi itu...kenapa para bedebah itu belum juga tertangkap?”. Bram mengepalkan tangannya dan meninju dinding kamarnya. “Brengsek!”, teriaknya kesal. Lalu pemuda itu terduduk di ranjangnya, saat memandang foto Mecca di dinding kamar, Bram merasa hatinya tersayat. Perlahan dirabanya cincin di jari manisnya. Cincin pertunangan mereka. Satu cincin lagi milik Mecca sudah diserahkan Firman padanya. Bram menuju laci meja belajarnya dan menemukan sebuah kotak di sana, cincin Mecca. Dengan sedih dilepasnya cincin di jari manisnya, lalu disatukannya kedua cincin itu pada sebuah kalung platina dan dipakainya di leher. Tiba-tiba Bram menyadari sesuatu. Cincin...perhiasan...bukankah toko yang dirampok itu toko perhiasan?.
Tergesa pemuda itu mengambil jacketnya dan menuju kantor polisi yang menangani kasus perampokan itu, Bram mengutarakan maksudnya. “Saya ingin mengetahui rincian perhiasan yang dirampok itu”. “Untuk apa?”, tanya kapten polisi Adnan. “Tentu saja melacak keberadaannya...”. “Kau pikir, kami para polisi tidak melakukannya? Kami juga mengawasi jalannya transaksi perhiasan, tapi hasilnya nihil”. Bram mengernyit. “Anda sudah memeriksa daftar di pasar Jack Royale BM?”. “Apa itu?”. “Black market, tapi ini bukan di dunia nyata, tapi pasar gelap di internet, biasanya barang rampokan atau curian ditawarkan secara terselubung di sana”. “Aku baru dengar...”. Bram berdecak kesal. “Pak, bisakah saya melacaknya dengan komputer kantor kepolisian pusat ini?. Saya yakin barang itu ditawarkan di sana...tolong beri saya wewenang untuk melacaknya...saya mohon, kalau kita tidak cepat...barang itu keburu sudah terjual dan kita lebih sulit lagi melacaknya”. Kapten Adnan mengernyit, tapi sepertinya pemuda ini bisa dipercaya, lagipula apa salahnya. “Kau bisa mengaksesnya?”.
Berjam-jam Bram bekerja di ruangan khusus itu, diawasi beberapa polisi yang mengetahui kerja tekhnologi Informasi, mereka berdecak saat melihat kemampuan Bram mengoperasikan Software yang dibawanya, melacak satu demi satu transaksi ilegal yang terjadi di Wired. Membandingkan jenis perhiasan yang hilang dan contoh barang yang ditawarkan. Ternyata banyak sekali transaksi ilegal yang terjadi, sudah banyak pula situs yang menawarkan barang gelap seperti hasil rampokan atau curian, selama ini polisi belum terlalu serius menangani kasus di dunia maya. Tapi ternyata hal itu tak bisa dianggap remeh, transaksi di Wired ternyata lebih besar dibandingkan di real world. Pemuda itu berpacu dengan waktu, memecah dan menerobos kode-kode sindikat rahasia.
“Gotca!”, teriak Bram, rambut gondrongnya sudah acak-acakan karena beberapa kali dia meremasnya dan memaksa otaknya terus berpikir. “Lihat...ini perhiasan yang sama dengan yang dicuri...transaksi untuk saudara X harus di transfer dengan nomor rekening...wah, bisa kita lacak..”. Bram mendapatkan sebuah nama yang terdaftar di bank tertentu. “Kemungkinan identitas ini palsu, jadi sebaiknya kita tangkap orangnya saat melakukan pengambilan uang di bank”. “Kalau dia memakai ATM?”, tanya polisi di sebelahnya. “Benar juga...”, Bram melacak apakah pemilik rekening itu memiliki ATM terdaftar. “Ah, untung dia belum mendaftar ATM...agak ceroboh...keuntungan untuk kita, sebaiknya anda sekalian bersiap...ini alamat bank tempat rekening itu terdaftar...”. para polisi itu saling berpandangan, salah satu menepuk bahu Bram. “Untung kau ada di pihak kami...ah, baiklah segera laporkan kapten dan bersiap...”, lalu polisi itu memandang Bram. “Jangan salah gunakan kemampuanmu, bocah...aku tak ingin menangkapmu kelak...”, Bram hanya nyengir.
---
Setelah salah satu anggota komplotan tertangkap, mudah untuk mengetahui identitas yang lain, tak sampai dua minggu kemudian semua pelaku sudah tertangkap. Bram memandang wajah para perampok itu, komputer di kamarnya diam-diam telah dia akses ke kantor kepolisian pusat. Otaknya menyimpan memori beberapa kode rahasia dan kelemahan sistem kantor kepolisian pusat. Salah satu dari perampok ini yang membunuh Mecca...ingin rasanya Bram membunuh mereka semua...”Kalian harus mati...atau...kematian terlalu bagus?”, saat dia memandang foto Mecca di sampingnya Bram tersenyum. “Maaf Mecca...seharusnya aku tidak berpikir seperti itu ya...kau pasti sedih kalau aku memiliki dendam di hatiku...baiklah...aku menurut padamu...biar Tuhan yang membalas mereka...bukankah begitu? Itu kemauanmu kan?”. Seolah dilihatnya gadis itu tersenyum padanya, Bram merasa hatinya tersayat. Airmatanya kembali luruh. “Aku merindukanmu, Mecca, kau tahu...aku sangat merindukanmu...apa kau bahagia di sana?. Yah...kau harus bahagia, kau pasti bahagia, bukan?”. Lalu dengan sedih digenggamnya cincin pertunangan mereka yang tergantung di lehernya. Dikecupnya cincin itu dengan sedih. “Kau harus bahagia...Mecca. Tuhan, kutitipkan dia padaMu, bahagiakan dia, jagalah dia...Kau pasti menyayanginya lebih dari pada aku, mencintainya lebih dari cintaku padanya...”.
Bram mematikan komputernya dan menuju ke tempat tidur. Beberapa minggu kemarin dia tak bisa tidur, saat kasus ini selesai dia baru bisa merasa lega, Insomnianya sembuh. Bram memejamkan mata dan tertidur. Seorang gadis tersenyum dalam mimpinya, tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum, tapi dari pandangan matanya, Bram tahu, Mecca ingin dia juga bahagia...
Langganan:
Postingan (Atom)
