Sabtu, 12 September 2009

Awan dan aku.....

Early May 2006
Setiap orang memiliki jiwa yang tidak sama, gampang berubah arah dan tidak stabil. Mungkin, keadaan itu yang sedang aku alami. Sebenarnya, aku tidak pernah ragu akan agama yang aku anut, aku sangat yakin akan Islam, karena di agama inilah satu-satunya agama, yang menurutku sangat sesuai dengan realita. Aku, mendambakan Tuhan yang powerfull dan Tuhan yang kubayangkan, ada pada Allah, Dia tidak terlihat dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana wujudnya, itu adalah salah satu hal yang membuatku yakin, Dia adalah ‘maha’ dari segala hal. Bumi ini misterius, wajar saja aku berfikir, penciptanya pastilah lebih misterius, tapi Dia begitu dekat dan mengetahui apapun yang ada dalam pikiranku. Tapi sangat disayangkan, di agama yang begini indah, banyak sekali hal yang aku tidak mengerti, terutama dari para pemeluk agama yang mengaku, mereka ‘paling benar’.
Yang aku tahu, agama ini begitu sederhana, kerumitan tentang halal dan haram di dalamnya, jika dikaji lebih lanjut, akan menjadi hal yang begitu simpel. Kita dilarang akan sesuatu hal, larangan itu ternyata semuanya sangat bagus, karena jika kita melanggar larangan Allah, itu bukan Allah yang rugi, tapi diri kita sendiri yang menanggung akibatnya. Tapi, jika kita melakukan hal yang Dia perintahkan, diri kita sendiri yang memperoleh keuntungan. Aku pernah berkecimpung dalam suatu organisasi yang lumayan besar, batasan antara laki-laki dan perempuan di dalamnya sangat tegas. Aku mengakui, organisasi ini cukup bagus, tapi, saat aku merasakan ‘aroganisme’ di dalam organisasi ini, yang melarang seorang perempuan dan laki-laki menjalin silaturahmi dalam artian pernikahan ataupun Ta’aruf dengan anggota di luar organisasi, aku merasa ini aneh. Dari kecil, dalam pikiranku, Allah begitu fleksible. Memang ada larangan pernikahan beda agama, tapi, jika satu agama tapi beda organisasi menjadi suatu masalah?. Perjodohan yang melalui pemikiran manusia baik, belum tentu baik di kemudian hari. Orang yang kurang memahami agama sepertiku, wajar jika menginginkan seorang yang ilmunya lebih ‘tinggi’ dariku di bidang agama, untuk mengajariku lebih lanjut tentang Islam, tapi pernah juga, saat aku melakukan diskusi lewat chatting dengan seorang Ikhwan, banyak ukhti yang memperingatkan aku.
“Kamu belum cocok menjalin hubungan dengan Ikhwan itu, ilmu kamu terlalu ringan”. Sedikit banyak aku merasa tersinggung, apakah aku begitu rendah dan dia bagaikan seorang ‘ahli’ yang begitu terpuji, layaknya malaikat, sehingga setiap orang yang berilmu rendah tak selayaknya berdekatan dengannya?. Semakin banyak kegiatan yang aku ikuti, kenapa “Islam”, menjadi beraneka warna dalam pikiranku?. Ada aliran ini, itu dan sebagainya. Ada yang melarang pengajian untuk orang mati, ada yang melarang menziarahi kubur. Ah, lebih enak jadi penganut ‘Islam’ yang bebas. Aku keluar dari organisasi. Mulai mendengarkan kata hatiku sendiri, yang aku maksud ‘kata hati’ adalah suara yang berasal dari alam pikiran terdalam kita, jangan dimanipulasi dan biarkan dia ‘berbicara’. Apa yang baik dilakukan, lakukan saja, apa yang salah ya jauhilah. Terkadang, aku mengikuti pengajian ala ‘ibu-ibu’, mereka yang lebih berpengalaman hidup, lebih ceria melakoni kehidupan di dunia, pemikiran mereka yang sederhana tapi penuh makna, membuatku lebih nyaman.
Aku tak lagi membatasi pergaulanku. Dari klub jurnalistik sampai komputer, aku ikuti, memang kegiatan agamaku agak berkurang, tapi aku merasa lebih nyaman. Di tempat aku kuliah, antara anak UKI (Islam) dan KMK (Katolik, Kristen) terjalin hubungan yang akrab, meski tak dipungkiri, di balik keakraban itu terkadang ada juga masalah, tapi toleransi antar umat beragama begitu terasa. Saat gempa melanda Yogyakarta, anak UKI membantu KMK memperbaiki Gereja, saat terjadi amukan badai di jalan mataram yang notabene banyak orang beragama Islam tinggal di sana, anak-anak dari organisasi perkumpulan anak Ambon yang kebanyakan beragama Katolik, membantu warga memperbaiki rumah. Di sini, tak ada lagi perbedaan antara Hitam dan Putih, masing-masing kami menghargai pilihan agamanya, bagi kami, Tuhan ada di masing-masing hati kami, meski sama agamanya, tapi pemikiran tentang ‘Tuhan’ tidak bisa dijadikan dalam satu ukuran. Dalam agamaku, nama Tuhan ada 99, ada 99 sifat yang wajib kami ketahui tentang Tuhan.
Augustus 2006
Apa aku yang salah gaul, atau aku memang ‘sial’. Pergaulanku dalam suatu organisasi Islam, membuat aku bentrok dengan beberapa orang perempuan. “Kamu terlalu Free, terlalu Liberal”, kata mereka. Pembatasan pergaulan, apakah itu bagus? Hei, Indonesia bukan negara Islam, kebebasan beragama ada dalam Pancasila?. Memang benar, aku memiliki prinsip, tidak akan menjalin hubungan dengan orang yang beda agama, dan semoga cita-citaku untuk menanamkan Islam yang kuat dalam pikiran anak dan cucu bisa terkabul, bukan berarti aku membatasi pergaulan dan membagi ilmu dengan orang yang beda agama. Aku teringat seorang Arifin Jihan, Ikhwan tegar yang satu ini, kadang sama pemikiran denganku. Saat dia memutuskan melanjutkan kuliah di Australia, bukannya Arab atau negara Islam lain, banyak Ikhwan menentang. “Kenapa nggak milih ke Al-Azhar aja sih Rief?”. Cowok jangkung itu hanya tersenyum. “Hei, di Al-Azhar udah banyak orang hafal Qur’an dan adzan, aku pengen banget menyerukan Adzan di daerah yang belum pernah mendengar dan diperdengarkan cerita Indah tentang “Allah”. Duh, Ikhwan yang satu ini, bikin gregetan yang mendengar!. Yah, semoga aja cita-citanya terkabul!.
Lain Arief, lain Hendra, si kacamata yang demen pakai jacket hitam itu, kupikir berubah banyak. Dia nggak lagi suka musik R&B dan beralih ke Murrotal, sok melarang ini itu, padahal hatinya belum kuat meninggalkan ‘dunia’nya. Dunia baru yang dimilikinya sekarang, terasa begitu asing dan ‘terpaksa’. Bukankah munafik itu dilarang?. Katanya musik yang keras itu identik dengan Setan?. Setiap orang memiliki rhytme masing-masing, ada yang keras, sedang, atau slow. Kita nggak bisa maksain ‘ini haram, itu haram...di zaman Nabi, transportasi hanya bisa pakai Onta, apakah ada Hadis yang melarang kita pakai motor?. Yang wajar-wajar aja dong!. Apakah para Kyai atau Ustadz hanya boleh berjalan ke masjid saja? Lalu, siapakah yang berani menyusuri lorong gelap dan mengajarkan kebaikan pada preman dan pelacur?. Siapa pembawa lentera itu?. Justru di tempat yang ‘menggoda iman’ itulah, para orang yang merasa ilmunya tinggi, nggak harus mengobrak-abrik diskotek dan Club, beri pelacur itu pekerjaan halal, ajari mereka! Jangan bisanya mencaci aja!.
Aku begitu mengagumi Nabi Muhammad bukan karena beliau berada di daftar urutan teratas 100 tokoh dunia, tapi kisah hidupnya begitu mencenggangkan. Dia tidak hidup di masyarakat yang beradab dan penuh iman kepada Allah, beliau hidup di masyarakat yang bebal dan kotor, masyarakat yang kolot dan tak berTuhan. Muhammad SAW yang mengenalkan masyarakat zaman tersebut tentang Tuhan yang sebenarnya, beliau tidak pernah memaksakanagar orang memeluk agama Islam, justru hal itu yang membuat pengikutnya semakin bertambah. Islam berasal dari hati nurani, bukan idealisme yang tertulis di atas kertas.
Aku banyak bertanya dan ditanya. “Siapa orang yang kamu kagumi Rie?”. Entah kenapa, seorang Aa’ Gym, Zainudin MZ atau Rhoma Irama, nggak sebanding dengan Awan. Jika kau bertanya, siapa itu Awan, dia bukan Ikhwan bahkan Ustadz, dia seorang calon pastor. Cowok bernama lengkap Gunawan Whibisana itu lebih dikenal dengan sebutan Brother Whibi. Seorang pendeta? Nggak salah Rie?. Benar, Awan seorang pendeta, meski umurnya setengah tahun lebih muda dariku, pemikirannya mungkin sudah setengah abad melampauiku. Dia, seorang yang biasa saja, berwajah teduh, dengan kulit hitam karena sengatan matahari kota Yogya yang terkadang nggak bisa ditolerir, kacamata minus menghiasi wajahnya yang full senyum, tubuh kurus jangkung yang menurutku bisa dengan mudah diterbangkan angin, tapi ternyata dia sosok yang tangguh. Aku bertemu dengannya saat aku mengunjungi sebuah panti asuhan. Cowok yang seumur denganku itu, memiliki kesabaran lebih, merawat beberapa anak panti yang kurang sempurna pemikirannya, anak dengan IQ rendah, bisa dia pahami dan dia hargai sedemikian rupa, dia memperlakukan anak-anak itu dengan sangat baik, sabar, telaten, mengajari mereka bicara, belajar, dan banyak hal lain. Bahkan ada beberapa diantara anak-anak itu yang usianya lebih dewasa dari Awan. Dia merasa senang saat aku dan temanku mengunjungi panti. “Anak-anak kecil ini, banyak yang merindukan kasih sayang orang tua, jika ada pengunjung, anak balita biasanya pengen minta gendong, kamu nggak keberatan,kan?”. Melihat kehidupannya, terkadang aku merasa, orang itu meyakini agamanya karena tanggungjawab terhadap sesama manusia. Dalam pergaulanku dengannya, memang terkadang aku bertanya tentang Theology dan Trinitas, dan percaya atau tidak, karena terkadang, jawaban Awan membuatku lebih yakin akan jalan yang telah aku pilih. Islam bisa menjawab semua pertanyaanku, Awan tidak.
Berdebat soal agama tentu capek, terkadang ada banyak hal juga yang bisa dibuat bahan tertawaan meski terkadang agak menyebalkan. Apalagi yang namanya setan, di setiap agama pasti sama saja ada setannya. Kuakui, Awan itu sebenarnya cakep, sangat ganteng malah (kadang kelihatan, terutama kalau dia sedang asyik membuat daftar makanan buat anak panti) alias kalau dia sedang diam. Apalagi kalau sudah senyum, walah...giginya itu lho, nggak kalah sama aktor di iklan Close-up, Tukul Arwana saja kalah cling sama dia!. “Seandainya ada cinta diantara kita, apakah itu bisa terjadi?”, tanyaku. Dia tersenyum. “Lha diantara kita memang sudah ada cinta kok, kalau tidak, mana mungkin kamu mau ngomong sama aku dan berkunjung ke panti? Kamu pernah denger nggak istilah ‘Patria es Humanidad’, satu-satunya kebangsaan adalah kemanusiaan? Itu berarti, cinta begitu Universal dan luas sekali maknanya, wajar kalau kita mencintai sesama manusia”, nah, mulai deh si item berkhotbah. “Maksudku cinta antara cowok en cewek, kayak Rojali Juleha eh, Romeo Juliet gitu”. Dia terdiam sejenak lalu nyengir. “Bisa saja, karena kita manusia, nggak lepas dari salah dan dosa, tapi kita harus ingat, keyakinan dalam agama kamu memisahkan kita, dan janjiku pada Tuhanku juga memisahkan aku dari pernikahan, bahkan kalau kamu melepas keyakinan kamu dan satu agama denganku, aku juga masih terikat janji sama Tuhan untuk tidak menikah”. “Ge er banget! Siapa juga yang mau pindah agama”. “Hei, ini khan hanya seumpama”. “Nah, kalau kamu yang pindah agama sama denganku, kita bisa menikah lho”. Dia tertawa. “Nah, itu dia, godaan, godaan besar, dan tentu saja jika pikiranku masih stabil, aku akan memilih cinta Tuhan daripada cintamu”. Benar juga kata-kata orang ini. Definisi Tuhan, berasal dari hati kami masing-masing, begitu yang aku rasakan. “Cinta kepada Tuhan harus menjadi cinta terbesar dan yang utama di dalam hati, bukankah begitu?”. “Ya”. “Lalu, jika kamu menikah, masihkah kamu bisa bersikap seperti itu?”, tanya Awan. Sejenak aku bingung, kujawab saja “Lha, itu dia, suami juga merupakan godaan, kalau suamiku menyuruh aku melepas jilbab, aku ya nggak mau, tapi, jika aku bisa melawan godaan, pahalaku bisa nambah banyak, hehe, kayak main game aja ya”. “Tapi, hidup khan bukan game, nggak boleh dijadiin game”. “Dalam agamaku, menikah itu sunnah Rasul, tidak wajib, tapi sebaiknya dilakukan, dengan pernikahan, diharapkan kedua orang yang menikah, bisa menghasilkan keturunan yang akan meneruskan agama ini, begitulah kata ustadzku”. “Oh, begitu ya..”, dia tampak berfikir, karena kalah lagi dengan aku.
Awan dan aku, terpisahkan oleh keyakinan. Tapi, karena dia juga, aku mencoba lebih dekat dengan Tuhanku, nggak mau kalah dong sama Awan. Menggambarkan seorang Awan, aku akan bilang kalau dia itu orangnya ‘lucu’. Cute...and soft. Sejak kecil dia dibesarkan di Panti Asuhan, mungkin itu yang menyebabkan rasa kemanusiaan dalam dirinya tumbuh sedemikian besar. Dia terbiasa melakukan banyak hal seorang diri, berbagi dengan banyak orang dan begitu tegar. “Inilah hidup, diantara sedikit pilihan dalam hidupku, aku akan memilih yang sebaik mungkin yang aku bisa lakukan. Dia benar-benar seperti sebongkah awan di langit yang begitu cerah. Awan kecil yang begitu putih, bersih dan terlihat damai. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya disebut sebagai orang ‘kafir’. Bagiku, meski beda agama, Awan sangat baik, bisa dibilang dia tak pernah melakukan hal buruk yang merugikan sesamanya. Aku menyukai kisah Lady Di dan ibu Theresa, seperti aku menyukai kisah Maryam ataupun Khadijah. Aku merasa cocok bersahabat dengan siapapun, yang aku rasa memberi pengaruh positif padaku. Aku merasa bahagia bisa berbagi pengetahuan dengannya, entahlah... dia memberiku harapan, jika dunia ini bisa terasa begitu damai. Tapi, bukan berarti kami tidak pernah bertengkar, sifat keras kepalanya dan sifatku yang egois, terkadang membuat kami saling diam. Dia adalah pelayan Tuhan, dia sangat kolot dan tidak memiliki HP, jika aku merasa salahku keterlaluan, aku terpaksa menulis surat dan kutitipkan pada temanku. Tentu saja surat tidak seperti SMS, baru beberapa hari kemudian dia membalasnya, ah, begitu sederhana, tapi menyenangkan juga cara seperti itu. Dia dan aku, begitu berbeda, tapi aku yakin, Tuhan juga yang memberikan aku kesempatan untuk mengenalnya, jika aku menyukainya, itu karena dia orang yang baik. Tentu saja suatu khayalan jika ada cinta diantara kami, itu mustahil. Karena itu, aku benar-benar membiarkan jalan kehidupan kami berada di jalur persahabatan yang menyenangkan. Seperti Holmes dan Watson, seperti Krusnik dan Esther. Seperti Kudou dan Heiji. Meskipun, dia begitu menggoda karena tampangnya seperti malaikat, kadang, aku ingin tahu bagaimana tampangnya kalau kesal atau marah, apakah dia bisa memukul seseorang? Apa dia juga pernah mencintai seseorang? Bagaimanapun, bukankah dia manusia, manusia biasa...
My beloved one, if you become the ground, then I’ll become the cloud
I will fill you with the rain, which carries out all my feeling....
“Apa kau pernah jatuh cinta?”, Awan menatap lurus ke depan, memandangi pepohonan yang berada di bawah bukit, seolah mengabaikan pertanyaanku. Tapi dia mendengar pertanyaan itu dan tersenyum. “Tentu saja, aku mencintai Tuhan”. “Maksudku, apakah kau pernah jatuh cinta pada seorang gadis sebelumnya?”. Dia menegakkan tubuh jangkungnya yang semula bersandar pada pagar kayu. “Kurasa tidak, sejak kecil aku dibesarkan di panti asuhan, jarang ada perempuan di sana kecuali anak kecil dan biarawati. Tempat kami cukup terpencil dan jarang didatangi orang, jarang orang tertarik menengok anak panti asuhan yang kebanyakan cacat mental, mereka lebih sering berkunjung di panti yang ada di dekat kota. Sejak bayi aku ditinggal, aku, dibuang oleh orangtuaku di bukit kecil itu, kalau seorang pendeta tidak menemukan aku, mungkin aku sudah menjadi makanan anjing”. “Darimana kau tahu itu?”. “Saat umurku delapan belas, aku mendengar cerita itu dari bapak Pendeta, dia menasehatiku banyak hal, dia meyakinkan aku, orangtuaku pasti memiliki maksud tertentu melakukannya, semua telah berlalu dan aku tidak boleh membenci apapun yang mereka lakukan padaku”. Aku memandangnya, turut bersedih. “Mungkin itu sebabnya kau sulit mempercayai seseorang, berbagi perasaan hatimu pada seseorang, kau selalu memberi apa yang orang butuhkan, mendengarkan mereka, tapi kau tidak pernah membagi dirimu dengan orang lain”. Dia tertawa. “Ngawur, ah, sudahlah, pembicaraan kita semakin aneh saja, ayo, sebaiknya kita cepat ke panti, anak-anak sudah menunggu”. Aku membantunya membawakan kardus berisi selimut dan pakaian bekas yang disumbangkan oleh anak-anak dari kelompok sosial kampus.
Setelah kami menyerahkan semua barang kepada ibu panti, kami kembali berbincang di beranda depan, kebanyakan akan sudah tidur siang, suasana agak sepi. “Tampaknya ada yang meresahkan hatimu?”. Aku menimbang, untuk menjawab pertanyaan Awan. “Jangan-jangan kau sedang jatuh cinta? Wah, apakah cinta itu menyebalkan?”. Kupikir, curhat dengan seorang ‘malaikat’ yang setiap hari mengurusi panti dan berdoa dengan Tuhan dan nggak pernah ngerti dunia luar, membuatku aneh jika aku mengutarakan isi hatiku padanya, apa otaknya mampu mencerna?. Lagipula agama yang kami anut beda, apa dia tahu soal Hadist ataupun Poligami?. Tapi aku mencoba untuk mengurangi beban hatiku. “Sebenarnya, aku nggak ngerti apa itu cinta, aku sendiri belum pernah pacaran apalagi berfikir untuk menikah”, aku menerawang ke masa lalu. “Saat aku semester satu, aku menemui begitu banyak hal yang menyakitkan. Salah seorang temanku menggugurkan kandungannya di kamar mandi, seorang hampir bunuh diri saat ditinggal pacarnya, satu lagi hampir diperkosa pacarnya, begitu banyak hal buruk yang secara nggak langsung membuatku muak sama cowok”. “Tapi kulihat, kebanyakan sobatmu itu cowok”. “Mereka lain, kami tergabung dalam kelompok jurnalistik, ada dua orang dokter, dua orang hacker...yang salah satunya sering melakukan insider trading, seorang ekonom sepertiku dan yang paling manis, ada juga dua orang anak management yang baik hati, meskipun mereka lebih ahli dalam fotografi denganku, mereka baik sekali mau mengajarkanku tekhnik memotret”. “Apa kau tertarik dengan salah satu dari mereka?”. “Pada dasarnya mereka semua sahabat yang baik, sepertimu, dan aku tidak ingin menghancurkan persahabatan seperti itu hanya gara-gara cinta yang tidak pada tempatnya, kuakui, dua diantara mereka berwajah ‘lebih dari ganteng’, baik hati pula, dan yang membuatku merasa aneh, ada seorang dari anak-anak itu yang menjadikan aku partner bertengkar, kami akrab, seperti Tom and Jerry, sekilas aku merasa aku menyukai anak ini, tapi ternyata...”. aku memandang langit yang mulai kelam. “Apa Rie? Ceritakan saja, nggak baik menyimpan kegundahan dalam hatimu”. Aku memandang mata Awan yang teduh, begitu bisa dipercaya. “Aneh rasanya, aku seperti melakukan pengakuan dosa padamu”. “Anggap saja begitu, sepertinya kau tampak tertekan”.
“Aku, pernah menyukai seseorang, mungkin sampai sekarang aku menyukainya. Mulanya kami hanya kenal lewat SMS lalu aku bertemu dengannya beberapa kali. Saat tersadar jika aku menyukainya, tentu aku terkejut, bagaimana bisa?. Ternyata, saat kugali hatiku lebih jauh, aku sudah menyukainya sejak kecil, saat kami kanak-kanak, kami sebenarnya telah saling kenal, hingga jarak dan ruang memisahkan kami dalam jangka waktu yang cukup lama. Cukup lama hingga seharusnya aku sudah lupa akan perasaan yang tumbuh saat aku kanak-kanak. Kadang aku bertanya. “Tuhan, jika perasaan ini tidak boleh ada, kenapa aku bertemu dengannya setelah begitu lama?”.
“Kami sering berbincang, berbagi kesulitan dan beban yang kami rasakan. Dia sering menasehati aku dan seperti kita sekarang, kami sering bertukar pikiran dan aku menyukai gagasan dan nasehatnya. Lama sekali kami berhubungan. Tapi, seiring tugasnya yang banyak dan kesibukannya yang tak terbendung, dia jarang mengirim pesan atau mengirim e-mail, tak pernah ada lagi kabar darinya. Ketika aku kecil, terasa begitu mudah melupakan sahabat yang pergi dariku, tapi kali ini, berbulan-bulan aku memikirkannya, merana akan pertanyaanku yang tak pernah dia jawab dan merasa diriku yang tak bisa apa-apa ini sangat rendah di hadapannya. Dia memiliki banyak sekali teman yang baik dan cantik yang tentu saja tak bisa dibandingkan denganku. Aku tahu diri dan mengundurkan diri dari kehidupannya meski itu tidak mudah, sialnya, aku sering bertemu orang yang mirip dengannya, yang satu, anak yang sekelas denganku di kampus, dan menurutku, kau semakin mirip dengannya. Aku takut, jika suatu hari aku menikah, hatiku masih milik orang itu dan selalu membandingkan orang itu dengan suamiku. Seharusnya, seorang suami diatas segalanya, Suami itu di bawah Tuhan, yang harus dituruti dan dihormati. Aku terkadang ingin melupakan masa lalu dan menghilangkan ingatanku, tapi itu sangat sulit. Aku ingin berjalan ke depan dan tak lagi menoleh ke belakang, aku ingin kehidupanku sendiri”. Awan tersenyum, sedikit sedih. “Jangan begitu, Rie, bukankah hidup akan hampa tanpa kenangan, jangan pernah merasa sakit hati akan apapun, kamu lahir sendirian dan akan berpulang juga sendirian, apapun yang terjadi, kau harus terus melangkah dan menikmati segala rasa yang Tuhan berikan di hatimu. Nikmatilah kehidupan”. Aku merasakan, angin bertiup lembut. Aku mendambakan kehidupan yang tenang sebagai keluarga, seperti Muhammad SAW dan Khadijah, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, beruntung benar kedua wanita itu, dicintai suaminya sepenuh hati hingga ajal menjemput, banyak sekali Ikhwan yang bertanya tentang kesediaan poligami saat Ta’aruf dan memandang wanita yang menentang poligami sama saja wanita tamak yang tak menghargai ‘berkah’ yang dapat membuat mereka masuk surga. Awan pernah menanyakan tentang Polgami ini padaku dan bagaimana pendapatku. Dalam agamanya, satu orang berpasangan seumur hidup, ‘sampai maut memisahkan’ dan tidak diizinkan Poligami. Beberapa Ikhwan, mengatakan padaku, Poligami mencegah perzinaan, ya, menguntungkan bagi laki-laki, tapi tidak bagi perempuan. “Pada dasarnya, aku sih setuju pada suami yang ingin berpoligami, ingin meniru keadilan Nabi, tapi mereka harusnya ingat, Nabi Muhammad dan Ali memang melakukan Poligami, tapi sebelum berpoligami, mereka melakukan monogami, membahagiakan istri pertama mereka sampai akhir hayat. Jika lelaki dapat melakukan monogami dengan sempurna, dia dapat mencoba Poligami, itu menurutku, tapi yang kusaksikan akhir-akhir ini sungguh melukai perasaanku. Sepertinya perempuan dijejali pendapat tentang Poligami yang tidak menentramkan perasaan perempuan, beberapa hadist sungguh memojokkan kaum perempuan, aku tidak suka jika agama disalahgunakan untuk hal seperti ini, begitu menekan dan merugikan perempuan, padahal, jika ditelaah dengan benar, semua aturan itu seharusnya dibuat untuk lebih meringankan kami, para perempuan, sampai-sampai aku sempat punya pemikiran nggak ingin punya anak perempuan, takut anakku kelak dijadiin istri kedua atau kesekian...”. Cowok jangkung di sebelahku, tertawa melihat betapa manyun wajahku saat itu. “Serius banget sih, tapi, jika kau mengikhlaskan suami kamu berPoligami, kau bisa masuk surga, itu yang kudengar, ah, agama kamu unik ya”. “Setiap agama itu unik Wan, dan untung bagi kita, kita bisa saling menghargai satu sama lain, ehm, kalau aku di Poligami, bukannya masuk surga, mungkin aku udah nyari suami lan yang setia”. “Dasar cewek zaman Globalisasi!”. “Emansipasi wanita, tau!”. Awan semakin terkikik geli. “Ada-ada saja, nah, hari ini, lupakan cowok yang ada di pikiranmu dan semua beban yang ada di hatimu, sore ini ada pertunjukan di panti asuhan, pokoknya seru abis, aku yakin kamu bakalan suka!”.
Benar saja, sore harinya, saat melihat permainan biola Arbi (dia buta), beberapa anak-anak yang terbelakang pikirannya tapi pantang menyerah menyanyi, meski nada suaranya begitu aneh, tapi senyuman riang di wajah mereka menghapus semua itu. Lukisan Anna yang dia buat dengan kakinya (Anna tidak memiliki lengan), mendapat pujian dari para suster, si kecil Mauris yang bisu tapi mencoba ikutan nyanyi meski hanya ‘ah-uh—ah’, tapi semuanya terasa begitu menyenangkan. Keramahan mereka, meski kami beda agama, membuatku tak lagi merasa ada jarak diantara kami. Mereka menghormati keyakinanku, dan aku semakin yakin akan Agamaku karena perbedaan ini. Persahabatan antara aku dan pendeta berkacamata yang suka minum teh manis itu terus berlanjut.

You only think you understand, people cannot perfectly understand each other
They can’t even understand themselves,u nderstanding a hundred percent of anything is impossible
So, people endeavour to attempt to learn about themselves and others
That’s what makes life interesting…
Love has nothing to do with happiness, giving it or offering it is never enough...

Kamis, 10 September 2009

Your Guardian Angel ^^

Pengennya sih bikin Novel, tapi....jadinya malah...kayak-----------CUKILAN BUKU....habis, halaman sebelumnya lagi Direvisi, halaman selanjutnya masih dalam pemikiran dan belum dituangkan dalam tulisan, ada yang mau bantu????!!!!------judulnya aja blon tahu-----ada Usul??? Tapi mungkin THE LAST MESSAGES jadi judul yang bagus ya? ^^
September 2009
Bersandar di salah satu sisi pohon, pemuda itu melambaikan tangan,mengisyaratkan aku untuk mendekat. Dia memakai celana hitam gombrong, jacket biru tua dan topi hitam.
Dari jauh kulihat senyumnya yang mengembang, meski aku belum menatap matanya, aku yakin, matanya yang indah dan redup itu pasti juga memancarkan keindahan yang sama seperti senyumnya. Dan aku masih ingat kebiasaannya, meski dia terbungkus baju apapun, dia akan selalu memakai kaos putih. Putih adalah warna kesayangannya. Andai Tuhan memberinya sepasang sayap putih, dia akan menjadi dirinya yang kubayangkan. Malaikat.
“Lancarkah?. Melihat tampangmu kurasa kau tak tersesat kali ini...”. dia berjalan menghampiriku. “Tentu saja aku akan selalu megingat jalan ini, sudah dua tahun sejak saat itu, saat terakhir aku kesini untuk menemuimu”. “Yeah, tak ada yang berubah, beginilah Old Town...”. “Benarkah, apakah kamu juga tak berubah?”. “Seingatku, selain titel yang sudah aku dapatkan, tak ada yang berubah dalam hidupku”, dia memainkan kerikil dengan sandalnya. “Nggak juga, kurasa kau tambah tinggi, sudah jauh melampauiku”, aku mengulurkan tangan keatas dan membandingkan dengan tingginya. “Lihat, aku hanya sepundakmu sekarang”, lalu kulepas topinya. “Begini lebih baik, aku suka melihat matamu...dan rambutmu yang jabrik acak-acakan, apakah selama ini masih seperti ini”. Dia tertawa, giginya yang putih dan berbaris rapi dipamerkannya. “Hei, ini potongan rambut favoritku, dari SD juga aku sudah seperti ini”.
“Apa yang membawamu kesini?”, dia menatapku menyelidik. “Kangen sama kamu...”. “Tumben...kukira kau sudah lupa padaku”. Aku tertawa, orang ini memang nggak perlu tahu, betapa setiap detik aku selalu memikirkannya, bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja, meski aku jarang berkomunikasi dengannya, aku selalu menghawatirkannya, entah kenapa, mungkin karena dia sahabat terbaik yang kupunya, orang yang bisa mengerti aku dan kupercaya. “Archie...”, dia menyenggol lenganku. “Hmmm...”. “Kamu melamun...”. “Maaf. Akhir-akhir ini aku memang ada sedikit masalah, makanya aku ingin berlibur di sini, Old Town dan menghabiskan minggu terakhirku bersamamu”. “Minggu terakhir...”. “Ya, setelah itu aku bekerja lagi, ini minggu terakhir liburanku, Rayn...kamu nggak keberatan kan?”. “Well, selama kamu nggak bikin masalah sih oke aja”, dia mengacak rambutku...”Wah...lagi rontok nih...”, dia mengacungkan jari-jarinya yang terbelit rambutku, rontok. “Maaf...sudah seminggu aku nggak keramas...”, aku nyengir. Dia dengan senang hati menjitaki kepalaku.
“Fazrayndra Alvajendra...”, aku membaca nama yang tertera di kamar asramanya. “Titelmu belum kaucantumkan?”. “Mmm...nggak perlu...dari tampangku aja semua orang tahu aku ini orang hebat...”, Rayn nyengir. “Percaya deh, lagian kamu belum pantas pake itu”. Dia membuka pintu dengan kartunya dan mempersilahkan aku masuk. Masih sama, nggak ada satu barangpun yang dia geser, entah karena sibuk atau malas, tapi dia bukan orang yang malas. Tempat tidur di dekat jendela besar, dia suka dibangunkan oleh sinar matahari pagi, satu set komputer dan mikroskop,di sampingnya dan almari penuh buku yang tersusun rapi. Kamar putih itu tak dia tempeli gambar satupun, bahkan fotonya. Kulkas kecil dan almari pakaian di sisi yang lain, aku masih mengingatnya, cuman satu hal yang udah nggak ada, bekas bocoran hujan di sudut dekat rak sepatu, langit-langitnya sudah rapi dan bersih, dulu di pojok situ ditaruh ember.
“Sekarang kamu bisa cerita, kamu kesini mo ngapain, mumpung aku juga liburan, eh, mau minum apa?”. “Yoghurt, di lemari esmu selain itu cuman ada air putih kan?”. “Nggak juga, ada air kencing juga kok”. “What?”. “Suer...biasalah kerjaan...”. “Kerjaan atau kau sekarang jadi jorok?”. Dia cuman cemberut sambil mengangsurkan Yoghurt. “Cerewet, jawab dulu pertanyaanku!”. “Wah, marah nih?. Aku cuman pengen menjelajahi Old Town dan memotret beberapa bangunan tua, kamu kan kenal daerah ini, please, anter aku ya...”. “Upahnya apa?”. “Kuberikan seluruh jiwaku, ragaku, hidupku....wah, sesama teman dilarang nagih upah dong, aku lagi miskin nih...kamu kan sahabatku yang paling baik, please bantu aku mendanai hidupku selama aku disini, jangan malah minta duit...”. “Ssssh, siapa juga yang mau minta duit ke kamu...”. “Terus kamu maunya apa...”, aku menatap matanya, waspada, orang satu ini terkenal sangat kalem, tapi berbahaya, usilnya itu lho, nggak ketulungan. “eee...nggak sekarang, kalau tugasku sudah selesai aku baru minta upahku..”. “Oke deh...”, aku membongkar tasku. “Sialan, mana dompetku...”, aku mengaduk aduk tasku dengan cemas. “Kenapa Arc?”. “Dompetku...hilang...mati aku!”. “Wah...sudah kubilang, Terminal Old Town sangat berbahaya, semua penipu dan pencopet berkumpul di situ, kamu ini...terus gimana nih, kamu mau pulang?”. Aku merogoh sakuku. “Sialan, yang tersisa cuman bisa buat makan selama seminggu, aku pinjem uangmu buat pulang ya?”. “Terus kamu mau nginep di mana?, kamu nggak ada uang untuk ke Hotel kan?”. “Tenang, kan ada Phriska, Fakultasnya nggak jauh dari sini kan, aku bisa nginep di tempat dia...”. “Bego, semua mahasiswa sudah pulang, apalagi Fakultas Biologi, udah seminggu yang lalu pada mudik...”. “Terus aku musti gimana nih? Deadline tulisanku seminggu lagi, kalau bisa besok aku ambil fotonya, aku belum jadi pegawai tetap, aku bisa dipecat nih...”. “Salahmu sendiri, gimana kalau suruh orang tuamu transfer uang ke rekeningku?”. “Nggak bisa,mereka udah ngasih uang bulan ini, uang di tabungan atas namaku, sementara kartu ATMku ilang, ah, aku harus hubungi bank buat ngeblokir ATMku nih”.
Untung HP tersayangku nggak ikut hilang, benar-benar sial, tapi aku masih bisa bersyukur, yah, orang di depanku inilah yang mengajarkan padaku untuk selalu bersyukur pada Tuhan.
“Nginep di sini?”, baru kali ini aku melihat tampangnya selucu ini, seperti anak kecil mainannya mau direbut, sudah lama aku nggak liat tampang culunnya seperti sekarang. “Please, cuman kamu yang bisa aku andalkan!”. “Gila kamu! Kamu kan cewek...”. “Nggak ada yang bilang kalau aku ini cowok, hei, baru kali ini kamu menyadari kalau aku ini cewek ya...”. aku menepuk lengannya. “Arc, please, ini bukan waktunya bercanda...”. “Memang kenapa? Pelit amat sih?”. “Bukannya pelit, tapi kalau kita bermalam di suatu ruangan itu nggak baik...”. “Kenapa?”. “Kenapa? Karena aku cowok dan kamu itu cewek!”. “So?”. “Kalau kita masih SD nggak papa, tapi kita udah gede, bisa terjadi hal yang nggak diinginkan...”. “Contohnya....”. “Ya....kamu pikir aja sendiri...kamu udah gede”. Aku tertawa. “Rayn, kamu sahabatku kan?”. “Tentu saja”. “Yups, itulah kenapa aku percaya sama kamu, bertahun-tahun aku mengenalmu, kau selalu menjagaku, dan aku nggak pernah berfikir, satu kali saja kau bisa berbuat sesuatu yang membuatku jadi membencimu, tapi kalau kamu mengusirku sekarang, aku benar-benar akan membencimu, ini masalah pekerjaanku, hidupku, please...”. setelah diskusi yang melelahkan dia mengalah. Aku tahu, seumur hidupnya baru kali ini dia melanggar prinsipnya untukku. “Rayn..”. “Yeah...”. “Kalau kamu masih keberatan, kamu boleh cari kamar lain, mungkin masih ada temenmu di asrama ini yang nggak pulang, tau kamu nginep di ruang kelas atau laborat, kamu tidur di luar juga bisa...tuh di emperan....”. Rayn menjulurkan lidah. “Enak aja...”
Di antara semua barang kesayangannya, Cuma motor gede inilah yang berwarna hitam, waktu aku menyarankan untuk membeli yang berwarna perak, dia menolak. “Nggak keren, lebih bagus yang hitam...”, katanya waktu itu. Aku memboncengnya dengan kedua tanganku berpegangan di belakang, dia nggak pernah mau ada orang memeluk pinggangnya. Bahkan kalau aku bukan sahabatnya, mungkin dia nggak mau berboncengan denganku. Rayndra memang satu diantara seribu orang, alim abissss. Sholat lima waktu itu biasa, sholat malam selalu dia lakukan, puasa sunah nggak pernah terlewat dan dia seorang ikhwan. Percaya nggak, salaman sama cewek dia nggak pernah mau. Pertama kali bertemu, menyentuh tanganku aja dia ogah. Tapi dasar aku ini memang bersayap hitam, aku membuat suatu taruhan yang membuatnya mau bersalaman denganku kalau dia kalah. Benar saja, dia kalah dan sejak itu dia memperlakukanku seperti sahabat cowoknya yang lain. Tapi aku cukup menyesal juga, dia nggak hanya bersalaman saja, tapi berani menjitakku dan menjewer telingaku. Mungkin dia sudah menganggapku seperti saudaranya sendiri. Sebenarnya jauh di dasar hatiku aku cukup menyesal, bagaimanapun aku bukan muhrimnya, tapi aku sudah membuatnya menyentuhku. Sedikit banyak itu dosa...di dunia yang sudah tak mengenal arti kesopanan dan adat ini, mungkin ceritaku ini aneh bagi kalian. Cerita yang aneh dan tak dapat kalian mengerti. Tapi itulah Rayndra. Tuhan, maafkan aku...tapi jika ada jarak diantara kami, meskipun sebuah dinding kaca, aku benar-benar akan memecahkannya, karena dengan menyentuh jarinya aku bisa merasakan, inilah hidup, persahabatan dan senyuman.
“Hoi, bengong aja...kamu mau makan apa?”. Dia menyentil lenganku. “Oh, sorry...ayam bakar satu, tambah telor sama tempe bakar...minumnya es teh aja...”. “Dasar maruk, memang uangmu cukup?”. “Lho, kukira kau yang mau traktir...”, aku menatapnya memelas. “Yah, baiklah, beramal pada musafir kayak kamu emang nggak boleh tanggung, tapi minumnya teh hangat aja ya, nggak baik buat gigimu kalau minumnya dingin sementara makanannya panas...”. “Oke doc!”. Restoran yang sama dengan tiga tahun yang lalu, suasana suram Old Town terasa, tapi ada keramahan di sini, aku menyukai tempat ini, matahari senja menyinari tempat ini dengan sepenuh hati, cahaya tembaga yang indah, benar-benar Old Town yang kubayangkan. Hidangan telah tersedia, kami mulai makan. “Rayn...”. “Ya?”. “Apa kamu mengunyahnya sampai nasi itu terasa manis...”. “Nggak juga...itu cuman satu prinsip dasar aja, aku nggak benar-benar melakukannya”. Aku tertawa melihatnya tersenyum jahil seperti itu. Waktu aku pertama kesini, dia menyuruhku mengunyah makanan sampai 28 kali, katanya itu baik untuk kesehatan lambung, kalau kamu nggak dikejar waktu, itu oke aja, tapi kalau kamu harus ngejar Deadline, itu nggak baik untuk kesehatan, percayalah.
Kami kembali ke asrama hampir pukul sembilan malam, dia mengajakku menikmati malam di Old Town, kota ini memang tua, tapi nggak pernah mati, orang bilang, di sinilah pusat industri Neocity. Begitu gemerlap dan nggak ada matinya. Kota ini hidup 24 jam, seperti Hong Kong dan Vegas. Aku berharap untuk bisa hidup, sehari saja, terjaga selama 24 jam. Melihat hujan yang indah, Rayn yang indah. Kau tahu, saat kau melihatnya tersenyum, kau seolah melihat Angel tersenyum. Karena dia selalu tersenyum dengan hatinya. Tak ada garis kasar yang terlihat di wajahnya, seperti melody yang lembut, seolah di wajah itu tak pernah tersirat kekecewaan, tak pernah tertulis kemarahan. Bagaimana dia bisa selalu hidup dalam kesabaran dan senyuman?. Karena dia ingin mempersembahkan senyuman itu untuk Tuhan, begitu dia selalu berkata padaku. Dia hidup untuk banyak orang, begitulah cita-citanya, ingin memberikan senyuman bagi tiap orang yang ditemuinya. Kurasa itu gambaran yang tepat mengenai dirinya, karena aku hanya melihat warna putih itu.Rayn...
Hujan turun, seperti garis putih yang tersambung ke langit, mengalir dari jendela kamar. “Dingin?” Rayn mengangsurkan segelas kopi panas. “Nggak juga, aku sudah biasa berteman dengan hujan, Rain...”. “Hehe, benar juga, kau tahu kenapa ibuku suka sekali memanggilku Rayn, seperti mengucapkan Rain?. Baginya hujan adalah...”. “Kehidupan dan harapan, kehidupan yang langsung turun dari langit, air akan memberi kebahagiaan bagi tiap makhluk hidup. Sentuhan langsung tangan Tuhan...”. “Wow, kok kamu tahu?”. “Kau sudah pernah bilang padaku soal itu, tapi kalau kebanyakan hujan ya banjir....seperti Old Town, banjir kok langganan”. “Hei, itu karena ulah manusia, air mengalir ke tempat yang semestinya, manusia sendiri yang membuat banjir itu!”.
“Ya..ya..ya...aku selalu kalah kalau berdebat denganmu”, kulihat dia asyik mengamati langit yang hitam. “Kalau hujan berhenti, kau bisa lihat bintang,tapi aku sering tertidur lebih dahulu tanpa sempat melihat bintang dari jendela, tahu-tahu pagi tiba dan hangat mentari membangunkan aku”. Dia bangkit dari tempat tidur dan menatapku. “Kau tidur di sini, aku di lantai, ini cuman cukup buat satu orang, kalau kusuruh kau di lantai tentu nggak sopan kan?”. Lalu diambilnya kasur cadangan dari bawah tempat tidur. “Wah, berarti sering ada yang menginap di sini dong Rayn, hayooo ketahuan nih...”. “Husss, dasar wartawan gosip, ini buat temenku, cowok tentunya, baru kau cewek yang berani tidur satu atap sama aku, nggak tanggung lho kalau tengah malam nanti saat bulan menyinariku aku bakal jadi Manusia Serigala, haha...”. “Wah, tuan Serigala yang malang, belum tahu ya, aku ini juara Taekwondo se Distrik 23, kalau nggak mau gigimu patah, jauh-jauh deh dari aku...”. lalu makhluk satu itu menuju meja belajar dan membawa setumpuk buku. “Bruk”, ditaruhnya dekat kasurnya. “Tidurlah, aku masih harus belajar...maklum, orang sibuk”. “Rayn, maaf ya...”.”For what?”. “Membuatmu melanggar prinsipmu satu kali lagi, aku benar-benar teman yang jahat, aku selalu membuatmu gagal naik ke Surga...”. “Kok ngomongnya gitu?”. “Habis, aku selalu membuatmu melanggar larangan Tuhan”. Dia bangun dan memegang tanganku. “Dia tahu, aku di samping kamu sebagai sahabat, Dia tahu itu...”. “Terimakasih, tapi aku pernah berfikir, betapa jinaknya kamu sama aku mungkin karena hubungan kita di masa lalu sangat akrab, jangan-jangan aku ini seorang Ratu, dan kau pengawalku atau aku ini majikan dan kau pembantuku yang setia, hehe...”. dia langsung melempar tanganku. “Wah, enak banget ngomongnya, sudahlah, tidurlah adikku sayang, kakak akan menjagamu, itu mungkin hubungan yang benar...mungkin seperti itu...”.
Aku merebahkan diri, nyaman sekali, bener-bener ruangan yang hangat. Rayn asyik membaca bukunya, kalau dia pakai kacamata dan dahinya berkerut serius sepertinya aku melihat sosok yang berbeda, Rayn yang sudah dewasa. Dokter Rayndra. Benar-benar tak ada yang berubah, perasaan nyaman di hati ini saat bersama dia, hangatnya hatiku saat dia memegang tanganku dan mendengarnya bercerita. Seandainya aku masih punya banyak waktu, aku ingin selalu disampingnya. Tapi dia harus tetap melalui hari-harinya yang masih panjang. Mungkin suatu saat dia akan mencintai seseorang, memiliki istri dan anak, aku yakin anaknya pasti sangat manis dan serasa aku sudah melihat anak itu. Anak yang memiliki senyum yang sama dengannya.
-------------
Dia sudah tidurkah?. Apakah mimpinya indah?. Eidenill Archieva. Kau pikir aku tak tahu apa yang menimpa dirimu?. Kau sudah seperti jantungku. Sungguh sakit sekali rasanya mengetahui rahasiamu. Aku hampir tak bisa berdiri saat aku tahu apa yang menimpamu, meskipun belum terlihat Phitisis , aku yakin di paru-parumu ada sesuatu. Dan aku sudah mendapatkan diagnosis tentangmu. dr. Eira adalah sahabatku, dia sudah bilang semuanya.
Percuma aku belajar Physognomia, kalau aku nggak tahu kau sakit saat melihatmu tadi. Suhu tubuh dan warna wajahmu. Dasar bocah bengal, pura-pura tersenyum, aku tahu kau selalu menahan senyummu. Kalau saja kau tahu, rasanya hatiku teriris saat melihatmu seperti ini, kamu selalu sok kuat, seolah dunia bisa kau kalahkan. Seandainya aku bisa bilang, aku ingin kau tahu, bilang saja lelah saat kau merasa lelah, aku akan menemanimu. Archie, aku akan melakukan apapun untukmu, bertahanlah untukku, sebagai bayarannya.
Saat aku melihat wajahnya tertidur, aku takut, dia akan seperti ini selamanya. Tuhan, tolonglah dia. Sahabatku yang terbaik, dengan semangat yang membuatku bertahan sampai saat ini. Tidak, aku nggak boleh menangis di depan dia, dia pasti marah kalau melihatku menangis. Padahal menahan air mata itu sangat sulit, otakku seolah bisa mencair karena panasnya airmata yang kutahan, sakit sekali, kau tahu Archie?. Aku akan belajar, menemukan cara untuk membuatmu bertahan...
---------
Jam berapa ini?. Aku bangun dan mendapati Rayn tertidur. Wah, menjelang pagi rupanya, bulan bersinar terang, lampu sudah dimatikan, tapi aku masih dapat melihat wajahnya, terimakasih Bulan!. Dia manis sekali kalau tidur. Pasti dia lelah, gara-gara aku. Tuhan, maafkanlah dia untuk setiap kesalahan yang dia lakukan gara-gara aku, catat dosa itu di bahuku saja, aku mohon. Berikan kehidupan yang menyenangkan, semoga dia mendapat seseorang yang mengerti dia, mencintai dia dan semoga kehidupan yang menyenangkan menantinya. Dia sudah membuatku bertahan untuk tidak menangis sejauh ini, dan aku bisa menerima keadaanku.
-----
“Hoiii, bangun...”, bahuku ditepuk keras banget. “Heee, sakit tau!”. Rayn nyengir. “Habis kau tidur kayak orang mati, sayangnya dengkuranmu keras banget...jadi aku tahu kau masih hidup, eh, kau ini benar-benar kafir ya, nggak sholat subuh apa?. Kalau nggak berjilbab aku bisa maklum, tapi kalau kau ogah sholat, kau bakal kuusir!”. “Maaf ya...”, aku bangun dan membongkar tasku. “Untung mukenaku masih ada, kalau nggak aku pinjam peci dan sarungmu Rayn”, aku nyengir. “Kemarin aku baru dapet...tadi malem kan aku dah keramas, jadi sekarang bisa subuhan, kau imamnya ya...biar pahalanya banyak, aku nggak mau di hidupku yang singkat ini aku nambah dosa...”. “Wah, baru nyadar kalau hidup manusia itu singkat ya...”, goda Rayn. Sholat bareng, Tuhan, catat ini sebagai sesuatu yang baik ya, dengan alunan suaranya yang jernih mengalun, aku seolah mendengar nyanyian indah yang memujiMu, seolah aku menjadi sangat dekat denganMu. Aku menjadi nggak takut lagi kalau besok Kau panggil aku. Selama ini aku merasa takut, mati itu seperti apa sih?. Apa sakit?. Tapi semua akan mengalami itu, bukan?. Semua orang akan mati dan aku nggak boleh menangis lagi. Siapa tahu kalau umurku panjang, dosaku tambah banyak dan aku nggak bisa masuk surga.
Mungkin ada bagusnya kalau tahu sebentar lagi kau akan mati, kau jadi takut berbuat dosa. Dan kau akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal terbaik yang kau bisa. Kau akan melihat dunia sebagai sesuatu yang berbeda. Kau menikmati harum udara di pagi hari, bau segar rumput yang kau injak dan warna cerah bunga-bunga yang mekar. Aku harap aku bisa menikmatinya di tempat yang bernama Surga, semoga saja aku bisa masuk ke sana. Aku bayangkan, ada rumput ilalang panjang yang memenuhi lapangan luas, langit begitu cerah dan nun jauh di sana ada rumah kayu yang hangat. Rumah yang bisa kutuju, karena di sana ada kebahagiaan. Itu surga yang kubayangkan.
“Kau mau ke mana pagi ini?”, Rayn mengangsurkan sebuah buku. “Ini tempat-tempat yang bisa kau tuju di Old Town...atau kau ingin ke pantai?. Di sana sangat indah...”. “Ya...tapi sebelum memotret tempat-tempat indah itu, aku ingin ke salon..”. “Kenapa? Kau kan sudah jelek, percuma pakai make-up, tetap jelek kok..”. “Heee...aku tahu kalau aku jelek, tapi jangan ngomong gitu...kau juga jelek kok, aku cuman ingin potong rambut”. Rayn terlihat aneh, belum pernah kulihat wajahnya suram begitu. “Ah, sayang sekali...”, dibelainya rambutku. “Panjang, hitam, indah...”, gumamnya. “kalau kau pingin, panjangkan sendiri rambutmu..”. “Boleh aku tahu...?”, “Apa?”, “Alasan kau ingin memotongnya?”.
“Bosan, aku bosan punya rambut panjang, lagian udah sering rontok. Lagian kalau rambutku seperti kamu...wah...tinggal pakai slayer dan topi aja udah kayak pakai jilbab ya...”. “Alasan yang nggak masuk akal....”. “Pokoknya aku bosan aja, lagian repot ngurus rambut panjang, aku iri sama kamu...nggak perlu repot, tinggal sisir pake jari aja...jabrik deh...hehe...”. “Nggak lucu....”. motor hitam itu berhenti di sebuah salon. “Rayn...jangan cemberut terus dong....”,lalu aku masuk ke salon bersamanya. “Mbak, please potong kayak orang ini”, aku menunjuk cowok manis yang ternganga heran di sampingku. “Hei...hei, nggak sayang tuh?”. “Diam ajalah, kalau aku kelak jadi wartawan, aku memang harus berambut pendek”. “Alasan aja kamu...”. “Suer!, kata Pak Thomas tugas pertamaku ke Afghanistan lho”. “Oh ya?”. “Begitulah!”.
“Hampir setengah meter lho”, aku mengacungkan hasil potonganku. Dia terlihat geli. “Ih, mau kauapakan?”. “Ceburin ke laut”, kataku. Setelah meminta sebuah kantung plastik dan membungkus rambutku, kusuruh dia membayar ke kasir. “Rayn, aku tunggu di depan ya...”. “Dasar, kamu emang suka bikin bangkrut!”. “Potong rambut nggak masuk anggaranku, Rayn sayang...”.
“Nah, pergilah dulu...”, bisikku sambil menebarkan rambutku ke pantai. “Emang kamu mo nyusul...”, bisik Rayn. “Apa maksudmu?”, aku ganti memandangnya. Ups, aku lupa, orang ini sangat-sangat...”Hehe...susul sekarang aja...”, dia mendorongku hingga jatuh mencium pasir. Dia sangat jahil, aku baru ingat!. Bocah satu ini tampangnya aja yang alim, tapi jahilnya itu lho...
“Sialaaaan!”, kukejar dia, bukan Archie kalau nggak bisa melemparnya ke pantai!. Dia tertawa mengejek sambil berlari kecil. Kutangkap kakinya, tersandung deh. “Cium tuh pasir...emang enak?”. Rayn mencoba berdiri tapi segera kubenamkan lagi ke pasir. “Aduuuh, ampun mak!”. “Makanya, jangan remehin aku yach...”. “Aduh, kurus-kurus begitu energimu lumayan juga ya?”. Aku tertawa, tapi lama-lama paru-paruku terasa panas dan akupun terbatuk. Sakit sekali. Ya Tuhan, kenapa di saat seperti ini...”Hei...”, Rayn menyipit dan memandangku. “Arc...are you okey”. “I’m fine...”, aku tak berani menatapnya. Rayn memegang tanganku penuh selidik. “Sudah kuduga...”. “Apa...”. “Denyut nadimu...kamu sakit Arc”. Aku mencoba tersenyum tapi sulit sekali. “Sudahlah, kalau mau nangis, nangis aja, sakit kan kalau ditahan terus...”, dia meraih kepalaku. Menangis di dadanya, melepas segala rasa yang memberatkan hatiku...akhirnya aku bisa menangis.
Rayn membelikanku sebuah kaos. “Kalau basah gitu, kau bisa tambah sakit...”. lalu kami pulang melewati bukit dan memandangi pantai yang ada di bawah sana. Dia membawaku duduk sejenak dan membuatku banyak bercerita. “Kenapa kamu ngerasa sendiri, banyak orang sayang sama kamu”, nasihatnya terdengar hampa di telingaku. “You don’t know me”. “I know all ‘bout you, kamu termasuk orang yang nggak bisa percaya sama orang dengan mudah, tapi bukan berarti kamu nggak percaya siapapun kan?”. “Ya, paling nggak aku bisa percaya sama kamu”. “Baguslah, bersemangatlah, seperti selama ini kamu membuatku bersemangat untuk menjalani hidupku”. “Wah, kadang sulit, kalau kamu tahu sebentar lagi kamu mati”. Dia tertawa. “Hei, kamunya aja yang cengeng, sudah kubilang, kita nggak boleh menyerah begitu saja”. “Kita?. Ini masalahku, Rayn!”. “Menyelamatkanmu...”.“Apa?”. Dia menatapku.
“Menyelamatkanmu...kalau kau percaya pada Tuhan, aku pasti bisa berusaha...”. “Sudahlah”.Rayn mengguncang lenganku dan menatapku dalam. “Hei, tunjukkan Archie yang pemberani itu, Archie yang tegar, nggak mudah menyerah dan percaya harapan selalu ada”. “Meskipun harapan itu kosong?”. “Sesungguhnya setiap harapan itu adalah kekosongan, Archie, tergantung bagaimana kita mengisinya”. “Rayn yang baik, terimakasih, tapi aku sudah nggak punya planning ke depan, aku cuman pengen lihat kamu bahagia sobat, baru aku mati dengan tenang”. Rayn nyengir. “Dasar bego, kalau aku ngomong aku bakal nyelametin kamu, aku nggak bohong, aku juga nggak bisa bahagia kalau kamu nggak ada...”. “Oh ya...”, aku penasaran dan memandang wajahnya. “How sweet...hei, jangan bilang kamu nangis kalau aku mati...”, dia memalingkan wajahnya, tapi aku jadi penasaran. “Tentu saja sedih, nggak ada lagi yang bisa kujahilin dan kamu kan masih punya utang sama aku, kalau belum kau bayar kamu bisa masuk neraka, jadi jangan mati dulu ya....”. sialaaaan...”kukira dia mencemaskan aku.
“Walau badai menghadang...”, aku bersenandung riang. Paling enggak, aku punya sahabat yang baik, dia memang seseorang yang berarti buatku, sangat berarti.
“Apa kau pernah jatuh cinta?”. Di lorong bangunan tua yang menyeramkan ini dia malah bertanya yang aneh-aneh. Aku memfokuskan diri memotret objek yang harus kuambil. “Entahlah...duapuluh tujuh tahun aku hidup, belum ada yang bisa cocok, lagipula masa depanku masih suram, lain dengan kamu”. Tembok tua yang terbentang di bangunan ini membuatku merinding. Ratusan tahun yang lalu bangunan ini pasti sangat ramai dan dihuni keluarga besar yang bahagia, sekarang jadi objek wisata kuno yang terkadang terselip berita mengenai keangkerannya. “Apa nggak kepikir menikah?”. “Aku nggak tertarik, setiap cowok yang aku kenal nggak punya komitmen, cuman kamu yang bisa bikin aku percaya kalau komitmen bisa dipenuhi seorang pria, jarang ada cowok kayak kamu”. Aku memandangnya dengan jujur. “Kau tahu, kamu satu-satunya orang yang kukenal, selain ayahku, yang bisa memegang prnsip hidup. Sekali kau berjalan ke utara, kau pasti terus melangkah, tak perduli badai seperti apapun...kalau aku punya cowok seperti kamu, mungkin aku sudah menikah, sudahlah, kita ganti topik aja...”. dia mengerdikkan bahu. “Eh, Arc, kau dengar itu nggak...”. “Apa?”. “Suara perempuan nangis....”. aku langsung blingsatan dan mencari jalan keluar, lari....
“Sialaaan...kapan sifat jelekmu hilang sih...”, gerutuku. “Ya maaf, katanya suruh ganti topik”. “Tapi jangan ngagetin aku, bego!”. “Yeee, katanya siap mati, tapi sama hantu aja takut”. Dia nyengir usil, dasar bego!. Tapi bangunan tua itu benar-benar menyeramkan. Aku berjalan cepat menyusuri rumput yang tinggi, dulu mungkin ini kebun yang indah, tapi sekarang seperti sarang hantu. “Arc...gimana kalau kita nikah aja...”. aku memandang Rayn. “Hiiii....bangunan ini serem ya...kamu aja sampai kesurupan gitu...Rayn...kamu kenapa sih, jadi aneh....”.dia berdiri mematung, aku jadi cemas. “Aku serius, kita nikah yuk!”. “Hei, kamu ngomong mo nikah gitu enteng banget, kayak mo ngajak beli kacang goreng aja. Pikir dong, sebentar lagi aku mati nih, jangan tambah ruwet lagi pikiranku Rayn”. “Ah, hidup mati di tangan Tuhan, aku tahu kamu sakit, tapi siapa tahu lho kalau aku yang mati duluan...”. dia menjajari langkahku, brengsek, apa dia nggak mikir, jantungku berdetak dua kali lebih cepat dan mungkin mukaku udah kayak udang rebus sekarang. “Rayn, jangan mengasihaniku, aku ini sahabatmu yang butuh pertolongan, tapi nggak usah sejauh itu. Aku tahu, kamu menyukai seseorang, kakak kelasmu yang manis dan berjilbab itu kan?. Dia orang yang baik, aku tahu pilihanmu takkan pernah salah. Aku harap kamu bahagia, jadilah suami yang baik, ayah yang baik, aku akan tenang memandangmu dari surga”. Rayn malah tertawa. “Klise banget Arc, itu mah cerita sinetron...Arc, please tatap mataku”, lagi-lagi matanya yang kelam dan teduh menatapku tajam. “Kamu mencintai aku kan!”. “Itu bukan pertanyaan Rayn, itu pernyataan, hei, lepasin aku”. Percuma aku memberontak, mataku nggak bisa berbohong di depannya. “Rayn, please, jangan memaksaku”. “Aku tahu kamu mencintai aku, sudahlah, kamu bakalan menyesal kalau menolak hatiku, ayolah Archie...jangan membohongi perasaanmu sendiri, bukankah itu sakit?”.
Aku mendorongnya. “Terus kenapa?. Apakah salah aku mencintai kamu?. Tapi bukan berarti kamu boleh bongkar hati aku seenakmu begitu...dan aku nggak bakalan mau nikah atas dasar rasa kasihanmu. Kamu mencintai Rasya dan aku nggak boleh egois...”. aku memeluknya. “Kamu sahabat yang baik Rayn, terlalu baik, jangan lebih berkorban untukku, atau aku nggak bisa masuk surga”. Dia malah menunduk dan menangis. Aku baru kali ini melihatnya sangat rapuh. “Gimana caranya...Arc, aku cinta kamu...gimana caranya supaya kamu percaya...”. “Tapi..Rasya...”. “Aku hanya mengaguminya, aku baru menyadari, betapa beratnya saat aku tahu kamu bakalan pergi dan kita nggak bisa ketemu lagi, aku nggak bisa kehilangan kamu, setelah selama ini kamu memberi banyak hal pada hidupku. Maafkan aku, aku baru menyadari itu, tapi ini benar-benar rasa yang ada di hatiku, justru aku yang mohon belas kasihanmu, berikanlah waktumu...lewati hari-harimu yang tersisa hanya bersamaku saja...kumohon...”. aku membuka topiku, rambutku sudah sama cepaknya dengan rambut Rayn. “Tatap aku sobat, aku sakit, sekarat...lihatlah mayat hidup di depanmu ini, kamu mau menikah dengan orang seperti ini?. Kumohon, tarik ucapanmu...”. Rayn berdiri dan merogoh sakunya. “Kamu sudah berjanji, saat aku melakukan semua hal yang kamu mau, kamu akan mengabulkan satu permintaanku...itu masih berlaku kan?”. Lalu dipasangnya cincin itu di jariku. “Itu mahal, kalau kau menolaknya, hutangmu tambah banyak sama aku...”. lalu tanpa menunggu jawabanku dia mengandeng aku keluar, menuju motornya.
---------


September 2029
Fazra memandangi foto orang tuanya yang tersenyum manis. Dia merasa sendirian, seperti Harry Potter. Bahkan dia tak bisa mengingat kedua orangtuanya. “Harry, kenapa kita sama, andai aku punya kekuatan sihir sedikit saja”. Dia memegangi pelipisnya, ada luka di sana. Luka yang ditorehkan kecelakaan itu dan membuatnya tak bisa mengingat apapun, dia tak tahu siapa dirinya seandainya tak ada Diary ibunya.
Hanya ada beberapa halaman yang tersisa, kenangan ibunya bersama ayahnya. Dan namanya. Eidenill Fazrayn. Dia hanya tahu, setelah keluar dari rumah sakit, paman yang aneh itu menyuruhnya untuk melupakan semuanya, dia hanya tahu orangtuanya meninggal dalam kecelakaan itu. Dan dia bahkan nggak bisa mengenali rumahnya. Paman Eric bahkan langsung berniat mengajaknya tinggal bersamanya. Fazra hanya bisa menangis. Apa lagi yang bisa dilakukan anak berumur delapan tahun?. Dan sehari sebelum kepindahannya, saat dia menangis sendiri dan kedinginan di loteng, dia menemukan buku harian dan sebuah foto. Kata paman Eric itu foto orangtuanya waktu ayahnya kuliah di Westside. Lalu dia bilang, nggak apa-apa kalau Fazra ingin menyimpan buku itu, karena itu buku yang bisa membuat Fazra tahu, siapa dirinya meskipun dia tak bisa mengingat apapun. Meski buku itu kusam dan robek di sana-sini, Fazra masih bisa membacanya. Banyak bagian yang hilang dan rusak. Di lembar-lembar akhir dia tersenyum, paling tidak, cerita di buku ini berakhir bahagia. Ada foto kedua orangtuanya yang tersenyum, menggendongnya saat bayi.
------------
“Aku tak pernah menyangka, aku bisa bahagia, meski rasa sakit itu selalu ada. Tapi rasa sakit itu teredam oleh kehadiranmu. Kami menamaimu Eidenill Fazrayn. Namaku dan nama ayahmu. Aku sangat bahagia bisa memilikimu, aku yakin suatu saat kau sama hebatnya dengan ayahmu. Kaulah kebanggaan kami”.

-------
“Hai Faz, ngelamun aja, eh apa itu”. Aaliya mendekat ingin tahu. “Oh, hanya buku tua, sudah kubilang, kalau masuk kamarku ketuk dulu pintunya, bikin kaget saja”. “Maaf, habis kamu melamun terus, sehabis ketemu cowok aneh yang menabrak kamu di lorong rumah sakit kemarin...”. Fazra menyimpan buku itu di laci setelah menyelipkan fotonya. “Ada apa kau nyari aku?”. “Oh, cuman pengen ngajak jalan...seharusnya kita kan liburan kalau aja nggak ikutan kelas tambahan, ayolah Faz, kita butuh hiburan kan?”. “Kemana?”. “Old Town saja, kita nggak bisa lebih jauh dari Westside, gara-gara peraturan untuk kembali sebelum pukul sembilan malam itu”. Fazra mengeridikkan bahu setuju meski agak malas. Tapi karena Aaliya adalah putri paman Eric yang selama ini mengasuhnya, dia harus mematuhi perintah Aaliya. Nggak lama mobil biru metalik Fazra melaju meninggalkan Westside. Aaliya mengajaknya menyusuri Square Quest, salah satu hypermarket termegah di Old Town setelah SellWell. Sebenarnya Fazra nggak terlalu suka, dia sangat benci keramaian, lebih enak menyepi di kamarnya dan membaca atau bermain dengan laptopnya. “Masih mau belanja?”, tanya Fazra, Aaliya mengangguk,”Iya, beberapa baju…”. “Sendiri aja ya, aku mau beli beberapa kaset?”. “Yah, aku kan butuh komentar kamu, rencananya baju itu mau aku pakai ke pesta Rika besok, kan datengnya sama kamu, biar kita matching…”. “Aku pakai setelan hitam, lagian pakai apapun kamu cocok, udah ya, waktu kita sejam lagi”. “Oke deh…”. Fazra menghela nafas lega, dia paling nggak suka mengantar Aaliya beli baju, ah, sudahlah, dicobanya berkonsentrasi, kepalanya sangat pening. Dia segera masuk ke sebuah toko kaset dan mencari CD Evxes Azta, instrumennya kalem dan misterius,seperti Kenny G, akustik beberapa lagu lawas yang masih menarik untuk didengar, apalagi di suasana seperti Old Town. Saat asyik memilih, seseorang menyapanya. “Wah, suka Evxes juga ya…sama…”, cowok bertopi army look itu tersenyum. “ Oh, lumayan…eh, kamu...kayaknya aku pernah lihat...”. cowok itu mengerdik. “Yah, kita sempat tabrakan waktu di Westside”. “Kamu adiknya Aidan?”. “He-eh, lihat-lihat Westside, kuliah di situ kayaknya enak…bukankah begitu?”. Fazra tak menjawab. Cowok itu seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi urung, langkahnya surut ke belakang. “Bye Fazra…”. Fazra menoleh ke arah cowok itu memandang, Aaliya tampak kepayahan dengan belanjaannya. “Faz, bantuin aku dong…”. Fazra menghampiri Aaliya, saat mengedarkan pandangan, cowok itu sudah nggak terlihat.
“Siapa dia?”. Fazra memejamkan mata, di kamarnya yang bersuasana biru-putih itu, dia memikirkan perjumpaannya dengan si cowok misterius. “Seolah aku pernah melihatnya di suatu tempat, apa karena dia mirip Aidan?. Mungkin, karena dia mirip Aidan”. Lalu sekilas terlintas bayangan seorang gadis kecil menangis. Fazra merasa kepalanya pening. “Ah, sudahlah”, gerutunya. Ingatannya sampai umur delapan tahun hilang, dan dia nggak ingin mengingat. Mengingatnya sama saja mengingat hari kematian orangtuanya. Lalu dia mencoba untuk tidur, berharap melihat senyum kedua orangtuanya dalam mimpi. “I miss you mom, dad…miss you so much…”.
----
“Apa kau pernah jatuh cinta?”. Tifa menatap boneka beruang berjas putih di pelukannya. “Rasanya sangat indah, tapi sedih…saat orang yang kita sayangi tak ingat sama kita, lupa akan setiap kenangan saat bersama, rasanya sedih. Tapi, apapun yang terjadi, dia tetap Fazra yang kusayangi. Sama seperti Fazra yang dulu, buatku dia masih tetap sosok yang sama. Kenangan itu, walau sepahit apapun, nggak boleh dilupakan”. Lalu ditaruhnya boneka beruang putih itu di atas bantalnya. Tak lama dia tertidur. Kedua kakaknya diam-diam memandangnya dengan sedih. “Apa perlu kupukul kepala bocah sialan itu supaya dia ingat?”, gerutu Ardan. “Hush, sudahlah, kalau jodoh, mau kayak apa juga, pasti mereka bakal bertemu, lagipula waktu masih sangat panjang”.
Sementara Ardan dan Aidan sibuk dengan urusannya masing-masing, Tifa lebih memilih berjalan-jalan di taman. Mawar sedang mekar dan udara pagi begitu segar, dibacanya beberapa buku cerita milik Ardan. Kebanyakan Science Fiction, waktu kecil kedua kakaknya sangat tergila-gila pada Gundam dan Monsters, banyak sekali koleksi robot mereka. Tentu saja untuk dibongkar pasang sampai-sampai ayah mereka ikut larut mencermati ulah keduanya dan tertarik membongkar pasang mainan itu. “Hai”. Seorang pemuda berkaos putih dan berkacamata duduk di sampingnya. Fazra. “Sendirian?”. Tifa mengangguk. “Kamu sendiri, nggak kuliah?”. “Ini hari minggu”. “Wah, aku sampai lupa hari, kamu lagi ngapain?”. “Habis jogging, gitulah kalau ada waktu, biasanya istirahat di sini”. Lalu Fazra menoleh ke belakang, ada penjual makanan di sana. “Roti bakar sama susu kental ya pak, eh, kamu mau nggak?”, tawarnya, Tifa mengangguk. “Dua, pak!”. Fazra tersenyum, begitu manis hingga Tifa merasa sedih, mengingat masa kecil mereka. “Kamu adiknya kak Aidan?”. “Kok tahu?”. “Kalian lumayan mirip, mau ujian masuk ke Westside?”. “Begitulah...”, Tifa terpaksa berbohong. “Jadi, kamu di sini sedang melihat-lihat suasana Westside ya? mau ambil jurusan seperti Aidan?”. “Nggak juga, aku ingin masuk Ilmu Komputer, sepertinya jurusan yang diambil kakakku tidak terlalu menyenangkan”. “Jadi dokter itu cukup menyenangkan”. “Sayangnya, aku takut melihat darah, cukup ayahku dan kakakku saja yang jadi dokter, aku tidak tertarik”, kata cowok itu pelan. Fazra mengerdikkan bahu, lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
Tifa nggak tahu mesti ngomong apa, tiba-tiba Fazra mengulur tangannya. “Fazra…”. “Ti…eh…Noir…”. Fazra mengernyit sejenak. “Noir?”. “Black, yeah, aku lahir saat gerhana bulan…”. “Oh, kukira namamu nggak jauh beda sama kakakmu, ternyata jauh ya…”. “Begitulah, ngomong-ngomong, kamu dah lama tinggal di sini?’. Fazra mengerdik. “Cukupan lah, lima tahun ada”. “Wah, berarti kamu bisa nunjukin ke aku bangunan terkenal di Westside?”. Fazra mengernyit. Teringat dialog ayah dan ibunya di buku kenangan itu. “Faz…kamu kenapa?”. “Oh, nggak, aku jarang keluar Westside, aku nggak terlalu suka jalan-jalan”. “Mmm, gitu ya…aku cuman baca buku sejarah kota ini, kayaknya banyak hal menarik”. Noir menunjukkan buku lama bersampul tebal karya Eidenill Archieva, dia memang sengaja selalu membawa buku itu. Mungkin Fazra bisa mengingat sesuatu dari buku karya ibunya itu. Fazra bertambah pucat. “Beautiful Old Town”, bisiknya. Dibukanya halaman pertama, “For my husband and my lovely son…”, sayangnya nggak dia sebutkan namanya, dan gambar kota tua belasan tahun lalu terpampang indah. “Aku pengen memotret beberapa diantaranya, sayang, kedua kakakku terlalu sibuk, aku sih pengen ke sana siang ini sendiri, tapi kalau kamu ada waktu luang, anterin dong friend, aku ini payah kalau menghafal jalan, lagipula jalanan di Old Town begitu ruwet”, Noir tertawa. Fazra memaksa tersenyum. “Yah, hari ini kebetulan kuliah tambahan dibatalkan, jadi seharian aku free, pakai mobilku aja”. “Wah, makasih…”. Mata Noir berbinar menatap Fazra, yang ditatap merasa jengah. “Kenapa Faz?”. “Lama-lama kamu kayak anak perempuan”, Noir tersentak. “Aku ini meski wajahku begini, aku laki-laki, mau bukti?”, teriaknya sambil memegang ritsleting celana jeansnya. Fazra nyengir. “Sorry man, iya deh, kamu laki-laki”. “Satu hal Faz, kamu boleh ngatain aku apa aja, asal jangan ngatain aku banci, gini-gini aku pernah ikutan Taexwondo sampai ban item”. “Oh ya?”, Fazra jadi teringat ibunya, kenapa cowok ini malah mengingatkannya pada ibunya?. Diam-diam Tifa alias Noir menghela nafas lega, penyamarannya nggak boleh terbongkar. Meski dia harus menjadi lelaki, asalkan selalu bisa dekat dengan Fazra, dia akan melakukannya.
Pertama mereka menikmati keindahan Red Phoenix, bangunan antik seperti pagoda menjulang tinggi dikelilingi asrinya pepohonan maple, suasana di sini seperti berada di Jepang atau Korea, sangat sejuk dan indah. Setelah puas memotret bangunan tua itu dan melihat-lihat sekeliling, mereka menuju Kastil tua White Castle, bangunan tua dengan seribu pintu itu terlihat megah dan menyeramkan, itulah uniknya bangunan ini, hawa mistisnya begitu terasa. Fazra sejenak mematung, ini pertama kalinya dia ke sini, dia merasa, nggak perlu menelusuri perjalanan orang tuanya karena terasa menyedihkan, tapi ternyata tidak. Memang ada rasa haru, tapi ada sepercik kehangatan menelusup di hatinya. “Kamu kenapa?”, Noir menatap Fazra yang mematung di lorong. “Di tempat ini…ayahku melamar ibuku…”. “Oh ya?”, Noir hampir saja bertanya, kok Fazra bisa ingat hal itu?. “Sebenarnya, waktu kecil aku dan orangtuaku mengalami kecelakaan, mereka meninggal dan aku kehilangan ingatanku sampai umur delapan tahun, catatan harian ibuku yang membuatku mengetahui sebagian diriku yang sekarang”. Noir terbelalak, jadi itu, yang membuat Fazra nggak ingat siapa dirinya. “Lho, kok kamu nangis”, Fazra tersenyum menatap Noir, tak sadar tangannya menghapus airmata yang mengalir di pipi Noir. Lama keduanya saling menatap, “Kamu seperti anak perempuan…”.Fazra mengalihkan pandangannya. Noir nggak bisa berkata apa-apa selain melangkah keluar dari situ. “Kalau kau bilang aku ini banci, kubunuh kau…”. “Iya deh, maaf”.
Noir menatap Fazra sedih. Sahabat baikku, andai kau tahu aku ini perempuan dan aku mencintaimu, apakah kamu akan tetap sama seperti ini?. Apakah suatu saat dia akan tahu?. Aku selalu menyayanginya?. Dan dia selalu hadir dalam mimpiku?. Melihatnya tertawa lepas seperti ini, membuat Noir merasa lega. “Noir, kenapa ya, perasaanku merasa, kita seperti sudah kenal lama?”. “Mungkin, dulu…kita adalah sahabat dan reinkarnasi yang entah ke berapa ini, kita sahabatan lagi deh…”. “Ada-ada saja kau ini, lapar nggak?”. “Iya nih, lumpia ya, kamu yang bayar”. “Lho, harusnya gantian, kamu yang traktir aku”. “Baiklah, baiklah…sebagai pengganti uang bensin, dan terimakasih sudah mengantarkan aku berputar keliling Old Town, benar-benar pengalaman yang nggak bisa kulupakan”. “Aku minta hasil fotomu dong”. “Boleh…besok aku copykan, well, ayo makaaaan!”.
Hampir petang mereka baru sampai ke Westside. Bersama-sama mereka menuju asrama sambil bersendau-gurau. “Makasih Faz, kapan-kapan gantian aku yang jadi guide kalau kamu main ke Eastside. “Sama-sama, aku akan tagih janjimu”. Di lorong, seorang gadis cantik berwajah masam menunggu. “Faz, dari mana saja sih?. Aku nunggu kamu dari tadi, aku telpon, HP kamu nggak aktif”. “Main, lagian kita kan nggak ada janji hari ini”, jawab Fazra santai. “Iya sih, tapi ada soal yang aku nggak ngerti”. “Kita ke perpus aja”. “Memang di kamarmu aja kenapa?”. “Kotor”. Fazra merasa kesal, tapi Aaliya sepertinya nggak perduli. “Aku duluan ya…”, Noir melambai. Dia nggak berminat melihat pertengkaran pasangan itu. Tak sadar, dia merasa kesal, apa ini yang namanya cemburu?. Whatever, pokoknya rasanya nggak mengenakkan. Noir pun berlalu meninggalkan dua orang itu.
“Gimana kalau ntar malem aja?”. “Jangan, kita harus menyusun rencana serinci mungkin, jangan sampai Tifa tahu”. “Apa yang jangan sampai gue nggak tahu?”. Kedua kakaknya menoleh. “Eh, Ti…Noir, sejak kapan kamu nguping kita?”. “Barusan aja, kalian tuh, masih aja punya pikiran gila, pengen ngeliat CL 34 dan AX 32 di laboratorium bawah tanah, sudah deh, lupakan aja, pengawalan di sini kayaknya ketat”. Aidan menghela nafas panjang. “Kamu nggak tahu apa-apa soal ini, udah deh, tidur aja sana, eh,seharian ini kamu dari mana?”. “Main”, jawab Noir sambil bergulung di tempat tidur, kecapekan. “Sama siapa?”, tanya Ardan. “Sendiri…”. “Oh ya?”. “Cerewet banget sih, udah, aku mau tidur, capek”, si kembar saling berpandangan heran lalu mengerdikkan bahu.
“Tapi si bocah nyebelin itu mungkin tahu…”. “Maksudmu Fazra?”. “Yup’s, CL 34, AX 32 sama Earth Alliance yang heboh itu kan kerjaan bokapnya, kamu masih ingat artikel punya ayah yang kita baca kan?. Demi menyelamatkan istrinya, dr. Fazrayndra mengembangkan F 64, yang sekarang berkembang jadi F 106, penemuan yang semula untuk memperkuat sel yang lemah jadi beralih fungsi untuk mempercepat dan memperkuat pertumbuhan sel. Setelah beberapa kali mengalami kecacatan, akhirnya F 106 nyaris sempurna. Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal aneh…”, Aidan menatap laptopnya tak berkedip. “Kecelakaan ini aneh, ditemukan kandungan alkohol di tubuh dr. Rayn, padahal di artikel lain, dia seorang pemeluk agama yang taat dan menentang kloning. Lagipula dia dokter yang seharusnya menyadari bahaya saat menyetir dalam keadaan mabuk. Istrinya tewas bersamanya, anak lelakinya berhasil selamat. Sayangnya Amnesia permanen, hei, ini sebabnya, aku baru tahu, aduh, kenapa lagi nih, jaringan diblokir, sialan!”. Aidan menutup laptopnya. “Ngebuka jaringan kepolisian pusat memang sulit, kita harus pergi ke tempat Exhibit, sekalian nyari kunci master untuk membuka lab. Basement, kita juga butuh beberapa alat lain”. Ardan nyengir. “Apa katamu lah…tapi, setelah kita mengetahui ketidakberesan proyek ini kita mesti gimana?”. “Lapor sama ayah”. “Ah, mana mungkin ayah mau menentang semua ini?. Dia lebih memilih mengundurkan diri saat itu”. “Pokoknya kita harus tahu yang sebenarnya dulu baru bertindak, kalau ini di salahgunakan, banyak orang bisa mati sia-sia”. “Kiamat deh, satu AX 32 aja berbahaya. Tapi program ini belum sempurna kan?”. Ardan menatap Aidan serius. “Entahlah”.
“Ini bisa membuka brankas manapun”, Exhibit berkedip ceria, memamerkan salah satu alatnya. “Bank mana yang mau kamu bobol, Aid?. Uang sakumu kurang ya?”. “Bukan, lihat skema ini, menurutmu, untuk masuk ke laboratorium bawah tanah Westside kami butuh kunci kayak apa?”. Ex melihat laptop Aid dengan seksama dan dia cocokkan dengan komputernya. “Kalian gila, ini lebih berbahaya daripada memasuki kantor kepolisian pusat. Jenis kunci ini khusus dipesan di Jerman, keyguard seperti ini sulit didapat”. “Tapi kamu bisa?”. Tanya Aidan. “Ya, mungkin bisa kuusahakan, tapi butuh waktu beberapa hari, meskipun kami punya alatnya, kalian butuh banyak keberuntungan, banyak gosip beredar, saking rahasianya proyek pemerintah itu, yang bekerja di sana saja berada di bawah sumpah, banyak yang sudah mati secara misterius para pakar dan ilmuwan yang diduga pernah mengerjakan proyek ini. Aidan, kamu jangan gila, sobat!”. “Sudahlah, kami tahu yang kami lakukan”, kata Aidan yakin. Ex hanya mengerdikkan bahu. “Terserah kalian, apa kalian sudah memperhitungkan seandainya ada senjata biologis yang ditempatkan di beberapa ruangan jebakan?”. “Kami punya peta bawah tanah jalan lain ke sana, aku juga sudah memeriksa beberapa kali, sepertinya 50% aman, yang 50% adalah keberuntungan”, Aidan nyengir.
-----
Sampul buku tua itu mulai terkelupas. Fazra mencoba merapikannya, tak sengaja tangannya malah memperlebar sobekan. “Hei”, sebuah kepingan perak tersembunyi di dalamya, seperti lempeng tipis. Perlahan ditariknya, benar saja. Itu Memory Card, apakah ini milik ibunya?. Segera dibacanya memory itu di laptopnya. “Masukkan keyword”. Sebuah perintah tertera di layar. Apa keywordnya?. Fazra berpikir keras, hari ulang tahun orangtuanya, hari lahirnya, hari pernikahan, gagal. Setelah beberapa jam berusaha, delapan huruf keyword belum ditemukan. Tiba-tiba matanya tertuju ke sampul buku harian yang tersobek itu, gambar wajah seorang lelaki berjenggot lebat. Pakar dunia kedokteran yang termahsyur, Ibnu Sina. Tokoh idola ayahnya. Lagipula, gambar ini yang menutup memory card. Benar saja, saat keyword dimasukkan, Fazra berhasil membuka isi MMC itu.
Isinya adalah proyek yang dirancang ayahnya. Ketidak setujuan ayahnya tentang penyalahgunaan proyeknya. Beberapa data berisi buku yang dikarang oleh ibunya. Beberapa catatan membuatnya terhenyak. “Ketakutanku yang terbesar adalah bahaya yang mengancam suamiku, pekerjaannya yang kontroversial, suara vokalnya dan tindakannya yang menentang banyak pihak. Setelah percobaan peledakan di mobil, apa lagi yang akan terjadi?. Kali ini dia selamat, tapi sampai kapan?. Aku hanya ingin kami bertiga hidup tenang, semua ini gara-gara aku, seandainya Rayn tidak menentang takdir dan membiarkanku bertahan sampai di sini saja, mungkin dia tak perlu menciptakan obat-obat itu yang ternyata fungsinya lebih dari yang kami duga. Aku hanya ingin pergi dengan tenang, putraku sudah hampir berusia delapan tahun, aku sudah merasa, waktu yang kami ulur harus berakhir sampai di sini saja, aku ingin kedua orang yang kusayangi hidup bahagia tanpa bahaya yang mengancam hidup mereka”.
“Fazra tumbuh dengan sehat. Melihatnya tersenyum seperti melihat malaikat dari surga. Benar-benar Rayn kecil. Rasanya seluruh sakit di tubuhku menguap saat tawanya yang ceria menghiasi hari-hariku. Aku ingin sekali menemaninya bermain di luar, kadang aku merasa takut, apakah di luar sana aman untuknya?. Kadang hatiku merasa resah menunggunya pulang bermain. Sepertinya kami harus segera pindah dari sini. Aku ingin menghabiskan waktuku di tempat yang aman, melihat kedua orang yang kucintai tak lagi terancam bahaya.Rayn sudah setuju untuk pindah setelah pengajuannya untuk membatalkan proyek F 64nya. Zat yang membuatku bisa bertahan sampai saat ini, Rayn menyebutnya mukjizat Tuhan. Yang seharusnya tidak disalahgunakan, beberapa pihak mencoba membeli formulanya dengan harga tinggi tapi kami tak bisa melepaskannya. Terlalu berbahaya untuk dikembangkan. Tapi, kenapa di dunia ini masih ada saja pihak yang tidak perduli dan memaksa untuk mengembangkannya?. Manusia benar-benar makhluk yang tak dapat dimengerti.”
12Nov. Lagi-lagi Rayn mendapat berbagai ancaman untuk tidak menghentikan proyek ini. Padahal proyek ini sangat berbahaya. Makhluk buatan yang baru ini sangat istimewa.beberapa orang telah tewas sia-sia karena beberapa percobaan yang gagal. Yang berusaha berhenti pun hilang secara misterius. Siapa yang berada di balik layar?. Mengatasnamakan pemerintah dan membuat senjata rahasia di Westside?. Kamipun terancam, besok kami harus pergi ke tempat Prof. Aide, kami rasa beliau bisa membantu. Semoga saja semua berjalan lancar, kami tak ingin terjadi pertumpahan darah lagi, aku ingin Fazra tumbuh di lingkungan yang indah dan tenang.
13 Nov. Kecelakaan itu terjadi. Menewaskan kedua orangtuanya dan dia sendiri terkena amnesia permanen. Tapi dari catatan sekilas ini, Fazra yakin, ini bukan kecelakaan biasa, semua sudah dirancang. Saat dia menanyakan hasil forensik mengenai penyebab kematian orangtuanya, paman Erik tidak mengizinkan. “Mereka sudah tenang Faz, paman harap kamu ikhlaskan saja. Kecelakaan seperti itu kapan saja bisa terjadi”. Artikel lama di koran dan Internet hanya menjelaskan kalau dr. Fazrayndra meninggal karena kecelakaan mobil, tidak ada keterangan penyebab kecelakaan dan lainnya. Artikel itupun hanya kolom kecil dan tidak mencolok.
“Jadi, kamu curiga, orangtuamu terbunuh, dan bukan kecelakaan?”. Noir memandang Fazra heran,”..darimana kamu tahu, Faz?”. “Yah, meski aku sendiri nggak ingat, beberapa catatan harian ibuku yang kutemukan mengarah ke sana, sebelum mereka meninggal, banyak ancaman terjadi seiring pengunduran diri ayah dalam pengembangan proyeknya, ayah berusaha menghentikan proyek yang melenceng itu, tapi banyak pihak yang menentang. Setelah kupikir, jika ayah meninggal, sebelum proyek itu dibatalkan, maka proyek akan terus berlangsung. Sebagai penemu formula, beliau punya hak untuk menghancurkan penelitian, dan kalau itu terjadi, banyak pihak yang merasa dirugikan, mungkin itu penyebab orangtuaku dibunuh”. Fazra menghela nafas. “Mungkin, kamu ngerasa ini cuman cerita khayalanku saja Noir, wah, jadi curhat nih sama kamu”. “Nggak, aku juga berterimakasih, hal seperti ini bisa kamu ceritakan padaku, itu artinya kamu percaya padaku, hei, tunggu sebentar…”. Noir berlari masuk asrama, nggak lama dia membawa laptop Aidan. “Kedua kakakku sangat penasaran sama proyek ayahmu, mereka tadinya nggak tahu kalau ini proyek ayahmu, mereka hanya mengagumi AX 32, tapi banyak hal tak terduga yang mereka temukan, tadi malam aku yang mereka sangka sudah tidur, mendengar pembicaraan mereka, lihat ini”. “Kakakmu…mengakses data kepolisian pusat?. Untuk apa?”. “Lihat, bukankah ini hasil forensik kematian ayahmu?”. Fazra menatap Noir. “Apa urusannya kakakmu sampai mencari data seperti ini?”. Noir tersenyum pada Fazra yang terlihat marah. “Dia seperti kamu, curiga terhadap penelitian AX 32, nggak cuma ayahmu, dia juga mengumpulkan berbagai informasi mengenai orang yang terlibat. Sudah 61 Peneliti hilang secara misterius, 32 orang terbunuh termasuk orang tuamu, dan mungkin masih banyak lagi…ayahku saja sampai mengundurkan diri dan memilih hidup di kota kecil, sepertinya kita berada di jalur yang sama, jadi apa salahnya kita bekerja sama saling menukar informasi?”. Fazra sepertinya ragu, tapi akhirnya dia setuju.
“Alkohol…kata Aidan, ayahmu nggak mungkin nyetir dalam keadaan mabuk, ini mungkin sudah direkayasa, karena yang melalukan otopsi adalah pihak rumah sakit Westside yang bukan nggak mungkin sudah dicampuri orang-orang dari penelitian AX 32, bagaimana menurutmu?”. “Mungkin…”. “Dan, sebenarnya kamu mewarisi harta yang nggak sedikit dari ayahmu, kamu tahu?. Kamu Milyarder…kalau sudah berumur 21 tahun. Tiga tahun lagi…”. “Darimana kamu tahu?”. “Aidan, dia tahu dari pacarmu”. “Pacarku?”. “Cewek yang bersamamu itu, katanya kalian sudah bertunangan dan saat menikah nanti, dia akan jadi nyonya Fazra yang kaya, kamu kan dapat harta itu kalau sudah menikah, 60% saham Westside General Hospital adalah milikmu”. “Aaliya bahkan nggak pernah cerita itu padaku”. “Aidan juga nggak mungkin tahu kalau dia nggak sengaja diajak kawannya ke Club Radja’s. pacarmu sedang mabuk dan dia mengantarkan sampai rumahnya”. “Aaliya?. Mabuk?”. Fazra mengernyit. Noir tertawa. “Jadi…kamu nggak tahu dia sering ke Klub dan berjudi juga?, bukankah dia tunanganmu?. Hey, kenalilah istrimu sejak dini…”. Fazra merasa pusing mendengar banyak hal yang nggak sesuai dengan apa yang dia lihat selama ini. “A…aku nggak tahu, selama ini aku selalu diurus oleh ayahnya, aku bahkan nggak tahu ayahku memiliki kekayaan, aku hanya merasa berhutang budi pada paman Erik dan mengabdikan hidupku untuk membalasnya, karena selama ini kukira dia sudah begitu baik membiayai hidupku, karenanya aku nggak keberatan untuk bertunangan dengan anaknya”. Noir menepuk bahu Fazra. “Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi kadang lebih baik mengetahui kenyataannya sebelum kamu terjatuh lebih dalam lagi, tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu, seminggu lagi kedua kakakku yang gila itu mau masuk secara ilegal ke basement, bagaimana menurutmu?”. “Bilang sama mereka, aku ikut..”. “Nggak!. Akupun pura-pura nggak tahu rencana mereka itu, sebaiknya kita diam-diam saja mengikuti mereka”. “Beri aku waktu berpikir, hubungi aku setelah rencana itu pasti…aku pusing…”.

Fazra menatap langit-langit kamarnya. Cerita Noir terlalu aneh, terlalu tiba-tiba. Dia mencoba percaya, tapi sulit untuk percaya semua itu. “Tidur mungkin bisa membuat kepalaku sedikit lebih baik”, Fazra merapikan bantalnya, semoga malam ini tak ada mimpi…
Westside---
“Mungkin, ini terjadi karena kita melawan takdir”, wanita itu memandang pria di sampingnya. “Karena kita melawan apa yang seharusnya terjadi, semua ini karena kesalahanku, seandainya kita tidak pernah bertemu lagi, seandainya kau berjalan lurus di jalanmu dan tidak memilihku, kesulitan seperti ini tak akan terjadi, semua gara-gara aku”. Pria itu tak mampu berkata-kata, diusapnya airmata istrinya yang berlinang, ditenangkannya wanita itu dalam pelukannya. “Tidak, tidak, aku percaya, Allah sudah menggariskan semua ini, bukan aku yang memilihmu, tapi Dia yang membuat kita bersatu, aku mencintaimu, apapun akan kulakukan untuk membuatmu bertahan di sisiku”. “Tapi ini cara yang salah”. “Ini adalah cara yang benar, mengobatimu, membuatkanmu formula itu bukanlah suatu kesalahan, orang-orang yang tidak bertanggungjawab itulah yang membuat semuanya menjadi seperti ini, tapi sungguh, aku tidak bermaksud menyakiti siapapun, aku hanya ingin kau tetap hidup”.
Lagi-lagi mimpi tentang orangtuanya, mungkin gara-gara dia membaca buku harian itu. Fazra merasa sangat pusing, sejak kecelakaan itu, dia seolah tak bisa lepas dari rasa sakit di kepalanya, terutama jika mencoba mengingat sesuatu, sekecil apapun itu, sakit itu semakin menjadi.
-To Be Continued_

Kamis, 20 Agustus 2009

PART I FIRST LOVE

First Love

I ask God for a rose
He gave me a garden
I ask God for a drop of water
He gave me on ocean
I asked God for a best friend
And He gave me....You...

“From the first moment when I hear your name, something in my heart came alive”Remembering You: Steven Curtis Chapman
Cinta... Aku sebenarnya tak tahu...
Apakah sebenarnya cinta itu
Tapi jika perasaanku ini bukanlah cinta
Maka tak ada yang namanya cinta di dunia ini
------
Kupandang langit kota tua ini, begitu biru, begitu cerah. Meski jacket hitamku dan celana panjangku terselimut debu, tubuhku terlalu lelah untuk berjalan, tapi hatiku tenang. Dia sudah ada di sampingku. Menemukanku. “Tersesat?”, senyumnya mengembang, Tuhan, Kau tahu hatiku tak bisa berbohong, hanya berada di sampingnya saja aku merasa tenang, debaran di jantungku sepertinya menguat, bereaksi merasakan degup jantung makhluk di sampingku. “Begitulah, kota ini lumayan menyesatkan, jalur busnya lumayan membingungkan, padahal kau tahu, penyakit lamaku...”. “Buta arah...muahahaha....”. Entah kenapa, derai tawanya menular padaku. Ah, senangnya, akhirnya aku sampai juga di kota ini, melihat-lihat bangunan tua dan menyusuri sejarah di dalamnya.
“Bagaimana kabarmu?”, tanyanya. “Yah, seperti yang kau lihat, bagaimana menurutmu?”. Dia menopang dagunya dengan tangan dan melihatku sejenak. “Kurasa kau baik-baik saja...”, kami berjalan memutar alun-alun dan duduk di taman kota. Sejenak menikmati keindahan bunga mawar yang mulai mekar dan terhanyut dalam pikiran kami masing-masing. “Something wrong?”, suaranya mengagetkanku. “Eh?”. “Tampaknya kau seperti sedang memikirkan sesuatu...gimana kuliahmu?”. “Yah, hampir berakhir, bentar lagi wisuda...”, jawabku acuh. “Wah, enak nih, tinggal melamar, atau dilamar, hehe, pilih yang mana?”, tanyanya sambil tertawa, duh, giginya itu lho, aku iri, betapa rapinya gigi itu berbaris, putih bersih, seperti senyum cowok di iklan pasta gigi saja. Aku berfikir sejenak. “Ya...kalau Valentino Rossi melamarku, aku nggak nolak kok...”. “Busyet...seleramu tinggi ‘kali...”. “Begitulah, seleraku memang ‘tinggi’ hehe...”, jawabku sambil menghela nafas. Ngerasa nggak ya ni orang...
“Ih...ih...dari nada bicaramu, kayaknya ada sesuatu deh...kamu udah ketemu tambatan hati ya? Cie...udah dewasa dong sekarang...tell me about him...”. Aku memandangnya lalu tertawa. “Kau ini ada-ada saja...ehm, beneran nih mau tahu seperti apa ceritanya? Panjang dan lama lho...”. Dia pura-pura melihat jamnya. “Konsultasi setiap satu jamnya kuhitung sepuluh ribu, tarif antar temen, gimana?”. “Busyet...mahal amat...”. “Itu sudah murah, tahu...udah termasuk diskon 20%”. Aku berdecak. “Baiklah...baiklah, nah, dengarkan ya nak, ceritaku ini baik-baik...”.
---
“Aku, yah, kisahku mungkin terdengar aneh, mulai dari mana ya, aku jadi bingung...”, aku menggaruk kepalaku. “Dari kau kenalan dengannya, dimana dan bagaimana...”. Aku menghela nafas. “Wah...kisahku nggak seperti itu...ini mungkin kedengarannya aneh bagi kamu, tapi, aku mencintai orang ini jauh...jauh sebelum aku bertemu dengannya...”. “Eh?”. “Begini...kau kan tahu aku ini suka menulis cerpen?”. “Yup’s”. “Setiap menulis sebuah cerita, tentu kubayangkan dulu, seperti apa tokohnya, bukan?. Sejak aku SMU, aku membayangkan seorang cowok, sesuai imajinasiku, semakin lama, bayangan itu berkembang semakin nyata. Seperti seorang seniman, yang jatuh hati pada karyanya sendiri. Dari posturnya, wajahnya, rambutnya, pakaian yang dikenakan,...ah, pokoknya semuanya deh...dari suatu bayangan abstrak menjadi manusia yang sesungguhnya”. “Wow, jadi, sekedar pacar khayalan?”, tanyanya. Aku mengerdik. “Mulanya begitu...kukira aku hanya bisa menghayalkan saja tentangnya, betapa lembutnya dia, baik hati dan penuh kasih...yah, kayak gitu lah, tapi pada suatu hari, saat aku dalam perjalanan pulang, waktu itu aku berada di dalam bus, aku nggak sengaja melihat keluar jendela, eh, di terminal Westside..kau sering melewatinya kan?”. “He-eh..”, “Aku melihat seorang pemuda, dia sedang berdiri, bersandar di tembok...dekat pertokoan terminal, kau bisa bayangkan...kan kelihatan tuh kalau dilihat dari jendela bus, aku benar-benar kaget...pemuda itu persis sekali seperti tokoh dalam cerpenku, aku terpana, eh, waktu busku melaju, aku tersentak, ingin sekali aku menemuinya, tapi aku hanya bisa memandangnya saja, bus perlahan menjauh dan aku merasa sangat sedih...seperti baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga”. Tak sadar aku menghela nafas. “Ceritamu masih belum menarik”, katanya. “Iya...sabar dunk,menariknya setelah ini”.
“Seminggu kemudian, aku mengerjakan tugas pajak di tempat temenku, karena dia cowok, pintu kamar kami biarkan terbuka dan aku...eh...nyontek kerjaannya. Lagi asyik nyontek, tiba-tiba sebuah buku tipis berwarna..apa ya, agak pink mungkin, jatuh menimpa kepalaku, sambil menggerutu kuletakkan buku itu di depanku, hanya kubuka covernya saja, ternyata cuma buku kenangan SMU, aku cuekin dan mulai nyontek lagi, hehe. Tiba-tiba saja angin bertiup dari pintu dan lembar demi lembar selanjutnya buku itu terbuka. Kau tahu, seraut wajah lembut mengejutkanku”. “Ada hantu di buku itu?”. “Enggak...dengerin dulu dong...”. “Iye...iye...terusin...”. “Aku ngeliat wajah cowok yang di terminal, nggak salah lagi, wajah yang selalu ada di pikiranku, saat kubaca huruf demi huruf, namanya terasa nggak asing, tanggal lahirnya...lho...kok tempat dia lahir sama denganku ya...saat itulah aku menyadari sesuatu, mungkin ini rencana Tuhan atau apalah...yang pasti aku merasa senang, sedih, campur aduk...ternyata ada juga kisah yang diatur seaneh ini...ternyata aku memang sudah mengenalnya jauh sebelum ini”.
“Aku bertanya pada temanku itu, apakah dia kenal dengan cowok yang ada di buku kenangan itu?. temanku mengangguk. ‘Oh, ini...anaknya tinggi-jangkung, orangnya ramah, baik hati, dia suka ngedengerin R&B...’. ‘Udah punya pacar belum’ tanyaku waktu itu, temenku hanya mengerdikkan bahu. ‘Nggak tahu ya, tapi kayaknya enggak deh, anaknya kan alim...’ namanya juga cowok, dia nggak bertanya lagi. Tapi aku terus berusaha mengumpulkan informasi tentang orang ini, aku juga nggak tahu, apa ini yang disebut naksir atau apa, aku terus mencari tahu tentangnya”.
“Suatu hari, tanpa sengaja aku mendapatkan nomor HP cowok itu, bicara dengannya, mendengar suaranya, sepertinya dia sudah 80% menjelma,dari suatu bayangan ke wujud nyata. Kau tahu, rasanya seperti sebuah keajaiban. Kami saling SMS, kirim kabar...aku tahu dia kuliah di mana. Aku ingin sekali bertemu dengannya, sangat ingin. Tapi aku tak bisa”. “Kenapa?”. “Entahlah, aku ingin dia yang menemuiku, aku ingin dia yang menemukanku, bahkan, saat dia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit, aku tak mampu melangkahkan kakiku untuk menemuinya, padahal hatiku begitu hancur, khawatir, kalau aku tak ingat janjiku pada ayahku untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin, sudah kutinggalkan ujianku dan terbang menemuinya. Malamnya, aku bermimpi berada di rumah sakit, melihat keadaannya, lukanya, memegang tangannya...dia tertidur karena obat penenang”.
“Aku sadar, aku gila...suatu hal yang aneh bukan, menyadari kegilaan yang terdapat di dirimu”. “Entahlah...teruskan, ceritamu mulai menarik”. Aku menahan airmataku, mencoba tersenyum. “Yah, suatu hari ada seorang teman perempuan datang ke tempatku, dia menceritakan banyak hal tentang cowok itu. dia bercerita, kalau cowok itu sedang naksir kakak kelasnya yang alim dan cantik. Wah, bisa kau bayangkan perasaanku?. Tapi mungkin itu peringatan Tuhan agar aku tak terlalu berharap banyak. Lagipula bisa mengenal cowok itu saja sudah cukup bagiku. Meski cinta yang tertulis di lembaran kisahku sangatlah aneh, aku tetap saja bersyukur, meski mencintai dengan cara yang seperti ini, aku merasa senang, inilah kisahku yang Tuhan tuliskan. Kupikir aku akan menyimpannya baik-baik, andai perasaanku tak tersampaikan, aku yakin, doa-doaku akan tersampaikan. Aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin bertemu dengannya”.
“Sampai suatu hari, dia berkunjung ke rumahku, Tuhan, apa maksud semua ini? Apakah kisah ini belum berakhir?. Aku merasa, hari itu sangat indah, seperti mimpi saja, bisa bicara langsung, memandang wajahnya dan...kau tahu...dia persis seperti cowok yang kugenggam tangannya dalam mimpi, apa itu bukan suatu hal yang aneh? Aku jadi takut kalau aku menjadi terobsesi atau apalah...”. aku menatap rumput di kakiku. “Memangnya kau belum pernah jatuh cinta...eh, maksudku, waktu SMP, SMU atau kuliah kan kau berinteraksi dengan banyak orang, apa nggak pernah sekalipun kau jatuh cinta selain pada cowok khayalan ini?”, tanya dia sambil menyentuh bahuku. Aku berpikir sejenak, mengingat. “Ehm, kalau naksir kakak kelas yang pandai atau gimana sih pernah, tapi kalau jatuh cinta...aku nggak tahu, aku tidak pernah memikirkan orang sampai sedalam ini kecuali sama cowok khayalanku itu, pernah sih waktu SMU naksir cowok, tapi entah kenapa sepertinya hatiku selalu memikirkan cowok khayalanku ini lebih kuat, jadinya jomblo deh seumur-umur, tapi karena temanku buanyak...jadi nggak ngerasa jomblo deh...”. “Berarti kau ini bodoh ya...”, katanya. “Kenapa?”. “Karena kau setia pada orang yang bahkan perasaanmu padanya saja dia nggak tahu, eh, sebaiknya kau katakan saja padanya, kan sayang tuh, perasaan cinta yang begitu besar dan murni kau sembunyikan terus di hatimu”. “Inget, dia sudah naksir cewek lain...”, kataku. Dia mengernyit. “Yah...nggak papa...namanya juga usaha...hehe...”.
“Menurutmu, lebih baik dicintai atau mencintai?”, tanyaku. “Saling mencintai”, jawabnya pendek. “Kalau kau mencintai orang tapi orang itu cuek sama kamu?”. “Cari yang lain, masih banyaaaak orang yang bisa kita cintai, cinta buatku Universal, kau cinta sama ibumu kan, ayahmu...saudara-saudaramu, bahkan anak-anak jalanan itu...sedikit cinta dan perhatianmu bisa sangat berarti buat mereka”. “Susah ngomong sama orang sosialis kayak kamu, gak ada romantis-romantisnya...”. dia tertawa mendengar gerutuanku. “Maaf...maaf...”,lalu dia diam sambil memandangku. “Oke, kudengarkan, non”. “Kamu udah pernah mencintai?”. “Lho...lho...introgasinya kok jadi aku...”, gerutunya “Ih, jawab dulu pertanyaanku...”. dia hanya diam, lama, sampai aku nggak sabar lagi. Matanya yang hitam terlihat semakin kelam di balik kacamata itu. Apa dia bisa melihat hatiku?. “Ya...menyukai mungkin pernah, mengagumi seseorang, tapi mencintai, aku nggak tahu, apa ini yang disebut cinta, setiap orang pernah menyukai, bukan?. Itu sesuatu yang wajar. Aku pernah suka sama kakak kelasku...”, katanya sambil mengalihkan pandangannya dariku dan menerawang menatap langit. “Gimana rasanya?”. “Suka ya suka...that’s it”. “Oh...”. aku nggak tahu mesti ngomong apa. Sedikit banyak pengakuannya membuatku terguncang. Dia pernah menyukai seseorang, pernah ada seseorang menempati hatinya, aku mencoba tersenyum. “Kau bilang sama dia kalau kau menyukainya?”. “Pengennya sih gitu, tapi...kayaknya kuliah sama kerjaanku lebih penting dari itu, mungkin nanti kalau aku sudah lulus, sudah punya kerjaan tetap, tinggal kulamar dia...”. “PD banget...nggak takut dia sudah dilamar orang?”. “Kalau jodoh nggak bakal lari ke mana, kalau nggak jodoh, akan kutemukan yang lebih baik”, katanya cuek. “Wow...”. “Kenapa?”. “Ada ya, orang kayak kamu?”. Dia tertawa, “Aku lebih percaya sama Allah, Dia memberi yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan, dan semua yang akan terjadi adalah yang terbaik. Yang kulakukan hanyalah berdoa...untuk yang terbaik, itu saja, halah! Sekarang giliranmu bicara...kenapa kamu nggak ngomong langsung ke cowok itu kau suka padanya?”.
“Banyak faktor...yang pertama aku ini kan cewek”. “Sekarang sudah zaman emansipasi non”. “Tetap saja nggak bisa...yang kedua...argh! pokoknya banyak faktor lah...dia sudah menganggapku sahabat sejati, tahu! Kalau dia tahu aku menodai persahabatan ini dengan mencintainya...wah, aku nggak mau ambil resiko, persahabatan yang sudah sedemikian lama bisa hancur, ntar dia nggak mau sahabatan sama aku lagi gimana...ah, sudahlah, lebih baik kita bicarain hal lain saja ya, doain saja Tuhan bikin aku kecelakaan dan hilang ingatan tentangnya, jadi duniaku menjadi normal lagi”. “Eh? Bukannya malah jadi hampa...kalau broken heart ya terima aja nasibmu”, katanya sambil tertawa. “Ih, enak banget kamu ngomong...”, aku menggerutu.
“Baiklah, alihkan pembicaraan, hehe...udah jalan ke mana aja tadi?”. “Kemana-mana, pokoknya yang menarik kupotret aja...”. “Nanti mau terusin jalan-jalannya?”. “Nggak, capek, ntar aku langsung pulang...lagian kamu hari Sabtu sore ada kuliah kan, jadi gak bisa nganter aku...”, aku memasang I-Pod ku dan mendengarkan lagu-lagu kesayanganku. “Maaf ya...habis aku gak bisa ninggalin kuliahku, Minggu juga ada Praktikum yang tertunda...”. “Wow, kerjaanmu banyak ya, dikit lagi botak tuh kepala...tapi, aku akan selalu mendukungmu, bro...don’t worry...”. dia hanya menggelengkan kepala memandangku. “Ck..ck..kalau udah main I-Pod gitu kamu nggak kelihatan kayak orang lagi broken...tapi dari cara kamu cerita, kayaknya rasa sayang kamu ke cowok itu begitu besar...”. “Yo’i, sampai-sampai pernah kepikiran aku gak pengen nikah kalau gak sama dia, biar aja jomblo seumur-umur”. “Pasti kesepian, nggak ada orang yang betah jomblo seumur-umur”. “Nggak juga, aku pengen dia donorin spermanya, aku pengen ikut program Inseminasi buatan...gimana menurutmu, itu melanggar aturan Tuhan nggak? Paling tidak, wajah seorang bocah yang lucu, yang mirip dengannya bisa menghibur hatiku yang pedih ini, hiks...”. Dia terbatuk-batuk, lalu meletakkan sebotol air mineral yang semula diminumnya. “Gila! Sampai sebegitunya kamu...”. “Itu kan cuma pemikiranku, jangan dianggap serius deh...hidup masih panjang, aku nggak bakal berhenti berharap...sebelum nisan menancap, aku akan terus berharap, semoga Tuhan ngasih aku keajaiban”. “Halah...itu namanya obsesi, bukan cinta!”. “Udah tahu...cuman bercanda kok, aku juga tahu kapan aku harus menyerah...”. aku tersenyum, sambil memandangnya, mata di balik kacamata itu...dia balas tersenyum.
“Sebelum kau mengantarku pulang, biarkan aku duduk sebentar di sini ya...lima menit saja”, gadis itu tersenyum, lebih tepatnya mencoba tersenyum, cowok di sampingnya tak berkata apa-apa, hanya memandang ke arah luar taman, beberapa ekor burung terlihat beterbangan di puncak-puncak pohon, membuat sarang yang nyaman untuk telur-telur mereka. Gadis itu memperhatikan dengan seksama. Ah, andai aku terlahir kembali, aku ingin menjadi seekor burung...memiliki sayap yang membuatku bisa pergi ke mana saja, ke seluruh sudut dunia, melarikan diri...
First Love (Part I)
Westside University, Oldtown, 06 February 07

Hanya kau yang akan menjadi cinta itu
Hanya kaulah satu-satunya yang menempati hatiku
Akan kuingat selamanya memori tentangmu
Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku
Sekarang...dan selamanya, kaulah cinta pertama itu
First Love, by:(Utada Hikaru)

Misha membuka matanya. Sekilas tadi didengarnya HPnya berdering, First Love Utada Hikaru, hanya satu orang yang dia khususkan pada nada itu. sekejap, bayangan seorang cowok berkacamata dan tersenyum manis berkelebat dalam benaknya, wajah yang selalu menenangkannya, dia rindukan dan dia sayangi. Setengah mengantuk diliriknya HP dan diperiksanya siapa yang miss call barusan. Benar saja, orang itu, tumben, biasanya kalau nggak di SMS duluan dia nggak perneh SMS ataupun Miss call. Senyuman lebar tak terasa menghiasi wajah Misha. Tapi segera surut. “Yah...miss call doang, SMS kek, dasar Kakek!”. Dengan enggan Misha menyingkirkan selimut dan merapikan beberapa buku yang berserakan di kasurnya. Tersenyum kecil saat melihat seraut wajah di sampul buku Trinity Blood. Abel Nightroad.
Abel Nightroad, cowok jangkung berkacamata yang sifatnya aneh, lucu, ramah dan sekilas terkesan tak bisa diandalkan. Tapi di balik wajahnya yang polos, dia memiliki satu wajah lain, Krusnik, Abel bukan manusia biasa, tapi vampir istimewa yang hanya meminum darah vampir. Bermata semerah darah dan memiliki sayap hitam yang terbentuk dari ribuan pedang. Abel, cowok berhati lembut itu, dan Snik, cowok misterius yang cool...Abel dan Snik adalah satu. Entah kenapa, Misha merasa cowok yang dia sayangi mirip Abel, meskipun dalam kesehariannya Evan tampak ceria dan langkahnya ringan, di balik itu sepertinya ada beban berat yang dia pikul di pundaknya. Abel menyayangi Esther, karena hati Abel lembut dan penyayang, dia tak ingin Esther melihat wujudnya sebagai Krusnik, andai Abel tahu, seperti apapun dirinya, siapapun dirinya, Esther akan selalu menyayanginya.
Ah, Evan, andai kau tahu aku begitu menyayangimu, dari kau kecil sampai sekarang, hanya dirimu yang bisa menempati ruang hatiku. Sudah kucoba menyingkirkan bayanganmu, menipu diriku, berusaha menyukai orang lain, tetapi selalu gagal. Kau selalu menjadi raja dalam mimpiku, menempati ruang terluas di hatiku. Misha mendesah, kuliah hari ini sampai sore. Menyebalkan, apalagi ada nilainya yang begitu buruk, sehingga dia harus berusaha ekstra mengejar nilainya. Diambilnya handuk dan bersiap ke kamar mandi ketika HP berbunyi, sebuah pesan masuk. “Misha, aku mau ke Southside nih, di Middle Town ada pameran buku kan, gimana kalau kita ketemuan di sana?”. Misha menghela nafas. Evan? Evan mau ke sini! Hatinya girang bukan kepalang. Tapi saat diingatnya hari ini dia kuliah dan tak bisa bolos, dia merasa ingin menangis. “Tuhan, aku ingin ketemu Evan, please, beri aku kesempatan...”. lalu dibalasnya SMS Evan. “Ah, Evan hari ini aku kuliah, gimana kalau besok aja kamu kesininya? Aku besok libur dan kita bisa jalan-jalan”. Tapi, sesuai karakter Evan, cowok itu nggak ngebales SMS.
Beberapa jam kemudian, saat mau berangkat kuliah, HP Misha bunyi. SMS dari Evan. “Hoi, aku di East Fountain nih, kalau menuju Middle Town lewat mana ya...”. Misha nyengir. “Lurus aja, kalau kamu sudah lihat tugu perdamaian, belok kiri, nah, di kanan jalan kamu akan lihat gedung putih...Economy College, setelah kau bertemu denganku baru kuberi tahu arah yang tepat ke Middle Town, hehe...”. Evan tak membalas, Misha memakai sepatunya dan berjalan ke kampusnya. Dasar kakek! Kau tahu, aku kangen sama kamu nih...Misha menggerutu, sesampainya di depan gerbang kampus, tak sadar dia tetap berdiri di sana dan melihat motor yang berseliweran di jalan depan, tak sadar dia menunggu seseorang. “Bodoh, apa mungkin Evan mau meluangkan waktunya untuk menemuimu?”, Misha menunggu sampai seperempat jam lalu tersenyum sedih, dengan lesu dia berjalan ke kelasnya.
Misha asyik termenung menunggu kelas dimulai ketika HPnya bergetar dan cewek itu membuka pesan masuk.”Lho, kok aku sudah berada di depan pintu masuk Economy College ya? Kamu dimana Misha? Aku kangen nih!”. Misha menepuk pipinya, ini mimpi nggak ya...lalu dibacanya pesan itu sekali lagi, memang benar, itu dari Evan!. Tergesa-gesa Misha berlari sampai anak-anak memperhatikannya. Di telponnya nomor Evan. “Kakek! Kamu dimana? Jangan bohong ya...kamu beneran di sini nih?”. “He eh...di gerbang depan dekat pos satpam, kamu dimana?”. Misha berlari sampai paru-parunya terasa hampir meledak, dari jauh bisa dilihatnya sosok Evan yang tingginya diatas rata-rata itu. Evan memang jangkung, tak hanya itu, wajahnya yang lembut dan selalu tersenyum itu, persis seperti wajah dalam mimpinya. “Evaaannn!”, teriak Misha. “Aku nggak nyangka kamu sampai juga kesini...”, Evan tersenyum. Aih, manisnya...andai waktu berhenti, ingin rasanya Misha terus memandangi wajah cakep itu, tapi saat diingatnya siapa Evan, Misha menunduk. Nggak boleh! Jangan lihat wajah Evan seperti itu! jangan sampai dia tahu kau sangat menyukainya...
“Gimana kabarmu?”, tanya Misha. “Baik...”, jawab Evan. “Kamu di sini bareng siapa?”, tanya cowok itu. “Sendirian aja, eh, aku seneng lho lihat kamu...”, kata Misha. “Aku juga, andai kamu cowok, sudah kupeluk dari tadi...”, kata Evan. Misha tersenyum, sedih. Tuhan, aku ingin jadi cowok, biar dia peluk aku!. Lalu dialihkan pandangan pada teman Evan. Cowok itu datang bersama temannya, berboncengan motor, uh, karena terpaku sama Evan jadi lupa dia ada temannya. “Dari Westside?”, cowok itu mengangguk. “Wah, kukira Evan bareng temen ceweknya...ternyata sama cowok, hehe...eh, Van, mampir ke kostku ya...setelah urusanmu selesai dan lihat pameran buku...”, Evan memandang ke arah jalan. “Eh, memangnya nggak ada yang marah Misha...cowokmu gimana...”, Misha tertawa. “Cowok apaan, kamu tahu ayahku kan, kalau belum lulus S1 gak boleh pacaran...”. Evan tertawa. “Bagus itu...”, mereka berbincang kira-kira sepuluh menit. “Kamu mau masuk kuliah kan...sana gih, ntar telat lho, aku juga harus pergi...”, kata Evan. Misha menghela nafas. “Baiklah...take care Evan, kalau sempat mampir lagi ya...please..please...”. “Oh ya, jalan ke Middle town?”. “Lurus aja, setelah itu mentok belok kanan, eh, ntar mampir lagi ya, please...”... cowok itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Aih, tangan itu...ingin sekali Misha menyentuhnya, menggenggamnya. Motor Evan melaju meninggalkan Misha, gadis itu hanya bisa memandang sampai motor Evan lenyap di kejauhan. Tak terasa air mata Misha mengalir, “I Love You Evan...aku mencintaimu...”, betapa mudahnya diucapkan, tapi saat Evan berada di depannya tadi, kenapa kata-kata itu sangat sulit terucap? Misha tak pernah mengerti.
Evan, cowok itu adalah sahabat Misha waktu SD, umurnya tujuh tahun saat pertama melihat Evan diperkenalkan di depan kelas, betapa manisnya wajah itu, terlihat ramah dan lembut, mungkin sedikit cengeng. Misha suka semua yang ada di diri Evan, kepintarannya, kebaikannya, pokoknya semuanya!. Kedekatan mereka di kelas kadang jadi bahan ejekan anak-anak, mulanya Misha marah, malu, tapi hati kanak-kanaknya yang polos mengakui, dia suka sama Evan. Tak banyak yang Misha bisa ingat, karena saat mereka kelas lima SD, Evan pindah ke luar kota, tanpa pamit. Yang Misha tahu, saat liburan kenaikan kelas berakhir, cowok itu tak pernah muncul lagi di sekolah, Misha bertanya pada Bunda, kenapa rumah Evan kosong?. Bunda bilang, Evan sudah pindah...berhari-hari Misha nangis, karena kangen dan benci. Benci! Kenapa Evan nggak pernah bilang kalau dia mau pindah? Nggak ninggalin alamat atau nomor telpon...gimana Misha bisa menghubunginya?.
Misha berusaha keras memperhatikan penjelasan Pak Agus di depan kelas. Wajah Evan masih saja membayanginya. “Dasar Kakek!”, gerutunya. Kakek adalah panggilan Misha buat Evan, habis cowok itu tiap kali SMS selalu memberikan nasehat, seperti kakek-kakek aja, tapi Misha suka kata-kata yang disampaikan Evan melalui SMS, selalu memberikan arti yang dalam dan bisa direnungkan. Misha tersenyum. Apa Evan percaya, kalau kukatakan aku menyayanginya? Hehe, dia pasti hanya menganggapku ngelantur atau apa, mungkin juga dia menyadari aku menyukainya, tapi selalu tak ingin mengakuinya, ah, entahlah, aku juga nggak mengerti kenapa perasaan ini ada di hatiku? Dan kenapa harus Evan? Tuhan, Kaulah pemilik Cinta. Kau jugalah yang menciptakan cinta ini, bukan?. Setelah berpisah jarak dan ruang yang begitu jauh dengannya, kau pertemukan kami kembali, meskipun aku tahu aku bukan orang yang bisa dia cintai, aku tak pernah berhenti mencintainya. Evan pun tak berhak melarangku mencintainya, bukan?. Kumohon Tuhan, izinkan aku mencintainya, dan...berharap dicintai olehnya...Misha tersenyum, sedih. Cinta...apakah yang membuat jantungnya berdetak tak wajar tiap bertemu Evan, apakah yang membuat wajahnya panas saat menatap cowok itu...apakah yang membuatnya ingin selalu melihat cowok itu tersenyum adalah perasaan yang disebut Cinta?
---
Misha kaget saat merasakan getaran yang begitu keras mengguncang kamarnya. Gempa. Setahun belakangan di Southside emang sering terjadi gempa, meskipun dalam skala kecil cukup mengagetkan dan membuatnya takut, tanpa disadarinya dia SMS ke nomor Evan. “Kakek, tahu gak...Misha takut nih, ada gempa lagi...”, nah lho, padahal ini pukul tiga pagi, Evan juga khan masih tidur, lagian Evan bisa apa?. Cowok itu jauh di Westside sana! Tapi logika memang selalu kalah. Misha merasa tenang, walau hanya memberi kabar seperti itu pada Evan, duh, Misha sendiri nggak ngerti, kenapa di depan Evan dia seperti menjelma kembali menjadi bocah SD yang manja dan cengeng itu. padahal di kampus dia terkenal cool dan galak, wakil kelas PM lagi! Misha menjadi seperti memiliki dua sosok. Dia tak bisa membayangkan wajah Evan kalau cowok itu tahu Misha bisa juga galak dan teriak-teriak mengatur temannya bertransaksi saham di kelas simulasi Pasar Modal, aih!
Esoknya Evan baru membalas. “Mungkin Southside butuh pengorbanan darah segar darimu non, biar gempanya reda...hehehe”. Misha nyengir, betapa kekanak-kanakkannya! Tapi dia merasa senang, sepatah dua patah kata dari Evan selalu membuatnya bersemangat, tapi selama ini dia memang hanya bisa curhat sama Evan meski dalam bentuk terselubung. “Kenapa Tuhan menciptakan cinta jika kita nggak boleh pacaran?”. Pertanyaan itu belum Evan jawab sampai sekarang.
11 February 2007
Misha berpikir, apa sebaiknya dia membuang perasaan cintanya ke tempat sampah? Atau ke laut saja? Kalau beruntung biar Evan menemukannya, atau jadi makanan ikan sekalian. Andai cinta bisa di delete, dan daripada mikirin si jangkung itu kan energinya bisa untuk mikirin yang lain, Banjir di Neo City misalnya, gara-gara proyek pembangunan gedung dan Mall tanpa diimbangi sanitasi yang baik, seminggu ini Neocity terendam banjir!. Sungguh memalukan, padahal Neocity kan ibukota negara, Central, malu-maluin nih negara di mata dunia aja...uh! Tuhan, tolonglah hambamu ini...kalau Evan tahu aku jatuh hati padanya sampai rasanya mau mampus gini, bisakah...bisakah aku hilang ingatan saja...bikin aku kecelakaan atau gimana, jangan sampai cacat, tapi cukup hingga otakku melupakan Evan, perasaan ini begitu menyiksa, menghancurkan bahkan membunuhku perlahan-lahan. Aku tak ingin jatuh cinta dan menghianati persahabatanku dengannya...please Tuhan, berikan jawaban padaku, pertanda padaku, apa yang harus kulakukan...aku sangat menyayanginya hingga tak mampu kehilangannya, cinta ini mungkin bisa menyakitinya, aku nggak mau itu, aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin berada di sampingnya, tapi tetap saja hatiku ini kotor, aku mencintainya, menginginkannya untuk diriku sendiri...tolong aku Tuhan, tolonglah aku.
Ikhwan terhormat, muka malaikat, tuan suci tak ternoda bernama Evan, yang digoda setan penggoda bernama Misha! Sungguh cerita yang sangat bagus! Apalagi Evan tuh berhati selembut salju, baik sama siapa saja, baik sama cewek-cewek, jadi Misha gak boleh GR tuh, dan lagi...banyak loh, yang naksir sama Evan! Gimana enggak? Sudah cakep, bodynya bagus, pinter...kurang apa sih seorang Evan? Mungkin sifat jeleknya adalah terlalu polos dan baik hati...kalaupun Misha nekat mencium bibir malaikat itu, Evan mungkin hanya menatapnya sedih dan menangis. “Misha...jangan jatuh cinta padaku...dosa...aku nggak mau kamu terlibat dosa gara-gara aku...hiks!”.
Busyet! Kenapa Tuhan? Kenapa tak kau buat dia saja yang jatuh hati padaku, tergila-gila, biar dia rasakan betapa tersiksanya batin ini, pura-pura alim di depannya, menyentuh tangannya saja aku tak bisa, padahal hatiku ingin sekali menyentuh wajah lembut itu, menatap matanya dan bilang betapa aku sangat menyayanginya, tapi sentuhan tanganku bagai lidah api neraka yang bisa menghanguskan tubuhnya. Tuhan, aku sadari posisiku, aku tahu siapa diriku...cewek yang biasa saja, cantik enggak, pinter enggak...wuih! Tuhan, kenapa Kau ciptakan Evan begitu sempurna? Begitu...ah...tak tersentuh? Seperti apakah wanita yang kelak bersamanya? Apakah sebentuk sosok yang sempurna juga...wanita yang sangat cantik, alim, lembut...makhluk sejenis dengan Evan.
Evan...Evan..Evan...yang menasehatiku untuk selalu mencintaiMu, selalu menyebut namaMu, bernafas dengan menyebut namaMu...”Cinta itu milik Tuhan, Misha...”. ya, aku tahu...aku tak boleh memikirkan Evan lebih daripada aku memikirkanMu, jadi Tuhan, tolong, cintailah aku, bukankah Engkau maha pencemburu?. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya, atau...tolonglah aku...keluarkan aku dari kegelapan ini...
Misha menuangkan semua perasaannya di laptop, merenung sejenak, ah, betapa cepat waktu berlalu, jika Evan berada di sampingnya, padahal, saat sendirian dan sedih seperti ini, dia merasa waktu terlalu lambat bergulir. Gadis itu kembali mengetik dan mencoba mengingat apa yang bisa dia ingat. Waktumu tak banyak Misha, tapi kau tahu satu hal, hidup ini sudah memberi banyak hal, Tuhan sangat menyayangimu, jadi kau tak boleh serakah..

Gadis itu terbatuk dan cowok berkacamata yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan pandangan bertanya. “Are you okey?”, gadis itu mencoba tersenyum tapi gagal, sebuah rasa sakit yang dalam menghentak dadanya dan tak sengaja darah memercik dari bibirnya. Oh, God, semoga dia tidak melihatnya. “Misha...”, Evan mengernyit tangannya terulur. “Bibirmu berdarah...”, gadis itu dengan gugup mengelap bibirnya. “Uh, pasti karena tergigit tadi...uhum...”, dia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba berpikir lagi. “Misha...ada apa sebenarnya, tampaknya kamu ada masalah dengan pernafasanmu...aku...”, Misha mengangkat tangan, mencegah Evan bicara. “Nggak papa...”. cowok itu malah berlutut di depan Misha dan memandang gadis itu tajam. “Realy?”. Misha memandang Evan, wajahnya mengernyit. “Tidak...aku, sebenarnya aku...kena kanker paru-paru stadium dua...umurku tinggal menghitung bulan lagi...”.
Evan memandang kedalaman mata Misha, wajah cowok itu berubah keruh, dahinya mengernyit. Misha menggigit bibirnya, lalu menoleh, menghindari tatapan mata Evan, pandangan matanya terasa kabur, wajahnya memanas. Tak lama tawa Misha berderai memecah kesunyian taman. “Mmmuahaha...lihat tampangmu itu Van...kau ini...aduduh, apa bicaraku sudah keterlaluan hingga tampangmu jadi kayak orang patah hati gitu? Cep..cep...jangan nangis, aku cuman bercanda...”. Evan berdiri, dia tidak tertawa, bahkan tersenyum seperti dugaan Misha, cowok itu kini berdiri seperti mendung menghalangi cahaya matahari menyinari Misha. “Nggak lucu, tahu....bodoh! kalau kau cowok sudah kupukul hidungmu!”, Misha tak mengira Evan marah. “Ah, sudahlah, lagipula masak mahasiswa FK Pro sepertimu bisa ketipu sih...haha...gimana mengatasi pasienmu kelak?”, Misha ikut berdiri, menepis debu yang menempel di jacket hitamnya. “Wah...wah...gimana pernafasanku nggak terganggu coba, kota ini sudah berubah ya, jadi kota industri...bikin nafas sesak, padahal kita sudah ada di taman, yah, sebaiknya kita segera ke Terminal, sudah pukul dua, aku nggak mau ketinggalan bus”.

Misha membaca tulisan di laptopnya, mengenang masa-masa itu. “Siangnya dia mengantarku pulang, kami berdiri di Terminal Old Town, menunggu Bisku. Tak lama bisku datang dan aku masuk, sungguh berat rasanya, meninggalkan kota ini, meninggalkannya. Andai aku bisa, ingin kuteriakkan padanya. “Aku mencintaimu, kau tahu?”. Ingin kusentuh tangannya, kugenggam kehangatannya, tak hanya dalam mimpi saja. Tapi aku perempuan. Dan kisah ini Tuhan yang memiliki, tapi aku tak pernah menganggap ini suatu kebodohan. Kupandang dia dari jendela bus, seperti saat itu...tapi kali ini dia memandangku, aku menoleh ke arah depan, supaya dia tak melihat airmataku yang tak tertahan lagi....”
Evan, aku tak pernah menyesal mengenalmu, kau tahu, kau seperti bintang yang membuatku bertahan, mengatasi semua hal yang menderaku, mengatasi segala rasa sakit yang timbul, rasa sakit yang rasanya ingin kutukar dengan apapun yang kumiliki kecuali nyawaku, ya, Evan, aku masih ingin hidup, seratus, atau seribu tahun lagi...menikmati keindahan dunia ini, oh, baiklah, sampai Palestina dan Israel memperoleh kata sepakat damai! Kalau dunia ini sudah peace and love, barulah dia bisa mati dengan tenang, lalu gadis itu nyengir lebar. “Semangat Misha! Hidup nggak untuk ditangisi, tapi dinikmati”. Tak lama gadis itu keluar kamar kosnya dan memanggil penjual sate yang kebetulan lewat. “Benar juga kata Evan, yang bisa membuatku bergairah adalah sesuatu yang berawalan dengan huruf F, ‘Food’ haha...tapi, apa sih yang lebih penting dari makanan?”.

“Apa aku akan mati?”, Caesar menghela nafas, menatap Misha tak mengerti. “What the...”. “Bilang saja...apa aku akan mati muda heh?”, dokter muda itu mengambil kertas yang diacungkan Misha di depan hidungnya. Pagi itu Misha sengaja mendatangi kos Caesar yang berada di samping tempat kosnya. Cowok itu baru saja diwisuda dan sekarang sudah Intership di Southside International Hospital. “Kanker paru-paru? Kamu?”, Caesar memandang Misha tak percaya. “Si tukang makan dan gemar berkelahi sama cowok? Kalau gangguan syaraf sih aku percaya...tapi kanker...”, Caesar mencoba mencairkan suasana. “Makanya, kalau memar di paru-paru karena aku main baku hantam sama Donny dulu sih, aku percaya, tapi kalau diagnosisnya kayak gitu, aku kira ada kekeliruan. Bukannya aku tak percaya pada takdir, kematian, atau apa, tapi aku masih nggak percaya, jadi, tolong...temani aku periksa sekali lagi ya...kalau ternyata benar, aku memang benar-benar harus pasrah nih”. Caesar tersenyum. “Misha, aku juga berharap demikian, semoga ini seperti sebuah lelucon untuk kehidupanmu, aku juga curiga, dengan kondisi tubuhmu dan cara nafasmu yang kayak putri duyung itu...sepertinya kau memperoleh diagnosis yang salah...”.
---
Misha mencoba berpikir realistis, kadang juga agak berkhayal, semua ini hanya mimpi, tapi rasa sakit di dadanya benar-benar nyata, nafasnya aneh, sakit...rasanya memang ada sesuatu di paru-parunya. Oh Tuhan...jangan dulu...aku belum mau mati, masih banyak hal yang ingin kulakukan, aku belum ke tanah suciMu, belum membahagiakan kedua orangtuaku, belum...apa ya...sebenarnya aku pengen ke Itali ketemu Valentino Rossy, itu kalau Kau izinkan dan kasih bonus untuk hidupku yang singkat ini, dan oh, aku hampir lupa...Evan, my Obsesion...my Wish...
“Selamat tinggal kekasih hatiku, ku harus pergi tinggalkan engkau. Tapi, percayalah satu hal...cinta ini adalah milikmu. Temukanlah kebahagiaan, dan biarkan aku berbahagia dengan sayap yang diberikan Tuhan padaku. Kuterima undangan Tuhan dan tinggalkan Engkau, terimakasih kau melewatkan hari-hari bersamaku, menghiburku dan mencintaiku...”, sebait lagu berjudul Angel milik NeoHope terdengar dari radio Putri, membangunkan Misha yang asyik tertidur. “Busyet! Kenceng banget, gak tahu orang lagi asyik mimpi apa?”, Misha menyingkirkan selimutnya dan melirik jam di dinding. “Oh my God...lagi-lagi aku telat subuhan....”, Misha setengah berlari menuju tempat cuci dan berwudhu. Setelah melakukan kewajibannya dan berdoa, uhm, lebih tepatnya merengek, “Please Tuhan...berikan aku kesempatan kedua...kali ini aku nggak nakal lagi deh, janji! Aku akan manfaatkan hidupku sebaik mungkin, nggak berantem lagi, nggak malak makanan temanku, dan...Tuhan, jagalah Evan, bahagiakan dia, dia itu orangnya sangat baik, Kau tentu tahu, jadi, please, berikanlah apa yang dia inginkan...yang dia butuhkan...I Love You Tuhan....”. lalu dilepasnya mukena dan kembali duduk di depan laptopnya. Hari minggu, seperti biasa, dia menuliskan apa yang ada di hatinya. “Kalau benar aku memang sakit Kanker, yah, mo gimana lagi? Tapi aku janji, itu nggak akan mengubah apapun yang ada dalam hidupku, Tuhan memberikan apa yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan...lagipula, mengutarakan perasaanku pada Evan sekarang, bisa mengganggu studynya, kuliahnya saja sudah berat, aku nggak mau perasaan cengeng seperti ini mengganggunya, aku ingin dia tetap penuh semangat, aku nggak mau memberikan kesedihan di hatinya yang baik itu”.