
(Part I :Codename: Gunslinger)
Jendra mengumpat pelan saat sebuah sepeda motor melesat hampir menyerempet mobil sport silver metaliknya. Apa pengendara sialan itu nggak tahu ini jalan perumahan, bukan jalan raya?. Kalau sedikit saja mobil yang dibelinya susah payah dengan keringatnya sendiri dan dimodifikasi Excel, temannya di MIT yang ahli mesin, sampai terserempet motor sialan itu, dia bertekad akan mengejar pemiliknya sampai ke ujung dunia.
Dengan malas dibelokkannya pelan mobil itu sambil melirik sekilas catatan yang digenggamnya, kalau nggak salah rumah nomor 22...yups...itu dia...Jl. Earthalliance no. 22. Jendra mengklakson keras membuat satpam yang tengah tidur melompat dari kursinya.
Jendra memasuki gerbang besar itu dan terkejut mendapati motor yang berpapasan dengannya tampak angkuh terparkir di halaman, kalau menuruti emosinya, hampir ditabraknya motor balap berwarna biru terang bernomor 46...wah, pemiliknya pasti penggemar fanatik Valentino Rossi. Dasar bocah!. Rutuk Jendra dalam hati. “Hendak bertemu siapa tuan?”, seorang wanita separuh baya yang tengah menyiram tanaman menghampirinya yang tengah meneliti catatan di tangannya. “Benar ini rumah tuan Arya Sanjaya?. Saya Jendra Rahadewa, yang akan menyewa kamar, kost...”.
Wanita itu memperkenalkan dirinya. “Saya Bu Ranti, yang mengurus rumah ini, memang ada beberapa kamar yang disewakan,tuan juga sudah menelpon saya, apakah anda putra tuan Mahendra?. Tadi tuan telpon ada salah seorang putra rekannya yang akan menyewa tempat ini...”. “Benar, ayah saya yang merekomendasikan tempat ini, bisa saya bertemu nyonya rumah, kemudian melihat-lihat kamar yang akan saya tempati?”. Bu Ranti tersenyum. “Maaf, tuan dan nyonya sedang keluar negeri, jadi putri tunggal mereka, non Tasya yang mengurusnya, mohon anda menunggu sebentar dan saya akan memanggilnya”. Bu Ranti memasuki pintu rumah yang sedikit terbuka.
Jendra mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi yang empuk di ruang tunggu, rumah ini sangat besar, kawasan elite, penataannya pun indah, suasananya yang sepi menjamin ketenangannya, apalagi sebagai seorang arsitek dia butuh ketenangan yang lebih, saat dilihatnya motor balap itu, Jendra sedikit gusar, mungkin itu motor pacar si pemilik rumah, siapa namanya tadi..Tania? Tasya?. Tapi tempat ini sangat strategis, dekat dengan Westside University, kampus dimana dia akan mengajar. Sedikit tersenyum dia membayangkan ketidaksetujuan ayahnya. “Kamu bisa bekerja di kantor papa, Jendra, untuk apa mengajar di Westside?”. “Jendra sudah besar pa, Jendra ingin memiliki kemampuan sendiri untuk hidup, selama ini Jendra sudah banyak dibantu papa, semuanya papa yang mengurus, kali ini Jendra yang akan mengatur hidup Jendra, bekerja dan memiliki uang yang Jendra hasilkan sendiri, please, papa ngertiin Jendra...ini jalan hidup Jendra”. Mahendra hanya menghela nafas, putra bungsunya sudah dewasa sekarang, bukan bocah kecil yang cengeng dan penakut itu, wajah kanak-kanaknya sudah menjelma, bermetamorfosis menjadi lelaki dewasa dan sama angkuh dengan dirinya, Mahendra seperti melihat dirinya waktu muda di cermin. “Baiklah, tapi saat papa butuh bantuanmu, kau harus mau meluangkan waktumu, kau tahu, rencana papa sebenarnya ingin kau bekerja di sini, jadi setiap hari kau bisa pulang dan menemani kami, mamamu sangat membutuhkan kehadiranmu, seharusnya kau diam di rumah dan carilah seorang istri yang baik, kau ini anak bungsu...setelah jauh-jauh kuliah di Amerika, masa kau tega meninggalkan mamamu dan bekerja di kota yang jauh?”. Jendra tertawa. “Please...Jendra bukan anak kecil lagi pa...tapi Jendra sama sekali tak bisa berpikir untuk menikah”.
Lamunannya buyar saat melihat bu Ranti datang bersama seorang pemuda berkaus oblong, berjacket distro hitam dan celana gombrongnya yang longgar menyapu lantai. Mana Tasya...kenapa cowoknya yang datang?. Tapi saat pemuda itu mendekat dan Jendra jelas-jelas melihat wajah cemberut yang malas-malasan di balik topi kumal itu, dia merasa bingung, cowok itu berwajah manis. “Kamu yang akan menyewa kamar?”, suaranya seperti anak perempuan. “Yup’s”. Pemuda itu memandang Jendra sejenak. “Coba kulihat KTP kamu...”. Jendra mengambil dompetnya di saku dan mengangsurkan KTPnya. Bocah berandalan itu melihatnya sejenak lalu mengangguk pada Bu Ranti. “Benar dia orangnya bu, baiklah, ayo kita lihat kamarmu...”. Busyet! Kurangajar banget nih bocah, manggil aku-kamu seenaknya, paling tidak harusnya dia manggil Bang, Mas, Kak, apa nggak diajari sopan santun?.
Jendra mengikuti Bu Ranti dan pemuda itu menuju sisi samping rumah yang terdiri atas beberapa kamar berteras luar. “Buka kuncinya bu...”, kata pemuda itu. “Baik non”. Jendra mengernyit. Non?. Dipandangnya tajam pemuda berwajah halus itu. “Kamu Tasya?”, tanyanya sambil mengernyit. Tasya hanya mengerdikkan bahu. “Gitu deh, nah, kamu lihat kamarnya, kalau cocok papa bilang uang mukanya langsung kasih ke aku...”. Jendra melihat kamar besar itu, kondisinya bagus, sangat luas, apalagi ada jendela besar yang membuat kamar jadi terang, meja gambarnya akan dia tempatkan di dekat jendela itu. Lalu kamar mandi dalamnya juga sangat mewah dan nyaman, jacuzzinya cukup untuk empat orang, Jendra membayangkan betapa nyamannya berendam di sana sehabis mengajar. “Bagus...eh, apakah kamar ini pernah ada yang menempati?”, tanya Jendra pada Tasya. “Nggak, rumah ini baru dibangun dua tahun yang lalu, disiapkan untukku, aku kuliah di Westside semester besok...”.
Jendra bergumam kesal. Bocah kemarin sore! Ternyata baru calon mahasiswa semester pertama. Sedangkan dia adalah dosen di universitas itu. “Ambil apa?”, tanya Jendra. “Eh?”. “Kamu kuliah apa?”. Dia memandang wajah yang separuh tertutup topi itu. “Ekonomi...kamu sendiri kuliah apa?”, tanya Tasya. Jendra menggerutu kesal dalam hati. “Nggak kuliah, ngajar...jadi dosen Arsitektur semester ini”. “Oh...”, Tasya menggaruk telinganya lalu memandang Jendra. “Jadi gimana, kamu suka kamarnya nggak? Jadi nyewa nggak?. Ada yang perlu diganti...wallpapernya atau apa?’. Jendra menghela nafas. Jadi cuma ‘oh’ yang meluncur dari mulut gadis itu. Jadi dosen itu pekerjaan yang nggak gampang didapat tau!. “Nggak usah, kalau itu biar kuurus, aku sudah menyewa penata ruang sendiri”. “Terserah kau saja, kalau sudah setuju biar Bu Ranti ambilkan cek yang harus kamu bayar...selamat datang di Westside...siapa namamu?”.
Jendra hampir mati kesal mendengar gaya Tasya yang cuek saat bicara. “Jendra”, sekilas Jendra menyalami tangan kecil itu, kontras dalam genggaman tangannya yang besar. Lalu gadis itu menarik tangannya dan memasukannya ke saku, menoleh ke arah bu Ranti. “Kita sudah deal bu, Bu Ranti urus semuanya ya...Tasya mau mandi dulu...”, lalu tanpa menoleh lagi pergi meninggalkan Jendra.
Jendra tersenyum sinis, dasar bocah! Rutuknya. Biasanya gadis seperti apapun akan tunduk dalam pesona mata elangnya. Ya Tuhan, umurnya baru duapuluh delapan! Apakah gadis kecil itu menganggapnya terlalu tua?. Bu Ranti mendekat. “Bagaimana tuan?”. “Baiklah, saya ambil kamar ini, besok barang-barang saya akan tiba, secepatnya saya akan menempatinya karena seminggu lagi saya sudah bekerja di WU. Bisa kuncinya saya bawa sekarang?”, bu Ranti mengangguk dan menyerahkan cek plus kunci. Jendra mengambil cek itu dan memasukkannya di saku.
---
Dua hari kemudian semuanya sudah beres. Dengan puas Jendra memandangi hasil kerja penata ruangan yang disewanya. Sekarang kamar besar itu terlihat elegan dengan dinding abu-abu keperakan ditegaskan warna hitam pada pinggirnya yang kontras, barang-barangnya yang hampir semua berwarna hitam atau perak membuat ruangan begitu maskulin. Dia menata letak cahaya hingga penerangannya menjadi sempurna untuknya bekerja. Saat tak menggunakan lampu utama, cahaya biru samar akan menerangi kamar, membantunya rileks saat tidur. Kamarnya memiliki dua pintu, yang satu menuju beranda dan satunya...Jendra membuka pintu. Terhubung dengan ruang utama, tuan rumah memang menyiapkan ruangan itu terhubung langsung karena anak yang kost disana juga dijamin makanannya. Karena hanya Tasya dan dia yang menempati rumah ini, ayah Tasya mengatakan melalui telepon kalau Jendra bisa sekalian makan bersama di rumah itu, Bu Ranti juga merupakan koki yang handal, Jendra setuju, apalagi pekerjaannya menuntut banyak perhatian, jika ada yang mengurus makanannya, semua jadi lebih baik. Dia juga bisa menggunakan garasi untuk mobil sport peraknya. Berdampingan dengan jaguar hitam yang tak digunakan pemiliknya, Jendra sempat heran melihat motor balap merek Yamaha itu juga nongkrong di garasi. Sekilas Jendra melihat ruang makan lalu kembali menuju kamarnya. Menyibukkan diri dengan laptopnya dan menyiapkan silabus untuk mahasiswanya besok.
---
Seminggu ini dia ingin merilekskan dirinya sebelum mengajar. Sejak pulang dari Amerika dia belum sempat menikmati liburan. Karena setelah mendengar lowongan kerja di Westside dia cepat-cepat mengurusnya dan dia harus membantu ayahnya menyelesaikan beberapa proyek besar. Sedikit banyak tenaganya sudah terkuras. Dibukanya kulkas kecil yang memang dia sengaja tempatkan di kamar, nyengir melihat isinya, dia belum sempat belanja. Isinya hanya beberapa kaleng juice. Nggak bagus minum juice jeruk pagi-pagi. Diliriknya jam di dinding. Masih pukul enam. Diambilnya sebuah handuk bersih dari lemari, lalu keluar kamar menuju halaman belakang, dia boleh memakai kolam renang rumah itu. “Terserah...”, kata Tasya cuek saat dia menanyakannya. Jendra hanya nyengir melihat bocah itu, selalu berpenampilan acak-acakan dan terkesan kucel.
Air kolam yang dingin membuat Jendra sepenuhnya bangun, kantuknya sudah lenyap. Bolak-balik mencoba menciptakan rekornya sendiri, Jendra menikmati kecepatan yang dia buat, lalu dia menyelam. Melatih nafasnya, sejak kecil dia sudah berlatih bertahan di bawah air, ingin tahu, seberapa kuat paru-parunya. Olahraga rutin yang dia lakukan membuatnya selalu tampil bugar. Memangnya tubuh bagus datang tiba-tiba dari Tuhan? Sudah terbentuk sejak lahir?. Jendra tersenyum sinis. Orang hanya bisa memandang iri, tanpa tahu, dia selalu menjaga makan dan olahraga teratur untuk mempertahankan bentuk tubuhnya. Beberapa menit kemudian dia kembali ke permukaan. Setelah mengatur nafas dia naik ke tepi. Rasanya sudah cukup, sarapan pagi mungkin sudah menunggu.
Tasya kaget, saat dibukanya pintu halaman belakang, dia melihat Jendra berdiri di tepi kolam renang, basah. Hanya memakai celana renang pendek, dan handuk melilit lehernya. Tubuhnya bagus, kulitnya kecoklatan, sepertinya dia selalu melawan matahari. Pria itu tampak semakin tinggi. “Hai...”, sapa Jendra. Tasya memakai t-shirt putih dan celana pendek, kepalanya tertutup topi hitam jelek. Jendra seperti melihat seorang bocah lelaki, tapi saat diliriknya dada bocah itu dia tersenyum kecil, itu yang membedakannya dari anak lelaki. Tasya merasa jengah saat pandangan mereka beradu, tatapan pria itu seolah menguasainya, seperti magnet, menggodanya untuk melangkah mendekat....Menarik, wajah itu mengingatkannya akan tokoh Vaan di game FF 12.Tasya menghela nafas lalu mundur dan masuk ke dalam rumah.
Dengan sudut matanya Tasya melihat Jendra menuju ruang makan, sudah berganti pakaian, celana hitam longgar dan kaus senada bertuliskan huruf-huruf putih besar. “Full Metal Archie”. Rambutnya yang gondong sebahu agak basah. Cepat-cepat Tasya mengalihkan pandangannya pada bu Ranti yang membawa semangkuk sup besar dan berbau lezat, memandang pria itu membuatnya...ah, aneh. Sedapat mungkin dia mencoba tak acuh pada pria itu, tapi Jendra seolah memiliki magnet di wajahnya, yang menarik siapapun untuk meliriknya.Wajahnya tampan dan menantang, tapi tatapan matanya tajam dan terkesan sinis, Tasya agak takut dengan sorot mata itu, terlalu tajam, terlalu menguasai. Dan lagi Jendra adalah pria dewasa, pengalamannya pasti banyak, dari gayanya yang santai, Tasya tahu, Jendra berbahaya. Pria itu seolah tahu betul apa yang pantas bagi dirinya, gaya berpakaiannya selalu pas dengan keadaan, pas dengan tubuhnya. Dia terlihat dewasa dan elegan saat memakai jas dan kemeja di kampus, tapi dapat juga terlihat kalem, begitu muda dan energik dengan kaos tanpa lengan dan celana longgar. Seperti poster Slim Shady yang menghiasi kamarnya. “Trims..”, kata Jendra saat bu Ranti melayaninya. Tiba-tiba terdengar dering HP, pria itu mengambil HP dari saku celananya. “Oh, Joe...what’s up...?”, bahasa Inggrisnya bagus dan lancar, kelihatan banget dia sudah lama berada di luar negeri. Tasya memang pernah mendengar kalau pria itu sempat tinggal di Amerika. Setelah bicara agak lama, pria itu mematikan HPnya dan kembali menikmati sarapannya.
Suara motor yang berisik terdengar memasuki halaman. Jendra memandang sekilas dari jendela kamarnya. Beberapa motor balap masuk, mungkin teman-teman bocah itu, dilihatnya beberapa anak laki-laki berpenampilan berandalan memasuki ruang depan. Tak lama Tasya keluar, pakaiannya sudah berganti, jacket distro hitam dan celana panjang gombrong gadis itu berbicara dengan salah satu cowok, lalu dilihatnya gerombolan itu menuju garasi, mungkin pacar bocah itu mau mengambil motor di garasi. Alis Jendra terangkat saat melihat Tasya sendirilah yang mengeluarkan motor dari garasi, mengendarainya dengan gagah, menjajarkannya dengan motor milik temannya. Setelah berbicara beberapa saat, gerombolan itu dengan berisik meninggalkan halaman depan. “Gila!”, Jendra nyengir, ternyata motor balap itu milik Tasya!.
---
Raungan suara motor membangunkan Jendra, dilihatnya jam di dinding, masih setengah tujuh, dia mengajar jam delapan nanti, dengan kesal pria itu menyibakkan tirai berat yang menutupi jendela. Mungkin pacar bocah itu, ngapain pagi-pagi menyetel motornya? Mengganggu sekali, lalu pria itu keluar dan menuju halaman. Tapi di sana dia malah melihat sosok ramping yang asyik mengutak-atik mesin motor. Jendra mengernyit, tak menyangka Tasya tahu seluk beluk mesin motor besar itu. Meski sama kucelnya dengan penampilannya setiap harinya, Tasya terlihat seperti cewek, karena rambut panjang-ikalnya yang biasa tersembunyi di balik topinya, sekarang tergerai berkibar tertiup angin pagi.
“Pagi”, Tasya membalikkan badan mendengar suara serak pria menyapanya. Jendra hanya memakai celana panjang longgar, dadanya yang coklat dan telanjang dibiarkannya tersapu angin, apa pria itu nggak takut masuk angin?, pikir Tasya. Masih dengan mata yang acuh seperti biasa Tasya menggumam,”Pagi juga...”, lalu serius memandang mesin motornya. “Kenapa motor itu?”, Jendra berjongkok di dekat Tasya hingga gadis itu dapat mencium aroma tubuh Jendra. “Hanya butuh perbaikan sedikit, suaranya agak aneh, waktu roadrace kemarin ada yang janggal...”, Tasya fokus pada mesin motornya. “Roadrace? Kamu?”, Jendra memandang gadis itu. “Ya...kenapa? itu hobbyku...”, Jendra bersiul lalu meneliti mesin motor itu. “Coba kubantu...”.
Tasya heran melihat pria itu bekerja dengan terampil, sepertinya Jendra tahu soal mesin. “Gimana sekarang?”, Jendra memutar gas dan mendengar suara mesin motor dengan seksama. “Ya...sepertinya sudah baik...tapi biar kucoba dulu...”, Tasya menggeser standar, menaiki motornya dan sekejap melintasi halaman dengan suara meraung. Dia berputar dengan gerakan memutar yang berani dan mengerem mendadak di depan Jendra. Pria itu tak bergerak seolah tahu Tasya hanya menggodanya dengan pura-pura hampir menabraknya. “Sudah bagus?”, tanya Jendra. Tasya nyengir. “Oke...kerjamu bagus...ternyata kamu tahu soal motor juga ya?”. Jendra tak menjawab, langsung pergi meninggalkan Tasya. 1-1, pikirnya. Kemarin dia yang dicuekin, sekarang gantian.
Tasya hanya mengerdikkan bahu. Lalu dijalankannya motor itu menuju garasi, dia nggak mau terlambat masuk kuliah di hari pertamanya. Cepat-cepat dia masuk ke dalam rumah dan mandi. Hampir menabrak bu Ranti yang membawa semangkuk sup. “Eh, non, hati-hati...”. “Sorry bu, Tasya keburu, jam delapan masuk kuliah nih, Tasya mo mandi dulu”. Bu Ranti hanya geleng-geleng kepala. Tasya memang berandalan, karena gadis itu tak pernah diperhatikan orangtuanya, sifat keras kepala dan sulit diaturnya sebenarnya hanya sikap memberontak untuk mencari perhatian kedua orangtuanya yang terlampau sibuk, tapi bu Ranti tahu, Tasya sebenarnya anak yang baik dan lembut, dia sering melihat sorot mata gadis yang baru tumbuh dewasa itu terlihat sedih dan kesepian saat memandangi kolam renang. Dia berharap kedatangan Jendra bisa mencairkan kesepian Tasya, mungkin Jendra bisa menjadi kakak yang baik untuk Tasya, harap bu Ranti, dia melihat Jendra sebagai pria yang baik dan memiliki tanggungjawab.
Jendra hampir memasukkan sesuap nasi ke mulutnya saat dilihatnya Tasya menuruni tangga dengan suara gaduh. “Bu Ranti lihat sepatu hitam Tasya nggak? Hari pertama harus pakai sepatu hitam nih, mo Opspek...”, Bu Ranti yang sedang melayani Jendra terkejut lalu tersenyum kecil. “Di rak belakang, kemarin baru ibu cuci, kan non Tasya yang suruh...”, Tasya menuju ruang belakang dan tak lama mencangking sepatunya. Sekilas dilihatnya Jendra memandangnya. “Kenapa? Lucu ya?”, dengan kesal dia memainkan rambut ikalnya yang dikuncir tiga dengan pita warna-warni, itu syarat Opspeknya, belum lagi rok pendek dan kemeja putih yang harus dipakainya, dia merasa kesal terlihat sebagai cewek. Nyebelin, ingin dia memakai jacket hitam dan celana gombrongnya, gagah!. “Kenapa sih harus ada Opspek...”, gerutunya pada diri sendiri. Suara serak Jendra menjawabnya. “Yah, supaya anak baru tahu aturan perkuliahan...”. Tasya tak suka cara pria itu memandangnya, memandang tubuhnya. Risih! Dia paling benci dianggap seperti perempuan. Dengan kesal diambilnya sarapan bagiannya dan pura-pura mengabaikan pandangan Jendra.
“Mo bareng?”, tiba-tiba mobil sport perak itu meluncur di sampingnya, Jendra membuka pintu samping. Tasya memang harus memakai taksi, Jaguar ayahnya belum diperbaiki, makanya dia tak bisa diantar pak Rinto, lagipula terlalu mencolok, kalau kakak kelasnya melihatnya pake Jaguar itu, bisa jadi sasaran empuk dikerjain kakak kelasnya, dianggap sombong. Motornya tak bisa digunakan dengan rok pendek yang dikenakannya, satu-satunya jalan adalah memakai taksi, tapi sialnya, taksi yang biasanya berkeliaran di jalan perumahan tak terlihat, dia menyesal tak memesan Taksi sebelumnya, mana ponselnya tertinggal karena dia tergesa-gesa tadi. Terpaksa dia menerima tawaran Jendra. Apalagi jam sudah menunjukkan waktu limit. Tasya sedikit heran, bagaimana mungkin tubuh jangkung Jendra bisa memasuki mobil yang terlihat rendah itu?. “Pakai sabuk pengamannya!”, kata Jendra. Di dalamnya Tasya menjadi sedikit berbaring saking rendahnya mobil itu, mobil yang terkesan genit. Jadi kalau Jendra berkencan dengan wanita, dia bisa melihat posisi wanita itu terbaring. Tasya menelan ludah. Dia memang gadis kecil yang baru tumbuh, tapi hatinya tak bisa mengingkari betapa menawannya Jendra, secuek apapun dia berusaha, matanya tak bisa mengabaikan begitu saja wajah tampan berahang kokoh dan dilengkapi senyum sinis itu, seperti sepaket lengkap, pria itu memiliki sifat arogan, seperti dewa perang dalam komik cowok yang pernah dibacanya. Tapi Tasya tahu, pria dewasa seperti Jendra hanya menganggapnya bocah kecil yang tak menarik.
Sepanjang perjalanan pria itu melajukan mobilnya secepat halilintar, Tasya yang gemar beradu balap menikmati setiap gerakan yang dibuat Jendra saat menyalip mobil atau truck di depan mereka. Pria itu membiarkan angin menyapu rambutnya yang sedikit gondrong, mencapai bahu. Tangannya hanya satu yang memegang setir, tangannya yang lain menyiku di jendela mobil. Tatapan matanya yang tajam tetap fokus ke depan, konsentrasi, tapi cuek, seperti sedang memainkan game F1 saja. Tak lama mereka melihat gerbang Westside University. Tasya melirik jam yang melingkar di tangannya. “Belum terlambat, bukan?”, tanya Jendra. Tasya mengangguk, sebenarnya dia hanya memeriksa waktu tempuh Jendra. Gila...10 menit kurang!
Padahal biasanya dengan motornya dia merasa puas menempuh jarak dari rumahnya ke Westside selama 20 menit, itu sudah dirasanya cepat, saat mengambil formulir pendaftaran kemarin dia bisa mencapai 17 menit 34 detik. Jendra memarkir mobilnya dengan anggun di tempat parkir khusus dosen. Tasya melepas sabuk pengamannya dan cepat-cepat kabur menuju lapangan Westside University. Jendra mengumpat. “Dasar bocah...ngomong makasih kek!”.
Opspek hari itu sangat melelahkan, Tasya merasa kesal menjadi korban kakak-kakak kelasnya, apalagi yang cewek, judes banget. Karena melawan dan tak mau mengelap sepatu kakak kelasnya, dia dihukum memutari lapangan besar itu sekali. Tasya mengeluh, seluruh tulangnya serasa remuk. Saat taksi berhenti di depan rumahnya dia cepat-cepat menuju dapur, tenggorokannya terasa kering, sekilas diliriknya jam di ruang tamu, pukul tujuh malam. Di dapur dia terkejut melihat Jendra berada di sana, pria itu meminum cairan jingga dengan gelas besar. “Apa itu?”, Jendra memutar tubuhnya saat mendengar suara Tasya. Setelah menyelesaikan tegukannya, pria itu meletakkan gelas dengan kasar. “Juice Wortel...”. “Ih...”, Tasya menggigit bibir, dia nggak suka wortel. “Bodoh, ini supaya matamu nggak kehilangan kemampuan, pandanganku masih senormal waktu bayi karena minum ini...”. Tasya percaya, karena mata itu kini ,menyorotnya tajam seperti laser.
Pintu di belakang terbuka dan bu Ranti masuk. “Gimana Juicenya Tuan muda...wortel itu sayuran organik seperti pesanan tuan, ibu juga sengaja memarutnya, tidak pakai blender, jadi rasanya masih asli...”. Jendra memandang gelasnya yang kosong. “Enak, rasanya segar makanya habis dalam sekali teguk, terimakasih bu, besok pagi tolong siapkan lagi segelas”, lalu pria itu pergi keluar dapur menuju kamarnya. Bu Ranti ganti memandang Tasya. “Non capek? Ibu siapkan makan malam ya?”, Tasya heran, tiba-tiba hausnya telah hilang. “Em, Tasya pengen mandi dulu, nanti kalau sudah siap panggil saja Tasya...”. “Ya non”.
Saat makan malam, Tasya menunggu bu Ranti mengambilkan nasi dan lauk untuknya sambil melihat isi amplop dari panitia Opspek tentang apa yang harus dia siapkan besok. Terdengar Jendra membuka pintu kamarnya dan langkah beratnya menuju ruang makan. Pria itu memakai celana gombrong berwarna putih dan kaus tanpa lengan senada, seperti atlet capoera saja, tampaknya dia memang nggak punya masalah dengan tubuhnya. Ototnya bagus, perutnya ramping. Tasya merasa iri yang aneh, mengapa Tuhan menciptakan pria ini begitu sempurna?
Andai gadis itu tahu, perjuangan Jendra menjadi seperti sekarang lumayan berat. Dulu waktu kecil dia bocah kerempeng dan cengeng, meski pandai, dia selalu jadi bulan-bulanan teman cowoknya di kelas, tiada hari tanpa menangis karena dikerjai. Sifatnya cengeng, karena sebagai anak bungsu ibunya selalu memanjakannya. Bosan mendengar tangis putranya tiap pulang sekolah, ayahnya akhirnya membawa Jendra ke salah satu kenalannya, Makoto Sensei, guru beladiri asli Jepang. Mulai kelas lima SD bocah itu dijejali latihan Kendo dan Jetkundo. Perlahan tubuh kerempengnya mulai terisi, kulitnya yang putih seperti ibunya berubah coklat karena setiap latihan selalu terbakar matahari. Guru Kendonya sangat keras, bocah itu selalu dilatih di pantai yang panas, dengan beban berat di tangan dan kakinya. Jendra yang tadinya merasa tersiksa karena latihan fisik yang tak biasa dilakukannya, lama kelamaan menyukai bahkan latihan itu membuatnya ketagihan. Hal lain yang jadi imbasnya, tubuhnya yang jangkung dan kekar membuat mata para gadis menoleh padanya.
“Gunting tanaman, untuk kegiatan gotong royong, bisa pinjam mang Udin, buku tulis merek A, kebetulan dia punya, Pensil merek B warna biru...ntar bisa beli di toko 24 jam di depan perumahan, kertas karton putih...di sana mungkin juga ada...”, pikirnya tiba-tiba matanya terbelalak, Oh Tuhan, Opspek di Westside kenapa nyebelin banget?. “Sialan...kurangajar banget panitianya....”, teriaknya kesal tanpa sadar Jendra memperhatikannya. Dengan gemas ditekuknya amplop pemberitahuan itu dan dilemparnya di atas meja. Wajahnya ikut tertekuk sambil mengunyah nasi tanpa selera. “Kalau di meja makan, jangan teriak-teriak non, emangnya ada apa, kok kesal gitu?”, tanya Jendra. Tasya menghela nafas panjang. “Besok...para ceweknya pakai kebaya...para cowoknya pakai baju adat Jawa...”, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya. Lalu ide itu terhempas begitu saja. “Yah...papa pasti nggak punya baju adat Jawa, kalaupun ada pasti kegedean...”, gerutunya. Jendra tersenyum kecil. “Heh, masa kau mau nyamar jadi cowok, kalau ketahuan kau akan ikut Opspek lagi tahun berikutnya, karena dianggap gagal”. Tasya menggigit bibirnya kesal. “Kebaya...kebayanya siapa coba...lagian malam-malam gini mana ada salon yang masih buka?”, katanya kesal. Lalu diliriknya bu Ranti yang sedang mengisi air di gelasnya. “Eh, bu Ranti punya nggak?”, tanya Tasya. Bu Ranti sejenak memandang Tasya lalu tergelak. “Tentu saja ada, tapi tubuh bu Ranti kan agak gemuk...non Tasya mana bisa ngepas memakainya?. Terlalu besar buat non...oh ya, coba periksa lemari nyonya, kan banyak gaun dan kebaya untuk pesta...tubuh nyonya kan langsing, pasti pas untuk non Tasya”. Gadis itu menelungkupkan kepala di atas meja. “Mampus gue...kalau teman-teman lihat, mau ditaruh dimana muka gue, masa gue pakai kebaya...busyet, mana bisa begitu...”. lalu dengan lesu dia bangkit dari duduknya dan mengajak bu Ranti memeriksa lemari pakaian mamanya. Jendra hanya menggelengkan kepala, dia merasa geli dengan kelakuan Tasya. Masa sudah segede itu belum nyadar juga kalau dia itu perempuan?. Apa salahnya pakai kebaya?.
---
Jendra merapikan dasinya. Kemeja hitamnya dipadu dasi hitam bergaris perak dan setelan jas abu-abu. Perfect!. Nanti sore dia sekalian mengikuti penutupan Opspek mahasiswa baru. Sentuhan terakhir adalah parfumnya, dia tak pernah memakainya banyak-banyak, hanya sedikit dan samar-samar. Dilihatnya lagi dirinya di cermin. Merapikan rambutnya yang agak gondrong. Lalu dengan kesal keluar kamar. Entah kenapa dia akhir-akhir ini merasa agak narsis seperti bocah remaja yang baru jatuh cinta. Siapa sih yang ingin dibuatnya terkesan?. Dia menepis keras bayangan Tasya. Ngapain dia mikir bocah tomboi yang suka memakai pakaian kumal berandalan itu? . dibukanya pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan.
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar