Dua-duanya sama tampan, memiliki otak yang brilian dan lesung pipit di kedua pipinya, tapi salah satu diantara mereka jarang tersenyum. Dua pemuda itu sebenarnya saudara kembar. Hanya saja, penampilan Rama sangat ‘Islami’, dengan kopiah putih dan baju taqwa yang selalu dipakainya, dia seorang Ikhwan yang santun, sepulang kuliah dia banyak menghabiskan waktu di pondok pesantren tak jauh dari kampusnya. Sedangkan Dhany lebih suka berpenampilan nge-Rock dengan jacket hitam dan motor balapnya, setiap sore dia nge Band bersama sahabat-sahabatnya di Caesar Cafe.
----
Lelah. Rama membetulkan letak kacamata minusnya yang bergeser, mencoba fokus ke layar komputer dan memandang angka-angka di lembaran Excel, pandangannya lelah, tapi dia harus menyelesaikan setiap perhitungan di Rancangan Proposal untuk kegiatan bulan Ramadhan Kampus tahun ini. Dipandangnya layar HP. Bagus, tak ada SMS masuk. Sudah hampir pukul dua pagi, dan dia belum juga bisa beranjak. Untuk menghilangkan kantuk, dia menyalakan I-Pod, mendengarkan Murrotal, Alam Nasyrah mengalun lembut. Sampai pada ayat ketujuh, Rama terhenyak. “Astaghfirullah! Aku belum Shalat Malam...”. Yah, urusan duniawi bisa nanti. Dia beranjak dan mengambil air wudhu. Sementara di waktu yang sama dan tempat berbeda, Dhany asyik menikmati gemerlapnya kehidupan malam, kencangnya hentakan musik ‘Traffic-nya’ DJ Tiesto di keremangan Cafe dan aroma Dry Martini memenuhi udara, membuat pemuda itu melupakan, betapa pentingnya berjaga di malam hari untuk mengingatkan diri siapakah manusia itu sebenarnya di hadapan Ilahi. Yang ada dalam pikirannya adalah menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk kesenangan dirinya.
----
“Adik kamu belum pulang Ram?”, tanya bunda dengan cemas. Rama melirik jam tangannya. Setiap kali ayah pergi keluar kota untuk seminar, Dhany selalu mencuri kesempatan untuk keluar malam. Sudah hampir pukul empat pagi dan anak itu belum juga sampai di rumah. “Biar saya menyusulnya, Bunda ... jangan khawatir ya”, Rama mencium tangan bundanya dan tersenyum menenangkan, tak lama terdengar suara motornya menderu, memecahkan kesunyian pagi.
Rama menghela nafas panjang ketika sampai di depan Caesar Cafe. Hatinya sebenarnya ragu untuk memasuki cafe itu. “Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?”. Setelah melewati pos satpam dan memberikan kartu identitasnya, pemuda itu menuju halaman cafe. Dilihatnya ada sedikit keributan di lobby. Dua orang pemuda saling berhadapan dan mencaci, keduanya terlihat mabuk berat, beberapa gadis berpakaian seksi dan seorang satpam mencoba melerai. Sambil memperbanyak istighfar, Rama mendekati kerumunan itu dan mencoba menyadarkan adiknya yang mulai berteriak kalap memaki lawannya. “Dasar pengecut, cemen, sini kalau lo berani, hadapi gue!”, teriak Dhany sambil memukul pemuda yang menjadi lawannya. “Jangan Dhan! Berhenti!”, Rama berteriak mencegah, tapi terlambat, Dhany memukul pemuda itu sampai terkapar. “Astaghfirullah, Dhany...”, Rama berdiri di hadapan adiknya dan merengkuh lengan Dhany untuk segera pergi dari tempat itu, tapi, pemuda satunya yang sama mabuknya dengan Dhany, mencabut belati dari balik jacketnya dan mencoba menusukkan belati ke perut Dhany, Rama segera melindungi adiknya hingga pada akhirnya, dia yang terkena tusukan belati itu....
Senin, 08.00 am
“Dia masih belum sadar?”, tanya bunda, memandang putra sulungnya yang terbaring di ruang ICU sambil berurai air mata. “Lukanya cukup parah, semoga dia bisa melewati masa kritisnya”, hibur dokter Gunawan. Di lorong, Dhany melihat ayahnya tergesa-gesa menuju ke arah mereka. “Bagaimana keadaan Rama?”, tanya pria yang terlihat lelah itu pada dokter Gunawan. “Kita hanya bisa berdoa, semoga dia bisa bertahan, pak”.
“Dia mulai siuman, pak, silahkan masuk”, seorang perawat mempersilahkan mereka memasuki ruang ICU. Rama memandang ibunya dan tersenyum, sejak kecil, dia sangat menyayangi bundanya. “Allah...”, bisiknya pelan dengan mata redup dan tak lama dia menutup matanya untuk selamanya. Dhany tertegun saat melihat alat di samping saudaranya berbaring, memberi peringatan akan kematian Rama. Bunda terkulai pingsan dalam dekapan ayah.
---
Lihatlah, betapa banyak orang mengantarkan kepergiannya. Bagai untaian melati putih di sepanjang jalan, menangisi kepergiannya. Dhany memandang kakaknya untuk yang terakhir kali sebelum sang kakak dikebumikan. Senyum Rama begitu damai, seolah dia hanya tertidur nyenyak. “Apa gue bakal memiliki kedamaian seperti yang lo rasakan? Apakah gue bakal punya teman-teman sebanyak ini yang merasa kehilangan jika gue mati?”, Dhany memandang sekelilingnya. Semasa hidup, Rama sangat aktif di organisasi kampus, remaja masjid, mengurus pondok pesantren, mengajar di beberapa sekolah dan mengisi dakwah. Betapa banyak kegiatan positif yang dijalani kakaknya, sementara dia? Dhany hanya menghabiskan waktunya kongkow, ngebut di jalan, nge-band, dugem, dan tidak pernah menerima ajakan Rama untuk mengikuti pengajian. Shalat lima waktu sering bolong, Jum’atan hanya kalau ayah ada di rumah, karena jika ketahuan tidak beribadah, hukuman berat akan diterimanya. Airmata membasahi wajah Dhany. “Maafin gue kak, meski terlambat, gue nggak akan sia-siakan pengorbanan lo, gue bakal menjadi orang yang lebih baik dari elo. Semoga elo bahagia di sana kak ... “.
---
Tiga tahun kemudian .....
Di suatu SMK. “Jadi, instalasi software tertentu, memang agak sulit, seperti Corel X3 ini misalnya, ada beberapa keygen dan kita harus aktivasi terlebih dahulu sebelum melakukan langkah instalasi selanjutnya”, pemuda berkacamata itu memandang anak didiknya. “Jika ingin menjadi ahli komputer, ada satu hal yang harus kalian miliki, yaitu kesabaran, sekarang Turn off komputernya, minggu depan kita ulangan!”. Adzan Dhuhur berkumandang, pak guru KKPI itu segera beranjak dari kelasnya dan menuju ruangannya. Masih seperti dulu, dia menyukai warna hitam. Diambilnya jacket hitam dari sandaran kursi dan mengambil kunci motor besarnya. “Mau kemana, pak Dhany?”, tanya Udin, penjaga sekolah. “Ke masjid pak, Dhuhur, setelah itu langsung ke pesantren, saya tidak ada piket hari ini, assalamualaikum”. “Wa’alaikum salam , pak...”. Tak lama, motor Suzuki hitam type R-GSX 600 meraung meninggalkan halaman sekolah. Beberapa murid memandang kagum dari lantai dua. “Pak guru unik ya... gabungan the Rock Boy sama Ustadz...”. “Alim, cool ... meski galak tapi ... keren deh, makanya tiap pelajaran KKPI gue jarang bolos”, gumam seorang gadis berjilbab. “Yeee... dasar genit...”, teriak teman-temannya.
Pak guru yang jadi pembicaraan, kini tengah ngapel di hadapan kekasihnya. Kekasih yang sebenarnya. Berdzikir di dalam masjid dan berharap cinta Allah yang maha sempurna.
Rabu, dinihari 09 09 09
Dhany mengerutkan kening, ada beberapa messages masuk dalam inbox e-mailnya. Salah satunya bertuliskan suatu puisi aneh :
Seandainya hatimu adalah sebuah system,
maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\>nc -l -o -v -e ke hatimu, tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati, whatever!
Seandainya hatimu adalah sebuah system,
ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilities-mu, pake PHP injection, terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d, sehingga aku tahu kalau di hatimu ada folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku. Atau apakah aku harus pasang backdoor “Remote Connect-Back Shell”, jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja, biar aku tidak merana seperti ini.
Seandainya hatimu adalah sebuah system,
saat semua request-ku diterima aku akan nongkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch ‘n pacth terus, aku akan jaga service-mu jangan sampai crash dan aku akan menjadi firewall-mu aku akan pasang portsentry, dan men-setting error page-mu “The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone. Get out!”. Aku janji gak bakalan ada malicious program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.
Seandainya hatimu adalah sebuah system,
jangan ada kata “You dont have permission to access it” untuk aku, kalau gak mau di ping flood atau DDos Attack, jangan ah…! Kamu harus menjadi Avast penyelamatku.
Seandainya hatimu adalah sebuah system,…?
Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah seseorang, yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang dan mengatakan kalau di hatiku sudah terinfeksi virus yang menghanyutkan, gak ada anti virus yang dapat menangkalnya selain… :
Kamu ... Dhany aka AXnuxer!
Puisi di atas tidak terlalu berarti untuk Dhany. Hanya satu kalimat terakhir di bawah yang membuat keringat dinginnya keluar. Tidak, ini bukan puisi cinta atau kata cengeng lainnya. AXnuxer …yah, sekilas itu seperti puisi cinta, tapi bisa juga berarti seseorang dari masa lalu yang ingin membuka luka lama. Beberapa tahun lalu dia memang sempat mengacaukan beberapa system program milik pemerintah menggunakan virus rancangannya sendiri, hanya sekedar iseng dan mencoba-coba program baru yang tengah dikembangkannya. Hanya ada beberapa orang yang tahu kalau dialah AXnuxer, dan semuanya adalah teman kuliahnya di TI, mungkin surat ini dikirim oleh seseorang yang sengaja ingin memancingnya keluar dari kepompong persembunyiannya?. Tapi siapa dia? Apa maksudnya?. Bukankah kejadian itu sudah lama berlalu?.
Dilacaknya pemilik e-mail itu, ternyata terdaftar di G-mail atas nama Abel Nightroad. Dhany melacak lagi, ternyata G-mail terkoneksi di Facebook. Sayangnya, sang pemilik Facebook tidak meninggalkan jejak yang banyak, hanya menuliskan kalau si empunya Facebook berjenis kelamin Laki-laki, seorang Pengusaha, tidak ada foto dan lain-lain. Dhany semakin penasaran, apalagi yang punya e-mail sedang on line internet, tapi tidak mengaktifkan Webcam. Dhany masuk ke dalam obrolan chatting Abel. Dilihat dari gaya bicara Abel dengan teman-temannya di Wired World (Dunia maya), bisa jadi Abel adalah cowok perayu, beberapa kalimat yang diketik Abel menandakan makhluk ini agak narsis.
Vee_Cute > Kamu kuliah di mana Bel? Kayaknya kamu oke… : )
Abel N > TI Westside, semester 7, kamu dimana, cantik?
Vee_Cute > Ih, aku cantik dah lama kok kamu baru bilang, xexe … sama dunx q di
West juga …
Abel N > Baru sempat bilang sih, xe … kapan bisa jalan bareng nih?
Vee_Cute > kapan yah? Kamu datang aja di kampusku, aku jurusan Management
Dhany merasa janggal, Abel kan lelaki, tapi kenapa mengirim puisi padanya?
Segera Dhany masuk memakai nama Xnux_D dan menyela obrolan Abel.
Xnux_D > Aslm. Malam, Akh Abel.
Mungkin Abel segera menyadari sedang berhadapan dengan siapa, dengan berdebar Dhany melihat jawaban yang diketik Abel.
Abel N > Malam, wah, sudah alim sekarang ya AXnuxer?
Xnux_D > Alhamdulillah, apa kita kenal?
Abel N > Maybe
Xnux_D > Puisi kiriman anda bagus.
Abel N > Just 4 u. bagaimana kabarmu? Bersiap-siaplah melunasi hutangmu.
Dhany tersenyum. Benar dugaannya, masa lalu belum pergi jauh darinya. Sekecil apapun dosa di masa lalu, hari ini mengejarnya bagai bola salju yang bergulir membesar.
Vee_Cute > Abel kok gak balas-balas aku c?
Abel N > Sorry, lagi sibux, besok terusin lagi y, ak mau Out
Bukannya out beneran, Abel berkonsentrasi dengan Dhany.
Abel N > Bagaimana tuan AXnuxer? Siapkah anda?
Xnux_D > Af1 saya tidak tahu maksud anda
Abel N > aku tahu koq, u punya toko komputer kecil, Blackside Store
aku juga tahu awal mula kamu mendapatkan dana untuk toko itu
dan aku tahu dimana harus menemukanmu, kamu berkedok jadi
guru komputer di salah satu SMK. Benar begitu tuan AX?
Xnux_D > apa yang kau inginkan, Akh?
Abel N > hanya secuil cinta : )
Setelah itu Abel menutup Chatroom tanpa meninggalkan pesan apapun. Sialnya lagi, ternyata Abel tidak menggunakan fasilitas internet rumah karena dari data yang terlacak Dhany selama chatting dengan Abel, cowok itu terdaftar chat di salah satu Clientpremium Warnet terkemuka di Westside City, tak jauh dari Dhany tinggal. Abel sudah tahu siapa dirinya, mungkin juga tempat tinggalnya bahkan Abel sudah tahu dia bekerja di mana.
Hanya secuil cinta… itu maksudnya mungkin uang, apa lagi yang diinginkan Abel?
---
Sosok berjacket hitam itu tersenyum penuh kemenangan sambil mendekap secarik kertas putih, berjalan riang dia menelusuri taman kota Westside sambil menyanyikan Hardest Part-nya Coklat :
Oooh… Sungguh berarti
Saat kau datang dalam hidupku
Ooooh… Just happened in time
You came to my life, i can’t holding on…
Oooh… Tak mudah bagiku
‘Tuk mencintaimu… aku bukan milikmu
Oooh… The hardest part of love
Is I can’t do it all… cause you belong to someone
---
“Pak Dhany, ulangan KKPI nya dari bab mana?”, seraut wajah cantik berbingkai jilbab putih mengagetkan Dhany yang sedang melamun di mejanya sambil memandang laptop hitamnya.
“Eh, afwan … oh, Asya, ada apa?”.
“Bapak melamun ya? Saya dari tadi di sini lho pak, tadi saya sudah minta izin pak Faiz masuk ruangan bapak, saya juga sudah ketuk pintu, kemarin rabu kan saya tidak masuk, kata anak-anak ada ulangan dadakan, sekarang saya mau ulangan susulan pak, saya tadi nanya, ulangan kemarin dari bab mana? Apa bab 2 juga diikutkan, pak?”.
Dhany memandang ke belakang Asya, untung gadis itu tidak menutup pintunya.
“Ah, Ya, dari bab satu sampai dua, Aplikasi sampai GUI. Silahkan duduk Sya, biar saya ambil soalnya”.
Dhany beranjak dan membuka almari, setelah mengambil selembar soal, diberikannya kertas itu pada siswinya dan dia beranjak keluar ruangan.
“Setelah selesai, taruh saja di meja bapak, waktu kamu hanya 45 menit”, Dhany menutup pintu ruangannya dan bergabung dengan rekan guru di ruang tamu kantor.
---
Asya memandang formulir yang tertumpuk di hadapannya, ternyata biodata guru favoritnya, mungkin akan digunakan untuk laporan tahunan.
Nama : Ramadhan Dwiputra
TTL : Westside City, 21 12 1985
Alamat : Mildwest, 23 Avenue 556652
Status : Guru Tetap RPL SMK Al Azhar II
Pembina Ekstrakulikuler Keagamaan
Dilihatnya di atas meja hanya ada laptop hitam dan setumpuk dokumen, tak ada foto atau gambar apapun, guru yang satu ini benar-benar misterius dan tanpa jejak, bikin penasaran saja.
Hari ini sangat melelahkan bagi Dhany. Setelah mengampu anak-anak yang akan mengikuti lomba murrotal di Westside Islamic Center besok, malamnya dia lembur mengerjakan proposal pengadaan barang dan jasa buku untuk SMK, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, ada beberapa e-mail masuk, salah satunya dari rekan guru SMK, meminta beberapa Software. E-mail terakhir dari Abel Nightroad.
“Aslm… jumpa lagi tuan AX …
Hari yang melelahkan ya, tapi aku salut, kehidupanmu berubah drastis, dari seorang hacker be a teacher, semoga kamu tidak mengajarkan tehnik hack pada muridmu. Semakin hari, kulihat hidupmu semakin menarik, ngomong-ngomong, aku sudah tahu nomor HP anda, boleh kan, sesekali kita SMS an?”.
Untuk kali ini tidak diperdulikannya E-mail itu. Kalau Abel adalah laki-laki dengan pemikiran otak, mungkin keisengannya akan diladeninya, tapi bisa jadi Abel adalah perempuan dan Dhany merasa takut jika yang dia hadapi adalah perempuan dan perasaan, dua hal itu selalu dihindarinya. Sejak kepergian Rama, kakaknya, Dhany hanya ingin berdekatan dengan satu kekasih abadinya : Allah, dan tak ingin melibatkan diri dengan perasaan emosional selain cinta kasih antara makhluk dengan Tuhannya, dalam waktu beberapa tahun ke depan, dia masih ingin berkonsentrasi dengan pekerjaan dan usahanya.
---
Pemuda berjacket hitam itu meluncur dengan skateboardnya dengan lincah, teman-temannya bersorak menyemangati aksinya, sejenak Dhany memperhatikan kelincahan pemuda bertopi kumal itu sebelum berkonsentrasi lagi dengan Black, laptop hitam kesayangannya, karena bosan dengan udara apartemennya, sesekali dia menggunakan fasilitas Hot Spot di taman kota, hari Minggu seperti ini biasanya ramai oleh orang yang ingin berolahraga atau anak-anak muda yang berlatih Skate, Beladiri dan Capoera.
Setelah puas menelusuri dunia maya, diliriknya arloji hitam di pergelangan tangannya, sudah pukul sebelas siang, roti bakar dan susu manis yang tadi dipesannya sudah habis, bujangan sepertinya selalu tak sempat membuat sarapan pagi sendiri, meski ibunya selalu mendesaknya untuk segera menikah, Dhany hanya tersenyum, seolah dia ingin membagi kesendiriannya dengan Rama. Ah, Rama, di mana dia sekarang? Di mana letak surga itu? Apakah kelak mereka akan bersatu kembali?. Dhany merapikan tasnya dan beranjak, setengah melamun dia berjalan, tak memperhatikan pemuda berjacket hitam tadi melakukan gerakan salto tapi gagal, tergelincir meluncur kencang ke arahnya.
“Awassss!”, pemuda berjacket hitam itu kaget melihat Dhany di depannya, Dhany menghindar dan mendekap laptopnya, kalau dia luka itu lebih baik daripada Black yang rusak, laptop seri lama ini kenang-kenangan dari Rama, meski Dhany sudah mampu membeli yang lebih canggih, Black adalah kesayangannya, tapi, kasihan juga pemuda itu kalau wajahnya langsung menghantam tanah. Dengan sigap Dhany menangkap lengan pemuda itu dan menjatuhkan mereka berdua di rerumputan taman, meski lutut si pemuda tetap menghantam tanah. Kalau Black adalah manusia, tentu dia sudah memaki-maki dijadikan sandwich, terselip diantara kedua orang itu. Dhany mendorong tubuh pemuda itu menjauh darinya dan meletakkan tasnya di rumput.
“Lain kali hati-hati dik, itu tadi bahaya sekali …”, ditatapnya wajah si pemuda yang berkulit putih dan tampan, Dhany mengernyit, wajah itu tak asing. Tapi pemuda itu cepat-cepat berpaling dan tersenyum meninggalkan pak guru yang terdiam bengong di atas rumput.
Dhany terhenyak, yang dia kira pemuda itu ternyata Asya!
“Kamu nggak papa Sya?”, Rina menghampiri sahabatnya yang meringis.
“Nggak, untung ditolongin sama tuh orang …”, sekilas senyum Asya terkembang, tapi luka di lututnya memaksa wajahnya mengernyit kesakitan.
“Whoa, mimpi apa loe semalam, nabrak gunung es, itu khan Mister Dhany”, teriak Eko sambil melihat pria yang berjalan menjauh menuju gerbang keluar Central Park.
“Wiiih, emang gue kapal Titanic apa? Tapi keren juga Mister Dhany, kalau nggak ada dia, udah benjol gue … hmm, ternyata kalau dilihat-lihat, wajahnya tuh dari dekat manis juga yah … kayak Rafael Nadal …”.
“Emang dari dulu udah cakep, sayang banget, sadisnya amit-amit, masa gue telat semenit langsung diberondong soal KKPI lisan, ampe pegel gue …”, gerutu Saskia.
“Yo’a, tadinya gue udah hepi gitu dapet guru cakep, tapi ternyata doi horor juga, tiap pelajaran dia, gue kagak bisa berkutik”, tambah Rina. “Denger-denger doi hombreng ya? Sampai sekarang gue blon pernah lihat dia gandeng cewek …”.
“Hush … sembarangan, namanya juga Ustadz, tentu nggak pacaran, pamali … hehe. Mungkin suatu saat dia bakalan Ta’aruf terus nikah gitu deh, biasanya Ustadz kan gitu”.
“Metode apa’an tuh … kuno tau”, ejek Surya.
Asya merasa darah mulai merembes ke celana panjangnya dari lututnya yang terluka, tapi karena ada dua orang makhluk non muhrim di dekatnya, terpaksa dia menunda niatnya untuk melihat lukanya, nanti di rumah sajalah.
“Bukannya kuno Sur, justru kata bu Ifah, guru agama kita, Ta’aruf itu metode yang efektif banget. Bayangin aja, kita kenalan sama cewek lewat ortunya, biasanya sih cewek pondok khan belum pernah pacaran, jadi masih murni lahir batin tuh … sebagai seorang cowok, kita khan lebih bangga kalau beristrikan gadis yang masih murni lahir batin, belum pernah pacaran, belum pernah gandengan tangan, belum pernah ciuman … hehe …”, kata Eko sambil merem melek sok idih, membuat teman perempuannya pada mules.
“Ngaca Ko, ngaca… pacar lo dah rentengan, kayak gerbong KA, dari si Sabrina, si Salsa sampai Surti, pembokat gue aja lo rayu-rayu … dosa lo udah bejibun … masa mau berharap dapat Ukhti Fillah”, gerutu Saskia.
Eko tertawa, “Yah, Sas … gue ini kan masih muda, boleh dong coba-coba, ntar kalau gue udah seumur Mister Dhany, baru gue bertaubat … jadi Ustadz di pondok Al Azhar … ngajar ngaji anak-anak, terus jadi Lurah Pondok, siapa tahu bisa kenalan sama Ukhti Farah, itu tuh, anak perempuannya pak Kyai Ahmad yang bungsu, anak kelas XC, cakep banget yah? Terus ta’aruf deh sama do’i … hehehe…”.
Surya mencibir mendengar khayalan Eko.
“Itu namanya Pungguk merindukan Matahari, silau Man! Selain sayap lo bakalan patah, tubuh lo juga bakalan terbakar …”.
“Lho, siapa tahu lho Sur, Kun Fayakun, kalau Allah menakdirkan gue sama Farah … siapa yang tahu? Mungkin takdir itu tertulis di Lauh Mahfudz …”.
“Allah nggak bakalan ngasih mahkluk sebaik dan secakep Farah buat jadi istri orang kayak elo, jangankan Allah, bokapnya Farah gak mungkin ngijinin anaknya nikah selain sama cowok yang udah lulus S2 dari Cairo University, lha bahasa Arab lo aja nggak pernah lebih dari lima, gimana mau kuliah ke Mesir sono?”, ejek Surya.
Eko malah senyum-senyum, “Santai aja man … waktu berlalu, Eko juga akan berubah, kodok aja bisa berubah jadi pangeran …”.
“Tentu Eko juga bisa berubah jadi kodok … hahaha…”, ejek teman-temannya kompak.
Masjid Al Fatah, Pondok Al Azhar.
“ ....Petaka yang sedang menimpa umat Islam secara umum, dan yang sedang diderita oleh saudara-saudara kita di Jalur Gaza adalah menuntut kita untuk berpikir serius nan tulus. Kita mencari sumber permasalahan, kelemahan dan kekalahan, lalu kita membenahinya, satu demi satu.
Betapa tidak, jumlah umat Islam pada zaman ini telah mencapai seperlima dari penduduk dunia. Akan tetapi mengapa di berbagai belahan dunia, umat Islam senantiasa tertindas, terampas hak-haknya? Bukankah Allah ta’ala telah berjanji akan melimpahkan kejayaan, kemakmuran, dan kedamaian kepada mereka?
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai penguasa, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)
Mengapa sekarang ini, umat Islam di seluruh belahan bumi tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan kebengisan dan kekejaman zionis terhadap saudara kita di Jalur Gaza? Mengapa umat Islam saat ini hanya bisa berteriak, mengutuk? Bahkan karena merasa putus asa, mereka malah ikut menambah derita dengan demonstrasi yang mereka adakan? Jalan-jalan menjadi macet, berbagai sarana umum menjadi rusak. Tidak cukup sampai di situ, demonstrasi mereka semakin menambah lemah pemerintahan mereka sendiri. Pemerintah-pemerintahan negeri Islam saat ini menjadi disibukkan dengan kegiatan meredam berbagai aksi demonstrasi masyarakatnya ...”.
Anak SMK Al Azhar II kelas XA mendengarkan Tausiyah Dhany dengan penuh minat, guru yang satu itu selalu bisa mengobarkan semangat juang mereka dengan baik. Sumbangan untuk warga Palestina dari anak-anak SMK saja sudah mencapai hampir tujuh juta dalam dua minggu ini. Aziz, sebagai ketua OSIS mengedarkan kembali kotak-kotak amal. Asya memandang guru komputernya dengan kagum, Dhany seolah selalu memiliki energi untuk mengajar, padahal hari ini Mister Dhany sudah delapan jam mengajar, sekarang memberi tausiyah panjang lebar dengan semangat, tapi masih stay cool, nanti sehabis Maghrib masih mengajari anak pondok mengaji. Asya penasaran, apakah Dhany tak pernah lelah?
“Hmmm ... ngedenger tausiyah apa ngeliatin Mister Dhany ...”, goda Rina. Asya nyengir, “Dua duanya ... lo tahu, suatu hari, gue bakalan jadi orang yang tangguh kayak dia, programmer handal, sekaligus ustadz ... keren ya?”. >to be continued
Ari memandang cakrawala di horizon kaki langit dengan penuh minat, di sebelahnya duduk seorang pria berkacamata yang sama terpukaunya memandang bola pijar raksasa yang mulai tersembunyi, mengakhiri giliran jaga menerangi bumi, yang sebentar lagi akan digantikan rembulan.
“Still waiting? Or you will hunting for now?”, goda Ari.
Senyum terkembang di wajah tampan Dhany.
“Jangan mirip nyokap deh lo, berisik ....”, gumam Dhany.
Mereka berdua asyik memandangi sang surya yang mulai tenggelam dari atas batu karang pantai Kukup, Wonosari, kebetulan keduanya sedang liburan semester, sama-sama lelah mengerjakan raport siswa, terpuruk lelah dan menghabiskan liburan di Yogyakarta.
“Gimana kabarnya Westside? Bukannya cewek di sana manis-manis, apalagi yang di pondok, kayak putri pingitan menunggu pangeran, nah, apakah hati lo sudah tertambat?”.
“Tertambat di jemuran ... hehe, lo sendiri masih betah ngejomblo Ar, nggak laku ya? Kayaknya orang kayak elo, di diskon kayak apa juga kagak ada yang minat ...”.
Arizona terkekeh, “Lu kira Luna Maya belum kawin nungguin siapa ...”.
“Nggak tau, yang pasti bukan elo ... Ar ... nah, jangan ngerecokin gue deh, sementara keadaan elo lebih parah dari gue, kapan lo tobat Ar, surga masih jauh ...”.
“Well, gue sih cuman nyaranin doang Dhan, umur kita tuh pendek, paling mentok ya 80 tahunan gitu dah, parah lagi kalau cuman nyampe 60an, nah, tinggal berapa tahun lagi tuh, mari kita sama-sama lestarikan keturunan trah keluarga Sanjaya ... apalagi di keluarga elo cuman ada elo sebagai anak tunggal ...”.
“Lo dibayar berapa sih sama nyokap gue, ngerecokin gue mulu ...”.
“Sabar Dhan, ini gue cuman usul, mau gak ta’aruf sama temen gue ...”.
“Afwan ...”.
“Tuh kan, belum-belum dah nolak, atau jangan-jangan lu terlalu gaul sama siswa siswi elu, jadinya kecantol sama murid lo sendiri?”.
“Astaghfirullah ‘al adzim, Ari! Gue bukan pedofil ...”.
“Hei ... nabi sama bunda Khadijah juga jaraknya terpaut jauh lho, elo sama murid lo palingan cuman sepuluh tahunan”.
“Halah, tetap saja itu gila, sudahlah, mendingan kita nyari makan nih, gue mau berbuka puasa, tau tempat yang enak gak?”.
“Banyu Bening Bro, makanannya enak, pemandangannya juga indah ... em, bisa lho, elo sama murid lo, tapi nunggu murid lo lulus terus jadi mahasiswi dulu ....”.
Dhany menggelengkan kepalanya sambil nyengir, “Jangan-jangan elo lagi, yang naksir murid sendiri ... ah, jangan ngomongin itulah, capek, di rumah, nyokap ngejar gue, di sini elo koar-koar, pusing tau!”.
---
Gadis zaman sekarang ... ugh! Kadang Dhany merasa ngeri, beberapa muridnya mengiriminya surat cinta dan hadiah secara terang-terangan, begitupun guru perempuan di sekolah. Atau mungkin dia terlalu kuno, menyukai kisah manis seperti Ramayana dan Kisah Ali-Fatima, seorang lelakilah yang harus berjuang mati-matian demi cinta, seorang wanita harus menunggu dengan kesetiaan dan kehormatan yang terjaga, itu terlihat indah.
Wanita diciptakan cantik dan memikat, bagai bunga mawar yang harus pandai menjaga dirinya dengan duri agar tetap terhormat. Seperti sebuah kado cantik yang terbungkus indah di sebuah etalase toko, hanya pemiliknya, yang sudah membayar secara sah dan terhormat ( ijab-qabul) yang bisa melihat isi di dalamnya, bukan kado kucel yang sudah tersentuh tangan orang banyak. Mungkin itu gambaran ekstrem yang ada di pemikiran Dhany. Melihat gaya berpakaian anak sekarang yang serba minimum, membuatnya tak nyaman, untung dia bekerja di sebuah SMK Islami yang mewajibkan muridnya berjilbab, sebenarnya dia sudah ditawari banyak Perguruan Tinggi untuk mengajar sebagai dosen TI, tapi dia merasa tak cocok dengan lingkungan seperti itu, kecuali di sebuah Universitas yang Islami dan berbasis Qur’an, mungkin dia berani menjadi dosen disana.
Di pantai indah seperti Kukup, banyak ditemukan gadis cantik, sangat cantik malah, berjalan-jalan menghabiskan waktu di sekitar pantai, tapi entah kenapa, dalam pandangan Dhany, seorang gadis lebih cantik jika seluruh tubuhnya tertutup dan terjaga dari pandangan lelaki, samar-samar Arizona yang menyenandungkan lirik Pemain Cinta-nya Ada Band sambil melirik-lirik pasangan yang sedang makan seafood di sekeliling mereka, membuat Dhany tersenyum.
“Mau nyindir siapa, bro?”, kata Dhany sambil mencomot Sephia Ring dari piringnya.
“Nggak nyindir siapa-siapa kok, gimana kalau gue nyanyi Nada Do’a-nya Coklat? Nyindir elo kagak? Pasti banyak cewek nyanyi lagu ini buat menggambarkan diri elo Dhan ...”.
“Nonsense...”.
“Lo bener-bener pengan jadi saint man ya?”.
“Bukannya gitu Ar, hanya saja buat gue belum waktunya mikir nikah, sesuatu pasti terjadi jika Allah menghendaki, suatu saat Insya Allah gue nikah, tapi sebelum itu terjadi, gue nggak mau mengharap atau ngebayangin apapun, gue ingin menikmati saat-saat itu jika itu sudah benar-benar terjadi dan nyata, biar keindahannya terasa maksimal, untuk sekarang gue mau konsen kerja dululah ...”.
“Dengan begitu banyak gadis cantik di sekitar elo? Bahkan banyak yang alim dan manis-manis, lo bisa tahan ngadepinnya? Nggak pernah dirty mind?”.
“Yup. Positif thinkin’ ajalah, jika pemikiran kita selalu lurus, maka itulah yang bakalan terjadi, jodoh nggak kemana bro!”.
“Tapi elo kan kesannya selalu menghindar gitu ...”.
“Capek ngomong sama tangan ...”.
“Wuish ... gaya bicara lo kayak Agnes Monica Dhan, terlalu galak ...”.
Ari tergelak-gelak melihat wajah serius sepupunya, “Tapi Dhan, elo pernah naksir sama cewek kan, gue takut lo kagak normal”.
“Yeee, gini-gini gue bukan saint man, gue pernah pacaran waktu kelas dua SMU, itu yang bikin gue agak nyesel, gue pengennya setelah nikah ntar, gue nggak menyakiti istri gue gara-gara mantan pacar ... Ali dan Fatimah benar-benar beruntung, keduanya diam-diam saling menyukai sejak kecil, dalam kehidupan cinta mereka berdua, hanya ada satu sama lain ...”.
“Tapi Ali khan nikah lagi setelah Fatimah meninggal ...”.
“Begitupun Rasulullah setelah bunda Khadijah meninggal, tapi Ar, di sini gue bukan bicara tentang tanggung jawab ... tapi tentang cinta ....”.
Ari terdiam sejenak, mencerna kata-kata Dhany. “Di satu sisi lo bener Dhan, tapi di sisi lain ... susah ngelakuinnya!”.
Pulang berlibur, Dhany kembali berkutat dengan pekerjaannya, apalagi Blackside sekarang sedang ditambahi Warnet dengan kecepatan 1.00 GB/s. Pekerjaannya dan Anton, asistennya, tambah bertumpuk, dia terpaksa menambah dua pegawai di bagian administrasi dan bagian server, meski part time, keduanya adalah siswanya di SMK, yang satu anak akuntansi yang lain anak RPL dan yang pasti keduanya berjenis kelamin laki-laki karena kerja di Warnet biasanya sampai malam bahkan dini hari, harus cowok dengan fisik yang kuat.
Dibukanya laptop dan segera online internet untuk melihat e-mail masuk.
Tiba-tiba dari Telnet Chat session-nya tergambar kode-kode aneh, seseorang berusaha memaksa masuk ke jaringannya!. Dengan geram Dhany memperkuat firewall, tapi terjadi Security Breach. Percuma, terlambat. Sebuah text box dengan gambar Abel Nightroad bertuliskan : Igunenatura at renewbattle Integra (kita harus perbaharui dunia dengan api) berwarna merah darah tercetak jelas di layar sebelum laptop itu mati total.
Daripada lelah memaki-maki, lelaki itu lebih memilih mengendalikan nafsu kemarahannya dengan istighfar.
Abel! Abel! Nama itu terrekam di otaknya. Di satu sisi bagian dirinya yang putih berusaha memaafkan, tapi di satu bagian dirinya yang gelap ingin sekali membalas semua yang dilakukan Abel. Black adalah kesayangannya dan orang ini tidak tahu betapa berharganya kenangan akan Rama yang ada di dalam laptop ini, okelah, Dhany mempunyai copy-an data di Black, tapi beberapa File sekolah yang baru dia buat belum sempat dia selamatkan. Benar kata Ari, setiap kali membuat data memang harus di save dalam flashdisk supaya data selalu aman. Kalau seperti ini kan repot, padahal besok dia harus presentasi laporan keuangan barang dan jasa SMK. Untuk memperbaiki laptop butuh waktu berjam-jam. Dhany menyesali keteledorannya, seharusnya online menggunakan Personal Computernya saja, bukan menggunakan Black, tapi semua sudah terlanjur.
---
“Laptop baru, Mister Dhany?”, Harris memandang kagum laptop perak berkilat yang dipakai gurunya. “Yang lama buat saya saja ....”.
“Justru yang lama lebih berharga buat saya”, gumam Dhany. Sejenak kekesalan masih bergelayut di hatinya, tapi dia berusaha ikhlas. Salahnya juga menggunakan firewall berkekuatan standar, tapi dia tidak pernah mengira seorang hacker Pro akan menghajar jaringannya. Menyebalkan!. Harris yang menyadari perubahan wajah gurunya tak berani bicara terlalu jauh.
“Buka Bab tiga, kita belajar Update data sekarang, menggunakan Utilitas aplikasi!”, Dhany memandang muridnya satu per satu, ada satu anak yang tidak masuk hari ini.
“Heru kemana Dik?”, tanya Dhany pada Andhika, ketua kelas XA.
“Izin ke Semarang pak, biasa, kejuaraan olahraga”.
“Besok kalau dia masuk, bilang untuk mengumpulkan tugas 3 ke meja saya!”.
“Baik, pak”.
“Nah, coba sekarang kau, Zulfikar, apa artinya Update?”.
“Memperbaharui basis data, Mister, menggunakan software secara manual”.
“Saskia, coba jelaskan langkah-langkah Up Date data menggunakan sistem aplikasi!”.
Satu per satu muridnya memberikan penjelasan yang cukup bagus, tapi kurang rinci. Hanya satu orang yang selalu menjawab sempurna, wakil kelas, Nur Aisya Az Zahra. Tak sengaja Dhany memandang muridnya yang paling pintar itu, ternyata Asya juga sedang memandangnya. Dhany cepat memalingkan wajahnya. Ghadhul bashar. Menjaga pandangan.
“Justru yang lama lebih berharga buat saya ...”, sosok itu menghela nafas. Baru kali ini di wajah Ramadhan tercetak kesedihan yang amat sangat. Waktu dilihatnya wajah yang murung itu, dia merasa menyesal. Apakah secara tak sengaja dia telah menyakiti Dhany? Padahal yang dilakukannya hanya iseng saja, sejak dulu dia berusaha mencari tahu siapa guru baru itu sebenarnya dan dari internet dia terkejut mengetahui masa lalu Dhany yag kelam. AX yang dicari banyak pihak di tahun 2002, yang telah memporak porandakan data KPU ternyata adalah guru baru itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tertantang untuk mengalahkan seorang Dhany, tapi kenapa security Dhany hanya memakai antivirus lokal yang tidak tangguh, bahkan tidak Up date? Apa Dhany sudah meninggalkan dunia hitamnya dan benar-benar fokus sebagai guru biasa dengan kehidupan biasa saja?. Sejenak sosok itu berfikir, apa dia harus mengganti kerusakan yang diderita Ramadhan?. Tapi mungkin bukan itu yang membuat Ramadhan sedih, laptop lamanya! Ya, laptop itu adalah barang kesayangan Ramadhan yang selalu dia bawa kemana-mana dengan hati-hati. Mengganti laptop itu dengan type Ferrari takkan mungkin mengembalikan apa yang sudah dia hilangkan. Mungkin laptop itu menyimpan kenangan, siapa tahu? Mungkin itu pemberian dari mantan pacar Ramadhan?
“Ah, sial, gimana gue minta maaf? Gue kan cuman iseng ....”.
---
Perpustakaan sekolah 12.12 pm.
“ Umm ... I found someone else, that make me feel, life is right again ...”, Hardest Partnya Coklat mengalun , Asya membolak-balik buku Corel Draw X4 sambil memperhatikan detail halus design grafis yang menggambarkan sketsa Menara Miring Pisa. Tak menyadari kehadiran seseorang di rak buku sebelahnya sampai sosok itu menyapanya pelan,
“Abel Nightroad ...”.
Secercah senyum menghiasi wajah gadis itu mendengar suara yang dikenalnya, sejenak tatapan dari bulu matanya yang lentik mengintip dari celah buku yang berjejer. Sosok itu bagai Matahari yang diidamkannya selama ini, hanya kali ini suaranya terdengar begitu lembut, tanpa ada kesombongan yang biasanya Asya rasakan pada sosok di hadapannya ini-meskipun sorot matanya menusuk seperti biasanya, membangkitkan konflik aliran emosi pada diri gadis itu.
“Reaksi anda lumayan lambat ya pak?”, Asya kemudian menjaga pandangan dari gurunya yang melakukan hal yang sama, Dhany membuat tatanan buku di rak sebagai hijab.
Dhany merasa sedikit aneh, Asya bukannya merasa malu dan kemudian meminta maaf padanya, tapi, apa mungkin Asya melakukan Security Breach lalu sengaja meninggalkan jejak yang begitu mudah ditelusuri, karena gadis itu memakai jaringan telpon rumahnya?. Karena Asya anak tunggal, kecurigaan Dhany langsung terarah pada gadis itu.
“Setiap orang memiliki masa lalu dan bapak harap kamu tidak melakukan hal seperti ini lagi, setiap ilmu seharusnya dimanfaatkan dengan baik ... jangan ikuti jejak bapak yang pernah melalui jalan yang penuh duri, kamu paham?”.
Gadis itu malah balik menantang gurunya, “Saya tidak bermaksud mengacaukan hidup bapak, hanya saja saya hanya ingin menunjukkan perasaan saya, apakah saya salah?. Anda bagai matahari ... dan sayalah bumi, yang membutuhkan kehangatan cahaya matahari itu, selama ini saya sudah berusaha menekan perasaan ini, tapi saya tidak bisa pak, jika anda menjadi saya, apa yang anda lakukan?”.
“Istighfar Asya, semua perbuatanmu itu salah! Salah besar!”.
“Sinar Matahari bisa saja disamarkan oleh gumpalan awan, tapi cahaya sang surya tetap saja menyinari permukaan bumi, sang mawar bisa saja bersembunyi dari pandangan mata, tapi angin akan menyebarkan keharumannya, tahukah anda, hati bisa saja merasakan apapun, tapi jiwa ini tidak pernah bisa berhenti bercakap-cakap. Saya mungkin bisa mengingkari hati dan perasaan saya, tapi jiwa saya tidak bisa berbohong, saya mencintai anda”.
Wajah Dhany berubah pias mendengar kata-kata muridnya.
“Nonsense, apa yang kaupikir ada dalam diriku yang bisa kaucintai? Kau adalah seorang siswi teladan dan masa yang kau lalui sekarang adalah masa untuk belajar, bukan bermain dengan hal konyol seperti ini, jadilah dirimu yang dulu, sebelum kita bertemu”, Dhany beranjak menjauh, tapi langkahnya agak surut saat terdengar isakan Asya.
Gadis itu menangis terisak-isak dengan pilu, “Saya sendiri tidak tahu kenapa saya mencintai anda, perlukah alasan? Perlukah suatu alasan untuk mencintai? Karena bagi saya, anda seperti magnet yang terus menarik saya ... dan itu diluar kuasa saya”.
Tak ada jawaban selain langkah yang semakin menjauh, seperti secercah cahaya yang menjauh dari lorong yang begitu panjang, meninggalkan Asya dalam kegelapan yang dalam.
---
Surya memandang kesedihan yang membayang di wajah Asya, sejak mereka kecil, sepupunya itu selalu mencurahkan hati padanya dan kedekatan mereka membuat Surya selalu bisa memahami gadis yang baginya selalu menjadi sepupu kecilnya yang cengeng.
“Aku tahu yang kau pikirkan Sya, tapi kau terlalu naif dan nekat. Aku tidak akan mengomentari kecintaan kamu dengan pak Dhany dari jarak usia kalian yang delapan tahun itu, tapi dia ustadz, kalian nggak akan pernah bisa pacaran ...”.
“Aku nggak mau dia jadi pacarku ... bukan itu maksudku”.
“Lalu? Kau pengen nikah sama dia? Ingat Sya, Pak Dhany bukan orang sembarangan, mampukah kau jadi istri untuk orang setangguh dan sekuat dia?. Aku ini lelaki, jadi bisa mengenali apa yang tersembunyi di balik sosok alim pak Dhany!. Lelaki seperti dia nggak bisa dijinakkan! Terlalu ... ah, terlalu sulit untuk dimiliki ... bahkan dia pernah menolak Ukhti Layla yang merupakan Putri Pak Kyai Ahmad sendiri ... bayangkan dan renungkan!. Ukhti Layla sangat cantik, jika menikah dengannya, pak Dhany bisa menguasai Al Azhar tapi dia menolaknya, jadi, apa yang membuatmu berfikir kau bisa mendapatkan pak Dhany?”.
Asya merasa sangat putus asa, memang suatu kewajaran jika Dhany menolaknya.
---
Pelajaran KKPI berlangsung seperti biasa, dengan satu orang murid absen hadir karena Alpha, jika Eko atau Bramantya yang menorehkan tinta bertuliskan huruf A di papan pengumuman, Dhany tak begitu menghiraukan, kedua bocah itu selalu membolos jika ada ujian lisan, tapi kali ini Eko dan Bram melaksanakan ujian dengan baik, bahkan Eko untuk pertama kalinya mendapatkan nilai di atas enam dalam sejarahnya mengikuti mata pelajaran KKPI yang diampu Dhany.
“ ... New untuk membuka File dalam bentuk Blank database, Blank Access Data base, Project Existing data dan New data, benar kan Mister?”,Eko nyengir.
“ Mister Dhany ... pertanyaan selanjutnya apa?”, Eko heran saat dilihatnya pak guru Killer Machine-nya terdiam seperti merenungi sesuatu, jangan-jangan mikirin kucingnya yang ilang, hehe ..... “Mister ....”, Eko mengeraskan suaranya, Dhany tersentak.
“Eh? Tadi kamu jawab apa? Pertanyaan nomor tujuh ....”.
Eko hampir berteriak kesal, yah, jadi tadi cuap-cuap sambil memperkerjakan otak karatannya dengan keras malah si Mister Killer gak denger?. Lalu terbata-bata diulangnya jawaban tadi. Sementara di belakang mereka, anak-anak dengan giat menghafal dari buku KKPI dan berharap pertanyaan yang nanti diajukan nggak terlalu sulit.
---
Pondok Al Azhar adalah tempat yang paling tepat untuk mengobati hati.
Hati yang terpatah, berdarah, terluka parah oleh penolakan.
Di malam yang sunyi, malam yang jauh berbeda dari malam penuh warna yang dia rasakan di rumahnya saat ayah dan ibunya di rumah. Malam di pondok begitu sepi dan sendu di atas pukul duabelas.
Para akhwat tertunduk dalam renungan malamnya, menyebut nama kekasih hati paling sempurna, Allah Azza wa Jalla...
Asya ikut terbangun saat dua teman sekamarnya bangun dan berwudhu. Mereka shalat tahajud dan istikharah.
“Apa kau pernah memimpikan sesuatu setelah istikharah?”, Nafisah memandang Asya yang tertunduk lesu, entah apa yang terjadi dengan gadis cantik ini, cahaya wajahnya seolah memudar karena kesedihan yang amat sangat. Kesedihan yang merasuk dalam ke jiwa, menggerogoti keceriaan masa mudanya.
“Pernah ...”, jawab Asya sambil tersenyum pedih.
“Ceritakanlah ... setelahnya kau bisa ceritakan pada kami apa yang telah membuatmu menjadi seperti ini, wajahmu bagai orang yang hampir mati ...”, Zahra memandang Asya dengan simpati.
“Istikharah adalah kunci, dari semacam pintu gerbang dimana kita terkadang diperkenankan melihat masa depan jika Allah mengizinkannya, bukankah begitu?”, tanya Asya lesu. Zahra dan Nafisah mengangguk.
“Aku terkadang ingin sekali mengintip masa depan, aku berpuasa selama puluhan hari dan aku ingin melihat mimpiku, masa depanku ...”.
Asya meneteskan airmata dukanya saat mengingat mimpi itu.
“Aku berada di padang pasir yang sangat luas ... aku melihat Matahari begitu dekat denganku, diantara semua ciptaanNya, sejak kecil aku mengagumi dan mencintai Matahari, dalam mimpiku, meski Matahari berada begitu dekat, cahayanya tidak menyakitkan ... cahanyanya begitu sejuk, akupun terus melangkah, melewati sebuah bukit padang pasir yang lembut dan langlahku terhenti...
Aku melihat keanehan, di balik bukit itu ada padang mawar ... hamparan semak mawar yang luas dan indah. Seperti lautan darah yang kemerahan. Dan akupun mendekat, tanpa memperdulikan tubuhku tergores duri-duri mereka.
Tiba-tiba aku melihat, seolah cahaya Matahari menyorot ke satu arah, ada sebuah benda kecil di rumpun mawar itu, aku mendekatinya, seperti ada matahari kecil di sana, sangat indah, saat kutajamkan mataku, ternyata matahari kecil itu adalah sekuntum mawar kuning yang bersinar ... sinarnya menggoda hatiku dan tanganku terjulur untuk memetiknya, aku tak menyadari, duri mawar ini lain dari duri mawar merah di sekelilingnya, batangnya dipenuhi duri yang runcing dan tajam, jari tanganku tergores dan berdarah saat memetiknya, tapi aku tak perduli ... aku menginginkannya ... sangat menginginkannya ... aku begitu tamak dan menyedihkan ... itu yang kurasakan saat mawar itu ada dalam genggamanku ... mimpi yang menyedihkan, bukan?”, gumam Asya.
bisakah ku singgah di hatimu
berharap sebentuk tempat yang tulus
sesuatu yang kupercaya ada tersimpan disana
terlalu lama aku harus terdiam
atau mungkin ku tak percaya sungguh akan
kesempatan dan kemungkinan yang terjadi nanti
karena aku yakin ada pintu yang terbuka
diantara hatiku dan hatimu
its been years since we meets
its amaze at gone by
now its the time to make up my mind
and I hope that we can make it to the end
Dhany menghela nafas panjang.., berbagai macam pemikiran bergelayut dan dia berusaha mencerna ... seorang Asya dan keberaniannya ... hingga akhirnya dia membuat suatu keputusan nyata akan apa yang telah menimpanya selama ini ... dia mencoba menuliskan kata-kata, melukiskan dirinya dan seorang Asya yang begitu mempercayainya....
“Kalau ditanya soal cinta, aku selalu bilang itu nonsense
Kalau ditanya apa aku pernah mencintai ... aku mencintai hidupku sendiri ...
Sampai aku bertemu ... seseorang ... dan meskipun dia bukan soulmate, bukan cinta pada pandangan pertama, bukan kesan pertama yang menggoda ... dia adalah keberanian. Kenekatan, dan adrenalin yang mengalir deras ... karena di saat tak seorangpun memandangku, di saat aku tak terlihat dan aku dalam keadaan terpuruk jatuh, dialah yang mengulurkan tangan ... dialah orang yang mengulurkan tangan ... mempercayaiku. Dia yakin aku bisa melewatkan peperangan besar ini bersamanya ... dan tanpa cinta, tanpa omong kosong ... dan dengan strategi yang dipetakan Tuhan, aku ingin menggenggam tangannya.
Aku melihat ke arah langit, betapa Lauh Mahfudz sangat tak terduga, lebih dalam dari palung terdalam, lebih pekat dari black hole dan lebih berwarna dibanding pelangi.
Aku pernah menyukai kesempurnaan Faith ... tapi dia pernah meragukanku.
Aku pernah mengagumi kepintaran Saint ... tapi dia membuatku terlalu lama menunggu.
Dan kini ... tiba-tiba seolah Lord Djibril menjatuhkan Brave tepat di depan mataku ... aku semula ragu, siapakah dia yang mengulurkan tangannya padaku ... siapakah dia yang bersedia menemaniku di saat aku merasa sendirian dan merasa hidup ini adalah kesendirian yang sunyi dan gelap, siapakah dia yang mempercayaiku, seorang aku, untuk melangkah bersamanya, siapakah aku dan apakah yang harus kujawab, apakah aku mampu?
“Perlukah alasan? Jika tujuan kita sama, kau tak perlu mempertanyakan perbedaan diantara kita ... ayo kita ikuti jalan ini bersama-sama .....”.
Kata-kata penuh keberanian itulah yang kutunggu selama ini, meski bukan berasal dari perkataan Panglima Perang yang sudah mendampingiku begitu lama, meski bukan berasal dari ahli strategi terkemuka yang biasanya menolongku ... tapi orang asing ini memiliki keyakinan yang sama ... jadi, untuk apa aku meragukan kemampuannya? Dengan semangat yang seperti itu, dengan kepercayaannya yang begitu besar padaku, apa aku patut menolak?
Jika sekarang waktunya ... untuk apa menunda lagi?
Di depan sana, aku seolah melihat keangkuhan Khaibar ... ada aura kuat yang membuat kaki ini gemetar dan hati ini ragu, mampukah aku merobohkannya?
Di depan sana, seolah aku melihat benteng Troya yang tangguh dan kokoh ...
Saat hati ini terasa begitu kecil dan kerdil, saat aku merasa waktu terhenti sejenak ...
Ali tersenyum di sampingku menggenggam Dzulfikar dengan erat dan tanpa ragu
Archiles tersenyum dan Odysey membuatkan aku replika kuda mainan yang akan menghancurkan benteng besar dan kokoh ... di sinilah aku belajar untuk percaya pada harapan ... dan percaya pada orang selain diriku sendiri...
Apa yang tak mungkin jika aku percaya?
Bukankah sesuatu yang paling kita percaya ... adalah Dzat yang kasat mata ...
Kita tak perlu melihat untuk mempercayai?
Kita tak perlu memandang untuk meyakini
Kita hanya perlu mempercayai hati nurani...
---
Buat apakah keindahan wajah jika tanpa kerendahan hati
Buat apakah kekuatan tubuh tanpa keberanian
Buat apa kepintaran otak tanpa pengendalian diri
---
Jika dunia hanya memandangnya sebagai rumput kecil biasa
Aku melihatnya sebagai makhluk yang kuat ... di saat angin topan memporakporandakan pepohonan besar, bukankah rumput kecil itu tegak berdiri?
Jika dunia hanya memandangnya bagai kunang kecil di malam hari, bukan bulan purnama yang bersinar indah di atas sana dengan segala kecantikannya ...
Aku memandang seekor kunang-kunang begitu bangga memiliki cahaya kecilnya sendiri, bukan cahaya indah yang merupakan refleksi Matahari yang dipinjamkan pada rembulan yang cantik ...
---
Dhany tersenyum, mengenang apa saja yang pernah dilakukan gadis itu untuk menarik perhatiannya. Meski mereka belum kenal lama ... tapi apa salahnya mempercayai Asya?
She’s a hacker ... Asya sukses meng-Hack hatinya ...
Apa artinya tahun-tahun yang berlalu jika tanpa makna
Tapi beberapa detik penuh makna akan terkenang seumur hidup kita...
Cinta bisa tumbuh, jika kita menaburkan kasih sayang dan takaran pupuk kesetiaan yang cukup, cinta bisa datang ... dan juga bisa pergi jika tak bisa menjaganya, dan seorang Asya, yang telah begitu besar mempercayainya, mengapa tak diberinya kesempatan untuk membuktikan keyakinannya itu?
---
Malam itu sang pemuda bertahajud, beristikharah ... bermunajat dan fokus pada permintaannya. Dia terlelap dalam tangisan malamnya dan merasa mengejawantah menjadi sebuah mawar penuh duri di tengah padang gersang nan garang ... siapakah yang berani menghampirinya? Siapakah yang berani membuktikan keberanian dan tangan siapakah yang berani menggenggam duri-duri ini? Karena di balik keangkuhan dan batasan kokoh yang dia dirikan, dia hanya manusia biasa yang menginginkan kehidupan penuh kasih sayang. Dalam mimpinya, ada sebentuk tangan halus yang rela terluka, demi meraihnya ...
Ø To be continued
Nafisah dan Zahra menghela nafas dan berpandangan.
“Apa menurutmu, mimpimu itu menjadi kenyataan?”, tanya Nafisah.
“Maksudmu?”, Asya mengernyit tak mengerti.
“Kau menginginkan sesuatu, hal yang sangat berharga karena mawar itu beda dari mawar yang lain, mungkin kau menginginkan seseorang ... bisa jadi seorang pria, yang berbeda dari pria lainnya, dia memiliki cahaya yang kuat dan indah hingga kau tak memperdulikan harga dirimu dan membiarkan ... kehormatanmu jatuh gara-gara orang ini?”.
Asya tercenung.
“Benar ... aku mencintai seseorang, dan aku aku bertindak keterlaluan dengan menggodanya, menghancurkan sistem keamanan jaringan rumahnya dan merusak laptop kesayangannya ... lalu tanpa ragu aku mengaku padanya kalau aku mencintainya, aku melupakan harga diriku sebagai perempuan, karena itu Allah membenciku, Allah membenciku ... dan lelaki itupun sekarang membenciku ... aku tak tahu bagaimana cara memperbaiki itu semua ... aku malu Nafis ... dan aku merasa diriku sangat hina...”.
Nafisah merasa Asya begitu rapuh, tangannya terulur dan memeluk gadis itu.
“Allah tak pernah membenci hambanya yang bertaubat, Asya ... kau pernah tersesat, kau pernah melangkah ke arah yang salah, tapi keberadaanmu di sini mengartikan kalau Allah masih mencintaimu, Dia memberimu kesempatan ... seperti Dia memberi kesempatan pada Zulaikha setelah godaan yang dilakukannya terhadap Yusuf ...em ... aku dan Zahra mau tadarus dulu ya, kau pastilah lelah ... beristirahatlah ....”.
Asya mendengar kedua sahabatnya melantunkan ayat suci, mereka membaca surat Yusuf dengan khusyuk dan indah. Al-Qur’an dan isinya adalah keindahan, keindahan sempurna ...
Di dunia ini, kesempunaan indah yang dihadiahkan Allah pada umatnya adalah Al-Qur’an, sayang sekali jika kita melewatkannya ... dan beruntunglah orang-orang yang sering menyentuh dan membaca kalimat cinta dariNya itu ... orang yang mengerti keindahan dan kehalusan makna Al-Qur’an ...
Selesai bertadarus, Nafisah dan Zahra melihat Asya masih terjaga.
“Bagaimana kalau aku menceritakan kisah Yusuf dan Zulaikha?”, tanya Zahra pada Asya, “ ... semoga kisah ini bukan malah menambah luka hatimu, tapi menutupnya dengan keikhlasan ... bersediakah kau mendengarnya?”.
Asya mengangguk, mulailah Zahra bercerita untuk kedua sahabat sekamarnya.
-----
“Tahukah kalian … Cinta Zulaikha pada Yusuf sudah mulai jauh sebelum Zulaikha menjadi isteri seorang Wazir (Petinggi/pejabat di era kerajaan Mesir).
Satu malam yang tenang, langit bersih tampak bintang gemintang ribuan ...tidak, tapi jutaan bintang seolah menempel di langit yang hitam pekat. Angin yang biasanya kencang kini terasa lembut. Ketenangan malam seolah mempesona tetumbuhan untuk tidak menggoyangkan dedaunannya.
Sang Putri Zulaikha tidur di peraduan dengan nyenyaknya.
Seolah kabut yang berwarna-warni hadir dalam mimpinya, dan
ditengah-tengah keindahan alam mimpi yang tak terlukiskan, sosok pemuda yang Agung dan mempesona hadir di tengah-tengah taman. Sungguh keindahan alam mimpi yang sebelumnya, Keindahan warna-warni yang sebelumnya mempesona, Kini seolah tenggelam ditelan pesona wajah agung nan rupawan si pemuda.
Sang putri yang menyaksikan itu merasa dadanya berguncang hebat, hatinya jatuh cinta pada sang pemuda.
"Duhai..siapakah. .siapakah. .siapakah dia ???"
Bangun dari tidurnya, Zulaikha termangu-mangu, Hangat sinar mentari sudah terlanjur merasuk di hati, Cinta pada sang pemuda dalam mimpi sudah menyelusup masuk ke pori-pori,
"Duhai,Siapakah kini yang dapat membawa dia kehadapanku....
Engkaukah angin ? Yang sanggup menyampaikan rasa cintaku padanya ?
Atau engkaukah air ? yang dapat mengalirkan anggur cintanya kepadaku ?
Atau engkaukah bumi ? yang dapat mempertemukanku dengan sang pujaan hati ?
Api telah membakar seluruh isi hatiku."
Malam-malam kini dilaluinya dengan memohon, memohon dan memohon, Agar ia dipertemukan dengan sang pemuda pujaan dalam mimpinya. Satu waktu, kembali mimpi membawa sang pemuda kehadapannya,
Zulaikha bertanya,
"Siapakah engkau Tuan ? yang telah menyita seluruh perhatianku ? yang telah menghabiskan siang dan malamku untuk mengingatmu ?
Siapakah engkau ?"
Sang pemuda berkata,
"Aku Wazir Agung dari Mesir"
Begitu bangun, Zulaikha berupaya dengan segala cara, agar ia dipertemukan dengan Wazir agung mesir. Ia berkata pada ayahandanya, agar ia dinikahkan dengan Wazir Agung Mesir. Sang ayah terdiam dan kemudian ia ingin menjajaki sampai dimana keinginan anaknya terhadap Wazir Agung Mesir. Maka suatu hari, diundanglah sang Wazir. Dari balik pintu, Zulaikha mengintip dengan dada berdegup kencang.
"Diakah?diakah orang yang telah merampok hatiku ?"
Begitu di lihatnya wajah sang Wazir, alangkah kecewanya ia, bukan...bukan orang ini yang diharapkannya.
Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara,
"Melalaui wazir inilah, engkau akan bertemu pujaan hatimu".
Zulaikha yang sudah lemah lunglai, hampir putus harapan, kini kembali bersemangat. Api harapan dan hangatnya pertemuan yang diinginkan dengan sang pujaan mengalami proses ujian. Ia tetap melangsungkan pernikahannya dengan wazir Agung.
Keanehan terjadi pada Zulaikha dan Wazir Agung, mereka tak bisa hidup sebagaimana laiknya suami isteri, Allah menjaga kesucian Zulaikha, Dia telah menjaga harum melati dan menjaga mawar tetap berseri. Sang Wazir menerima apa adanya takdir yang terjadi.
Demikianlah...
Lama tak ada mimpi sang pujaan sama sekali, Ingin sekali ia menyebut-nyebut nama sang pemuda, tapi ia tak tahu siapa namanya.Hanya bayang-bayang sang pemuda yang tak lepas dari angan-angannya. Siang malam, siang malam, dihabiskan mengingat orang yang dicintainya, satu waktu, mimpi menghantarkan sang pujaan lagi ke hadapannya.
Zulaikha bertanya,
"Siapakah Tuan yang memiliki wajah separo manusia dunia ?"
"Siapakah nama Tuan ?" Si pemuda tersenyum,
Senyumnya menghidupkan tetumbuhan yang mati disekelilingnya, Menyegarkan yang layu, Menyembuhkan hewan-hewan yang sakit.
"Aku Yusuf....”.
Byaar....Zulaikha terbangun dari tidurnya,
Kini bayang Yusuf telah bertambah dengan bibir Zulaikha yang terus menggumamkan,
Nama Yusuf..Yusuf....Yusuf? Apa saja yang berbau nama Yusuf, akan didatanginya sambil berharap ia adalah pujaan hatinya.Satu waktu terdengar khabar ada seorang budak yang bernama Yusuf di pasar, Bergegas ia mengajak dayang-dayangnya ke sana.Dengan tandu yang dipanggul oleh budak-budaknya, Diiringi oleh dayang-dayangnya, Zulaikha datang di pasar budak itu. Di intipnya dari tirai tandunya yang berwarna kuning muda.
"Tuhan !!"pekiknya tertahan,
“ I..ii..ia ..dialah yang ada dalam mimpiku !"
"Pelayan! beli budak yang dipasar itu. Berapapun harganya, beli! Jangan sampai kedahuluan oleh orang lain. Kalau perlu, katakan pada mereka, isteri wazir Agung Mesir yang membeli budaknya".
Dengan harga yang mahal, emas perak dan berlian, sejak saat itu, Yusuf menjadi budak wazir dan isterinya, Zulaikha menyuruh budak-budak yang lainnya melayani Yusuf, Memberinya pakaian yang indah bagi seorang budak, dan Memberinya makan makanan yang biasa dimakan olehnya dan wazir.
Para budak iri tapi terpendam dalam hati. Mulai hari itu, Zulaikha mencari jalan agar dapat menarik perhatian Yusuf, cara halus, tak mempan, segala cara sudah dipakai, tapi Yusuf tidak bergeming. Yusuf tidak menunjukkan cintanya, melainkan hanya menunjukkan hormat dari seorang budak pada majikannya.
Zulaikha bebas melakukan apa saja sebab sang wazir hampir tidak pernah berada di rumah. Suatu ketika di ajaklah Yusuf berjalan menuju lorong-lorong kamar, masuk kamar keluar kamar, sampai kamar yang terakhir, sudah ada 12 pintu yang mereka lewati.
Tanpa sepengetahuan Yusuf, seluruh pintu-pintu kamar itu dikuncinya, dan kuncinya disimpan diam-diam.
Di kamar yang terakhir itu, jauh dari orang lain, Zulaikha sudah tak dapat menahan kerinduannya pada Yusuf yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
Ia mendekat pada Yusuf, tapi Yusuf menghindar, demikian selanjutnya, Zulaikha mendekati Yusuf, Yusuf menghindar,
Sampai ketakutan Yusuf memuncak. Ia tak mau menjatuhkan dirinya ke lembah nista, Yusuf membalikkan punggungnya, ia berlari menuju pintu kamar itu.
Zulaikha tak mau Yusuf pergi dari kamar itu, ia mencoba menahannya dengan menarik tubuh Yusuf. Yang terpegang adalah baju Yusuf, Robeklah baju, berbareng dengan Yusuf lari keluar, Seolah Tuhan sendiri yang membuka pintu-pintu itu,
Setiap kali Yusuf berhadapan dengan pintu-pintu yang terkunci,
setiap kali pula pintu-pintu itu terbuka dengan sendirinya. Aib kejadian itu terbongkarlah sudah, Orang-orang umum mencemooh Zulaikha. Zulaikha hanya diam, tetapi kemudian ia mengundang seluruh gadis-gadis yang mencemoohnya. Zulaikha mendandani Yusuf bak seorang Raja.
Setelah semua gadis-gadis itu diberi apel dan sebuah pisau untuk mengirisnya,
Yusuf diperintah untuk berjalan melewati mereka.
Mulut ternganga,
Lidah kelu,
Mata terpesona,
Tak terasa jari-jari mereka yang dikupas dengan pisau.
Cara halus tak dapat menggoyahkan iman Yusuf, Zulaikha kemudian menggunakan cara yang berbeda. Kini, dengan tuduhan Yusuf yang akan memaksa Zulaikha, Zulaikha berhasil meyakinkan suaminya, wazir untuk memenjarakan Yusuf.
Selama 7 tahun Yusuf berada dalam penjara. Apakah Zulaikha puas ?
Tidak, hatinya yang kini berisi penyesalan yang mendalam. Kerinduannya semakin menumpuk. Kalau dulu ia masih bisa memandang orang yang dikasihinya berlama-lama,Tapi kini tak dapat lagi, meski cuma sekilas, meski cuma sebentar. Gelombang rindu tak tertahankan, Zulaikha meminta bantuan seorang budaknya untuk membuat jalan rahasia menuju dekat sel penjara Yusuf.Begitulah, setiap malam tiba, Zulaikha mendatangi penjara Yusuf, disebelah selnya, hanya untuk memandangnya dengan hati penuh penyesalan.
Sampai satu waktu, masa kebebasan Yusuf tiba, melalui kemampuannya menafsirkan mimpi, Ia ditarik untuk menangani bendahara kerajaan Mesir.
Ditinggalkanlah rumah Zulaikha.
Sejak kejadian-kejadian yang menimpa, sampai wazir Agung mesir meninggal, dan sampai raja mesir juga meninggal, Zulaikha jatuh pailit, miskin dan agak pikun. Seluruh hartanya ludes diberikan kepada orang yang membawa khabar tentang Yusuf, waktu-waktunya habis untuk merenung Yusuf. Apalah arti seorang Zulaikha dibanding kekuatan cinta yang menggelora.
Semua permohonan pertemuannya dengan Yusuf disampaikannya pada berhala-berhala sesembahannya. Sampai satu ketika, di gubuknya yang kecil dipinggir kota, berhala sesembahannya dibantingnya, dihancurkannya,
"Engkau sama sekali tidak berguna wahai arca mati. Sekian lama aku mengabdi kepadamu tak ada artinya".
"Duh Yang memiliki hidup sesungguhnya, ampunilah aku, dan aku berserah diri kepadaMu"
"Ya Allah Tuhan Yusuf dan Tuhan semesta Alam ...rindu dalam diriku yang menggelora adalah dariMu Jua, hati terasa dikoyak-koyak ketika malam tiba, wajah Yusuf yang terbayang tak dapat hilang, Ya Allah?
Sudah sekian tahun hatiku gelisah resah dan selalu sakit, seolah luka lama yang disayat luka baru dan disayat luka baru lagi, Aku begitu merindukan
Yusuf..Yusuf. .Yusuf?
Dan jika siang tiba, matahari bersinar terang, tapi apa artinya bagi
mataku yang telah buta ?
Yang ada hanya bayangan Yusuf?
Ya Allah, Engkau yang telah memasukkan benih cintaku pada Yusuf, dan Engkau pula yang telah menyemai kerinduanku pada Yusuf, pertemukanlah aku dengannya, atau cabutlah akar cintaku padanya, agar derita yang hamba tanggung berkurang?”
Zulaikha menangis ... menangis sampai kering airmatanya.
Malaikat mendengar do'a itu tak kuat menahan terlalu lama, mereka melaporkannya,
"Ya Allah seru sekalian Alam. Zulaikha memohon uluran tanganMu, ia meratap meminta Kasih dan sayangMu"
Wahai malaikatku... Aku tahu... dan kiranya sekaranglah saat ia lepas dari derita kerinduan dan cintanya pada Yusuf"
Yusuf yang sudah menjadi raja Mesir, suatu hari dengan berkendara kuda
putihnya lewat di jalanan depan gubuk Zulaikha,
Bibir Zulaikha yang kering tetap melantunkan nama Yusuf..Yusuf. .Yusuf...
Yusuf tertarik mendengar suara ini dan berhenti,
"Siapakah engkau wahai wanita ?"
"Bibirku tak pernah berhenti menyebutmu! orang yang dulu pernah menjebloskanmu ke penjara selama bertahun-tahun. Ampunilah aku yang terlalu banyak berbuat dosa kepadamu"
"Zu..Zulaikha ?" kata Yusuf agak tergagap, ia turun dari kudanya dan dilihatnya Zulaikha. Wajahnya layaknya seorang yang sudah tua, rambutnya memutih, tubuh kurus kering, pakaiannya lusuh dan kotor.
"Kemanakah harta, kecantikanmu dan kekuasaanmu ?"
"Semua dimakan api yang berkobar dalam diriku, gelombang rindu dan api cinta padamu telah membakar segalanya," katanya lirih sambil terus melantunkan nama "Yusuf..Yusuf" di bibirnya.
Allah berfirman pada Yusuf dan kemudian ia mengajak Zulaikha ke istana. Kemudian Allah mengembalikan kecantikan Zulaikha dan menambahnya, Allah mengembalikan kemudaan Zulaikha.
Rindu dan Cinta kini sudah ditumbuhkan olehNya di tanah persemaian Yusuf.
Mereka berdua melangsungkan pernikahannya ...”.
Zahra memandang kedua sahabatnya yang tercenung mendengar cerita dan penuturannya...
“Allah maha adil, Dia tahu segala yang baik dan buruk ... apa yang akan terjadi pada diri kita ... adalah yang terbaik, masih ingatkah kalian akan kalimat, ‘ Dia memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan’? nah, jika tidak melewati penderitaan dan perjuangan, kita tak akan menghargai apa yang kita miliki ... Asya, sahabatku, tak baik terlalu lama berduka dan patah hati ... Insyaallah apa yang terjadi padamu adalah yang terbaik, serahkan hidupmu, matimu hanya pada Allah ... juga cintamu, karena sesungguhnya, cinta yang paling abadi adalah cintaNya ... jika kau masih menginginkan lelaki itu ... berdoalah semoga dia akan menjadi imam bagimu, cintailah lelaki itu ... dalam doa yang kau panjatkan pada Allah ... dan semoga, lelaki itu akan mengobarkan cintamu pada Allah ... bukan malah menyurutkannya, cintai dia untuk Allah, bukan sebaliknya! jika dia baik bagimu, tentu Allah akan menyatukan kalian dalam Walimatul Ursy ... hubungan yang halal sekaligus baik ... yakinlah ...”.
Nafisah mengajarkan Asya supaya gadis itu memulai puasa, shalat tepat waktu dan membaca al-Qur’an untuk menenangkan hati yang gelisah.
“Jika kau ingin Allah memberikan yang terbaik untukmu, tentulah kau juga harus berusaha memberikan yang terbaik untukNya ... “.
Asya merasa kegelisahan hatinya berangsur tenang dan pulih. Dzikir di hatinya dan aliran darahnya, sekarang mulai terasa sejuk, karena nama Allah yang mengalir di dalamnya, dan dia merasakan jiwa raganya begitu damai dan indah, seperti terlahir kembali.
Dua minggu ...
Dan Asya telah menghabiskan dua minggu ini dalam perenungannya yang panjang. Ditatapnya lukisan kaligrafi indah berwarna biru keemasan di hadapannya, siapapun yang melukis ini, pasti mencurahkan segenap perasaan dan kecintaannya pada Allah.
Bukannya perhatian yang diberikan Dhany saat Asya meninggalkan sekolah begitu lama, Surya yang mengunjunginya di pondok malah mengabarkan kalau Dhany akan vakum selama beberapa tahun dari SMK Al Azhar II karena akan meneruskan kuliah S2 di Jerman.
“Aku menginginkannya mendekat, tapi dia malah menjauh”, Asya menuju taman pondok yang ditanami berbagai kelompok mawar, dia terpukau pada setangkai mawar kuning di dekar air mancur, jemarinya meraih mawar itu, tapi tanpa sengaja seonak duri melukai jarinya hingga darah menetes membuat mawar kuning itu terpercik darah merahnya.
Dilihatnya sosok Ukhti Layla yang cantik, lurah pondoknya, berjalan bersama beberapa Santriwati, sosok cantik itu tersenyum padanya dan menghampirinya, “Nur Aisya?”.
“Ya ustadzah..?”.
“Ada yang mencarimu, sepertinya penting. Temui beliau di ruang Al Fath”.
“Baik ustadzah ...”.
“Lho, jarimu terluka? Kalau mau memetik mawar, pakailah gunting atau pisau, jangan dicabut seperti itu ...”.
“Maaf ustadzah ...”.
Layla memandangnya sejenak seolah hendak mengatakan sesuatu, dalam pandangan mata Layla terlihat sebuah luka yang tak dimengerti Asya.
“Sebaiknya kau segera menemui tamu di Al Fath, jangan biarkan ... dia menunggu terlalu lama, karena dia ... ah, sudahlah ...”, Layla berlalu menimbulkan pertanyaan di benak Asya, gadis itu membawa mawar kuning yang ternoda darahnya dan membawanya pergi.
Mungkin yang ingin menemuinya adalah pak Ali, wali kelasnya yang galak itu, meskipun dia berada di pondok Al Azhar, tetap saja dia dihitung membolos. Meski dia mengerjakan tugas-tugas hariannya dan menitipkannya pada Saskia atau Rina, dia tidak hadir di kelasnya tanpa memberikan surat izin dari orangtuanya, lagipula kedua orangtuanya sedang di luar negeri, seperti biasa dan itu kenapa Asya merasa kesendiriannya membuat dirinya merasa tak bersalah jika sesekali menanggalkan wajah baik kesehariannya, hanya untuk beberapa minggu ini, dia ingin mencapai ketenangan batinnya yang sempat koyak.
Menyepi di pondok menjadi pilihannya, menghindari Dhany sementara waktu dan memahami penolakan pria itu. Rasanya, waktu itu hatinya seperti ditikam, saat mendengar langkah Dhany menjauh dan cahaya matahari seolah meninggalkannya, tak sengaja Asya melangkah mundur, air mata menetes-netes di pipinya. Kehilangan cinta, atau entah perasaan apa yang sempat merajai hatinya itu, rasanya seperti sebuah pisau tajam mengiris hatinya, tak pernah dia rasakan rasa sakit sedemikian perih seumur hidupnya, remuk redam, seperti nyala lilin yang hampir padam, kemudian menjadi dingin, hampa, kaku, biasanya dia mencurahkan kepedihannya dalam doa dan mengadu pada Allah, tapi kali ini dia merasa bibirnya tak mampu mengucap sepenggal doapun. Sampai dia memahami cinta sejati yang sebenarnya.
“Kaifa Haluk ya Ukhti?”, Asya tersentak mendengar suara dari balik hijab itu.
Matahari. Dan sekarang dirinya bagai lilin yang berada di hadapan matahari. Tak berarti di tengah cahaya yang begitu kuat dan tenang. Tapi lilin itu sudah pasrah dan berserah diri pada takdirnya, pada kuasa Allah.
Goresan hitam dalam hatinya karena mimpi yang hancur, kini disadarinya hanya sebuah peristiwa kecil. Ujian dari Nya, ujian cintaNya dan sekarang Asya tahu siapa cinta sejati yang pantas merajai hatinya. Dhany bukan cinta itu, bukan kekasih sejati itu, hanya Allah yang berhak ada di takhta tertinggi hatinya dan seorang Dhany hanya perantara saja. Bukankah Matahari juga ciptaan Allah yang tunduk padaNya?
Hari-hari belakangan ini dia menyadari, bahwa badai hebat yang telah memporak porandakan pikiran dan hatinya, memiliki suatu pusat keheningan, justru di sanalah inti kebahagiaan. Kebahagiaan hening dalam kekuatan tanpa batas. Saat dia merasa hancur dan terbakar habis karena penolakan Dhany, saat dia merasa sendirian dan diabaikan, saat hatinya berdarah-darah itulah dia menemukan, betapa dia membutuhkan Allah lebih dari apapun! Dan saat menyadari hatinya telah terlabuh untukNya, dia merasa bodoh telah begitu lama bergantung pada Dhany sehingga kondisi hatinya berubah-ubah dan kehilangan pijakan. Sekarang Asya memahami, tanpa pijakan, yang dia miliki adalah kepedihan. Cinta sejati hanya dapat dilihat dari jendela Tuhan, selain itu hanyalah keterikatan, dan keterikatannya pada Dhany telah membuatnya jauh dari jendela Tuhan.
“Bukankah menyenangkan, berada di sini? Kau akan menyadari bahwa perasaanmu padaku itu salah ...”, kata Dhany perlahan.
Asya tercenung, meski sekarang tubuhnya kurus dan wajahnya pucat, tapi matanya lebih bersinar dari sebelumya.
“Bapak benar, Cinta tak lain adalah nafas yang diberikan Tuhan pada kita, padahal selama ini kita tak bisa hidup tanpa cinta itu, kita tak bisa hidup tanpa nafas, tapi kita selalu melupakan Nya ...Setiap hembusan nafas adalah kehidupan seutuhnya, itu Cinta yang Allah berikan pada kita”, jawab Asya takzim.
“Hmm, kau sudah belajar banyak di sini, tak percuma kau membolos selama dua minggu, aku kemari hanya ingin berpamitan untuk menyelesaikan S2ku, juga meminta maaf, secara tidak langsung akulah yang mengacaukan rytme duniamu, tapi aku tidak menyesal, karena hal ini akan membuatmu lebih cepat dewasa dan memahami apa yang seharusnya kau cari dan temukan dalam hidupmu, hanya saja lain kali kau harus berhati-hati, Asya ...”.
Dhany mendekat ke hijab dan berkata dengan pelan dan lembut.
“Kau harus berhati-hati dan tidak keliru dengan membaurkan cintamu untukku dan cintamu kepada Allah ... itu yang akan kau pelajari dua tahun kedepan. Setelah kau lulus dari SMK Al Azhar dan diantara kita tak ada lagi keterikatan antara seorang guru dan murid, Insyaallah aku akan menemui kedua orangtuamu untuk mengkhitbahmu”.
Sejenak gadis itu merasa dunianya berhenti berputar. Isak tangisnya terdesak keluar, kepedihan seluruhnya terangkat, rasa syukur kembali meyelimutinya bersama dengan kelegaan. Seseorang yang pertama kali menyentuh hatinya, kelak akan menjadi suaminya, jadi perasaannya kelak bisa tertampung secara murni.
“Menghilangkan ego diri adalah sebuah jalan”, kata Dhany datar, “Tapi bukan sebuah tujuan, betapa agung cintaNya, Dia ingin kau mengenalNya dengan segenap kesadaran, nah Asya, beristirahatlah, Allah telah mendengar doamu”. Asya tak bisa melihat raut wajah Dhany karena hijab itu, tapi ada seulas senyum dalam nada bicaranya.
“Allah Maha Mendengar ...”.
Dua tahun ke depan akan penuh ujian, ujian akan kesetiaan dan kehormatan yang dibebankan Dhany padanya. Kemarin, setelah melepaskan kepergian Dhany di bandara dan untuk pertama kalinya dia memandang sosok Dhany yang biasanya terlihat tangguh, tegar, kuat ternyata bisa memiliki wajah memerah, malu, rapuh dan terbuka.
“Take care Asya, Assalamualaikum ...”, kemudian pria itu berbicara sejenak pada orangtuanya, setelah mencium tangan ibunya, Dhany berbalik dan tak lagi menoleh ke belakang.
“Wa’alaikum salam, akhi ...”, bisik Asya. Ibunda Dhany mendekat padanya dan meraih tangan Asya.
“Dia akan baik-baik saja, Allah tahu yang terbaik untuknya ...”, bisik wanita itu bijak.
---
Pelajaran KKPI hari ini di SMK Al Azhar II.
Anak-anak perempuan melirik keluar jendela dengan penasaran, seperti apa sih guru baru mereka?.
“Katanya guru yang baru perempuan lho, cantik pula kayak Zaskia Mecca, asyik dah, dari kemarin yang ngajar KKPI monster sih, makanya nilai gue jelek semua”, gerutu Eko.
“Halah, mau Zaskia Mecca atau Nabila Syakieb yang ngajar, kapasitas otak lo emang udah mentok bro, kebanyakan Dirty Mind sih”, sindir Beni sambil mengerjakan pe-er di LKS KKPInya, nggak nyadar, dia juga tukang nyontek kilat.
“Tapi, jadi kangen sama pak Dhany ya, dia kayak angin berhembus aja, bebas ... kemarin ada di sini, tiba-tiba ngilang gitu aja ... ih, ke Jerman pula ...”, gumam Rina.
Asya hanya tersenyum-senyum saja mendengar komentar teman-teman sekelasnya. Sekilas dilihatnya cincin yang meghiasi jemarinya, mungkin jalan yang akan dia lalui kelak tak seperti perkiraannya, dia bahkan tak tahu jalan seperti apa yang akan dia ikuti, apalagi Dhany adalah seseorang yang misterius, memiliki dunianya sendiri yang terkadang tak bisa Asya pahami, tapi, kehidupan memang tak selalu mudah ...
Lamunannya terhenti saat pintu kelas terbuka dan sesosok laki-laki memasuki ruang kelas sambil menjinjing tas berisi laptop dan LCD. Ternyata Pak Amir, pesuruh sekolah yang dengan lincah memasang laptop dan LCD sehingga di papan tulis tertera wallpaper Windows7 yang sangat cool. Anak-anak yang semula ribut, mengeluh kecewa dan kembali duduk. Tak lama setelah kepergian pak Amir, seorang lelaki masuk.
“Buka halaman 92 buku kalian, kita akan pelajari Server dan Workstation ...”, pria asing itu membuka buku absen dan berteriak cempreng, nggak sesuai banget dengan wajah imutnya yang mirip Afgan Syahreza lengkap dengan kacamata tebalnya.
“Siapa yang namanya Ahmad Syarifudin? Coba jawab : Sebutkan apa saja jenis server! GPL!”.
“Ya ... pak ... kenalan dulu donk, masa baru masuk udah main serang aja”, protes Surya pada guru barunya.
“Lha ini baru kenalan, biar saya kenal kalian dulu baru kalian kenalan sama saya ... ayo Ahmad! Jawab dong, GPL!”.
“GPL itu apa pak? Nggak ada di buku ....”, kata Ahmad yang berasal dari udik.
“Gak pakai lama .... huh gitu aja gak tahu , pertanyaan saya lempar ke Dian Nugroho!Cepet jawab!”.
Dan pelajaran hari itu ternyata masih menyebalkan bagi Eko dkk, guru yang satu ini lebih sadis meski lebih jelek dari Mister Dhany, tiba-tiba saja Eko merindukan gurunya yang sedang Study S2 di Jerman itu .

akhirnya, bisa bikin cerpen, tapi JCnya cetek, ga da pengalaman c...
BalasHapusMasyaAlla kak,tulisan kk luar biasa.
BalasHapus