Sabtu, 23 Mei 2009

My Medicine

Memiliki kehilangan

“Terapi, ya?”, seorang dokter muda tersenyum dan menjajariku duduk. “Iya”. “Gimana perkembangannya?”. “Limayan dok, sudah nggak terlalu sering mual lagi”. “Terus semangat ya”. “Pasti dong”. Yah, apa lagi yang bisa kukatakan?. Semangat? Untuk apa? Kadang aku berfikir, untuk apa Allah menciptakan manusia-manusia sepertiku, yang di tubuhnya terletak bom waktu?. Kadang aku merasa sedih saat tahu umurku tinggal menunggu waktu. Yah, sebenarnya waktuku bisa terus bergulir andai aku rajin minum obat, dan aku hanya bisa tertawa saat tahu, kenapa aku harus terus bertahan jika pada akhirnya, semua orang diciptakan untuk mati?. Kadang terfikir untuk menyerah saja, tapi, bukankah bunuh diri itu hal yang paling dibenci Allah? Bagaimanapun keadaannya, aku harus bertahan hidup. Mungkin banyak orang yang lebih beruntung dariku, tapi banyak juga yang memiliki keadaan yang jauh lebih parah dariku, di Rumah sakit ini, aku belajar untuk hidup, tapi belajar juga tentang ketenangan menghadapi kematian. Selain dokter Farish yang ramah dan baik, aku juga mengagumi dokter Awan, orangnya telaten dan lembut. Mereka banyak memberiku masukan dan nasehat yang berguna untuk aku terus bersemangat. “Dokter Awan sedang menangani operasi, kamu tunggu aja sebentar bersamaku”, kata dokter Farish sambil merogoh saku jasnya. “Nih, mumpung aku lagi baik”, katanya sambil mengangsurkan sebatang coklat untukku. “Makasih dok, emangnya dokter nggak ada pasien?”. “Ada sih, tapi aku sudah ronde dari kemarin malam, sekarang pengen istirahat dulu, apalagi ditemani cewek cantik”. Aku mencoba tertawa. “Dokter memang pandai menghibur, lagian, mana ada sih, orang yang sekarat, rambutnya udah pada rontok karena terapi, body kurus kering, tapi dibilang cantik?”. “Menurutku kamu cantik”. “Terimakasih, itu sangat menghibur”. “Aku nggak menghibur, aku hanya berkata yang sebenarnya”. Aku memandang dokter yang satu ini dengan geli. “Jangan begitu, anda punya segalanya, ketampanan, kepandaian, pokoknya semua cewek di dunia ini bisa takluk sama anda, kalau saya jatuh cinta pada anda, apa anda mau memanggungnya? Saya adalah orang yang berada pada titik nol, lebih baik jangan digodain deh”. Seklas aku melihat dokter Awan keluar dari ruang OP. “Itu dokter Awan, saya...”, sebelum sempat aku menghampiri dokter Awan, seorang wanita muda berjilbab coklat menyenggol lenganku.
“Awan, tunggu!”, wanita itu meraih lengan dokter Awan. “Alya? Ada apa?”. Wanita itu memandang dokter Awan sambil berkaca-kaca. “Aku sudah nggak tahan lagi Wan. Penderitaan yang kutanggung sudah lebih dari cukup”. “Apa maksudmu”. “Tentang pembicaraan kita tadi pagi”. “Sudahlah Alya, pembicaraan kita dan masalah keluarga lebih baik kita selesaikan di rumah, sekarang aku sibuk”. “Sibuk? Apakah untukku kau bahkan tak punya waktu?. Oh, mungkin kamu lebih betah berada di Rumah Sakit karena Annisa?”. Wah, wah, entah karena kebetulan atau apa, dokter Annisa di bagian Anestesi juga keluar dari ruangannya, dokter cantik yang hobby pakai jilbab hijau itu memandang dokter Awan. “Ada apa Wan?”. Wanita berjilbab coklat bernama Alya itu terkejut melhat kedatangan dokter Nisa. Wah bakalan seru nih. Aku mencoba menebak-nebak. Tapi, masa sih dokter Awan selingkuh? Sama dokter Nisa? Nggak mungkin! Dokter Awan terkenal alim, dia juga ketua Mer-C. Agamanya kuat, sejak kuliah dia menjadi anggota Ikhwanul Muslim yang taat. Hatinya begitu baik bagai malaikat, aku yang hanya beberapa bulan kenal sama dokter Awan saja, nggak ragu akan hati dokter yang satu ini.
“Nisa, kumohon, jika kau mencintai Awan, kita bersaing dengan jujur, jangan pisahkan kami dengan cara yang keji”, Alya memandang Nisa sambil menangis. “Kamu ngomong apa sih Nis”. “Awan adalah semangat hidupku, hubungan kami berlandaskan pada kepercayaan, jika kepercayaan itu hancur, lenyap sudah segala hubungan yang kami miliki, jika kau mencintainya, katakan saja terus terang, jangan membuat permainan yang menyakitkan seperti ini”. “Alya, kamu ngomong apa?, Nisa tuh nggak pernah jahat sama kamu, kalau kita ada masalah, itu karena kita sendiri, nggak ada orang lain yang berbuat ulah”, dokter Awan memandang Alya, dia terlihat marah.
“Wanita itu siapa sih,dok?”,tanyaku pada dokter Farish. “Itu Alya, istrinya dokter Awan”.
“Jadi, kamu lebih percaya pada wanita ini?”, Alya menunjuk wajah dokter Nisa. “Jaga kelakuanmu Al, aku nggak nyangka kamu bisa seperti ini, biasanya kamu penyabar dan tenang”. “Mana bisa aku tenang, kalau kamu sendiri sudah tak percaya padaku dan lebih percaya pada Nisa?”. “Aku hanya mempercayai apa yang kulihat”, kata dokter Awan, datar. “Itu berarti kau sudah tak percaya lagi padaku?”. “Aku lihat sendiri, kamu jalan sama Putra, dia mantan pacar kamu, bukan?”. “Demi Allah, sebelum kita menikah, aku tidak pernah memiliki pacar, baiklah, sekali ini saja, meneruskan pertanyaanku tadi malam, apakah kau tidak percaya padaku, istrimu sendiri?”. “Ya”. “Dan kamu tak percaya kalau semua ini ulah Nisa?”. “Tidak, buat apa Nisa melakukan ini? Dari dulu kau selalu cemburu buta pada Nisa, Nisa ini sahabat baikku, kami bersahabat sejak kuliah semester satu dan dia sahabatku yang paling kupercaya, jadi buat apa dia merusak hubungan kita?Kalau kau menghina dia lagi, kau bisa kuceraikan!”. Alya terhenyak. “Cerai? Kau bilang cerai?”. Oh Ya Allah, baiklah, biar kubuka matanmu! Kau lihat wanita ini ? Dia bisa jahat karena apa? Karena dia mencintaimu, tidakkah kau lihat dia mencintaimu?”. “Tidak, Alya, kau hanya salah paham”, dokter Nisa memandang Alya dengan mata berkaca-kaca. Melihat ini semua, aku mengira, Alya hanyalah seorang wanita pencemburu, dokter Nisa hanyalah korban kecemburuan butanya.
“Jangan berlagak baik lagi, Nis, biarpun seluruh Rumah Sakit menganggap kamu dokter yang berhati malaikat, bagiku kamu sangat busuk”. “Alya! Cukup, aku takkan membiarkan kamu menghina Nisa lagi”. “Nah, istrimu sendiri pun tak ada harganya, baiklah, tadinya aku memang takut kehilangan kamu, tapi sekarang aku sudah mantap, aku tak bisa hidup dengan orang yang tak bisa percaya padaku”, Alya menuju TV yang terdapat di pojok ruangan, di ruang rekreasi ini memang ada dua TV, biasanya kami, para pasien menonton TV ramai-ramai di sini.
Alya membuka VCD dan memasukkan sebuah kaset. “Kalian semua akan jadi saksi tentang suatu kebenaran, yang akan kuungkapkan, tadinya aku tak mau melakukannya, mungkin kalian akan merasa, setelah melakukan ini aku puas, tapi itu bukanlah tujuanku, bukan kepuasan hati yang ingin kuperoleh, tapi kepercayaan, walaupun setelah memperolehnya, aku akan membuangnya!”. Tampak di layar, dokter Nisa sedang tertawa-tawa dengan seorang pria. “Tahu nggak Put, rencana kita sukses, kamu pura-pura minta tolong sama Alya, kamu bilang adik perempuanmu sakit, sehingga malam-malam Alya terpaksa datang ke rumahmu, merawat adikmu, lalu waktu aku minta tolong Awan dan beralasan aku pulang terlalu larut, dan dia mengantarkanku lalu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya keluar dari rumah laki-laki lain? Wah, Awan pasti nggak bisa maafin Alya, aku kenal dengan Awan, dia mamang baik hati, tapi sekali merasa dikhianati, dia tidak akan memaafkan siapapun, bahkan istrinya!”.
Aku dan dokter Farish saling berpandangan. Benar-benar tak bisa kupercaya, dokter Nisa yang ramah dan baik tega berbuat Fitnah? Pada istri sahabatnya sendiri?.
“Maafkan aku, Wan, aku bukan istri yang baik, aku terpaksa membuktikan kebenaran dengan mencemarkan nama baik Nisa di hadapan semua orang, tadinya aku berharap kau masih bisa mempercayaiku dan aku tidak perlu melakukan ini”, Alya tersenyum sedih. “Tapi semua sudah terlanjur, aku akan menerima konsekuensinya. Kau sudah berkata, jika aku menghinanya, kau akan menceraikan aku, silahkan. Tadinya aku takut, kalau anak yang ada dalam kandunganku ini lahir tanpa ayah, aku ingin bertahan denganmu demi anak ini, dia anak kita, meskipun kelak dia akan lahir tanpa kamu disisinya tapi sekarang biar Allah yang membuktikan kebenarannya. Nabi Isa lahir tanpa ayah, tapi dia tetap mulia, anakku ini pun, semoga kelak akan tetap mulia”. Alya melangkah mundur dan pergi, aku dan dia sempat bertatapan, sungguh, meski dia tidak secantik dokter Nisa, dia ribuan kali lebih indah, saat kupandang matanya yang sendu, dalam kepedihan, aku melihat keteguhan hati yang besar, aku ingin memiliki mata seperti itu, mata yang dimiliki orang yang tegar.
Sungguh, aku yang terkadang mengasihani diri sendiri, menjadi sadar, betapa dalam hidup ini masing- masing manusia memiliki cobaan sesuai takarannya. “Dokter, jangan diam saja, kejar istri anda, atau anda akan kehilangan istri sekaligus anak anda”, aku meraih lengan dokter Awan. “Alya, dia tidak akan memaafkan aku”, dokter Awan terlihat sangat rapuh. “Jangan cengeng, di hatinya selalu ada anda, percayalah, dia ingin anda kembali padanya, buktikan padanya, yakinkan dia, diantara kalian masih ada cinta, dan akan selalu ada”. Dokter Awan menepuk lenganku lalu bergegas pergi.
Dokter Nisa terpuruk melihat kepergian dokter Awan. “Awan, Awan...”, dia meracau tak jelas dan menangis. Aku merasa perbuatan dokter Nsa sangat kejam, tapi, mungkin seperti itulah jika kita tak bisa mengendalikan rahmat bernama cinta. Hati yang terlanjur gelap, hati yang terlanjur rusak, sulit untuk diperbaiki, seperti Hawa yang terusir dari surga. Wanita tercantik dan dipuja, terusir dan jatuh terpuruk ke bumi, dengan rasa malu yang amat sangat.
“Ayo dok, kita ke ruangan dokter supaya anda bisa menenangkan diri”, aku memapah tubuh dokter Nisa yang lemas. Dia masih meracau memanggil nama dokter Awan. Ah, Ya Allah, aku tak pernah mengerti mengapa Kau menciptakan cinta. Apakah tidak sebaiknya cinta hanya dimiliki sepasang manusia, rata dan adil, tak ada orang ketiga, keempat, dan pihak yang tersakiti akan cinta yang tak semestinya. Tapi Kau pasti memiliki alasan yang kami tak bisa pahami. Kau pemilik segala cinta dan kisah yang kami jalani.
Setelah dokter Nisa tenang, aku keluar dari ruangannya. Kulihat dokter Farish menunggu di dekat pintu. “Gimana keadaan Nisa?”. “Udah agak tenang, kalau sudah tenang benar, nanti mbak Prita akan memanggilkan taksi, dokter Nisa biar pulang ke rumahnya dan istirahat, kayaknya anda khawatir, gimana kalau anda hibur dia? Dokter Farish kan nggak kalah ganteng sama dokter Awan”. Dokter Farish nyengir, memperlihatkan giginya yang putih dan berderet rapi. “Seperti iklan pasta gigi saja”. “Apa?”. “Ah, nggak”. “Oh ya, karena dokter Awan nggak bisa kasih terapi, gimana kalau sama aku saja?”. “Lain kali saja, lagian kalau sama dokter Farish, saya cuman digodain, saya ini kan penyakitan, kalau kena virus cinta beneran gimana? Nanti umur saya tambah pendek, hehe”. Dokter Faris menghentikan langkahnya lalu memandangku. “Umur itu di tangan Allah, kau tidak akan pendek umur kalau kau jatuh cinta”. “Tapi saya takut jatuh cinta?”. “Kenapa?”.
“Tadi dokter lihat sendiri kan, orang yang sebaik dokter Nisa bisa jadi jahat, saya ini orang yang tidak terlalu baik, saya bisa lebih jahat kalau saya di posisi dokter Nisa, jadi, lebih baik saya menjalani hidup ini apa adanya, tanpa menyakiti dan disakiti orang, saya hanya ingin meninggal dengan tenang”. Dokter Farish tersenyum. “Sepertinya kau orang yang sulit jujur ya, tapi aku akan cona bertanya, apakah kau sedang mencintai seseorang?”. Aku memandang pemilik mata bening itu, sekilas, yah, sekilas saja sudah cukup. Semoga Allah tetap menjaga pandangan mataku. “Apa bedanya cinta ini dkatakan atau tidak? Saya sudah nggak punya waktu”.
Suara dokter Faris begitu lembut, tapi terasa bagai ada petir menyambar di telingaku.
“Dan kau jatuh cinta padaku, benar, kan?”.
Aku mencoba tegar, yah, mungkin kalau aku jujur, hatiku bisa lebih tenang.
“Insya Allah”.
Dokter Farish tersenyum. “Kenapa kau tak pernah bilang?”. “Untuk apa?”. “Kukira kau selalu jengkel padaku dan sering menghindariku”. “Saya cuman kasihan sama dokter, setiap hari sudah merawat pasien, sesekali harusnya refreshing jalan bareng gadis cantik, bukannya malah menemani seorang pasien lagi, saya tahu, kalaupun dokter menerima cinta saya, itu karena kasihan, bukan? Ah, sudahlah, saya harus pulang”.
Aku tahu, dia tidak akan mengejar langkahku seperti dokter Awan mengejar Alya. Dia tidak akan menghiburku dan membiarkan aku terus berlalu. Ada perasaan lega dari hatiku. Aku sudah mengatakan isi hatiku, apapun yang terjadi. Kulihat taksi datang dan aku menghentikannya. Aku tidak akan menoleh ke belakang, terlalu menyakitkan melihat dokter Farish melangkah menjauh.
---
“Raisya, ada tamu”, bunda melongok ke dalam kamarku. Aku merapikan jilbabku dan keluar. “Sinta ya Bun? Pasti mau pinjem novel”. “Bukan kok, laki-laki, sepertinya bunda pernah melihatnya, dimana ya? Oh ya, bunda buatkan teh dulu, kamu temui dia di ruang tamu”. Penasaran aku melongok ke ruang tamu. Masya Allah, apakah aku bermimpi?.
Dokter Farish tersenyum memandangku. “Apakah terlalu sore? Maklumlah, aku seumur-umur belum pernah ngapel ke rumah cewek”. Aku tertawa. “Tumben dok, main ke rumah saya? Mau menawarkan terapi metode baru?”. “Begitulah, tolong dong, panggilkan kedua orang tua kamu, aku pengen langsung promosi metode ini”.
Begitu ayah dan ibuku hadir, dokter Farish bukannya bicara tentang metode terapi, tapi....
“Saya datang untuk melamar putri bapak dan ibu”, ucapnya.
Aku hanya bisa menangis. Oh, Tidak ya Allah, orang ini terlalu baik hati. “Bagaimana Ray? Keputusannya ada di tanganmu”, tanya ayah. “Dokter terlalu baik, untuk memanggung penderitaan yang seharusnya hanya milik saya”. “Itu bukan penderitaan Ray, itu berkah”. “Saya tak punya waktu lagi”. “Selama Allah memberimu nafas, kita akan selalu memiliki waktu”. Dia meyakinkan aku, terus meyakinkan aku. “Bagilah waktumu denganku, dan percayailah aku”. Kulihat kejujuran di matanya. Kejujuran yang telah membuatku terpikat padanya saat pandangan kami bertemu untuk pertama kali. Yah, meskipun dia bagai bulan yang kurindukan, kalau Allah berkehendak, bulan pun bisa jatuh di hadapan burung pungguk. Meski akad nikah terlaksana di rumah sakit karena kondisiki yang melemah, bahagia tetap kami miliki. Bagaimanapun keadaannya, terimakasih Ya Allah!. (20 09 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar