HARDEST PART OF LIFE...
“Aku ingin bisa mencintaimu
Dengan sepenuh ketulusan dari hatiku
Bukan karena tugs dan kewajiban ini
Bukan karena hidup yang terlalu singkat ini
Aku ingin bisa menyunggingkan senyuman
Yang membuatmu tahu ...
Inilah gambaran dunia indahku
Aku ingin bisa mencintaimu
Secara sederhana...
Cinta yang hanya terdiri dari cinta
Yang membuatku melupakan
Matahari tenggelam di akhir hari
Dan bulan menghilang saat fajar tiba
Aku ingin kau sadari
Aku ada, untuk kebahagiaanmu...”
Dia memandang sekeliling kami dengan tatapan sendu, begitu banyak orang di sekitarku dan akupun menyadari setiap orang sibuk dengan pembicaraan masing-masing sehingga tak seorangpun memperhatikan pemuda jangkung yang berpakaian kaos putih bergambar smile dan jeans belel santai. Mungkin para guru di sekitarku mengira aku sedang bicara dengan seorang pesuruh sekolah atau tukang hantar catering restoran.
Wajah tampan di balik topi hitam itu menyunggingkan senyum sedih,
“Apa kau merasa telah kami tempatkan di duniamu?”.
Aku mengerdikkan bahu, “Aku tak punya pilihan ...”.
Pemuda itu menghela nafas dan menepuk bahuku.
“Percayalah, aku ingin yang terbaik untukmu, aku ... sebenarnya aku ingin kau berada di lingkungan ini seterusnya, tak lagi berurusan dengan hal yang merusak hidupmu, tapi aku tak punya pilihan...”.
Keringat dingin mulai membasahi dahiku.
“Apa semua sudah diputuskan?”.
Eqbal mengangguk.
“Afwan ... tapi aku ... kita tak punya pilihan ...Naura”.
Aku menerawang, yah, mungkin aku orang yang malang, tak pernah dan tak bisa merasakan cinta, tak akan dan tak pernah jatuh cinta, selama ini kehidupanku datar dan tenang, hingga hari ini tiba, dengan berbagai kekacauan dan kekusutannya.
“Aku akan menikah denganmu”, suaranya terdengar lembut, tapi bagai petir di telingaku.
Aku berharap ada getaran kecil di hatiku, tapi perasaanku datar, hanya terkejut karena kaget, bukan karena cinta yang meluap. Padahal, jika aku gadis normal, dilamar lelaki seindah Eqbal pasti perasaanku melambung ke langit ketujuh, tapi karena tahu apa yang bakalan terjadi hanya karena strategi bisnis kedua keluarga kami dan aku tahu apa nanti yang akan kami lewati, aku merasa seperti sebuah properti tak penting di tangan Eqbal.
Sedih, sekaligus pasrah. Untuk menyelamatkan kakak angkatku, keutuhan keluarga yang selama ini telah mengurusku, aku hanya bisa membuat kesepakatan ini berjalan, entah sampai kapan, tapi menyadari hidup begitu singkat, aku mencoba menikmatinya, meski nanti aku dan Eqbal hanya akan menjalin persahabatan, aku mengangguk dan tersenyum.
“Aku terima tantanganmu”.
Jika para wanita menikmati keindahan ruangan bernuansa romantis, gaun putih cantik atau kebaya pengantin yang anggun, aku bahkan tak perduli wajahku menjadi seperti apa dirias ala artis. Tak penting menjadi bidadari paling cantik kalau semua ini tak bermakna.
Saat Eqbal mengucapkan ijab qabul, aku bertanya pada diriku sendiri apakah kelak aku bisa jatuh cinta?. Jemari Eqbal menyentuh cadar yang kupakai dan menyingkapnya, kami saling bertatapan, tapi aku tak juga menemukan makna di hitam koral yang dalam itu, aku tak bisa membaca hati Eqbal, aku tak bisa mengetahui kedalaman isi hati suamiku ini.
Aku ini sebenarnya lahir dari apa?
Apa aku manusia?
Jika aku manusia, kenapa Tuhan lupa memberi aku perasaan cinta yang manusiawi?
Sejak kecil aku jarang menangis, aku harus menjadi anak yang tahu diri, sebagai anak angkat keluarga terpandang, aku menjaga sikapku layaknya prajurit dan menjaga segala tingkahku sampai detail. Aku tak tahu apa yang membuatku begitu dingin, mungkin karena aku selalu merasa aku anak yang dibuang keluarga kandungku, merasa tak pernah memiliki harga selain sebagai anak yang harus menjaga kehormatan dan disiplin keluarga, aku tumbuh sebagaimana yang diinginkan keluarga angkatku.
Menyelesaikan studi tepat waktu, ikut berbagai les dan ekstrakulikuler, itu adalah salah satu caraku membalas kebaikan ibu angkatku. Tapi, keluarga inipun akhirnya terpecah, ibu angkatku meninggal saat aku sibuk menyelesaikan skripsiku, meninggalkan banyak misteri dan dendam yang terburai kusut.
Keluargaku yang bahagia tiba-tiba berbalik bagai neraka. Tanpa ibu angkatku, keluarga ini begitu kosong, aku dan kakak angkatku tak pernah menduga, begitu banyak misteri melingkupi keluarga ini, ayah angkatku mengembalikan aku ke rumah orangtua kandungku, meski keluarga yang baru ini berusaha menerima aku dan memanjakan aku, tetap saja aku seperti kehilangan tenpat nyaman dimana aku biasa hidup. Di saat aku mulai beradaptasi, hadirlah sepucuk surat wasiat dari mendiang ibu angkatku agar aku menikah dengan salah seorang putra pengusaha, sahabat masa kecil ibu angkatku.
Mulanya aku menolak dan merasa ini masalah sepele, tapi saat menyadari, betapa ini adalah suatu tugas besar dan aku tak bisa mengabaikannya begitu saja, aku menimbangnya.
Bunda ternyata banyak menyimpan rahasia, termasuk penyebab kematiannya yang ternyata sudah direncanakan banyak pihak, bunda menyusun sekenario ini, dia telah menitipkan sebagian besar hartanya pada Budiman, sahabat karibnya, dan harta itu baru bisa diambil jika salah satu anaknya menikah dengan anak pak Budiman, sayangnya anak pak Budiman hanya satu, Eqbal, karenanya, kakakku, Vindra yang jelas lelaki sejati, tak mungkin menikahi Eqbal, jadi aku menggantikan posisi putra mahkota klan Sanjaya itu untuk menyelamatkan harta warisan bunda sekaligus kehidupan kakak angkatku.
Dalang di balik kematian bunda kemungkinan ayah angkatku sendiri, ini membuatku sakit hati dan shock, sempat sakit syaraf beberapa bulan saking shocknya, bagaimana lelaki berpenampilan lembut dan santun itu tega mencelakai istrinya sendiri?
Ternyata setelah mengorek beberapa rahasia ayah angkatku, ketahuan kalau dia memiliki wanita simpanan licik berotak ular yang akan segera dinikahinya setelah kematian bunda. Setelahnya banyak lagi rahasia terkuak yang membuatku dan Vindra, membenci ayah kami itu.
Ayah dan ibu kandungku berusaha keras untuk menjauhkanku dari masalah rumit ini, merasa berdosa karena aku harus mengalami hal yang menyulitkan karena mereka menelantarkan aku saat masih bayi, membujukku dengan berbagai cara dan memberiku banyak hal untuk dinikmati supaya aku bisa melupakan masalah ini, aku tetap tak bisa meninggalkan Vindra sendirian, aku adiknya, aku menyayanginya lebih dari hidupku, aku harus mengembalikan takhta padanya, mengusir calon ibu tiri yang sekarang hampir menguasai seluruh kerajaan kecilnya, baik rumah maupun tanah milik bunda yang seharusnya menjadi milik Vindra.
“Kalau aku bisa tahu apa yang ada di pikiranmu, aku akan membelinya dengan harga dua juta”, Eqbal mendekatiku dan memberikan secangkir kopi susu.
Aku mengalihkan pandangan dari laptopku dan memandang koral hitam indah itu.
“Kau pernah punya pacar? Kenapa kau mau menikahiku?”.
Mendengar pertanyaanku, lelaki itu hanya tersenyum.
“Yang pasti bukan karena seks ...”, kutambahkan kalimat itu, “ ... karena aku bukan gadis yang menarik, bukankah begitu?”.
Eqbal tertawa, “Apa aku boleh menuntut hakku?”.
“Aku takut kau terkejut kalau aku sudah nggak perawan”, bisikku.
Aku tak bisa membaca pikirannya, tapi wajah manis itu tetap datar mendengar pengakuanku. Dia malah tersenyum-senyum dan duduk di sampingku.
“Apa kamu nggak perduli?”, malah aku yang penasaran.
Dia mengerdikkan bahu, “Entahlah, tapi melihat kebersamaan kita selama ini, mustahil ada lelaki yang bisa menyentuhmu tanpa terluka, dasar agama yang kau miliki lumayan kuat, jika kau melakukan kesalahan dengan yah, melakukan itu sebelum menikah pasti bukan karena kesalahanmu”.
Aku menghela nafas, “Bukan itu Eq, Insya Allah tubuhku memang belum pernah tersentuh lelaki manapun, jatuh cinta saja aku tak pernah, tapi aku pernah mengalami beberapa kecelakaan berat dan percobaan pembunuhan yang tentunya kau tahu dilakukan oleh siapa, kaki kananku pernah terluka parah dalam suatu kecelakaan hebat dan kemungkinan kecelakaan itu melukai banyak bagian di tubuhku, kau tahu maksudku... mungkin saja kecelakaan itu membuat pendarahan di mana-mana, kadang aku sendiri ngeri memikirkannya ...”.
Lalu aku sadar, lelaki ini suamiku tapi bukan suamiku, tak ada cinta diantara kami, ngapain bicara soal itu segala, wajahku memanas.
“Afwan, aku malah ngelantur”, aku mencoba tersenyum, Eqbal meminum kopinya dengan mata terpejam, saat perlahan dia membuka matanya, aku melihat keteduhan luarbiasa, lelaki ini sangat indah, aku mungkin tak mencintainya, tapi ada perasaan damai dan tenang kalau ada di sampingnya, detik itu juga aku merasa hidupku adalah untuk melindunginya, dia yang kuinginkan ada di sisa hidupku yang entah berapa lama lagi.
Dia meletakkan cangkir kopinya dan meraih jemari tanganku.
“Tak apa, kau pasti lelah, istirahat sajalah ... kadang aku melihat begitu banyak beban hinggap di bahumu, padahal kau hanyalah seorang gadis kecil, nggak seharusnya kau melewati ini semua, ayahku sudah banyak bercerita tentangmu ... “.
“Benarkah? Jadi beliau tahu aku pernah direkrut jadi agen rahasia negara khusus penanganan narkoba dan selama ini menyamar jadi guru SMU?”.
“Hah? Jadi itu benar ya? Kukira ayahku bohong soal itu”.
“Setahun lagi aku pensiun kok, maaf ya, tapi ada beberapa sisi gelapku yang aku nggak pengen kamu tahu Eq, aku malu”.
Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya dan memandangku tak percaya.
“Hanya satu yang ingin kau jujur padaku, Naura ... benarkah kau adalah MR 21?”.
Aku tertawa dan berdecak kesal.
“Maafkan aku, tapi itu benar”.
Suamiku memandangku sambil melongo lalu mengacak-acak rambutnya.
“Astaga, apa yang dunia lakukan padamu, gadis kecil, tapi aku sudah menepati janjiku kalau kau benar MR 21”.
“Apa maksudmu?”.
“Aku pernah bekerja di Neocomputa, aku Demondays ... yang menghadapimu di perang jaringan, ingat Night of Chaos? satu tahun yang lalu?”.
“Sialan, jadi kau hacker yang merusak program andalanku? Oh Tuhan!”.
Aku masih belum bisa melupakan kekalahanku menghadapi Demondays tahun lalu, perusahaan pemasok komputer itu diprediksi menggelapkan penghasilannya dan mengingkari pembayaran pajak yang sebenarnya.
“Tapi setelah tahu masalah penggelapan pajak itu, aku berhenti bekerja di Neocomputa, tapi saat itu aku bersumpah, karena beberapa malam menyebalkan itu, software baru yang kukembangkan cukup rusak parah ... aku akan mengejar MR 21”.
“Eits, kau juga merusak programku dengan mengirim cacing sialan itu, impas dong, aku hampir dipecat atasanku karena gagal melalukan hacking data”, gerutuku.
Eqbal nyengir penuh kemenangan,”Tahukah aku gadis kecil, saking kesalnya malam itu, aku mengucap sumpah, kalau MR 21 lelaki, aku akan memberinya pelajaran setimpal, kalau perempuan, aku akan menikah dengannya ...”.
Aku ternganga, “Jadi, seandainya MR 21 adalah nenek tua atau wanita beristri, apa yang kau lakukan? Merebutnya dari suaminya?”.
“Aku tak pernah menduga MR 21 perempuan, kukira MR adalah singkatan dari Mister dan itu berarti MR 21 adalah lelaki, tapi setelah penelusuran melelahkan dan memusingkan, aku sampai pada kesimpulan kalau MR 21 adalah perempuan, dan lebih gila lagi, ada dugaan kuat kalau monster wired world ini adalah gadis berwajah polos yang tak sengaja dijodohkan denganku hanya karena ibu angkatnya adalah teman SD ayahku”.
“Jadi, apa rencanamu setelah kita menikah? Masih ingin balas dendam?”.
Eqbal mengeluh pelan, “Entahlah, aku sebenarnya menyukai petualangan gila, kupikir dengan menikahimu, aku bisa menyalurkan kegilaanku akan adrenalin yang terpacu, tapi tetap menjaga image sebagai bocah taqwa yang berwajah alim di depan keluarga besarku ... aku bosan selalu dianggap malaikat manis, mereka belum tahu sisi gelapku, dan kadang aku ingin menjadi diriku sendiri, kalaupun itu tak bisa, aku ingin menjalani kehidupan ganda sepertimu, malah aku harus banyak belajar darimu, bukankah begitu?”.
“Gila, padahal aku ingin hidup normal ...”.
“Tenang saja, akan kuberikan kau hidup senormal yang kau mau asalkan kau mau berbagi adrenalin denganku”, kata Eqbal. Kesepakatan. Akhirnya, kami membuat kesepakatan tak terduga ... dan aku tahu, selama tak ada cinta di antara kami, itu akan membuat kami nyaman dan bertahan hidup, jika kami kelak saling jatuh cinta, itu malah akan membahayakan satu sama lain dan menghancurkan segi rasionalitas yang seharusnya kami jaga.
“Ngomong-ngomong, MR 21 itu artinya apa sih?”.
“Matahari”, jawabku datar lalu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhku, membaringkan diri dalam tidur yang damai.
“Woi, jilbabnya dicopot sajalah, nggak gerah apa?”.
Aku membuka mataku dan melihat lelaki itu tersenyum.
“Kita kan sudah muhrim ...”, tambahnya.
Perlahan kubuka jilbabku dan mengurai rambut panjang ikalku yang kecoklatan. Kubuat wajahku begitu polos dan tersenyum menggoda, tapi di detik selanjutnya mataku berubah mengancam dan kutarik bantal-bantal membatasi kami berdua.
“Sampai kau melewati ini, jangan salahkan aku kalau kau mati”, aku menarik revolver cal.38 dari balik selimut.
Eqbal beristighfar berkali-kali.
“Ternyata kau ini tetap monster ...”.
“Salahmu sendiri mau menikah denganku”, aku menarik selimutku.
“Okey, tidurlah, tapi sebagai suami yang baik, nanti dua jam lagi aku akan membangunkanmu untuk shalat Isya’ berjama’ah, besok pagi juga kita subuhan bareng ... kupikir sebaiknya kau singkirkan benda sialan itu sebelum kau merasa jet lag dan mengira aku ini penyusup atau apa ...”, kubiarkan dia mengoceh dan revolver tetap akan menemaniku.
Tak ada yang berubah dalam diriku meski statusku sudah menjadi Nyonya Eqbal Alfarish Ramadhan yang terhormat. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan dan pemikiran kami masing masing, aku ingin percaya padanya, tapi itu sangat sulit, setelah hidup yang kulalui penuh intrik dan penghianatan, aku takut percaya pada seseorang, aku takut untuk mencintai karena aku pernah merasa kehilangan yang menyakitkan.
Yang pertama adalah kematian saudara kembarku, Neuva karena kecelakaan, meski kami tidak dibesarkan di tempat yang sama, aku begitu mencintainya dan kematiannya membuatku membenci orangtua kandungku yang memisahkanku darinya sejak bayi sehingga waktu pertemuan kami sangat singkat. Yang kedua adalah partnerku, Marco Denovan, kami lama bertugas bersama, sejak aku direkrut Badan Intelegensi saat aku semester dua di sebuah universitas Swasta, melihat keahlian beladiri dan capoera juga ketenanganku menghadapi keadaan, salah seorang paman temanku yang bekerja di BIN menawarkan pelatihan agen rahasia yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa untuk menangani kasus narkoba yang merajalela di negeri ini, siapa saja pemasok benda laknat itu di tubuh-tubuh lembaga pendidikan dan apakah pihak dalam terlibat di dalamnya?
Marco tertembak saat bertugas menggerebek tempat transaksi narkoba, tapi tentu saja kematiannya diberitakan sebagai kematian akibat VSD, dokter dan pihak pemerintah telah mengatur kerahasiaan kami secara teliti dan tak bercelah. Kami hidup sebagai mahasiswa biasa, di sisi lain kami adalah aparat penegak hukum yang tangguh. Marco dan aku sangat dekat, dia seperti kakak yang baik bagiku, dia menyayangiku meski rasa sayangnya sebagian karena aku mirip dengan Aira, adiknya yang telah meninggal.
Kehilangan Arc, panggilan akrabnya di team 12, tim kami, membuatku sangat terguncang, aku bagai kehilangan pegangan, baik dari sisi kehidupanku, jiwaku, ragaku, aku bahkan sering menyalahkan diriku sehingga kejadiaan naas di salah satu atap gedung Mall di Westside city. Aku sadar aku begitu menyayanginya hingga aku kehilangannya. Aku sering termenung menyusuri daerah kami biasa berpatroli dan mengawasi jalannya transaksi narkoba, di pinggiran kota yang tertata indah ini, kami biasa menyamar sebagai mahasiswa arsitektur yang sedang membuat sketsa-sketsa kota tua yang indah. Arc begitu pandai menggambar, dulu dia pernah ditempatkan di divisi investigasi dan menggambar sketsa wajah-wajah penjahat sebelum dilibatkan di team 12.
---
“Apa pengalaman paling menyebalkan saat bekerja?”, Eqbal duduk di sampingku yang asyik melakukan pekerjaan ringan di masa liburan ‘honey moon’ pernikahan kami.
“Kehilangan partner”, jawabku pendek sambil mengartikan surat inskripsi yang menyebalkan dan membuat mataku semakin pedih.
“Kau mencintai pria itu?”, tanya Eqbal lagi, aku tengadah.
“Bagaimana kau tahu partnerku laki-laki?”.
“Just guest, nah, apa kau mencintainya?”.
“Sayang mungkin, cinta takkan pernah ada di kamusku, kau sendiri ... pernah jatuh cinta?”, aku menutup jendela layar Word dan menyetel musik klasik untuk mengusir kepenatan, mataku lelah.
Eqbal hanya diam, lalu tersenyum kecil, “Pernah bertunangan, tapi karena suatu masalah, kami membatalkannya, sudahlah ... nggak penting ...”, lalu dia membalikkan badan, tapi sekilas aku melihat matanya bersorot tak biasa. Sisi lain Eqbal yang baru kulihat hari ini. Aku merasakan kepedihan sekilasnya, tapi aku berusaha tak acuh akan perasaan ingin berbagi itu. Kubiarkan dia berlalu. Aku tak tahan memikirkan suatu saat aku jatuh cinta pada pemuda bermata kelam itu dan itu bisa merusak hidupku, aku bisa over protected padanya dan kehidupan akan berhenti sampai di situ, jika aku kehilangan sekali lagi, aku pasti akan hancur, padahal tugasku masih panjang, masih separo jalan dan aku tak boleh kehilangan kendali diriku sebelum tuntas tugasku.
“Tuhan, jangan biarkan aku jatuh cinta ... jangan pernah ...”.
Malam-malam yang begitu dingin kulewatkan dalam tugas panjang rutin, berpatroli dari satu cafe ke cafe yang lain, aku selalu menyukai dandanan ala hip hoppers yang membuat rambut panjangku tertutup secara menyeluruh oleh topi wol tebal. Aku didampingi Erleen, ‘pasangan lesbian’ ku. Aku suka peran ini, dengan begini, para lelaki tak mendekatiku, para perempuan juga menjaga jarak, Erleen berperan sebagai perempuan dan aku adalah si setengah lelaki. Aku memainkan dry martini dengan jemariku sambil melihat ke arah Johan, salah satu anggota team 12 yang asyik menggoda bartender, tampaknya dia menyukai perannya sebagai gay, semoga saja tidak keterusan, mengingat di kehidupan nyata dia punya tunangan cantik yang sebentar lagi dinikahinya.
“Suamimu yang alim itu nggak marah setelah tahu pekerjaanmu?”.
“Dia nggak terlalu perduli”, jawabku berbisik, sok akrab dengan Erleen.
“Kamu tampan sekali Noir, bulan depan bisa-bisa aku jatuh hati beneran sama kamu”.
“Shut up, oh ayolah, aku sudah menikah”.
“Tapi sepertinya hubungan kalian dingin saja”, goda Erleen.
“Hei ... masa harus diperlihatkan ke muka umum kalau kami pasangan mesra?”.
“Nggak gitu Noir sayangku, kalau kau benar-benar serius dengan lelaki pengusaha itu, pasti malam ini kau nggak akan melewatkan malam ini dengan tenang denganku, kau pasti ingin cepat pulang”.
“Kau sendiri, kapan tembak target?”.
“CR 12 nggak pernah membalas godaanku”, gerutunya sambil berdecak kesal.
Caesar Alexei, dokter bedah team 12 yang ganteng dan smart abis itu sudah jadi incaran Erleen sejak tugas pertama kami, tapi tampaknya si dokter lebih tertarik dengan jeroan mayat dan otopsi ala Dok-Pol yang memuakkan.
“Santai aja, kalau kau mati pasti dia pegang kamu kok”, gumamku sambil mengawasi target kami dengan sikap siaga. Adrian Manaf, pengusaha sukses yang sedang naik daun, di usianya yang ke 36 sudah memiliki beberapa perusahaan raksasa yang sedang kami selidiki karena ada dugaan kuat dia memiliki pabrik narkoba terbesar di Asia Tenggara. Lelaki itu sedang berbincang dengan beberapa pria muda dan tentu saja ditemani gadis-gadis paling cantik di De Lux Cafe. Gadis Escort bertaraf paling mahal.
Kadang aku merasa malu jika pada siang hari aku memakai jilbab rapi dan bekerja sebagai guru paroh waktu di SMK dan mengajar komputer sementara di malam hari aku berkeliaran di cafe-cafe, meski dengan pekerjaan sebagai detektif semi agen pemerintah, tapi tetap saja aku merasa selalu berkubang di tempat yang kotor.
Team 12 sudah bersiap melakukan penggerebekan ketika melihat Adrian menukar kopor kecilnya dengan beberapa koper besar yang dibawa lelaki-lelaki muda yang bertransaksi dengannya.
Saat Dean dan Johan meringsek maju ke arah Adrian, tiba-tiba terdengar rentetan peluru dari lantai atas. Dean tertembak dan suasana langsung kacau, aku mengejar target bersama Erleen di belakangku.
“Arah jam sembilan, cepat, biar Dean diurus Johan, arahkan Marc dan Faesal untuk ikut mengejar...”, teriakku panik. Bagaimana orang-orang Adrian mengenali kami?. Aku tak habis pikir, tapi segera kuenyahkan pikiran itu dan segera mengejar Adrian dan pasangan transaksinya yang menuju lift, kulepas beberapa tembakan, sebagian mengenai kaki lelaki muda yang bersama Adrian, sementara si belut itu berhasil masuk lift. Sebelum aku sempat maju mengejar, seseorang menembak punggungku dari arah kanan. Meski aku memakai rompi di balik jacketku, hentakan peluru membuat beberapa tulang rusukku terasa patah, tapi aku tak mau mati, aku takkan mati malam ini, sekuat tenaga aku memaksakan tubuhku berdiri dan bersembunyi di pilar, sebelum sempat bersembunyi, lagi-lagi orang itu melepas tembakan, mengenai kaki kiriku. Tiba-tiba sesosok tubuh berpakaian serba hitam menyambar tubuhku. Nafasku semakin melemah.
“Ini Delta satu, kirim bantuan ke De Lux”, pria berjubah wol hitam itu mengcoverku dengan protektif sementara dia melepaskan tembakan balasan.
Delta?
Ah Tuhan, kenapa di saat seperti ini aku baru bisa berdekatan dengan orang yang paling aku kagumi sedunia?. Seperti apakah dia? Delta satu ... pimpinan tertinggi yang membawahi tiga belas divisi kami, termasuk Team 12. Aku tak pernah tahu orang ini lelaki atau perempuan, tapi saat melihat sosoknya yang berjubah hitam, dari belakang punggungnya aku tahu Delta adalah laki-laki. Wajahnya tampaknya ditutup semacam pelindung karet berwarna hitam, antitoksin.
Delta meraih beberapa benda kecil dari pinggangnya dan melepas tutupnya.
Gas air mata.
Dia meledakannya beberapa meter ke depan dan musuh di depan kami yang memakai senapan tabur sejenak menghentikan tembakannya, saat itulah Delta menyambarku dan membawaku menuruni tangga darurat. Nafasku sudah sangat payah, aku muntah darah dan penglihatanku semakin parah, semua menjadi gelap.
---
Saat kubuka mata, pertama kulihat adalah wajah CR 12.
“Berapa satu tambah satu?”, katanya cool.
Aku mengacungkan dua jariku sebelum tenggelam lagi dalam kegelapan.
---
“Lukanya parah pak ... tapi nggak kena bagian vital, tiga minggu juga sembuh kalau dia mau istirahat”.
Aku mendengar suara si dokter ganteng pujaan Erleen dari balik ruang perawatan. Sedang bicara dengan siapa si CR 12?. Aku berusaha bergerak tapi seluruh sendiku berteriak. Aku menepiskan tirai dan kulihat CR 12 sedang sibuk membersihkan luka di lengan kiri pria jangkung yang sudah melepas jacket hitamnya dan menggantungkannya dengan asal di kursi tempatnya duduk. Delta. Sialan, si bos masih belum melepas masker hitamnya yang membuat wajahnya jadi mirip ninja.
“Nah, selesai ... “, CR 12 nyengir lalu berdiri. Lelaki itu memakai bajunya dan jacket wolnya, dengan cepat dia segera pergi dari klinik dan aku terkulai lemas di brankar. Sialan, padahal sudah demikian dekat, tapi si Delta masih misterius buatku, aku yang sejak dulu mengagumi pemikiran dan analisisnya yang sangat akurat dalam pekeerjaan-pekerjaan kami, ingin melihat sosoknya yang sebenarnya, tapi lima tahun aku bekerja di divisi ini, aku tak pernah melihat sosoknya secara langsung sampai hari ini. Tapi, itu saja sekilas lalu.
---
Keesokan paginya Eqbal sudah duduk di sampingku dan memandangku dengan dingin.
“Aku terpaksa bilang ke ibuku kalau kau semalam mengalami kecelakaan saat kusuruh belanja di supermarket 24 jam karena lupa belanja untuk makan malam, setelah aku diomeli panjang lebar dan menghabiskan banyak waktu menenangkannya, kubilang lukamu nggak terlalu serius, karenanya keluarga kusuruh untuk tidak terbang ke Westside, tapi ibu memaksa mau bicara denganmu untuk memastikan keadaanmu ...”, Eqbal menyerahkan HP, aku meraihnya dan segera calling ibu mertuaku.
“Asslamualaikum Bunda ... ini Naura ...”.
“Naura! Gimana keadaanmu nak? Kata Eqbal semalam kau kecelakaan? Keserempet motor? Lukanya parah tidak?”.
“Tidak apa-apa bun, hanya lecet di punggung dan kaki ... paling seminggu juga sembuh”.
Setelah mendapat petuah dan nasehat panjang, Eqbal meraih HP dan berbicara menggantikanku,
“Naura butuh istirahat Bun, udah dulu telponnya ya”, lalu telpon dimatikan, setelah itu, pria bermata koral itu memandangku, “Bisa cerita kejadian sebenarnya?”.
“Tertembak dalam tugas ...”, gumamku.
“Setelah kejadian ini, relakah kau ... lepaskan saja pekerjaanmu itu”.
Aku mengerdikkan bahu, “Ini satu-satunya pekerjaan untuk menyelamatkan kakakku, dari gajiku aku bisa sewa pengacara untuk melawan ibu tiriku, semua bisa sia-sia, bahkan harta ibuku yang dititipkan pada ayahmupun bisa jatuh ke tangannya, perempuan ular itu sangat licik, padahal bukti yang kumiliki bisa menjebloskannya ke penjara, tapi dia selalu lolos, kegagalanku untuk banding di pengadilan kemarin sudah membuktikan kalau wanita itu punya koneksi yang kuat ... “.
“Kau bisa pinjam uang dariku atau pakai pengacaraku”.
“Aku tak bisa membebanimu”.
“Tapi aku ini kan suamimu, kapan kau sadar kalau kamu cuman cewek biasa yang butuh perlindungan? Kamu sok kuat, sok tegar dan itu memuakkan, tahu!”, Eqbal memandangku dengan pandangan menusuk, aku shock mendengar dia bisa membentakku seperti itu.
“Eqbal ... kok kamu bicara begitu?”.
Eqbal tak menjawab, dia malah berdiri dan pergi meninggalkan ruangan sambil membanting pintu. Aku ingin marah dengan kelakuannya itu, tapi sekilas tadi aku melihat matanya memancarkan luka, tapi luka karena apa?. Aku tak bisa berfikir kalau lelaki itu menyukaiku, tapi selama ini aku tak juga bisa menebak motif sebenarnya dia menerima perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan ibu angkatku. Aku benar-benar tak mengerti.
---
Dua hari kulewatkan dalam kesendirian, membuatku berfikir tentang hubunganku dengan lelaki aneh bernama Eqbal Alfarish Ramadhan. Pria berwajah manis dan tampan, tapi kadang aku melihatnya begitu lain, dingin dan acuh. Pria penggemar coffe late kental ala Starbucks yang ditambah dengan bongkahan gula. Tapi dia hanya menyukai sweet coffe, selain itu dia tak menyukai makanan lain yang beraroma manis. Eqbal menyukai warna hitam dan putih, kebanyakan baju luarnya seperti jacket, mantel, jas, berwarna pekat, tapi kaos santai dan kemeja biasanya berwarna putih. Terkadang dia bersikap sangat baik dan santun, tapi di sisi lain aku pernah melihatnya suka termenung dan seolah dia punya dimensi ruang yang tak tersentuh. Tiba-tiba aku baru menyadari, aku tak tahu apa-apa tentang pria yang kunikahi ini. Aku tak benar-benar mengenal pribadinya, mungkin tak ingin, karena aku takut ...
Pintu kamar rawat menjeblak terbuka, Eqbal tersenyum sambil membawa sekeranjang buah anggur segar.
“Afwan, aku bukan suami yang baik ya, dua hari kemarin aku ada urusan mendadak ke luar kota, mengurus anak cabang di Southside”.
“Tak apa”, jawabku sambil menghela nafas lega, nampaknya Eqbal tak lagi marah.
Lelaki itu duduk di kursi dan memandangku sejenak.
“Aku juga minta maaf kemarin aku out of control ...”.
Aku mengangguk, “Justru aku yang minta maaf, aku bukan istri yang baik juga untukmu, aku ... aku bukannya menyesal menikah denganmu, terus terang aku memanfaatkanmu untuk banyak hal dan menghindari banyak pertanyaan yang tak ingin kujawab dengan menikah, tapi ... melaksanakan kewajiban-kewajibanku saja aku tak bisa, bahkan untuk mencintaimu ... setelah semua ini selesai, aku akan membebaskanmu ...”.
Eqbal mengernyit, “Jadi kau pikir selama ini kenapa aku ingin menikah denganmu?”, tanya Eqbal. “Untuk memperlihatkan pada dunia kalau kau adalah gadis normal, lalu setelah dunia percaya kau adalah orang biasa ... kau akan membuangku begitu saja?”.
“Mungkin kau benar”, jawabku datar, tapi perlahan kusadari, lama-kelamaan aku tak bisa memandangnya.
“Kenapa kita tak coba untuk saling mencintai?”, tanya Eqbal tiba-tiba.
Aku merasakan jantungku seolah hampir berhenti ... pria ini mulai menguasaiku.
“Tidak bisa ...”, aku merasa pandanganku kabur.
“Aku tak boleh mencintai, Eqbal ... aku tak bisa hidup tanpa cinta, karena cinta bisa melemahkanku, cinta membuatku takut untuk mati ... padahal pekerjaanku menuntut aku untuk tidak takut mati jika ingin melewati semua rintangan tugasku. Jadi, biarka semua berjalan apa adanya, datar saja ... jika aku mencintaimu, aku akan takut meninggalkanmu ... itu akan menghambat kinerjaku ... kumohon, jangan singgung soal ini lagi ...”.
“Nonsense, alasan apa itu?”.
“Jika aku mencintaimu, akan terpikir untuk menjalani hidup denganmu, aku akan punya kehidupan yang tak ingin kutinggalkan, aku akan selalu cemas apa kau baik-baik saja ... apa kau akan aman, dan pikiran itu bisa membuatku gila!”.
“Jadi, dengan kata lain, kalau kau tak mencintaiku, kau takkan mencemaskan jika terjadi sesuatu yang menimpaku? Kau takkan perduli?”.
“Aku perduli, tapi cinta membuat pikiran tak lagi logis dan rasional, bisakah kau memahaminya? Kau akan dalam bahaya jika orang yang ingin menghancurkan aku tahu, kau memiliki harga di mataku ... satu-satunya alasan aku menyesal menikah denganmu karena aku berarti telah menyeretmu dalam masalah yang rumit, aku tak mau kau lebih terbebani lagi untuk meng cover aku ... semua yang kaulakukan sangat cukup, kau sebisa mungkin harus menjauh dariku supaya kau aman ...”.
Alis tebal Eqbal bertaut, wajah sendunya mengingatkan aku pada Ariel Peterpan, tapi wajah ini lebih mellow... membuatku hampir jatuh ... jatuh ke dalam lubang hati yang aku sendiri tak tahu apa itu, tapi aku berusaha menepis perasaan untuk menggenggam tangannya.
Justru di saat seperti ini, tangan Eqbal terulur dan menyentuh bahuku, dia tersenyum kecil dan berbisik, “Istirahatlah Naura ... kau butuh banyak waktu untuk memulihkan kekuatanmu, maafkan kata-kataku tadi, aku akan menjadi sahabat yang baik, jika itu yang kau inginkan”.
“Good friend...?”, gumamku lalu merebahkan tubuhku sambil tersenyum. Eqbal membalas senyumanku sebelum dia keluar dari ruang perawatan.
---
Sepulang dari hospital. Aku harus menjalani berbagai terapi untuk memulihkan kondisi kakiku. Aku harus memakai kursi roda, padahal aku benci berada dalam keadaan lemah. Tiga hari di rumah, hanya mondar-mandir di kamar dan ruang tamu dengan kursi roda ini membuatku stress, laptop dan internet tak bisa menghiburku. Latihan terapi untuk berjalan yang menyakitkan membuatku tambah senewen, tapi Eqbal tetap tahan menghadapiku.
“Keluar yuk ...”, kata Eqbal sambil mendorong kursi rodaku ke kamar.
“Mau ke mana?”.
“Taman plazza kota, ini malam minggu, pasti ramai ...”, dia membuka lemari pakaian dan membawakan bungkusan besar.
“Pakailah, pasti kamu nggak mau menarik perhatian kan?”.
Kubuka kado darinya, ya ampun, pakaian berwarna pink, jilbab yang imut plus pernak-pernik khas cewek lainnya, aku melongo.
“Menyamarlah jadi gadis feminin yang imut, kau nggak akan dikenali andai ada yang mengejarmu, oke?”.
“Tapi ...”.
“Lima menit ... kutunggu kau”, dia keluar kamar dan membiarkanku menimbang.
Lima menit kemudian...
“Lho... kok belum ganti pakaian?”.
“Please panggilkan perawat ... aku belum bisa ganti baju sendiri ...”.
Dia menepuk dahinya, “Argh, ya, afwan... aku lupa ...”.
Perawat rumah sakit yang kami sewa memasuki kamar saat dia panggil, membantuku berganti pakaian dan sedikit berdandan.
Eqbal tersenyum lebar saat melihatku.
“Kau cantik ...”.
Aku tak biasa mendengar pujian seperti ini kecuali pujian atasan kalau aku melaksanakan tugas dengan keberhasilan mendekati 80%.
“Trims...”.
“Jazakumullahah, ukhti..., bukan sekedar trims”.
Aku tak menjawab. Dia berjalan dan berhenti di belakang kursi rodaku, dengan ringan dia membawaku keluar halaman, menggendongku memasuki mobil, memasukkan kursi rodaku di bagasi, benar-benar tipikal suami yang baik, beberapa tetangga menyapa kami.
“Mau ke mana pak Eqbal?”, sapa seorang ibu tua gendut.
“Jalan-jalan sama istri ... sehabis kecelakaan istri saya agak jenuh di rumah ...”,Eqbal tersenyum.
“Oh, bu Naura sudah pulang dari rumah sakit ya?”, ibu itu memandangku, aku mengangguk dan tersenyum.
“Pengendara motor sekarang memang kebangetan, apalagi anak-anak muda, wah, semua berandal jalanan, untung bu Naura selamat, tapi, apa yang nabrak ndak di tuntut, pak?”.
“Tidak usahlah, bu Triska, toh istri saya selamat, meski harus terapi agar kakinya bisa berjalan normal lagi, tapi kami patut bersyukur, Naura masih selamat, mari bu Triska ...”.
“Ya pak Eqbal ... selamat malam mingguan ...”.
Wanita itu melambai dan Eqbal membalas lambaiannya. Beberapa ibu muda melambai saat kami melewati jalanan komplek. Aku terkejut, ternyata suamiku terkenal juga di komplek ini, padahal kami baru dua bulan menempati rumah baru ini.
“Kamu terkenal juga ya, padahal nama ibu di sini satu aja aku ndak hafal”, kataku.
Eqbal melirik sekilas lalu berkata, “Makanya, kalau lukamu sudah sembuh, ikutlah arisan ibu-ibu komplek, aku sih, sejak awal kita pindah sudah akrab sama-bapak-bapak di sini, setiap Jum’at aku jaga ronda, malam sabtu ada arisan dan pengajian bergilir ... kita mungkin sibuk, tapi kita tak boleh lupa bertetangga, rasulullah pernah berkata, jika kita baik dalam bertetangga, maka jalan menuju surga pastilah mulus, kalau kita mati ... nggak mungkin kita gotong mayat sendiri lalu tahlilan, kita butuh toleransi tetangga ... maka kita bisa hidup dan mati dalam damai”, celotehnya riang.
“Tapi, nggak hanya sama bapak-bapak, kau akrab juga sama ibu-ibu komplek”.
“Kok dari nada suara kamu ... aku ngerasa kamu cemburu ya?”.
“Idih, ngapain cem ... cemburu gitu, hanya heran aja ...”.
“Lupa ya? Waktu awal kita pindah, belum ada pembantu ... siapa yang rutin buang sampah? Siapa yang beli sayuran di tukang sayur? Aku! Kamu asyik dengan kerjaan dan laptop sialanmu itu, jadi akulah yang tiap hari bertemu ibu-ibu itu, tentu saja mereka heran, kok ada bapak-bapak muda yang beli sayuran di komplek ... sering juga mereka tanya, ‘pak, kenapa bukan istrinya yang belanja?’, aku jawab aja kamu sakit dan belum terbiasa dengan rumah baru kita ...”.
“Salah sendiri! Kalau nggak sempat ke Hypermall kan ada internet! Kenapa nggak praktis banget, kau kan bisa pesan segala yang kau butuh lewat internet ...”.
“Kelamaan ... lagian lucu, masa beli sayur pakai fasilitas internet?”.
“Capek ngomong sama kamu”.
Aku merebahkan diri di jok dan memejamkan mata, menikmati musik blues yang sayup-sayup terdengar di radio.
Tiba-tiba Eqbal memindah salurannya, lagu lawas,Hard to Fell-nya Nidji mengalun kencang, dan suamiku bersenandung kencang,
“Breathing so hard, I know you are right...we cant be together, love is forever... mmm ...
Try to believe, I’m look in to your heart, say you don’t leave me, dont leave ...”.
Kepalaku terasa berdenyut, kesal, jengkel, tapi ada rasa di hati yang tak terlukiskan.
Kami mungkin terlihat seperti sepasang manusia aneh, atau mungkin beberapa orang memandang kami seolah kami pasangan romantis.
Pemuda jangkung tampan berkacamata dan berwajah melankolis, mendorong-dorong kursi roda seorang gadis yang terlihat rapuh dan lemah, kayak sinetron di TV aja, tapi Eqbal sepertinya cuek dengan pandangan orang, dia bahkan membelikan aku arum manis yang biasa dimakan anak-anak, kami makan kue leker di bawah pohon dan dia mendudukan aku di kursi taman sambil memesan capucinno kental karena di area sini tak ada starbucks.
“Selera makanmu lumayan banyak, di rumah juga kau pandai memasak ... tapi kau tetap langsing, ke mana perginya lemak-lemak itu?”, aku memandang Eqbal yang asyik melahap hot dog dan di hadapan kami masih ada dua potong pizza.
“Kantorku di lantai limabelas, ingat? Aku selalu pakai tangga darurat untuk masuk kantor”.
“Bohong ...”.
“Treadmill setiap Minggu siang, dan karena partnerku kebanyakan pengusaha muda, tempat pertemuan kami selalu di fitness center dan arena olahraga”, jawabnya sambil meraih Pizza.
“Sebaiknya kau gemukkan badanmu itu, aku suka gadis yang bertubuh padat ...”, Eqbal memandangi tubuhku, “Kau seperti papan luncur ...”, katanya kurangajar, anehnya, aku tak marah, malah merasa geli dan rasanya begitu aneh aku bisa berbincang akrab selain dengan Vindra, kakak angkatku.
“Mau jalan-jalan lagi?”.
“Boleh”, aku hampir berdiri saat Eqbal menyentuh lembut lenganku.
“Kata dokter, jangan kau paksakan lututmu dalam satu minggu ini, biarkan aku membantumu, oke?”, dia membopong tubuhku dan mendudukanku di kursi dengan lembut, aku baru tahu, aroma aftershave mint yang dipakainya bisa membuatku merinding, tubuhnya begitu dekat denganku dan aku merasa mulas, wajahku panas dan aku merasa sangat aneh, setengah senang, setengah takut, cemas, campur aduk.
“Eh, kamu Eqbal ya?”, suara lembut seorang gadis mengagetkanku. Gadis berjilbab biru yang tengah memandang kami, luarbiasa cantik dan anggun, aku sampai terpesona melihatnya, gadis ini mungkin punya darah arab yang cukup kental, atau India? Parasnya cantik dan enak dilihat. Senyumnya terkembang saat memandang Eqbal, sementara lelaki itu hanya berdiri dengan tenang sambil mengernyitkan dahi.
“Aku Shafira ... SMU Al Azhar ... ingat?”.
“Oh, yang wakil OSIS itu?”.
“Ya, ah, baru tujuh tahun lewat, masa lupa?”, Shafira memandangi Eqbal sementara aku hanya bengong, tengadah di antara dua alumni Al Azhar ini.
“Gimana kabarmu Eq? Sehabis tamat SMU katanya ke luar negeri”.
“Yups, ambil TI, setelah itu master di dalam negeri saja, masih belum lulus nih, moga tahun depan kelar ...”.
“Ah, dari dulu kamu kan juara kelasnya, wih, pasti sukses dong perusahaan yang kamu dirikan sejak SMU itu ... oh ya, aku baru nyari Blackberry, di tempatmu ada yang harganya miring nggak? Kalau ada casingnya yang warna biru”.
“Kamu aneh, namanya juga Blackberry, masa pengen yang biru? Tapi di tempat kami ada berbagai warna cassingnya kok ... silahkan lihat saja di Macro ... bilang pelayannya kau sahabatku, nah ini kartu namaku, perlihatkan saja pada mereka, kau akan dapat harga bagus”.
Uh oh, aku seperti obat nyamuk saja, eits, tunggu ... apa aku cemburu? Tapi akhirnya gadis itu berpaling memandangku, dari sorot matanya sekilas aku melihat ada rasa jijik lalu rasa kasihan dan empati.
“Hallo, kamu sahabatnya Eqbal ya?”, dia memandang kursi rodaku dan aku yakin dia berpikir aku orang cacat yang menyedihkan dari raut mukanya.
Sebelum aku menjawab, Eqbal meraih tanganku dan berkata,
“Shaf, kenalkan, ini istriku ... Nauzahra El Malaika ... nah, Naura, Shafira ini wakilku waktu jadi ketua OSIS ... jelek-jelek gini aku pernah jadi ketua OSIS ...”, Eqbal cengar-cengir sambil memandangku. Narsisnya kumat.
“Whatever ...”, gumamku lalu memandang Shafira.
“Senang berkenalan denganmu ...”, aku mengulurkan tangan, kulihat wajah Shafira tak seceria tadi, dia menjabat tanganku cepat.
“Kami baru pindah di Neostate City, perumahan Pearl Zone, silahkan mampir kalau ada waktu ...”, kataku ramah, Shafira hanya mengangguk-angguk.
“Eq, bahuku sudah sakit nih, pulang yuk ..”, aku menggamit lengan Eqbal. Suamiku terlihat cemas lalu mengangguk ramah ke arah Shafira.
“Kami pulang dulu ya ... “.
Gadis itu hanya memandangi kami lalu mengangguk. Setelah agak jauh darinya, aku menengadah memandang Eqbal, “Kayaknya dia shock, orang kayak kamu punya istri cacat”.
“Apa?”.
“Mungkin dulu dia pernah naksir kamu, makanya dia shock, kamu kan tampan, kok bisa-bisanya punya istri cacat ...”.
“Eh, tadi dia nggak bilang begitu kok ...perasaan kamu aja ‘kali”.
“Feeling perempuan”, jawabku pendek. Eqbal hanya mengerdikkan bahu, tak lama dia bernyanyi...
“...This time, This place …Misused, Mistakes …Too long, Too late Who was I to make you wait Just one chance Just one breath Just in case there's just one left 'Cause you know, you know, you know That I love you I have loved you all along ….”.
Ini malam minggu paling lama yang kulewatkan sepanjang hidupku, dengan perasaan paling aneh pula, aku seolah merasakan lagu itu dia bawakan untukku, tapi hatiku berkeras untuk tak memikirkan apapun, walau secuil perasaan romansa karena itu bisa melelehkan tak hanya hatiku, tapi otakku. Aku benci menjadi perempuan, perasaan seperti ini begitu mudah menguasai perempuan.
---
Sesi terapi kali ini sangat menyakitkan, aku pernah tertembak, tapi hanya terserempet, pernah kecelakaan sampai hampir mati, tapi tidak dengan luka sedalam ini.
Entah berapa keras aku menjerit-jerit. Dokter meluruskan kakiku hingga aku pingsan, saat terbangun aku merasakan seseorang memelukku, aku terlalu lemah sehingga hanya bisa bersandar pada orang ini, aku mencium wangi mint.
“Eqbal ...”, aku mencoba bangun, tapi dia menahan lenganku dan memaksaku bersandar di dadanya yang bidang.
“Naura, aku tak perduli kau tak bisa bangun atau apa, tapi kalau terapinya seperti tadi, aku tak tahan, aku takut jantungmu tak kuat menahannya ... sudahlah, lebih baik kita hentikan terapinya, latihannya perlahan saja, oke?”.
Aku mengernyit sakit saat menggeser tubuhku dan melepaskan pelukannya.
“Hei, bro, aku ingin bisa berjalan lagi, oke? Kaki ini segalanya buatku ...”, aku memandangnya, saat itu aku kaget karena melihat airmata di sudut matanya. Dia sedih? Menangis? Untukku?
“Kau bener-bener cewek nekat ... keras kepala dan menyebalkan ...”, dia memandangku dan tersenyum, sedih, aku bisa merasakan kesedihannya tapi mencoba untuk mengabaikannya.
“Aku yang sakit, kenapa kau yang menangis?”, gerutuku.
“Perlukah aku menjawab? Bukankah kau sudah tahu jawabannya?”.
Lagi-lagi aku menghindar ...
Perasaan seperti ini sungguh tak mengenakkan hati ... indah tapi menyedihkan.
Dia tak bekerja tiga hari hanya untuk merawatku, aku mencegahnya tapi dia tak perduli.
“Aku ini suami yang tak bertanggungjawab kalau aku meninggalkan kamu demi pekerjaan padahal jalan saja kau tak bisa”.
“Bukannya tak bisa, tapi belum bisa ...”.
“Oke, belum bisa dan butuh bantuan ...”
Aku menyerah.
Hari ini kami benar-benar berlibur secara konyol, memutar film animasi, dari samurai deeper kyo sampai trinity blood, dasar sinting, ternyata si tuan jenius komputer itu masih ke kanak-kanakkan, dia bahkan punya DVD Doraemon versi lengkap!
“Memang nggak ada film yang lebih dewasa?”, gerutuku.
“Hei, aku ini ikhwan, gak punya koleksi film dewasa ... “, katanya cuek.
“Maksudku bukan blue atau semacamnya, ada Die Hard atau Wanted? Minimal Three Kingdom?”, aku mengacak-acak lemari kasetnya. Ada empat laci berisi full kaset, ternyata kebanyakan animasi dan film horor Jepang, kebanyakan mutilasi.
“Katanya ikhwan, kok banyak film sadisya?”.
“Itu dikasih teman, belum nonton, paling Death Note doang ... sama Conan ... ada adegan ciumannya sih, tapi masih bisa ditoleransi ...”.
Tiba-tiba aku berfikir, kalau Eqbal dapat istri normal, tentu sekarang dia sudah nggak hanya ciuman sama istrinya, aku begidik ngeri, kasihan banget sih orang ini. Salah sendiri kenapa mau dijodohkan denganku, bukannya hepi, aku malah bisa membahayakan hidupnya.
Aku tak bisa percaya, cowok macho, tinggi, tampan berkacamata ... nyanyi soundtracknya Doraemon sambil ngemil popcorn, lama-lama dia kelihatan tolol kayak Nobita, tapi lucu juga, lain dengan tampang serius mellow saat jemarinya bergerak cepat di hadapan laptopnya.
Gila! Apa Eqbal punya kepribadian ganda?
Tapi masakan dan cemilan buatannya lumayan enak juga. Kuakui, di dekatnya sifat waspadaku agak bisa ditenangkan.
“Kriiingggg!”, tiba-tiba bel pintu berdering, karena pembantu sedang libur, perawat yang merawatku sedang ke apotek, Eqbal ke depan membuka pintu.
Tak lama suara cempreng Erleen membuatku hampir terjengkang dari kursi. Gadis yang tampangnya seperti model kelas wahid itu memakai pakaian super seksi yang bikin siapa saja memandangnya, dia memang suka cari perhatian, nggak di kantor, nggak di tempat umum.
“Kayaknya lebih baik kalian kutinggal berdua ...”, Eqbal mengangguk ke arah Erleen, tapi ekspreasinya datar saja, sepertinya dia agak tak suka melihat gaya gadis satu ini. Aku telah berbohong pada Eqbal kalau Erleen adalah teman kuliahku dan sekarang dia punya butik di Neostate Hypermarket, jadi dandanan seksinya adalah tuntutan pekerjaan, oke, Erleen memang punya butik, jadinya aku nggak terlalu bohong. Ini ketiga kalinya dia muncul di rumahku, kayaknya betah banget kalau main ke sini, padahal aku adalah orang Individualis yang suka menikmati kesendirian.
“Kayaknya kamu masih belum akrab sama suami kamu?”, tanya Erleen tanpa basa-basi.
“Apa’an sih, dateng-dateng ngegoes ...”.
“Ih, aku bukannya ngegosip, aneh aja, kalian kan pengantin baru ... tapi nggak sekalipun aku lihat kamu ketawa-ketawa sama suami kamu, dia juga nggak nyium kamu waktu pergi tadi”.
“Nyium? Buat apa’an ... ah, udah deh, to the point aja, ngapain kesini?”.
“Nengok kamu, jelek-jelek gitu kan kamu partner aku, oh ya, ini oleh-oleh ...”, gadis cantik itu mengangsurkan sebuah tas bingkisan, Dior.
“Apaan nih?”.
“Buka aja ...”.
Aku merogoh isi kantongnya dan mengambil secarik gaun sutra berwarna krem, rasanya seperti menyentuh kulit ular, berenda dan begitu tipis. Erleen emang edan.
“Sampai mati pun aku nggak mau pakai gaun kayak gini, kamu kan tau aku berjilbab?”.
Erleen memandangku seolah aku makhluk planet.
“Ya pakai aja kalau lagi di depan suami kamu”, jawabnya enteng.
“What? Amit-amit ...”, aku melempar gaun itu ke sofa. Erleen memandangku heran,
“Loh? Kenapa? Kamu ada masalah sama suami kamu? Jangan bilang kamu masih virgin?”.
Sialan, aku lupa, biar kayak orang bego, si cantik ini detektif handal.
“Nggak kok, kita oke aja, tapi dia dari kalangan yang alim banget gitu deh, di dalam rumah aja aku musti pakai jilbab kalau ada tamu non muhrim”, jawabku asal, sebagian besar beneran sih, Eqbal agak keras soal pakaian, semua yang kupakai, bahkan baju tidurpun ada jilbabnya, meski modelnya cantik dan feminin. Aku paling benci dengan jilbab pink berhias gambar-gambar mawar lembut yang kemarin dia belikan, aku jadi mirip cewek lemah.
“Suami kamu itu cakep loh, nilainya di atas delapan, dengan kesibukan kita yang sering begadang malam, apa dia nggak curiga?”.
“Dia sudah tahu kerjaanku, sebelum nikah, dia sudah selidiki latar belakangku dulu”, jawabku sambil mencoba konsen menonton Doraemon, lagi-lagi Nobita minta alat aneh biar Shizuka suka padanya, aku pengen minta alat yang bisa membuat Erleen nggak betah ngerecokon aku supaya berdandan ala cewek.
“Jadi dia tahu kita federal?”.
“Aku ... dia tahu soal aku, tapi kamu dikiranya desainer beneran”.
“Aku memang desainer beneran, sebagian gaun di Emerald adalah hasil rancanganku”, kata Erleen sambil memandang kukunya yang di manicure. Aku nggak tahu kenapa team 12 diisi cewek kayak dia, tapi gayanya memang mengesankan sebagai escort dan dia pandai merayu.
“Kamu kesini cuman mo nganterin baju jelek ini?”.
“Nggak juga”, Erleen membuka tasnya dan memberiku sebutir apple merah.
“Dari mana?”.
“Zero ...”.
“Lho? Sejak kapan pimpinan kita diganti?”.
“Entahlah, ada kabar Delta seminggu ini ke luar negeri, liburan ...”.
“Liburan? Masa Delta liburan?”.
“Dia juga manusia biasa kan? Ah, aku belum pernah lihat wajahnya sih, tapi suaranya seksi ya? Seperti Brad Pitt ... yups, mungkin dia sedang di Atlanta bareng cewek-cewek seksi ...”.
Aku membayangkan sosok cool bermantel wool hitam, sepertinya dia tipe orang yang lebih suka berlibur di tempat sepi ... di sebuah vila di pegunungan atau tepi jurang. Delta yang misterius, aku merasa rindu pekerjaanku karena aku ingin bersama Delta, aku ingin tahu, seperti apa sih orang ini. Orang yang menyelamatkan nyawaku dan membawaku ke markas besar dengan ngebut memakai jaguar hitamnya, tanpa dia mungkin aku sudah mati kehabisan darah waktu itu.
Kuraba kulit permukaan apple dan kucungkil celah kecil, kuambil sebuah MMC kecil yang terbungkus rapi, kunyalakan laptop dan melihat perintah di dalamnya.
Karena aku mengalami luka di kaki, untuk dua bulan ke depan, pekerjaanku hanya dari rumah saja, mengartikan pesan-pesan terinskripsi dan melakukan hacking dari kantor, dilarang keras surfing internet dari rumah pribadi menggunakan identitas MR 21.
“Sialan, ini sih pemaksaan istirahat panjang, aku bakal mati bosan”, gerutuku.
Erleeen berdiri dan menepuk bahuku.
“Nikmati istirahatnya, semoga lekas sembuh ya say”, dia mencium kedua pipiku dengan anggun dan berjalan ala model, keluar ruangan, sejenak di luar kudengar dia bicara dengan Eqbal lalu pergi menggunakan porsche pink nya.
Eqbal masuk ruang home theatre dan melihatku terduduk lesu.
“Kenapa?”, tanya pria itu sambil duduk di sampingku dan melihat layar laptopku.
“Aku di non aktifkan dua bulan ...”, gerutuku.
“Ini apaan sih?”, Eqbal meraih sesuatu yang didudukinya.
Aku melotot saat dia memegang gaun seksi itu, dia malah membentangkannya sambil nyengir, tampang alimnya hilanglah sudah.
“Kamu pesan gaun ini sama temanmu itu ya? Wow, seleramu lumayan juga ...”, katanya kalem sambil memandangku.
Jika dia berani membayangkan aku memakai gaun itu, awas saja.
“Amit-amit pesen gaun kayak gitu, itu punya Erleen, pasti ketinggalan, taruh aja lagi di tas, dan jangan dibentangkan seperti itu ... mengerikan”.
“Kalau yang pakai Big Mommaya ngeri, kalau kamu, lucu juga, kamu kan kayak tiang listrik, kurus banget, hehe, jangan-jangan jadi mirip scarecrow...”.
Alhamdulillah ya Allah, pikiran suamiku masih lurus.
“Tapi boleh juga nih, ntar malem pakai ya?”, katanya sambil nyengir lebar.
Ya Allah, kutarik pemikiranku barusan. Ikhwan juga cowok biasa rupanya.
---
Beberapa minggu sesi terapi, akhirnya aku bisa berjalan juga, meski masih terpincang-pincang, satu setengah bulan berikutnya kakiku sudah lumayan normal, liburanku kuhabiskan di rumah sakit karena dua bulan adalah targetku untuk bisa berlari. Juga untuk menghindari Eqbal yang malang, padahal dia suami sempurna, tapi ku sia-siakan begitu saja, dia begitu sabar dan cool, menuruti semua kemauan dan memahami keadaanku, aku memang ingin dia bersikap sebagai teman, bukan suami, dan dia mampu beradaptasi. Aku merasa, keinginannya untuk benar-benar membina rumah tangga yang wajar selama ini hanya karena kasihan padaku saja, apa sih motif lelaki sekeren dia terus berada di dekatku kalau bukan karena kasihan? Apa yang bisa dia dapat dariku selain kerumitan dan masalah?
Liburanku tinggal satu minggu lagi dan aku sudah menguasai teknik menembakku lagi, kaki masih agak nyeri kalau menaiki tangga, tapi tak masalah, sebentar lagi aku bisa bertugas lagi. Erleen mendatangiku yang sedang treadmill di rumah, aku cukup puas dengan kekuatan otot perutku, nggak terlalu six pack, tapi lumayan keras, setelah hampir dua bulan mirip ubur-ubur karena hanya duduk di kursi saja.
“Pesan baru dari Zero, sayang ... Amber Cafe and Lounge...”, katanya cepat di dekat telingaku.
“Kayaknya kakap”, gumamku saat mempelajari profil target.
“Yup’s, pengusaha muda, ganteng, tapi kayaknya perusahaannya dari praktik cuci uang”.
“Kamu umpannya?”.
“Bukan, kita hanya pengawas ... CR yang beraksi ...”, gerutu Erleen.
“Ah? Si dokter cintamu itu?”.
“Yeah, target kita gay, dan coba tebak, cowok yang tampangnya paling manis, Ferrel, kemarin terluka karena jatuh dari tangga waktu berkelahi dengan ketua geng motor yang kami incar, terpaksa CR 12 yang menggantikannya, sialan, aku bakalan nggak ikhlas kalau ngeliat si bencong ini meraba-raba CR ku, ah, apa sebaiknya aku nggak ikut operasi ini? Rasanya ingin kutembak si banci ini kalau sampai menyentuh CR ku”.
“Apa CR mampu? Dia selama ini hanya di belakang layar, bagaimana kemampuan beladiri dan menggunakan senjata?”.
“Jangan kaget, CR kita yang manis dahulu masuk team aktif Alva, dia yang terbaik diantara agem Alva, bahkan kudengar dia satu angkatan dengan Delta”.
“Kok bisa? Umurnya kan beberapa tahun di bawah kita?”.
“Cuman dua tahun say, tapi dia kan jenius, umur 14 sudah tamat High school dan dia dokter termuda lulusan Westside University”.
“Kenapa dia keluar dari Alva?”.
“Dia menembak tunangan Delta, setelah itu dia bersumpah nggak mau membunuh lagi”.
“Apa? Kok ceritanya nggak masuk akal? Aku lihat waktu aku luka, Delta dan CR berbicara akrab, nggak ada kebencian sedikitpun dari nada suara Delta”.
“Benci kenapa?”.
“Karena CR membunuh pacar Delta?”.
“Ah, tunggu, dengar dulu ceritaku, gadis ini nggak mati, entahlah, ceritanya agak rumit, tapi gadis pandai ini benar-benar licin, dia berhasil masuk divisi kita, membodohi Delta sampai mereka bertunangan, dan saat misi terakhir di Leuvre untuk menggulung Greg White dan komplotannya, kasus tiga tahun lalu, kita masih anak bawang waktu itu”.
“Ya. Aku tahu sedikit ceritanya, misi itu hampir gagal”.
“Ternyata gadis ini berkhianat, dia menembak Delta, tepat di jantung, meski Delta memakai rompi pelindung, tembakan tiga kali di jarak dekat sempat merobek dadanya dan hampir membuatnya mati, dan di saat genting, CR menembak gadis itu, ... lalu memberikan pertolongan pertama pada Delta, untung Greg White tertangkap meski berkilo-kilo shabu diselamatkan anak buah Greg. Gadis sialan itu entah bagaimana, menghilang dari rumah sakit, entah dalam keadaan hidup atau sudah mati, kau bisa bayangkan keadaan Delta kan? CR merasa bersalah, karena CR yang menjodohkan Delta dengan gadis itu, sejak kejadian di Leuvre, CR memilih berhenti dari team Alva karena merasa gagal, tapi khusus kasus kali ini dia akan maju lagi, karena kemungkinan, kita akan bertemu gadis sialan ini lagi : Almyra. Lihat fotonya ... cantik bukan?”.
Gadis di foto memang sangat cantik dan terkesan polos, bagaimana bisa dia sejahat yang diceritakan Erleen, pantas Delta selalu memakai topeng dalam setiap tugas, mungkin karena profilnya sudah diketahui pihak musuh. Tubuh lelaki itu selalu terselubung warna hitam ...
---
Saat Delta menolongku, aku merasakan dia membawa tubuhku, membopongku sambil berlari, menuruni tangga yang curam, aku terkadang sadar, terkadang pingsan ... Delta terus berlari sampai ruang parkir bawah tanah dan memasukanku ke Jaguar hitamnya kemudian ngebut ...
---
“Naura ... kamu melamun?”, tanya Erleen.
“Nggak, hanya tegang saja melakukan tugas pertama setelah liburan panjang ...”.
“Ini kostum kamu buat besok ...”, Erleen memberikan aku tas besar dan berlalu...
---
Aku memandang diriku di depan cermin kamar, setelah membaca petunjuk di layar laptop, membubuhkan make up mengerikan ini, memakai gaun yang aneh ... aku merasa canggung, tak mungkin aku memakai gaun seksi ini, oke, meski pada akhirnya aku tertutup mantel beludru yang anggun, tapi ngapain aku musti pakai gaun ini di dalam? Ku patut diriku di depan cermin, beginilah rasanya jadi gadis nakal, asyik memandangi tubuh sendiri dan karena pakaian dalam khusus, aku baru tahu, tubuh seseorang bisa dibuat sedemikian seksi, mungkin kalau memakai ini, gadis belasan tahun bisa tampak memiliki tubuh ibu-ibu awal tiga puluhan.
Rambutku yang ikal coklat tergulung membentuk sanggul kecil anggun yang membuat leherku tampak tinggi, apalagi ditambah kalung opal berwarna biru, aku geli sendiri melihat aku bisa juga bertransformasi menjadi wanita dewasa.
Tiba-tiba telpon line satu berdering, ini dari kantor.
“Naura, apple dan kostum kita ketuker nih ...”, teriak Erleen.
Aku menepuk dahiku.
“Benarkah? Pantas aja aku merasa aneh”.
“Kamu sudah coba baju itu? Ah, aku pengen ke sana deh, pasti kamu cantik banget ...”.
Aku segera menutup telpon sambil mengomel pelan.
Kupandang sekali lagi dandananku, bener-bener mengerikan, seperti gadis Escort yang anggun, tapi nggak punya harga diri, karena terlalu banyak bagian yang terlihat ...
Saat pintu kamar menjeblak terbuka ... aku hanya bisa diam terpaku. Sial, setelah berbulan-bulan istirahat, kewaspadaanku berkurang, langkah kaki Eqbal tak terdengar dan saat ini dia memandangku dengan ekspresi aneh. Mengernyit dan dingin, serius, tanpa senyuman, pasti dandananku membuatnya shock.
“Aduh! Keluar Eq! Please ... “, aku berjalan ke arahnya dan bermaksud menutup pintu, tapi dia menahan dengan kakinya sambil berkelit, sialnya, saat dia masuk kamar, kakinya terpeleset gaunku dan saat jatuh dia mencengkeram gaunku dan malah merobeknya! Aku tak sempat menjerit saat tubuhnya menindihku.
Aku merasakan hembusan nafasnya di pipiku, tangannya ... sialan ...
Eqbal peralahan bangkit dan duduk di depanku, aku masih terlentang di lantai dalam keadaan berkunang-kunang, ingin sekali kupotong tangan kurangajar itu.
“Afwan, nggak sengaja ....”.
“Ngapain kau pakai masuk segala sih?”.
“Niatnya cuman becanda, habis, baru kali ini lihat gadis seksi ... istri sendiri pula, aku pikir tadi gadis escort yang nyasar ke kamarku, tumben dandan kayak gitu ... sudah siap jadi istri beneran ya?”.
“Sembarangan, ini gara-gara Erleen bego itu salah ngasih kostum”, aku berusaha duduk, tapi...
“Breeet”.
Bagus, hari ini kesialanku lengkap sudah. Gaun bertali tipis itu robek dan melorot sampai pinggang, aku hanya bisa pasrah menutup tubuhku memakai tangan sambil berusaha tenang, kalau aku berdiri pasti hasilnya lebih parah, Eqbal malah tersenyum menyebalkan.
“Bisa nggak pergi sekarang! Keluar dari kamarku...”.
“Kamar kita?”.
“Oke, keluar dari kamar ‘kita’ sekarang, please ...”.
“Nggak mau ...”, dia malah cengar-cengir di depanku.
Aku beringsut perlahan dan mendekati ranjang, kutarik selimut tebal di atas untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Lelaki di depanku sepertinya menikmati pemandangan itu dengan kalem, aku bersumpah suatu hari aku akan melakukan hal yang sama dengannya. Atau besok ku kunci dia di kamar mandi atau di lemari pakaian.
“Andai kamu bisa lihat bagaimana tampangmu sekarang”, Eqbal tersenyum geli.
“Nggak lucu tau!”, pipiku merah, wajahku panas, aku juga ngerasa itu, tapi tiba-tiba aku jadi cengeng, tunggu-tunggu... aku nggak mau nangis, apalagi di depan orang ini, tapi air mata mengalir begitu saja, apa ini pengaruh hormon?
Eqbal mendekatiku dan berkata dengan lembut, “Hei, aku ini kan suami kamu, ingat? Ijab qabul itu syah di mata agama dan negara, jadi, melihatmu telanjang pun syah saja, please, jangan merasa terhina, jangan menangis ... ini bukan dosa ...”.
Entah bagaimana kejadiannya, dia meraihku dalam pelukannya, kok bisa-bisanya aku pasrah gini sih? Belum sempat aku berfikir, wajah Eqbal sudah begitu dekat dengan wajahku.
“Jelek sekali kalau nangis gini ... sana cuci muka ....”, pria itu berdiri sambil tertawa-tawa. Dasar sinting! Rasanya pengen kutonjok dia. Aku cepat-cepat berdiri dan menuju kamar mandi, setelah menutup pintunya aku berteriak.
“Kalau aku sudah selesai mandi kamu masih di kamar, jangan harap kamu keluar dari kamar ini hidup-hidup ...”. tak ada jawaban, tapi aku mendengar langkah keluar dan pintu tertutup. Akhirnya aku bisa bernafas lega.
Saat aku keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, ternyata dia duduk di ranjang sambil tersenyum.
Aku menuju lemari pakaian dan mengambil revolver. “Aku nggak bercanda ...”, kataku sambil mengarahkan pistol padanya. Dia melangkah keluar sambil tertawa geli.
“Masih marah?”, godanya sambil mengerling.
Aku tergoda melempar kaleng sprite zeroku ke kepalanya yang akhir-akhir ini agak mesum. Ikhwan hah? Mana sopan-santunnya pada perempuan.
“Aku kan nggak sengaja, oke?”.
Tetap saja dia sengaja, kakinya yang panjang itu sengaja menjegal kakiku.
“Kalau tampangmu masih seperti ikan mas koki merajuk, sebaiknya ku foto saja, siapa tahu jadi objek fotografi paling bagus abad ini kalau dikirim ke internet.
“Kau mau membunuhku? Susah payah fotoku di bersihkan dari jaringan, supaya selalu terlindung, kau malah mau menyebarkannya? Bagus!”.
“Hei, aku hanya bercanda, just kidding ... kijoh ...”, lalu dia duduk di depanku sambil memasang senyuman sok gantengnya.
“Okelah, biar kau nggak marah, nih, impas, bahkan tadi kau masih pakai pakaian dalam kan? Aku bakalan telanjang, naked, puas?”.
Dia membuka bajunya, lalu celana panjangnya, aku sampai beristighfar dalam hati, jangan-jangan Eqbal kesurupan hantu mesum, padahal saat kami pindah, kami sudah melakukan selamatan untuk rumah ini.
Boxer inter milan warna biru, cool juga dalemannya ... lalu kaos dalam yang cool abis berwarna hitam pun segera dia lempar ke kursi sampingku.
“Cukup...cukup ... nggak usah pakai buka boxer segala, bisa pingsan aku nanti ...”, gerutuku, sambil sedikit mengagumi tubuhnya, pantas dia pede aja stripping di depanku, ototnya, otot perutnya bagus, malah aku sedikit iri dengannya, aku selalu berusaha pengen punya perut yang cool, tapi nggak pernah bisa karena selera makanku yang lumayan hancur. Dadanya bidang, tapi ... aku mengamati luka di dadanya.
“Itu kenapa? Seperti luka tembak ...”.
Eqbal melihat dadanya sambil tersenyum, entah dingin entah masam, sekilas kulihat warna matanya berubah, tapi di detik berikutnya dia terlihat ceria.
“Ceritanya mengerikan, mobilku pernah menabrak pohon dan sebagian kecil ranting menusuk, hampir ke jantungku, aku ... mati di ruang operasi selama tujuh menit, benar-benar tak bernafas, lumayan lama juga pulihnya setelah siuman, hampir enam bulan menjalani terapi jantung dan paru-paru, tapi sekarang aku lebih kuat dari dulu, mau uji coba?”, katanya sambil cengengesan. Nah, mencoba apanya? Kondisi tubuhnya?
“Boleh juga tuh, mau kutantang lari sprint?”.
“Jangan ah, kakimu kan baru sembuh, kita olahraga yang asyik-asyik aja ya...”.
Aku mengeryit mendengar kata ‘asyik-asyik’nya yang mencurigakan.
“Jangan berpikiran kotor dulu, maksudku main catur saja yuk ...”.
“Amit-amit”.
“Kau boleh saja merasa tangguh, tapi kapasitas otakmu tetap saja nggak ada separuh otakku”, katanya pede. Sialan benar orang ini.
“Game online aja, yang ada tembak-tembakannya ...”, usulku.
Dia langsung meraih kaset PS di almari dekatnya duduk.
“Soldier? Boleh juga ... ayo!”.
Kami berdua segera ambil posisi di sofa home theatre, memakai rompi getar dan asyik menarik pelatuk pistol, aku menyuruhnya langsung memakai rompi ... biar setrumnya langsung ke kulitnya, rasain kau!.
Kami bermain dengan kasar, brutal juga orang ini, tapi tembakannya bagus, dia lumayan fokus meski dengan mulut mendesis kesakitan tiap kali aliran listrik kecil dari rompi getar menyentuh kulit telanjangnya.
“Rasanya lebih enak kalau pakai rompi ini langsung menyentuh kulit Naura, kau mau?”.
Kutembakkan dengan gencar uziku ke arah lawan, Eqbal menjerit kegelian. Rasain!.
“Ntar malem aku minta izin keluar, ada tugas”, kataku.
Eqbal mendengus.
“Afwan, tapi sebagai suami, aku ngelarang kamu kelayapan pakai baju kayak tadi, apa’an tuh, sama suami nggak pernah berpenampilan gitu, keluar malah dandan seksi, sebagai suami, aku wajib melarang kamu keluar!”, katanya sambil bersandar pada kursi.
“Sudah kubilang, yang tadi salah kostum. Aku nanti pakai gaun muslim kok, pakai dobelan pula, supaya bisa bergerak bebas, boleh ya? kalau misi ini berhasil, gajinya lumayan, nanti kau kutraktir deh, plizzzz....”, rayuku.
“Kau kan baru sembuh, divisimu keterlaluan banget sih, kau di rumah sajalah, belajar masak, ngegoreng telur aja ancur terus, kapan bisa jadi istri yang baik?”.
“Ntar kau kubeliin makanan....”.
“Emang pulang jam berapa?”.
“Besok pagi sih, hehe....”.
“Yakin bisa pulang dengan selamat?, lagian kenapa sih masih nekat kerja gituan, haus darah banget ...”.
“Bukannya gitu, katanya misi ini agak berat, musuh bebuyutannya atasanku ...”, aku merogoh saku jeansku dan mengangsurkan foto pada Eqbal.
“Lihat gadis ini, cantik dan polos kan? Namanya Almyra ...”.
Eqbal memandangku sejenak, dahinya berkerut, dia mengambil foto dari tanganku dan mengamatinya.
“Brengsek ...”, teriaknya tiba-tiba, aku sampai kaget, sejak kapan dia memakai bahasa kasar seperti itu.
“Kau kenapa?”, tanyaku, heran.
Eqbal terlihat marah dan tatapan matanya ...
“Nggak kok, cuman ingat, aku ada kerjaan yang belum kuselesaikan, klienku menunggu jawaban proyekku ...”, dia membuang foto itu ke atas meja dan berlalu.
“Aku juga mungkin pulang larut.... “, katanya saat keluar kamar dan memakai jacket Adidas hitamnya.
“Kalau kau istri yang baik, sebaiknya batalkan saja kau ikut misi malam ini, di rumah saja, oke?”, katanya sambil memegang lenganku.
“Kenapa kau jadi sok ngatur gitu sih?”. Dia tak menjawab, hanya memandangku, tiba-tiba saja dia memelukku, singkat, tapi mengagetkan, kenapa dia aneh sekali?.
“Aku hanya nggak pengen ngeliat kamu berdarah-darah lagi, jaga dirimu, paling tidak, buat aku, em, aku pergi dulu, take care ...”, dia mengecup dahiku sekilas dan berlalu.
Aku masih tertegun bengong beberapa detik. Gila. Tadi dia ...
Tadi dia mencium keningku! Sialan! Sebelum aku sempat berteriak, kudengar suara jeep keluar dari garasi dan berlalu. Dasar Eqbal sinting!
---
“Don’t touch me, oke?”,aku memandang Faesal tajam.
Cowok tampan bertuxedo hitam itu mengerdikkan bahu.
“Noir, aku jadi penasaran, kok ada ya cowok yang mau nikah sama kamu, bisa-bisa dia terbunuh saat bercin...”.
“Shut up! Fokus pada target saja, ok?”.
“Orang bisa curiga dong kalau kita nggak dansa...”, Faesal mengulurkan tangannya, sebelum tangan itu mampir di bahuku, dari belakang lenganku ditarik seseorang.
Bertopeng, tinggi, misterius ... hatiku berdebar, oh Tuhanku, dia kan Delta, meski wajahnya tertutup topeng, aku kenal sosok ini.
“F 12 kau ke depan, awasi CR bersama Erleen, biar aku bersama Noir di sini”, suara serak misterius itu membuatku merinding.
Faesal mengerdik lalu meninggalkan kami.
“Last dance?”, Delta memakai kostum bajak laut yang cool, dengan topi ala kapten Jack, bahkan dia pakai rambut palsu seperti bajak laut sungguhan.
“Turun langsung ke lapangan? Apa karena ingin bertemu kekasih?”, aku tersenyum dan sekilas melirik Almyra yang tengah berbincang dengan lelaki Prancis, di meja tak terlalu jauh dari meja Almyra, kulihat Romanov dan CR. Gila, Caesar benar-benar tampan, ah, mungkin lebih bisa dibilang cantik dengan dandanan abad pertengahan seperti itu, gayanya yang lemah lembut membuatnya tampak menarik, untuk mengelabui Almyra, karena mereka pernah bertemu sebelumnya, CR mengecat rambut hitamnya menjadi pirang, benar-benar pirang, matanya juga berwarna biru, jenggot dan cambangnya dibabat habis, dan entah make up apa yang dipakainya, kulitnya tampak benar-benar putih, bahkan aku tak mengenali CR jika tadi Erleen tak berbisik padaku tentang posisinya.
“Sulit kupercaya, aku bisa cemburu sama pria, tapi kalau si Romanov banci itu sampai menciumnya, akan kuledakkan kepalanya ...”. Erleen ada di lantai atas mengawasi CR.
Aku memandang Delta, tapi pria itu tak bereaksi saat aku menyindirnya, dia malah memelukku dan mengajakku ke lantai dansa. Ada apa sih dengan para pria hari ini? Tadi siang Eqbal, sekarang Delta, aku merasa sangat kesal dengan keadaan sedekat ini dengan seorang pria.
“Jangan terlalu dekat boz, aku nggak biasa dipeluk-peluk ...”, aku berusaha menjaga jarak, tapi Delta malah mengacuhkan aku.
“Relaks, berdansalah, semakin kita tampak mesra, nggak bakalan ada yang curiga, di sisi kananmu, pria bertuxedo putih itu membawa senjata otomatis, targetmu dua orang pria di arah pukul sepuluh ...”, nafasnya terasa hangat menggelitik telingaku meski aku memakai jilbab. Dandananku seperti putri arabia, dan dia bagai bajak laut, sungguh pasangan aneh.
“ ... seorang wanita di dekat lukisan Monalisa palsu ...yang memakai gaun biru...”.
Dalam pelukannya, aku bagai tak berdaya, pria ini sungguh kuat, aku mengaguminya sejak dulu, dia memiliki kharisma yang mengesankan, pemikiran yang cepat dan akurat, hatiku berdetak kencang, perasaan apa ini? Seperti ada alarm yang menyala di otakku, tapi aku tak bisa mengartikannya, pria ini seperti seseorang yang kukenal, tapi siapa?
“ ... hitungan ke tiga...”, tangan Delta mengarahkanku ke pinggangnya yang tertutup mantel, tadinya aku hampir protes, tapi saat aku menyentuh pistol di pinggangnya aku mengerti.
“Pasti sulit menjangkau revolvermu, pakai ini dan bergeraklah dengan cepat, satu ... dua...”, dia membuat gerakan cepat dan melepaskanku.
Aku mencabut senjata dari pinggangnya dan menjatuhkan diri, kutembak dua lelaki di sebelah kananku dan seorang wanita yang ditunjuk Delta, aku tahu mereka memakai rompi, tapi tembakan itu pasti melukai rusuk mereka.
Suasana menjadi sangat kacau, kulihat CR meringkus pasangan gay-nya, Romanov, Marc dan Faesal menahan dua orang anak buah Romanov dan Erleen tampak mengejar seorang pria yang menjadi targetnya, Almyra dapat berkelit dari Johan, wanita itu menembak ke arah Johan beberapa kali lalu menyingkir menuju lift, sialan dia lolos. Aku segera berlari menuju lift mengejarnya. Terlambat, aku segera masuk ke lift satunya, tampaknya dia menuju atap gedung, mungkin ada heli di landasan atas untuk melarikan diri.
Aku berdiri di balik lift saat pintu membuka, benar saja, ada tembakan diarahkan begitu lift terbuka, saat tembakan berhenti, dengan cepat aku melompat keluar dan mengejar bayangan di depanku. Almyra lumayan cepat juga, tubuhnya ringan, dia sempat melancarkan tembakan ke arahku, tapi bisa kuelakkan, tiba-tiba beberapa pria menghadangku,
“Tangkap dia ...”, teriak Almyra. Aku berusaha bertahan dan melawan, seorang pria roboh saat aku menendang perutnya.
Sial, aku tak terbiasa memakai gaun, sangat merepotkan, dua pria di belakangku berusaha menjangkauku, segera aku bersalto dan menendang rahang mereka, meski kakiku berdenyut protes, aku tak mau tertangkap komplotan ini.
Almyra mengarahkan senjatanya tepat di kepalaku.
“Menyerahlah ...”, teriaknya, aku mundur dengan waspada, saat aku fokus padanya, pria di samping kiriku menancapkan sesuatu ke lenganku, kukira itu belati, aku terlambat berkelit, sempat menggores lenganku, tapi itu bukan belati.
“Bius dosis tinggi, sayang ...”, kata Almyra sambil tersenyum, aku merasakan tubuhku tiba-tiba melemas, sialan, wanita ini sangat licik.
“Kenapa nggak kau tembak saja aku?”, kataku semakin lemah.
“Aku ingin bermain dulu, denganmu ...”, Almyra berjongkok di dekatku yang ambruk seperti karung.
Wanita itu memandangku penuh benci. “Tahukah kau, aku mengorbankan banyak hal untuk sekenario ini?. Tapi selama kau mati di tanganku, aku puas, tapi sebelum mati, kau harus menderita dulu ... karena kau merebut hal yang paling kucintai ...”, Almyra mengelus wajahku dan mendongakkan daguku.
“Apa sih yang dia lihat dari kamu? Wanita seperti kamu?”,gumamnya. Mungkin wanita ini gila, aku tak mengerti apa yang dia katakan.
“Apa yang dilihat Eqbal darimu?. Berani benar dia menikah, melupakan aku begitu saja?”.
Aku tertegun. Eqbal? Dia menyebut nama Eqbal? Kenapa? Apa hubungan Almyra dan Eqbal? Kepalaku semakin berdenyut pusing.
“Ben, nikmati dia, di sini, saat ini, aku ingin melihat penderitaan di matanya ... rusak kehormatannya hingga dia tak bisa memandang Eqbal lagi ... jadikan dia sampah!”.
Tuhan! Apa yang akan dilakukan Almyra?. Lelaki di sampingku tertawa terbahak-bahak. Aku mencoba menggerakkan jariku, percuma, obat itu sudah mengaliri darahku.
Ben membuka jilbabku dengan paksa, rambut coklatku terurai jatuh, tidak, Tuhan, tolong aku, jangan biarkan lelaki ini menyentuhku, tiba-tiba aku memikirkan Eqbal, lelaki yang berhak, sangat berhak terhadapku, malah kuabaikan, sekarang aku merasa Tuhan memberiku balasan atas kesombonganku, jika lelaki ini berhasil merenggut kehormatanku, aku seperti tak ingin hidup lagi, baru kali ini aku terjebak dalam perasaan yang sangat menakutkan, seumur hidupku, belum pernah aku setakut ini.
Lelaki itu merobek leher gaunku dengan paksa, airmataku sudah tak tertahan.
Tiba-tiba aku merasakan cairan hangat di leher dan wajahku, Ben berteriak kesakitan, tangannya tertembak.
Sesosok tubuh meringsek ke depan dan menendang Ben.
“Menyerahlah ...”, Delta menembak tiga kali di kaki Ben, melumpuhkannya. Lalu dengan cepat mengarahkan senjatanya ke arah Almyra.
“Sanggupkah kau menembakku? Aku mengenalimu, sayang ...”, Almyra tersenyum sinis lalu memandang Delta. Saat itulah wanita itu dengan cepat mengambil senjataku yang ada di dekat kakinya dan menembak ke arah kepalaku, Delta meraihku dan melindungiku, lengan kirinya terluka. Pria itu berteriak tertahan saat sekali lagi peluru menghajar punggungya. Tapi Delta tetap bertahan dan mengcoverku.
“Apa sih yang kau sukai dari gadis itu? Sampai kau mengorbankan diri seperti itu?”, teriak Almyra.
“Cukup! Letakkan senjatamu dan menyerahlah”, teriak Delta, Almyra mengabaikannya dan terus menembak, Delta menghindar, juga menjauhkanku dari jangkauan tembakan Almyra.
Saat Almyra kehabisan peluru, Delta meringsek maju dan menembak wanita itu di kakinya, menendang pistol di tangan Almyra dan merobohkannya.
“Aku benar-benar membencimu ... aku akan selalu membencimu!”, teriak Almyra.
“Kau sudah menghancurkan hidupku ... padahal aku sempat menjadi malaikat saat bersamamu, tapi kenapa kau menghianatiku? Apa salahku? Kau harus mati! Kau haris mati, juga wanita sialan itu!”, Almyra berteriak-teriak histeris.
Dari pintu tangga darurat yang terbuka, kulihat Marc dan Johan menuju ke arah kami. Lalu beberapa orang dari divisi Alva mengepung kami.
Delta mendekatiku dan membopong tubuhku.
“Siapa kau?”, bisikku ...
Pria itu tak menjawab, wajahnya yang tertutup separo topeng, terlihat dingin dan kaku, dia memeluk terlalu erat. Bibirnya yang tak terlindung topeng, kini mengunci bibirku. Aku begitu kaget, tapi juga sangat lemah, ciuman pertamaku, dia mencium begitu lembut dan hangat, tapi hatiku terasa sakit, saat kulihat kilasan wajah suamiku ... aku merasa dunia direnggut dariku dan kegelapan melingkupiku.
---
“Aargh ...”, aku merasa denyutan menyakitkan di kepalaku.
Di mana ini? Interior ruangan yang tak kukenal.
Saat aku sadar, aku tak lagi memakai gaunku, hanya pakaian dalam saja, dengan lengan dibebat dan tubuh yang luarbiasa lemah.
“Sudah bangun?”, suara serak Delta, pria itu menghadap jendela sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Dia memakai kaus hitam pendek, lengannya yang terluka terbebat perban. Aku teringat ciuman tadi, aku merasa telah menghianati Eqbal. Tadinya aku mengagumi Delta, tapi perasaan itu menguap. Hilang sudah semua respekku padanya, aku benci pria ini, airmataku mengalir mengingat apa yang telah dia lakukan padaku.
“Kau menolongku, tapi juga menghancurkanku ... kau benar-benar bejat!”, teriakku.
“Apa maksudmu?”.
“Kau gila ya? Kau menciumku, sialan, itu ciuman pertamaku, kau nggak berhak melakukannya, hanya suamiku yang berhak, lalu kau menelanjangiku seperti ini, apa yang sudah kau lakukan?”, aku begitu kesal, airmataku tergenang dan mulai mengalir.
“Bukankah kau tak mencintai suamimu?”, suara Delta terdengar serak.
Cinta? Apa yang orang ini tahu? Dia tak berhak mengatakannya.
“Baik ada cinta atau tidak, kau tak berhak membuat jarak diantara kami, kau membuatku begitu kotor hingga tak berani bertemu dengannya lagi, aku sudah tak berharga ...”, isakku, aku sangat menyesal, setelah yang ku alami, aku harus pergi dari hidup Eqbal, saat itulah baru kusadari, betapa baiknya lelaki yang selalu menjagaku,menemani dan merawatku saat aku terluka kemarin. Dua bulan Eqbal mengantar dan menemaniku terapi di rumah sakit, menjadi kakiku, menjadi lenganku, menjadi sandaranku ...
“Jangan berlebihan, aku kan hanya menciummu, aku terpaksa membuka gaunmu agar bisa tahu apakah luka di lengan dan tubuhmu parah atau tidak ... “.
“Kau kan bisa bawa aku ke klinik! Nah, bisakah kau jelaskan kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kalau Eqbal tahu, dia pasti sangat marah, dia selalu menjagaku, melindungi kehormatanku, bahkan keluar tanpa jilbab saja aku tidak diperbolehkan, tapi hari ini kau merenggut apa yang menjadi hak Eqbal, dia takkan memaafkan aku...”.
Delta tertawa.
“Naura, kau terlalu berlebihan ... Eqbal pasti memaafkanmu karena dia mencintaimu, kau jangan khawatir ...”.
“Tahu apa kau soal perasaannya? Kau ini pria kurangajar, sekarang, kuminta kau keluar secepatnya dari sini ... tinggalkan aku ...!”.
Delta berbalik dan mendekatiku, dengan tenang duduk di samping ranjang dan membuka topeng yang dikenakannya.
“Eqbal sangaaaat mencintaimu, meski kau sudah bercinta denganku, dia takkan marah ... malah dia akan merasa bersyukur ....”, kata pria itu sambil tersenyum.
---
“Almyra dan aku memang bertunangan, tapi itu hanyalah kedok Divisi kami, ayahnya yang mengenalku sebagai sesama pengusaha tidak mencurigai pertunangan ini dan dengan mudah aku mengumpulkan bukti kalau perusahaan Sean Aiden, ayahnya, ternyata memang tempat mencuci uang panas, baik dari narkoba dan judi, saat pertemuan di Leuvre bersama rekannya Greg White, kami sudah merencanakan semua dengan matang, tapi ternyata Sean mengetahui siapa aku di detik terakhir.
Almyra menembakku tepat di dada karena dia begitu marah aku menghianatinya”.
Aku memandang pria itu tak percaya.
“Tapi, bukankah Caesar yang menjodohkanmu dengan Almyra?”.
“Tidak, aku yang merencanakan semuanya, Caesar masuk sebagai dokter yang menangani Almyra saat kami melakukan kecelakaan kecil terhadapnya, setelah akrab dengan CR, Almyra dikenalkan denganku, akan sangat mencolok jika aku tiba-tiba masuk ke kehidupannya, bukankah begitu?”.
“Dasar tukang tipu, pantas saja dia begitu marah terhadapmu”.
“Aku tahu, karenanya aku tak bisa menyalahkannya saat dia menembakku, aku menghancurkan kerajaan ayahnya, aku menghancurkan hidupnya, tapi waktu itu aku berencana menikah dengannya kalau dia merelakan penahanan ayahnya dan kehancuran bisnis kotor ayahnya, tapi dia malah mencoba membunuhku, aku merasakan kebenciannya dan saat sadar di rumah sakit, ada perasaan bersalah, tapi juga rasa sayang dan tanggungjawabku terhadapnya sirna sudah ... Almyra lebih memilih di jalan yang berlawanan denganku ...”.
Pria di sampingku menghela nafas panjang, “Tapi aku tak mengira, kejadian tadi malam hanya sekenario licik untuk menjebakmu dan membunuhmu, aku benar-benar tak menyangka, dia masih memiliki dendam yang begitu besar...maafkan aku Naura ... maaf”, dia meraih tanganku dan menciumnya.
Pria berwajah dingin dan misterius itu sekarang terlihat manusiawi. Aku bisa melihat Eqbal, Eqbalku dalam dirinya ...
“Jadi, selama ini dia mengawasi kita?”, tanyaku. “Almyra sepertinya mengenaliku”.
Eqbal mengangguk. “Yah, waktu kejadian di Leuvre, CR sempat menembaknya, kukira dia sudah mati dan utusan ayahnyalah yang membawa jenazahnya, tapi ternyata dia masih hidup, saat kita menikah, beberapa koran lokal memasang foto kita, mungkin dari sanalah dia mengetahui pernikahan kita, dendamnya muncul dan mulai mengincar kita ...”.
“Dendam yang berasal dari kekuatan cinta memang mengerikan ...”, gumamku, aku begidik ngeri mengingat tatapan Almyra saat menyuruh anak buahnya memerkosaku. “ ... sehingga dia menginginkan kehormatanku rusak, dengan begitu kau akan hancur juga ... “.
Eqbal, alias Delta memandangku tajam.
Lalu di bibirnya tersungging senyuman, “Tapi gara-gara kejadian itu, kau jadi tahu perasaanmu padaku yang sebenarnya, bukan? Akui saja kalau kau sebenarnya mencintaiku”, katanya sambil menyibakkan selimut yang menutup tubuhku.
“Jadi ... bagaimana kalau kau titipkan kehormatanmu padaku, sehingga siapapun tak bisa mengambilnya dariku?”, lelaki itu berbaring di sampingku dan mengelus lengan telanjangku.
“Dasar cowok sialan ...”, aku memandangnya dengan benci, dia telak mengerjai aku selama ini, “Sebenarnya siapa kau? Delta atau Eqbal?”.
“Terserah ... aku ikut saja kau jadikan Eqbal atau Delta ...”,jarinya menelusuri bibirku, “...tapi aku tersanjung juga, aku lelaki pertama yang berhasil mencium kamu eh? Dan juga yang kedua ...”, bisiknya “.....dan seterusnya....”.
Dia menciumku lagi, tapi kali ini aku tak berusaha memberontak, karena Delta adalah suamiku ...
Tangannya mengunci leherku dan dia membuat mataku berkunang-kunang dan tubuhku meleleh, dia terbuat dari api .. yang membakarku sampai lebur.
“Jangan curang ....”, bisikku serak saat dia melepaskan aku.”...lepaskan pakaianmu... tuan Delta, dan tolong taruh revolver di pinggangmu itu ke atas meja ... sebelum aku tergoda untuk membunuhmu ...”. Delta melepas kaos hitamnya, dengan kasar dia meraihku.
Kali ini, aku akan memberikan apa yang sudah menjadi haknya ... cintaku seutuhnya. Mungkin kesulitan tetap akan muncul setelah ini, cerita hidup tak selalu berjalan happy, pasti akan ada saat-saat berat di di depan sana, di jalan yang akan kami lewati nanti.
Mungkin cinta yang selama ini kukira akan melemahkanku bisa menjadi sumber kekuatan baru bagiku. Mungkin dengan memilikinya dalam kehidupanku, aku akan merasa takut untuk mati, tapi dia akan menjadi tujuan hidupku.
Ternyata menyerahkan diri nggak semenakutkan dugaanku, mungkin karena virus cinta sudah melumpuhkanku. Dulu, melihat otot lengannya saja aku sudah merinding. Tangan Eqbal mengunci lenganku dan dengan cepat menempatkan posisiku di bawahnya, kami berciuman lagi, kali ini semakin panas, aku nggak tahu kenapa aku juga bisa mengimbanginya seperti ini, aku menginginkannya, dan otakku sepertinya sudah jauh dari kata ‘waras’ dan ‘lurus’, semuanya tampak kacau balau, lelaki ini seperti sampanye, aku ingin mereguk lebih dalam, lebih dan lebih....
Tiba-tiba terdengar bunyi HP.
Delta mengangkat kepalanya, meraih HP di meja dekat ranjang dengan gusar.
“Ya? Delta satu di sini ...”.
“Ini CR, semua tersangka sudah diamankan, apa anda akan mengintrogasinya langsung, sekarang juga?”.
“Serahkan pada Alva, aku ada tugas penting yang nggak bisa ditunda lagi”, kata Delta. Sebelum CR menjawab, dimatikannya HP dan dilemparkan entah kemana.
“Tugas penting, ha?”, gerutuku.
“Yups ... aku kan sudah menunda kewajibanku ini hampir tiga bulan, nah, bisakah sekarang kau tutup mulutmu dan biarkan aku bekerja?”.
Dasar cowok!
----
“Naura ... wake up”, Eqbal berbisik di telingaku.
Aku mengerjapkan mata.
“Hampir pukul setengah lima, kesiangan nih ... keramas sana, setelah itu subuhan bareng!”.
“Hmmh, lima menit lagi ... aku capek banget ...”.
“Noir MR 21, ini Delta satu yang memerintah!”.
Aku membuka mataku dan memandangnya dengan kesal, “Curang kau! Menyalahgunakan jabatan dan wewenang ...”.
Lelaki itu hanya tertawa. Kami berpandangan penuh arti.
“Setelah pengabdian sebagai istri dan anak buah, bisa nggak kau naikkan gajiku?”.
Delta berdecak kesal mendengar permintaanku.
“Just kidding, kijoh ....”, kataku sambil tersenyum dan menarik selimut menutupi tubuh sambil menuju kamar mandi.
“Heiii, dingin neh!”.
“Afwan bos, tapi sebagai boz harus ngalah sama anak buah dong, hahaha...”.
----
“Jadi selama ini semua hanya bohong ... kau sudah tahu siapa aku dan mengawasiku sejak lama, yang aku tahu kau hanya pengusaha biasa, mantan hacker perusahaan TI ternama, tapi hanya itu yang aku tahu tentangmu, kau benar-benar tukang bohong ...”.
Aku masih mengomel panjang lebar saat kami sarapan pagi.
“Jadi selama ini kau pura-pura ke kantor padahal kau satu atap kantor denganku?”.
Eqbal nyengir, “Aku nggak perlu ke markas besar untuk bekerja, aku bisa mengendalikan semuanya dari kantorku sendiri ... dan jangan banyak tanya lagi, karena rahasia akan membuat seorang pria menjadi pria sejati ....”, katanya sambil meraih tasnya, bersiap pergi.
“Jadi, sebenarnya sejak kapan kau mengenalku, maksudku, apakah perjodohan kita juga sebenarnya kau yang ngatur?”.
“Itu sih, kebetulan saja, hanya butuh polesan sana-sini, ah, masa kau mau aku menjelaskan semua intrik yang kugunakan untuk mendekatimu, itu nggak fair ...”.
“Please Eq, aku kan penasaran ... apa yang membuat kamu naksir aku...”.
“Yang jelas bukan karena kamu cantik, kaya, pintar dan beriman, hehe”.
“Sialan, itu juga aku tahu ... please ... cerita dong”.
“Nanti aku terlambat ke kantor”.
“Aku ikut mobil kamu ... ngomong-ngomong Jaguar hitam itu juga punyamu kan? Argh! Jangan-jangan kamu juga punya rumah rahasia ... dan jangan-jangan...”.
“Aku nggak punya istri rahasia, titik!. Jaguar itu milik BIN, sudahlah, ayo berangkat!”.
---
Aku memandanginya penuh penasaran.
“Sejak kapan kamu suka sama aku?”, tanyaku.
Eqbal menepuk dahinya, “Hei, masih ngebahas itu juga?”.
“Ya, habis, kita kan lima tahun kerja bareng, aku masih nggak percaya kamu Delta satu, kukira Delta tuh sudah berumur empatpuluhan gitu, suara kalian juga beda, kok bisa sih?”.
“Aku belajar mengubah suara, bakat alam, aku juga bisa menirukan suara kamu kok”, dia membuktikannya dengan mengomel ala diriku, kurangasem!.
“Eqbal! To the point. Please!”.
“Oke! Aku sudah masuk semi agent sejak kelas satu SMU, sepuluh tahun yang lalu, mulanya ayahku keberatan, karena aku anak tunggal, tapi melihat kemampuanku, atasan kita yang aku nggak perlu sebutkan identitasnya, terus mendesak ayahku, setelah lama berfikir, ayahku mengizinkan aku bekerja di Divisi Alva, pagi sampai siang aku jadi anak SMU biasa, malamnya ikut sesi latihan yang lumayan berat, setelah lulus pelatihan, mulai kelas tiga aku sudah bisa melakukan tugas dan aku sering pindah sekolah untuk melakukan tugasku, semua lancar, sampai kejadian tiga tahun yang lalu saat aku tertembak Almyra dan hampir mati, ayahku memohon supaya aku tidak lagi bertugas di lapangan, kebetulan atasanku merombak Divisi menjadi 13 bagian dan memintaku mengatur dan menyusun semuanya. Saat itu karena luka tembak, aku terpaksa harus menggunakan kursi roda selama enam bulan, aku tidak lagi tugas lapangan, aku melatih dan merekrut banyak orang, termasuk kamu yang dari Divisi Qualified masuk ke Divisi 12. Saat melihat profil kamu, tadinya aku underestimate, ‘pasti nih cewek payah banget ...’, tapi setelah melihat kemampuanmu, kau bisa melampaui beberapa agen laki-laki. Mungkin gara-gara terlalu sering mengawasimu, melihat kecerobohanmu yang kadang malah membawa keberuntungan, kau benar-benar beruntung di kasus Grand Hotel, masih ingat?”.
Mobil yang kukendarai tergelincir dan langsung menabrak limosin target. Tapi sekalian saja aku melakukan serangan sehingga semuanya kacau, tapi juga bisa teratasi meski caranya cukup hancur, strategi Delta kukacaukan, tapi syukurlah tembak-menembak dan kejar-kejaran memakai sepatu hak tinggi itu bisa kumenangkan, aku masih kesal kalau ingat kejadian itu.
“Aku di skors tiga minggu, olehmu gara-gara kecerobohan itu...”.
“Yah, kau memang trouble makernya divisi 12, tapi semakin aku mengawasimu, kesal akan kecerobohanmu, terkadang harus turun ke lapangan untuk mengasuhmu, kau memang mengesalkan, tapi mungkin itu yang menjeratku...aku benar-benar jatuh cinta karena kau ini bego banget ....”, Eqbal tertawa entah mengingat kejadian yang mana, tapi baru kusadari, Delta beberapa kali menolongku.Tapi aku baru tahu ada orang jatuh cinta dengan kebegoan seseorang. Konyol banget.
Aku menghela nafas panjang.
“Nah, ada satu tugas besar lagi yang harus kuselesaikan, kematian ibu angkatku, bisakah kau menolongku?”.
“Sebenarnya aku juga sudah menyelidikinya, tapi mungkin kau akan shock mendengar kenyataan yang sebenarnya...”.
“Aku sudah siap dengan segala kemungkinan itu, aku tahu calon ibu tiriku yang melakukannya...”.
Eqbal menghentikan mobil di pinggir jalan dan memandangku,
“Naura, pelakunya bukan calon ibu tirimu, em, bahkan wanita itu sebenarnya sudah lama menjadi istri simpanan ayah angkatmu”.
“A...apa?”.
“Aku menyesal harus mengatakan ini, pembunuhan itu sebenarnya dilakukan oleh ayah angkatmu, bukti menuju ke sana, apa kau siap menuntut orang yang sudah membesarkanmu sejak kecil? Itu yang kupikirkan sejak menyelidiki kasus ini”.
Aku merasa seluruh sendiku lemas.
“Sebenarnya aku dan Vindra takut jika itu yang terjadi, kami pernah mendiskusikannya, tapi kami tak percaya... kami lebih percaya jika Sylvie yang merencanakan pembunuhan ini”.
“Naura, dokter yang menangani nyonya Indira adalah teman Fadli Hermawan, ayah angkatmu ... mereka bekerja sama, menyuntikkan obat yang membuat jantung Indira lemah, secara perlahan pembunuhan ini sudah direncanakan, nah, apa kau sudah siap memberitahu kakakmu, apa kau mampu menuntut Fadli? Maka Vindra akan kehilangan ayahnya juga, kasus ini rumit, kakakmu akan kehilangan kedua orang yang akan dia sayangi kalau kau terus maju, ibunya sudah meninggal, dan kenyataan bahwa ayahnya sendiri yang membunuh ibunya bisa menghancurkannya, tak mustahil pembunuhan terencana seperti ini diganjar hukuman mati...dia bisa kehilangan kedua orang tuanya, padahal, ayahmu sudah menikah dengan Sylvie, mengatasnamakan hartanya pada Sylvie, bukan pada Vindra, dan aku tahu artinya? Jika Fadli mati, Sylvie akan mendapat semua, mungkin juga termasuk harta ibumu, karena posisimu yang hanya anak angkat, sangat lemah. Kau hanya bisa mengawasi pengeluaran harta ibumu, tapi tak bisa mencegah Sylvie menggerogotinya...”.
“Bagaimana kalau kubunuh saja wanita jahat itu?”.
“Dia hanya orang sipil, bukan sindikat narkoba, ah, sudahlah, jika Vindra sudah kembali dari Aussie dan menyelesaikan kuliahnya, kamu katakan saja yang sebenarnya, tapi bundamu juga aneh, kenapa tidak langsung mengatas namakan harta itu untuk Vindra? Kenapa kamu yang ditunjuk untuk mengelolanya?”.
Aku mendesah, “Yah, saat bunda mengajakku ke notaris, dia menangis, dengan jujur dia meminta pertolonganku, karena, jika Vindra yang ditunjuk langsung sebagai pewaris, Vindra yang akan mati, Sylvie pasti akan menyingkirkannya. Ya, beliau sejak lama sudah curiga suaminya ada main dengan Sylvie, dia juga mungkin tahu kalau dia diracuni perlahan-lahan oleh ayah angkatku, tapi bunda tak pernah dan tak bisa mengatakannya karena terlalu mencintai Fadli. Karena aku agen pemerintah, bunda pikir posisiku kuat dan aku bisa menjaga diri, tapi beliau tetap merasa bersalah karena seolah-olah memanfaatkan aku demi keselamatan Vindra, tapi aku juga menyadari, ini harga yang harus kubayar, dan aku tak sanggup membalas kebaikan bunda yang sudah membesarkanku selama ini, karena adat jika anak kembar laki-laki dan perempuan tak boleh dibesarkan bersama, aku dan Neuva dipisah sejak lahir dan aku dibesarkan Bunda sementara Neuva tetap bersama mamaku. Saat Neuva meninggal, aku diminta pulang oleh mama, tapi aku menolak, karena sejak kecil, aku selalu berfikir aku adalah anak yang tak diinginkan lahir, itu salah satu hal yang kadang membuatku membenci mamaku sendiri, tapi semua sekarang sudah lebih baik...”.
“Ah, gimana kalau kau lepaskan posisimu sebagai pegawas, serahkan semua pada Vindra, dengan catatan jika Vindra meninggal, semua harta akan jatuh ke panti asuhan yang kalian tunjuk, tapi itu juga tetap akan membahayakan posisi Vindra, tapi tak ada jalan lain ... atau kalian lepaskan saja semuanya demi kedamaian hidup kalian...Cuma itu pilihannya”.
Saat aku menelepon Vindra malam harinya, kakak lelakiku tersayang menjawab dengan tegas,
“Naura, kita lepaskan saja beban itu, atas namakan harta itu padaku, setelahnya akan kuserahkan semuanya ke panti Kasih Ibu yang biasa dikunjungi bunda, aku tidak memerlukan harta itu, begitupun kamu, aku yakin suami kamu bisa memberikan kebutuhanmu. Semula yang kucemaskan adalah kamu, tapi setelah kamu nikah, aku nggak ada beban lagi, Eqbal yang mengambil alih tugas untuk menjagamu, aku sendiri sudah memiliki pekerjaan yang menantiku, setelah lulus, aku akan ke Kalimantan, dan alhamdulilah, aku akan menikah dengan teman S1ku dulu, gadis yang dulu pernah kuceritakan padamu, karena aku ingin membina keluarga yang aman dari ancaman, aku akan melepas harta itu ... dan Sylvie juga takkan mendapatkannya. Aku mungkin membenci ayah, tapi aku harus ikhlas, kaupun harus ikhlas dik, inilah yang disebut takdir, kita harus menerimanya”.
“Ya kak, tapi selama proses pengalihan harta itu, kakak sementara waktu harus berusaha berada di tempat aman, jika kakak mati saat pengalihan belum selesai, harta itu bisa jatuh ke tangan Sylvie”.
“Tenang sajalah, ada Allah yang menjagaku, dan apapun yang terjadi adalah kehendakNya. Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha sesuai kemampuan kita”.
“Ya sudah kalau begitu kak, akan kuturuti saranmu”.
“Terimakasih dik, salam buat Eqbal ... “.
Yah, tak semua dendam harus dibalas dengan dendam, terkadang kita harus membiarkan cerita mengalir apa adanya meski kita membenci jalan cerita itu. Eqbal memelukku erat saat aku menumpahkan airmataku dan berusaha mengikhlaskan kasus ini, aku tak sanggup menuntut pria yang telah membesarkan aku sejak kecil.
---
Beberapa bulan kemudian....setelah semua masalah memusingkan itu selesai, aku dan Vindra terbebas dari kemelut harta dan keluarga...
“Nah, satu hal lagi yang harus kau lepas Naura, bisakah kau ambil pensiun dini dan kau bisa jadi sekretarisku di kantor? Tinggalkan pekerjaan berbahaya di Divisi 12...”, bujuk Eqbal.
Aku tersenyum, “Baiklah, tapi aku melakukan semua itu bukan untukmu lho ... tapi untuk seseorang yang kucintai ... kita cintai ...”.
“Siapa?”, tanya Eqbal curiga.
“Seseorang yang dikirimkan Tuhan dari jauh ... “, kataku. Eqbal mengernyit.
Aku tersenyum dan merogoh tasku.
“Surat dari CR ... mau baca?”.
“Eh? Jangan bilang kau ada main dengan CR, ngapain dia kasih surat segala?”.
“Idih, belum-belum udah nuduh istri selingkuh, payah! Baca dulu suratnya...”.
Eqbal membaca surat itu, dahinya berkerut-kerut...
“Benarkah? Oh Tuhan...ini laporan dari CR yang paling bagus yang bisa dia buat...”, Eqbal memandangku dan memelukku.
“Aku bakalan punya teman futsal...main game, ngehack, wah aku nggak percaya aku sukses jadi laki-laki...”.
“Kau sudah ngomongin futsal? Apaan pakai ngeHack segala? Belum-belum kau sudah punya pemikiran aneh, gimana kalau anak kita perempuan?”, teriakku marah.
Eqbal mengabaikanku,”Terimakasih Tuhan ... ah, aku nggak percaya ... aku bakal jadi bapak ...”.
Aku melepaskan pelukannya.
“Masih butuh tujuh bulan dia lahir, butuh tujuh tahun baru bisa main futsal, kau ini gila!”.
Suamiku tersenyum, “Itulah hidup, Naura, kita rencanakan dan khayalkan ... tapi hidup pada intinya adalah menikmati kejadian setiap detiknya, nikmati dan nikmatilah ....”.
THE END
Senin, 22 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Ceritanya keren
BalasHapus