Kuhapus Hitamku ... untukmu....
tapi, terimalah masa laluku, apa adanya....
“Cinta itu fitrah, kenapa kamu takut jatuh cinta?”, Adam memandangku. “Siapa yang takut jatuh cinta? Aku hanya takut berbuat kesalahan saja, sudahlah, mungkin belum waktunya. Aku masih banyak pekerjaan nih, nanti sore juga kuliah, hei, besok jangan lupa ... ada pengajian jam tujuh malam di pondok, tolong bantu persiapannya ya”. Adam hanya mengerdikkan bahu. Aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan masygul, ada beberapa beban pikiran yang tak bisa kuhindari meski kucoba melenyapkannya. Kulihat sesosok tubuh tinggi langsing berjalan ke arahku, kucoba tak menghiraukannya. “Ardan, wait for a minute”, gadis itu menghadang langkahku. “Ya?”. “Mau pulang?”. Aku berfikir sejenak. “Nggak, ada keperluan di GSG, biasa, Halaqah, terus mau perbaiki website Halaqah online, kenapa?”. Gadis itu tersenyum. “Nggak, kirain bisa bareng, ya sudah, have a nice day”. “Thanks”.
Aku sebenarnya akan segera pulang, aku hanya tak ingin Shiva memboncengku, itu saja. Dulu, kami sering berangkat bersama karena kami mengajar di sekolah yang sama dan kebetulan dia satu desa denganku, tapi, setelah aku tahu dari Adam kalau Shiva menyukaiku, aku merasa jengah. Apa salah dan dosaku, ya Allah, kenapa beberapa kali aku selalu menyakiti orang di sekitarku?. Aku kembali menelusuri dosa masa laluku.
Annisa. Gadis pertama yang kusakiti. Kami saling menyayangi, sejak kelas dua SMU. Aku hampir menikah muda waktu itu sesuai cita-citaku. Tapi, kedua orang tuaku menentang keinginan kami. Aku terpaku di persimpangan jalan. Keinginan bunda untuk aku segera kuliah dan keinginanku sendiri. Aku sebenarnya tak bisa membenarkan pacaran, karena hubungan seperti itu akan merugikan Nisa. Kalau kami putus, dia akan menyandang predikat “Mantannya Ardan”. Waktu itu aku sudah menamatkan sekolahku dengan nilai tertinggi. Kupikir, aku mampu menjalani kehidupan rumah tangga meski aku hanya lulusan SMU, tapi ayah berkehendak lain. “Jadilah manusia yang berguna dulu, cari penghasilan barulah kamu menikah”. Aku meminta Nisa menungguku. “Aku akan cari pekerjaan dan melamarmu”. Tapi kedua orang tua Nisa telah menjodohkannya dengan orang lain yang sudah bekerja, Nisa dan aku tak punya kekuatan untuk menentang semuanya. Kami harus hidup di jalan masing-masing.
Nadia. Gadis itu rekan kerjaku di Blackside, sebuah toko komputer di tengah kota Yogyakarta. Dia gadis yang Smart dan mengerti keadaanku. Darinya aku belajar banyak hal mengenai Teknik Komputer dan Informatika, dia bahkan mengajariku sistem jaringan komputer sampai teknik Hacking. Kupikir, meski aku belum tamat kuliah, toh aku sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan lumayan, tapi saat kuutarakan keinginanku pada Bunda, beliau menolak keinginanku. Alasannya sederhana. “Gadis itu terlalu ... gimana ya Dan, Bunda ingin gadis yang sederhana saja, yang berjilbab gitu...”. hubungan pun berakhir begitu saja, karena suasana kerja yang tidak lagi nyaman, aku pindah kerja ke toko lain sambil menjadi gitaris band sebuah Cafe terkenal di Yogya dan Semarang. Aku merasa tak bisa lagi jatuh hati. Dan aku tenggelam dalam dunia gelapku. Aku selalu berada di tengah keramaian tapi hatiku merasakan kekosongan. Aku selalu berteriak dan bertanya apa arti hidup ini, kehidupan seperti apakah yang harus kujalani?. Bertahun-tahun aku akrab dengan duniaku. Aku sedikit membenci keluargaku dan menyepi dalam kegelapan. Aku hampir tak pernah pulang ke rumah, hingga suatu hari Yopi, sahabat baikku, vocalist bandku, ditemukan tak bernyawa di sebuah hotel dalam keadaan OD.
“Hidup ini singkat, pulanglah ... selesaikan studymu di kota kita saja, di sana sudah ada Universitas berbasis Qur’an, ayah ingin kamu belajar agama”, bisik ayah saat menengokku terakhir kali di Yogyakarta. Aku hanya terdiam. “Ayah mohon Dan, pulanglah...”. Aku membutuhkan waktu lama sebelum mengabulkan permintaan ayah.
Hanya dalam hitungan bulan, kehidupanku berubah drastis. Semula aku seorang Rock Boy, aku memakai kaos oblong dan jeans belel tiap harinya. Di kampusku yang baru, aku memakai baju koko dan kopiah. Kalau sekilas orang melihat, aku jadi mirip Ustadz. Sering pula ibu-ibu teman arisan bunda menyangka aku sudah jadi Ustadz, lagipula ayah menyarankan aku mondok di pesantren dekat kampus. Aku turuti keinginan ayahku. Aku selalu teringat Yopi, andai hidupku singkat, aku takkan menyia-nyiakan lagi hidupku. Harmoni hidupku kurasakan semakin teratur, aku menikmati rhytme yang mengalun damai.
Semester empat aku ditawari mengajar di sebuah SMK. Mula-mula aku menolak, karena aku merasa ilmuku masih rendah, tapi Bunda mendorongku. “Cobalah, kau jangan menyerah sebelum mencobanya, bukan?”. Bunda, ah, beliau adalah kompasku. Sejak kecil, beliau mengajariku banyak hal. Orang boleh bilang aku anak mami atau apalah, terserah. Tapi, Bundalah pelitaku. Waktu SD aku selalu rangking dua, saat pembagian raport aku selalu menangis, aku merasa tak kalah dari Tomo, sahabatku sekaligus rivalku. “Ardan anaknya terlalu pasif, pemalu, itu kekurangannya dibandingkan dengan Tomo”. Bunda mengelus kepalaku dan memandang mataku. “Nah, mulai besok, Ardan harus aktif, kalau bu guru tanya, kamu acungkan jari, kalau ada pemilihan ketua kelas, kamu harus jadi ketua, nggak usah cengeng, Ardan harus jadi pemberani”.
Keberanianku semakin menjadi saat aku SMP, lalu di SMU aku bahkan terkenal sebagai cowok paling keren dan cool. Bassistnya D’Garde!. Siapa sih yang nggak kenal Ardansyach Farazzi?. Seperti itulah hidup membentukku, dari seekor ulat tak menarik, bermetamorphosis menjadi kupu-kupu yang menawan. Aku sendiri heran akan perubahan tampilan wajahku, waktu SMP aku agak gemuk dan hitam. Sejak tinggal di Yogya, mungkin karena pola makan yang hanya pagi dan sore, tubuhku menjadi langsing, belum lagi kebiasaan olahraga setiap pagi di UGM, membuatku semakin fit dan segar. Kulitku pun agak putih sekarang.
Dari cowok cafe, jadi ustadz? Hmm, aku sendiri tak percaya, tiap Senin sampai Rabu sore aku sudah dipercaya mengajar mengaji anak-anak TPA. Tiga kali seminggu aku mengajar komputer di salah satu SMA Swasta di kotaku, sore hari kuliah seperti biasa. Setiap malam aku bekerja menjadi asisten drafter di salah satu perusahaan kontraktor. Capek memang, tapi aku merasa hidupku semakin terisi, aku semakin menghayati ayat-ayat di surat Al Ashr.
Aku hidup di pondok tiga kali seminggu. Menginap di sana sekaligus membawahi Al-Qud’s, sebagai ketua pondokan santri putra yang mengatur 100 orang santri. Ada dua belas kelompok di sini, keseluruhan santri putra mencapai 1200 orang. Banyak sekali nasehat, kata-kata indah dan mutiara kehidupan kutemukan di pondok, hidupku menjadi lebih damai, aku semakin menangis dalam keheningan malamku, mensyukuri langkah baruku, bersyukur, dahulu aku tidak tersesat terlalu jauh. Meski kuakui, pernah berada di daerah hitam, membuatku berani mengambil jalan menuju tempat terang, aku penasaran pada cahaya, seberapa terangkah cahaya itu dapat membasuh tubuhku, dosa-dosaku dan masa laluku yang gelap?. Hari-hariku berjalan begitu damai hingga suatu hari Kyai Haji Muhammad Akbar, pemilik pondok, memanggilku menghadapnya.
“Hampir satu tahun kamu berada di Al-Fatah, bagaimana menurutmu pengaruh pondok ini terhadap kehidupanmu?”, tanya beliau. Aku tak berani memandang mata beliau yang berwibawa. “Hidup saya menjadi lebih tenang pak Kyai”. “Jangan panggil aku pak Kyai, panggil saja abah, aku sudah rindu ingin memiliki seorang anak laki-laki”. “Baik Pak...eh...abah”. Aku merasa sedikit tegang. Beliau memandangku seraya tersenyum. “Kuperhatikan, kamu memiliki semangat juang yang tinggi, hafalan kamu maju pesat, dalam waktu singkat sudah hafal beberapa juz, kamu juga orang yang tegas dan tangguh, juga bertanggung jawab, anak yang menakjubkanku”. Dudukku semakin tidak tenang. “Aku ingin menjodohkanmu dengan Layla, putriku, bagaimana menurutmu?”.
Dalam benakku, terbayang seraut wajah bidadari, putih, bersih, cantik. Pandangan matanya sayu, membuat pria manapun menjadi rindu. Aku pernah berjumpa dengan Layla Syabilla beberapa kali. “Afwan jiddan, abah, saya... merasa tidak pantas, masa lalu saya begitu gelap, saya rasa Layla juga takkan suka dijodohkan dengan saya”. Pak Kyai tersenyum. “Putriku justru yang mendesakku mengatakan padamu, dia jatuh hati padamu sejak lama, jangan kecewakan hatinya”. Tiba-tiba terbayang wajah bijak bunda. “Afwan, tapi, bolehkah saya mengajak Layla menemui orang tua saya, karena merekalah yang lebih berhak memutuskan semua ini”. “Bawalah Layla menemui orangtuamu”.
Ayahku begitu gembira. Beliau menepuk pundakku. “Ayah bangga, kamu bisa berubah Dan, menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan pak Kyai Akbar menghendaki engkau jadi menantunya, apa kau sudah siap?”. Aku siap menikah sejak umur enambelas tahun, tapi dahulu bunda menentangku, sekarang umurku menginjak dua puluh dua, aku takkan menolak perjodohan ini.
Bunda hanya terdiam. Saat kukenalkan Layla padanya, beliau hanya tersenyum samar. Setelah aku mengantarkan Layla pulang, bunda menelponku dan menyuruhku pulang, kami kembali bicara panjang lebar. Pada intinya bunda lagi-lagi tak setuju. “Apa kamu sanggup menjadi menantu Pak Kyai Akbar? Kelak kamu yang akan memimpin pesantren karena Layla putri beliau satu-satunya, sementara kakak lelaki gadis itu sudah menikah dan mengurus pesantren di Jawa Timur. Bunda senang kamu lebih mencintai agamamu, tapi bunda sangsi kamu bisa menjalani kehidupan pondok selamanya, cita-citamu harus kau kaji kembali, apakah kau akan meneruskan kuliah Teknikmu atau bagaimana? Semua terserah kamu, hanya kamu yang tahu apa yang kamu inginkan”.
Layla kemudian menjadi salah satu kepingan mozaik masa lalu. Aku mendapat surat darinya, betapa menderitanya dia karena penolakanku dan sebagainya. Aku sudah menyakiti tiga wanita. Entah kenapa, itu serasa kurang saja. Ketika pulang, Bunda menjodohkanku dengan Asih, anak seorang temannya. Gadis itu lumayan cantik dan patuh. Bunda menyukainya, dia pun mengakui kalau dia jatuh hati padaku, kali ini masalahnya, aku tak bisa menyukainya. Ah, hidup sungguh menyebalkan waktu itu. Aku harus mengarang seribu satu alasan untuk menjauh dari Asih. Dia menangis, bahkan tak mau makan gara-gara aku. Lagi-lagi aku yang disalahkan. Tapi, aku menginginkan pendampingku adalah gadis yang smart dan energik, bukan tipe pasrah dan patuh seperti putri solo, sangat monoton dan membosankan, dia tak akan tahan dengan rhytme hidupku yang begitu tajam. Aku sungguh meminta maaf pada bunda karena hal itu. Bunda pada akhirnya memahamiku. “Dalam berumah tangga harus ada cinta, bunda, walau sedikit ... aku tak bisa mencintai gadis itu...”.
Setelah itu, aku tenggelam dalam kesunyian dan kesendirianku yang panjang, tapi aku menikmatinya. Rhytme hidupku semakin menanjak, kuliahku mendekati semester akhir, aku bekerja di dua SMA, jabatanku di perusahaan kontraktorpun meningkat sehingga aku sangat sibuk, tapi tak mengurangi kegiatanku di pondok. Abah Akbar sungguh berhati besar, meski aku gagal menjadi menantu beliau, abah tetap ramah dan menyayangiku.
Banyak gadis menyatakan cinta, banyak gadis menggoda. Sesama rekan guru, teman mahasiswa, bahkan muridku! Aku sendiri heran, bagaimana mungkin murid-muridku di SMA secara terus terang mengirimkan berbagai surat cinta, kado, coklat yang diletakkan di lockerku!. Di sini setiap guru memiliki locker untuk murid yang akan menumpuk tugas tapi terlambat, tapi lockerku beralih fungsi menjadi tempat penampungan curahan hati. Aku merasa hampa, hatiku sudah terlalu beku. Cinta? Apa itu Cinta?. Cinta yang abadi dan sejati hanya untuk Allah, hanya milik Allah.
Kupandang wajahku di cermin. Biasa saja. Tidak setampan Ariel Peterpan, tapi malah agak mirip Giring Nidji. Kupakai kacamataku, penglihatanku sangat payah sejak menjadi drafter. Aku jadi merasa mirip dengan Bill Gates. Aku merasa tua dan tak menarik, usiaku 23 tahun sekarang.
---
“Dapat salam dari Shiva”, gurau Adam. “Guru Akuntansi itu lho...”. aku tersenyum. “Wa’alaikum salam, kok aku nggak dapat salam dari guru Matematika ya?”, sindirku pada Adam, dia guru matematika. “Salam dariku juga deh ...”, seru Adam sambil nyengir, dia tahu, aku tak terlalu suka digoda seperti itu. “Dari bu Ely juga .... wah, pak Ardan laku juga nih”, teriak Usep, penjaga sekolah. Aku nyengir kesal. “Sudah, lama-lama satu sekolah kalian sebutin semua”, gerutuku. “Bu Lina, guru tataboga, jangan lupa... kayaknya dia naksir pak Ardan juga lho”, Bu Mirna menimpali, wajahku terasa panas.
“Nanti ada calon guru yang akan magang di sini lho, pak Indra sedang rapat, jadi, Pak Ardan yang menemui mereka”, Bu Mirna mengangsurkan Memo dari Kepala Sekolah. Aku menerimanya setengah hati. “Baiklah, untung nanti saya tidak ada jam setelah istirahat pertama, calon gurunya dari mana sih?”. “Titipan dari kampus bapak kok, siapa tahu pak Ardan kenal”, bu Mirna merapikan jilbabnya lalu beranjak. “Saya mengajar dulu ya, pak?”. Aku mengangguk. Adam tersenyum memandangku. “Kenapa?”, tanyaku. “Kadang aku ingin berdoa, agar jangan para gadis saja yang jatuh hati padamu, suatu saat, kau yang jatuh cinta, kau yang blingsatan ... “. Aku berdecak. “Kau kira aku belum pernah suka sama seseorang? Rasanya juga sakit tahu... waktu aku tidak direstui menikah...oleh Bunda”. Adam menepuk bahuku. “Itu bukan cinta namanya Dan, itu hanya ‘suka’, kalau cinta, kau tak hanya menentang Bunda, tapi juga Dunia untuk mendapatkan cinta itu”. “Ah, nggak terpikir Dam, bukankah surga terletak di bawah kaki ibu? Menentang bunda hanya akan membawa petaka”. Adam menghela nafas panjang. “Dan, bundamu juga manusia, terkadang, kau harus bertanya pada hatimu, apa yang sebenarnya kau inginkan .... ingat. Allah mewajibkan kita untuk berusaha, mengusahakan sesuatu ... tak hanya berdoa saja, kadang, kau harus perjuangkan keinginanmu, oke?”. Aku hanya mengangguk saja.
Pukul sepuluh pagi.
Para calon guru yang magang di sekolahku berdatangan. Ada empat orang. Kulihat seorang pemuda yang mengendarai Tiger keluaran terbaru berwarna hitam, dengan sembrono memutar balik kendaraannya. Dasar bocah! Mau pamer kemampuan rupanya! Berandalan seperti itu mau jadi guru?.
Tiga orang pemuda dan seorang gadis manis berjilbab. Aku mengernyit, bukankah seharusnya dua orang laki-laki dan dua orang perempuan?. Pemuda yang mengendarai Tiger itu membuka helm besarnya. Ternyata dia anak perempuan! Di balik helm dan jacketnya ternyata dia memakai jilbab. Dia memandangku tanpa basa-basi. “Maaf mas, bisa bertemu Bapak Ardansyach Farazzi? Wakasek SMA 2 Al Azhar?”. Aku memandangnya. “Saya sendiri orangnya, silahkan masuk ...”. Gadis itu hanya tersenyum dan melempar pandangan jahil pada ketiga temannya. “Afwan, gue nggak tahu, kalau waka-nya ternyata masih mas-mas, gue bayanginnya udah bangkotan sih, hehe...”. Dia tak sadar, aku mendengar bisikannya yang lumayan keras. Aku duduk di ruang tamu dan kupersilahkan para tamuku duduk. “Ada keperluan apa?”. “Kami yang akan magang di sini, ini surat tugasnya”, kata seorang pemuda berwajah halus sambil tersenyum santun memandangku. “Saya Harits Maulana, ketua dari kelompok kami ini, sebelah saya Faiz Nur Rahman”, dia mengenalkan pemuda jangkung kurus yang wajahnya mengingatkan aku pada Amrozi. “Alisya Faqih”, gadis mungil berjilbab lebar di sebelahnya tersenyum santun dan terakhir, gadis berandalan itu. “Farah Rifqan”, dia menangkupkan tangannya dengan santun, tapi wajahnya yang tampan menyimpan kejahilan. “Kami diutus Bapak Faqih Ramdhani untuk magang di SMA 2 Al Azhar selama tiga minggu sebagai bekal untuk mengajar di SMA Islam. Semoga pihak dari SMA 2 berkenan menerima kedatangan kami untuk menimba ilmu dengan rekan guru di sini, kami semua fresh graduate, jadi, mohon kerjasamanya”. Aku tersenyum, mereka sudah lulus, aku saja belum lulus, masih semester tujuh. “Kami menerima kehadiran saudara sekalian, akan kami usahakan semoga dalam waktu yang singkat anda mendapatkan ilmu secara maksimal dari rekan guru di SMA 2 Al Azhar. Baiklah, pertama-tama saya akan tanyakan spesifikasi anda sekalian sehingga saya dapat menepatkan saudara di posisi yang tepat. Silahkan anda terangkan, saudara Harits”.
Harits mengangguk lalu menerangkan. “Saya dari jurusan matematika. Faiz Teknik Mekanik Otomotif, Alisya dari Akuntansi dan Farah Teknik Informatika, kami berharap dapat menimba ilmu dari rekan yang pendidikannya sama dengan kami pak, mohon kerjasamanya”. Aku meminta surat tugas mereka dan segera mengatur penempatan keempat orang itu. Kupanggil setiap orang yang terkait dengan pelatihan ini. “Pak Harits akan dipandu Pak Adam, beliau guru matematika di sini, Pak Faiz dengan Bu Andrea, jangan salah, ahli mesin kami adalah seorang wanita, tapi beliau tidak kalah hebat dengan guru lelaki, Bu Alisya dengan Bu Shiva dan anda ... bu ... Farah, dengan saya, saya pengajar TIK di sini”. Farah memandangku tajam, dia lupa menerapkan ghadhdhul bashar rupanya. “Baik pak ... “, jawab gadis itu pelan. “Oh ya, ada satu peraturan yang harus dipatuhi, bu Farah, tidak boleh memakai celana waktu mengajar. Guru putri harus memakai rok panjang dan wajib berjilbab. Saya harap besok anda menerapkan aturan itu”. Farah tertegun lalu bertanya pada Faiz. “Terus gimana pakai motornya kalau disuruh pakai rok gitu?”, Faiz tertawa. “Gampang, sampai sekolah kau ganti celana dengan rok, jadi, kau bawa bekal rok aja Far, ya nggak pak?”. Aku mengerdikkan bahu. “Sebaiknya sih dari rumah pakai rok, terus ke sininya pakai motor cewek saja, Tiger terlalu macho, itu motor kakak anda?”. Farah menggeleng. “Bukan kok, itu punya saya. Wah, kayaknya lebih oke usulnya Faiz deh, sampai di sekolah, saya ganti rok, oke bos?”, tanya Farah padaku. Aku berdecak. “Terserah anda sajalah...”. Farah nyengir. “Makasih Bos!”. “Panggil saya Pak Ardan”. “Ya Pak ... galak banget sih, padahal kita kan seumur, kamu eh, anda kelahiran tahun berapa sih?”. “Delapan lima”. “Sama dong, bulannya apa?”. “Desember, tanggal 21”. Farah terbelalak. “Tua saya dong, saya 20 Desember...”. “Tapi di lingkungan kerja, saya harus panggil anda Bu, dan anda wajib panggil saya Pak!”.
Dalam waktu singkat, Farah sangat Populer di Al-Azhar. “Guru gaul”, julukan itu diberikan anak-anak padanya. Sifatnya yang supel dan lucu membuat kelas terasa lebih hidup. Pembelajarannya yang menarik dan dilengkapi gambar-gambar presentasi unik membuat akan-anak lebih memperhatikan penjelasannya. Aku mengakui kehebatan strateginya menggunakan Electronic Learning.
“Pak Danny... “, aku menoleh memandang ke arah gadis yang tersenyum manis padaku itu dengan jengkel. “Nama saya Ardan, bukan Danny”. Dia malah tersenyum makin lebar. “SD Nusantara 1?”, tanya Farah. Aku mengernyit tak mengerti. “Dulu anda sekolah di Nusantara 1 kan?. Kelas A, saya kelas D. Kalau nggak salah dulu di SD anda dipanggilnya Danny, bukan Ardan, makanya saya nggak kenal. Kemarin nggak sengaja saya ketemu Radit, teman SD dulu, terus ngobrol kalau saya magang di Al-Azhar 2, eh, Radit tanya “Berarti kamu ketemu Danny? Ardansyach? Dia juga kerja di sana, jadi guru ...”, ternyata yang dia maksud itu anda...”. aku tersenyum. “Yup’s, aku juga pernah mikir, di mana ya ketemu sama kamu Bu Farah, ternyata kita dulu satu SD, cuman nggak sekelas ya, gimana kabarnya Radit?”. “Baik, katanya besok Desember sehabis Idul Adha, ada reunian, pak Danny bisa ikut nggak?”. Aku melihat scheduleku di E-book. ”Tanggal berapa bu?”. “Duabelas”. “Wah, saya nggak bisa, ada acara lain, sampaikan permintaan maaf saya pada Radit, mungkin lain kali bisa kumpul lagi”. Farah terlihat kecewa. “Sampai besok, bu”, aku mengangguk ke arahnya dan menuju parkiran sekolah. Aku merasa sebuah pandangan mengawasiku tajam. Aku larikan motorku secepatnya. Hariku begitu sibuk.
---
Keesokan harinya aku berangkat lebih awal. Ternyata Farah sudah di kantor. “Mengajar jam pertama, bu?”, gadis itu mengangguk. Aku membuka laptopku seraya mengetik RAB yang belum selesai. Farah mendekatiku. “Basic anda komputer kan Pak? Saya dengar anda kerja di konsultan-kontraktor? Kok bisa sih pak?”. Aku tertawa. “Kok tahu?”. Farah nyengir. “Banyak yang bilang, anda workaholic, guru-guru di sini, terutama yang putri, sering membicarakan bapak”. “Oh”. Farah kembali ke mejanya. Sepertinya dia hendak mengulangi pertanyaannya tapi tak jadi. “Saya sudah tamat kuliah di Teknik Sipil, bu, semester enam di TS saya nyambi kuliah lagi di TI, sekarang saya mengejar kuliah saya di Informatika, semester akhir. Saya waktu SMP dan SMU ikut kelas asklerasi, jadinya sekolah saya cepat selesai”. “Wah, jadi bapak tidak bisa menikmati masa muda dong, yang lain bersenang-senang, bapak belajar mulu”. “Nggak juga, saya sempat mencicipi jadi anak band, hura-hura seperti anak muda lain, yah, nggak banyak beda dari mereka”. Farah memandangku lalu memalingkan muka. Mungkin dia heran. Atau ...?. “Bapak keren deh, nggak salah kalau banyak wanita yang naksir bapak, sayangnya bapak terlalu muda, makanya mereka minder”. “Muda kan relatif bu, banyak anak muda yang pemikirannya dewasa, lelaki dan perempuan kan lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam saja menikah sama wanita yang umurnya jauh lebih tua”, aku sendiri tak mengerti mengapa kata-kata seperti itu muncul dari bibirku. O ow! Watch out Ardan!. It could be dangers! Aku tak boleh membuka hatiku. Aku tak boleh menyakiti orang lagi, pamali!
“Kapan pak Ardan nikah?”, tanya Farah tiba-tiba. “Kalau boleh dan Allah mengizinkan, mungkin setelah kuliah saya selesai”. Biarlah dia berfikir aku sudah punya calon. “Tapi ... kalau rizki saya sebelum kuliah selesai malah akad duluan ya itu takdir”. Aku kembali meneruskan pekerjaanku. Farah termangu sejenak lalu Faiz dan Alisya datang memasuki ruangan.
Sudah satu minggu kelompok Farah dan kawannya magang di tempatku. Aku tahu, Farah semakin penasaran tentangku. Terkadang kudapati dia memandangku dan kelihatan berfikir. Sering dia terlihat ingin bicara sesuatu tapi tak tersampaikan. Penampilannya semakin hari semakin baik, jilbabnya lebar, bukan Ukhwit lagi, tapi sudah akhwat sekarang ... dia banyak bertanya soal agama padaku.
“Pengajian di sini yang bagus di mana, pak?”. “Di Al-Aqsa, pembicaranya biasanya ustadz dari Pondok Al-Fatah, kajiannya bagus-bagus, kadang malah dakwahnya pakai power point lho, E-Learning juga, Farah tertarik?”. Gadis itu mengangguk. “Tiap hari apa aja pak?”. “Wah, saya nggak hafal, nanti saya tanya sahabat saya, dia takmir di sana, kalau ada pengajian saya hubungi Bu Farah. Tumben bu, mau ikut pengajian, kenapa?”. “Yah, pengen aja dapat hidayah, terus memperbaiki diri, saya ini merasa saya sudah menjalani hidup dengan sia-sia, kajian saya saja nggak lancar pak, dulu terlalu ngejar duniawi sih. Sekarang saya berharap bisa jadi orang baik, jadi kelak dapat jodoh orang yang baik pula”. “Amin!”, aku memandangnya sejenak. “Boleh saya bertanya sesuatu, bu?”. Dia terlihat gugup. Wah, ada apa ini? Apa mungkin dia menyukai ... aku? Segera kutepis perasaan itu. Dia nggak boleh menyukaiku, aku sudah terlalu banyak menyakiti orang. “Dulu bu Farah ikut Jama’ah gitu nggak?”. Farah mengernyit, lalu menggeleng. “Oh, kalau pernah ikut kajian dan sudah memilih suatu aliran kan lebih gampang. Atau anda orang yang universal?”. “Islam saya universal pak, apa yang baik saya ambil yang buruk saya tinggalkan”. “Wah, prinsip anda kayak maling sandal di masjid”. Dia terhenyak memandangku. “Bercanda!”, sahutku. Setelah dia bisa membaca maksud ucapanku, dia tertawa. “Pak Ardan bisa lucu juga ya?”. Aku tak menjawab dan berjalan masuk ruang kerjaku. Aku sadar, aku mulai menyukai gadis ini, dia istimewa, masih pure, gampang diarahkan dan dibentuk meski ada sedikit sifatnya yang keras. Aku segera beristighfar. Kututup pintu hatiku dari virus merah jambu itu. Empat kali pengalaman dalam cinta, sudah bisa membuatku mengendalikan perasaan hatiku, anehnya, aku bisa membatasi diri dengan mudah sekarang, perasaan yang semula meluap, kini terkendalikan dan aku mengosongkan hatiku. Benar-benar kosong.
Farah SMS. “Gimana kabar bapak hari ini? Oh ya pak, buku yang bagus menurut bapak, apa, boleh dong kasih tahu referensinya?”. Kujawab singkat. “Gue Never Die. Salim A Fillah. Pro U Media”. Dia SMS lagi. “Bapak punya buku apa saja? Saya boleh pinjam?”. Tak-tik kuda Troya?. Virus Trojan Hourse. Astaghfirullah. Aku mulai Suuzhzhan. Aku tak menjawab SMSnya. Mungkin lebih baik begitu.
Aku tahu perlahan dia mulai menyukaiku, mungkin sudah taraf cinta. Aku harus menyelamatkannya. Dia mulai mendekati Adam dan bertanya macam-macam hal tentangku. “Pak Ardan dah punya pacar belum? Pak Ardan sukanya apa saja? Sifatnya seperti apa?”. Adam banyak bicara padaku. “Kasihan Farah, Dan, mau kamu cuekin gitu aja?”. Aku tak menjawab. “Dia pengen ta’aruf sama kamu, gimana?”. “Percuma”. “Terus aku harus bilang apa sama dia?”. “Bilang saja aku dah dijodohin sama keluargaku, pokoknya dia nggak boleh jatuh hati padaku”. “Kejam, Allah saja tidak pernah melarang Farah jatuh hati sama kamu, kok”. Aku beristighfar dalam hati. “Sebaiknya dia jatuh hati sama kamu Dam, kamu orang yang ribuan kali lebih baik dariku”. Adam hanya mengerdikkan bahu. “Aku kadang berharap, kamu benar-benar jatuh cinta sama seseorang, kamu bisa merasakan pedih yang dialami Farah”. “Percayalah Dam, aku sudah pernah mengalami kepedihan yang lebih parah dari itu berkali-kali hingga aku bisa belajar pada satu titik nadir: Ikhlas... “. “Tapi Farah bukan kamu Dan, sebaiknya kamu tolak dia tegas dan dia akan melupakanmu”.
Aku tak berani. Bahkan untuk menolak sekalipun. Mungkin, yah, kuakui, aku menyukai gadis itu juga, tapi, cintaku bisa menyakitinya, aku sadari itu. Sebelum kami terlanjur mengutarakan isi hati, sebelum ada perjanjian yang lebih jauh, aku harus tegas padanya. Aku teringat kekecewaan wajah Annisa, aku teringat air mata Nadia, aku teringat puisi jeritan hati yang berdarah-darah milik Layla, dan aku juga teringat Asih. Mereka adalah makhluk mulia bernama perempuan yang harus dilindungi, bukan disakiti, begitu juga Farah. Aku tak ingin menyakitinya, tapi pisau berada di genggaman tanganku. Tapi, mungkin masih ada satu kesempatan.
“Nyari software di sini sulit banget yah? Kalau di dekat kampusku dulu bejibun”, Farah menggerutu pada Faiz. “Kalau di sini memang agak mahal, satu Software 30 ribuan, mau kuantar mencarikan?”. “Nggak usah, tunjukin aja tempatnya. Aku nyari sendiri aja”. “Di belakang Masjid Al-Aqsa, ada Alva Computa, dari software dan hardware lengkap”. Aku mendekati mereka berdua. “Bu Farah nyari software apa?”. “MYOB Accounting, pak”. Farah terlihat kaget melihatku menghampirinya. “Saya punya yang versi 12 sampai 15, bu Farah butuh yang mana?”. “Kalau bisa yang 15”. “Besok datang aja ke rumah saya, nanti saya kasih, kalau hari Minggu besok saya di rumah”, aku memberikannya kartu namaku yang sudah tertera nama dan alamatku di sana. “Terimakasih pak”. Aku mengangguk lalu kembali ke ruanganku.
“Wah, diundang bos besar nih, nanti lanjutannya candle light dinner neh”, goda Faiz. Farah bergumam, “Ya nggak lah, ke rumahnya paling siang hari, nge burn CD lalu aku ditendang pulang”. “Hehe... kayaknya bos suka sama kamu neh, lagian kalau cuman bantu, Bos pasti hanya ngasih CD yang udah di Burn software, nah ini, undangan langsung ke Istana Negara, bow... Goodluck deh...”, Faiz berdiri dan menyentil kepala Farah. “Met kenalan dengan Camer ya... hahaha...”. Farah hanya menggerutu kesal.
---
Ya, aku berniat mengenalkan Farah pada Bunda. Sekedar menilai saja. Apakah gadis itu bisa meluluhkan hati bunda?. Semoga saja. Aku sendiri tak habis pikir. Seberapa lamakah aku harus menunggu untuk menemukan gadis yang bisa Bunda cintai dan aku cintai. Kapankah aku dan Bunda dapat mewujudkan Harmoni terhadap keinginan kami. Aku sangat menantikan saat-saat seperti itu terjadi. Aku rindu, untuk bisa menyayangi seseorang, aku rindu perasaan hangat di hatiku, mencairkan seluruh es Himalaya yang hampir mengabadikan kebekuan hatiku. Aku rindu kehidupan.
---
Aku melihat jam di dinding ruang kerjaku. Sudah pukul sembilan lewat. Farah belum datang juga. Aku sedikit gelisah. “Menunggu teman?”, bunda menuangkan teh di mug-ku. “Yah, begitulah...”. “Lelaki? Tomo?”. Biasanya yang main ke rumahku adalah sahabat Ikhwan dan tetangga dekat. Di rumahku memang Internet On-Line jadi mereka sering main game on-line di ruang kerjaku. “Bukan, Tomo sedang Pelatihan di pabrik, nanti yang datang rekan dari SMA Al-Azhar. Dia ingin nge-burn Software”. Bunda menepuk bahuku. “Perempuan?”. Aku hanya tersenyum, aku melihat sedikit kecemasan di wajah Bunda. Kekerasan hati Bunda sempat kurasakan, aku jadi teringat Kak Rani, kakak perempuanku, kisahnya tak kalah pedih dariku, meski pada akhirnya berakhir dengan bahagia. Aku teringat perjuangan Bang Arifin saat melamar kak Rani, bunda tidak menyetujui hubungan mereka. Ditolaknya mentah-mentah lamaran bang Arifin. “Preman seperti itu mau kau nikahi Ran? Bunda tak sudi!”.
Kak Rani hanya tersenyum sabar. “Jangan menilai orang dari penampilannya, bun, Bang Ifin bukan preman, tapi Intel. Penampilannya memang seperti itu”. Bunda ngeri melihat wajah Bang Arifin yang tak terawat dan jacket belelnya yang kumuh. “Tapi, kerjaannya kan selalu berdekatan dengan Preman! Tidak mustahil dia juga pemabuk, pemain judi, siapa yang tahu? Sifatnya sama dengan para preman itu!”. Kak Rani dengan sabar menerangkan. “Tidak seperti itu Bun, kak Ifin orangnya baik, Intel itu seperti Polisi, tapi menyamar ... karena tugasnya mengawasi penjahat yang diincarnya”. Bunda tetap tak mau mengerti. Kak Arifin pun orang yang tangguh. Meski lamarannya ditolak, dia bergeming. Dia setia menunggu kak Rani menerimanya dengan cara menunggu di depan rumah, baik panas maupun hujan. Selama hampir tiga bulan, dia menunggu, tidur di Mushala belakang rumahku dan shalat tahajud tiap malam. Seringkali kak Rani membujukku untuk diam-diam mengantarkan makanan ke mushalla, waktu itu umurku masih enam tahun. Dengan bujukan segenggam permen, aku dengan senang hati mengendap-endap melaksanakan misiku. “Apa Ardan bisa jadi detektif seperti Abang Ifin?”, tanyaku saat duduk di beranda mushalla pada suatu malam bersama pria yang kurus dan pucat itu. “Jangan, kerjaan abang berbahaya, Ardan anak yang pandai, mungkin kelak bisa jadi dokter”. “Ardan tak mau jadi dokter bang, sekolahnya mahal”. Bang Ifin mengacak rambutku. “Ya sudah, jadi guru atau dosen saja ...”, dia menggelitiki perutku hingga aku tergelak. Seperti biasanya pula, dia akan menitipkan sebuah kertas dari sobekan buku sakunya. Kak Rani selalu menangis saat membaca kertas lusuh yang dititipkan bang Ifin padaku. “Bersabarlah, karena buah kesabaran itu begitu indahnya ...”. Begitu salah satu kalimat yang pernah dibisikkan kak Rani saat membaca salah satu suratnya. Aku hanya memandangnya tak mengerti.
Hati bunda bukan karang, masih terdiri atas darah dan daging. Melihat kesungguhan kak Arifin dan tubuh kak Rani yang seperti bunga tak pernah tersentuh air, bunda luluh. Penantian hampir tiga bulan itu mendapat buah yang indah. Restu bunda. Aku takkan melupakan hari indah itu. Bunda memeluk Bang Arifin. Kesungguhan pemuda itu membuatnya yakin untuk melepaskan kak Rani dan membiarkan bang Arifin menjaganya. Waktu lamaran, aku terkejut, melihat seorang pemuda tampan dengan wajah berseri mendatangi rumah kami. Dengan izin atasannya, Bang Arifin mengambil cuti dan memotong rambut gondrongnya dan memangkas habis cambang dan kumisnya, hanya menyisakan sedikit jenggot yang dipotong pendek. Wajahnya seperti Pangeran Brunei. Bukan lagi memakai jeans belel dan jacket kumuh, tapi koko putih dan sarung yang serasi dengan bajunya. Kakak perempuanku sampai terpana memandang penampilan Bang Arifin. “Ini hanya untuk sementara dik, kalau nanti abang kembali bertugas, wajah abang akan kembali seperti semula, nggak papa ya?”, kak Rani hanya tersenyum. Senyum terindah yang pernah kulihat dari bibir kakakku.
Undangan hijau keperakan bertuliskan nama Syachrani Aulia Dewi binti Herman Syamsudin Farazzi dan Arifin Maulana bin Muhammad Iskandar segera tersebar, satu bulan kemudian diadakan akad nikah dibarengi Walimatul ‘Ursy. Foto indah yang mengabadikan hari itu sampai sekarang terpajang manis di ruang tamu rumahku. Mereka sudah memiliki dua anak lelaki, kembar, nakal pula, tapi rumahtangga mereka bahagia. Aku mendesah. Sungguh tak adil rasanya kalau aku menginginkan ketangguhan yang dimiliki kak Arifin pada diri Farah. Gadis itu mungkin kuat dan tabah, tapi, apakah bisa melalui ujian seperti kak Arifin?. Aku tak berdaya. Seharusnya akulah yang berada di posisi berjuang, seharusnya akulah yang menantang hujan dan terik matahari. Bukan Farah.
Bel berbunyi dan aku segera membukanya. Farah datang dengan wajah berseri dan tersenyum di depan pintu rumahku. Aku melongok keluar. “Sendirian?”. Dia mengangguk. Syukurlah dia tidak mengendarai Tiger hitamnya yang berisik itu. “Mana motormu?”. “Bannya bocor, jadi saya naik angkot”. Aku mempersilahkan dia masuk. “Bawa flashdisk atau CD?”. Dia mengangguk lalu mengaduk-aduk tas ranselnya, mengangsurkan flashdisk yang kuminta. “Em, pak, kalau ada sekalian anti virus, yang ringan sajalah ...”.. ”Oke. Tunggu sebentar ya, silahkan duduk, biar aku copykan dulu softwarenya”.
Aku masuk ruang kerjaku dan menyalakan laptopku. Kudengar suara bunda berbincang dengan Farah di ruang tamu. Tawa renyah Farah mengisi ruangan. Semoga dia bisa cocok dengan bunda.
Sengaja, aku membiarkan bunda dan Farah berbincang agak lama. Aku diam-diam berdoa. Karena sejak pertama aku melihat gadis itu di SMA Al-Azhar, perlahan kebekuan hatiku mulai mencair. Waktu kakinya terluka dan terpaksa membonceng pada Faiz, aku merasakan kecemburuan di hatiku, memandangnya pergi bersama Faiz, dan waktu itu pandanganku terarah padanya seolah tak rela. Andai aku saja yang dia mintai tolong waktu itu. Aku menghela nafas, panjang. Lalu kulepas flashdisk itu dari laptopku, melangkah perlahan menuju ruang tamu.
“Sudah selesai, pak?”, Farah memandangku. Aku tersenyum. “Maaf...nunggu lama ya? Tadi saya up date dulu antivirusnya”. “Wah, makasih banyak lho pak, saya ngerepotin nih, jadinya”. “Nggak papa, selama saya bisa bantu, jangan sungkan ya”. Farah tersenyum. Kulihat bunda juga tersenyum. “Farah sudah bekerja atau masih kuliah?”, tanya Bunda. “Dua-duanya Bu, masih belum selesai akta IV tapi sudah mulai mengajar, mohon doanya bu, biar Farah cepat selesai kuliah”. Bunda mengangguk saja. Lalu beliau mulai bercerita tentang masa kecilku. “Dulu Danny cengeng waktu kecil, penakut, makanya Bunda selalu dorong dia biar jadi anak pemberani, anak bungsu sih, makanya agak manja”. Aku tersipu, hilang sudah kewibawaanku. Farah mengernyit, mungkin tak menyangka karena sekarang aku dikenal sebagai orang yang tegas dan berani. Bahkan murid-muridku paling keder kalau ujian lisan denganku. “Dulu saya satu SD dengan pak Ardan Bu, di Nusantara 1, tapi beda kelas, dia di kelas A, tempatnya anak-anak pintar, saya cuman sampai level kelas D”. Setelah berbicang agak lama, Farah pamit.
Aku dan bunda agak lama terdiam di ruang tamu. “Anak itu temanmu?”, tanya Bunda. Aku tersenyum saja. “Kukira dia lebih tua darimu, apa benar begitu?”. “Ya, cuman selisih satu hari. Tanggal lahirnya 20 Desember”. “Kalau cari istri sebaiknya jangan yang seumur, selisih enam atau tujuh tahunlah, jadi kau bisa mengatur istrimu”. “Bang Arifin dan kak Rani sebaya, bahkan Rasulullah dengan Bunda Khadijah selisih 15 tahun, sepertinya umur bukan masalah Bun”. “Apa kau menyukai gadis ini?”, tanya bunda tajam, aku tak berani menjawab. “Sepertinya dia agak tomboi ya, gaya bicaranya juga lepas”. “Dia lama kuliah di Yogya”. Bunda mengernyit. Saat itu aku kembali suuzhzhan. Seandainya bidadari yang datang ke rumah inipun, jika bunda tak berkenan aku melepaskan masa lajangku, beliau takkan setuju. Hanya kak Farish, kakak lelakiku, yang kisah cintanya tidak terlalu berliku. Dia sejak SD menyukai kak Arisya, tetangga kampung sebelah, sejak kak Arisya pindah di SD Nusantara 1 saat kak Farish kelas dua SD, hati kanak-kanak kak Farish yang murni, terpaut pada gadis cilik berkepang dua yang punya lesung pipit di kedua pipinya itu. Ada saja alasan kak Farish untuk mengajak Arisya belajar kelompok bersamanya.
Sepulang sekolah mereka belajar bersama, sampai menjelang maghrib. Dengan lihai kak Farish mengarang cerita kalau jembatan di dekat rumah kami angker, Arisya yang penakut biasanya meminta kak Farish mengantarnya melewati jembatan itu kemudian lari terbirit-birit setelahnya. Aku tak pernah mengerti, kenapa kak Farish begitu terkesan dengan kisah konyol itu. Keesokan paginya, Arisya akan dengan gemas mencubiti lengan Farish. “Aku nggak mau lagi belajar bareng kamu kalau kamu nakut-nakuti aku! Dasar nyebelin!”. Tapi, mungkin karena diam-diam Arisya menyukai kak Farish atau sudah menjadi penggemar berat bakwan buatan Bunda yang selalu tersaji ketika mereka belajar bareng, Arisya betah saja berlama-lama belajar di rumahku. “Bakwannya enak ...”, komentar itu sering kudengar darinya, kadang aku kesal kalau Arisya dengan lahap menghabiskan sepiring bakwan yang disajikan. Aku yang dua tingkat berada di bawahnya, waktu itu dia kelas lima dan aku kelas tiga, tak berani meminta bagianku. Farish malahan sangat rela kalau bagiannya diambil Arisya. Waktu SMP kedua sejoli itu pisah, Farish di Bandung dan Arisya tetap tinggal di kota ini. Saat SMU mereka masih terpisah jauh, bahkan sampai kuliah. Baru setelah Arisya menamatkan sarjana Ekonominya di Yogya dan Farish menggondol sertifikat S1 Teknik Mesinnya, bunda memperbolehkan keduanya bertunangan, kemudian setelah masing-masing bekerja, mereka menikah. Sekarang kedua orang yang beruntung karena menemukan pecahan mozaik jiwanya sejak SD itu sama-sama sedang meneruskan master di bidangnya masing-masing, padahal Arisya sedang hamil, sering juga mereka ribut saat pulang, tapi dengan cepat kembali berbaikan. Menurutku, keduanya adalah makhluk konyol dan aneh, meski sebagian besar tetanggaku berpendapat (waktu mereka menikah) keduanya adalah pasangan serasi, seperti dongeng cinderella dan sang pangeran, cantik bertemu tampan, sama-sama pintar, tapi di mataku mereka masih sepasang anak kelas dua SD yang asyik berdebat gimana sih cara bikin pe-er yang baik, gimana sih caranya ngumpetin sepatunya Bu Iim yang galak, biar kapok!. Keduanya adalah Partner in Crime. Dan Bu Iim yang gemuk itu tak habis pikir, bagaimana mungkin, murid teladan di SD Nusantara 1 sekaligus merupakan berandalan cilik yang membuatnya merasa semakin bertambah tua sepuluh tahun kalau Farish dan Arisya sudah kompak berbuat jahil.
Pernah Farish melepaskan sekotak kodok di dalam kelas yang membuat anak perempuan menjerit-jerit dan anak lelaki kegirangan. Bu Iim hampir pingsan karena beliau phobia dengan hewan-hewan sejenis itu. Lagi-lagi ayah dipanggil untuk memperbaiki kelakuan anaknya. Farish mendapat hukuman tidak dikasih uang jajan seminggu, tapi partnernya dengan senang hati membagi dua bekalnya untuk dimakan bersama dan Farish justru keasyikan karena ibu Arisya yang guru tataboga itu pandai memasak. Waktu kelas 6 SD, mereka sedang tegang-tegangnya belajar untuk ujian akhir, Farish masih saja berbuat jahil. Dia mencuri sebatang rokok ayah, untuk menyukut mercon besar yang sudah dia siapkan di kamar mandi rusak dan tak terawat di belakang kelas 6. Saat kelas sedang hening dan anak-anak konsentrasi akan ujian, mercon meledak dahsyat. Bu Iim dan pak Tulus yang sedang menjaga ujian terlonjak kaget, anak-anak ribut. Tentu saja tak ada yang tahu pelakunya kecuali aku. Tapi Farish sudah menyogok akan membelikan bakso dua mangkok sepulang sekolah, jadi aku diam saja. Kekacauan waktu ujian dimanfaatkan sebagian anak untuk mencontek, karena Farish yang paling pandai di kelas, dia yang terpaksa ngasih contekan. Termakan ulahnya sendiri. Tapi dia cukup puas meninggalkan kenangan yang takkan dilupakan guru dan teman-temannya. Meski akhirnya kelak dia ketahuan, tapi itu saat pembagian ijazah dan dia bersiap menuju ke Bandung, meneruskan SMP di sana.
Sebenarnya Arisya juga tomboi, seumuran dengan Farish pula. Tapi, kenapa bunda menyetujui hubungan mereka? Apa karena sudah mengenal Arisya sejak kecil?. Terkadang gadis itu membuatnya jengkel karena meski sedang hamil tiga bulan, masih memanjat pohon mangga di depan rumahku. “Farish nggak mau memetikkan sih Bun, jadi aku panjat aja sendiri, udah ngidam nih”. Bunda hanya mengelus dada. “Sudah, jangan diulangi! Nanti bunda belikan rujak paling enak di pasar! Dan kamu Rish, jaga istrimu baik-baik, dia itu anteng kitiran! Maunya gerak terus, nggak baik untuk kandungan yang masih muda”. Farish hanya mengangguk pasrah. Arisya tergelak lalu memeluk bunda. “Nah, kalau kata bunda pasti diturutinya, kalau aku ... wah, sampai berteriakpun mana mau Farish mendengar? Rahasianya apaan sih Bun...?”. Bunda hanya mendesah jengkel lalu masuk rumah sambil bergumam kesal. “Tentu saja, aku ini kan ibunya, ah, kalian memang masih kekanak-kanakan, belum pantas momong, sekarang, belajarlah lebih dewasa sedikit!”, Arisya yang cuek hanya terkikik dan melempar pandangan mesra ke arah Farish, kalau sudah begitu, aku yang sedikit iri, merasa lebih baik menyingkir.
---
“Kapan nikah Dan? Kamu kan udah kerja, mumpung masih cakep, masih banyak yang mau, eh, kalau dipikir lucu juga ya, dulu kamu masih ingusan, cengeng, amit-amit deh, sekarang bisa cakep juga”, gumam Arisya. Aku tak berkomentar. “Gimana kalau kukenalin sama temenku, banyak lho, ukhti yang manis dan terpelajar, agamanya juga bagus ...”. aku tersenyum lalu menunjuk bunda yang duduk di seberang dan asyik berbincang dengan Farish. “Boleh, tapi tahu sendirilah, bunda...”, aku tak perlu menjelaskan, Arisya sudah mafhum. “Tapi, yang bunda bilangin ke kita, semua demi kebaikan kita kok, coba dulu aku sama Farish nekat nikah muda, mungkin malah akan menyesal karena pernikahan itu mungkin karena terdorong nafsu, saat sama-sama sudah mengetahui arti tanggung jawab, ternyata kita akhirnya bisa faham maksud bunda supaya kami cari kerjaan dulu”, Arisya meringis dan memegang perutnya. “Kenapa?”, aku bertanya khawatir. “Nggak, baru terbiasa saja ... ah, aku bersyukur pada Tuhan, aku bisa mendapat anugrah seindah ini, doain semua lancar ya Dan”, aku hanya mengangguk.
Setelah mendengar komentar bunda tentang Farah, aku tak pernah lagi SMS dan berbicara dengan gadis itu. Aku takut semakin mencintainya, semakin terkesan memberikan harapan, padahal aku sendiri tak berdaya. Sepulang dari mengajar, Adam bercerita padaku, lalu bertanya serius. “Farah sampai tak habis pikir, apa kesalahannya padamu sehingga kamu sedingin ini Dan?”. “Tidak ada apa-apa, sudahlah, bilang saja jangan berfikir yang tidak-tidak tentangku, aku memang orangnya seperti ini”. “Paling tidak, kalau kau tak bersedia membalas perasaannya, bilang saja kau tidak menyukainya, sebenarnya aku capek dan, menjadi tempat curhatnya, Afwan Dan, aku takut, aku malah mencintainya”. Kata-kata Adam membuatku seperti tersengat listrik. “Apa?!”. “Kami sering jalan bareng, meski membicarakan dirimu, karena dia takut langsung mendekatimu, tapi, aku kan hanya manusia biasa, kalau aku terlalu dekat dengannya, bisa-bisa aku malah yang jatuh hati padanya, sudah ya Dan, aku nggak berani lagi jadi tempat curhat Farah. Biar dia curhat sama yang lain saja”. “Terserah, nggak ada hubungannya denganku”. Aku mengambil helm di lockerku yang semakin penuh surat dan coklat. Ini hari Valentine, aku mendengus. Perayaan yang nggak Islami tapi sedang trend dikalangan anak muda, momen yang dimanfaatkan pabrik cokelat agar produknya laris. Aku berteriak memanggil Usup, penjaga sekolah. “Tolong bersihkan locker saya pak”. “Lho, itu kan coklat pak”. “Buat anda saja”.
Ayah. Ayahku adalah tipe pria pendiam. Sagitarius, sama sepertiku. Tapi jangan salah, kalau sudah marah, wajah sabarnya bisa merah membara, tapi, saat-saat kebandelan Farish dan aku sudah berakhir, beliau jarang marah, hanya saja aku sering mengingatkannya agar tidak terlalu banyak merokok. Aku disiplin tidak merokok setelah mengurus pesantren. Ayah sulit sekali menghentikan kebiasaan yang paling dibenci Bunda itu. Setiap beliau merokok, ayah menyingkir di Gazebo depan rumah yang khusus dibuat ayah untuk merokok dan menghindar dari pandangan tak setuju bunda.
Aku duduk di sebelahnya dan tersenyum. “Masih belum bisa berhenti?”. Ayah tertawa, “Sulit Dan, bahkan Bundamu takkan bisa membuat ayah berhenti mencintai benda ini”. Lalu beliau memandangku bijak. “Ada masalah?”. ‘Tidak”. “Jangan bohong, ayah bisa melihat kegelisahan di matamu, hei, jangan bilang kalau kau ... sedang jatuh cinta?”. Aku menghela nafas panjang. “Sulit yah, jatuh cinta itu ... “. Ayah memandangku tajam. “Karena bunda?”, aku mengangguk. “Ardan, kau ini seperti tak tahu saja sifat bundamu itu. Ayah merayunya untuk jadi istri ayah saja, sulitnya luar biasa ... padahal ayah juga tahu, dia mencintai ayah. Tapi, ah, gimana ya ... jadi bongkar masa lalu nih”. “Ceritakan saja yah”, aku jadi bersemangat. Ayah tertegun lalu berkata.
“Sebenarnya dulu, orangtua bunda tak setuju bunda nikah dengan ayah, karena ayah masih pegawai kecil di suatu perusahaan swasta. Buruh yang tak punya apa-apa. Orang tua ayahpun minder bermantukan Bundamu. Keluarga bunda juga kolot, masih trah darah biru dan bunda tadinya seperti memiliki keangkuhan turun-temurun dari keluarganya. Waktu kami dikenalkan Safitri, teman ayah, Bundamu sama sekali tak mau melihat ke arah ayah, melengos. Bayangkan, apakah kau bisa percaya suatu hari kelak bunda mengaku, dia jatuh hati pada ayah ya waktu pertama ketemu itu. Masa sifatnya kurangajar sekali, tak mau salaman sama ayah sekalipun. Tapi ayah terlanjur suka sama gadis angkuh putra pak Lurah, gadis itu punya mata sebening telaga. Ayah terus-terusan nekat mendatangi mushala, menunggunya selesai mengaji dan nekat pula mengantarnya pulang meski hanya disuguhi wajah masam kakekmu. Empat bulan kemudian, saat kami memahami kalau cinta kami tak mungkin terpisahkan lagi, ayah nekat melamar bundamu, tentu saja kakekmu tak setuju dan menganggap ayah tak menganggap derajatnya yang tinggi. Tentu saja sakit sekali Dan, didamprat secara kasar dan tak manusiawi, tapi ayah tegar. Saat itu keadaan makin gawat karena bundamu akan dinikahkan secara paksa dengan anak juragan teh di desa kami, terpaksa ayah melarikan bundamu ke Jakarta dan menikah di sana. Bertahun-tahun dan, kami dikucilkan dan tak diakui kedua orang tua kami. Tapi perjuangan berbuah manis saat Rani lahir, mereka bisa menerima keadaan kami, ditambah saat Farish dan kau hadir, wah, nenekmu ... sampai sekarangpun rajin berkunjung, kan?”. Ayah tertawa lalu memandangku. “Badai pasti berlalu Dan, kalau kamu bisa dan sanggup, ini bukan masalah kemampuan, tapi kemauan, kalau hanya ada niat tapi tak melaksanakan ya hanya mubadzir, hanya jadi angan-angan”. Aku merenung. “Maksud ayah, aku kabur bersama gadisku ini dan kelak Bunda akan merestui?”. Ayah hanya memandangku, misterius lalu berkata. “Yah, tidak harus seperti itu, caranya terserah kamu saja, tapi yang sesuai hati nurani, karena, kata hati yang murnilah yang akan menuntunmu pada kebahagiaan sejati. Kamu lelaki Dan, lelaki memiliki otak, wanita memiliki perasaan. Tanamkan pada hatimu, kau bukan orang yang lemah, kau pejuang dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, tapi, sebisa mungkin, libatkanlah Allah dalam setiap keputusan yang kau buat. Allah memberikan yang kau butuhkan, meski terkadang, hal itu bukan yang kau inginkan, tapi terbaik untuk hidupmu”.
Banyak yang kurenungkan akhir-akhir ini. Sampai mengendarai motor sepulang sekolahpun agak melamun. Hujan yang turun rintik-rintik membuat badan jalan agak licin, motorku salip dan aku terjatuh tanpa merasakan sakit, semua gelap.
---
Adam memandangku dengan senyuman. Aku tahu apa yang dia tertawakan, ketidakberdayaanku. “Ah, entah kenapa, aku malah bersyukur kamu di sini, pada akhirnya bisa istirahat juga, selama beberapa minggu ini kamu workaholic, seolah bekerja keras untuk mengalihkan perhatian dari sesuatu, ya nggak?”. Aku tak perlu menjawab. Kupandang lenganku yang diperban. Kepalaku sedikit pusing saat memaksakan bangun. “Relaks, Superman ... kamu harus istirahat!”. “Yang ngajar menggantikan aku siapa?”. “Farah, sudahlah, istirahatkan otakmu itu! Semua dalam kendali. Oh ya, dapat salam dari Farah”. “Kamu bilang aku masuk RS?”. “Yup’s, dia sampai panik, sempet nangis juga loh, kemarin juga menjenguk sebentar waktu kamu masih dibius. Wah, kayak Maria sama Fahri di AAC, seru!”. “Apa?”. “Nggak. Dia hanya menepuk pipimu, nggak sampai mencium kok, hahaha, kan ada aku”. Sialan! Dikiranya ini lucu?. Wajahku terasa panas. “Lain kali kamu cegah dong, kita kan bukan muhrim”. “Nggak ada lain kali, oh ya, kau juga musti berterimakasih padanya, dia nyumbang darah buat kamu, sekarang darahnya mengalir di tubuhmu juga”. Aku tertegun, tak bisa berkata-kata. Lalu ambruk dan memejamkan mata. Masalah ini membuatku ngilu, lebih menyakitkan dari luka di tubuhku. “Aku tak bisa membalas kebaikannya. Aku nggak berguna”. Adam memandangku lalu menepuk bahuku tanda simpati. “Kamu ... hanyalah orang yang terlalu sensitif, berhati-hati dan perfectsionis, terkadang kamu harus berfikir seperti orang biasa, santai sajalah, hidup kan bagaikan air mengalir, nikmati aja”. “Kalau ngalirnya ke septictank ya ogah ...”. “Kau samakan Farah dengan septictank?”. “Nggak, maksudku ... kalau nggak mengalir di tempat yang nggak benar ya harus dibelokkan ...”. “Farah bukan tempat yang benar? Kebenaran seperti apa yang kamu inginkan, wahai orang beriman yang sombong?”. Adam menjitak kepalaku. “Aww, sakit tau!”. “Tau kok, tuh kepala baru dijahit lima jahitan, tapi bung, janganlah terlalu sombong, hidup nggak selamanya diatas, dapat Farah seharusnya karunia yang paling indah bagimu, kalau aku jadi kau...”. “Ya, ya, sebaiknya kau saja yang bersama Farah...dia lebih cocok denganmu, kata-katamu lebih lembut, menenangkan dan kamu sangat baik hati, tidak angkuh sepertiku”. “Marah nih? Oke, jujur aja, aku maunya juga begitu, tapi cinta Farah hanya buat kamu, Mr. Busy ... kamu memang Mr. Wrong, tapi di matanya kamulah Mr. Right. Aku ingin sekali memiliki cinta itu, cinta yang terlalu indah untuk diinjak-injak orang sepertimu ...”. Baru kali ini aku melihat seorang Adam bisa jengkel juga, biasanya dia adalah makhluk tersabar dan terlembut yang bisa ditemukan di SMA Al Azhar. Aku memejamkan mataku. “Berisik Dam...”. Pemuda itu menarik nafas dalam dan menuju ke pintu. “Jangan membuat keputusan yang salah Dan, ikutilah kata hatimu, karena di sanalah kebahagiaanmu”. Kata-kata klise. Aku tak mau mendengarkan.
---
Aku semakin menyibukkan diri dengan beberapa usaha baru patungan dengan temanku. Sebuah toko komputer mungil tapi lengkap, G-Fun (Gadget Fun) Comp. Dan warnet unik X-Side. Di warnet yang baru terdiri dari 10 ruangan no Smoking dan 2 buah ruangan mini untuk menyetel film itu, sebagian waktuku kuhabiskan. Kurancang warna hitam dan merah mendominasi X-Side. Ruangan Mini Theater-nya cukup untuk 10 orang. Tepat untuk having fun sampai meeting. Aku cukup puas.
Sekali penyetelan Film dihitung 50.000, sesuai kocek pelajar, apalagi yang datang sekelompok lebih dari 5 orang, biayanya bisa ditanggung rame-rame diantara mereka. Filmnya pun kami pilih sendiri, dilarang membawa film dari luar. Sehingga yang ada hanya film action, fiksi ilmiah, film ringan bahkan education. Aku tak ingin membuat tempat usaha yang sembarangan, suatu hari aku bercita-cita membuat Cafe yang Islami, antara Akhwat dan Ikhwan tempatnya tersendiri, bagi pasangan suami istri pun tersedia sendiri. Tapi berhubung biaya usahanya terbilang besar, aku belum berani berinvestasi untuk Cafe. Sementara cukuplah dengan toko komputer dan Warnet kecil. Kegiatanku semakin bertambah, tak jarang aku pulang menjelang dini hari, langsung shalat malam, istirahat sejenak kemudian bangun saat subuh, mandi, sarapan lalu mengajar. Waktuku habis untuk bekerja, tak kalah dengan seorang dokter. Tapi aku haus mengakui, aku manusia biasa yang bisa terkapar lemah, terlalu capek, aku menambah beberapa pegawai dan merancang liburan untuk diriku sendiri.
---
“Pak Ardan liburan semester nanti mau ke mana?”, tanya Chika, salah satu muridku, cantik, genit dan sering terang-terangan menunjukkan perasaannya padaku. “DRS alias di rumah saja”. “Yah, nggak asyik dong, ke Bali aja yuk pak”. “Sudah sering, bosan, lebih baik istirahat saja di rumah, nah, tugas yang tadi saya berikan sudah selesai kan? Silahkan dikumpulkan pada ketua kelas , Aris, kamu ketuanya kan? Nanti bukunya ditumpuk di meja saya saja”. Aku beranjak meninggalkan kelas. Berpapasan sebentar dengan Farah, matanya merah, seperti habis menangis. Aku berusaha keras tidak bertanya dan tidak memperdulikannya. “Pak Ardan ... tunggu sebentar”, Farah menghentikan langkahku. “Bisa kita bicara?”. “Saya sibuk bu, lain kali saja”. “Saya mohon pak, sekali ini saja, penting”. “Tapi ...”. “Please...”, Farah memandangku. “Bawa motor?”, tanyaku. Farah menggeleng. “Kita ke warnet saya saja, di sana lebih leluasa ngomongnya”.
Aku memboncengkannya pelan. Gadis itu tidak berani berpegangan padaku. Waktu yang kutempuh jadi lebih lambar dua kali lipat dibanding biasanya. Aku tak segera ke Warnet, kami mampir dulu di Jami’ dan shalat bersama, aku yang jadi Imamnya. Aku mengabaikan kalau gadis itu semakin cantik saja. Tiba-tiba terbayang sesosok gadis kecil berambut ikal yang senyumnya manis waktu aku SD dulu. Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja menemukan album foto tua di gudang waktu beres-beres. Ada fotoku waktu latihan lomba cerdas cermat, di grup kelas A ada Aku, Syamsul Farid dan Priyo Hutomo, di kelas D ada Stevano Gunawan, Mohamad Badarudin dan Farah Rifqan. Gadis kecil imut yang nakal itu, yang suka berkelahi dengan anak cowok dan sering dihukum pakai topi keledai bego di ruang Kepsek, sekarang udah jadi gadis manis yang bisa merontokkan (paling tidak) hatiku. Hati seorang Ardansyach Herman Farazzi. Selesai shalat dan berdoa (kulihat dia berdoa sambil menangis) aku mengajaknya keluar. Tumben masjid sepi, takut juga sih, gini-gini aku lelaki tulen, pernah jadi cowok cafe pula, hatiku jadi tak karuan, pokoknya keluar dulu...
“Mau bicara apa?”, aku menyuruhnya duduk di salah satu ruang mini Theater dan menyalakan TV plasma yang segera mempertontonkan adegan action-nya Will Smith di I-Robot. Film lama sih, tapi aku suka aja. Robot, tapi lumayan manusiawi. Aku kangen dengan sepatu Sneaker Converse ku yang mirip dengan punya Mr. Smith. Sayangnya, sejak jadi guru, aku hanya bisa memakai sneakers kalau olahraga di hari Minggu, itu saja kalau ada waktu luang. Aku memesan French Pottatos plus Warm Lemon Tea dua porsi. Farah tak berani memandangku. Dia sepertinya berat mengutarakan maksudnya. Aku menghela nafas, ini waktunya. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Ada apa Bu, ada yang bisa saya bantu?”. Farah mendongak, matanya berkaca-kaca. “Begini pak, saya ... dijodohkan dengan orang tua saya”. “Lalu?”. Hei, apakah suaraku terdengar begitu dingin?. Farah hanya memandangku, diam, air matanya mengalir. Aku hampir saja meraihnya ke pelukanku, oh Tuhanku, aku harus tega. Gadis itu seperti bingung mau berkata apa, lalu dengan berani memandangku. “Saya suka sama bapak, saya tahu saya lancang, tapi saya harus tahu, apakah bapak bisa menerima saya atau tidak”. “Maksudmu?”. “Anda tahu maksud saya ...”, gadis itu berkata pelan, oh, aku sudah sangat keterlaluan menyakitinya, tentu saja aku tahu apa maksudnya. “Saya tahu saya memiliki banyak kekurangan, saya berandalan, bapak alim, bapak mengelola sebuah pesantren dan hafal al-Qur’an, saya hanya orang bodoh, bapak orang yang sangat pintar, dan ... saya lebih tua meski hanya terpaut satu hari dengan bapak, saya tahu saya bukan calon istri yang ideal, dan saya lancang mengajukan diri saya, tapi ... saya harus jujur pada diri saya sebelum saya menyesali langkah yang nanti saya ambil”.
“Maksudmu, jika aku menerimamu, kau akan mencampakkan calon suami yang akan dikenalkan oleh orang tuamu? Sungguh tak adil. Kau kira siapa dirimu?”. Farah terhenyak mendengar kata-kata kasarku. Biarlah, biarkan dia membenciku untuk saat ini. “Dengar Farah, percayalah padaku, calon yang akan diperkenalkan oleh orangtuamu akan cocok denganmu, aku hanya bisa berkata demikian, selamat tinggal!”, aku meraih jacketku dan meninggalkannya begitu saja. Farah tampak shock.
---
Setelah maghrib aku memacu motorku menuju sebuah hotel. Setelah memarkir motorku, perlahan aku menuju ruangan yang mewah di Hotel Alrich. Kak Farish memandangku, mungkin menanyakan keterlambatanku. “Macet ...”, bisikku. “Mana ayah dan Bunda?”. “Dalam perjalanan juga”. Kami berdua memasuki restoran hotel dan menemui sebuah keluarga. Hari ini, lagi-lagi aku akan berkenalan dengan seorang gadis. Ta’aruf. Kali ini aku yakin pada pilihanku, gadis itu berada di tengah orangtuanya, tertunduk tak memandangku. Jilbab putihnya membuat si gadis tampak rapuh. “Maaf saya terlambat”, suaraku menyentak, mengagetkan gadis yang tertunduk itu, perlahan wajahnya yang cantik memandangku dengan terkejut.
Tak lama kedua orangtuaku datang bersama Arisya yang tertawa cerah. Dasar cewek badung, senyum jahilnya nggak berubah sejak SD dulu. Di belakangnya menyusul bang Arifin dan kak Rani plus si kembar bengal, Fadil dan Fadli. Seperti rombongan pawai saja. Setelah semua duduk, aku memandang tajam gadis yang berhadapan denganku di seberang meja. “Afwan jiddan ...”, aku berusaha menahan perasaan haru di hatiku. “Kalau tadi siang saya sudah melukai hati Farah ... saya serius dengan ucapan saya tadi siang, calon suami yang akan dikenalkan dengan Farah, Insyaallah akan cocok dengan Farah”, aku menahan senyumanku. “Tapi, berkat kejadian tadi siang, saya jadi tahu seberapa besar perasaan Farah terhadap saya, saya sangat ... eh, tersanjung, hari ini saya ingin mengutarakan niatan saya untuk Ta’aruf dengan Farah, sebelum melanjutkan ke walimatul ursy”. Keringat dingin membasahi keningku. Stay cool, Dan!. Ayah dan ibu Farah memandang putrinya. “Kalau kami, dari pihak keluarga Farah, hanya bisa menyetujui, andai putri kami menyetujui pula niatan nak Ardan, nah, ?Farah, bagaimana jawabanmu?”.
Gadis itu memandangku sekilas. Aku merasa, air mata yang dia tumpahkan karena aku tadi siang masih belumlah kering. “Maafkan Farah ... “, gadis itu memandangku lagi lalu berujar pelan “Farah tidak bisa ....”.
Aku merasakan hatiku jatuh ke dasar jurang yang dalam. Sepertinya Farah terlalu marah atas perbuatanku tadi siang. Aku hanya bisa beristighfar dalam hatiku. “Maafkan Farah, Pak Ardan, Farah tidak bisa menolak niatan bapak ...”. Kepalaku pening, gadis ini , ah, lidahku kelu tak bisa berkata-kata. Kuanggap posisi kami seri sekarang. Ayah menepuk bahuku dan tersenyum, bunda hanya memandangku datar. Semoga, suatu saat, restunya akan menghampiri kami. Aku mendapat ucapan selamat dari kakak-kakakku. Kedua keponakanku seolah mengerti bakal ada perayaan, segera berbisik pada mamanya sambil menunjuk-nunjuk ice cream vanilla besar yang didorong pelayan ke meja kami. Hidangan makan malam lengkap segera tersaji di meja. Aku merasa beban di pundakku separuh terangkat. Tinggal restu Bunda, maka kebahagiaanku akan lengkap.
---
“Tega sekali pak Ardan ngerjain aku”, Farah berdecak di sampingku, kami menikmati suasana malam Alrich yang gemerlap. Aku meneguk minumanku. “Kalau tadi siang aku bilang ‘aku akan menyelamatkanmu dari perjodohan konyol itu’ maka kita nggak akan bertemu di sini”. Farah tersenyum. “Bodohnya aku, aku bahkan tak bertanya pada orangtuaku siapa yang akan dijodohkan denganku”. “Aku kenal ayahmu, kami sering bertemu di rapat pembangunan Mushalla Al-Hidayah. Aku sengaja ingin membuat kejutan sehingga kukatakan pada ayahmu untuk merahasiakan namaku”. “Kenapa?”. “Takut ditolak, karena selama ini aku sudah bersikap sangat keterlaluan terhadapmu, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memutuskan hubungan komunikasi begitu saja bukan? Akan konyol kalau kau tahu aku tiba-tiba mengajukan Ta’aruf”. Farah mengangguk. “Mungkin ... untung semua berakhir dengan baik”. Aku mengangguk.
“Pak ..?”.
“Hmm?”.
“Ta’aruf itu ngapain aja sih?”.
Aku tersedak. Lalu memandangnya. “Pernah pacaran?”. Farah menggeleng. “Sama sekali?”. Gadis itu mengangguk dan memandangku yang tak yakin atas pengakuannya. “Saya low quality jomblo, hehe...bukannya nggak mau pacaran kayak akhwat lain, tapi memang nasib aja ...”, aku tak percaya, tapi harus percaya. “Kalau bapak nggak percaya, silahkan bapak bikin pengumuman, kalau ada seorang lelaki yang bisa membuktikan saya pernah pacaran dengannya, saya akan kasih dia dua juta”. Aku tersenyum. “Nggak perlu, Allah maha tahu, yah, Ta’aruf itu perkenalan, kalau pacaran kan hanya antara kau dan aku, tapi kalau Ta’aruf antara kau dan aku, keluargamu dan keluargaku, kita boleh jalan bareng, dalam batasan Syar’i. Paling banter aku ngapel ke rumahmu, kalau mau nonton bioskop harus tetap bawa rombongan, kak Farish dan Arisya pasti senang jadi bodyguard kita. Seperti itulah, tetap nggak boleh dua-duaan, kecuali sudah akad”. “Berapa lama Ta’arufnya”. “Biasanya tiga bulanan, tapi, kalau mau dipercepat boleh, toh sebenarnya kita sudah kenal dari kecil, bukan?”. Farah mengangguk-angguk tanda mengerti. “Tapi saya masih heran, dulu sepertinya bapak menghindari saya, kenapa sekarang ...”.
Aku menceritakan dengan jujur setiap alasanku. “Pada akhirnya, aku akan membuang sifat sok perfectsionisku dan akan menjadi manusia yang berfikir normal plus sederhana saja, aku ingin menyempurnakan separuh agama, aku menemukanmu, menyukaimu, dan aku takkan mengingkari kata hatiku, karena di sanalah letak kebahagiaanku, mungkin juga kebahagiaanmu ... “. Mata Farah berkaca-kaca. Aku hampir mengulurkan tangan memeluknya. Ah....belum saatnya! (Ups!)
Pertama kali aku datang ke rumahnya untuk ngapel.
Norak mungkin, tak ada seikat bunga, tak ada secarik kertas berisi puisi. Aku membawakan buku tebal bersampul kuning ‘La Tahzan’ dan buku ‘Agar Bidadari Cemburu Padamu’ karya Salim A. Fillah. “Semoga Farah suka”, aku meletakkan buku itu di meja. Farah mengambilnya dan membawanya masuk setelah mempersilahkan aku duduk.
Tak lama sepiring cake coklat buatan sendiri dan teh manis dibawa oleh Farah, disajikannya untukku. Aku memperhatikannya sejenak. “Kalau malam minggu seperti ini biasanya Farah ngapain?”. Dia duduk dan memandangku sekilas. “Yah, paling ngutak-atik komputer, main game, kalau bunda sedang praktek resep kue baru ya ikutan bikin kue, saya nggak pernah kemana-mana”. “Kok kayaknya tegang banget ya, biar lebih akrab, kita ganti aku-kau aja, gimana, kau keberatan?”. “Agak, apa nggak sebaiknya mulai sekarang saya latihan bilang Bang Ardan?”. “Boleh juga, tapi kalau di sekolah masih harus pakai istilah Pak Ardan lho”, gadis itu tertawa. “Iya..iya...Pak Guru ...”. Kami bicara tentang musik, gadget, software, sampai game. Dilanjutkan dengan buku kesukaan dan beberapa masalah keagamaan. “Kau ikut partai tertentu?”. “Nggak, aku sih nggak pernah ngikut aliran tertentu, atau partai tertentu, karena waktu kuliah, aku ikut suatu aliran malah disusupi pihak yang tidak bertanggung jawab. Malas jadinya, kuputuskan, kalau sudah punya suami kelak, baru suami yang memutuskan akan pakai aliran mana, aku ikut aja”. “Kalau suamimu alirannya sesat gimana?”. Farah tertawa. “Sepertinya dia alirannya Pop Rock deh ...”. “Nggak juga, D’Garde, group Bandku dulu, alirannya Rock murni, kok, hanya saja, selera pasar waktu itu lagu Pop, jadinya kami kebanyakan menyanyikan lagu sok imut itu”. “Ih, memangnya Bang Ardan udah yakin bakalan jadi suamiku?”. “Insyaallah...”. “Aliran abang apa dong ...”. “Tebak dong...”. “Kasih petunjuk, please”. aku tak bisa menahan senyumku melihat alisnya yang bertaut tak sabar. “Gini, lihat Lembaga Pendidikan yang menaungi Al-Azhar, sudah mudeng belum?”. Farah berfikir sejenak lalu mengangguk. “Lega deh, soalnya satu aliran sama ayah”. “Aku kan udah pernah bilang, kami ikut kepanitiaan membangun Mushalla Al-Hidayah, jadinya aku dan ayahmu satu aliran, hehe...”.
---
“Cintailah ayahku, ibuku, ibuku, ibuku, lalu, cintailah aku”. Itu satu syarat yang kuminta pada calon istriku. Farah tersenyum ,”Kamu bukan orang yang egois ya ... cukup 20% aja, tapi, aku maunya cinta darimu 100%”. “Lho ...?”. “Diluar cintamu pada Allah, rasul, dan keluargamu ...”. “Okey, itu sih ... kuusahakan”. “Kok diusahakan sih?”. “Setiap tahun kukasih 2%, nanti kau total sendiri setelah bertahun-tahun kita hidup bersama, sepakat?”. “Kok gitu?”. “Biar cintaku nggak habis-habis buatmu”. “Cinta kok sistemnya kredit?”, tanya Farah sambil memandang gemas padaku. Aku tak menjawab, lalu melangkah ke ruangan Wakasek dan kututup pintunya setelah melepas senyuman jahil padanya yang semakin cemberut. Kunyalakan laptopku dan memesan undangan pada sahabat lamaku di Yogyakarta yang memiliki usaha design grafis. “20 September 2009”. Tinggal beberapa minggu lagi dan aku akan membangun separuh tiang agamaku. Semoga Allah memberikan rahmat dan barokahnya kepada keluarga kecilku nanti.
Dalam setiap sujud malamku, dalam lirih permintaan doaku, dalam keheningan malam yang membuatku berarti, kutampung seluruh airmataku dalam satu keinginan, “Ya Allah, sukseskanlah hidupku, akhiratku, duniaku, letakkanlah dunia dalam genggaman tangan kami, dan akhirat dalam hati kami. Berkatilah seluruh keluargaku, luruskanlah jalanku dalam sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah”.
Selasa, 09 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar