Kamis, 20 Agustus 2009

PART IV Broken Wings

Part IV Broken Wing’s
Southside, 13 February 2007
Sayap patahku, masihkah sanggup melewati badai di lautan?
Tapi aku harus melintasi lautan dan tetap terbang....

“Seminggu...”, pikir Misha. Baru seminggu...tapi rasanya satu abad sudah berlalu. Evan...kamu pasti lagi sibuk SP yah?. Misha menengok arlojinya. Pukul lima sore, waktu ke kampus tadi, dia seperti melihat Evan dimana-mana. Apalagi gerbang kampus...ah, Evan pernah berdiri di sana, tersenyum. Di luar kamarnya terdengar celoteh ramai anak-anak. Putri asyik mengepas gaunnya, Meta dan Rani asyik berdebat seru tentang apa yang akan mereka kasih ke cowoknya. Valentine. Misha menggaruk rambutnya, buatnya hari yang penuh warna merah jambu itu nggak istimewa. Meski sekelilingnya seolah berwarna pink, hati Misha tetap berwarna biru. “Misha...”, Meta menggedor kamar Misha, kaget melihat gadis itu asyik mengerjakan soal-soal matematikanya. “Eh...kamu nggak ada undangan V_Day apa? Kok malah duduk lesu, aih...belajar lagi...Misha...Misha, hidup hanya sekali, mbok ya dinikmati...”. “Ini aku lagi menikmati hidup, kepalaku nyut-nyutan nih, tugas dari bu Endang seabrek...hiks!”. Meta dengan prihatin memandang Misha, rambut panjangnya dikucir dua, kayak Usagi aja. “Gimana kalau ikut party ku? Ntar kukenalin sama cowok-cowok...temenku cakep-cakep lho...”. Misha menggeleng. “Enough! No Boy No Cry...”, lalu diberikannya sebuah undangan ke Meta. “Aku juga dapat undangan...dari anak-anak Blackside”. Meta melihat undangan berwarna hitam itu. “We invite you to join Dark Valentine in Red House with....bla..bla...”. Meta terbelalak. “Gila, undangan ini keren tahu, eh...cowok gondrong yang keren abis itu ikutan gak?”. “Yang mana?”. “Temenmu...yang pakai jacket hitam ada garis peraknya itu, yang punya toko komputer...”. “Oh, si Bram...tentu dia ikut, dia yang bikin tuh undangan...”. Meta mengguncang bahu Misha. “So...kamu datang nih?”. Misha menggeleng. “Nope...banyak tugas, lagian kau nggak lihat tuh Dress Code nya? Black-Silver! Busyet...mana aku punya baju gituan...dan...aku nggak ada pendamping!”. “Kakak sepupumu?”. “Sama ceweknya dong”. “Katamu mereka dah putus?”. “Kakakku mah, sehari aja nggak punya cewek udah rekor...tiga hari lalu baru dapat cewek baru tuh...”. “Caesar?”. “Intership...jadwalnya padat, mungkin dia malah nggak ingat apa itu Valentine, ah, udahlah, nggak penting...”. Meta masih belum menyerah. “Misha...gimana kalau kau ajak Mahendra?”.
“Valentine memang gak penting buatmu...tapi ini kan party, banyak kue, makanan...kan sayang tuh, makan gratis lho...ajak saja Hendra”. Mulanya Misha tergiur mendengar kata makanan, tapi kalau masalah pergi bareng Hendra...kasihan Hendra, lagipula dia nggak punya gaun hitam, boro-boro gaun, rok aja gak punya. “Nggak usahlah, gini aja Met, kalau kau merasa prihatin dengan keadaanku, mbok ya...please, bawain aku kue sama coklat dari party kamu ya? Please...aku nggak bisa pergi...lagian banyak tugas sih, hehe”. Meta tersenyum. “Evan ya?”. “Eh?”. “Kamu takut menghianati Evan...udah deh, dia nggak tahu ini, kamu pergi sama siapa juga dia nggak punya urusan kan?”. Tapi aku takut menghianati Tuhan, pikir Misha. Pesta seperti itu...bukan pilihan yang bagus. Yah, meski dia tahu Bram dan teman-temannya anak yang baik, meski agak terkesan berandalan, tetap saja pesta di cafe and lounge, apalagi sendirian, bisa bahaya, dulu pernah ada cowok yang mencampur minuman Misha dengan obat tidur, untung Bram menolongnya. Saat Misha berterimakasih, cowok bermata kelam itu tersenyum sepertinya sedih sekali. “Kamu anak baik, Misha, dan aku yakin, penampilan berandalanmu hanya untuk menutupi kerapuhan dalam hati kamu, aku masih bisa melihat sifat kanak-kanak kamu...kamu masih polos dan naif...sebaiknya kamu berhati-hati....dunia ini tidak indah”.
Bram, kalau mengingat cowok itu, hati Misha seolah ikut sedih, meski berada di tengah keramaian, cowok itu seolah terselubung kesunyian. Misha tak pernah melihatnya tertawa, apalagi terbahak. Hanya tersenyum, kadang sinis, kadang sedih. Apakah luka yang diakibatkan cinta begitu dalam mengoyak hatinya?. Misha merasa sangat beruntung, paling tidak, dia masih bisa melihat Evan, memandang cowok itu tersenyum, mendengar suaranya yang berat saat bicara, ataupun melihat SMS yang dikirim Evan saat dia sedih. Evan hidup. Mecca sudah meninggal...dan Bram hanya bisa bertemu Mecca dalam mimpi dan doa saja, tapi, Tuhan pasti selalu menyampaikan doa Bram untuk Mecca.
---
Sehabis Maghrib, Misha menuju warung makan di belakang kost, perutnya lapar, tiba-tiba dia dikejutkan teriakan seseorang dari rumah sebelah. “Hooooi!”, Misha menoleh ke arah datangnya suara. Caesar nyengir dalam keremangan lampu jalan. “Mo ke mana?”. “Beli makan...”. “Ke sini bentar...”. Misha menurut. Cowok itu masuk ke gerbang dan menuju civicnya, mengambil sesuatu. “Ini buat kamu aja...”. Misha terbelalak, betapa banyak coklat di dalam kardus itu. “Hadiah Valentine ya...”. “He eh, ada beberapa pasien yang ngasih...”. Misha mengambil sebuah kotak berwarna pink cantik. “Bohong...mana ada pasien yang ngasih kado gini...’Be My Valentine...dokter...besok kencan yuk”, Misha membaca sebuah pesan kecil yang terikat pita manis di kado itu. “Dan...ini...Dokter...kamu cakep deh...I Love You...busyet! ini pasti dari para perawat ya?”. Caesar menggaruk rambutnya. “Yah, sebagian, sebagian lagi dari pasienku...”. “Yang jelas pasienmu itu bukan orang tua, tapi gadis muda yang tertarik padamu...ah...”. Misha menyerahkan kardus itu pada Caesar. “Kenapa?”. “Aku nggak bisa menerimanya, kado-kado itu untukmu”. “Tapi aku nggak suka coklat”. “Meski aku suka, tapi di coklat itu ada berbagai macam perasaan orang yang memberikannya, kalau aku yang makan, perasaan itu tak sampai padamu”. Caesar cemberut. “Toh aku juga nggak bakalan makan...”. “Yah, icip-icip saja...udah ya, aku mau beli makan nih...”. Misha beranjak. “Tunggu Misha...”, cowok itu mengambil sesuatu dari saku kemejanya. “Ini saja...kalau ini dariku...”, katanya sambil mengulurkan sebatang Kit Kat. Misha tertawa. “Nah, kalau ini aku mau...thanks ya...”. Caesar tersenyum. “Itu juga ada perasaannya...aku sayang kamu, sobat...”. “Sama-sama...partner...”.
---
Caesar...cowok yang lahir di bulan Juli itu mempunyai kisah cinta yang tak kalah menarik dengan kisah cinta Julius Caesar-Cleopatra. Misha pernah bertanya-tanya, kenapa coba, cowok secakep itu nggak mau pacaran...padahal masa depannya cerah, orang tuanya kaya raya. Dia bisa dapat gadis yang sederajat dengannya. Tapi kenapa dia lebih memilih menyepi di kost sederhana dan konsentrasi penuh pada pekerjaannya?. Misha kenal Caesar secara nggak sengaja, Jack, temannya di EC yang memperkenalkan mereka, waktu itu Jack naksir anak FK Southside dan mengajak Misha hunting, hehe, emang tuh si Jack, ada-ada saja...Jack juga minta bantuan Caesar, teman SMU nya, mereka sepakat mengadakan kencan bareng.
Jack dengan Misha, Caesar membawa Rena, cewek yang ditaksir Jack. Mereka berempat makan bersama di Mc D. Kencan itu sukses, Rena bersedia berkenalan dengan Jack, yah, Jack kan lumayan tampan dan pintar. Tapi, karena gugup, Jack menumpahkan segelas Es Cola ke kaus Misha, cewek itu basah kuyup dan kedinginan. Caesar meminjamkan jacketnya dan memberikan alamat pada Misha ke mana dia harus mengembalikan Jacket putih itu.
Misha muter-muter mencari kost-kostan Caesar, katanya ada di jalan Teratai, kan harusnya dekat dengan kostnya?. Berjam-jam gadis yang buta arah itu menelusuri seluruh pelosok daerah Pemancar Timur, saat kelelahan dan menyerah, Misha balik menuju kostnya. Besok sajalah dia SMS Caesar dan menyuruh cowok itu mengambil sendiri jacketnya.
---
Besoknya, Caesar sudah muncul di depan kostnya. Misha segera turun dan menemui cowok itu. “Sorry, kemarin aku udah coba nyari kostmu, tapi nggak berhasil, muter-muter aku nggak nemu jalan teratai nomor 5”. Caesar memandang Misha dengan tatapan aneh. “Kok kamu mandangnya gitu? Nggak percaya kalau aku udah berusaha?”, tanya Misha. Cowok itu malah terbahak-bahak. “Kostku tepat sebelah kostmu...itu...seberang jalan...oon...”. Misha mengerutkan alis nggak percaya. “Tuh, rumah putih, rumah kedua dari kanan...”, karena Misha nggak percaya, Caesar mengajak gadis itu mampir ke kostnya, mengenalkannya pada Andi dan Syarief, teman-temannya yang kost di tempat itu juga, Misha tertawa mengingat kemarin dia muter-muter sampai capek, ternyata alamat yang dicarinya tepat di sebelah kostnya, hanya terpaut jarak berupa jalan selebar enam meteran. “Habis, aku ini kan buta arah...hehe”, kata Misha.
---
Sejak itu mereka bersahabat dan bertukar pikiran. “Seperti Holmes dan Watson saja...”, kata Andi saat melihat Caesar dan Misha membahas kasus pembunuhan di suatu koran. “Yang membunuh pasti keluarga dekat, nih, pintu rumahnya kan nggak rusak, padahal waktu pembunuhan tengah malam, kalau pencuri pasti mengambil barang-barang dan merusak pintu, kalau ini hanya membunuh dan tak mengambil apapun”, Misha mengernyit. “Dilhat dari lukanya, sebenarnya tidak membuat orang itu tewas, kemungkinan dia setelah ditusuk, ditinggal begitu saja dan dibiarkan kehabisan darah...membunuh perlahan seperti ini mungkin karena faktor dendam...”, gumam Caesar. Beberapa hari kemudian di koran tertulis reka peristiwa yang persis dengan dugaan kedua anak itu. yang membunuh memang saudara kandung korban, kakak korban yang iri karena adiknya mewarisi keseluruhan harta orangtua mereka. “Tentu saja warisan itu diberikan pada anaknya yang baik, uangnya akan digunakan untuk memperluas usaha si anak, kalau diberikan pada kakaknya, bisa habis di meja judi, padahal si kakak sendiri sudah diberi warisan yang besar sebelumnya, tapi disalahgunakan...”. Andi nyengir,”Perkiraan kalian benar nih”. “Alaa, kalau kasus kayak gitu sih gampang pemecahannya, anak SMP juga bisa...”, kata Misha. Tak lama Misha dan Caesar menekuri layar laptop,melihat beberapa kasus mutilasi yang terjadi di Jepang dari internet. “Ini baru asyik...coba tebak Misha...pembunuhan ini acak lho, sulit dicari faktornya”. “Pembunuhnya kurasa seorang Psyco...nggak pandang bulu membunuh korbannya...memutilasi, menikmati perbuatannya...”. “Dan dari potongan tubuh ini, lihat...semuanya sempurna, pembunuhnya pasti tahu soal anatomi tubuh...”. “Jangan-jangan mahasiswa kedokteran ya...”, duga Misha. Andi menggeleng heran melihat keduanya. “Kalian tuh yang Psyco...”.
“Caesar tuh, nggak punya pacar ya?”, tanya Misha pada Andi. Cowok itu terbahak. “Kenapa? Kamu naksir?”. “Pengennya gitu, tapi sayangnya hatiku nggak bisa kubuat berpaling dari seorang Evan”, batin Misha. “Nggak juga, pengen tahu aja”, kata Misha. “Pengen tahu apa pengen tahu?”, goda Andi. “Pengen tahu”, jawab Misha pendek. “Ah, kisah lama...ada kejadian yang nggak mengenakkan waktu dia SMU, gitu deh...aku sih nggak tahu kisah seperti apa”. “Oh”. Misha nggak bertanya lagi, meski dia penasaran. Tapi...Jack pasti tahu, dia kan temen Caesar waktu SMU.
--
“Si tampan tak tercela, bagai Tydus yang hidup di dunia nyata...”, kata Jack separo mengejek, separo berpuisi. “Narsis abis, agak sombong karena kepintarannya, kau jangan tertipu Misha, wajahnya memang Innocent, tapi dia buaya lho”. “Tapi dia nggak punya pacar...dia emang sering godain cewek, dan sangat sering digodain cewek, tapi nggak pernah pacaran, itu yang membuatku penasaran, aku pengen ambil ide dari kisah dia, Jack, aku dah lama nggak nulis cerpen nih”. “Tapi, kalau Caesar tahu kisahnya kau tulis dan kirim ke majalah, bisa dimutilasi kau sama dia...”. “Kok?”. “Kisah ini sudah cukup melukainya tahu”. “Baiklah, nggak kukirim ke majalah, ok?”. “Janji?”. “He eh, cuman jadi inspirasi aja”.
Jack mengerdikkan bahu. “Kau mengakui kalau Caesar itu tampan?”. “Sangat! Tapi wajah tampan kekanakan, polos, bukan ketampanan pria dewasa, yah, pokoknya gitu menurutku”. “Imut ya, kalau cewek mungkin istilahnya gitu?”. “He eh...wajahnya malah kayak cewek, mulus, seperti nggak pernah tersentuh jerawat, bisa dibilang Bishounen...cowok cantik...kayak lukisan aja”.Jack terbahak. “Benar juga ya...terlalu tampan, jadinya cantik...”. “Eh, kok jadi bahas wajah dia sih...kisahnya dong”. “Iye..iye...”.
“Tapi, biang masalahnya memang wajahnya itu kok, waktu umur enambelas saja hampir semua cewek di SMU tergila-gila padanya, tapi dia selalu beralasan ingin konsentrasi dulu pada belajarnya, sampai suatu hari, ada temen sekelasnya menyatakan perasaan cinta yang dalam pada Caesar, nama gadis itu Vanya, Caesar...seperti biasa, nggak perduli, mau gadis secantik apa juga, dia cuek, dia tolak, pokoknya dia harus menjadi lulusan terbaik SMU kami dan ikut kelas unggulan, dia nggak mau pacaran dulu”. Jack nyengir, sedih. “Tak disangka, Vanya bunuh diri, mengiris pergelangan tangannya, Caesar shock, hanya karena sepatah kata penolakan darinya, seorang gadis dengan mudahnya menghilangkan nyawa. Begitu bodohkah sebuah cinta?. Apalagi Caesar lambat menyadari, dia sebenarnya suka sama Vanya...mereka satu kelas, satu grup belajar...yah, kau tahu sendiri kan, kalau si Caesar itu pandai dalam pelajaran, tapi otaknya lambat kalau mempelajari perasaan orang, makanya aku pernah nyindir dia, kalau jadi dokter itu harus punya HUMAN TOUCH sama pasien, Hear him, Undestand his feelings, Motivate his desire, Appreciate his Efforts, News Him, Train him, Open His eyes, Understands his Uniqueness, Contact him...and Honour him...argh! aku sendiri jadi gemes melihatnya...”. “Vanya meninggal?”. “Ya, telat penanganan, kehabisan darah, Caesar berminggu-minggu menyalahkan dirinya, secara fisik dan psikologis dia terluka parah! Sejak itu dia bersumpah, tidak akan berhubungan lagi dengan yang namanya cewek, tapi Tuhan membuat wajahnya terlalu indah, cewek kayak lalat merubunginya...”. “Kasihan...”. “Dia bisa dekat dengan seorang gadis, tapi tetap menjaga jarak...yah, semoga saja suatu saat dia bisa mencintai...ah, udah ya Misha...aku ada kelas nih...”. “Yoi...”. mereka lalu meninggalkan kantin.
Jatuh cinta. Caesar tak pernah jatuh cinta. tapi banyak yang jatuh cinta padanya. Wajahnya seolah menjadi hipnotis bagi semua yang memandangnya. Caesar biasa menolak cinta, teman-temannya di FK, suster dan perawat Southside International Hospital yang terang-terangan menyatakan cinta, bahkan beberapa mantan pasiennya masih sering menghubunginya lewat HP. Ah, cinta, menyesatkan, menyedihkan. Cowok itu menerawang, menatap keluar ruang kerjanya, taman di depan rumah sakit terlihat sejuk, banyak anak-anak bermain di sana, beberapa perawat menemani mereka. Lalu dia teringat Misha, kenapa hanya Misha yang membuat dia merasa nyaman, Misha kan cewek?. Caesar tersenyum, karena Misha tak mencintainya, sayang sih mungkin, sebagai sahabat. Cewek itu nggak pernah bersikap genit atau memujanya seperti yang lain. Misha beda, karena itu Caesar merasa nyaman, bercerita, bercanda, bertengkar, Misha seperti saudara baginya. Caesar anak tunggal, tak pernah merasakan berbagi dengan saudara, Misha yang membuatnya merasakan apa itu ‘berbagi’, terutama makanan, ah, dasar Misha, di otaknya memang hanya ada makanan!.
“STAT dokter Caesar, kamar 104 D”,terdengar panggilan tugas dari interkom, cowok itu mendesah, capek. Diliriknya jam di pergelangannya. Pukul sembilan pagi, dia di sini sejak sore kemarin dan belum beristirahat. Tapi tugas harus dilaksanakan. Dengan cepat dia melangkahkan kaki menuju ruang 104. “Prang!!”, saat Caesar membuka pintu, terkejut. Seorang perawat dengan wajah kalut memandang Caesar, makanan di baki tumpah ke lantai. “Aku nggak mau makan...aku mau kakiku...kenapa kakiku nggak bisa kugerakkan?”, gadis itu membuka selimutnya dan memaksa turun. Perawat cepat-cepat mencegahnya. “Jangan, nona Nadia...kaki anda belum boleh digerakkan!”, lalu perawat itu kembali memandang Caesar. “Dok? ...”. Caesar membaca diagnosis pasien itu. patah tulang. “Tenanglah, kau belum boleh bergerak dulu, kakimu patah, butuh waktu untuk kembali menggerakaannya, kalau kau seperti itu, keadaannya bisa tambah parah”, bujuk Caesar. Gadis itu sejenak terpana memandang dokternya. “Kamu dokter?”. “Yup’s”. “Nggak seperti dokter...”.
Caesar menahan kejengkelannya. “Tapi aku dokternya, titik. Sebaiknya kau berbaring lagi...”. “Nggak mau...aku mau keluar...”. “...atau kusuntik obat penenang?”. “Please...aku sudah bosan duduk terus di sini...bawa aku keluar...please...”, gadis itu memandang Caesar. Cowok itu melirik textboxnya. “Na...Nadia ya...sebaiknya kamu istirahat...”. tapi Nadia keras kepala. “Please..please...atau aku nekat nih...”, gadis itu menjulurkan kaki kanannya yang sehat, menyeret tubuhnya. “Terserah, kau sendiri yang rugi kalau kaki kirimu luka lagi...kau bisa lumpuh”, kata Caesar tegas. Tapi gadis itu nggak gampang digertak. “Nih...dokter, kau yang tanggung jawab ya...”. Caesar memaki pelan. “Wah, dokter bisa juga memaki ya...meski pakai bahasa Inggris aku tahu artinya lho”. Cowok itu sejak kemarin bertugas, belum istirahat, capek, lelah, dan sekarang ditambah pasien berulah! Ingin rasanya dia berteriak dan memaki gadis itu. ampun deh! Cowok itu diam dan menata pikirannya. Perlahan dia mendekat dan memeriksa luka gadis itu dengan seksama. “Bagian yang kutekan ini...apakah terasa sakit?”. “Ngg...lumayan...”. “Coba kau bergeser, kita lihat apa kakimu bisa ditekuk...”. gadis itu menurut. “Fibula ya...jadi lututmu tak apa-apa...baiklah...suster, tolong ambilkan kursi roda, antar dia jalan-jalan sebentar di taman, satu jam kurasa cukup”, lalu Caesar beranjak keluar. “Tunggu...dokter...”, gadis itu berteriak, Caesar menoleh. “Ya?”. “Kau saja yang menemaniku, aku ingin tahu keadaan kakiku, kau bisa menerangkannya,bukan?”. Caesar tersenyum, sinis. “Maaf, aku sedang banyak kerjaan...”. Nadia nyengir. “Cool...”.
Cowok itu menguap lebar. Rasanya seluruh tubuhnya remuk redam, matanya sangat berat, tapi tugas belum selesai, masih dua jam lagi, dia baru bisa pulang. Ah, oom Pandu pasti sudah masak, kemarin mereka belanja daging ayam, tapi tentu saja bumbunya kare...lalu Caesar teringat lagi sama Misha, si tukang makan itu juga pasti nggak nolak kalau diajak makan bareng, uh, hari ini kan hari kasih sayang, mau kasih kado apa ya buat Misha dan oom Pandu?. kemarin Misha sudah dapat sebatang coklat darinya, tapi kalau dikasih lagi juga nggak nolak, daripada ngasih mawar atau boneka, cewek itu lebih terharu kalau dikasih makanan. Misha emang aneh, kalau Pandu...topi, atau ah, kemeja saja...atau buku? Pria itu suka membaca...yah, ntar setelah pulang tugas dia mampir sebentar ke Middletown, sekalian refreshing, setelah itu: tidur deh sepuasnya!.
Dari jendela bisa dilihatnya seorang perawat membawa gadis yang tadi diperiksanya berjalan-jalan dengan kursi roda. Gadis itu asyik memandangi anak-anak yang sedang bermain. Siapa tadi namanya? Nadia?. Caesar termenung, sebenarnya gadis itu cantik, sangat cantik malah, wajahnya putih mulus, dinaungi rambut ikal tebal yang panjang, andai wajahnya tidak pucat dan darah mengalir di pipinya, pasti dia cantik. Nadia itu, terlalu pucat, apa mungkin karena berhari-hari berada di rumah sakit?. Dilihatnya Nadia asyik berbicara dengan seorang anak lelaki kecil. Ternyata gadis itu tidaklah kasar, tadi Caesar sempat jengkel melihat kelakuannya, membanting baki berisi makanan. Dia mengira gadis itu kasar, tapi saat dilihatnya Nadia berbicara dengan anak kecil, gambaran kasar itu lenyap. Tiba-tiba gadis itu menyandarkan tubuh di kursi roda dan melambai ke arah suster, sepertinya kesakitan, suster itu berlari mendekat dan memegang bahu Nadia, gadis itu terkulai. Melihat pemandangan yang tidak wajar itu, Caesar segera menuju pintu, menelusuri lorong dan berlari ke arah taman.
“Dia kenapa?”, tanya Caesar. Suster menggeleng. “Entahlah dok, tiba-tiba saja dia pingsan”. Caesar memeriksa denyut nadi gadis itu, disibaknya rambut ikal yang menutupi wajah Nadia, wajahnya pucat, berkeringat dan tubuhnya dingin. Caesar membopong gadis itu dari kursi roda dan membawanya ke kamar rawat. Suster Maya bengong. Ternyata Caesar itu kuat juga?. Dengan ringan membawa tubuh Nadia sampai ke kamarnya. Habis, wajah dokter Caesar itu seperti anak-anak, lembut, tapi ternyata dia seorang pria juga, batin suster Maya.
Caesar berdecak pelan, seharusnya dia menyadari dari tadi, ada yang tak beres dengan tubuh gadis itu. dipelajarinya beberapa catatan di textbox. Nadia menderita VSD, tipe VSD nya bukan bawaan dari lahir, mungkin sejak gadis itu beranjak remaja, Caesar mendiagnosis, mungkin sejak umur 14-15 tahun?. VSD adalah kondisi dimana terdapat lubang pada bilik kanan dan kiri jantung. Biasanya penyakit jantung turunan. Tapi menyumpulkan sendiri dia belum berani, kasus ini harus dipelajari dengan seksama, mungkin nanti dia akan berdiskusi dengan dokter Evanjendra. Caesar di rumah sakit itu posisinya belum sebagai dokter ahli, baru dokter umum, pembantu, jadi tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan kasus, tugasnya mempelajari dan mendiagnosis, dia sedang dalam masa belajar untuk menjadi dokter bedah, cita-citanya sejak dulu. Otopsi secara langsung dia sering melakukannya, tapi membedah manusia hidup dia belum boleh melakukannya, meski secara teori Pandu mengakui kehebatan Caesar, tapi praktek sesungguhnya tidaklah seperti dalam buku, tak ada satupun buku yang bisa menggambarkan dengan tepat ilmu itu, praktek secara langsung adalah cara terbaik mempelajari ilmu bedah.
Usianya baru 21, itu kadang yang menghambat Caesar, dokter ahli kadang memandang sebelah mata padanya, hanya memberi tugas yang umum saja, jadi pemuda itu belajar banyak dari Pandu, pria itu sempat menawarkan pada Caesar untuk mengikuti misi Pandu selanjutnya. “Di luar negeri, cowok seusiamu sudah membedah puluhan orang, kalau kau hanya belajar secara teoritis dan menunggu giliran, bakatmu sungguh disayangkan, setelah intership, bagaimana kalau kau ikut aku saja?”, Caesar sedang mempertimbangkan tawaran Pandu itu.
Nadia membuka mata perlahan, tubuhnya terasa sakit, dadanya sesak. Dilihatnya seorang pemuda duduk di sebelah tempat tidur dan asyik membaca catatan diagnosisnya. Dokter yang tadi pagi. “Dokter...”, Caesar tersentak, pasiennya sudah siuman. “Tetaplah berbaring, maaf, aku tadi lalai, aku tidak membaca catatan kesehatanmu dengan lengkap, kau menderita VSD”. Gadis itu nyengir. “Makanya kau dengan mudah mengizinkanku keluar, tapi aku senang, meski sebentar, bisa menikmati udara di luar”. “Sejak kapan kau tahu kau menderita VSD?”. Gadis itu menghela nafas. “SMP, harusnya aku mengikuti pertandingan basket nasional, tiba-tiba penyakit keparat itu...”. Caesar mengangkat alisnya. “Maaf dok, ucapanku agak kasar ya, tapi penyakit ini juga yang membunuh mama, selain keparat...kata apa lagi yang tepat? Aku jadi terjebak di rumah sakit dalam waktu yang lama, baru saja diperbolehkan pulang, tiba-tiba aku terserang lagi, naasnya, waktu itu aku sedang berjalan di tangga, menuju kamarku di lantai dua...tiba-tiba semua gelap dan...mungkin aku jatuh, kakiku patah, kenapa aku nggak mati sekalian saja...”. Caesar hanya diam. “Kau merasa kasihan padaku ya?. Aku tak butuh rasa kasihan, aku hanya ingin sembuh, salahkah aku punya keinginan itu?”.
---
Misha memandang wajah keruh sahabatnya dengan heran. Caesar hanya mengaduk-aduk spaghettinya tanpa minat sambil sesekali mendesah. “Oom, VSD itu...apakah tidak bisa disembuhkan?”. Pandu urung menyuapkan mie ke mulutnya. “Kasus baru Sar?”. Pemuda itu mengerdikkan bahu. “Tergantung seperti apa kasusnya, jarang yang bisa bertahan sampai dewasa, tapi tekhnologi pengobatan kan makin canggih, lagipula kalau orang itu punya motivasi hidup yang kuat, nggak ada yang mustahil...positive thinking and never give up adalah obat yang lumayan mujarab...ah, lebih baik kau makan dulu, kerja ya kerja, jangan bawa kerjaan ke rumah dong”. “Tapi pekerjaan kita kan menyangkut waktu dan nyawa seseorang oom...”. “Benar juga, tapi nggak biasanya kamu bawa kasus sampai rumah, apakah pasien ini istimewa sampai kau memikirkannya sejauh ini?”. “Semua pasien istimewa oom, hanya saja, orang ini hampir kehilangan semangat untuk bertahan”. “Human Touch...”, kata Misha tiba-tiba. Caesar memandangnya. “Kau ingat kata-kata Jack tentang Human Touch?”. “Hear...Understand...dan sebagainya itu...kau beri motivasi sama orang itu, dunia ini masih indah...”, kata Misha sambil mengunyah nikmat spaghettinya. Caesar nyengir. “Tanpa makanan, apakah dunia masih indah, Misha?”. Gadis itu memandang Caesar seolah Caesar bilang kalau kiamat datang besok.
“Thanks makanannya ya oom, thanks coklatnya ya Cesar...I love you all...”Misha pamitan sambil melambaikan tangan. Caesar menggelengkan kepalanya. “Kalau soal makanan aja, Love you...”, lalu ditutupnya pintu depan dan memandang Pandu. “Oom ada waktu malam ini?”. “Ya?”. “Caesar masih pengen diskusi banyak...”. “Tentang VSD? “. “Salah satunya, sejak dulu cita-citaku memang ingin menjadi dokter bedah, aku penasaran sama kasus ini”. Pandu memandang anak kostnya itu dengan bangga. “Oom sih senang saja diskusi sama kamu, ayo oom tunjukkan beberapa contoh kasus sejenis”.
“Apakah jadi dokter itu menyenangkan?”, Nadia memandang Caesar. Sengaja Caesar membawa gadis itu ke taman, sinar matahari pagi bagus untuknya, tapi Caesar harus hati-hati. “Tergantung”, jawab Caesar pendek. “Kok gitu?”. “Yah, aku belum pernah menangani kasus secara langsung, aku baru dokter umum, tapi, membayangkan aku mengoperasi pasien...mungkin akan ada kecemasan, seolah nyawa manusia berada di kedua tangan ini. Tapi seseorang bilang padaku, aku tak boleh takut menggunakan tangan ini, karena kedua tangan ini hanyalah perantara, tangan Nyalah yang menggerakkan tangan ini, aku hanya berusaha sebaik dan semampuku saja, karena Dia yang menjalankan semua”. “Tapi bagiku kau hebat, pekerjaan sebagai dokter itu, sesuatu yang membanggakan, bukan?”. “Mungkin, tapi berat...kau bisa lihat, bangunan rumah sakit ini sudah menyaksikan ribuan kisah, tapi terdiri dari dua bagian penting: kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan kesedihan. Sebagian orang keluar dari sini dengan perasaan senang, sebagian lagi sebaliknya...kami berusaha semampu kami, tapi tak semua kasus bisa kami tangani”. “Karena toh kalian manusia biasa...”, Nadia tersenyum sambil memandang langit. “Toh, kematian akan dialami semua orang, aku sudah pasrah...”. Caesar menepuk lembut bahu gadis itu. “Justru itu, karena kita tahu umur kita terbatas, maka kita punya motivasi, bukan?. Kita selalu memiliki harapan dan impian”. “Meskipun harapan itu kosong?”. “Harapan adalah kekosongan, Nadia...kita yang mengisinya...jadi, kau harus terus berjuang”. “Untuk apa? Untuk siapa aku berjuang?. Ayahku saja selalu sibuk, dia hanya bisa memasukkanku ke rumah sakit yang mahal, tapi tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku harus berjuang untuk siapa?”. Caesar tersenyum. “Untuk dirimu...”.
Hari demi hari terlewati, berganti minggu dan bulan, Caesar menemani Nadia, meski hanya menghiburnya atau sekedar menegok gadis itu di sela kesibukannya yang padat. Menggenggam tangan gadis itu saat rasa sakit menderanya, membujuknya meminum obat, menenangkannya saat Nadia merasa takut. Caesar kadang tak tahan melihat penderitaan Nadia. Dia dokter, sudah banyak melihat penderitaan pasiennya, terbiasa mendengar tangis dan jerit kesakitan, terkadang saat salah satu pasien meninggal, dia sedih, terlebih lagi kalau pasien itu memiliki hubungan emosional dengannya, sudah lama mengenal pasien itu dan menanganinya sehari-hari. Ternyata jadi dokter lebih berat dari perkiraannya. Terkadang dia menyepi di atap rumah sakit dan memandangi bintang di langit hitam yang melingkupinya. Bertanya-tanya, kemanakah orang yang sudah meninggal itu pergi?. Surga itu seperti apa?. Caesar jadi ingat Karen, gadis kecil penderita WPW itu bertanya padanya. “Dokter, surga itu seperti apa? Apakah Karen akan ke surga?”. Caesar mencoba tersenyum. “Ya, indah, di sana banyak bunga yang Karen bisa lihat, semua yang Karen inginkan ada di sana”. “Tapi Karen nggak mau ke surga, Karen mau tinggal sama mama, sama papa, sama nenek, eh dokter...mati itu sakit atau tidak?”. Bagaimana Caesar bisa jawab? Dia belum pernah mati. “Dokter, kalau Karen mati, bisa bertemu Tuhan, bukan? Dokter baik sama Karen, kalau Karen bertemu Tuhan, dokter mau Karen mintakan apa sama Tuhan?”. Aku minta supaya kau tetap hidup, gadis kecil, kenapa Tuhan membebanimu penyakit itu? seharusnya kau bermain ceria dengan teman sebayamu, tumbuh dewasa dan mencapai cita-citamu. “Bilang sama Tuhan, Dokter ingin Karen bahagia...”, Caesar mencium dahi gadis kecil itu dan membujuknya tidur. Beberapa hari kemudian, gadis kecil itu meninggal, operasinya gagal. Caesar tidak menangis, airmatanya sudah kering. “Tuhan...bagaimanapun, semua yang ada di dunia ini milikMu...terserah padaMu...kuasaMu tak ada yang bisa mencegah”.
“I will survive”, jawab Caesar saat Nadia menanyakan judul lagu kesukaan cowok itu. “Why?”. “Hidup adalah perjuangan...”. “Nyindir nih...”. “Heh? Nyindir siapa?”. “Yah, pasien yang suka mengeluh seperti aku ini”. Caesar tersenyum. “Ngerasa gitu ya Nadia...”. Gadis itu cemberut. “You must survive”, kata Caesar sambil mengacak rambut ikal gadis itu. “Ngomong sih gampang, coba kau yang jadi aku, kematian sudah di depan mata”. Caesar berdehem. “Hei, dengar, ini rahasia ya...kubocorkan dikit padamu...”, Caesar berlutut di depan kursi roda gadis itu. “Aku mungkin akan ke Palestina atau Afghan...kau boleh saja mati duluan, Nadia, tapi...hidupku juga tak semudah yang kau bayangkan...kau mati...aku juga bisa mati. Siapa tahu tertembak peluru atau kena bom di sana...atau...”. Mata Nadia terbelalak lebar. “Untuk apa kau ke sana?”. Caesar mengerdikkan bahu. “Belajar...mungkin, belajar untuk hidup, di sana aku bisa melakukan tugasku lebih fleksibel, di sini sudah banyak dokter handal, di sana membutuhkan banyak dokter, aku di sini merasa nggak berfungsi maksimal, hehe...”. Gadis itu mengernyit. “Kau ini, masa depanmu cerah, kau bisa dapatkan apa yang kau mau di sini, aku dengar bahkan kau dokter yang jenius, lulusan termuda Southside University, untuk apa cari mati ke Afghan?”. Cowok itu berdecak. “Wah wah, darimana kau dapat info itu...diam-diam kau menyelidiki aku ya?”. “Nggak sengaja, habis kau jadi pembicaraan para perawat di sini, mereka juga bilang, ayahmu memiliki saham yang besar di sini, kelak pasti kau yang jadi dokter kepala di sini, ah ya...kau anak tunggal, mana mungkin orangtuamu mengizinkan kau ke Afghan?”. “Entahlah, tapi pasti ada caranya....itu keinginanku setelah selesai intership, di sana tentu saja aku tidak mencari kematian, kematian akan datang sendiri, aku hanya mencari pengalaman, setelah menjadi dokter yang sebenarnya, aku akan pulang, membaktikan ilmuku untuk negaraku”. Nadia merasa dadanya sesak, tidak, ini bukan rasa sakit karena VSD, tapi karena terharu. Tangannya terulur menyentuh pipi Caesar. “Jangan pergi, kau tak perlu iri padaku karena Tuhan memberiku umur pendek, kau harus hidup lama, kau kelak jadi dokter yang hebat, banyak hal yang bisa kau lakukan dengan kemampuanmu...aku ingin kau tetap hidup, menggantikanku, melihat cahaya matahari, melihat bunga, melihat keindahan dunia ini...dokter, aku menyayangimu...”.Caesar menyambut tangan Nadia dan menggenggamnya. “Kalau kau menyayangiku, jangan ngomong sesuatu yang menyedihkan lagi, kau harus terus semangat, survive...”. “Oke...”. “Janji?”. “Baiklah...”.
“Penyakitnya sudah sangat parah, kita tak bisa melakukan apapun”, kata dr.Evanjendra pada Caesar. “Operasi...”. “Tidak bisa, kita butuh donor dan kau tahu...gadis itu tak bisa menunggu donornya lagi, lubang di jantungnya sudah terlalu besar”. “Tapi...”. “Dokter Caesar, ini bukan kasus yang bisa kau tangani, maaf, tapi untuk sekarang kita hanya bisa memberinya pereda rasa sakit”. Baru kali ini Caesar merasa kesal karena tak bisa menggunakan kemampuannya. Pandu pernah menangani cardiac temponade, beberapa Arrhytmia, baik Sick sinus syndrome, atrioventricular block total ataupun sinus bradycardia, tapi belum pernah mendapati kasus seperti Nadia. Caesar sudah mencari berbagai informasi tapi tak ada yang bisa memuaskannya. Dia tak ingin menyerah, tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya.
“Dokter...semalam aku bermimpi, aku menuju padang rumput yang sangat luas, aku melihat sebuah rumah kecil, meski hanya terbuat dari kayu, tapi rumah itu indah dan nyaman, apakah Tuhan sudah menunjukkan rumahku? Apakah aku akan tinggal di sana?. Aku jadi tidak merasa takut lagi, bukankah kematian akan dihadapi setiap orang?”, tanya Nadia. Caesar hanya tersenyum. Sedih.
“Aku ingin melihat kunang-kunang, dulu waktu kecil aku selalu melihatnya waktu berkunjung ke tempat nenek, cahayanya sangat indah, kau tahu...aku tak mau mati di rumah sakit ini, kalaupun aku harus mati...aku ingin pergi ke suatu tempat dimana ada keindahan, rumah sakit ini terlalu suram, aku bosan, dokter, aku tak mau menunggu maut di sini, kita keluar yuk, please...”, Nadia menggenggam tangan Caesar, nafasnya terengah dan badannya dingin. “Kau harus istirahat, kondisimu tak memungkinkan aku untuk membawamu keluar...”. Nadia menangis. “Untuk berapa lama, dokter?. Sekarang ataupun nanti sama saja, cepat atau lambat aku tetap saja mati, please, bawa aku keluar dari sini...”.
Caesar memandang dokter Evanjendra dan ayah Nadia. “Bolehkah aku membawanya pergi?”. Ayah Nadia memandang dokter Evanjendra sejenak. “Tak adakah yang bisa kita lakukan?”. Dokter itu menggeleng. “Kita hanya bisa menunggu”. Pria itu memandang Caesar. “Pergilah, kabulkan keinginan terakhir putriku, pergilah...”.
“Kita jalan-jalan sebentar ya...”, Caesar menahan kesedihan yang mendera hatinya, berusaha bersikap biasa saja pada Nadia. “Benarkah?”, gadis itu memandang Caesar penuh harap. “Ya, jadi, kau harus bersikap manis, jangan nakal...oke?”. Caesar membopong tubuh Nadia, mereka keluar kamar dan menelusuri lorong rumah sakit. Orang-orang yang berada di lorong dan ruang tunggu hanya memandang heran. “Mo kemana Sar? Gendong-gendong cewek cakep segala”, tanya David, rekannya seangkatan yang sedang membawa beberapa kantong darah, cowok itu mengernyit. “Mo nikah...!”, jawab Caesar sekenanya. Lalu tersenyum pada Nadia, gadis itu malah menatapnya berkaca-kaca.
“Servis spesial dokter Caesar hanya untukmu lho non, jadi jangan nangis ya, kuajak kau nonton kunang-kunang seperti keinginanmu...”, Caesar ngebut dengan civic putihnya, menuju pinggiran Southside, Bird Village, di desa itu pasti banyak kunang-kunang, karena untuk melestarikan beberapa spesies bangau dan burung sawah, petani di sana tidak diperbolehkan menggunakan insektisida. Tanpa insektisida berarti kunang-kunang bisa hidup. Tak sampai satu jam, mereka tiba di desa itu. Caesar membopong Nadia turun dan menyusuri jalan pinggir desa menuju persawahan. Mereka takjub melihat betapa banyak kunang-kunang di persawahan desa itu. “Lihat...indah sekali, bukan?”, Nadia tersenyum, Caesar membawanya duduk di sebuah gubuk kecil. Karena kondisi Nadia yang lemah, cowok itu menyandarkan tubuh Nadia di dadanya. “Kau bahagia, bisa melihat kunang-kunang itu?”, tanya Caesar. Gadis itu mengangguk, lalu menangis. “Jangan menangis dong...”, Caesar mengusap air mata di pipi gadis itu. “Maaf dokter...kunang-kunang itu...”. “Ya?”. “Se...sebenarnya itu hanya alasan, aku hanya ingin bersamamu saja, walau hanya sebentar...”. Caesar terhenyak. “Why?”. “Aku ingin bersamamu...”. “Bodoh, kau bahayakan nyawamu sendiri, kau tahu? Cuma karena ingin bersamaku?”. “Tapi, hanya dengan begini, kau sudah memberikan hal terindah, Caesar, boleh aku me..menggilmu seperti itu?”. “Terserah...”. gadis itu terbatuk sebentar, nafasnya sudah tak teratur. “Aku mencintaimu...”. Air mata...ah, ternyata air mata Caesar belum kering, cowok itu merasakan airmatanya luruh. Nadia merasakan air hangat menetes di pipinya, dirabanya pipi Caesar. “Jangan menangis dokter...tersenyumlah, kau tampan kalau tersenyum...”. Caesar memeluk gadis itu dan menyadari bisikan hatinya. “I love you too Nadia...”, gadis itu tersenyum, memandang Caesar sejenak lalu terpejam, menghembuskan nafasnya yang terakhir di pelukan orang yang dikasihinya. “Nadia...oh Tuhan, Tidak...Nadia...sayang, buka matamu...please...”, Caesar panik dan memeriksa denyut nadi gadis itu. Nadia, sudah meninggal. Gemetar menahan kesedihan, cowok itu memeluk Nadia erat. “Aku bahkan belum menyanyikan lullaby...tapi kau sudah tertidur,eh?”, bisik Caesar, hatinya remuk redam, tak berdaya. Manusia bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan.
I Knew I Love You (Part V)
Aku mencintaimu, jauh sebelum aku bertemu denganmu
Seperti menghidupkanmu dari mimpi-mimpiku
Di matamu kulihat...jalan menuju rumahku
Aku tahu ini terdengar gila
Tapi aku percaya...aku mencintaimu sebelum bertemu denganmu
Aku akan selalu menunggu, sepanjang sisa waktuku

“Jiwa manusia...DNA tak terbatas yang diciptakanNya...”, cowok itu memandang pepohonan yang ditiup angin sepoi –sepoi dengan tatapan lembutnya. Memakai lab jas putihnya, cowok itu terlihat lain di mata Misha. Ternyata, waktu memang mengubah semuanya, setelah sepuluh tahun lebih...bukan Evan kecil yang cengeng itu, dia sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. “DNA ya...aih, andai kita bisa memilih tempat dimana kita bisa dilahirkan ya...”, kata Misha. Evan mengeryit, “Eh? Kau kurang puas dengan hidupmu ya? Padahal kau anak paling bahagia yang pernah kutemui, kau kurang puas dengan keluargamu?”. Misha tertawa. “Enggak, bukan itu maksudku, justru karena Tuhan seolah...”, gadis itu menghela nafas, berat. “Seolah apa?”. “Seolah menempatkanku di sarang yang terlindung dan hangat, aku selamanya ingin menjadi anak burung, nggak usah dewasa, nggak usah punya sayap untuk terbang pergi, biar aku selalu di tengah keluargaku”. “Lalu? Apa maksudmu dengan tempat lain itu?”. Misha menghela nafas. Paru-paruku, kalau paru-paruku tak seperti ini dan tubuhku tak lemah, ternyata paru-paru berpengaruh menyangga hidupku, tubuhku tak berarti tanpa nafas, aku akan musnah, akan hilang dari ingatan orang-orang dan terhapus dalam sejarah. Tapi, mungkin takkan hilang dalam ingatan sebagian orang. Aku ingin memiliki tubuh yang sehat, kuat, hidup. Bernafas dengan bebas. “Sudahlah, nevermind”, kata Misha sambil memainkan kerikil di kakinya. “Gimana penelitian yang kau ceritakan itu?”, tanya Misha mengalihkan pembicaraan. “Oh, hanya sekedar imajinasi, tapi banyak hal tak terduga karena imajinasi bukan? Enstein dengan teori atomnya, Eddison dengan bola lampunya...”. “dan...?”. “Penelitian imunologi, menitik beratkan pada pengobatan sel kanker dan terapi gen, ah, kalau diimajinasikan gini, penelitian ini seperti apel Emas Afrodhite...”. “Eh?”. “Siapa yang memakan apel itu...”. “Akan hidup abadi?”. “Yup’s, tapi lebih tepatnya, bukan keabadian, tapi menunda...penuaan dan kematian”. “Haha...imajinasi setiap umat ya?”. “Misha...dengar, kau kan anak IPA, tentu kau sudah belajar, sel syaraf dan otot di otak manusia, juga jantungnya, bisa berumur sampai 120 tahun, sedangkan sel-sel lain di tubuh kita bisa bertahan 200 tahun, tapi karena berbagai alasan, rata-rata manusia mati sebelum mencapai umur maksimalnya, apalagi di zaman sekarang, dengan pola makan yang tak sehat...”. “Junk food...MSG berlebihan...”. “Ya, semacam itu, banyak menyebabkan mutasi sel seperti kanker atau...sudah banyak penyakit aneh, penyakit gen seperti AIDS...”. “Penyakit aneh..Ebola, SARS, Avian influensa...uih, mungkin akan lebih banyak lagi penyakit hasil mutasi karena Tuhan semakin bosan dengan ulah kita...”. Evan tertawa. “Tuhan...tahu yang terbaik”. “Teruskan ceritamu Van, aku agak tertarik”. “Selama beberapa tahun, FK Westside melakukan penelitian ekstensif untuk menemukan gen yang bisa mencegah terjadinya kerusakan sel dan infeksi, pada akhirnya kami, yah, entahlah, ini baru tahap awal, menemukan gen yang bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kami menamainya Eternal Generation, atau E.G. kecepatan EG luar biasa, bisa mengetahui bila ada antigen, menghancurkannya dan sementara mengembangkan dirinya sendiri, gen EG ini bisa berumur minimal 200 tahun, gen EG adalah kode sempurna yang dapat memerintahkan gen lain agar membuat pertahanan imunologi yang tak bisa ditembus”. “Hebat!...”. “Tunggu Misha, penemuan ini baru awal, kalau berhasil seperti mimpi yang menjadi kenyataan, eh?”. Misha mengernyit. “Mimpi yang sebenarnya, adalah menciptakan manusia kloningan”. “Wuah, hebat!”. Evan tertawa. “Ini mimpi, Misha, mimpi yang butuh banyak keajaiban, pertahanan EG mampu menghancurkan gen asing, tapi juga menghancurkan gen tubuhnya sendiri, bagai pedang bermata dua, karena itu, sel embrio yang lain tak ada yang bisa selamat, mereka hancur karena gen EGnya sendiri”.
“Menyenangkan, memiliki tubuh yang kuat...andai penelitian itu berhasil, makhluk yang tercipta pasti adalah makhluk beruntung, bisa sepuasnya menghirup udara bumi yang indah...tanpa rasa sesak”, pikir Misha. “Evanza Gozzali, Eternal Generation... EG...namamu juga berinisial EG ya?”. “FG...”. “Eh?”. “Prototype makhluk baru itu, kloning EG akan dinamai First Generation”. “Oh...”, Misha menghela nafas. “Jadi, dr.FG...Feel Good...kalau aku mati, kau buat kloninganku, apakah gen ku yang misalkan lemah, bisa diperkuat dengan EG itu, aku akan hidup lagi dengan tubuh yang sehat sempurna?”. Evan mengangkat alisnya. “Tubuhmu itu sudah sekeras batu, mau kau tambah EG? Itu sama saja menciptakan monster yang bisa menamatkan dunia...Messiah...yang bangkit menghancurkan dunia, well...aku nggak mau menempuh resiko menciptakan makhluk seperti itu...”. Misha nyengir. “Messiah? Imam Mahdi? Bukannya itu penolong umat manusia disaat dunia ini hampir hancur?”. Evan mengerdikkan bahunya. “Itu kan hanya istilah saja, tapi bagus kan...”. “Jelek...”.
Malamnya Misha menonton Vanilla Sky dan berpikir ulang tentang kloning. “Nggak seindah yang terbayangkan, ternyata...huh, tapi mengingat perjumpaannya dengan Evan di Westside University membuatnya cukup senang. Lalu dia berkhayal, Evan begitu kehilangan dia saat dia mati nanti, lalu cowok itu mengkloningnya. Misha nyengir sendiri. “Busyet...kayak cerita Science Fiction aja, tapi, kalau aku mati dan di kloning, apakah aku masih memiliki ingatan akan Evan? Ingatan saat aku bertemu dengannya waktu kecil, kemudian pertama kali bertemu dengannya saat kami terpisah puluhan tahun, lalu...masih banyak pertanyaan yang tak bisa aku tahu jawabannya”, pikir Misha. “Atau aku malah akan menjadi monster...”, Misha begidik. “Tuhan memberi batasan pada umur manusia, karena batasan itulah kami memiliki impian, untuk berjuang, menggapai mimpi-mimpi kami”.
Begitu banyak keajaiban, kehidupan yang diberikan Tuhan adalah keajaiban, seharusnya aku bersyukur. Memiliki tubuh ini adalah keajaiban, seperti apapun keadaannya, Tuhan sudah meminjamkan tubuh ini, otak yang keras kepala ini. Misha menangis. “Maaf Tuhan, aku telah tidak bersyukur, seharusnya aku bahagia, Kau begitu menyayangiku hingga aku masih Kau bolehkan bertahan, justru karena keterbatasan ini, aku harus bisa menggunakan waktuku seefisien mungkin”, Misha mengurai satu per satu sejarah hidupnya. “Aku sudah puas, Kau sudah memberikan yang terbaik, aku tidak akan protes lagi, akan kukembalikan tubuh ini ke tanah, sebagaimana dulu Kau menciptakannya dari tanah, jika Kau menginginkannya. Aku milikMu, terserah padaMu apapun yang akan Kau lakukan padaku...satu hal lagi Tuhan, aku selalu meminta banyak hal ya...tapi aku mau minta sesuatu lagi...aku ingin Kau jaga Evan ,jaga hatinya...bahagiakan dia, dia tuh kalau tersenyum indah sekali, berikanlah yang terbaik untuknya, Kau tahu....dia adalah hal terindah yang pernah Kau berikan padaku...terindah...”.
Red Boulevard (Endless Love )
Rangkaian setiap kenangan tentangmu yang ada di benakku
Adalah hal terindah yang kumiliki, aku tak ingin melupakanmu...
Jadi, biarkanlah aku memiliki semua kenangan ini, izinkan aku memilikinya
Meski jarak, batas ruang dan waktu memisahkan
Bahkan jika perasaan ini takkan pernah tersampaikan
Izinkan aku untuk terus berjalan, melewati jalan ini, menyusurinya...
Boulevard of (....) dreams...

“Pemuda itu kan menderita kanker otak, kalau nggak dioperasi dia mati, kalau dioperasi, dia hanya bertahan beberapa tahun, itupun dengan ingatan yang semakin melemah karena syarafnya melemah, padahal pemuda itu tak ingin melupakan kekasih yang dicintainya, dia menuliskan nama gadis itu dan kenangan tentang mereka di dinding kamarnya, kelak kalau dia mulai kehilangan ingatan, dia akan membaca tulisan-tulisan itu...ih, sedih ya ceritanya...”, Misha menunjukkan buku berjudul Daddy Long Legs miliknya pada Jack. “Kasihan pemuda itu, menderita banget sih, haha...”, Jack nyengir. “Betapa beruntungnya pemuda itu, andai kita bisa nge delete ingatan yah...”, Misha dan Jack memandang Caesar yang terduduk lesu sambil memainkan gelas Coffemixnya, lalu cowok itu beranjak pergi meninggalkan temannya. “Sorry, aku ke rumah sakit dulu, kalian terusin aja ngobrolnya”, kata Caesar sambil melambai. Mereka sedang berada di cafe, ngerayain ultah Jack, tapi tak disangka malah wajah muram Caesar yang mereka temui. “Dia kenapa sih?”, tanya Jack pada Misha. Gadis itu mengerdikkan bahu. “Dia itu mirip Ethan Hunt, nyari info darinya kayak nyari jarum di lautan...sejak seminggu lalu dia jadi aneh gitu, kayak baru patah hati”. Jack mengernyit. “Caesar? Patah hati? Muahahaha, mematahkan hati sih mungkin...”.
“Gimana denganmu?”, Jack memandang Misha. “Eh?”. “Orang yang kau suka itu, gimana kabarnya?”. Misha menghela nafas. “Yah, gitu deh, terkadang aku SMS dia, asal SMS, kata-kataku nggak penting banget, jadinya dia nggak balas, mirip Caesar ya, kalau SMS kita sesuatu yang nggak penting banget nggak dibalas, ah, sebel! Tapi mau gimana lagi? Udah kadung sayang”. Jack manggut-manggut. “Jebak saja dia Misha...bikin dia hamil, ntar kalian khan bisa nikah...”, Misha menendang kaki Jack. “Sialan, mana bisa aku bikin hamil seseorang...oon!”. “Lho, kamu ini khan cowok...kukira yang kamu taksir itu cewek, huahaha...”. “Nggak lucu deh...”, Misha menggerutu. “Kamu sendiri, gimana kabar Rena?”. Jack mengerdikkan bahu. “Aku ini khan Casanova sejati...rugi kalau nggak ganti cewek setelah sebulan jadian”. “Ngomong aja udah putus en kamu patah hati, huahaha”. “Ngebales nih ye?”.
Malamnya, Jack mengajak Misha nonton. “Full action, kamu pasti demen deh...”, kata Jack berpromosi. Lalu dengan antusias didorongnya Misha masuk ke bioskop. Sebenarnya Caesar juga diajak, tapi cowok itu lagi sibuk di rumah sakit. Misha sih asyik aja, nonton gratis ini, pikirnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia menyesal setengah mati. Jack bohong, bukannya film action tapi film horor, Misha kan anti banget sama film gituan. Hampir tiga jam penuh dia jejeritan sambil nonton. Mau nonton takut, nggak nonton penasaran sama jalan ceritanya. Setelah keluar gedung bioskop, ditendangnya kaki Jack. “Dasar gila! Aku khan sudah bilang nggak suka film horor...sialan! ntar malem pasti nggak bisa bobo’...mana anak-anak lagi pada pulang, aduh mak...”. “Bobo’ sama aku gimana?”, tanya Jack. “Langkahi dulu mayatku...”, gerutu Misha. “Ngomong soal mayat...film tadi lumayan serem ya...”. “Jack! Diamlah kalau nggak ingin mulutmu kusemen”. “Idih...gitu aja ngambek, ya udah, lain kali film action beneran deh”. “Nggak ada lain kali, aku dah kapok nonton sama kamu”. Mereka menyusuri jalan di sekitar Middletown, menunggu bus di halte untuk pulang. Misha melihat jam di pergelangannya. “Udah jam sembilan lebih...mampus gue, moga tuh kost belum dikunci!”.

Patah hati...Misha tersenyum. “Yah, mungkin sebenarnya sejak lama aku sudah merasakan patah hati, tapi hatiku selalu menyangkalnya ya?”. Dadanya terasa sesak. Lagi. Cepat-cepat dia menekan bel pintu, penjaga kost membukanya. Tergesa dia masuk kamar dan membaringkan tubuhnya. “Apakah tubuh ini sudah terlalu rapuh? Apakah perasaan yang tertampung di dalamnya sudah tidak bisa lagi termuat? Padahal aku sudah mengeluarkan semua yang aku ingat di dalam cerita-ceritaku, meski sebagian orang akan menganggapnya sampah dan tak menarik untuk dibaca, karena kisahku ini hanya kisah biasa yang dialami semua manusia, tapi buatku, inilah jalan, agar memoriku tidak lenyap saat aku mati”, Misha tersenyum menatap langit-langit kamarnya. “Mati...”.
“Seperti game yang biasa kau mainkan, setelah menamatkan satu level, akan ada level lain yang tingkatannya lebih sulit, kau harus melewatinya...terus...dan terus, hanya Tuhan yang tahu seperti apa kehidupan akan berakhir, tapi kita hidup tidak hanya di dunia saja, bukan? Kematian adalah babak baru...level selanjutnya setelah dunia ini...”. diingatnya kata-kata Caesar beberapa hari yang lalu. Aih, anak itu, sifat kanak-kanaknya seolah lenyap, sekarang dia sudah seperti pria dewasa, cara ngomongnya pun agak berubah. Misha penasaran, apa yang mengubah cowok itu ya?. Caesar juga sudah memutuskan mengikuti Pandu setelah intershipnya selesai.
---
Misha berlari, terus berlari sampai kakinya mati rasa, lelah, sangat lelah, tapi dia tak bisa menemukan apa yang dia cari, saat hampir terjatuh, dia melihat papan petunjuk jalan berwarna hijau. “Seratus kilo meter lagi, busyet!”, gadis itu memaksa paru-parunya bekerja. Ada apa di depan sana? Apakah sesuatu yang dia cari?. Lari...larilah Misha, selagi kakimu masih bisa kau gunakan, selagi nafasmu masih tetap ada, berlarilah, temukan apa yang kau cari!. Terengah dia melihat sebuah jembatan di depan sana. “Ah!”, Misha tertatih berjalan. Ada seseorang di sana. Siapa? Siapa orang itu?. Dilihatnya sesosok tubuh jangkung bersandar di bahu jembatan. Misha memicingkan matanya. Cowok itu menoleh ke arahnya, tersenyum. Misha memandangnya, dan membalas senyuman itu, lalu menunduk, memegang kakinya yang terasa sakit. “Ternyata kau...”, Misha mengatur nafasnya, mencoba berdiri dan berjalan perlahan ke arah orang itu. pemuda itu hanya tersenyum lembut dan mengangkat tangannya, hampir menyentuh dahi Misha. Gadis itu takjub, semua rasa lelah dan sakit di kakinya hilang. Cowok itu memandangnya, seolah mengatakan agar Misha mengikutinya. Gadis itu memandang dengan sedih, senang, sepertinya segala rasa yang ada di hatinya tercampur.Misha memandang ke arah depan, jembatan panjang itu seolah tak berujung, pemuda itu melangkah dan Misha berjalan di sisinya. Sejenak gadis itu ragu dan berhenti, pemuda itu memandangnya lembut. “Tovarishch, my tovarishch...?”, tanya Misha pemuda itu tersenyum dan seolah berkata. “Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja...ayo, pergi...”. Misha tersenyum, lega, dan mengikuti langkah pemuda itu, menyusuri jembatan panjang yang seolah tak berujung itu.
Salam Terakhir (Sherlock Holmes)
Cowok itu memandang foto gadis yang sedang tersenyum cerah, di sebelah foto gadis itu ada sebuah foto cowok yang wajahnya sangat mirip dengan cewek tadi. Misha dan Mikha. Mikhail, saudara kembar Misha sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit yang sama. Keduanya kembar identik, prematur, kondisi paru-paru mereka lemah, kurang sempurna saat mereka lahir, Mikha meninggal beberapa tahun lalu, Misha bisa bertahan, tapi flek menambah parah keadaan paru-parunya. Evan berusaha keras menahan air matanya. “Terimakasih sudah datang, Misha pasti senang”, seorang wanita menepuk pundak Evan, ibu Misha. Evan mengangguk, tak mampu berkata kata. “Misha dan Mikha pasti sudah bertemu, Misha tak sendirian di sana, dia pasti bahagia...dia kan sangat merindukan Mikha...”, wanita itu menangis, Evan memeluknya. “Sudahlah tante...Misha pasti nggak mau tante sedih...”. Wanita itu mengusap air matanya. “Aih, maaf ya Evan, habis, kalau tante ingat bocah bandel itu, rasanya...ah, rumah ini bakal sepi tanpa dia. Evan tersenyum. “Ardhan dan Aidan juga Arfan mana tante?”. “Ke makam, sebentar lagi juga pulang”.Kedua kakak kembar Misha dan adik mereka sedang bersama ayah mereka mengunjungi makam Misha dan Mikha, setiap Jum’at pagi mereka melakukannya. “Boleh saya ke sana?”, tanya Evan. Wanita itu tersenyum. “Tentu saja, Evan, menginaplah barang sehari, banyak yang ingin tante tunjukkan padamu”. “Baiklah...”.
---
Evan memandang kamar Misha, hitam dan putih, khas cowok, Evan jadi tersenyum. “Aku ini kan cowok Van, temanku kebanyakan cowok, dan mereka menganggap aku satu spesies dengan mereka...haha...”. ibu Misha ingin Evan memeriksa laptop Misha. “Katanya, hanya kau yang bisa membukanya, kau lihat saja apa yang dia tinggalkan, tante tidak akan ikut campur, biar hanya kau dan dia saja yang tahu...oke? nah, tante tinggal dulu ya, nanti kalau makan malam sudah siap akan tante panggil”. Pemuda itu mengangguk.
“Password?”. Evan menggaruk kepalanya. Apakah mungkin...namaku? Evan mencoba. Ternyata benar. Namanyalah yang digunakan sebagai password laptop itu. saat melihat wallpaper laptop itu, Evan tersenyum. “Wah, fotoku yang ini kan jelek Mis, ada-ada saja kau ini”. Evan memeriksa setiap drive. Tak ada yang istimewa. Program biasa. Tapi Misha kan suka menyembunyikan sesuatu. Evan memeriksa lebih teliti. Di drive D yang iconnya sudah diubah untuk menyesatkan pemakai, ternyata ada sebuah file atas namanya. Banyak foto-foto yang telah dikumpulkan Misha. Dari Southside sampai Westside. Bangunan tua dan modern, seluruh sudut kedua kota itu dipotret berdasarkan sudut pandang Misha. Foto-foto yang seolah biasa saja, tapi inilah kenangan, memori. Jalan-jalan ternama, museum, toko, lampu jalanan khas Southside, langit Southside di sore hari, sungai-sungainya, pantai, keramaian kota dan sudut sunyi di pegunungan Southside. Lalu folder yang berisi tulisan-tulisan Misha. Evan membukanya, banyak sekali cerpen yang ditulis Misha. Ada juga Diary, dari dia SD sampai Kuliah, dasar Misha, kau takut dunia melupakanmu hingga kau mencatat semua ini ya?. Evan membaca semuanya. Saat dia membaca file terakhir, airmatanya tak bisa tertahan lagi. Baris demi baris kalimat seolah dibacakan langsung oleh Misha. “Dasar bodoh...”, gumam Evan. Cowok itu tersenyum, sedih. “Perasaan manusia...cinta...apakah cinta itu?”, cowok itu berdecak. “Dunia ini penuh tekhnologi yang bisa menganalisis partikel terkecil sampai jagat raya, tapi misteri tentang perasaan manusia tetaplah menjadi misteri terbesar...bukankah begitu, Misha?”.
Untuk :Evanza Gozalli
Di: Westside University, Oldtown 07 07 07

Assalamualaikum...
Bagaimana khabarmu hari ini Evan, kuharap kau selalu sehat dan melihat dunia ini begitu indah. Sahabatku yang baik, sebenarnya ada satu hal yang sudah lama ingin kukatakan padamu, suatu kejujuran yang sangat ingin kuungkapkan padamu. Mungkin selama ini kau tak pernah tahu, tapi aku merasakan, sebenarnya kau tahu perasaanku ini, tapi kau tak ingin mengetahuinya. Ya Evan, aku mencintaimu. Mungkin kau tak percaya, karena aku sendiripun tak percaya. Kau masih ingat apa yang kita bicarakan saat terakhir aku menemuimu di Westside, bukan? Cowok yang aku maksud itu kamu. Maaf Evan, bukan maksudku menghianati persahabatan kita ini, tapi perasaanku tidaklah tercipta saat aku bertemu denganmu dua tahun yang lalu, tapi jauh sebelum itu, saat kita masih kanak-kanak, saat kau pertama kali berdiri di depan kelas dua SD Tunas Bangsa. Aku mencintaimu, jauh sebelum kita bertemu untuk yang kedua kalinya. Lucu, emosional dan secara rasional kau mungkin tak mempercayainya, tapi itulah kenyataannya. Aku tak berani mengungkapkan kepadamu karena kau telah meminjamkan kepercayaanmu padaku, suatu kepercayaan itu, lebih rapuh dari cinta. Karena aku tak ingin kepercayaan yang telah kau berikan padaku itu hancur, aku rela melindunginya dengan tameng yang kusebut cinta. Biarlah cinta itu hancur berkeping-keping asalkan kepercayaanmu padaku sebagai seorang sahabat yang baik tidak hancur. Sebenarnya, aku tak ingin mengungkapkan semuanya padamu, biarlah perasaan ini terkubur dan lebur bersama tulang-tulangku, menyatu dengan tanah yang akan menyelimutiku, tapi saat aku berpikir lebih dalam lagi, aku ingin kau tahu kejujuran ini. Supaya aku tenang saat meninggalkanmu. Kau sahabat terbaik yang kumiliki, kau tahu itu kan...
Aku pun tahu, suatu saat nanti kau akan menjadi orang yang hebat, andai aku bisa melihatmu di saat-saat itu, tentu aku sangat bahagia, tapi aku harus pergi, sobat. Kau mungkin akan sedikit sedih ya, tapi tanpaku, dunia ini masih indah kok, jadi kau jangan terlalu sedih, oke?. Tetaplah tersenyum, survive, semangat! Semangatlah! Lakukan yang terbaik yang kau bisa untuk hidupmu. Evan, aku hanya bisa memberimu semangat saja, selebihnya kuserahkan padamu, hehe. Oh ya, terimakasih banyak ya, selama ini kau selalu memberiku semangat dan meredakan ketakutanku, hal kecil yang kau lakukan adalah hal besar yang sangat berarti buatku. Nah, kayaknya sudah cukup ya, kau ini kan orangnya cerdas, IQ kamu tiga digit, jadi aku harap kau mengerti dengan jelas apa inti suratku ini. Tentang pertanyaanku “Mengapa Tuhan menciptakan cinta tapi tak mengizinkan kita pacaran?”. Biarlah kutanyakan langsung pada Nya. Hehe...bercanda...! Evan,doakan aku ya, semoga aku bisa bertemu dengan Nya. Aih Evan, sebenarnya aku sangat takut, tapi, tapi semua orang pasti melewatinya. So long My Friend, kamu harus bahagia, aku ingin kamu bahagia.Evan, aku akan merindukanmu...

Southside, Middletown
Mischarrel Ayuttha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar