Kamis, 20 Agustus 2009

PART I FIRST LOVE

First Love

I ask God for a rose
He gave me a garden
I ask God for a drop of water
He gave me on ocean
I asked God for a best friend
And He gave me....You...

“From the first moment when I hear your name, something in my heart came alive”Remembering You: Steven Curtis Chapman
Cinta... Aku sebenarnya tak tahu...
Apakah sebenarnya cinta itu
Tapi jika perasaanku ini bukanlah cinta
Maka tak ada yang namanya cinta di dunia ini
------
Kupandang langit kota tua ini, begitu biru, begitu cerah. Meski jacket hitamku dan celana panjangku terselimut debu, tubuhku terlalu lelah untuk berjalan, tapi hatiku tenang. Dia sudah ada di sampingku. Menemukanku. “Tersesat?”, senyumnya mengembang, Tuhan, Kau tahu hatiku tak bisa berbohong, hanya berada di sampingnya saja aku merasa tenang, debaran di jantungku sepertinya menguat, bereaksi merasakan degup jantung makhluk di sampingku. “Begitulah, kota ini lumayan menyesatkan, jalur busnya lumayan membingungkan, padahal kau tahu, penyakit lamaku...”. “Buta arah...muahahaha....”. Entah kenapa, derai tawanya menular padaku. Ah, senangnya, akhirnya aku sampai juga di kota ini, melihat-lihat bangunan tua dan menyusuri sejarah di dalamnya.
“Bagaimana kabarmu?”, tanyanya. “Yah, seperti yang kau lihat, bagaimana menurutmu?”. Dia menopang dagunya dengan tangan dan melihatku sejenak. “Kurasa kau baik-baik saja...”, kami berjalan memutar alun-alun dan duduk di taman kota. Sejenak menikmati keindahan bunga mawar yang mulai mekar dan terhanyut dalam pikiran kami masing-masing. “Something wrong?”, suaranya mengagetkanku. “Eh?”. “Tampaknya kau seperti sedang memikirkan sesuatu...gimana kuliahmu?”. “Yah, hampir berakhir, bentar lagi wisuda...”, jawabku acuh. “Wah, enak nih, tinggal melamar, atau dilamar, hehe, pilih yang mana?”, tanyanya sambil tertawa, duh, giginya itu lho, aku iri, betapa rapinya gigi itu berbaris, putih bersih, seperti senyum cowok di iklan pasta gigi saja. Aku berfikir sejenak. “Ya...kalau Valentino Rossi melamarku, aku nggak nolak kok...”. “Busyet...seleramu tinggi ‘kali...”. “Begitulah, seleraku memang ‘tinggi’ hehe...”, jawabku sambil menghela nafas. Ngerasa nggak ya ni orang...
“Ih...ih...dari nada bicaramu, kayaknya ada sesuatu deh...kamu udah ketemu tambatan hati ya? Cie...udah dewasa dong sekarang...tell me about him...”. Aku memandangnya lalu tertawa. “Kau ini ada-ada saja...ehm, beneran nih mau tahu seperti apa ceritanya? Panjang dan lama lho...”. Dia pura-pura melihat jamnya. “Konsultasi setiap satu jamnya kuhitung sepuluh ribu, tarif antar temen, gimana?”. “Busyet...mahal amat...”. “Itu sudah murah, tahu...udah termasuk diskon 20%”. Aku berdecak. “Baiklah...baiklah, nah, dengarkan ya nak, ceritaku ini baik-baik...”.
---
“Aku, yah, kisahku mungkin terdengar aneh, mulai dari mana ya, aku jadi bingung...”, aku menggaruk kepalaku. “Dari kau kenalan dengannya, dimana dan bagaimana...”. Aku menghela nafas. “Wah...kisahku nggak seperti itu...ini mungkin kedengarannya aneh bagi kamu, tapi, aku mencintai orang ini jauh...jauh sebelum aku bertemu dengannya...”. “Eh?”. “Begini...kau kan tahu aku ini suka menulis cerpen?”. “Yup’s”. “Setiap menulis sebuah cerita, tentu kubayangkan dulu, seperti apa tokohnya, bukan?. Sejak aku SMU, aku membayangkan seorang cowok, sesuai imajinasiku, semakin lama, bayangan itu berkembang semakin nyata. Seperti seorang seniman, yang jatuh hati pada karyanya sendiri. Dari posturnya, wajahnya, rambutnya, pakaian yang dikenakan,...ah, pokoknya semuanya deh...dari suatu bayangan abstrak menjadi manusia yang sesungguhnya”. “Wow, jadi, sekedar pacar khayalan?”, tanyanya. Aku mengerdik. “Mulanya begitu...kukira aku hanya bisa menghayalkan saja tentangnya, betapa lembutnya dia, baik hati dan penuh kasih...yah, kayak gitu lah, tapi pada suatu hari, saat aku dalam perjalanan pulang, waktu itu aku berada di dalam bus, aku nggak sengaja melihat keluar jendela, eh, di terminal Westside..kau sering melewatinya kan?”. “He-eh..”, “Aku melihat seorang pemuda, dia sedang berdiri, bersandar di tembok...dekat pertokoan terminal, kau bisa bayangkan...kan kelihatan tuh kalau dilihat dari jendela bus, aku benar-benar kaget...pemuda itu persis sekali seperti tokoh dalam cerpenku, aku terpana, eh, waktu busku melaju, aku tersentak, ingin sekali aku menemuinya, tapi aku hanya bisa memandangnya saja, bus perlahan menjauh dan aku merasa sangat sedih...seperti baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga”. Tak sadar aku menghela nafas. “Ceritamu masih belum menarik”, katanya. “Iya...sabar dunk,menariknya setelah ini”.
“Seminggu kemudian, aku mengerjakan tugas pajak di tempat temenku, karena dia cowok, pintu kamar kami biarkan terbuka dan aku...eh...nyontek kerjaannya. Lagi asyik nyontek, tiba-tiba sebuah buku tipis berwarna..apa ya, agak pink mungkin, jatuh menimpa kepalaku, sambil menggerutu kuletakkan buku itu di depanku, hanya kubuka covernya saja, ternyata cuma buku kenangan SMU, aku cuekin dan mulai nyontek lagi, hehe. Tiba-tiba saja angin bertiup dari pintu dan lembar demi lembar selanjutnya buku itu terbuka. Kau tahu, seraut wajah lembut mengejutkanku”. “Ada hantu di buku itu?”. “Enggak...dengerin dulu dong...”. “Iye...iye...terusin...”. “Aku ngeliat wajah cowok yang di terminal, nggak salah lagi, wajah yang selalu ada di pikiranku, saat kubaca huruf demi huruf, namanya terasa nggak asing, tanggal lahirnya...lho...kok tempat dia lahir sama denganku ya...saat itulah aku menyadari sesuatu, mungkin ini rencana Tuhan atau apalah...yang pasti aku merasa senang, sedih, campur aduk...ternyata ada juga kisah yang diatur seaneh ini...ternyata aku memang sudah mengenalnya jauh sebelum ini”.
“Aku bertanya pada temanku itu, apakah dia kenal dengan cowok yang ada di buku kenangan itu?. temanku mengangguk. ‘Oh, ini...anaknya tinggi-jangkung, orangnya ramah, baik hati, dia suka ngedengerin R&B...’. ‘Udah punya pacar belum’ tanyaku waktu itu, temenku hanya mengerdikkan bahu. ‘Nggak tahu ya, tapi kayaknya enggak deh, anaknya kan alim...’ namanya juga cowok, dia nggak bertanya lagi. Tapi aku terus berusaha mengumpulkan informasi tentang orang ini, aku juga nggak tahu, apa ini yang disebut naksir atau apa, aku terus mencari tahu tentangnya”.
“Suatu hari, tanpa sengaja aku mendapatkan nomor HP cowok itu, bicara dengannya, mendengar suaranya, sepertinya dia sudah 80% menjelma,dari suatu bayangan ke wujud nyata. Kau tahu, rasanya seperti sebuah keajaiban. Kami saling SMS, kirim kabar...aku tahu dia kuliah di mana. Aku ingin sekali bertemu dengannya, sangat ingin. Tapi aku tak bisa”. “Kenapa?”. “Entahlah, aku ingin dia yang menemuiku, aku ingin dia yang menemukanku, bahkan, saat dia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit, aku tak mampu melangkahkan kakiku untuk menemuinya, padahal hatiku begitu hancur, khawatir, kalau aku tak ingat janjiku pada ayahku untuk menyelesaikan studi sebaik mungkin, sudah kutinggalkan ujianku dan terbang menemuinya. Malamnya, aku bermimpi berada di rumah sakit, melihat keadaannya, lukanya, memegang tangannya...dia tertidur karena obat penenang”.
“Aku sadar, aku gila...suatu hal yang aneh bukan, menyadari kegilaan yang terdapat di dirimu”. “Entahlah...teruskan, ceritamu mulai menarik”. Aku menahan airmataku, mencoba tersenyum. “Yah, suatu hari ada seorang teman perempuan datang ke tempatku, dia menceritakan banyak hal tentang cowok itu. dia bercerita, kalau cowok itu sedang naksir kakak kelasnya yang alim dan cantik. Wah, bisa kau bayangkan perasaanku?. Tapi mungkin itu peringatan Tuhan agar aku tak terlalu berharap banyak. Lagipula bisa mengenal cowok itu saja sudah cukup bagiku. Meski cinta yang tertulis di lembaran kisahku sangatlah aneh, aku tetap saja bersyukur, meski mencintai dengan cara yang seperti ini, aku merasa senang, inilah kisahku yang Tuhan tuliskan. Kupikir aku akan menyimpannya baik-baik, andai perasaanku tak tersampaikan, aku yakin, doa-doaku akan tersampaikan. Aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin bertemu dengannya”.
“Sampai suatu hari, dia berkunjung ke rumahku, Tuhan, apa maksud semua ini? Apakah kisah ini belum berakhir?. Aku merasa, hari itu sangat indah, seperti mimpi saja, bisa bicara langsung, memandang wajahnya dan...kau tahu...dia persis seperti cowok yang kugenggam tangannya dalam mimpi, apa itu bukan suatu hal yang aneh? Aku jadi takut kalau aku menjadi terobsesi atau apalah...”. aku menatap rumput di kakiku. “Memangnya kau belum pernah jatuh cinta...eh, maksudku, waktu SMP, SMU atau kuliah kan kau berinteraksi dengan banyak orang, apa nggak pernah sekalipun kau jatuh cinta selain pada cowok khayalan ini?”, tanya dia sambil menyentuh bahuku. Aku berpikir sejenak, mengingat. “Ehm, kalau naksir kakak kelas yang pandai atau gimana sih pernah, tapi kalau jatuh cinta...aku nggak tahu, aku tidak pernah memikirkan orang sampai sedalam ini kecuali sama cowok khayalanku itu, pernah sih waktu SMU naksir cowok, tapi entah kenapa sepertinya hatiku selalu memikirkan cowok khayalanku ini lebih kuat, jadinya jomblo deh seumur-umur, tapi karena temanku buanyak...jadi nggak ngerasa jomblo deh...”. “Berarti kau ini bodoh ya...”, katanya. “Kenapa?”. “Karena kau setia pada orang yang bahkan perasaanmu padanya saja dia nggak tahu, eh, sebaiknya kau katakan saja padanya, kan sayang tuh, perasaan cinta yang begitu besar dan murni kau sembunyikan terus di hatimu”. “Inget, dia sudah naksir cewek lain...”, kataku. Dia mengernyit. “Yah...nggak papa...namanya juga usaha...hehe...”.
“Menurutmu, lebih baik dicintai atau mencintai?”, tanyaku. “Saling mencintai”, jawabnya pendek. “Kalau kau mencintai orang tapi orang itu cuek sama kamu?”. “Cari yang lain, masih banyaaaak orang yang bisa kita cintai, cinta buatku Universal, kau cinta sama ibumu kan, ayahmu...saudara-saudaramu, bahkan anak-anak jalanan itu...sedikit cinta dan perhatianmu bisa sangat berarti buat mereka”. “Susah ngomong sama orang sosialis kayak kamu, gak ada romantis-romantisnya...”. dia tertawa mendengar gerutuanku. “Maaf...maaf...”,lalu dia diam sambil memandangku. “Oke, kudengarkan, non”. “Kamu udah pernah mencintai?”. “Lho...lho...introgasinya kok jadi aku...”, gerutunya “Ih, jawab dulu pertanyaanku...”. dia hanya diam, lama, sampai aku nggak sabar lagi. Matanya yang hitam terlihat semakin kelam di balik kacamata itu. Apa dia bisa melihat hatiku?. “Ya...menyukai mungkin pernah, mengagumi seseorang, tapi mencintai, aku nggak tahu, apa ini yang disebut cinta, setiap orang pernah menyukai, bukan?. Itu sesuatu yang wajar. Aku pernah suka sama kakak kelasku...”, katanya sambil mengalihkan pandangannya dariku dan menerawang menatap langit. “Gimana rasanya?”. “Suka ya suka...that’s it”. “Oh...”. aku nggak tahu mesti ngomong apa. Sedikit banyak pengakuannya membuatku terguncang. Dia pernah menyukai seseorang, pernah ada seseorang menempati hatinya, aku mencoba tersenyum. “Kau bilang sama dia kalau kau menyukainya?”. “Pengennya sih gitu, tapi...kayaknya kuliah sama kerjaanku lebih penting dari itu, mungkin nanti kalau aku sudah lulus, sudah punya kerjaan tetap, tinggal kulamar dia...”. “PD banget...nggak takut dia sudah dilamar orang?”. “Kalau jodoh nggak bakal lari ke mana, kalau nggak jodoh, akan kutemukan yang lebih baik”, katanya cuek. “Wow...”. “Kenapa?”. “Ada ya, orang kayak kamu?”. Dia tertawa, “Aku lebih percaya sama Allah, Dia memberi yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan, dan semua yang akan terjadi adalah yang terbaik. Yang kulakukan hanyalah berdoa...untuk yang terbaik, itu saja, halah! Sekarang giliranmu bicara...kenapa kamu nggak ngomong langsung ke cowok itu kau suka padanya?”.
“Banyak faktor...yang pertama aku ini kan cewek”. “Sekarang sudah zaman emansipasi non”. “Tetap saja nggak bisa...yang kedua...argh! pokoknya banyak faktor lah...dia sudah menganggapku sahabat sejati, tahu! Kalau dia tahu aku menodai persahabatan ini dengan mencintainya...wah, aku nggak mau ambil resiko, persahabatan yang sudah sedemikian lama bisa hancur, ntar dia nggak mau sahabatan sama aku lagi gimana...ah, sudahlah, lebih baik kita bicarain hal lain saja ya, doain saja Tuhan bikin aku kecelakaan dan hilang ingatan tentangnya, jadi duniaku menjadi normal lagi”. “Eh? Bukannya malah jadi hampa...kalau broken heart ya terima aja nasibmu”, katanya sambil tertawa. “Ih, enak banget kamu ngomong...”, aku menggerutu.
“Baiklah, alihkan pembicaraan, hehe...udah jalan ke mana aja tadi?”. “Kemana-mana, pokoknya yang menarik kupotret aja...”. “Nanti mau terusin jalan-jalannya?”. “Nggak, capek, ntar aku langsung pulang...lagian kamu hari Sabtu sore ada kuliah kan, jadi gak bisa nganter aku...”, aku memasang I-Pod ku dan mendengarkan lagu-lagu kesayanganku. “Maaf ya...habis aku gak bisa ninggalin kuliahku, Minggu juga ada Praktikum yang tertunda...”. “Wow, kerjaanmu banyak ya, dikit lagi botak tuh kepala...tapi, aku akan selalu mendukungmu, bro...don’t worry...”. dia hanya menggelengkan kepala memandangku. “Ck..ck..kalau udah main I-Pod gitu kamu nggak kelihatan kayak orang lagi broken...tapi dari cara kamu cerita, kayaknya rasa sayang kamu ke cowok itu begitu besar...”. “Yo’i, sampai-sampai pernah kepikiran aku gak pengen nikah kalau gak sama dia, biar aja jomblo seumur-umur”. “Pasti kesepian, nggak ada orang yang betah jomblo seumur-umur”. “Nggak juga, aku pengen dia donorin spermanya, aku pengen ikut program Inseminasi buatan...gimana menurutmu, itu melanggar aturan Tuhan nggak? Paling tidak, wajah seorang bocah yang lucu, yang mirip dengannya bisa menghibur hatiku yang pedih ini, hiks...”. Dia terbatuk-batuk, lalu meletakkan sebotol air mineral yang semula diminumnya. “Gila! Sampai sebegitunya kamu...”. “Itu kan cuma pemikiranku, jangan dianggap serius deh...hidup masih panjang, aku nggak bakal berhenti berharap...sebelum nisan menancap, aku akan terus berharap, semoga Tuhan ngasih aku keajaiban”. “Halah...itu namanya obsesi, bukan cinta!”. “Udah tahu...cuman bercanda kok, aku juga tahu kapan aku harus menyerah...”. aku tersenyum, sambil memandangnya, mata di balik kacamata itu...dia balas tersenyum.
“Sebelum kau mengantarku pulang, biarkan aku duduk sebentar di sini ya...lima menit saja”, gadis itu tersenyum, lebih tepatnya mencoba tersenyum, cowok di sampingnya tak berkata apa-apa, hanya memandang ke arah luar taman, beberapa ekor burung terlihat beterbangan di puncak-puncak pohon, membuat sarang yang nyaman untuk telur-telur mereka. Gadis itu memperhatikan dengan seksama. Ah, andai aku terlahir kembali, aku ingin menjadi seekor burung...memiliki sayap yang membuatku bisa pergi ke mana saja, ke seluruh sudut dunia, melarikan diri...
First Love (Part I)
Westside University, Oldtown, 06 February 07

Hanya kau yang akan menjadi cinta itu
Hanya kaulah satu-satunya yang menempati hatiku
Akan kuingat selamanya memori tentangmu
Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku
Sekarang...dan selamanya, kaulah cinta pertama itu
First Love, by:(Utada Hikaru)

Misha membuka matanya. Sekilas tadi didengarnya HPnya berdering, First Love Utada Hikaru, hanya satu orang yang dia khususkan pada nada itu. sekejap, bayangan seorang cowok berkacamata dan tersenyum manis berkelebat dalam benaknya, wajah yang selalu menenangkannya, dia rindukan dan dia sayangi. Setengah mengantuk diliriknya HP dan diperiksanya siapa yang miss call barusan. Benar saja, orang itu, tumben, biasanya kalau nggak di SMS duluan dia nggak perneh SMS ataupun Miss call. Senyuman lebar tak terasa menghiasi wajah Misha. Tapi segera surut. “Yah...miss call doang, SMS kek, dasar Kakek!”. Dengan enggan Misha menyingkirkan selimut dan merapikan beberapa buku yang berserakan di kasurnya. Tersenyum kecil saat melihat seraut wajah di sampul buku Trinity Blood. Abel Nightroad.
Abel Nightroad, cowok jangkung berkacamata yang sifatnya aneh, lucu, ramah dan sekilas terkesan tak bisa diandalkan. Tapi di balik wajahnya yang polos, dia memiliki satu wajah lain, Krusnik, Abel bukan manusia biasa, tapi vampir istimewa yang hanya meminum darah vampir. Bermata semerah darah dan memiliki sayap hitam yang terbentuk dari ribuan pedang. Abel, cowok berhati lembut itu, dan Snik, cowok misterius yang cool...Abel dan Snik adalah satu. Entah kenapa, Misha merasa cowok yang dia sayangi mirip Abel, meskipun dalam kesehariannya Evan tampak ceria dan langkahnya ringan, di balik itu sepertinya ada beban berat yang dia pikul di pundaknya. Abel menyayangi Esther, karena hati Abel lembut dan penyayang, dia tak ingin Esther melihat wujudnya sebagai Krusnik, andai Abel tahu, seperti apapun dirinya, siapapun dirinya, Esther akan selalu menyayanginya.
Ah, Evan, andai kau tahu aku begitu menyayangimu, dari kau kecil sampai sekarang, hanya dirimu yang bisa menempati ruang hatiku. Sudah kucoba menyingkirkan bayanganmu, menipu diriku, berusaha menyukai orang lain, tetapi selalu gagal. Kau selalu menjadi raja dalam mimpiku, menempati ruang terluas di hatiku. Misha mendesah, kuliah hari ini sampai sore. Menyebalkan, apalagi ada nilainya yang begitu buruk, sehingga dia harus berusaha ekstra mengejar nilainya. Diambilnya handuk dan bersiap ke kamar mandi ketika HP berbunyi, sebuah pesan masuk. “Misha, aku mau ke Southside nih, di Middle Town ada pameran buku kan, gimana kalau kita ketemuan di sana?”. Misha menghela nafas. Evan? Evan mau ke sini! Hatinya girang bukan kepalang. Tapi saat diingatnya hari ini dia kuliah dan tak bisa bolos, dia merasa ingin menangis. “Tuhan, aku ingin ketemu Evan, please, beri aku kesempatan...”. lalu dibalasnya SMS Evan. “Ah, Evan hari ini aku kuliah, gimana kalau besok aja kamu kesininya? Aku besok libur dan kita bisa jalan-jalan”. Tapi, sesuai karakter Evan, cowok itu nggak ngebales SMS.
Beberapa jam kemudian, saat mau berangkat kuliah, HP Misha bunyi. SMS dari Evan. “Hoi, aku di East Fountain nih, kalau menuju Middle Town lewat mana ya...”. Misha nyengir. “Lurus aja, kalau kamu sudah lihat tugu perdamaian, belok kiri, nah, di kanan jalan kamu akan lihat gedung putih...Economy College, setelah kau bertemu denganku baru kuberi tahu arah yang tepat ke Middle Town, hehe...”. Evan tak membalas, Misha memakai sepatunya dan berjalan ke kampusnya. Dasar kakek! Kau tahu, aku kangen sama kamu nih...Misha menggerutu, sesampainya di depan gerbang kampus, tak sadar dia tetap berdiri di sana dan melihat motor yang berseliweran di jalan depan, tak sadar dia menunggu seseorang. “Bodoh, apa mungkin Evan mau meluangkan waktunya untuk menemuimu?”, Misha menunggu sampai seperempat jam lalu tersenyum sedih, dengan lesu dia berjalan ke kelasnya.
Misha asyik termenung menunggu kelas dimulai ketika HPnya bergetar dan cewek itu membuka pesan masuk.”Lho, kok aku sudah berada di depan pintu masuk Economy College ya? Kamu dimana Misha? Aku kangen nih!”. Misha menepuk pipinya, ini mimpi nggak ya...lalu dibacanya pesan itu sekali lagi, memang benar, itu dari Evan!. Tergesa-gesa Misha berlari sampai anak-anak memperhatikannya. Di telponnya nomor Evan. “Kakek! Kamu dimana? Jangan bohong ya...kamu beneran di sini nih?”. “He eh...di gerbang depan dekat pos satpam, kamu dimana?”. Misha berlari sampai paru-parunya terasa hampir meledak, dari jauh bisa dilihatnya sosok Evan yang tingginya diatas rata-rata itu. Evan memang jangkung, tak hanya itu, wajahnya yang lembut dan selalu tersenyum itu, persis seperti wajah dalam mimpinya. “Evaaannn!”, teriak Misha. “Aku nggak nyangka kamu sampai juga kesini...”, Evan tersenyum. Aih, manisnya...andai waktu berhenti, ingin rasanya Misha terus memandangi wajah cakep itu, tapi saat diingatnya siapa Evan, Misha menunduk. Nggak boleh! Jangan lihat wajah Evan seperti itu! jangan sampai dia tahu kau sangat menyukainya...
“Gimana kabarmu?”, tanya Misha. “Baik...”, jawab Evan. “Kamu di sini bareng siapa?”, tanya cowok itu. “Sendirian aja, eh, aku seneng lho lihat kamu...”, kata Misha. “Aku juga, andai kamu cowok, sudah kupeluk dari tadi...”, kata Evan. Misha tersenyum, sedih. Tuhan, aku ingin jadi cowok, biar dia peluk aku!. Lalu dialihkan pandangan pada teman Evan. Cowok itu datang bersama temannya, berboncengan motor, uh, karena terpaku sama Evan jadi lupa dia ada temannya. “Dari Westside?”, cowok itu mengangguk. “Wah, kukira Evan bareng temen ceweknya...ternyata sama cowok, hehe...eh, Van, mampir ke kostku ya...setelah urusanmu selesai dan lihat pameran buku...”, Evan memandang ke arah jalan. “Eh, memangnya nggak ada yang marah Misha...cowokmu gimana...”, Misha tertawa. “Cowok apaan, kamu tahu ayahku kan, kalau belum lulus S1 gak boleh pacaran...”. Evan tertawa. “Bagus itu...”, mereka berbincang kira-kira sepuluh menit. “Kamu mau masuk kuliah kan...sana gih, ntar telat lho, aku juga harus pergi...”, kata Evan. Misha menghela nafas. “Baiklah...take care Evan, kalau sempat mampir lagi ya...please..please...”. “Oh ya, jalan ke Middle town?”. “Lurus aja, setelah itu mentok belok kanan, eh, ntar mampir lagi ya, please...”... cowok itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Aih, tangan itu...ingin sekali Misha menyentuhnya, menggenggamnya. Motor Evan melaju meninggalkan Misha, gadis itu hanya bisa memandang sampai motor Evan lenyap di kejauhan. Tak terasa air mata Misha mengalir, “I Love You Evan...aku mencintaimu...”, betapa mudahnya diucapkan, tapi saat Evan berada di depannya tadi, kenapa kata-kata itu sangat sulit terucap? Misha tak pernah mengerti.
Evan, cowok itu adalah sahabat Misha waktu SD, umurnya tujuh tahun saat pertama melihat Evan diperkenalkan di depan kelas, betapa manisnya wajah itu, terlihat ramah dan lembut, mungkin sedikit cengeng. Misha suka semua yang ada di diri Evan, kepintarannya, kebaikannya, pokoknya semuanya!. Kedekatan mereka di kelas kadang jadi bahan ejekan anak-anak, mulanya Misha marah, malu, tapi hati kanak-kanaknya yang polos mengakui, dia suka sama Evan. Tak banyak yang Misha bisa ingat, karena saat mereka kelas lima SD, Evan pindah ke luar kota, tanpa pamit. Yang Misha tahu, saat liburan kenaikan kelas berakhir, cowok itu tak pernah muncul lagi di sekolah, Misha bertanya pada Bunda, kenapa rumah Evan kosong?. Bunda bilang, Evan sudah pindah...berhari-hari Misha nangis, karena kangen dan benci. Benci! Kenapa Evan nggak pernah bilang kalau dia mau pindah? Nggak ninggalin alamat atau nomor telpon...gimana Misha bisa menghubunginya?.
Misha berusaha keras memperhatikan penjelasan Pak Agus di depan kelas. Wajah Evan masih saja membayanginya. “Dasar Kakek!”, gerutunya. Kakek adalah panggilan Misha buat Evan, habis cowok itu tiap kali SMS selalu memberikan nasehat, seperti kakek-kakek aja, tapi Misha suka kata-kata yang disampaikan Evan melalui SMS, selalu memberikan arti yang dalam dan bisa direnungkan. Misha tersenyum. Apa Evan percaya, kalau kukatakan aku menyayanginya? Hehe, dia pasti hanya menganggapku ngelantur atau apa, mungkin juga dia menyadari aku menyukainya, tapi selalu tak ingin mengakuinya, ah, entahlah, aku juga nggak mengerti kenapa perasaan ini ada di hatiku? Dan kenapa harus Evan? Tuhan, Kaulah pemilik Cinta. Kau jugalah yang menciptakan cinta ini, bukan?. Setelah berpisah jarak dan ruang yang begitu jauh dengannya, kau pertemukan kami kembali, meskipun aku tahu aku bukan orang yang bisa dia cintai, aku tak pernah berhenti mencintainya. Evan pun tak berhak melarangku mencintainya, bukan?. Kumohon Tuhan, izinkan aku mencintainya, dan...berharap dicintai olehnya...Misha tersenyum, sedih. Cinta...apakah yang membuat jantungnya berdetak tak wajar tiap bertemu Evan, apakah yang membuat wajahnya panas saat menatap cowok itu...apakah yang membuatnya ingin selalu melihat cowok itu tersenyum adalah perasaan yang disebut Cinta?
---
Misha kaget saat merasakan getaran yang begitu keras mengguncang kamarnya. Gempa. Setahun belakangan di Southside emang sering terjadi gempa, meskipun dalam skala kecil cukup mengagetkan dan membuatnya takut, tanpa disadarinya dia SMS ke nomor Evan. “Kakek, tahu gak...Misha takut nih, ada gempa lagi...”, nah lho, padahal ini pukul tiga pagi, Evan juga khan masih tidur, lagian Evan bisa apa?. Cowok itu jauh di Westside sana! Tapi logika memang selalu kalah. Misha merasa tenang, walau hanya memberi kabar seperti itu pada Evan, duh, Misha sendiri nggak ngerti, kenapa di depan Evan dia seperti menjelma kembali menjadi bocah SD yang manja dan cengeng itu. padahal di kampus dia terkenal cool dan galak, wakil kelas PM lagi! Misha menjadi seperti memiliki dua sosok. Dia tak bisa membayangkan wajah Evan kalau cowok itu tahu Misha bisa juga galak dan teriak-teriak mengatur temannya bertransaksi saham di kelas simulasi Pasar Modal, aih!
Esoknya Evan baru membalas. “Mungkin Southside butuh pengorbanan darah segar darimu non, biar gempanya reda...hehehe”. Misha nyengir, betapa kekanak-kanakkannya! Tapi dia merasa senang, sepatah dua patah kata dari Evan selalu membuatnya bersemangat, tapi selama ini dia memang hanya bisa curhat sama Evan meski dalam bentuk terselubung. “Kenapa Tuhan menciptakan cinta jika kita nggak boleh pacaran?”. Pertanyaan itu belum Evan jawab sampai sekarang.
11 February 2007
Misha berpikir, apa sebaiknya dia membuang perasaan cintanya ke tempat sampah? Atau ke laut saja? Kalau beruntung biar Evan menemukannya, atau jadi makanan ikan sekalian. Andai cinta bisa di delete, dan daripada mikirin si jangkung itu kan energinya bisa untuk mikirin yang lain, Banjir di Neo City misalnya, gara-gara proyek pembangunan gedung dan Mall tanpa diimbangi sanitasi yang baik, seminggu ini Neocity terendam banjir!. Sungguh memalukan, padahal Neocity kan ibukota negara, Central, malu-maluin nih negara di mata dunia aja...uh! Tuhan, tolonglah hambamu ini...kalau Evan tahu aku jatuh hati padanya sampai rasanya mau mampus gini, bisakah...bisakah aku hilang ingatan saja...bikin aku kecelakaan atau gimana, jangan sampai cacat, tapi cukup hingga otakku melupakan Evan, perasaan ini begitu menyiksa, menghancurkan bahkan membunuhku perlahan-lahan. Aku tak ingin jatuh cinta dan menghianati persahabatanku dengannya...please Tuhan, berikan jawaban padaku, pertanda padaku, apa yang harus kulakukan...aku sangat menyayanginya hingga tak mampu kehilangannya, cinta ini mungkin bisa menyakitinya, aku nggak mau itu, aku ingin dia bahagia lebih dari aku ingin berada di sampingnya, tapi tetap saja hatiku ini kotor, aku mencintainya, menginginkannya untuk diriku sendiri...tolong aku Tuhan, tolonglah aku.
Ikhwan terhormat, muka malaikat, tuan suci tak ternoda bernama Evan, yang digoda setan penggoda bernama Misha! Sungguh cerita yang sangat bagus! Apalagi Evan tuh berhati selembut salju, baik sama siapa saja, baik sama cewek-cewek, jadi Misha gak boleh GR tuh, dan lagi...banyak loh, yang naksir sama Evan! Gimana enggak? Sudah cakep, bodynya bagus, pinter...kurang apa sih seorang Evan? Mungkin sifat jeleknya adalah terlalu polos dan baik hati...kalaupun Misha nekat mencium bibir malaikat itu, Evan mungkin hanya menatapnya sedih dan menangis. “Misha...jangan jatuh cinta padaku...dosa...aku nggak mau kamu terlibat dosa gara-gara aku...hiks!”.
Busyet! Kenapa Tuhan? Kenapa tak kau buat dia saja yang jatuh hati padaku, tergila-gila, biar dia rasakan betapa tersiksanya batin ini, pura-pura alim di depannya, menyentuh tangannya saja aku tak bisa, padahal hatiku ingin sekali menyentuh wajah lembut itu, menatap matanya dan bilang betapa aku sangat menyayanginya, tapi sentuhan tanganku bagai lidah api neraka yang bisa menghanguskan tubuhnya. Tuhan, aku sadari posisiku, aku tahu siapa diriku...cewek yang biasa saja, cantik enggak, pinter enggak...wuih! Tuhan, kenapa Kau ciptakan Evan begitu sempurna? Begitu...ah...tak tersentuh? Seperti apakah wanita yang kelak bersamanya? Apakah sebentuk sosok yang sempurna juga...wanita yang sangat cantik, alim, lembut...makhluk sejenis dengan Evan.
Evan...Evan..Evan...yang menasehatiku untuk selalu mencintaiMu, selalu menyebut namaMu, bernafas dengan menyebut namaMu...”Cinta itu milik Tuhan, Misha...”. ya, aku tahu...aku tak boleh memikirkan Evan lebih daripada aku memikirkanMu, jadi Tuhan, tolong, cintailah aku, bukankah Engkau maha pencemburu?. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya, atau...tolonglah aku...keluarkan aku dari kegelapan ini...
Misha menuangkan semua perasaannya di laptop, merenung sejenak, ah, betapa cepat waktu berlalu, jika Evan berada di sampingnya, padahal, saat sendirian dan sedih seperti ini, dia merasa waktu terlalu lambat bergulir. Gadis itu kembali mengetik dan mencoba mengingat apa yang bisa dia ingat. Waktumu tak banyak Misha, tapi kau tahu satu hal, hidup ini sudah memberi banyak hal, Tuhan sangat menyayangimu, jadi kau tak boleh serakah..

Gadis itu terbatuk dan cowok berkacamata yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan pandangan bertanya. “Are you okey?”, gadis itu mencoba tersenyum tapi gagal, sebuah rasa sakit yang dalam menghentak dadanya dan tak sengaja darah memercik dari bibirnya. Oh, God, semoga dia tidak melihatnya. “Misha...”, Evan mengernyit tangannya terulur. “Bibirmu berdarah...”, gadis itu dengan gugup mengelap bibirnya. “Uh, pasti karena tergigit tadi...uhum...”, dia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba berpikir lagi. “Misha...ada apa sebenarnya, tampaknya kamu ada masalah dengan pernafasanmu...aku...”, Misha mengangkat tangan, mencegah Evan bicara. “Nggak papa...”. cowok itu malah berlutut di depan Misha dan memandang gadis itu tajam. “Realy?”. Misha memandang Evan, wajahnya mengernyit. “Tidak...aku, sebenarnya aku...kena kanker paru-paru stadium dua...umurku tinggal menghitung bulan lagi...”.
Evan memandang kedalaman mata Misha, wajah cowok itu berubah keruh, dahinya mengernyit. Misha menggigit bibirnya, lalu menoleh, menghindari tatapan mata Evan, pandangan matanya terasa kabur, wajahnya memanas. Tak lama tawa Misha berderai memecah kesunyian taman. “Mmmuahaha...lihat tampangmu itu Van...kau ini...aduduh, apa bicaraku sudah keterlaluan hingga tampangmu jadi kayak orang patah hati gitu? Cep..cep...jangan nangis, aku cuman bercanda...”. Evan berdiri, dia tidak tertawa, bahkan tersenyum seperti dugaan Misha, cowok itu kini berdiri seperti mendung menghalangi cahaya matahari menyinari Misha. “Nggak lucu, tahu....bodoh! kalau kau cowok sudah kupukul hidungmu!”, Misha tak mengira Evan marah. “Ah, sudahlah, lagipula masak mahasiswa FK Pro sepertimu bisa ketipu sih...haha...gimana mengatasi pasienmu kelak?”, Misha ikut berdiri, menepis debu yang menempel di jacket hitamnya. “Wah...wah...gimana pernafasanku nggak terganggu coba, kota ini sudah berubah ya, jadi kota industri...bikin nafas sesak, padahal kita sudah ada di taman, yah, sebaiknya kita segera ke Terminal, sudah pukul dua, aku nggak mau ketinggalan bus”.

Misha membaca tulisan di laptopnya, mengenang masa-masa itu. “Siangnya dia mengantarku pulang, kami berdiri di Terminal Old Town, menunggu Bisku. Tak lama bisku datang dan aku masuk, sungguh berat rasanya, meninggalkan kota ini, meninggalkannya. Andai aku bisa, ingin kuteriakkan padanya. “Aku mencintaimu, kau tahu?”. Ingin kusentuh tangannya, kugenggam kehangatannya, tak hanya dalam mimpi saja. Tapi aku perempuan. Dan kisah ini Tuhan yang memiliki, tapi aku tak pernah menganggap ini suatu kebodohan. Kupandang dia dari jendela bus, seperti saat itu...tapi kali ini dia memandangku, aku menoleh ke arah depan, supaya dia tak melihat airmataku yang tak tertahan lagi....”
Evan, aku tak pernah menyesal mengenalmu, kau tahu, kau seperti bintang yang membuatku bertahan, mengatasi semua hal yang menderaku, mengatasi segala rasa sakit yang timbul, rasa sakit yang rasanya ingin kutukar dengan apapun yang kumiliki kecuali nyawaku, ya, Evan, aku masih ingin hidup, seratus, atau seribu tahun lagi...menikmati keindahan dunia ini, oh, baiklah, sampai Palestina dan Israel memperoleh kata sepakat damai! Kalau dunia ini sudah peace and love, barulah dia bisa mati dengan tenang, lalu gadis itu nyengir lebar. “Semangat Misha! Hidup nggak untuk ditangisi, tapi dinikmati”. Tak lama gadis itu keluar kamar kosnya dan memanggil penjual sate yang kebetulan lewat. “Benar juga kata Evan, yang bisa membuatku bergairah adalah sesuatu yang berawalan dengan huruf F, ‘Food’ haha...tapi, apa sih yang lebih penting dari makanan?”.

“Apa aku akan mati?”, Caesar menghela nafas, menatap Misha tak mengerti. “What the...”. “Bilang saja...apa aku akan mati muda heh?”, dokter muda itu mengambil kertas yang diacungkan Misha di depan hidungnya. Pagi itu Misha sengaja mendatangi kos Caesar yang berada di samping tempat kosnya. Cowok itu baru saja diwisuda dan sekarang sudah Intership di Southside International Hospital. “Kanker paru-paru? Kamu?”, Caesar memandang Misha tak percaya. “Si tukang makan dan gemar berkelahi sama cowok? Kalau gangguan syaraf sih aku percaya...tapi kanker...”, Caesar mencoba mencairkan suasana. “Makanya, kalau memar di paru-paru karena aku main baku hantam sama Donny dulu sih, aku percaya, tapi kalau diagnosisnya kayak gitu, aku kira ada kekeliruan. Bukannya aku tak percaya pada takdir, kematian, atau apa, tapi aku masih nggak percaya, jadi, tolong...temani aku periksa sekali lagi ya...kalau ternyata benar, aku memang benar-benar harus pasrah nih”. Caesar tersenyum. “Misha, aku juga berharap demikian, semoga ini seperti sebuah lelucon untuk kehidupanmu, aku juga curiga, dengan kondisi tubuhmu dan cara nafasmu yang kayak putri duyung itu...sepertinya kau memperoleh diagnosis yang salah...”.
---
Misha mencoba berpikir realistis, kadang juga agak berkhayal, semua ini hanya mimpi, tapi rasa sakit di dadanya benar-benar nyata, nafasnya aneh, sakit...rasanya memang ada sesuatu di paru-parunya. Oh Tuhan...jangan dulu...aku belum mau mati, masih banyak hal yang ingin kulakukan, aku belum ke tanah suciMu, belum membahagiakan kedua orangtuaku, belum...apa ya...sebenarnya aku pengen ke Itali ketemu Valentino Rossy, itu kalau Kau izinkan dan kasih bonus untuk hidupku yang singkat ini, dan oh, aku hampir lupa...Evan, my Obsesion...my Wish...
“Selamat tinggal kekasih hatiku, ku harus pergi tinggalkan engkau. Tapi, percayalah satu hal...cinta ini adalah milikmu. Temukanlah kebahagiaan, dan biarkan aku berbahagia dengan sayap yang diberikan Tuhan padaku. Kuterima undangan Tuhan dan tinggalkan Engkau, terimakasih kau melewatkan hari-hari bersamaku, menghiburku dan mencintaiku...”, sebait lagu berjudul Angel milik NeoHope terdengar dari radio Putri, membangunkan Misha yang asyik tertidur. “Busyet! Kenceng banget, gak tahu orang lagi asyik mimpi apa?”, Misha menyingkirkan selimutnya dan melirik jam di dinding. “Oh my God...lagi-lagi aku telat subuhan....”, Misha setengah berlari menuju tempat cuci dan berwudhu. Setelah melakukan kewajibannya dan berdoa, uhm, lebih tepatnya merengek, “Please Tuhan...berikan aku kesempatan kedua...kali ini aku nggak nakal lagi deh, janji! Aku akan manfaatkan hidupku sebaik mungkin, nggak berantem lagi, nggak malak makanan temanku, dan...Tuhan, jagalah Evan, bahagiakan dia, dia itu orangnya sangat baik, Kau tentu tahu, jadi, please, berikanlah apa yang dia inginkan...yang dia butuhkan...I Love You Tuhan....”. lalu dilepasnya mukena dan kembali duduk di depan laptopnya. Hari minggu, seperti biasa, dia menuliskan apa yang ada di hatinya. “Kalau benar aku memang sakit Kanker, yah, mo gimana lagi? Tapi aku janji, itu nggak akan mengubah apapun yang ada dalam hidupku, Tuhan memberikan apa yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan...lagipula, mengutarakan perasaanku pada Evan sekarang, bisa mengganggu studynya, kuliahnya saja sudah berat, aku nggak mau perasaan cengeng seperti ini mengganggunya, aku ingin dia tetap penuh semangat, aku nggak mau memberikan kesedihan di hatinya yang baik itu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar