Sabtu, 12 September 2009

Awan dan aku.....

Early May 2006
Setiap orang memiliki jiwa yang tidak sama, gampang berubah arah dan tidak stabil. Mungkin, keadaan itu yang sedang aku alami. Sebenarnya, aku tidak pernah ragu akan agama yang aku anut, aku sangat yakin akan Islam, karena di agama inilah satu-satunya agama, yang menurutku sangat sesuai dengan realita. Aku, mendambakan Tuhan yang powerfull dan Tuhan yang kubayangkan, ada pada Allah, Dia tidak terlihat dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana wujudnya, itu adalah salah satu hal yang membuatku yakin, Dia adalah ‘maha’ dari segala hal. Bumi ini misterius, wajar saja aku berfikir, penciptanya pastilah lebih misterius, tapi Dia begitu dekat dan mengetahui apapun yang ada dalam pikiranku. Tapi sangat disayangkan, di agama yang begini indah, banyak sekali hal yang aku tidak mengerti, terutama dari para pemeluk agama yang mengaku, mereka ‘paling benar’.
Yang aku tahu, agama ini begitu sederhana, kerumitan tentang halal dan haram di dalamnya, jika dikaji lebih lanjut, akan menjadi hal yang begitu simpel. Kita dilarang akan sesuatu hal, larangan itu ternyata semuanya sangat bagus, karena jika kita melanggar larangan Allah, itu bukan Allah yang rugi, tapi diri kita sendiri yang menanggung akibatnya. Tapi, jika kita melakukan hal yang Dia perintahkan, diri kita sendiri yang memperoleh keuntungan. Aku pernah berkecimpung dalam suatu organisasi yang lumayan besar, batasan antara laki-laki dan perempuan di dalamnya sangat tegas. Aku mengakui, organisasi ini cukup bagus, tapi, saat aku merasakan ‘aroganisme’ di dalam organisasi ini, yang melarang seorang perempuan dan laki-laki menjalin silaturahmi dalam artian pernikahan ataupun Ta’aruf dengan anggota di luar organisasi, aku merasa ini aneh. Dari kecil, dalam pikiranku, Allah begitu fleksible. Memang ada larangan pernikahan beda agama, tapi, jika satu agama tapi beda organisasi menjadi suatu masalah?. Perjodohan yang melalui pemikiran manusia baik, belum tentu baik di kemudian hari. Orang yang kurang memahami agama sepertiku, wajar jika menginginkan seorang yang ilmunya lebih ‘tinggi’ dariku di bidang agama, untuk mengajariku lebih lanjut tentang Islam, tapi pernah juga, saat aku melakukan diskusi lewat chatting dengan seorang Ikhwan, banyak ukhti yang memperingatkan aku.
“Kamu belum cocok menjalin hubungan dengan Ikhwan itu, ilmu kamu terlalu ringan”. Sedikit banyak aku merasa tersinggung, apakah aku begitu rendah dan dia bagaikan seorang ‘ahli’ yang begitu terpuji, layaknya malaikat, sehingga setiap orang yang berilmu rendah tak selayaknya berdekatan dengannya?. Semakin banyak kegiatan yang aku ikuti, kenapa “Islam”, menjadi beraneka warna dalam pikiranku?. Ada aliran ini, itu dan sebagainya. Ada yang melarang pengajian untuk orang mati, ada yang melarang menziarahi kubur. Ah, lebih enak jadi penganut ‘Islam’ yang bebas. Aku keluar dari organisasi. Mulai mendengarkan kata hatiku sendiri, yang aku maksud ‘kata hati’ adalah suara yang berasal dari alam pikiran terdalam kita, jangan dimanipulasi dan biarkan dia ‘berbicara’. Apa yang baik dilakukan, lakukan saja, apa yang salah ya jauhilah. Terkadang, aku mengikuti pengajian ala ‘ibu-ibu’, mereka yang lebih berpengalaman hidup, lebih ceria melakoni kehidupan di dunia, pemikiran mereka yang sederhana tapi penuh makna, membuatku lebih nyaman.
Aku tak lagi membatasi pergaulanku. Dari klub jurnalistik sampai komputer, aku ikuti, memang kegiatan agamaku agak berkurang, tapi aku merasa lebih nyaman. Di tempat aku kuliah, antara anak UKI (Islam) dan KMK (Katolik, Kristen) terjalin hubungan yang akrab, meski tak dipungkiri, di balik keakraban itu terkadang ada juga masalah, tapi toleransi antar umat beragama begitu terasa. Saat gempa melanda Yogyakarta, anak UKI membantu KMK memperbaiki Gereja, saat terjadi amukan badai di jalan mataram yang notabene banyak orang beragama Islam tinggal di sana, anak-anak dari organisasi perkumpulan anak Ambon yang kebanyakan beragama Katolik, membantu warga memperbaiki rumah. Di sini, tak ada lagi perbedaan antara Hitam dan Putih, masing-masing kami menghargai pilihan agamanya, bagi kami, Tuhan ada di masing-masing hati kami, meski sama agamanya, tapi pemikiran tentang ‘Tuhan’ tidak bisa dijadikan dalam satu ukuran. Dalam agamaku, nama Tuhan ada 99, ada 99 sifat yang wajib kami ketahui tentang Tuhan.
Augustus 2006
Apa aku yang salah gaul, atau aku memang ‘sial’. Pergaulanku dalam suatu organisasi Islam, membuat aku bentrok dengan beberapa orang perempuan. “Kamu terlalu Free, terlalu Liberal”, kata mereka. Pembatasan pergaulan, apakah itu bagus? Hei, Indonesia bukan negara Islam, kebebasan beragama ada dalam Pancasila?. Memang benar, aku memiliki prinsip, tidak akan menjalin hubungan dengan orang yang beda agama, dan semoga cita-citaku untuk menanamkan Islam yang kuat dalam pikiran anak dan cucu bisa terkabul, bukan berarti aku membatasi pergaulan dan membagi ilmu dengan orang yang beda agama. Aku teringat seorang Arifin Jihan, Ikhwan tegar yang satu ini, kadang sama pemikiran denganku. Saat dia memutuskan melanjutkan kuliah di Australia, bukannya Arab atau negara Islam lain, banyak Ikhwan menentang. “Kenapa nggak milih ke Al-Azhar aja sih Rief?”. Cowok jangkung itu hanya tersenyum. “Hei, di Al-Azhar udah banyak orang hafal Qur’an dan adzan, aku pengen banget menyerukan Adzan di daerah yang belum pernah mendengar dan diperdengarkan cerita Indah tentang “Allah”. Duh, Ikhwan yang satu ini, bikin gregetan yang mendengar!. Yah, semoga aja cita-citanya terkabul!.
Lain Arief, lain Hendra, si kacamata yang demen pakai jacket hitam itu, kupikir berubah banyak. Dia nggak lagi suka musik R&B dan beralih ke Murrotal, sok melarang ini itu, padahal hatinya belum kuat meninggalkan ‘dunia’nya. Dunia baru yang dimilikinya sekarang, terasa begitu asing dan ‘terpaksa’. Bukankah munafik itu dilarang?. Katanya musik yang keras itu identik dengan Setan?. Setiap orang memiliki rhytme masing-masing, ada yang keras, sedang, atau slow. Kita nggak bisa maksain ‘ini haram, itu haram...di zaman Nabi, transportasi hanya bisa pakai Onta, apakah ada Hadis yang melarang kita pakai motor?. Yang wajar-wajar aja dong!. Apakah para Kyai atau Ustadz hanya boleh berjalan ke masjid saja? Lalu, siapakah yang berani menyusuri lorong gelap dan mengajarkan kebaikan pada preman dan pelacur?. Siapa pembawa lentera itu?. Justru di tempat yang ‘menggoda iman’ itulah, para orang yang merasa ilmunya tinggi, nggak harus mengobrak-abrik diskotek dan Club, beri pelacur itu pekerjaan halal, ajari mereka! Jangan bisanya mencaci aja!.
Aku begitu mengagumi Nabi Muhammad bukan karena beliau berada di daftar urutan teratas 100 tokoh dunia, tapi kisah hidupnya begitu mencenggangkan. Dia tidak hidup di masyarakat yang beradab dan penuh iman kepada Allah, beliau hidup di masyarakat yang bebal dan kotor, masyarakat yang kolot dan tak berTuhan. Muhammad SAW yang mengenalkan masyarakat zaman tersebut tentang Tuhan yang sebenarnya, beliau tidak pernah memaksakanagar orang memeluk agama Islam, justru hal itu yang membuat pengikutnya semakin bertambah. Islam berasal dari hati nurani, bukan idealisme yang tertulis di atas kertas.
Aku banyak bertanya dan ditanya. “Siapa orang yang kamu kagumi Rie?”. Entah kenapa, seorang Aa’ Gym, Zainudin MZ atau Rhoma Irama, nggak sebanding dengan Awan. Jika kau bertanya, siapa itu Awan, dia bukan Ikhwan bahkan Ustadz, dia seorang calon pastor. Cowok bernama lengkap Gunawan Whibisana itu lebih dikenal dengan sebutan Brother Whibi. Seorang pendeta? Nggak salah Rie?. Benar, Awan seorang pendeta, meski umurnya setengah tahun lebih muda dariku, pemikirannya mungkin sudah setengah abad melampauiku. Dia, seorang yang biasa saja, berwajah teduh, dengan kulit hitam karena sengatan matahari kota Yogya yang terkadang nggak bisa ditolerir, kacamata minus menghiasi wajahnya yang full senyum, tubuh kurus jangkung yang menurutku bisa dengan mudah diterbangkan angin, tapi ternyata dia sosok yang tangguh. Aku bertemu dengannya saat aku mengunjungi sebuah panti asuhan. Cowok yang seumur denganku itu, memiliki kesabaran lebih, merawat beberapa anak panti yang kurang sempurna pemikirannya, anak dengan IQ rendah, bisa dia pahami dan dia hargai sedemikian rupa, dia memperlakukan anak-anak itu dengan sangat baik, sabar, telaten, mengajari mereka bicara, belajar, dan banyak hal lain. Bahkan ada beberapa diantara anak-anak itu yang usianya lebih dewasa dari Awan. Dia merasa senang saat aku dan temanku mengunjungi panti. “Anak-anak kecil ini, banyak yang merindukan kasih sayang orang tua, jika ada pengunjung, anak balita biasanya pengen minta gendong, kamu nggak keberatan,kan?”. Melihat kehidupannya, terkadang aku merasa, orang itu meyakini agamanya karena tanggungjawab terhadap sesama manusia. Dalam pergaulanku dengannya, memang terkadang aku bertanya tentang Theology dan Trinitas, dan percaya atau tidak, karena terkadang, jawaban Awan membuatku lebih yakin akan jalan yang telah aku pilih. Islam bisa menjawab semua pertanyaanku, Awan tidak.
Berdebat soal agama tentu capek, terkadang ada banyak hal juga yang bisa dibuat bahan tertawaan meski terkadang agak menyebalkan. Apalagi yang namanya setan, di setiap agama pasti sama saja ada setannya. Kuakui, Awan itu sebenarnya cakep, sangat ganteng malah (kadang kelihatan, terutama kalau dia sedang asyik membuat daftar makanan buat anak panti) alias kalau dia sedang diam. Apalagi kalau sudah senyum, walah...giginya itu lho, nggak kalah sama aktor di iklan Close-up, Tukul Arwana saja kalah cling sama dia!. “Seandainya ada cinta diantara kita, apakah itu bisa terjadi?”, tanyaku. Dia tersenyum. “Lha diantara kita memang sudah ada cinta kok, kalau tidak, mana mungkin kamu mau ngomong sama aku dan berkunjung ke panti? Kamu pernah denger nggak istilah ‘Patria es Humanidad’, satu-satunya kebangsaan adalah kemanusiaan? Itu berarti, cinta begitu Universal dan luas sekali maknanya, wajar kalau kita mencintai sesama manusia”, nah, mulai deh si item berkhotbah. “Maksudku cinta antara cowok en cewek, kayak Rojali Juleha eh, Romeo Juliet gitu”. Dia terdiam sejenak lalu nyengir. “Bisa saja, karena kita manusia, nggak lepas dari salah dan dosa, tapi kita harus ingat, keyakinan dalam agama kamu memisahkan kita, dan janjiku pada Tuhanku juga memisahkan aku dari pernikahan, bahkan kalau kamu melepas keyakinan kamu dan satu agama denganku, aku juga masih terikat janji sama Tuhan untuk tidak menikah”. “Ge er banget! Siapa juga yang mau pindah agama”. “Hei, ini khan hanya seumpama”. “Nah, kalau kamu yang pindah agama sama denganku, kita bisa menikah lho”. Dia tertawa. “Nah, itu dia, godaan, godaan besar, dan tentu saja jika pikiranku masih stabil, aku akan memilih cinta Tuhan daripada cintamu”. Benar juga kata-kata orang ini. Definisi Tuhan, berasal dari hati kami masing-masing, begitu yang aku rasakan. “Cinta kepada Tuhan harus menjadi cinta terbesar dan yang utama di dalam hati, bukankah begitu?”. “Ya”. “Lalu, jika kamu menikah, masihkah kamu bisa bersikap seperti itu?”, tanya Awan. Sejenak aku bingung, kujawab saja “Lha, itu dia, suami juga merupakan godaan, kalau suamiku menyuruh aku melepas jilbab, aku ya nggak mau, tapi, jika aku bisa melawan godaan, pahalaku bisa nambah banyak, hehe, kayak main game aja ya”. “Tapi, hidup khan bukan game, nggak boleh dijadiin game”. “Dalam agamaku, menikah itu sunnah Rasul, tidak wajib, tapi sebaiknya dilakukan, dengan pernikahan, diharapkan kedua orang yang menikah, bisa menghasilkan keturunan yang akan meneruskan agama ini, begitulah kata ustadzku”. “Oh, begitu ya..”, dia tampak berfikir, karena kalah lagi dengan aku.
Awan dan aku, terpisahkan oleh keyakinan. Tapi, karena dia juga, aku mencoba lebih dekat dengan Tuhanku, nggak mau kalah dong sama Awan. Menggambarkan seorang Awan, aku akan bilang kalau dia itu orangnya ‘lucu’. Cute...and soft. Sejak kecil dia dibesarkan di Panti Asuhan, mungkin itu yang menyebabkan rasa kemanusiaan dalam dirinya tumbuh sedemikian besar. Dia terbiasa melakukan banyak hal seorang diri, berbagi dengan banyak orang dan begitu tegar. “Inilah hidup, diantara sedikit pilihan dalam hidupku, aku akan memilih yang sebaik mungkin yang aku bisa lakukan. Dia benar-benar seperti sebongkah awan di langit yang begitu cerah. Awan kecil yang begitu putih, bersih dan terlihat damai. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya disebut sebagai orang ‘kafir’. Bagiku, meski beda agama, Awan sangat baik, bisa dibilang dia tak pernah melakukan hal buruk yang merugikan sesamanya. Aku menyukai kisah Lady Di dan ibu Theresa, seperti aku menyukai kisah Maryam ataupun Khadijah. Aku merasa cocok bersahabat dengan siapapun, yang aku rasa memberi pengaruh positif padaku. Aku merasa bahagia bisa berbagi pengetahuan dengannya, entahlah... dia memberiku harapan, jika dunia ini bisa terasa begitu damai. Tapi, bukan berarti kami tidak pernah bertengkar, sifat keras kepalanya dan sifatku yang egois, terkadang membuat kami saling diam. Dia adalah pelayan Tuhan, dia sangat kolot dan tidak memiliki HP, jika aku merasa salahku keterlaluan, aku terpaksa menulis surat dan kutitipkan pada temanku. Tentu saja surat tidak seperti SMS, baru beberapa hari kemudian dia membalasnya, ah, begitu sederhana, tapi menyenangkan juga cara seperti itu. Dia dan aku, begitu berbeda, tapi aku yakin, Tuhan juga yang memberikan aku kesempatan untuk mengenalnya, jika aku menyukainya, itu karena dia orang yang baik. Tentu saja suatu khayalan jika ada cinta diantara kami, itu mustahil. Karena itu, aku benar-benar membiarkan jalan kehidupan kami berada di jalur persahabatan yang menyenangkan. Seperti Holmes dan Watson, seperti Krusnik dan Esther. Seperti Kudou dan Heiji. Meskipun, dia begitu menggoda karena tampangnya seperti malaikat, kadang, aku ingin tahu bagaimana tampangnya kalau kesal atau marah, apakah dia bisa memukul seseorang? Apa dia juga pernah mencintai seseorang? Bagaimanapun, bukankah dia manusia, manusia biasa...
My beloved one, if you become the ground, then I’ll become the cloud
I will fill you with the rain, which carries out all my feeling....
“Apa kau pernah jatuh cinta?”, Awan menatap lurus ke depan, memandangi pepohonan yang berada di bawah bukit, seolah mengabaikan pertanyaanku. Tapi dia mendengar pertanyaan itu dan tersenyum. “Tentu saja, aku mencintai Tuhan”. “Maksudku, apakah kau pernah jatuh cinta pada seorang gadis sebelumnya?”. Dia menegakkan tubuh jangkungnya yang semula bersandar pada pagar kayu. “Kurasa tidak, sejak kecil aku dibesarkan di panti asuhan, jarang ada perempuan di sana kecuali anak kecil dan biarawati. Tempat kami cukup terpencil dan jarang didatangi orang, jarang orang tertarik menengok anak panti asuhan yang kebanyakan cacat mental, mereka lebih sering berkunjung di panti yang ada di dekat kota. Sejak bayi aku ditinggal, aku, dibuang oleh orangtuaku di bukit kecil itu, kalau seorang pendeta tidak menemukan aku, mungkin aku sudah menjadi makanan anjing”. “Darimana kau tahu itu?”. “Saat umurku delapan belas, aku mendengar cerita itu dari bapak Pendeta, dia menasehatiku banyak hal, dia meyakinkan aku, orangtuaku pasti memiliki maksud tertentu melakukannya, semua telah berlalu dan aku tidak boleh membenci apapun yang mereka lakukan padaku”. Aku memandangnya, turut bersedih. “Mungkin itu sebabnya kau sulit mempercayai seseorang, berbagi perasaan hatimu pada seseorang, kau selalu memberi apa yang orang butuhkan, mendengarkan mereka, tapi kau tidak pernah membagi dirimu dengan orang lain”. Dia tertawa. “Ngawur, ah, sudahlah, pembicaraan kita semakin aneh saja, ayo, sebaiknya kita cepat ke panti, anak-anak sudah menunggu”. Aku membantunya membawakan kardus berisi selimut dan pakaian bekas yang disumbangkan oleh anak-anak dari kelompok sosial kampus.
Setelah kami menyerahkan semua barang kepada ibu panti, kami kembali berbincang di beranda depan, kebanyakan akan sudah tidur siang, suasana agak sepi. “Tampaknya ada yang meresahkan hatimu?”. Aku menimbang, untuk menjawab pertanyaan Awan. “Jangan-jangan kau sedang jatuh cinta? Wah, apakah cinta itu menyebalkan?”. Kupikir, curhat dengan seorang ‘malaikat’ yang setiap hari mengurusi panti dan berdoa dengan Tuhan dan nggak pernah ngerti dunia luar, membuatku aneh jika aku mengutarakan isi hatiku padanya, apa otaknya mampu mencerna?. Lagipula agama yang kami anut beda, apa dia tahu soal Hadist ataupun Poligami?. Tapi aku mencoba untuk mengurangi beban hatiku. “Sebenarnya, aku nggak ngerti apa itu cinta, aku sendiri belum pernah pacaran apalagi berfikir untuk menikah”, aku menerawang ke masa lalu. “Saat aku semester satu, aku menemui begitu banyak hal yang menyakitkan. Salah seorang temanku menggugurkan kandungannya di kamar mandi, seorang hampir bunuh diri saat ditinggal pacarnya, satu lagi hampir diperkosa pacarnya, begitu banyak hal buruk yang secara nggak langsung membuatku muak sama cowok”. “Tapi kulihat, kebanyakan sobatmu itu cowok”. “Mereka lain, kami tergabung dalam kelompok jurnalistik, ada dua orang dokter, dua orang hacker...yang salah satunya sering melakukan insider trading, seorang ekonom sepertiku dan yang paling manis, ada juga dua orang anak management yang baik hati, meskipun mereka lebih ahli dalam fotografi denganku, mereka baik sekali mau mengajarkanku tekhnik memotret”. “Apa kau tertarik dengan salah satu dari mereka?”. “Pada dasarnya mereka semua sahabat yang baik, sepertimu, dan aku tidak ingin menghancurkan persahabatan seperti itu hanya gara-gara cinta yang tidak pada tempatnya, kuakui, dua diantara mereka berwajah ‘lebih dari ganteng’, baik hati pula, dan yang membuatku merasa aneh, ada seorang dari anak-anak itu yang menjadikan aku partner bertengkar, kami akrab, seperti Tom and Jerry, sekilas aku merasa aku menyukai anak ini, tapi ternyata...”. aku memandang langit yang mulai kelam. “Apa Rie? Ceritakan saja, nggak baik menyimpan kegundahan dalam hatimu”. Aku memandang mata Awan yang teduh, begitu bisa dipercaya. “Aneh rasanya, aku seperti melakukan pengakuan dosa padamu”. “Anggap saja begitu, sepertinya kau tampak tertekan”.
“Aku, pernah menyukai seseorang, mungkin sampai sekarang aku menyukainya. Mulanya kami hanya kenal lewat SMS lalu aku bertemu dengannya beberapa kali. Saat tersadar jika aku menyukainya, tentu aku terkejut, bagaimana bisa?. Ternyata, saat kugali hatiku lebih jauh, aku sudah menyukainya sejak kecil, saat kami kanak-kanak, kami sebenarnya telah saling kenal, hingga jarak dan ruang memisahkan kami dalam jangka waktu yang cukup lama. Cukup lama hingga seharusnya aku sudah lupa akan perasaan yang tumbuh saat aku kanak-kanak. Kadang aku bertanya. “Tuhan, jika perasaan ini tidak boleh ada, kenapa aku bertemu dengannya setelah begitu lama?”.
“Kami sering berbincang, berbagi kesulitan dan beban yang kami rasakan. Dia sering menasehati aku dan seperti kita sekarang, kami sering bertukar pikiran dan aku menyukai gagasan dan nasehatnya. Lama sekali kami berhubungan. Tapi, seiring tugasnya yang banyak dan kesibukannya yang tak terbendung, dia jarang mengirim pesan atau mengirim e-mail, tak pernah ada lagi kabar darinya. Ketika aku kecil, terasa begitu mudah melupakan sahabat yang pergi dariku, tapi kali ini, berbulan-bulan aku memikirkannya, merana akan pertanyaanku yang tak pernah dia jawab dan merasa diriku yang tak bisa apa-apa ini sangat rendah di hadapannya. Dia memiliki banyak sekali teman yang baik dan cantik yang tentu saja tak bisa dibandingkan denganku. Aku tahu diri dan mengundurkan diri dari kehidupannya meski itu tidak mudah, sialnya, aku sering bertemu orang yang mirip dengannya, yang satu, anak yang sekelas denganku di kampus, dan menurutku, kau semakin mirip dengannya. Aku takut, jika suatu hari aku menikah, hatiku masih milik orang itu dan selalu membandingkan orang itu dengan suamiku. Seharusnya, seorang suami diatas segalanya, Suami itu di bawah Tuhan, yang harus dituruti dan dihormati. Aku terkadang ingin melupakan masa lalu dan menghilangkan ingatanku, tapi itu sangat sulit. Aku ingin berjalan ke depan dan tak lagi menoleh ke belakang, aku ingin kehidupanku sendiri”. Awan tersenyum, sedikit sedih. “Jangan begitu, Rie, bukankah hidup akan hampa tanpa kenangan, jangan pernah merasa sakit hati akan apapun, kamu lahir sendirian dan akan berpulang juga sendirian, apapun yang terjadi, kau harus terus melangkah dan menikmati segala rasa yang Tuhan berikan di hatimu. Nikmatilah kehidupan”. Aku merasakan, angin bertiup lembut. Aku mendambakan kehidupan yang tenang sebagai keluarga, seperti Muhammad SAW dan Khadijah, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, beruntung benar kedua wanita itu, dicintai suaminya sepenuh hati hingga ajal menjemput, banyak sekali Ikhwan yang bertanya tentang kesediaan poligami saat Ta’aruf dan memandang wanita yang menentang poligami sama saja wanita tamak yang tak menghargai ‘berkah’ yang dapat membuat mereka masuk surga. Awan pernah menanyakan tentang Polgami ini padaku dan bagaimana pendapatku. Dalam agamanya, satu orang berpasangan seumur hidup, ‘sampai maut memisahkan’ dan tidak diizinkan Poligami. Beberapa Ikhwan, mengatakan padaku, Poligami mencegah perzinaan, ya, menguntungkan bagi laki-laki, tapi tidak bagi perempuan. “Pada dasarnya, aku sih setuju pada suami yang ingin berpoligami, ingin meniru keadilan Nabi, tapi mereka harusnya ingat, Nabi Muhammad dan Ali memang melakukan Poligami, tapi sebelum berpoligami, mereka melakukan monogami, membahagiakan istri pertama mereka sampai akhir hayat. Jika lelaki dapat melakukan monogami dengan sempurna, dia dapat mencoba Poligami, itu menurutku, tapi yang kusaksikan akhir-akhir ini sungguh melukai perasaanku. Sepertinya perempuan dijejali pendapat tentang Poligami yang tidak menentramkan perasaan perempuan, beberapa hadist sungguh memojokkan kaum perempuan, aku tidak suka jika agama disalahgunakan untuk hal seperti ini, begitu menekan dan merugikan perempuan, padahal, jika ditelaah dengan benar, semua aturan itu seharusnya dibuat untuk lebih meringankan kami, para perempuan, sampai-sampai aku sempat punya pemikiran nggak ingin punya anak perempuan, takut anakku kelak dijadiin istri kedua atau kesekian...”. Cowok jangkung di sebelahku, tertawa melihat betapa manyun wajahku saat itu. “Serius banget sih, tapi, jika kau mengikhlaskan suami kamu berPoligami, kau bisa masuk surga, itu yang kudengar, ah, agama kamu unik ya”. “Setiap agama itu unik Wan, dan untung bagi kita, kita bisa saling menghargai satu sama lain, ehm, kalau aku di Poligami, bukannya masuk surga, mungkin aku udah nyari suami lan yang setia”. “Dasar cewek zaman Globalisasi!”. “Emansipasi wanita, tau!”. Awan semakin terkikik geli. “Ada-ada saja, nah, hari ini, lupakan cowok yang ada di pikiranmu dan semua beban yang ada di hatimu, sore ini ada pertunjukan di panti asuhan, pokoknya seru abis, aku yakin kamu bakalan suka!”.
Benar saja, sore harinya, saat melihat permainan biola Arbi (dia buta), beberapa anak-anak yang terbelakang pikirannya tapi pantang menyerah menyanyi, meski nada suaranya begitu aneh, tapi senyuman riang di wajah mereka menghapus semua itu. Lukisan Anna yang dia buat dengan kakinya (Anna tidak memiliki lengan), mendapat pujian dari para suster, si kecil Mauris yang bisu tapi mencoba ikutan nyanyi meski hanya ‘ah-uh—ah’, tapi semuanya terasa begitu menyenangkan. Keramahan mereka, meski kami beda agama, membuatku tak lagi merasa ada jarak diantara kami. Mereka menghormati keyakinanku, dan aku semakin yakin akan Agamaku karena perbedaan ini. Persahabatan antara aku dan pendeta berkacamata yang suka minum teh manis itu terus berlanjut.

You only think you understand, people cannot perfectly understand each other
They can’t even understand themselves,u nderstanding a hundred percent of anything is impossible
So, people endeavour to attempt to learn about themselves and others
That’s what makes life interesting…
Love has nothing to do with happiness, giving it or offering it is never enough...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar