Kamis, 10 September 2009

Your Guardian Angel ^^

Pengennya sih bikin Novel, tapi....jadinya malah...kayak-----------CUKILAN BUKU....habis, halaman sebelumnya lagi Direvisi, halaman selanjutnya masih dalam pemikiran dan belum dituangkan dalam tulisan, ada yang mau bantu????!!!!------judulnya aja blon tahu-----ada Usul??? Tapi mungkin THE LAST MESSAGES jadi judul yang bagus ya? ^^
September 2009
Bersandar di salah satu sisi pohon, pemuda itu melambaikan tangan,mengisyaratkan aku untuk mendekat. Dia memakai celana hitam gombrong, jacket biru tua dan topi hitam.
Dari jauh kulihat senyumnya yang mengembang, meski aku belum menatap matanya, aku yakin, matanya yang indah dan redup itu pasti juga memancarkan keindahan yang sama seperti senyumnya. Dan aku masih ingat kebiasaannya, meski dia terbungkus baju apapun, dia akan selalu memakai kaos putih. Putih adalah warna kesayangannya. Andai Tuhan memberinya sepasang sayap putih, dia akan menjadi dirinya yang kubayangkan. Malaikat.
“Lancarkah?. Melihat tampangmu kurasa kau tak tersesat kali ini...”. dia berjalan menghampiriku. “Tentu saja aku akan selalu megingat jalan ini, sudah dua tahun sejak saat itu, saat terakhir aku kesini untuk menemuimu”. “Yeah, tak ada yang berubah, beginilah Old Town...”. “Benarkah, apakah kamu juga tak berubah?”. “Seingatku, selain titel yang sudah aku dapatkan, tak ada yang berubah dalam hidupku”, dia memainkan kerikil dengan sandalnya. “Nggak juga, kurasa kau tambah tinggi, sudah jauh melampauiku”, aku mengulurkan tangan keatas dan membandingkan dengan tingginya. “Lihat, aku hanya sepundakmu sekarang”, lalu kulepas topinya. “Begini lebih baik, aku suka melihat matamu...dan rambutmu yang jabrik acak-acakan, apakah selama ini masih seperti ini”. Dia tertawa, giginya yang putih dan berbaris rapi dipamerkannya. “Hei, ini potongan rambut favoritku, dari SD juga aku sudah seperti ini”.
“Apa yang membawamu kesini?”, dia menatapku menyelidik. “Kangen sama kamu...”. “Tumben...kukira kau sudah lupa padaku”. Aku tertawa, orang ini memang nggak perlu tahu, betapa setiap detik aku selalu memikirkannya, bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja, meski aku jarang berkomunikasi dengannya, aku selalu menghawatirkannya, entah kenapa, mungkin karena dia sahabat terbaik yang kupunya, orang yang bisa mengerti aku dan kupercaya. “Archie...”, dia menyenggol lenganku. “Hmmm...”. “Kamu melamun...”. “Maaf. Akhir-akhir ini aku memang ada sedikit masalah, makanya aku ingin berlibur di sini, Old Town dan menghabiskan minggu terakhirku bersamamu”. “Minggu terakhir...”. “Ya, setelah itu aku bekerja lagi, ini minggu terakhir liburanku, Rayn...kamu nggak keberatan kan?”. “Well, selama kamu nggak bikin masalah sih oke aja”, dia mengacak rambutku...”Wah...lagi rontok nih...”, dia mengacungkan jari-jarinya yang terbelit rambutku, rontok. “Maaf...sudah seminggu aku nggak keramas...”, aku nyengir. Dia dengan senang hati menjitaki kepalaku.
“Fazrayndra Alvajendra...”, aku membaca nama yang tertera di kamar asramanya. “Titelmu belum kaucantumkan?”. “Mmm...nggak perlu...dari tampangku aja semua orang tahu aku ini orang hebat...”, Rayn nyengir. “Percaya deh, lagian kamu belum pantas pake itu”. Dia membuka pintu dengan kartunya dan mempersilahkan aku masuk. Masih sama, nggak ada satu barangpun yang dia geser, entah karena sibuk atau malas, tapi dia bukan orang yang malas. Tempat tidur di dekat jendela besar, dia suka dibangunkan oleh sinar matahari pagi, satu set komputer dan mikroskop,di sampingnya dan almari penuh buku yang tersusun rapi. Kamar putih itu tak dia tempeli gambar satupun, bahkan fotonya. Kulkas kecil dan almari pakaian di sisi yang lain, aku masih mengingatnya, cuman satu hal yang udah nggak ada, bekas bocoran hujan di sudut dekat rak sepatu, langit-langitnya sudah rapi dan bersih, dulu di pojok situ ditaruh ember.
“Sekarang kamu bisa cerita, kamu kesini mo ngapain, mumpung aku juga liburan, eh, mau minum apa?”. “Yoghurt, di lemari esmu selain itu cuman ada air putih kan?”. “Nggak juga, ada air kencing juga kok”. “What?”. “Suer...biasalah kerjaan...”. “Kerjaan atau kau sekarang jadi jorok?”. Dia cuman cemberut sambil mengangsurkan Yoghurt. “Cerewet, jawab dulu pertanyaanku!”. “Wah, marah nih?. Aku cuman pengen menjelajahi Old Town dan memotret beberapa bangunan tua, kamu kan kenal daerah ini, please, anter aku ya...”. “Upahnya apa?”. “Kuberikan seluruh jiwaku, ragaku, hidupku....wah, sesama teman dilarang nagih upah dong, aku lagi miskin nih...kamu kan sahabatku yang paling baik, please bantu aku mendanai hidupku selama aku disini, jangan malah minta duit...”. “Ssssh, siapa juga yang mau minta duit ke kamu...”. “Terus kamu maunya apa...”, aku menatap matanya, waspada, orang satu ini terkenal sangat kalem, tapi berbahaya, usilnya itu lho, nggak ketulungan. “eee...nggak sekarang, kalau tugasku sudah selesai aku baru minta upahku..”. “Oke deh...”, aku membongkar tasku. “Sialan, mana dompetku...”, aku mengaduk aduk tasku dengan cemas. “Kenapa Arc?”. “Dompetku...hilang...mati aku!”. “Wah...sudah kubilang, Terminal Old Town sangat berbahaya, semua penipu dan pencopet berkumpul di situ, kamu ini...terus gimana nih, kamu mau pulang?”. Aku merogoh sakuku. “Sialan, yang tersisa cuman bisa buat makan selama seminggu, aku pinjem uangmu buat pulang ya?”. “Terus kamu mau nginep di mana?, kamu nggak ada uang untuk ke Hotel kan?”. “Tenang, kan ada Phriska, Fakultasnya nggak jauh dari sini kan, aku bisa nginep di tempat dia...”. “Bego, semua mahasiswa sudah pulang, apalagi Fakultas Biologi, udah seminggu yang lalu pada mudik...”. “Terus aku musti gimana nih? Deadline tulisanku seminggu lagi, kalau bisa besok aku ambil fotonya, aku belum jadi pegawai tetap, aku bisa dipecat nih...”. “Salahmu sendiri, gimana kalau suruh orang tuamu transfer uang ke rekeningku?”. “Nggak bisa,mereka udah ngasih uang bulan ini, uang di tabungan atas namaku, sementara kartu ATMku ilang, ah, aku harus hubungi bank buat ngeblokir ATMku nih”.
Untung HP tersayangku nggak ikut hilang, benar-benar sial, tapi aku masih bisa bersyukur, yah, orang di depanku inilah yang mengajarkan padaku untuk selalu bersyukur pada Tuhan.
“Nginep di sini?”, baru kali ini aku melihat tampangnya selucu ini, seperti anak kecil mainannya mau direbut, sudah lama aku nggak liat tampang culunnya seperti sekarang. “Please, cuman kamu yang bisa aku andalkan!”. “Gila kamu! Kamu kan cewek...”. “Nggak ada yang bilang kalau aku ini cowok, hei, baru kali ini kamu menyadari kalau aku ini cewek ya...”. aku menepuk lengannya. “Arc, please, ini bukan waktunya bercanda...”. “Memang kenapa? Pelit amat sih?”. “Bukannya pelit, tapi kalau kita bermalam di suatu ruangan itu nggak baik...”. “Kenapa?”. “Kenapa? Karena aku cowok dan kamu itu cewek!”. “So?”. “Kalau kita masih SD nggak papa, tapi kita udah gede, bisa terjadi hal yang nggak diinginkan...”. “Contohnya....”. “Ya....kamu pikir aja sendiri...kamu udah gede”. Aku tertawa. “Rayn, kamu sahabatku kan?”. “Tentu saja”. “Yups, itulah kenapa aku percaya sama kamu, bertahun-tahun aku mengenalmu, kau selalu menjagaku, dan aku nggak pernah berfikir, satu kali saja kau bisa berbuat sesuatu yang membuatku jadi membencimu, tapi kalau kamu mengusirku sekarang, aku benar-benar akan membencimu, ini masalah pekerjaanku, hidupku, please...”. setelah diskusi yang melelahkan dia mengalah. Aku tahu, seumur hidupnya baru kali ini dia melanggar prinsipnya untukku. “Rayn..”. “Yeah...”. “Kalau kamu masih keberatan, kamu boleh cari kamar lain, mungkin masih ada temenmu di asrama ini yang nggak pulang, tau kamu nginep di ruang kelas atau laborat, kamu tidur di luar juga bisa...tuh di emperan....”. Rayn menjulurkan lidah. “Enak aja...”
Di antara semua barang kesayangannya, Cuma motor gede inilah yang berwarna hitam, waktu aku menyarankan untuk membeli yang berwarna perak, dia menolak. “Nggak keren, lebih bagus yang hitam...”, katanya waktu itu. Aku memboncengnya dengan kedua tanganku berpegangan di belakang, dia nggak pernah mau ada orang memeluk pinggangnya. Bahkan kalau aku bukan sahabatnya, mungkin dia nggak mau berboncengan denganku. Rayndra memang satu diantara seribu orang, alim abissss. Sholat lima waktu itu biasa, sholat malam selalu dia lakukan, puasa sunah nggak pernah terlewat dan dia seorang ikhwan. Percaya nggak, salaman sama cewek dia nggak pernah mau. Pertama kali bertemu, menyentuh tanganku aja dia ogah. Tapi dasar aku ini memang bersayap hitam, aku membuat suatu taruhan yang membuatnya mau bersalaman denganku kalau dia kalah. Benar saja, dia kalah dan sejak itu dia memperlakukanku seperti sahabat cowoknya yang lain. Tapi aku cukup menyesal juga, dia nggak hanya bersalaman saja, tapi berani menjitakku dan menjewer telingaku. Mungkin dia sudah menganggapku seperti saudaranya sendiri. Sebenarnya jauh di dasar hatiku aku cukup menyesal, bagaimanapun aku bukan muhrimnya, tapi aku sudah membuatnya menyentuhku. Sedikit banyak itu dosa...di dunia yang sudah tak mengenal arti kesopanan dan adat ini, mungkin ceritaku ini aneh bagi kalian. Cerita yang aneh dan tak dapat kalian mengerti. Tapi itulah Rayndra. Tuhan, maafkan aku...tapi jika ada jarak diantara kami, meskipun sebuah dinding kaca, aku benar-benar akan memecahkannya, karena dengan menyentuh jarinya aku bisa merasakan, inilah hidup, persahabatan dan senyuman.
“Hoi, bengong aja...kamu mau makan apa?”. Dia menyentil lenganku. “Oh, sorry...ayam bakar satu, tambah telor sama tempe bakar...minumnya es teh aja...”. “Dasar maruk, memang uangmu cukup?”. “Lho, kukira kau yang mau traktir...”, aku menatapnya memelas. “Yah, baiklah, beramal pada musafir kayak kamu emang nggak boleh tanggung, tapi minumnya teh hangat aja ya, nggak baik buat gigimu kalau minumnya dingin sementara makanannya panas...”. “Oke doc!”. Restoran yang sama dengan tiga tahun yang lalu, suasana suram Old Town terasa, tapi ada keramahan di sini, aku menyukai tempat ini, matahari senja menyinari tempat ini dengan sepenuh hati, cahaya tembaga yang indah, benar-benar Old Town yang kubayangkan. Hidangan telah tersedia, kami mulai makan. “Rayn...”. “Ya?”. “Apa kamu mengunyahnya sampai nasi itu terasa manis...”. “Nggak juga...itu cuman satu prinsip dasar aja, aku nggak benar-benar melakukannya”. Aku tertawa melihatnya tersenyum jahil seperti itu. Waktu aku pertama kesini, dia menyuruhku mengunyah makanan sampai 28 kali, katanya itu baik untuk kesehatan lambung, kalau kamu nggak dikejar waktu, itu oke aja, tapi kalau kamu harus ngejar Deadline, itu nggak baik untuk kesehatan, percayalah.
Kami kembali ke asrama hampir pukul sembilan malam, dia mengajakku menikmati malam di Old Town, kota ini memang tua, tapi nggak pernah mati, orang bilang, di sinilah pusat industri Neocity. Begitu gemerlap dan nggak ada matinya. Kota ini hidup 24 jam, seperti Hong Kong dan Vegas. Aku berharap untuk bisa hidup, sehari saja, terjaga selama 24 jam. Melihat hujan yang indah, Rayn yang indah. Kau tahu, saat kau melihatnya tersenyum, kau seolah melihat Angel tersenyum. Karena dia selalu tersenyum dengan hatinya. Tak ada garis kasar yang terlihat di wajahnya, seperti melody yang lembut, seolah di wajah itu tak pernah tersirat kekecewaan, tak pernah tertulis kemarahan. Bagaimana dia bisa selalu hidup dalam kesabaran dan senyuman?. Karena dia ingin mempersembahkan senyuman itu untuk Tuhan, begitu dia selalu berkata padaku. Dia hidup untuk banyak orang, begitulah cita-citanya, ingin memberikan senyuman bagi tiap orang yang ditemuinya. Kurasa itu gambaran yang tepat mengenai dirinya, karena aku hanya melihat warna putih itu.Rayn...
Hujan turun, seperti garis putih yang tersambung ke langit, mengalir dari jendela kamar. “Dingin?” Rayn mengangsurkan segelas kopi panas. “Nggak juga, aku sudah biasa berteman dengan hujan, Rain...”. “Hehe, benar juga, kau tahu kenapa ibuku suka sekali memanggilku Rayn, seperti mengucapkan Rain?. Baginya hujan adalah...”. “Kehidupan dan harapan, kehidupan yang langsung turun dari langit, air akan memberi kebahagiaan bagi tiap makhluk hidup. Sentuhan langsung tangan Tuhan...”. “Wow, kok kamu tahu?”. “Kau sudah pernah bilang padaku soal itu, tapi kalau kebanyakan hujan ya banjir....seperti Old Town, banjir kok langganan”. “Hei, itu karena ulah manusia, air mengalir ke tempat yang semestinya, manusia sendiri yang membuat banjir itu!”.
“Ya..ya..ya...aku selalu kalah kalau berdebat denganmu”, kulihat dia asyik mengamati langit yang hitam. “Kalau hujan berhenti, kau bisa lihat bintang,tapi aku sering tertidur lebih dahulu tanpa sempat melihat bintang dari jendela, tahu-tahu pagi tiba dan hangat mentari membangunkan aku”. Dia bangkit dari tempat tidur dan menatapku. “Kau tidur di sini, aku di lantai, ini cuman cukup buat satu orang, kalau kusuruh kau di lantai tentu nggak sopan kan?”. Lalu diambilnya kasur cadangan dari bawah tempat tidur. “Wah, berarti sering ada yang menginap di sini dong Rayn, hayooo ketahuan nih...”. “Husss, dasar wartawan gosip, ini buat temenku, cowok tentunya, baru kau cewek yang berani tidur satu atap sama aku, nggak tanggung lho kalau tengah malam nanti saat bulan menyinariku aku bakal jadi Manusia Serigala, haha...”. “Wah, tuan Serigala yang malang, belum tahu ya, aku ini juara Taekwondo se Distrik 23, kalau nggak mau gigimu patah, jauh-jauh deh dari aku...”. lalu makhluk satu itu menuju meja belajar dan membawa setumpuk buku. “Bruk”, ditaruhnya dekat kasurnya. “Tidurlah, aku masih harus belajar...maklum, orang sibuk”. “Rayn, maaf ya...”.”For what?”. “Membuatmu melanggar prinsipmu satu kali lagi, aku benar-benar teman yang jahat, aku selalu membuatmu gagal naik ke Surga...”. “Kok ngomongnya gitu?”. “Habis, aku selalu membuatmu melanggar larangan Tuhan”. Dia bangun dan memegang tanganku. “Dia tahu, aku di samping kamu sebagai sahabat, Dia tahu itu...”. “Terimakasih, tapi aku pernah berfikir, betapa jinaknya kamu sama aku mungkin karena hubungan kita di masa lalu sangat akrab, jangan-jangan aku ini seorang Ratu, dan kau pengawalku atau aku ini majikan dan kau pembantuku yang setia, hehe...”. dia langsung melempar tanganku. “Wah, enak banget ngomongnya, sudahlah, tidurlah adikku sayang, kakak akan menjagamu, itu mungkin hubungan yang benar...mungkin seperti itu...”.
Aku merebahkan diri, nyaman sekali, bener-bener ruangan yang hangat. Rayn asyik membaca bukunya, kalau dia pakai kacamata dan dahinya berkerut serius sepertinya aku melihat sosok yang berbeda, Rayn yang sudah dewasa. Dokter Rayndra. Benar-benar tak ada yang berubah, perasaan nyaman di hati ini saat bersama dia, hangatnya hatiku saat dia memegang tanganku dan mendengarnya bercerita. Seandainya aku masih punya banyak waktu, aku ingin selalu disampingnya. Tapi dia harus tetap melalui hari-harinya yang masih panjang. Mungkin suatu saat dia akan mencintai seseorang, memiliki istri dan anak, aku yakin anaknya pasti sangat manis dan serasa aku sudah melihat anak itu. Anak yang memiliki senyum yang sama dengannya.
-------------
Dia sudah tidurkah?. Apakah mimpinya indah?. Eidenill Archieva. Kau pikir aku tak tahu apa yang menimpa dirimu?. Kau sudah seperti jantungku. Sungguh sakit sekali rasanya mengetahui rahasiamu. Aku hampir tak bisa berdiri saat aku tahu apa yang menimpamu, meskipun belum terlihat Phitisis , aku yakin di paru-parumu ada sesuatu. Dan aku sudah mendapatkan diagnosis tentangmu. dr. Eira adalah sahabatku, dia sudah bilang semuanya.
Percuma aku belajar Physognomia, kalau aku nggak tahu kau sakit saat melihatmu tadi. Suhu tubuh dan warna wajahmu. Dasar bocah bengal, pura-pura tersenyum, aku tahu kau selalu menahan senyummu. Kalau saja kau tahu, rasanya hatiku teriris saat melihatmu seperti ini, kamu selalu sok kuat, seolah dunia bisa kau kalahkan. Seandainya aku bisa bilang, aku ingin kau tahu, bilang saja lelah saat kau merasa lelah, aku akan menemanimu. Archie, aku akan melakukan apapun untukmu, bertahanlah untukku, sebagai bayarannya.
Saat aku melihat wajahnya tertidur, aku takut, dia akan seperti ini selamanya. Tuhan, tolonglah dia. Sahabatku yang terbaik, dengan semangat yang membuatku bertahan sampai saat ini. Tidak, aku nggak boleh menangis di depan dia, dia pasti marah kalau melihatku menangis. Padahal menahan air mata itu sangat sulit, otakku seolah bisa mencair karena panasnya airmata yang kutahan, sakit sekali, kau tahu Archie?. Aku akan belajar, menemukan cara untuk membuatmu bertahan...
---------
Jam berapa ini?. Aku bangun dan mendapati Rayn tertidur. Wah, menjelang pagi rupanya, bulan bersinar terang, lampu sudah dimatikan, tapi aku masih dapat melihat wajahnya, terimakasih Bulan!. Dia manis sekali kalau tidur. Pasti dia lelah, gara-gara aku. Tuhan, maafkanlah dia untuk setiap kesalahan yang dia lakukan gara-gara aku, catat dosa itu di bahuku saja, aku mohon. Berikan kehidupan yang menyenangkan, semoga dia mendapat seseorang yang mengerti dia, mencintai dia dan semoga kehidupan yang menyenangkan menantinya. Dia sudah membuatku bertahan untuk tidak menangis sejauh ini, dan aku bisa menerima keadaanku.
-----
“Hoiii, bangun...”, bahuku ditepuk keras banget. “Heee, sakit tau!”. Rayn nyengir. “Habis kau tidur kayak orang mati, sayangnya dengkuranmu keras banget...jadi aku tahu kau masih hidup, eh, kau ini benar-benar kafir ya, nggak sholat subuh apa?. Kalau nggak berjilbab aku bisa maklum, tapi kalau kau ogah sholat, kau bakal kuusir!”. “Maaf ya...”, aku bangun dan membongkar tasku. “Untung mukenaku masih ada, kalau nggak aku pinjam peci dan sarungmu Rayn”, aku nyengir. “Kemarin aku baru dapet...tadi malem kan aku dah keramas, jadi sekarang bisa subuhan, kau imamnya ya...biar pahalanya banyak, aku nggak mau di hidupku yang singkat ini aku nambah dosa...”. “Wah, baru nyadar kalau hidup manusia itu singkat ya...”, goda Rayn. Sholat bareng, Tuhan, catat ini sebagai sesuatu yang baik ya, dengan alunan suaranya yang jernih mengalun, aku seolah mendengar nyanyian indah yang memujiMu, seolah aku menjadi sangat dekat denganMu. Aku menjadi nggak takut lagi kalau besok Kau panggil aku. Selama ini aku merasa takut, mati itu seperti apa sih?. Apa sakit?. Tapi semua akan mengalami itu, bukan?. Semua orang akan mati dan aku nggak boleh menangis lagi. Siapa tahu kalau umurku panjang, dosaku tambah banyak dan aku nggak bisa masuk surga.
Mungkin ada bagusnya kalau tahu sebentar lagi kau akan mati, kau jadi takut berbuat dosa. Dan kau akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal terbaik yang kau bisa. Kau akan melihat dunia sebagai sesuatu yang berbeda. Kau menikmati harum udara di pagi hari, bau segar rumput yang kau injak dan warna cerah bunga-bunga yang mekar. Aku harap aku bisa menikmatinya di tempat yang bernama Surga, semoga saja aku bisa masuk ke sana. Aku bayangkan, ada rumput ilalang panjang yang memenuhi lapangan luas, langit begitu cerah dan nun jauh di sana ada rumah kayu yang hangat. Rumah yang bisa kutuju, karena di sana ada kebahagiaan. Itu surga yang kubayangkan.
“Kau mau ke mana pagi ini?”, Rayn mengangsurkan sebuah buku. “Ini tempat-tempat yang bisa kau tuju di Old Town...atau kau ingin ke pantai?. Di sana sangat indah...”. “Ya...tapi sebelum memotret tempat-tempat indah itu, aku ingin ke salon..”. “Kenapa? Kau kan sudah jelek, percuma pakai make-up, tetap jelek kok..”. “Heee...aku tahu kalau aku jelek, tapi jangan ngomong gitu...kau juga jelek kok, aku cuman ingin potong rambut”. Rayn terlihat aneh, belum pernah kulihat wajahnya suram begitu. “Ah, sayang sekali...”, dibelainya rambutku. “Panjang, hitam, indah...”, gumamnya. “kalau kau pingin, panjangkan sendiri rambutmu..”. “Boleh aku tahu...?”, “Apa?”, “Alasan kau ingin memotongnya?”.
“Bosan, aku bosan punya rambut panjang, lagian udah sering rontok. Lagian kalau rambutku seperti kamu...wah...tinggal pakai slayer dan topi aja udah kayak pakai jilbab ya...”. “Alasan yang nggak masuk akal....”. “Pokoknya aku bosan aja, lagian repot ngurus rambut panjang, aku iri sama kamu...nggak perlu repot, tinggal sisir pake jari aja...jabrik deh...hehe...”. “Nggak lucu....”. motor hitam itu berhenti di sebuah salon. “Rayn...jangan cemberut terus dong....”,lalu aku masuk ke salon bersamanya. “Mbak, please potong kayak orang ini”, aku menunjuk cowok manis yang ternganga heran di sampingku. “Hei...hei, nggak sayang tuh?”. “Diam ajalah, kalau aku kelak jadi wartawan, aku memang harus berambut pendek”. “Alasan aja kamu...”. “Suer!, kata Pak Thomas tugas pertamaku ke Afghanistan lho”. “Oh ya?”. “Begitulah!”.
“Hampir setengah meter lho”, aku mengacungkan hasil potonganku. Dia terlihat geli. “Ih, mau kauapakan?”. “Ceburin ke laut”, kataku. Setelah meminta sebuah kantung plastik dan membungkus rambutku, kusuruh dia membayar ke kasir. “Rayn, aku tunggu di depan ya...”. “Dasar, kamu emang suka bikin bangkrut!”. “Potong rambut nggak masuk anggaranku, Rayn sayang...”.
“Nah, pergilah dulu...”, bisikku sambil menebarkan rambutku ke pantai. “Emang kamu mo nyusul...”, bisik Rayn. “Apa maksudmu?”, aku ganti memandangnya. Ups, aku lupa, orang ini sangat-sangat...”Hehe...susul sekarang aja...”, dia mendorongku hingga jatuh mencium pasir. Dia sangat jahil, aku baru ingat!. Bocah satu ini tampangnya aja yang alim, tapi jahilnya itu lho...
“Sialaaaan!”, kukejar dia, bukan Archie kalau nggak bisa melemparnya ke pantai!. Dia tertawa mengejek sambil berlari kecil. Kutangkap kakinya, tersandung deh. “Cium tuh pasir...emang enak?”. Rayn mencoba berdiri tapi segera kubenamkan lagi ke pasir. “Aduuuh, ampun mak!”. “Makanya, jangan remehin aku yach...”. “Aduh, kurus-kurus begitu energimu lumayan juga ya?”. Aku tertawa, tapi lama-lama paru-paruku terasa panas dan akupun terbatuk. Sakit sekali. Ya Tuhan, kenapa di saat seperti ini...”Hei...”, Rayn menyipit dan memandangku. “Arc...are you okey”. “I’m fine...”, aku tak berani menatapnya. Rayn memegang tanganku penuh selidik. “Sudah kuduga...”. “Apa...”. “Denyut nadimu...kamu sakit Arc”. Aku mencoba tersenyum tapi sulit sekali. “Sudahlah, kalau mau nangis, nangis aja, sakit kan kalau ditahan terus...”, dia meraih kepalaku. Menangis di dadanya, melepas segala rasa yang memberatkan hatiku...akhirnya aku bisa menangis.
Rayn membelikanku sebuah kaos. “Kalau basah gitu, kau bisa tambah sakit...”. lalu kami pulang melewati bukit dan memandangi pantai yang ada di bawah sana. Dia membawaku duduk sejenak dan membuatku banyak bercerita. “Kenapa kamu ngerasa sendiri, banyak orang sayang sama kamu”, nasihatnya terdengar hampa di telingaku. “You don’t know me”. “I know all ‘bout you, kamu termasuk orang yang nggak bisa percaya sama orang dengan mudah, tapi bukan berarti kamu nggak percaya siapapun kan?”. “Ya, paling nggak aku bisa percaya sama kamu”. “Baguslah, bersemangatlah, seperti selama ini kamu membuatku bersemangat untuk menjalani hidupku”. “Wah, kadang sulit, kalau kamu tahu sebentar lagi kamu mati”. Dia tertawa. “Hei, kamunya aja yang cengeng, sudah kubilang, kita nggak boleh menyerah begitu saja”. “Kita?. Ini masalahku, Rayn!”. “Menyelamatkanmu...”.“Apa?”. Dia menatapku.
“Menyelamatkanmu...kalau kau percaya pada Tuhan, aku pasti bisa berusaha...”. “Sudahlah”.Rayn mengguncang lenganku dan menatapku dalam. “Hei, tunjukkan Archie yang pemberani itu, Archie yang tegar, nggak mudah menyerah dan percaya harapan selalu ada”. “Meskipun harapan itu kosong?”. “Sesungguhnya setiap harapan itu adalah kekosongan, Archie, tergantung bagaimana kita mengisinya”. “Rayn yang baik, terimakasih, tapi aku sudah nggak punya planning ke depan, aku cuman pengen lihat kamu bahagia sobat, baru aku mati dengan tenang”. Rayn nyengir. “Dasar bego, kalau aku ngomong aku bakal nyelametin kamu, aku nggak bohong, aku juga nggak bisa bahagia kalau kamu nggak ada...”. “Oh ya...”, aku penasaran dan memandang wajahnya. “How sweet...hei, jangan bilang kamu nangis kalau aku mati...”, dia memalingkan wajahnya, tapi aku jadi penasaran. “Tentu saja sedih, nggak ada lagi yang bisa kujahilin dan kamu kan masih punya utang sama aku, kalau belum kau bayar kamu bisa masuk neraka, jadi jangan mati dulu ya....”. sialaaaan...”kukira dia mencemaskan aku.
“Walau badai menghadang...”, aku bersenandung riang. Paling enggak, aku punya sahabat yang baik, dia memang seseorang yang berarti buatku, sangat berarti.
“Apa kau pernah jatuh cinta?”. Di lorong bangunan tua yang menyeramkan ini dia malah bertanya yang aneh-aneh. Aku memfokuskan diri memotret objek yang harus kuambil. “Entahlah...duapuluh tujuh tahun aku hidup, belum ada yang bisa cocok, lagipula masa depanku masih suram, lain dengan kamu”. Tembok tua yang terbentang di bangunan ini membuatku merinding. Ratusan tahun yang lalu bangunan ini pasti sangat ramai dan dihuni keluarga besar yang bahagia, sekarang jadi objek wisata kuno yang terkadang terselip berita mengenai keangkerannya. “Apa nggak kepikir menikah?”. “Aku nggak tertarik, setiap cowok yang aku kenal nggak punya komitmen, cuman kamu yang bisa bikin aku percaya kalau komitmen bisa dipenuhi seorang pria, jarang ada cowok kayak kamu”. Aku memandangnya dengan jujur. “Kau tahu, kamu satu-satunya orang yang kukenal, selain ayahku, yang bisa memegang prnsip hidup. Sekali kau berjalan ke utara, kau pasti terus melangkah, tak perduli badai seperti apapun...kalau aku punya cowok seperti kamu, mungkin aku sudah menikah, sudahlah, kita ganti topik aja...”. dia mengerdikkan bahu. “Eh, Arc, kau dengar itu nggak...”. “Apa?”. “Suara perempuan nangis....”. aku langsung blingsatan dan mencari jalan keluar, lari....
“Sialaaan...kapan sifat jelekmu hilang sih...”, gerutuku. “Ya maaf, katanya suruh ganti topik”. “Tapi jangan ngagetin aku, bego!”. “Yeee, katanya siap mati, tapi sama hantu aja takut”. Dia nyengir usil, dasar bego!. Tapi bangunan tua itu benar-benar menyeramkan. Aku berjalan cepat menyusuri rumput yang tinggi, dulu mungkin ini kebun yang indah, tapi sekarang seperti sarang hantu. “Arc...gimana kalau kita nikah aja...”. aku memandang Rayn. “Hiiii....bangunan ini serem ya...kamu aja sampai kesurupan gitu...Rayn...kamu kenapa sih, jadi aneh....”.dia berdiri mematung, aku jadi cemas. “Aku serius, kita nikah yuk!”. “Hei, kamu ngomong mo nikah gitu enteng banget, kayak mo ngajak beli kacang goreng aja. Pikir dong, sebentar lagi aku mati nih, jangan tambah ruwet lagi pikiranku Rayn”. “Ah, hidup mati di tangan Tuhan, aku tahu kamu sakit, tapi siapa tahu lho kalau aku yang mati duluan...”. dia menjajari langkahku, brengsek, apa dia nggak mikir, jantungku berdetak dua kali lebih cepat dan mungkin mukaku udah kayak udang rebus sekarang. “Rayn, jangan mengasihaniku, aku ini sahabatmu yang butuh pertolongan, tapi nggak usah sejauh itu. Aku tahu, kamu menyukai seseorang, kakak kelasmu yang manis dan berjilbab itu kan?. Dia orang yang baik, aku tahu pilihanmu takkan pernah salah. Aku harap kamu bahagia, jadilah suami yang baik, ayah yang baik, aku akan tenang memandangmu dari surga”. Rayn malah tertawa. “Klise banget Arc, itu mah cerita sinetron...Arc, please tatap mataku”, lagi-lagi matanya yang kelam dan teduh menatapku tajam. “Kamu mencintai aku kan!”. “Itu bukan pertanyaan Rayn, itu pernyataan, hei, lepasin aku”. Percuma aku memberontak, mataku nggak bisa berbohong di depannya. “Rayn, please, jangan memaksaku”. “Aku tahu kamu mencintai aku, sudahlah, kamu bakalan menyesal kalau menolak hatiku, ayolah Archie...jangan membohongi perasaanmu sendiri, bukankah itu sakit?”.
Aku mendorongnya. “Terus kenapa?. Apakah salah aku mencintai kamu?. Tapi bukan berarti kamu boleh bongkar hati aku seenakmu begitu...dan aku nggak bakalan mau nikah atas dasar rasa kasihanmu. Kamu mencintai Rasya dan aku nggak boleh egois...”. aku memeluknya. “Kamu sahabat yang baik Rayn, terlalu baik, jangan lebih berkorban untukku, atau aku nggak bisa masuk surga”. Dia malah menunduk dan menangis. Aku baru kali ini melihatnya sangat rapuh. “Gimana caranya...Arc, aku cinta kamu...gimana caranya supaya kamu percaya...”. “Tapi..Rasya...”. “Aku hanya mengaguminya, aku baru menyadari, betapa beratnya saat aku tahu kamu bakalan pergi dan kita nggak bisa ketemu lagi, aku nggak bisa kehilangan kamu, setelah selama ini kamu memberi banyak hal pada hidupku. Maafkan aku, aku baru menyadari itu, tapi ini benar-benar rasa yang ada di hatiku, justru aku yang mohon belas kasihanmu, berikanlah waktumu...lewati hari-harimu yang tersisa hanya bersamaku saja...kumohon...”. aku membuka topiku, rambutku sudah sama cepaknya dengan rambut Rayn. “Tatap aku sobat, aku sakit, sekarat...lihatlah mayat hidup di depanmu ini, kamu mau menikah dengan orang seperti ini?. Kumohon, tarik ucapanmu...”. Rayn berdiri dan merogoh sakunya. “Kamu sudah berjanji, saat aku melakukan semua hal yang kamu mau, kamu akan mengabulkan satu permintaanku...itu masih berlaku kan?”. Lalu dipasangnya cincin itu di jariku. “Itu mahal, kalau kau menolaknya, hutangmu tambah banyak sama aku...”. lalu tanpa menunggu jawabanku dia mengandeng aku keluar, menuju motornya.
---------


September 2029
Fazra memandangi foto orang tuanya yang tersenyum manis. Dia merasa sendirian, seperti Harry Potter. Bahkan dia tak bisa mengingat kedua orangtuanya. “Harry, kenapa kita sama, andai aku punya kekuatan sihir sedikit saja”. Dia memegangi pelipisnya, ada luka di sana. Luka yang ditorehkan kecelakaan itu dan membuatnya tak bisa mengingat apapun, dia tak tahu siapa dirinya seandainya tak ada Diary ibunya.
Hanya ada beberapa halaman yang tersisa, kenangan ibunya bersama ayahnya. Dan namanya. Eidenill Fazrayn. Dia hanya tahu, setelah keluar dari rumah sakit, paman yang aneh itu menyuruhnya untuk melupakan semuanya, dia hanya tahu orangtuanya meninggal dalam kecelakaan itu. Dan dia bahkan nggak bisa mengenali rumahnya. Paman Eric bahkan langsung berniat mengajaknya tinggal bersamanya. Fazra hanya bisa menangis. Apa lagi yang bisa dilakukan anak berumur delapan tahun?. Dan sehari sebelum kepindahannya, saat dia menangis sendiri dan kedinginan di loteng, dia menemukan buku harian dan sebuah foto. Kata paman Eric itu foto orangtuanya waktu ayahnya kuliah di Westside. Lalu dia bilang, nggak apa-apa kalau Fazra ingin menyimpan buku itu, karena itu buku yang bisa membuat Fazra tahu, siapa dirinya meskipun dia tak bisa mengingat apapun. Meski buku itu kusam dan robek di sana-sini, Fazra masih bisa membacanya. Banyak bagian yang hilang dan rusak. Di lembar-lembar akhir dia tersenyum, paling tidak, cerita di buku ini berakhir bahagia. Ada foto kedua orangtuanya yang tersenyum, menggendongnya saat bayi.
------------
“Aku tak pernah menyangka, aku bisa bahagia, meski rasa sakit itu selalu ada. Tapi rasa sakit itu teredam oleh kehadiranmu. Kami menamaimu Eidenill Fazrayn. Namaku dan nama ayahmu. Aku sangat bahagia bisa memilikimu, aku yakin suatu saat kau sama hebatnya dengan ayahmu. Kaulah kebanggaan kami”.

-------
“Hai Faz, ngelamun aja, eh apa itu”. Aaliya mendekat ingin tahu. “Oh, hanya buku tua, sudah kubilang, kalau masuk kamarku ketuk dulu pintunya, bikin kaget saja”. “Maaf, habis kamu melamun terus, sehabis ketemu cowok aneh yang menabrak kamu di lorong rumah sakit kemarin...”. Fazra menyimpan buku itu di laci setelah menyelipkan fotonya. “Ada apa kau nyari aku?”. “Oh, cuman pengen ngajak jalan...seharusnya kita kan liburan kalau aja nggak ikutan kelas tambahan, ayolah Faz, kita butuh hiburan kan?”. “Kemana?”. “Old Town saja, kita nggak bisa lebih jauh dari Westside, gara-gara peraturan untuk kembali sebelum pukul sembilan malam itu”. Fazra mengeridikkan bahu setuju meski agak malas. Tapi karena Aaliya adalah putri paman Eric yang selama ini mengasuhnya, dia harus mematuhi perintah Aaliya. Nggak lama mobil biru metalik Fazra melaju meninggalkan Westside. Aaliya mengajaknya menyusuri Square Quest, salah satu hypermarket termegah di Old Town setelah SellWell. Sebenarnya Fazra nggak terlalu suka, dia sangat benci keramaian, lebih enak menyepi di kamarnya dan membaca atau bermain dengan laptopnya. “Masih mau belanja?”, tanya Fazra, Aaliya mengangguk,”Iya, beberapa baju…”. “Sendiri aja ya, aku mau beli beberapa kaset?”. “Yah, aku kan butuh komentar kamu, rencananya baju itu mau aku pakai ke pesta Rika besok, kan datengnya sama kamu, biar kita matching…”. “Aku pakai setelan hitam, lagian pakai apapun kamu cocok, udah ya, waktu kita sejam lagi”. “Oke deh…”. Fazra menghela nafas lega, dia paling nggak suka mengantar Aaliya beli baju, ah, sudahlah, dicobanya berkonsentrasi, kepalanya sangat pening. Dia segera masuk ke sebuah toko kaset dan mencari CD Evxes Azta, instrumennya kalem dan misterius,seperti Kenny G, akustik beberapa lagu lawas yang masih menarik untuk didengar, apalagi di suasana seperti Old Town. Saat asyik memilih, seseorang menyapanya. “Wah, suka Evxes juga ya…sama…”, cowok bertopi army look itu tersenyum. “ Oh, lumayan…eh, kamu...kayaknya aku pernah lihat...”. cowok itu mengerdik. “Yah, kita sempat tabrakan waktu di Westside”. “Kamu adiknya Aidan?”. “He-eh, lihat-lihat Westside, kuliah di situ kayaknya enak…bukankah begitu?”. Fazra tak menjawab. Cowok itu seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi urung, langkahnya surut ke belakang. “Bye Fazra…”. Fazra menoleh ke arah cowok itu memandang, Aaliya tampak kepayahan dengan belanjaannya. “Faz, bantuin aku dong…”. Fazra menghampiri Aaliya, saat mengedarkan pandangan, cowok itu sudah nggak terlihat.
“Siapa dia?”. Fazra memejamkan mata, di kamarnya yang bersuasana biru-putih itu, dia memikirkan perjumpaannya dengan si cowok misterius. “Seolah aku pernah melihatnya di suatu tempat, apa karena dia mirip Aidan?. Mungkin, karena dia mirip Aidan”. Lalu sekilas terlintas bayangan seorang gadis kecil menangis. Fazra merasa kepalanya pening. “Ah, sudahlah”, gerutunya. Ingatannya sampai umur delapan tahun hilang, dan dia nggak ingin mengingat. Mengingatnya sama saja mengingat hari kematian orangtuanya. Lalu dia mencoba untuk tidur, berharap melihat senyum kedua orangtuanya dalam mimpi. “I miss you mom, dad…miss you so much…”.
----
“Apa kau pernah jatuh cinta?”. Tifa menatap boneka beruang berjas putih di pelukannya. “Rasanya sangat indah, tapi sedih…saat orang yang kita sayangi tak ingat sama kita, lupa akan setiap kenangan saat bersama, rasanya sedih. Tapi, apapun yang terjadi, dia tetap Fazra yang kusayangi. Sama seperti Fazra yang dulu, buatku dia masih tetap sosok yang sama. Kenangan itu, walau sepahit apapun, nggak boleh dilupakan”. Lalu ditaruhnya boneka beruang putih itu di atas bantalnya. Tak lama dia tertidur. Kedua kakaknya diam-diam memandangnya dengan sedih. “Apa perlu kupukul kepala bocah sialan itu supaya dia ingat?”, gerutu Ardan. “Hush, sudahlah, kalau jodoh, mau kayak apa juga, pasti mereka bakal bertemu, lagipula waktu masih sangat panjang”.
Sementara Ardan dan Aidan sibuk dengan urusannya masing-masing, Tifa lebih memilih berjalan-jalan di taman. Mawar sedang mekar dan udara pagi begitu segar, dibacanya beberapa buku cerita milik Ardan. Kebanyakan Science Fiction, waktu kecil kedua kakaknya sangat tergila-gila pada Gundam dan Monsters, banyak sekali koleksi robot mereka. Tentu saja untuk dibongkar pasang sampai-sampai ayah mereka ikut larut mencermati ulah keduanya dan tertarik membongkar pasang mainan itu. “Hai”. Seorang pemuda berkaos putih dan berkacamata duduk di sampingnya. Fazra. “Sendirian?”. Tifa mengangguk. “Kamu sendiri, nggak kuliah?”. “Ini hari minggu”. “Wah, aku sampai lupa hari, kamu lagi ngapain?”. “Habis jogging, gitulah kalau ada waktu, biasanya istirahat di sini”. Lalu Fazra menoleh ke belakang, ada penjual makanan di sana. “Roti bakar sama susu kental ya pak, eh, kamu mau nggak?”, tawarnya, Tifa mengangguk. “Dua, pak!”. Fazra tersenyum, begitu manis hingga Tifa merasa sedih, mengingat masa kecil mereka. “Kamu adiknya kak Aidan?”. “Kok tahu?”. “Kalian lumayan mirip, mau ujian masuk ke Westside?”. “Begitulah...”, Tifa terpaksa berbohong. “Jadi, kamu di sini sedang melihat-lihat suasana Westside ya? mau ambil jurusan seperti Aidan?”. “Nggak juga, aku ingin masuk Ilmu Komputer, sepertinya jurusan yang diambil kakakku tidak terlalu menyenangkan”. “Jadi dokter itu cukup menyenangkan”. “Sayangnya, aku takut melihat darah, cukup ayahku dan kakakku saja yang jadi dokter, aku tidak tertarik”, kata cowok itu pelan. Fazra mengerdikkan bahu, lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
Tifa nggak tahu mesti ngomong apa, tiba-tiba Fazra mengulur tangannya. “Fazra…”. “Ti…eh…Noir…”. Fazra mengernyit sejenak. “Noir?”. “Black, yeah, aku lahir saat gerhana bulan…”. “Oh, kukira namamu nggak jauh beda sama kakakmu, ternyata jauh ya…”. “Begitulah, ngomong-ngomong, kamu dah lama tinggal di sini?’. Fazra mengerdik. “Cukupan lah, lima tahun ada”. “Wah, berarti kamu bisa nunjukin ke aku bangunan terkenal di Westside?”. Fazra mengernyit. Teringat dialog ayah dan ibunya di buku kenangan itu. “Faz…kamu kenapa?”. “Oh, nggak, aku jarang keluar Westside, aku nggak terlalu suka jalan-jalan”. “Mmm, gitu ya…aku cuman baca buku sejarah kota ini, kayaknya banyak hal menarik”. Noir menunjukkan buku lama bersampul tebal karya Eidenill Archieva, dia memang sengaja selalu membawa buku itu. Mungkin Fazra bisa mengingat sesuatu dari buku karya ibunya itu. Fazra bertambah pucat. “Beautiful Old Town”, bisiknya. Dibukanya halaman pertama, “For my husband and my lovely son…”, sayangnya nggak dia sebutkan namanya, dan gambar kota tua belasan tahun lalu terpampang indah. “Aku pengen memotret beberapa diantaranya, sayang, kedua kakakku terlalu sibuk, aku sih pengen ke sana siang ini sendiri, tapi kalau kamu ada waktu luang, anterin dong friend, aku ini payah kalau menghafal jalan, lagipula jalanan di Old Town begitu ruwet”, Noir tertawa. Fazra memaksa tersenyum. “Yah, hari ini kebetulan kuliah tambahan dibatalkan, jadi seharian aku free, pakai mobilku aja”. “Wah, makasih…”. Mata Noir berbinar menatap Fazra, yang ditatap merasa jengah. “Kenapa Faz?”. “Lama-lama kamu kayak anak perempuan”, Noir tersentak. “Aku ini meski wajahku begini, aku laki-laki, mau bukti?”, teriaknya sambil memegang ritsleting celana jeansnya. Fazra nyengir. “Sorry man, iya deh, kamu laki-laki”. “Satu hal Faz, kamu boleh ngatain aku apa aja, asal jangan ngatain aku banci, gini-gini aku pernah ikutan Taexwondo sampai ban item”. “Oh ya?”, Fazra jadi teringat ibunya, kenapa cowok ini malah mengingatkannya pada ibunya?. Diam-diam Tifa alias Noir menghela nafas lega, penyamarannya nggak boleh terbongkar. Meski dia harus menjadi lelaki, asalkan selalu bisa dekat dengan Fazra, dia akan melakukannya.
Pertama mereka menikmati keindahan Red Phoenix, bangunan antik seperti pagoda menjulang tinggi dikelilingi asrinya pepohonan maple, suasana di sini seperti berada di Jepang atau Korea, sangat sejuk dan indah. Setelah puas memotret bangunan tua itu dan melihat-lihat sekeliling, mereka menuju Kastil tua White Castle, bangunan tua dengan seribu pintu itu terlihat megah dan menyeramkan, itulah uniknya bangunan ini, hawa mistisnya begitu terasa. Fazra sejenak mematung, ini pertama kalinya dia ke sini, dia merasa, nggak perlu menelusuri perjalanan orang tuanya karena terasa menyedihkan, tapi ternyata tidak. Memang ada rasa haru, tapi ada sepercik kehangatan menelusup di hatinya. “Kamu kenapa?”, Noir menatap Fazra yang mematung di lorong. “Di tempat ini…ayahku melamar ibuku…”. “Oh ya?”, Noir hampir saja bertanya, kok Fazra bisa ingat hal itu?. “Sebenarnya, waktu kecil aku dan orangtuaku mengalami kecelakaan, mereka meninggal dan aku kehilangan ingatanku sampai umur delapan tahun, catatan harian ibuku yang membuatku mengetahui sebagian diriku yang sekarang”. Noir terbelalak, jadi itu, yang membuat Fazra nggak ingat siapa dirinya. “Lho, kok kamu nangis”, Fazra tersenyum menatap Noir, tak sadar tangannya menghapus airmata yang mengalir di pipi Noir. Lama keduanya saling menatap, “Kamu seperti anak perempuan…”.Fazra mengalihkan pandangannya. Noir nggak bisa berkata apa-apa selain melangkah keluar dari situ. “Kalau kau bilang aku ini banci, kubunuh kau…”. “Iya deh, maaf”.
Noir menatap Fazra sedih. Sahabat baikku, andai kau tahu aku ini perempuan dan aku mencintaimu, apakah kamu akan tetap sama seperti ini?. Apakah suatu saat dia akan tahu?. Aku selalu menyayanginya?. Dan dia selalu hadir dalam mimpiku?. Melihatnya tertawa lepas seperti ini, membuat Noir merasa lega. “Noir, kenapa ya, perasaanku merasa, kita seperti sudah kenal lama?”. “Mungkin, dulu…kita adalah sahabat dan reinkarnasi yang entah ke berapa ini, kita sahabatan lagi deh…”. “Ada-ada saja kau ini, lapar nggak?”. “Iya nih, lumpia ya, kamu yang bayar”. “Lho, harusnya gantian, kamu yang traktir aku”. “Baiklah, baiklah…sebagai pengganti uang bensin, dan terimakasih sudah mengantarkan aku berputar keliling Old Town, benar-benar pengalaman yang nggak bisa kulupakan”. “Aku minta hasil fotomu dong”. “Boleh…besok aku copykan, well, ayo makaaaan!”.
Hampir petang mereka baru sampai ke Westside. Bersama-sama mereka menuju asrama sambil bersendau-gurau. “Makasih Faz, kapan-kapan gantian aku yang jadi guide kalau kamu main ke Eastside. “Sama-sama, aku akan tagih janjimu”. Di lorong, seorang gadis cantik berwajah masam menunggu. “Faz, dari mana saja sih?. Aku nunggu kamu dari tadi, aku telpon, HP kamu nggak aktif”. “Main, lagian kita kan nggak ada janji hari ini”, jawab Fazra santai. “Iya sih, tapi ada soal yang aku nggak ngerti”. “Kita ke perpus aja”. “Memang di kamarmu aja kenapa?”. “Kotor”. Fazra merasa kesal, tapi Aaliya sepertinya nggak perduli. “Aku duluan ya…”, Noir melambai. Dia nggak berminat melihat pertengkaran pasangan itu. Tak sadar, dia merasa kesal, apa ini yang namanya cemburu?. Whatever, pokoknya rasanya nggak mengenakkan. Noir pun berlalu meninggalkan dua orang itu.
“Gimana kalau ntar malem aja?”. “Jangan, kita harus menyusun rencana serinci mungkin, jangan sampai Tifa tahu”. “Apa yang jangan sampai gue nggak tahu?”. Kedua kakaknya menoleh. “Eh, Ti…Noir, sejak kapan kamu nguping kita?”. “Barusan aja, kalian tuh, masih aja punya pikiran gila, pengen ngeliat CL 34 dan AX 32 di laboratorium bawah tanah, sudah deh, lupakan aja, pengawalan di sini kayaknya ketat”. Aidan menghela nafas panjang. “Kamu nggak tahu apa-apa soal ini, udah deh, tidur aja sana, eh,seharian ini kamu dari mana?”. “Main”, jawab Noir sambil bergulung di tempat tidur, kecapekan. “Sama siapa?”, tanya Ardan. “Sendiri…”. “Oh ya?”. “Cerewet banget sih, udah, aku mau tidur, capek”, si kembar saling berpandangan heran lalu mengerdikkan bahu.
“Tapi si bocah nyebelin itu mungkin tahu…”. “Maksudmu Fazra?”. “Yup’s, CL 34, AX 32 sama Earth Alliance yang heboh itu kan kerjaan bokapnya, kamu masih ingat artikel punya ayah yang kita baca kan?. Demi menyelamatkan istrinya, dr. Fazrayndra mengembangkan F 64, yang sekarang berkembang jadi F 106, penemuan yang semula untuk memperkuat sel yang lemah jadi beralih fungsi untuk mempercepat dan memperkuat pertumbuhan sel. Setelah beberapa kali mengalami kecacatan, akhirnya F 106 nyaris sempurna. Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal aneh…”, Aidan menatap laptopnya tak berkedip. “Kecelakaan ini aneh, ditemukan kandungan alkohol di tubuh dr. Rayn, padahal di artikel lain, dia seorang pemeluk agama yang taat dan menentang kloning. Lagipula dia dokter yang seharusnya menyadari bahaya saat menyetir dalam keadaan mabuk. Istrinya tewas bersamanya, anak lelakinya berhasil selamat. Sayangnya Amnesia permanen, hei, ini sebabnya, aku baru tahu, aduh, kenapa lagi nih, jaringan diblokir, sialan!”. Aidan menutup laptopnya. “Ngebuka jaringan kepolisian pusat memang sulit, kita harus pergi ke tempat Exhibit, sekalian nyari kunci master untuk membuka lab. Basement, kita juga butuh beberapa alat lain”. Ardan nyengir. “Apa katamu lah…tapi, setelah kita mengetahui ketidakberesan proyek ini kita mesti gimana?”. “Lapor sama ayah”. “Ah, mana mungkin ayah mau menentang semua ini?. Dia lebih memilih mengundurkan diri saat itu”. “Pokoknya kita harus tahu yang sebenarnya dulu baru bertindak, kalau ini di salahgunakan, banyak orang bisa mati sia-sia”. “Kiamat deh, satu AX 32 aja berbahaya. Tapi program ini belum sempurna kan?”. Ardan menatap Aidan serius. “Entahlah”.
“Ini bisa membuka brankas manapun”, Exhibit berkedip ceria, memamerkan salah satu alatnya. “Bank mana yang mau kamu bobol, Aid?. Uang sakumu kurang ya?”. “Bukan, lihat skema ini, menurutmu, untuk masuk ke laboratorium bawah tanah Westside kami butuh kunci kayak apa?”. Ex melihat laptop Aid dengan seksama dan dia cocokkan dengan komputernya. “Kalian gila, ini lebih berbahaya daripada memasuki kantor kepolisian pusat. Jenis kunci ini khusus dipesan di Jerman, keyguard seperti ini sulit didapat”. “Tapi kamu bisa?”. Tanya Aidan. “Ya, mungkin bisa kuusahakan, tapi butuh waktu beberapa hari, meskipun kami punya alatnya, kalian butuh banyak keberuntungan, banyak gosip beredar, saking rahasianya proyek pemerintah itu, yang bekerja di sana saja berada di bawah sumpah, banyak yang sudah mati secara misterius para pakar dan ilmuwan yang diduga pernah mengerjakan proyek ini. Aidan, kamu jangan gila, sobat!”. “Sudahlah, kami tahu yang kami lakukan”, kata Aidan yakin. Ex hanya mengerdikkan bahu. “Terserah kalian, apa kalian sudah memperhitungkan seandainya ada senjata biologis yang ditempatkan di beberapa ruangan jebakan?”. “Kami punya peta bawah tanah jalan lain ke sana, aku juga sudah memeriksa beberapa kali, sepertinya 50% aman, yang 50% adalah keberuntungan”, Aidan nyengir.
-----
Sampul buku tua itu mulai terkelupas. Fazra mencoba merapikannya, tak sengaja tangannya malah memperlebar sobekan. “Hei”, sebuah kepingan perak tersembunyi di dalamya, seperti lempeng tipis. Perlahan ditariknya, benar saja. Itu Memory Card, apakah ini milik ibunya?. Segera dibacanya memory itu di laptopnya. “Masukkan keyword”. Sebuah perintah tertera di layar. Apa keywordnya?. Fazra berpikir keras, hari ulang tahun orangtuanya, hari lahirnya, hari pernikahan, gagal. Setelah beberapa jam berusaha, delapan huruf keyword belum ditemukan. Tiba-tiba matanya tertuju ke sampul buku harian yang tersobek itu, gambar wajah seorang lelaki berjenggot lebat. Pakar dunia kedokteran yang termahsyur, Ibnu Sina. Tokoh idola ayahnya. Lagipula, gambar ini yang menutup memory card. Benar saja, saat keyword dimasukkan, Fazra berhasil membuka isi MMC itu.
Isinya adalah proyek yang dirancang ayahnya. Ketidak setujuan ayahnya tentang penyalahgunaan proyeknya. Beberapa data berisi buku yang dikarang oleh ibunya. Beberapa catatan membuatnya terhenyak. “Ketakutanku yang terbesar adalah bahaya yang mengancam suamiku, pekerjaannya yang kontroversial, suara vokalnya dan tindakannya yang menentang banyak pihak. Setelah percobaan peledakan di mobil, apa lagi yang akan terjadi?. Kali ini dia selamat, tapi sampai kapan?. Aku hanya ingin kami bertiga hidup tenang, semua ini gara-gara aku, seandainya Rayn tidak menentang takdir dan membiarkanku bertahan sampai di sini saja, mungkin dia tak perlu menciptakan obat-obat itu yang ternyata fungsinya lebih dari yang kami duga. Aku hanya ingin pergi dengan tenang, putraku sudah hampir berusia delapan tahun, aku sudah merasa, waktu yang kami ulur harus berakhir sampai di sini saja, aku ingin kedua orang yang kusayangi hidup bahagia tanpa bahaya yang mengancam hidup mereka”.
“Fazra tumbuh dengan sehat. Melihatnya tersenyum seperti melihat malaikat dari surga. Benar-benar Rayn kecil. Rasanya seluruh sakit di tubuhku menguap saat tawanya yang ceria menghiasi hari-hariku. Aku ingin sekali menemaninya bermain di luar, kadang aku merasa takut, apakah di luar sana aman untuknya?. Kadang hatiku merasa resah menunggunya pulang bermain. Sepertinya kami harus segera pindah dari sini. Aku ingin menghabiskan waktuku di tempat yang aman, melihat kedua orang yang kucintai tak lagi terancam bahaya.Rayn sudah setuju untuk pindah setelah pengajuannya untuk membatalkan proyek F 64nya. Zat yang membuatku bisa bertahan sampai saat ini, Rayn menyebutnya mukjizat Tuhan. Yang seharusnya tidak disalahgunakan, beberapa pihak mencoba membeli formulanya dengan harga tinggi tapi kami tak bisa melepaskannya. Terlalu berbahaya untuk dikembangkan. Tapi, kenapa di dunia ini masih ada saja pihak yang tidak perduli dan memaksa untuk mengembangkannya?. Manusia benar-benar makhluk yang tak dapat dimengerti.”
12Nov. Lagi-lagi Rayn mendapat berbagai ancaman untuk tidak menghentikan proyek ini. Padahal proyek ini sangat berbahaya. Makhluk buatan yang baru ini sangat istimewa.beberapa orang telah tewas sia-sia karena beberapa percobaan yang gagal. Yang berusaha berhenti pun hilang secara misterius. Siapa yang berada di balik layar?. Mengatasnamakan pemerintah dan membuat senjata rahasia di Westside?. Kamipun terancam, besok kami harus pergi ke tempat Prof. Aide, kami rasa beliau bisa membantu. Semoga saja semua berjalan lancar, kami tak ingin terjadi pertumpahan darah lagi, aku ingin Fazra tumbuh di lingkungan yang indah dan tenang.
13 Nov. Kecelakaan itu terjadi. Menewaskan kedua orangtuanya dan dia sendiri terkena amnesia permanen. Tapi dari catatan sekilas ini, Fazra yakin, ini bukan kecelakaan biasa, semua sudah dirancang. Saat dia menanyakan hasil forensik mengenai penyebab kematian orangtuanya, paman Erik tidak mengizinkan. “Mereka sudah tenang Faz, paman harap kamu ikhlaskan saja. Kecelakaan seperti itu kapan saja bisa terjadi”. Artikel lama di koran dan Internet hanya menjelaskan kalau dr. Fazrayndra meninggal karena kecelakaan mobil, tidak ada keterangan penyebab kecelakaan dan lainnya. Artikel itupun hanya kolom kecil dan tidak mencolok.
“Jadi, kamu curiga, orangtuamu terbunuh, dan bukan kecelakaan?”. Noir memandang Fazra heran,”..darimana kamu tahu, Faz?”. “Yah, meski aku sendiri nggak ingat, beberapa catatan harian ibuku yang kutemukan mengarah ke sana, sebelum mereka meninggal, banyak ancaman terjadi seiring pengunduran diri ayah dalam pengembangan proyeknya, ayah berusaha menghentikan proyek yang melenceng itu, tapi banyak pihak yang menentang. Setelah kupikir, jika ayah meninggal, sebelum proyek itu dibatalkan, maka proyek akan terus berlangsung. Sebagai penemu formula, beliau punya hak untuk menghancurkan penelitian, dan kalau itu terjadi, banyak pihak yang merasa dirugikan, mungkin itu penyebab orangtuaku dibunuh”. Fazra menghela nafas. “Mungkin, kamu ngerasa ini cuman cerita khayalanku saja Noir, wah, jadi curhat nih sama kamu”. “Nggak, aku juga berterimakasih, hal seperti ini bisa kamu ceritakan padaku, itu artinya kamu percaya padaku, hei, tunggu sebentar…”. Noir berlari masuk asrama, nggak lama dia membawa laptop Aidan. “Kedua kakakku sangat penasaran sama proyek ayahmu, mereka tadinya nggak tahu kalau ini proyek ayahmu, mereka hanya mengagumi AX 32, tapi banyak hal tak terduga yang mereka temukan, tadi malam aku yang mereka sangka sudah tidur, mendengar pembicaraan mereka, lihat ini”. “Kakakmu…mengakses data kepolisian pusat?. Untuk apa?”. “Lihat, bukankah ini hasil forensik kematian ayahmu?”. Fazra menatap Noir. “Apa urusannya kakakmu sampai mencari data seperti ini?”. Noir tersenyum pada Fazra yang terlihat marah. “Dia seperti kamu, curiga terhadap penelitian AX 32, nggak cuma ayahmu, dia juga mengumpulkan berbagai informasi mengenai orang yang terlibat. Sudah 61 Peneliti hilang secara misterius, 32 orang terbunuh termasuk orang tuamu, dan mungkin masih banyak lagi…ayahku saja sampai mengundurkan diri dan memilih hidup di kota kecil, sepertinya kita berada di jalur yang sama, jadi apa salahnya kita bekerja sama saling menukar informasi?”. Fazra sepertinya ragu, tapi akhirnya dia setuju.
“Alkohol…kata Aidan, ayahmu nggak mungkin nyetir dalam keadaan mabuk, ini mungkin sudah direkayasa, karena yang melalukan otopsi adalah pihak rumah sakit Westside yang bukan nggak mungkin sudah dicampuri orang-orang dari penelitian AX 32, bagaimana menurutmu?”. “Mungkin…”. “Dan, sebenarnya kamu mewarisi harta yang nggak sedikit dari ayahmu, kamu tahu?. Kamu Milyarder…kalau sudah berumur 21 tahun. Tiga tahun lagi…”. “Darimana kamu tahu?”. “Aidan, dia tahu dari pacarmu”. “Pacarku?”. “Cewek yang bersamamu itu, katanya kalian sudah bertunangan dan saat menikah nanti, dia akan jadi nyonya Fazra yang kaya, kamu kan dapat harta itu kalau sudah menikah, 60% saham Westside General Hospital adalah milikmu”. “Aaliya bahkan nggak pernah cerita itu padaku”. “Aidan juga nggak mungkin tahu kalau dia nggak sengaja diajak kawannya ke Club Radja’s. pacarmu sedang mabuk dan dia mengantarkan sampai rumahnya”. “Aaliya?. Mabuk?”. Fazra mengernyit. Noir tertawa. “Jadi…kamu nggak tahu dia sering ke Klub dan berjudi juga?, bukankah dia tunanganmu?. Hey, kenalilah istrimu sejak dini…”. Fazra merasa pusing mendengar banyak hal yang nggak sesuai dengan apa yang dia lihat selama ini. “A…aku nggak tahu, selama ini aku selalu diurus oleh ayahnya, aku bahkan nggak tahu ayahku memiliki kekayaan, aku hanya merasa berhutang budi pada paman Erik dan mengabdikan hidupku untuk membalasnya, karena selama ini kukira dia sudah begitu baik membiayai hidupku, karenanya aku nggak keberatan untuk bertunangan dengan anaknya”. Noir menepuk bahu Fazra. “Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi kadang lebih baik mengetahui kenyataannya sebelum kamu terjatuh lebih dalam lagi, tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu, seminggu lagi kedua kakakku yang gila itu mau masuk secara ilegal ke basement, bagaimana menurutmu?”. “Bilang sama mereka, aku ikut..”. “Nggak!. Akupun pura-pura nggak tahu rencana mereka itu, sebaiknya kita diam-diam saja mengikuti mereka”. “Beri aku waktu berpikir, hubungi aku setelah rencana itu pasti…aku pusing…”.

Fazra menatap langit-langit kamarnya. Cerita Noir terlalu aneh, terlalu tiba-tiba. Dia mencoba percaya, tapi sulit untuk percaya semua itu. “Tidur mungkin bisa membuat kepalaku sedikit lebih baik”, Fazra merapikan bantalnya, semoga malam ini tak ada mimpi…
Westside---
“Mungkin, ini terjadi karena kita melawan takdir”, wanita itu memandang pria di sampingnya. “Karena kita melawan apa yang seharusnya terjadi, semua ini karena kesalahanku, seandainya kita tidak pernah bertemu lagi, seandainya kau berjalan lurus di jalanmu dan tidak memilihku, kesulitan seperti ini tak akan terjadi, semua gara-gara aku”. Pria itu tak mampu berkata-kata, diusapnya airmata istrinya yang berlinang, ditenangkannya wanita itu dalam pelukannya. “Tidak, tidak, aku percaya, Allah sudah menggariskan semua ini, bukan aku yang memilihmu, tapi Dia yang membuat kita bersatu, aku mencintaimu, apapun akan kulakukan untuk membuatmu bertahan di sisiku”. “Tapi ini cara yang salah”. “Ini adalah cara yang benar, mengobatimu, membuatkanmu formula itu bukanlah suatu kesalahan, orang-orang yang tidak bertanggungjawab itulah yang membuat semuanya menjadi seperti ini, tapi sungguh, aku tidak bermaksud menyakiti siapapun, aku hanya ingin kau tetap hidup”.
Lagi-lagi mimpi tentang orangtuanya, mungkin gara-gara dia membaca buku harian itu. Fazra merasa sangat pusing, sejak kecelakaan itu, dia seolah tak bisa lepas dari rasa sakit di kepalanya, terutama jika mencoba mengingat sesuatu, sekecil apapun itu, sakit itu semakin menjadi.
-To Be Continued_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar