Saat Arya patah hati
Aku memang tak berhati besar, untuk memahami, hatimu di sana
Aku memang tak berlapang dada, untuk menyadari, kau bukan milikku lagi
Dengar, dengarkan aku, aku akan bertahan sampai kapanpun
Maafkan aku yang tak sempurna tuk dirimu
Usailah sudah kisah yang tak sempurna tuk kita...kenang...
Arya memandang potongan kertas yang baru saja dia print dari warnet, isinya padat dan singkat. Tapi jelas. Tapi entah kenapa, dia nggak kaget, jawaban yang bakal diterimanya pasti seperti ini. Dia dan Dania sudah lama bersahabat, tapi, selama ini Arya suka sama Dania, dia nggak lagi bisa bohong sama diri sendiri. Sudah bertahun-tahun mereka menjalani hubungan layaknya sahabat, tapi bagi Arya, hubungan ini terasa menyesakkan. Dania menganggapnya sahabat, sedangkan dia mencintai Dania, gimana nih?. Akhirnya Arya nekat menyatakan perasaannya, tentu saja bukan tanpa pengorbanan. Resiko terbesar adalah kehilangan Dania, untuk selamanya. Dan ternyata perkiraannya benar, Dania hanya menganggapnya sahabat, tak lebih, padahal sahabat adalah sahabat, tidak boleh ada cinta dalam persahabatan, atau persahabatan itu akan rusak.
Arya jadi ingat kata-kata Willy. “Bro, kalau hubungan kalian adalah persahabatan sementara lo memendam rasa, itu namanya penghianatan atas persahabatan itu sendiri”.
Mungkin Willy benar, dan kalau ini yang harus terjadi, Arya menerima segala konsekuensinya, toh dia sudah bertanya pada Tuhan, apa yang terbaik, dalam mimpinya, dia melihat dirinya menulis surat berwarna merah jambu, dan itulah yang dia lakukan, dia sudah melakukan bagiannya, seandainya Tuhan menentukan lain, inilah jawabannya. Tapi, kalau dipikir-pikir, Dania memang terlalu sempurna untuknya
“Semoga elo mendapat seseorang yang lo inginkan Dania, memang berat buat ngelupain elo, mungkin butuh sepuluh atau duapuluh tahun, tapi, gue rasa gue harus tetap berjalan”.
Tiba-tiba lagunya Peterpan mengalun, “Terus melangkah, melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu, jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan, perlahan mimpi terasa mengganggu, ku coba untuk terus menjauh, perlahan hatiku terbelenggu, ku coba untuk lanjutkan hidup, engkau bukanlah segalaku...bukan tempat tuk hentikan langkahku, usai sudah, semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu...”.
“Try to forget you? Huh?”, Arya mengacungkan jempolnya pada I-Bram, pemilik warnet. “Gue cabut dulu, bro...ngomong2...lagu yang lo stel timingnya tepat!”, I-Bram hanya tersenyum kecil menanggapi ulah Arya.
Wajah Arya tampak mendung, keadaannya terbalik dengan langit Yogya yang begitu cerah. Dilihatnya awan kecil putih di langit...
”Dania, andai lo bilang satu kata :Menunggu...itu udah cukup, tapi kalau semua memang harus dihentikan, gue akan berhenti...gue enggak bisa jadi orang munafik, selama ini lo anggap gue sahabat, tapi gue adalah penghianat, karena gue nggak pernah anggap lo sahabat, gue pergi Dania, dan semoga lo bahagia...”. Arya mencoba tersenyum dan melangkah. Mo pulang ke kost malas, detik begitu menjemukan di kala hati resah. Mo ke angkringan? Lagi nggak selera, kayaknya perutnya merasa mual dan menolak makanan kesukaannya :Nasi Kucing.
Kakinya berjalan nggak tentu arah. Mo ke utara atau ke selatan, terserahlah, ngikut aja ke mana angin berhembus.
“Kompas gue lagi rusak ya...”, Arya nyengir. Setelah menenangkan diri sejenak di masjid dan shalat Ashar, kakinya kembali melangkah. Tahu-tahu dia nyampai Jalan Solo, terus melangkah menuju bundaran Gramedia, menyapa kumpulan anak-anak Punk yang asyik kumpul di sana.
“Mo ke mana, Ar?”, tanya Donny, anak ATA (Akademi Arsitektur) yang juga wakil anak-anak punk itu.
“Main...”, jawab Arya asal. Dilihatnya juga Radja sedang asyik main gitar. Kayaknya asyik kalau nongkrong bareng mereka, ah tapi...Arya lebih memilih membuang resah dengan meneruskan jalannya. Heran, kakinya enggak merasa capek, saat dilihatnya Tugu, monumen ciri khas Yogyakarta berada di depannya.
“Sudah berapa lama kau berdiri di sana? berapa lama kau menanti?”. Arya menghela nafas. Gempa beberapa tahun lalu memporak-porandakan berbagai bangunan besar, tapi tugu kecil ini, retak aja enggak.
“Hebat lo, gue bisa tangguh kayak elo kagak ya?”, seperti orang gila, cowok itu cengar-cengir di depan tugu, lalu menyebrang jalan menyusuri Jalan Mangkubumi. Beberapa kupu-kupu malam mulai keluar, menyapa malam. Seharusnya mereka sudah punah, tapi satu-dua masih terlihat di sini...tempat yang dulunya terkenal sebagai Pasar kembangnya Yogya. Hati Arya mulai dag-dig-dug saat melewati rombongan banci. Entah kenapa, dia paling geli sama banci. Beberapa banci mulai meliriknya, Arya mempercepat langkah kakinya.
Pedagang souvenir sepanjang Jalan Malioboro mulai membenahi dagangannya, digantikan penjual makanan. Ada banyak makanan khas yang ditawarkan di sini. Arya terus berjalan, menyusuri halaman depan pasar Bringharjo, melewati taman kota dan sampailah di bangku pojok depan benteng Vre De Burg. Kayaknya kaki sudah lumayan capek. Apalagi kaki kirinya pernah cedera, denyut yang dikenalnya mulai menyerang. Arya cepat-cepat meluruskan kakinya. Suasana mulai gelap, lampu kota satu-per satu menyala, Arya memandang takjub. Ternyata suasana sore hari di depan Monumen Supersemar bisa demikian indah. Beberapa anak jalanan mulai beraksi, ada juga tukang sulap dan pedagang kaki lima yang turut meramaikan suasana. Terdengar lagu “Seandainya”,The Titans mengalun pelan. Arya memejamkan mata.
“The last song...”, pikirnya.
“Mas...mas...”, tiba-tiba dua orang anak kecil berpakaian kumal berada di depannya.
“Ya?”.
“Mo request lagu nggak?”.
“Request?”.
“Iya...”, jawab bocah yang berbaju merah kumal.
“Cuman seribu kok mas...”.
“Busyet, mahal amat...”.
“Request dong mas...”, bujuk bocah yang berbaju biru. Arya nyengir.
“Gimana kalau 11 Januarinya Gigi?”.
Kedua bocah itu bengong. “Lagu apaan tuh mas?”.
“Lagunya Gigi Band...katanya disuruh request, harusnya kalian apal lagu-lagu paling Top dong...”. kedua anak itu malah saling pandang. Arya tertawa.
“Boleh pinjam gitarnya?”, si baju merah menyerahkan gitar acak adut yang stem-nya juga acak adut, pasti nih gitar cuman asal bunyi doang.
“Gila nih gitar...cool abis...”, Arya mencoba beberapa nada, lalu nyanyi,
“Sebelas januari bertemu...menjalani kisah cinta ini...Pernah ku menyakiti hatimu, pernah kau melupakan janji ini Semua karena kita ini manusia...”, nggak terasa lagunya selesai.
“Lho, kok jadi gue yang nyanyi”.
“Suara mas, bagus kok”, puji si baju merah.
“Gue kagak butuh receh”, jawab Arya.
“Tapi kita butuh receh, mas...”. Arya mengernyit.
“Baiklah, kalian bisa nyanyi lagu apa?”. “Stasiun balapan, Jablai...Kucing Garong...”,
“Halah...Stop...stop...ya udah, stadion apa tadi?”.
“Stasiun Balapan...”,
“Iya, itu aja...”. dan dengan suara acak adut, kedua bocah yang kira-kira kelas empat SD itu beraksi. Yang pake baju biru nge-gitar, yang merah nyanyi.
“Ing stasiun Balapan, kota Solo sing dadi kenangan, kowe karo Asuuuu...”, bocah yang pakai baju biru langsung nginjek kaki bocah berbaju merah.
“Bukan Asu, tapi aku...”.
“Gitu tho?”, Arya bengong melihat kedua bocah itu.
“Udah, udah...cukup...gue sudah nggak minat”.
“Mas...bayar dong...”.
“Nggak, gue nggak bakalan ngasih uang sama elo-elo pada...”.
“Tapi mas...”. Arya memandang kedua bocah itu.
“Kalau uang, ntar dipalak, gimana kalau gue traktir kalian gudeg, mau nggak?”. Kedua bocah itu gantian bengong.
“Mau kagak?...”. Arya melangkah...tak lama kedua pengamen kecil itu mengikuti di belakangnya.
Mereka berkenalan sambil menunggu pesanan datang. Si baju merah bernama Syarief, yang baju biru Fajar.
“Lagi jadian po Mas, kok malah traktiran...”, tanya Syarief.
“Alaaaa...elo bocah kemaren sore tahu apa soal jadian...”, Arya nyengir.
“Gila, orang gue baru Broken, ditolak cewek, malah makan-makan...halah!”, pikirnya.
Tak lama pesanan datang, dipandangnya kedua bocah yang makan dengan lahap di hadapannya. Selera makan Arya jadi timbul.
“Elo pada, kayak nggak pernah makan gudeg aja...pelan aja makannya”. Fajar mencomot paha ayam di piringnya.
“Kita harus kembali kerja, mas, kalau nggak nyetor, berabe...”. Arya tercenung. Masya Allah, hari ini dia merasa, Allah memberinya cobaan, tapi lihatlah, anak-anak ini...mereka berjuang untuk hidup...beban mereka ratusan kali lebih berat. Mereka tak hanya menghadapi kerasnya jalanan, ada juga tukang palak dan preman jalanan yang lebih berkuasa, menghadang mereka. Belum lagi masalah penyakit paru-paru yang rentan menyerang mereka karena mereka mengakrabi angin malam, kadang tidur di trotoar. Arya trenyuh mendengar cerita dari bibir Fajar. Anak jalanan juga rentan terhadap pelecehan seksual alias sodomi. Siapa yang bisa melindungi mereka?.
Adzan maghrib terdengar syahdu. Arya menyelesaikan makannya dan mengajak kedua bocah itu ke mushola kecil.
“Mending jangan sholat di sini mas...”, Syarief memperingatkan.
“Kita cari mushola lain aja”.
“Nggak ada waktu, emang kenapa kalau di sini?”.
“Ntar di pel lho...”. tadinya Arya nggak mudeng, dia nekat aja ngajak kedua bocah itu shalat di mushola beratap kotak itu. selama shalat, emang serasa ada yang mengawasi, begitu mereka selesai dan hendak keluar, bekas mereka shalat langsung dipel sama bapak-bapak yang jaga mushalla. Arya jadi paham.
“Oh, nggak satu aliran nih ceritanya? Masya Allah, kita kayak mengandung najis aje...gila tuh orang...harusnya dia nyadar, Allah nggak pernah mengkotak-kotakkan manusia berdasarklan aliran, tapi berdasar iman...”, lalu diajaknya kedua bocah itu keluar mushalla.
“Nih buat sangu, kalau bisa, sembunyiin, jangan sampai kena palak, buat cadangan uang sekolah...”, Arya menjejalkan uang puluhan ribu. Kedua bocah itu tak hentinya mengucapkan terima kasih.
“Kalau nggak, kalian mampir ke Sari Ilmu, beli beberapa buku, titipin ke teman, trus sisanya buat setoran...”, Arya melambai.
“Makasih mas...”, kata Syarief dan Fajar penuh haru.
“Sama-sama...”.
Arya menyusuri kembali trotoar depan Monumen Super Semar. Niatnya sih mau ke Shopping, nyari beberapa buku buat menemaninya menghabiskan malam, menghapus resah. Kayaknya beberapa buku karangan Goenawan Mohammad bisa memperbaiki kinerja sistem otaknya yang mulai berkabut. Lagi-lagi kakinya terasa sakit. Diingatnya nasehat Heri, sahabatnya.
“Tubuh harus dijaga, jangan membebani tubuh yang sudah bekerja keras dengan pikiran yang berat...”. Ah, ya...lepaskan saja semua yang membebani pikiran, positif thinking aja sama semua yang terjadi hari ini. Arya pun duduk di kursi beton yang banyak tersedia di sepanjang trotoar. Seorang kakek tua tiba-tiba menjajari duduknya. Wajahnya keriput di makan usia, terlihat jelas di bawah terang lampu kota. Tampaknya kakek itu lelah sekali, tapi senyum seolah tak lepas dari wajahnya.
“Numpang istirahat ya nak”.
“Monggo, mbah”. Sejenak mereka terdiam, tak banyak berkata-kata.
“Asli sini, nak?”.
“Iya mbah, daerah Nggrojogan...Wirokerten, tapi sekarang kost di Pemancar Timur”.
“O..oo, kelihatannya kamu anak kuliahan ya?”. Arya hanya mengangguk.
“Mumpung ada kesempatan, belajarlah sebaik-baiknya, biar jadi orang berguna, biar nggak keliling-keliling kayak simbah...”. Arya menengok bawaan kakek itu. ada beberapa kawat mencuat dan gulungan payung-payung kusam, sepertinya tukang memperbaiki payung.
“Seharian keliling mana saja mbah?”.
“Wah, nggak terhitung, blusukan ke mana-mana, le, asalkan ada yang menyewa jasa simbah”.
“Aslinya simbah dari mana?”.
“Demangan”,
“Wah jauh juga, seharian gini bisa dapat berapa mbah?”.
“Ya tergantung rizki, kadang limaribu, kadang sepuluh, kadang ndak dapat...tapi simbah tetap bersyukur sama Gusti Allah, le, pokoknya uang simbah halal dan bisa cukup untuk makan...”.
Filosofi yang mengagumkan. Arya nyengir, merasa kalah. Setelah kondisinya pulih, dia pamit pada si kakek dan berlalu diiringi senyuman kakek itu. setelah mendapat buku yang dia inginkan, dia menuju tempat bus ngetem, sepanjang jalan, dia mencoba menghayati orang-orang di sekitarnya. Ada pemulung yang mengais tempat sampah di depan sebuah restoran siap saji, mencari sisa makanan yang bisa dia makan untuk mengganjal perut. Diam-diam Arya membeli sebuah roti lalu membungkusnya dengan plastik, ditaruhnya di tutup tempat sampah. Tak lama pemulung itu lewat, melihat kantung plastik di tutup tempat sampah dan membuka bungkusan itu, Arya merasa hatinya sesak, terharu, melihat binar di mata si pemulung. Ada juga beberapa pengemis tua di pinggir trotoar mengharap belas kasih, sudah tua, cacat pula, apakah ada yang mengurus mereka? Mungkin ada, tapi nggak semua benar-benar tulus menolong, kadang mereka hanya dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan sendiri.
Di halte, dia melihat beberapa bocah pengamen bernyanyi dengan semangat. Bahkan ada pengamen bisu yang nekat tetep nyanyi, meski dari bibirnya hanya keluar kata :”Awa..wa...wa...” yang bikin orang tertawa dan mungkin trenyuh, sehingga ngasih dia uang receh. Terlihat beberapa bocah yang mungkin masih berumur lima tahun memegang ecek-ecek, nyanyi asal-asalan. Ah, seharusnya mereka ada di rumah, tidur dalam pelukan ibu mereka yang hangat. Arya jadi ingat, waktu seumuran bocah-bocah itu, dia memiliki masa kecil yang sangat indah, punya banyak teman dan main sepuasnya. Tapi, meski keadaan anak-anak jalanan itu kurang begitu baik, Arya yakin, mereka pasti pernah merasakan bahagia. Mereka selalu bersyukur pada Allah. Bukankah Allah itu maha adil? Burung, semut, bahkan cacing tanah saja tiap hari dikasih rizki, manusia yang berusaha pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.
“Mereka saja survive, hidup adalah perjuangan Ar, dan asal lo tahu, Allah memberi lo segalanya, apa yang lo butuhkan selalu tersedia, lo punya fisik lumayan sempurna, paling nggak, mata lo bisa ngelihat, lo enggak bisu, enggak tuli, enggak lumpuh. Lo punya keluarga yang sayang sama elo, selama ini bokap lo selalu nurutin apapun kemauan elo. Dan elo, punya sahabat-sahabat yang sangat baik, care, en selalu ada kalau elo lagi butuh bantuan...apakah itu belum cukup, Ar?. Kalau elo diberi cobaan untuk patah hati, itu adalah suatu pelajaran, kadang Allah memberi apa yang lo butuhkan meski bukan yang lo ingin, tapi, setelah lo mengalami kejadian hari ini, masih pantaskah lo ngerasa sedih cuman gara-gara patah hati?
Masih banyak hal yang bisa lo kerjakan, Ar...dan dunia nggak butuh orang yang cengeng...”. Arya tersenyum. Nggak lama bus menuju Pemancar Timur datang, Arya naik, lumayan sesak, nggak kebagian tempat duduk pula. Tapi lagu “I will Survive”-nya Cake yang terdengar dari radio bus itu, membuatnya berdecak heran.
“Hari ini, kenapa lagu-lagu yang gue denger, seolah nyindir gue ya? tapi mungkin itu juga petunjuk, Thank’s God...I’ll survive...”.
Meski terasa penat, hari ini lumayan menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan patah hatinya. Arya nggak begitu saja membaringkan tubuhnya, dinyalakannya komputer kesayangannya, yang dia namai Ardan. Ardan dari kata ARya-DANia, bahkan password komputer ini adalah nama lengkap Dania.
“Nggak akan ada yang gue ubah...termasuk perasaan ini, biarkan saja terus mengalir. Gimanapun juga, elo pernah jadi bagian dari hidup gue Dania, dan akan selalu jadi bagian hidup yang tak terlupakan. Thanks Dania...berkat elo, hari ini gue belajar banyak hal...by the way, cinta ini bakalan gue bagi lagi, buat orang-orang yang membutuhkan, elo kagak keberatan, kan Dania?”.
Arya memandang lampu kota yang berkelip seperti bintang dari jendela kamarnya. Begitu indah. Dinyalakannya Winamp...mengalunkan lagu-lagu kesukaannya. Malam masih panjang, Arya menuliskan pengalamannya hari ini di lembar-lembar Microsoft Word.
Bagaimana persahabatan itu bukan merupakan sesuatu yang ideal ?
Seandainya "Persahabatan" itu adalah jembatan, Sebuah jembatan emas, Yang membentang antara pegunungan benci dan cinta, Yang membelah jurang menjadi jurang musuh dan kekasih, Yang menghubungkan antara aku dan dia...
Maka, Ketika engkau terjerumus ke dalam jurang yang sebelah kiri, Jadilah engkau menjadi musuh bagi yang lainnya,
Ketika engkau terjerumus ke dalam jurang sebelah kanan, Jadilah engkau menjadi kekasih bagi yang lainnya,
Bayangkanlah !
Betapa sulitnya untuk tetap berjalan di atas jembatan emas,
Jembatan "Persahabatan" .
Ketika kudendangkan nada-nada persahabatan, Ketika kubacakan sajak keindahan persahabatan, Kuberharap jatuhnya diriku ke dalam sisi jurang yang sebelah kanan, Biarlah satu waktu nanti, bila pintu-pintu pagar sudah terbuka, Aku akan melontarkan diriku dari jembatan emas ini, Jatuh kedalam sisi jurang yang sebelah kanan.
Biarlah satu waktu nanti, Bila kutemukan gerbang diri yang terbuka, Aku akan melemparkan diriku ke dalam jurang seorang kekasih, Biarlah satu waktu nanti, Bila tlah kutemukan kunci pintu diri, Aku akan menenggelamkan diriku ke dalam lautan cinta,
Jembatan emas telah mengantarkanku ke dalam kebimbangan dan penantian, Jembatan emas telah menemaniku di dalam kekhawatiran dan penegasan... .
Mungkin akan dia kirim ke beberapa majalah, syukur-syukur kalau dimuat, bisa nambah penghasilan dan bertahan hidup dua atau tiga hari. Nggak terasa tengah malam berlalu dan menginjak pukul satu. Diliriknya HP-nya yang sunyi. Cowok itu tersenyum. “Bagaimanapun, pernah ada saat-saat yang indah, gue bersyukur untuk itu, semoga, suatu hari, akan ada seseorang yang bisa menemani gue dalam menghadapi segala resah...amin”, Arya keluar dan berwudhu. Apapun yang terjadi, asalkan Allah masih berada di hati, semua akan baik-baik saja. > END
After Editing, Between Imogiri_Sayangan, January’09
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar