Finally I Found You (To : Shining Prince and Syam)
Gadis itu mencoba membuka matanya. Dunianya terasa putih dan berkabut. Kenapa sulit sekali memaksa bangun dan membuka mata? Mimpi buruk tadi mengharuskannya membuka mata. Perlahan matanya yang terasa berat untuk terbuka, melihat pemadangan kamar yang asing. Ini dimana? Bau asing menyeruak masuk. Dia mencoba bergerak tapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Ada satu titik yang membuatnya mengernyit. Rasa sakit itu mengantamnya, semua yang dialaminya bukan sekedar mimpi. Ini kenyataan.
Dengan sekuat tenaga dia mencoba menggerakkan tangan. “Allah ... “, pada siapa lagi dia bisa mengeluh. Ranjang putih tempatnya terbaring berbau aneh, juga tetesan darah di samping tubuhnya. Tetesan darah yang mulai mengering. Lalu pandangannya membulat saat menemukan sesosok tubuh seseorang berbaring tak jauh darinya. Ah, lelaki itu...
Kenapa harus lelaki itu? Dia melihat dirinya tak lagi memakai jilbab, lelaki itu...
Si gadis mengerang pelan, lelaki di sampingnya menoleh.
“Tetaplah tidur ... jangan sok kuat sekarang, tubuhmu masih lemah”.
Gadis itu menahan sakit dengan menggigit bibirnya.
“Maafkan aku ...”, lelaki itu berkata pelan.
Gadis itu berusaha untuk tetap tenang.
“Nggak usah merasa berdosa, ini bukan kesalahanmu, toh, kau juga sudah membayarnya dengan darahmu sendiri ...”, melihat selang berisi cairan merah yang menghubungkan mereka berdua, gadis itu tahu, lelaki itu telah mentranfusikan darahnya ke tubuhnya. “ ... kita saudara sekarang, bukankah begitu Vein?”.
Alveindra Farazzi tersenyum sekilas lalu menukas.
“Aku takkan pernah menginginkan menjadi saudaramu, gadis manja ... kau yang selalu menginginkan hubungan konyol itu”.
Aysa mengeluh pelan. Lelaki itu masih menyebalkan.
“Afwan ... kalau kamu merasa demikian, ah ya, kalau boleh tau, ini dimana?”.
“Medistra Hospital...”.
Rasa takut dan lelah menguras seluruh energinya. Gadis itu memejamkan mata. Tapi kejadian buruk yang dialaminya membuatnya tak bisa tidur. Lelaki yang terbaring di seberangnya itu penyebabnya. Gadis itu tak tahu apa yang mendorongnya melindungi Vein saat perampok itu mengarahkan pistol ke kepala Vein. Hampir, hampir saja dia kehilangan Vein, untung saja Allah masih melindungi lelaki keras kepala yang menyebalkan itu.
Dia mendorong tubuh Vein, sekuat yang dia mampu tapi justru rasa panas yang menyakitkan menyapu lengannya, sangat menyakitkan dan dia tak ingin mengingatnya. Kini dia merasa lemah dan lelah, lengannya tak bisa dia gerakkan. Apakah luka ini akan membuatnya cacat? Ah, biarlah, asal orang menyebalkan di sampingnya selamat, sudah cukup membuat Aysa bahagia.
“Aku ingin tidur Vein, jangan berisik ...”.
Untuk pertama kalinya, seumur hidupnya... Vein melakukan perintahnya tanpa membantah. Sejak mereka berkenalan tiga bulan yang lalu ... Vein tidak pernah mau menuruti kata-katanya. Tapi kali ini sepertinya lelaki itu tak bisa berkata ‘tidak’. Aysa tersenyum puas. Lalu dilihatnya dunia putih yang tadi melingkupinya. Rasa lelah dan takutnya sedikit mencair, tubuhnya butuh istirahat dan dengan Vein di seberang sana, dia merasa sangat aman.
“Viancéé?”, Aysa terbelalak memandang ayahnya.
Lelaki yang selama ini disayanginya sepenuh hati itu terlihat lain hari ini.
“Kenapa papa? Kenapa harus Aysa? Kenapa bukan kak Bella yang bertunangan dengan lelaki itu? Aysa masih ingin kuliah, satu semester lagi Aysa selesai”.
“Tapi lamaran ini untukmu, Pak Handoko yang menginginkanmu untuk bertunangan dengan putranya, katanya dia ingin memiliki menantu saleh dan berjilbab, kau tahu sendirilah penampilan Bella”.
“Dengan memakai jilbab, bukan berarti Aysa adalah gadis yang alim, papa juga tahu, Aysa masih belum berubah”.
“Tapi toh anak pak Handoko juga menyetujuinya, please Aysa ... anak lelaki pak Handoko mengajukan pertunangan, tapi untuk Ta’aruf selama tiga bulan, kalau kau merasa tak cocok dengannya, kau bisa menolaknya, kau hanya akan melewatkan tiga bulan ini untuk berkenalan ... kami toh tidak memaksamu menikah ...”.
“Tapi papa ... apa yang akan terjadi setelah itu?”.
“Kalian yang akan menentukan ... tapi papa mohon, demi hubungan baik keluarga kita dengan keluarga pak Handoko, setujuilah pertunangan ini, kau tahu, keluarga kita sudah banyak berhutang dengan keluarganya ... beliau yang membantu papa saat perusahaan papa hampir kolaps, membiayai operasi kanker mama kamu hingga sembuh, membiayai kuliah Bella dan kamu , ah Aysa ... papa kali ini benar-benar tak berdaya”.
---
Lelaki separuh baya bertubuh gemuk itu memandang Aysa sejenak lalu mendekatkan kursinya lebih dekat ke arah Aysa.
Pandangan matanya sangat lembut dan memohon.
“Bapak mohon, Aysa mau melakukan semua ini ya, mungkin kau telah mendengar dari ayahmu tentang pertunangan ini, tapi bapak yakin, gadis seperti Aysa akan menyelamatkan hidup keluarga kami, kau pasti bisa mengembalikan putra kami ... dia anak yang baik sebelumnya, bapak yakin, berada dekat dengan Aysa akan membuat Vein percaya lagi pada kehidupan ... “.
Bapak tua yang kelihatannya seperti rektor sebuah universitas itu ... lelaki yang kelihatannya sangat pandai itu ... sampai tak berdaya di hadapan putranya sendiri. Sebenarnya, seperti apakah sosok Alveindra Ayhriar Farrazi? Apa sangat menakutkan seperti preman kampung rambutan yang penuh codet itu? atau teramat kejam, seperti pangeran Ayhriar di cerita seribu satu malam – yang menjadi nama tengah Vein – yang tega membunuh banyak wanita yang menjadi istrinya di malam pertama mereka?. Atau seperti geng ketua Mafia atau Yakuza yang terampil memotong tubuh manusia tanpa berkedip?
Tapi demi ketulusan tatapan pria tua itu, juga pandangan mata ayahnya yang berkaca-kaca, entah kenapa, Aysa mengangguk dan seminggu setelahnya dia bertunangan dengan pemuda yang bahkan nggak pernah ditemuinya sebelumnya.
Mama memujinya sangat cantik mengenakan gaun putih dan jilbab berhias renda yang mirip kerudung pengantin barat itu.
Bella sedikit mencemooh, katanya tubuh Aysa seperti anak SMP ... kerempeng.
Papa ... seperti biasa tampak sangat terharu. Ah, padahal tampang papa agak mirip bajak laut kepulauan karibia kalau saja agak serius mengatur pose wajahnya, ngomong-ngomong soal bajak laut, bukankah kakek buyut Aysa dulu juga bajak laut? Apa si Vein itu sudah tahu ...?
Wajahnya lembut, bukan tipe wajah yang sudah dikhayalkan Aysa tentang ketua kelompok preman Tanah Abang.
Lelaki itu juga memakai kacamata. Dengan baju taqwa putih dan kopiah putih menutup rambutnya, penampilan lelaki itu seperti ustadz. Tapi ... seuntai kalung army dan asesories metal di pergelangan tangannya yang tetap dipakainya, menegaskan pemuda itu seperti Devil yang menyamar menjadi Angel, sayangnya satu tanduknya tak berhasil dia samarkan.
Dia menatap tak acuh pada tunangannya dan berkata sedikit sombong.
“Sebaiknya kamu jauh-jauh dariku ... suasana hatiku sedang nggak enak”.
Deg!
Lelaki itu empat tahun lebih tua darinya. Duapuluh enam tahun! Tapi kalah sopan sama anak TK!. Aysa mendengus kesal.
“Kau pikir aku merasa senang? Ustadz Rock Boy? Aku juga terpaksa melakukannya!”.
“Benarkan, lalu untuk apa kau ada di sini?”.
“Tanyakan juga pertanyaan itu pada dirimu sendiri ... ini di luar wewenangku”.
“Hmm ... tau nggak, meski kau berjilbab, di mataku kamu kayak cewek genit ... aku tahu apa yang kau incar dariku, jangan harap kau mendapatkan apa yang kau inginkan?”.
“Memang apa yang kau miliki? Tahukah kau, tanpa dirimupun aku bisa mendapatkan yang kuinginkan ... ada yang lebih kaya, lebih mencintaiku dan lebih segalanya darimu, kau hanya orang menyebalkan yang sombong ...”.
Lelaki itu mendengus kesal.
“Benarkah? Kalau ada cowok yang lebih baik dariku, kenapa kau memilih tetap bertunangan denganku?”.
Cowok? Siapa yang bicarain cowok. Yang dia maksud lebih segalanya dari Vein itu Allah, Allah yang Maha kaya, Maha kuasa, Maha segalanya. Aih, lelaki ini semakin menyebalkan, biarlah dia merasa seperti itu, buat apa menjelaskan cinta kasih yang lebih suci, antara Tuhan dan makhluknya dengan lelaki angkuh seperti ini? Ay menghela nafas.
Saat pertunangan mereka diumumkan, saat cincin bermata berlian itu dipasangkan mama Vein di jemarinya, Aysa berjanji dalam hati.
Akan setia pada lelaki di hadapannya.
Akan menjunjung kehormatan lelaki di hadapannya.
Selama perjanjian itu mengikatnya. Tiga bulan. Dan setelah itu dia bebas.
“Toh ... hanya tiga bulan”, pikir Aysa sambil tersenyum. Vein melihat sekilas senyuman itu dan mendengus kesal. Sepertinya gadis itu menikmati pertunangan ini. Dasar cewek matre, sama saja kayak yang lain ... aku akan membuat hidupmu menderita karena sudah berani-beraninya memasuki air kolam kehidupanku yang tenang. Gadis itu seperti sebongkah batu yang terlempar ke dasar kolamnya yang damai.
---
Aysa sangat merasakan ketegangan dan ketidaknyamanan diantara dirinya dan Vein sekarang, saat mereka berdiri di balkon hotel dan keluarga mereka agak menjauh di dalam ruangan. Mereka memang butuh waktu berdua, untuk bicara, lebih tepatnya membuat rencana.
“Kau belum jawab, apa yang membuatmu mau bertunangan denganku”, suara serak itu mengingatkannya pada suara Omine no Kyo, Iblis bermata merah.
“Sudahlah, lebih baik kita jalani saja ... toh hanya tiga bulan ... tuan sombong!”.
“Maksudmu?”.
“Bukankah sudah jelas, kita hanya bertunangan selama tiga bulan, selama proses pengenalan diri ini, setelah itu kau bebas, sebebas elang liar, whatever you do, kau tinggal bilang pada ayahmu, kita tidak memiliki kecocokan dan tinggalkanlah aku sebagai tunangan yang merana ... lagipula, selama tiga bulan ini, jika kau akan mengacuhkan aku atau tak pernah menemuiku, aku tak keberatan ... silahkan berbuat semaumu”.
Vein nyengir dan menatap Aysa lekat-lekat.
Ya Allah, apa lelaki ini tak pernah tahu ghadhul bashar? Aysa bukan muhrimnya tapi berani-beraninya Vein memandangnya seperti itu. Aysa menunduk demi kesopanan.
“Kalimat terakhirmu sangat menggodaku, aku boleh berbuat semauku ... apakah aku sudah boleh mencium tunanganku sekarang?”.
Cowok ini brengsek. Aysa membatin, apakah dosanya begitu besar? Sehingga Allah memberikan ujian seperti ini, atau sebenarnya Aysa bukan gadis yang baik sehingga mendapatkan lelaki yang kurang baik seperti Vein? Gadis itu langsung beristighfar. Tidak baik berprasangka buruk pada Tuhan.
“Ya, silahkan cium sepatuku kalau kau mau”, hampir saja Ay mengucapkannya.
Tapi ditahannya segala kekesalan yang sudah menggumpal di hatinya, sambil mencoba tersenyum, Aysa mundur perlahan dan menjauh dari Vein.
“Belajarlah agama lebih giat, tuan ... kau akan tahu apa yang patut dan tak pantas kau lakukan ...”.
Dari balik punggungnya, Aysa bisa mendengar gelak Vein. Mengejek dan menyebalkan.
---
Motor balap berwarna hitam itu seperti monster metal yang garang. Seperti kuda perang yang dikendarai Hades atau Genji Asaoka. Sebelum orang itu membuka helmnyapun, Ay sudah tahu siapa trouble maker yang mengendarai Kawasaki YZR hitam yang menghadang langkahnya di kampus itu.
Vein menyeringai.
“Disuruh ayahku, jemput kamu ... untuk makan siang ...”.
“Di mana?”.
“Rumah ...”.
Aysa meneruskan langkahnya.
“Pulanglah dulu, aku menyusul nanti naik taksi”.
Motor itu melaju pelan mengiringi langkahnya.
“Nona besar kecewa karena nggak dijemput pakai Jaguar?”.
Aysa menghentikan langkahnya sesaat, lalu mencoba mengabaikan kata-kata Vein, biarkan orang menyebalkan itu berfikir sesuka hatinya.
“Naiklah ... kau sudah banyak membuang waktuku, nona manja ...”.
Aysa menghela nafas, panjang.
“Apa kamu nggak ngerti? Aku ini wakil HMI di kampus ini, apa kata teman-temanku kalau melihat aku boncengan sama cowok? Even you my viancee... tapi kita bukan muhrim!”. Mungkin Vein bahkan nggak tahu ‘muhrim’ itu apa, dari wajahnya yang mengernyit itu kayaknya Vein bahkan nggak ngerti ‘HMI’ itu apaan!.
“Fine ... sepertinya kamu punya keyakinan yang menurutku agak weird ... em... berlebihan, tapi terserah kamu, pokoknya jangan telat! Aku akan bilang mamaku kalau aku sudah jemput kamu, tapi kamu masih ada kegiatan dan akan nyusul pakai taksi ... nah, selamat tinggal, cewek manja ...”.
Nyonya Handoko Sugiharto memandang Ay dengan kagum.
“Mama senang punya calon mantu secantik kamu, ayo masuk, bi Inah sudah menyiapkan makan siang untuk kita, katanya Aysa suka masakan tradisional? Kebetulan mama dari Yogya, jadinya mama masakin gudeg, tapi sayur asam kacang juga ada …”. Duh, betapa baiknya wanita cantik di hadapannya ini.
“Sayang papanya Vein ada meeting mendadak, jadinya kita hanya makan bertiga, kamu capek nak sehabis kuliah?”.
“Nggak tante …”.
“Panggil aja mama, sebentar lagi kau memang akan manggil aku mama, bukankah begitu Vein?”. Dan Aysa heran, Vein memandang ibunya dengan lembut lalu menggangguk pelan. Tapi di detik lain, pandangan matanya langsung kelam saat memandang Aysa.
“Multiple Personality Disorder, pasti …”, pikir Aysa sambil memasang wajah waspada. Vein dengan sopan mempersilahkannya duduk.
“Silahkan, nona … kau mau minum apa?”,tanyanya sambil mendekatkan wajahnya memandang Aysa. Gadis itu langsung menarik wajahnya menjauh.
“Air putih saja, please”.
Vein menghela nafas lalu duduk di samping ‘tunangannya’.
Wanita di seberangnya memandang tingkah Aysa dan Vein sebagai suatu keakraban, tanpa menyadari, setitik saja api diantara mereka terpercik, pasti timbul perang besar. Mereka berdua sama-sama tidak nyaman dengan pasangan masing-masing dan saling menjaga jarak.
Setelah perbincangan menarik antara dirinya dengan Nyonya Handoko, juga setelah mama Vein itu membagi beberapa hal kecil padanya seperti memperlihatkan koleksi anggrek dan mawarnya lalu menunjukkan peralatan dapur superlengkap untuk memasak dan membuat beberapa kue kering, dengan ramah mama Vein mengajaknya sesekali memanggang kue bersama.
“Vein dan ayahnya kurang suka yang manis-manis …”, kata sang mama.
Aysa maklum, “Pantas aja si nyebelin ini nggak ada manis-manisnya …”, pikirnya sambil melirik sekilas ke arah Vein yang memasang tampang superbosan padanya.
“Kalau Aysa suka kue yang manis nggak?”.
“Iya tante eh, mama…, suka banget sama Nastar dan Putri salju”.
“Oh ya? Kapan-kapan kita bikin bareng ya? Gimana kalau minggu depan?”
“Boleh tuh ma, minggu depan sudah liburan semesteran …”.
Benar-benar ibu yang baik, lain dengan anaknya yang terang-terangan menguap bosan di depannya. “Ma, Vein ada acara nih, kalau sudah selesai ngobrol, biar dia aku drop pulang ke rumahnya sekalian … kebetulan aku mau latihan band di MusiQ, satu arah menuju rumahnya …”.
Pengusiran secara halus.
“Iya ma, Aysa kebetulan sore ini ada pengajian sama ibu-ibu tetangga …”.
“Oh, gitu ya, baiklah, biar Vein yang antar, besok mama telpon kamu ya sayang …”, dua kecupan di pipi dan sedikit tepukan di pipi.
“Pakai mobil saja Vein, kayaknya mendung”.
“Sure, soalnya nona manja ini hanya mau naik mobil …”, gumam Vein.
Aysa menoleh, “Gimana kalau aku naik taksi aja?”.
Vein nyengir,”Marah ya? Kalau mau jadi istriku, jangan jadi cewek sok sensi … bisa mati berdiri nanti … kalem ajalah …”.
Saat hanya berdua di mobil, Aysa baru bisa menumpahkan kekesalannya pada Vein. “Kalau kamu keberatan dengan pertunangan ini, please tahanlah kekesalanmu, aku akn sudah bilang, hanya tiga bulan … setelah itu kau bebas… sebenarnya apa sih yang membuatmu begitu kesal padaku? Apa salahku?”.
Vein melajukan BMW hitam itu semakin kencang.
“Vein, hati-hati … kalau kau masih ngebut, aku turun aja di sini!”.
Tiba-tiba Vein menghentikan mobil dan memandangnya.
“Berani? Turun di sini? Turun saja sana! Asal kau tahu, tempat ini sepi, banyak preman … dasar manja! Sedikit-sedikit ngomel, kau ini cewek paling menyebalkan yang pernah aku kenal, sama sekali bukan seleraku …”.
Aysa terlalu marah sehingga tak perduli lagi pada keadaan di sekitarnya. Dibukanya pintu mobil dan turun ke jalan raya, menyusuri trotoar setengah berlari menuju ke bawah jembatan melewati tangga dan berniat memanggil taksi di bawah jembatan layang.
Tapi Vein benar, hari sudah telalu sore, tak juga didapatkannya taksi. Malah beberapa preman terlihat memandanginya dengan penuh minat.
“Sendirian neng?”
Aysa tak menjawab, diliriknya arlojinya, sudah pukul setengah lima, ah, dia tak bisa lagi bantu mamanya menyiapkan acara pengajian.
Sekarang ada tiga preman merubungnya.
“Geulis juga si eneng, main sama abang yuuuk …”.
Aysa mundur beberapa langkah, preman-preman itu tambah nekat.
Satu orang maju hendak meraih jilbabnya, dengan lincah Aysa berkelit, saat yang lain berusaha mendekapnya, dengan lincah dia melancarkan pukulan taek won do nya. Sudah ban hitam masa kalah sama preman? Tapi rok panjangnya menghalanginya bertindak lincah. Dikeroyok tiga orang, dia bisa memperhitungkan apa yang harus dilakukannya. Dia melirik lawannya dengan waspada.
“Lumayan juga pukulan si eneng, akang jadi tambah penasaran …”, tanpa membuang waktu, ketiganya berusaha meringkus Aysa. Gadis itu tambah bersemangat melawan, meski hanya sebatas pukulan dan tendangan pendek, tapi saat dia kurang waspada, preman di belakangnya memukul tengkuknya cukup keras, Aysa merasa pandangannya berkunang-kunang, dia ambruk tak berdaya.
Ternyata preman juga punya sifat pengecut, mukul dari belakang. Aysa berusaha bangkit dan ketiga preman itu malah menertawainya.
Salah satu dari mereka menegadahkan dagu Aysa, karena masih merasa pusing, gadis itu bahkan tak bisa menggerakkan lehernya.
“Cantik begini … sayang kalau dilewatkan, ayo kita bawa dia …”.
---
Aysa merasa sangat kesal berada dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Ditepisnya tangan preman itu. Tapi rasa sakit yang semakin berdenyut membuatnya lemah. Di saat yang kritis itu, tiba-tiba sebuah BMW hitam berdecit di sampingnya. Seorang pemuda keluar dari mobil dan tanpa peringatan melayangkan tendangan di kepala preman yang berjongkok dan memegang dagu Aysa. Kedua teman si preman mengeroyok pemuda itu, bahkan satu orang mengeluarkan belati, tapi pemuda itu dengan lincah berkelit dan beberapa kali gebrakan kilat membuat ketiga preman itu tak berdaya. Aysa merasa dia melihat kilat puas dan senyuman di mata Vein.
“Ini peringatan kecil dariku”, Vein menginjak tangan si preman dengan keras. Aysa seperti mendengar gemeretak tulang yang patah, preman itu mengaduh keras. Vein nyengir.
“Aku saja belum menyentuhnya, kau berani-beraninya memakai tangan kotormu untuk menyentuhnya, mau kubukin kedua tanganmu buntung?”. Aysa memandang si preman yang meringis kesakitan, Vein semakin memperkuat injakannya dengan pandangan puas, mungkin kejam lebih tepat. Pandangan matanya berbinar melihat rasa sakit yang diderita preman itu, Aysa merasa ngeri dan justru kasihan terhadap si preman.
“Vein, hentikan, tangannya bisa patah …”, gumam Aysa.
Vein mengernyit, “Bukannya dia hampir menciummu tadi, kau malah membelanya?”.
“Bukan, bukan begitu … Vein …”, Aysa merasa pandangannya gelap dan jatuh pingsan.
Vein menggertakkan giginya lalu memandang ketiga preman yang terkapar tak berdaya di sekelilingnya. “Kalian pernah dengar Black Phanter? Aku ketuanya! Kalau kalian berurusan denganku lagi, jangan harap masih bisa bernafas!”.
Preman-preman itu terbelalak mendengar pengakuan Vein, dengan susah payah ketiganya bangkit dan kabur. Black Phanter? Daripada masuk rumah sakit gara-gara dikeroyok berandalan geng motor penguasa kota itu, mendingan kabur aja!
Vein menghela nafas dan memandang Aysa yang terpuruk pingsan.
“Kenapa sih, aku harus perduli sama kamu?”, perlahan dibaliknya posisi tubuh Aysa dan dibopongnya menuju mobil. Saat dia meletakkan tubuh Aysa di jok mobil dan tanpa sengaja pipi mereka bersentuhan, Vein merasa hatinya berdesir lalu nyengir.
Kalau saja Aysa tahu, pasti sudah menamparnya meski itu nggak sengaja. Dipandangnya wajah pucat itu, bibir yang merah, pipi yang mulus, mata yang dinaungi bulu mata lentik, hidung mungil yang mancung … Vein mengumpat pelan.
Ingat-ingatlah Vein, siapa dirimu yang sebenarnya!
Lelaki itu mengepalkan tangan dengan kesal. “Kenapa aku merasa harus melindunginya? Seperti setan yang melindungi malaikat, rasanya nggak ikhlas bener …”, gumamnya kesal lalu menutup pintu mobil dengan kasar.
---
Aysa memandang sekelilingnya. Kamar bernuansa pink-putih itu terasa asing. Seorang gadis cantik memandangnya. “Dia sudah sadar …”, kata gadis itu.
“Baguslah, jadi aku tak perlu membopongnya sampai rumah …”, suara lelaki itu mendominasi ruangan. Gadis cantik itu tertawa pada si lelaki lalu memandang Aysa.
“Gimana perasaanmu?”.
Aysa mencoba bangkit, lehernya masih berdenyut sakit.
“Hanya memar, jangan khawatir, nggak ada luka … “.
Aysa memandang gadis itu, “Kamu siapa?”.
Gadis itu memandang Vein dan tertawa, “Ngaku nggak ya Vein, kamu itu pacarku?”.
Vein berdecak kesal. “Apa-apaan sih?”.
Lalu si gadis mengulurkan tangan dan berkata ramah, “My name Maya, teman Vein satu almamater tapi beda Fakultas, dia di TI aku di FKU, kamu Aysa ya? Tunangannya Vein?”. Ay hanya tersenyum lemah dan mengucapkan terimakasih seraya menerima uluran tangan Vein.
“Banyak yang patah hati lho, saat mendengar pertunangan kalian, nggak hanya cewek, bahkan para gay penggemar Vein sampai shock!”.
“Maya!”.
“Vein, aku kan berkata yang sebenarnya! Kadang aku kesal sama kamu, beberapa lelaki menganggap kamu lebih cantik dariku”.
“Nonsense …”, lalu Vein memandang Aysa.
“May, keluarlah sebentar, biar aku bicara sama cewek bego ini”. Maya menurut dan meninggalkan kamar lalu menutup pintunya.
Lelaki itu memutari tempat tidur dan duduk di kursi yang tadi diduduki Maya.
“Gimana nona manja, kalau kau dengar kata-kataku, pasti kau tak mengalaminya!”.
Aysa menahan kekesalan hatinya, lebih baik nggak usah dijawab, lalu dia menyadari, di kamar ini hanya ada mereka berdua, mana pintu tertutup pula, dengan panik dia bangkit dari tidurnya, nggak perduli lehernya masih sakit, turun dari ranjang dan mencoba berdiri.
“Vein, kita bicarakan ini lain kali saja, aku mau pulang …”, terseok dia melangkah menuju pintu dan membukanya.
Maya memandangnya dengan terkejut saat Aysa membuka pintu.
“Terimakasih kau telah menolongku, tapi … aku harus pulang …”, terhuyung hampir jatuh, dirasakannya tangan Vein yang kokoh mencekal lengannya.
“Kenapa sih? Langsung kabur kayak ngeliat hantu aja…”.
Aysa menepis pegangan Vein dan melihat ke arah lelaki menyebalkan itu.
“Tahu nggak, kita bukan muhrim, tapi kita tadi ada di suatu ruangan tertutup, kau ini lelaki bukan sih? Tahu aturan nggak sih?”, dahi Vein mengernyit.
“Oh, kau memang selalu melebih-lebihkan sesuatu, nona … lagipula aku nggak tertarik sama kamu, camkan itu, menurutku, kamu justru yang punya dirty mind padaku, apa tadi aku bayangkan kalau aku berniat merayu atau …”, Aysa menginjak kaki Vein kuat-kuat. “Dasar nyebeliiiin!”. Lalu menuruni tangga dan menyeberangi ruang tamu, berusaha secepat mungkin keluar ruangan.
Maya terbahak-bahak memandang Vein. “Galak juga calon istrimu, haha, lihat saja wajahmu sekarang Vein, baru kali ini kamu dikacangin cewek”. Vein mendengus kesal.
“Pamit dulu May … thanks for all”.
“Sama-sama…”.
---
“Ceroboh, bodoh, cengeng …”, Vein memandang Aysa yang terisak-isak di dalam mobil, saat mereka mulai memasuki halaman rumah Aysa, Vein mencekal lengan gadis itu mencegahnya turun.
“Hapus dulu airmatamu, kau nggak ingin membuat ibumu bertanya-tanya akan apa yang telah kulakukan sehingga kau menangis seperti itu, kan?”.
Aysa menepis tangan Vein.
“Don’t touch me! Ini sudah cukup, kau membuat hidupku sangat kacau, lebih baik kita nggak usah ketemuan selama tiga bulan ini!”.
Mulut Vein berkedut, kesal sekali.
“Kau …!”.
Aysa membuka pintu mobil dan lari masuk ke rumah. Vein berdecak kesal lalu menutup pintu mobil dan memutar keluar halaman dan langsung menuju jalan raya. Sikap Aysa benar-benar keterlaluan, bukannya berterimakasih, malah menyalahkannya, tapi mungkin kejadian tadi memang salahnya. Tiba-tiba Vein merasa hatinya berdenyut sakit, Aysa benar, mungkin keberadaannya di samping gadis itu adalah sesuatu hal yang salah. Malaikat, tidak berteman dengan setan.
Gadis itu memandang laptopnya, dicurahkannya segala isi hatinya di laptop perak mungilnya sambil terisak-isak. Tidak pernah dia merasa selemah ini, selama ini dia sangat kuat dan tegar, ada Allah di sampingnya dan dia yakin itu, tapi kejadian tadi sore membuatnya shock, bagaimana mungkin dia merasa menjadi tergantung pada lelaki menyebalkan itu. Vein bahkan menganggapnya begitu tolol, membahayakan diri sendiri.
Satu hal lagi, seharusnya dia takut pada Vein, pada sorot mata tajam dan kekejaman Vein saat menginjak tangan preman tadi. Senyum Vein yang memperlihatkan gingsulnya itu, senyum kepuasan karena melihat lawannya tak berdaya. Apakah Vein akan bersikap seperti itu padanya, kelak, kalau mereka menikah?. Aysa menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Aku nggak mungkin nikah dengan Vein, nggak akan pernah!”.
Seharusnya dia takut pada lelaki dengan tipe seperti Vein. Tapi kenapa? Vein yang kejam dan tak acuh justru membuatnya tertarik? Ada kegelapan di dasar diri Vein yang membuatnya tergoda untuk mendekat, ingin tahu, siapa sebenarnya Vein. Aysa yakin, lelaki itu bukan hanya seorang manusia bernama Alveindra Farrazi Handoko, lulusan Teknik Informatika Westside yang juga memiliki usaha sebuah toko komputer Marketronic dan beberapa Warnet ternama di kotanya. Tidak, bukan Vein itu yang membuatnya tertarik, tapi desas desus yang kemarin dia dengar dari Nina, sahabat karibnya di kampus.
“Aysa, benarkah kalau kau bertunangan dengan Alveindra, kalau nggak salah dia satu kampus dengan kakakku waktu kuliah di TI dulu, berarkah Vein yang mantan ketua BEM kampus itu?”.
Aysa memandang Nina dengan heran.
“Wah, aku saja nggak tahu hal itu, pokoknya kita dijodohin, itu aja, aku nggak tahu latar belakang dia, ayahku yang memperkenalkan kami, aku sih percaya saja dengan pilihan ayahku”.
“Benarkah? kayaknya bukan Aysa banget! Jangan-jangan ayahmu diancam sama Vein? Dia kan ketua Black Phanter! Tapi, apa alasannya sehingga dia memilihmu Ay? Kamu nggak seksi, nggak gaul, wah, biasanya si Vein kan kencan sama cewek-cewek dancer yang sering tampil di Deluxe café, tahu si Ita itu kan? Yang suka pakai dandanan heboh? Kakak tingkat kita yang diusir pak Sutomo di kelas Akuntansi Internasional gara-gara kuliah pakai Tanktop dan rok pendek? Wah, Ay, masa dari selera Vein yang demen sama cewek gituan beralih selera dengan memilih bertunangan sama kamu? Kamu ikhlas Ay, punya tunangan playboy kayak gitu?”.
Aysa tertawa acuh.
“Itu kan terserah dia saja, aku juga nggak perduli, Nin, aku dan orang itu hanya bertunangan dan belum menikah, bisa saja besok kami putus kan? Jangan khawatir, aku percaya, Allah memberikan hambanya sesuatu yang dibutuhkan hamba-hambanya…”
“Meski Vein bukan seseorang yang kauinginkan dalam hidupmu, jika menurut Allah dia adalah yang kau butuhkan dalam kehidupanmu, apa yang kau lakukan?”
“Jika itu takdirku, aku bisa apa?”, gumam Aysa pahit.
“Tapi kau jangan khawatir Nin, di detik terakhir kalau aku ingin melarikan diri dari ini semua, kaulah yang akan kuhubungi pertama kali untuk menolongku”.
“So sweet, Aysa … kau bisa mengandalkan aku”.
“Thanks”.
“Tapi, aku masih saja penasaran, bagaimana mungkin kau dan Vein bisa bertunangan?”. Aysa juga tak pernah mengerti jawaban atas pertanyaan itu.
Mungkin kata-katanya kemarin pada Vein terlalu kasar, sehingga lelaki itu tak lagi mengusiknya. Tiga hari ini dia melewatkan ketenangan seperti biasanya di kampus. Tapi, sedikit rasa resah di hatinya membuatnya bertanya-tanya. Bagaimana mungkin, rasanya agak sedikit tak menyenangkan kalau Vein tak lagi hadir dalam hidupnya. Aysa berusaha keras menepis perasaan itu, tapi malah rasa cemas di hatinya semakin besar.
“Hai”, suara serak itu…
Aysa menoleh, Vein telah berdiri di sampingnya. Sejak kapan?
“Kulihat dari tadi kau melamun, ada yang kau pikirkan?”.
“Bukan urusanmu”.
Vein mengambil duduk di sampingnya, Aysa menggeser lebih jauh. Vein malah tertawa. Tawanya yang khas, sedikit angkuh dan mengejek. Aysa mendumel kesal.
“Kan sudah kubilang …”, kata-katanya dipatahkan Vein.
“Yup’s, sebenarnya aku juga malas mengusik hidupmu, tapi aku harus. Ayolah, ayahku mengancam akan mengacaukan hidupku dan mengurangi kesenanganku kalau aku tak bersikap baik padamu. Entah darimana dia tahu apa yang terjadi padamu tiga hari yang lalu, aku disuruhnya minta maaf”.
“Maaf diterima, sekarang pergilah”, jawab Aysa seraya bangkit dan pergi.
Tiba-tiba Vein meraih tangan Aysa, meski gadis itu memberontak, Vein tak perduli.
“Lepaskan…”.
“Nggak!”.
“Apa sih maumu, nggak sopan tahu, kalau orang melihat nanti mereka berfikir…”.
“Biarkan mereka berfikir, diamlah dan dengarkan aku!”.
“Vein, aku bukan muhrim kamu, jangan pegang aku!”.
Lelaki itu malah berdiri dan sekarang posisi tubuhnya menguasai Aysa. Tingginya yang 180 cm, membuat Aysa hanya setinggi pundaknya, seperti anak rusa dalam pengawasan harimau, Aysa merasa tubuhnya menegang.
“Jangan khawatir, jika kau merasa tanganmu sudah tak suci lagi gara-gara sentuhanku, besok aku akan menikahimu”, kata Vein. Aysa terbelalak.
“Kau gila!”.
“Aku akan buktikan kalau kau tak percaya!”.
Aysa terpaksa menyerah, daripada dia memberontak dan membuat orang-orang tambah penasaran melihat mereka berdua, dia berusaha rileks.
“Baiklah, aku akan mendengarkanmu, tapi lepaskan tanganku”.
“Tidak, sampai kau mendengarkan semua yang kukatakan”.
Oh oh, suaranya seperti seorang raja yang harus dipatuhi segala ucapannya.
“Baiklah, Yang Mulia … apa yang harus hamba lakukan agar membuat Yang Mulia merasa puas?”, ejek Aysa.
Vein tersenyum sinis. “Baguslah, kau memang harus belajar menghormatiku! Nah, kurasa sekarang kita harus gencatan senjata selama tiga bulan, aku nggak mau bertindak konyol lagi dan membuat ayahku menghancurkan aku, dia memiliki 70% saham dalam usahaku, dan dia mengancam akan menariknya kalau aku bersikap kasar padamu, jadi, bisakah kita berpura-pura jadi pasangan yang manis tiga bulan ini, setelah itu putuskanlah aku, bilang saja aku ini terlalu brengsek untukmu, kau sudah mencoba untuk memahamiku tapi tak berhasil…nah, setelah itu kau sebebas kupu-kupu…”.
“Kenapa kita nggak terus terang sekarang saja kalau kita memang nggak cocok?”.
“Karena ayahku bukan orang bodoh, sebaiknya kita pelan-pelan saja menjalankan rencana ini, oke?”, Vein melepaskan tangan Aysa.
“Sebaiknya kau dan aku saling mengenal…lebih dalam lagi..”, Vein tersenyum dengan mata berbinar jahil, Aysa menggigil mundur.
“A .. apa maksudmu?”.
Lelaki itu memandang Aysa dengan sungguh-sungguh.
“Kau akan masuk ke duniaku, akupun akan masuk ke duniamu”.
“Aku nggak mengerti…”.
Vein mengernyit sejenak lalu berkata.
“Aku akan membawamu pada teman-temanku, akan mengenalkanmu pada mereka dan tempat-tempat yang biasa aku kunjungi, kaupun akan mengenalkanku pada teman-temanmu yang sok alim itu, bagaimana? Itu sangat menarik, bukan?”.
Iblis berwajah tampan, dengan senyum menawan, mempersembahkan sebuah apel berkulit keemasan pada sang malaikat. “Makanlah, dan kau akan merasakan kebahagiaan”. Sanga malaikat memakan apel itu tanpa curiga, lalu perlahan sayap putihnya lenyap dan sang malaikat menjadi lemah tak berdaya. Sang Iblis tersenyum. “Kau telah menjadi bagian dari kami …”, sang Iblis tertawa terbahak-bahak penuh kepuasan.
Aysa tersenyum.
“Kalau ada yang harus jatuh diantara kita berdua, kau yang akan kalah, Vein”. Dan dia bertekad, apapun yang terjadi, kesempatan ini takkan dia sia-siakan, bukan dia yang akan jatuh, tapi Vein. Dia yakin bisa mengalahkan Vein.
“Baiklah, tuan sombong, apa rencanamu?”.
“Kita ketemuan besok sepulang kamu kuliah di sini, aku akan mengenalkanmu pada temanku,bagaimana?”.
“Baiklah …”.
Mereka berpisah tanpa mengucapkan salam perpisahan.
---
Vein memesan satu meja di lantai dua. Aysa memandang ke bawah, di lantai bawah terlihat anak-anak muda terbuai dalam sorak sorai ceria dan hentakan musik yang dialunkan DJ. Benar-benar gila! Waktu mereka terbuang percuma setiap hari hanya untuk beginian? Tubuh-tubuh mereka saling menggoda dan menempel satu sama lain. Memuakkan. Vein berdiri di sampingnya. “Teman-temanku sebentar lagi datang, aku duduk sajalah, atau mau melantai?”, Aysa memandang Vein, marah, lalu tak berkata apapun, langsung duduk dan meraih tasnya, untung di café ini ada hotspot, dengan acuh dihiraukannya pandangan tajam Vein yang tertuju padanya.
“Kau tahu, perasaanku … seperti menyeret seorang malaikat turun ke dasar neraka, apa kau tidak merasa ini dunia yang asing bagimu, Aysa?”.
Gadis itu mendongak. “Aku tidak merasa berbuat suatu kesalahan, hanya merasa berada di tempat yang salah, itu saja…”, jawabnya ketus. Vein bersiul.
“Ingat Vein, kaupun besok akan mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan sekarang, aku nggak bisa bayangkan kamu ikut pengajian”.
Vein terbahak.
Seorang pemuda berambut ikal dan berwajah tampan menggandeng seorang gadis menaiki tangga. “Apa kabar Vein?”.
“Baik, duduklah, Andre … Diaz mana?”.
“Bentar lagi nyusul bareng Ferrel”. Lalu dikecupnya gadis yang bersamanya tanpa risih. “Kau ke bawah saja dulu Diane, aku nanti nyusul…”, gadis itu memandang Aysa dengan heran lalu memandang Vein dengan tatapan menggoda.
“Apa ada perbincangan rahasia?”, tanya Diane sambil memandang Vein dan Andre dengan tatapan menggoda.
“Bukan urusanmu, pergilah …”, gumam Vein. Diane terkikik lalu menuruni tangga sambil berteriak.
“Kamu masih membuatku penasaran, tuan Vein … dan membuatku kecewa dengan pertunanganmu …”.
Beberapa menit kemudian dua orang cowok masuk. Yang satu mirip model di sebuah majalah cowok, dengan tubuh proporsional dan wajah tampan, yang lainnya seperti seorang eksekutif muda.
“Nah, sudah kumpul, tanpa Ben dan Abel, mereka sedang di Singapore sekarang, tapi itu nggak akan mengurangi kegembiraan kita, bukan begitu?”, Vein menuangkan minuman ke masing-masing gelas, kecuali milik Aysa.
“Aku akan memperkenalkan tunanganku, Naysha Malaikha kalian panggil saja dia Aysa, maaf kalau kami tidak mengundang kalian di acara pertunangan kami, tapi kuharap kalian bisa menerimanya dengan baik”, kata Vein sambil memandang sahabat-sahabatnya.
“Nah, Aysa, ini Ferrel…”, Vein menepuk bahu si eksekutif muda.
“Manager perusahaanku … dan di sampingnya, mungkin kau kenal, dia model, aku nggak tahu kenapa wajahnya yang kayak cewek itu …”.
“Vein …!”, cowok berwajah cantik tapi macho itu berdecak mengingatkan.
“Diaz Ernest … model kita … dan terakhir, yang paling doyan ganti cewek … Andreas Juanda … namanya kayak bandara ya? Sayangnya sifatnya juga kayak bandara, cewek datang dan pergi kayak pesawat … hehe..”
“Kurangajar, tutup mulutmu, memang kau sendiri nggak playboy?”.
Vein memandang Aysa.
“Sayang, jangan dengarkan dia…hatiku hanya untukmu, trust me”.
Aysa tersenyum manis tapi tak menjawab.
“Tapi, aku kaget juga Vein, tiba-tiba dengar kamu tunangan, dalam pikiranku kamu mungkin MBA, kebablasan, cewekmu hamil atau gimana gitu, kayaknya orang seperimu agak aneh kalau … yah, terikat gitu …”, kata Andre sambil menggoyangkan Tequilanya.
“Aku nggak membayangkan ternyata kau bertunangan dengan …”, Andre memandang Aysa dengan pandangan meremehkan. “…cewek yang jauh dari tipemu meski kuakui, dia cantik …”, ucap Andre terus terang.
“Maksudmu, karena dia berjilbab?”, kata Diaz sambil nyengir. Aysa merasa jengah, bagaimana mungkin cowok-cowok itu memandangnya seperti sebuah barang antik yang mereka taksir harganya, lalu mereka memberikan pendapat pada Vein, yang akan membeli barang antik untuk koleksinya. Seolah Aysa bukan manusia saja, tapi masih ditahannya rasa kesalnya, karena Vein mungkin besok akan mengalami hal yang sama seperti apa yang dia alami sekarang. Merasa asing dan tak nyaman.
“Bukannya gadis berjilbab itu menarik”, kata Ferrel, sekilas dipandangnya Aysa.
“Dia hanya akan membuka jilbabnya di hadapan suaminya, bukan begitu nona?”, wajah Aysa memerah, pertanyaan itu terlalu berani.
“Hanya suaminya yang akan melihat keelokan wajah itu, kupikir, menganut faham seperti itu sangat menarik, kau beruntung Vein, kau akan menjadi satu-satunya lelaki yang ada dalam hidup nona ini, lihat cewek-cewek di bawah sana, gadis super seksi, bertubuh indah dan menggoda, bisa didapat di sini, sangat mudah, tapi … aku lebih senang menikah dengan wanita yang hanya akan menjadi milikku dan hanya akulah yang menyentuh istriku itu … wah Vein, kalau kau melepaskan kesempatanmu, aku yang akan merebut nona ini dari tanganmu”.
Aysa mendumel kesal. Memangnya dia itu barang? Tapi mendengar kebenaran kata-kata lelaki berpenampilan rapi itu hatinya menjadi penasaran, apa tanggapan Vein?.
Pria itu malah tertawa.
“Pendapat yang naif, Ferrel, kau pikir sajalah, mana ada cewek yang nggak pernah berciuman satu kalipun? Semua cewek SMU sudah pernah berciuman! Umur Aysa sekarang 23, nggak mungkin dia belum pernah punya pacar, ya nggak sayang … lagipula aku nggak perduli dia bekas siapa, itu masa lalu…”.
Bekas? Barang bekas? Aysa merasa kesabarannya habis.
Dengan kesal dia mengemasi laptopnya dan berdiri.
“Omongan kalian benar-benar menyebalkan, kalau kalian menganggap aku makhluk aneh atau apalah terserah, tapi aku bukan barang yang bisa seenaknya kalian taksir, aku juga punya harga diri! Dan kau … Vein! Asal kau tahu, hanya kaulah yang sudah menyentuhku seenaknya karena kau memang tak tahu aturan! Kaulah satu-satunya lelaki yang sudah memperlakukan aku seperti … sampah!”.
Aysa menuruni tangga dan menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
“Vein, kau memang bodoh ..”, ejek Andre.
“Keterlaluan kau Vein, menurutku, gadis itu masih orisinil, bentuk badannya saja bisa dilihat kalau dia… ah, aku berani bertaruh dia belum pernah berciuman! Hei, Vein, masa kamu nggak bisa bedakan mana gadis baik-baik dan …”.
Vein sudah keburu menuruni tangga menyusul Aysa.
---
“Pardon me …”, kata Vein setelah berhasil menyusul langkah-langkah Aysa, tapi dari pandangan matanya yang separuh mengejek pasti kurang tulus.
Gadis itu menunjukkan wajah kesal. Dipandangnya Vein, sekilas lalu tertunduk.
“Kenapa sih, kayaknya kamu senang sekali ngeliat aku nangis?”.
“Bukan aku yang senang ngeliat kamu nangis, tapi kamunya yang terlalu cengeng, orang sepertiku dan teman-temanku memang sudah biasa berkata-kata seperti ini, itu hal biasa diantara kami, kalau kami cepat tersinggung, wah, udah banyak orang yang mati ditangan kami, tapi aku nggak menyalahkanmu, dunia kita emang beda”.
Gadis itu mengernyit, kesal.
“Kenapa selalu hal seperti itu yang kau jadikan alasan? Memangnya aku sangat terlihat bodoh sehingga tidak bisa masuk ke hidup kamu? Terus terang sajalah padaku, sejak awal memang kau nggak pernah menganggap aku sederajat denganmu, bukankah begitu? Kamu masih berdarah biru, sedangkan aku tidak, apakah hal seperti itu begitu penting bagimu, Vein? Di mata Allah, derajat setiap manusia itu sama!”.
Vein menghadang langkah Aysa.
“Hei, kok kamu berfikir seperti itu, bukan itu maksudku, aku hanya…”.
“Ah, sudahlah, aku maklum kok, sekarang pergilah, aku sedang nggak ingin berdebat denganmu!”. Tapi Vein malah tak beranjak, ditatapnya lekat-lekat wajah gadis dihadapannya. “Kenapa Ay? Kamu nggak pernah mau memandang wajahku? Apa aku begitu buruk? Itu yang jadi pertanyaan terbesarku sejak pertemuan pertama kita! Itu yang membuat aku jengkel, apa kau begitu membenciku sehingga tak sudi memandangku? Bukankah kamu yang membuat jarak dan perbedaan diantara kita? Aku tak pernah perduli asal-usulmu, bukan itu yang membuat perbedaan, tapi sikap kamulah yang membuat aku seolah seperti setan yang berdampingan dengan malaikat!”.
“A ..apa? kau…”, Aysa menghela nafas panjang. “Vein, masa kau nggak tahu apa itu ghadhul bashar?”.
“Bahasa apa itu?”.
“Arab!”.
“Di kelas TI aku nggak pernah dapat mata kuliah bahasa arab!”.
“Di akuntansi juga nggak ada, aku tahu istilah itu waktu masuk SMU, sejak ikut ekstrakulikuler Kerohanian Islam, arti ghadhul bashar adalah menundukkan pandangan, aku memang selalu menghindari kontak mata dengan orang yang bukan muhrim, bukan hanya dengan kamu saja, gimana ya jelasinnya? Pokoknya dalam agama Islam, menghindari pandangan dari non muhrim adalah salah satu cara mencegah zina, justru jika aku menjauhkan pandanganku darimu, kau harusnya merasa tersanjung, itu artinya aku menghormati kamu, menganggap kamu …”.
“Menarik? Menggoda lebih tepatnya?”, Vein nyengir, Aysa melengos kesal.
“Whatever …”.
“Kau seperti malaikat yang menjaga setan, Aysa …”.
“Hei, hentikan pemikiran bodoh itu, kita sama-sama manusia, siapa tahu kamu sebenarnya memiliki pribadi yang lebih baik dariku?”.
“Benarkah? Wakil HMI dibandingkan dengan Ketua Black Phanter? Fiuh, yang benar saja, Ay?”.
Mata gadis itu terbelalak, bukan karena takut, hanya kaget.
“Jadi, gosip itu benar ya? Kamu ketua Black Phanter?”.
Vein mengangguk, sorot matanya berubah kelam. “Apa itu akan mengubah pandanganmu terhadapku? Aku bukan anak bangsawan yang terhormat lagi? Hanya berandalan tak tahu aturan yang jahat? Bagaimana Ay, aku ingin tahu pendapatmu, kau pasti kecewa bukan? Aku ternyata bukan makhluk baik-baik?”.
Ujian lagi. Aysa tahu geng motor di kota mereka yang sering bikin keributan.
“Umar ibn Al Khathab, sebelum masuk Islam adalah pembunuh berdarah dingin, bahkan mengubur anak perempuannya hidup-hidup dalam pasir, tapi pada akhirnya dia mendapatkan surga di samping baginda Nabi, hidupmu belum berakhir dan kau tahu kemana kau harus melangkah, kau sudah bisa membedakan yang baik dan yang salah, tapi sekarang hatimulah yang harus kau kalahkan, terkadang manusia terlalu sombong untuk mendengarkan nuraninya, bukankah begitu?. Kau tahu, kakek buyutku dulu adalah perompak, tapi, apakah kakekku dan ayahku memiliki profesi yang sama dengan beliau? Apakah darahku bisa dianggap tercemar karena itu?. Hanya Allah yang tahu, kita hanya bisa berbuat yang paling sesuai menurut nurani kita”.
Aysa memandang langit biru cerah di atas kepala mereka.
“Jangan terpaku dengan masa lalu, hari ini harus lebih baik dari kemarin , esok harus lebih baik dari sekarang. Kamu sudah dewasa, kau seharusnya sudah bisa membaca hatimu sendiri, bukankah begitu?”.
Vein mengerjap. Ah, gadis di sampingnya ini …
“Entahlah, aku sudah terlalu lama berada dalam gelap, mungkin malah sudah terbiasa, malah merasa nyaman”.
“Kalau begitu, anggaplah sebagai suatu tantangan, kau harus keluar dari kegelapan dan mencari cahaya matahari, meski hanya sekali saja … kalau kau berhasil, aku yakin, kau lebih suka berada di tempat yang hangat dan terang, karena kau tak hanya melihat warna hitam, tapi berbagai warna yang ada di dunia …”.
---
Aku ingin sekali masuk surga
Walau terangnya akan menghanguskan aku
Hanya untuk melihatnya sekilas saja
Di padang harum penuh bunga
---
Lelaki itu turun dari Jaguar hitamnya dengan langkah angkuh dan tegap. Masih seperti biasanya. Hanya saja tak lagi memakai jacket hitam army dan jeans belel. Aysa hampir tak berkedip melihat ustadz gadungan berkoko putih dan kepalanya tertutup peci putih pula. Untung kalung dan hiasan bling-blingnya sudah dicopoti semua, Aysa teringat sosok Ustadz Rock Boy waktu malam pertunangan mereka, penampilan lelaki itu lebih oke sekarang. Tapi sorot mata jahil si ustadz masih sama.
“Apa menurutmu aku harus menambahkan sedikit jenggot?”.
“Terserah!”, Aysa mempersilahkan Vein masuk.
“Aku nggak bisa baca Qur’an dengan cepat”.
“Pelan-pelan juga boleh, belajar dulu … yang penting ikhlas …”.
Vein disuruhnya duduk di ruang tamu yang sudah digelari karpet.
“Lho, kok ada dua ruangan?”
“Tentu saja, di ruang ini untuk lelaki, ruang dalam untuk perempuan, memangnya kau tak pernah ke masjid?”.
“Hanya waktu ramadhan saja …”.
“Nah, di masjid antara perempuan dan lelaki tempatnya terpisah kan?”.
“Benar juga … ah, belum ada yang datang ya?”.
“Sebentar lagi … acaranya pukul empat, kebanyakan perempuan sih, soalnya yang lelaki biasanya masih sibuk kerja di kantor, paling nanti hanya beberapa pemuda masjid dan bapak-bapak sekitar kompleks yang sudah pensiun …”.
Seorang wanita anggun berkerudung biru menyambut Vein.
“Ah, nak Vein? Mau ikut pengajian juga?”.
“Iya tante, disuruh Aysa …”.
“Bukan disuruh Ma, tapi diajak, oh ya ma, snacknya sudah datang?”.
“Sudah siap semuanya di dapur, mari nak Vein, masuk saja dulu, biar Aysa menyiapkan hidangan, kamu sudah makan siang belum?”.
“Sudah tante, nggak usah repot …”.
“Nggak kok, sekalian si Aysa biar belajar jadi istri yang baik…”.
Kali ini tak hanya wajah Aysa yang memerah. Vein agak gugup saat menyadari hubungan mereka. “Duduklah, anggap rumah sendiri ya …”, dan dapur terasa begitu sunyi saat mama Aysa meninggalkan mereka.
Aysa meracik sup hangat yang jadi hidangan untuk acara ini, disajikannya pada Vein. “Ini buatan sendiri, resep mamaku … coba saja …”. Tak berapa lama dua orang pembantu masuk dan terkejut melihat Aysa bersama dengan seorang pemuda berpeci. Jarang sekali mereka melihat Aysa membawa temannya, apalagi seorang lelaki, rasanya tak pernah.
“Eh, bi Inah, bi Teti, tolong mangkuk-mangkuknya ditata di ruang makan saja, biar nanti lebih mudah”.
“Baik non …”.
Vein memandang mangkuknya lalu berkata,
“Istriku … tolong ambilkan sendok … tanpa sendok, bagaimana Aa’ bisa makan?”.
Kedua pembantu itu saling berpandangan, menahan tawa. Wajah Aysa merah padam.
Bi Inah memandang Vein, “Jadi aden ini adalah calon suami non Aysa ya? Waktu itu bik Inah sama bik Teti sedang pulang kampung, jadi ndak tahu non sudah bertunangan, wah, aden ini tampan, cocok dengan non Aysa”
Wajah gadis itu semakin merah, Vein memperhatikan perubahan itu dan sekuat tenaga menahan geli.
“Ah, bibik bisa aja, sudahlah, sebaiknya kita siapkan hidangannya, tamu-tamu sudah mulai berdatangan …”.
Saat Aysa hampir keluar dari dapur, Vein berteriak,
“Ay, sendoknya mana?!”.
---
Pengajian itu memang rutin diadakan setiap dua minggu, ayah Aysa biasanya pulang cepat dari kantor untuk ikut pengajian, tapi karena hari ini ada pertemuan dadakan, jadi Vein menggantikan tuan rumah sebagai pembicara. Tadi ayah Aysa menelpon dan berbicara sebentar dengan Vein.
“Wah, kebetulan nak Vein dirumah, gantikan Oom membuka acaranya ya?”.
“Tapi oom, kapasitas saya sebagai apa?”.
“Ya calon mantu Oom, hehe … pokoknya mewakili keluarga, gitu …”.
“Baiklah Oom …”.
Meski sudah terbiasa membuka acara, karena sering jadi ketua panitia dan pernah menjabat ketua BEM, tapi suasana pengajian yang tenang membuatnya sedikit gugup.
“Assalamualaikum …wr wb …
Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati, saya mewakili keluarga Bapak Syamsul Irsyad Rohman, yang hari ini karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, terpaksa tidak bisa membuka secara langsung pengajian sore ini. Pertama-tama, mari kita buka acara ini dengan bacaan hamdalah ….”.
Para hadirin serentak membaca hamdalah.
“Untuk selanjutnya acara akan dipandu oleh bapak … Ustadz Muhammad Yusuf. Kami persilahkan pada bapak Ustazd …”.
Bacaan Al-Qur’annya tak bisa dibilang bagus, masih tersendat-sendat dan tertinggal dari jama’ah pengajian yang lain, terpaksa dia hanya menggerakkan bibir tanpa bersuara. Menirukan ucapan pemuda di sampingnya. Baru kali ini Vein benar-benar mati kutu, dia baru merasa maklum atas perasaan Aysa kemarin saat menghadapi teman-temannya.
Gadis itu … lucu!
She so funny, terutama pipinya yang kayak lampu lalu lintas itu, merah merona.
Vein membalikkan tubuh dengan gelisah dalam kegelapan kamarnya. Lagu lawas Nickleback mengalum pelan. Far away …
Apakah bersama Aysa adalah sebuah kesalahan?
Tapi bersama Aysa seolah Vein menemulan dunia baru, sesuatu yang membuatnya merasa berubah. Sepertinya dia menunggu sangat lama untuk merasakan nafas baru yang mengalir dalam kehidupannya. Dia yang dulu tak lagi memiliki mimpi, sekarang merasa hidupnya lebih bergairah, tak lagi monoton dalam kesehariannya. Mengejek dan melihat perubahan pipi Aysa menjadi kesenangan tersendiri baginya, dekat dengan gadis itu membuatnya nyaman. Baru kali ini dia merasa asyik bersama seorang gadis bukan karena ketertarikan fisik semata, Aysa memang cantik, tapi Vera lebih cantik dan seksi. Aysa memang pintar, tapi Maya lebih pintar dalam mengimbangi pembicaraan dengannya. Tapi ada sesuatu dalam diri Aysa yang membuatnya penasaran, baru kali ini dia merasakan rindu. Vein berteriak kesal, tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya sekarang.
Kilasan mata bening yang memandangnya sekilas, lalu pipi yang memerah.
Suara halus yang lebih mirip bisikan saat mereka bicara.
Raut wajah kesal dan manja, tapi dibungkus ketegaran yang mengagumkan.
Kalau Aysa marah, gadis itu hanya mengomel, tapi tak pernah mencubitnya genit atau memukul punggungnya seperti gadis lain. Semakin Aysa menjaga jarak, semakin gadis itu tak tersentuh, Vein semakin merasakan kalau Aysa sangat berharga. Seperti sebuah kado indah yang terpasang di etalase toko. Untuk dikagumi dan hanya bisa dibuka oleh sang pembeli.
Mungkin kata-kata Ferrel benar.
Gadis berjilbab itu ternyata memiliki banyak kelebihan.
“Hanya suaminya kelak yang bisa melihat wajahnya yang sebenarnya …”.
Seperti apakah wajah gadis itu tanpa jilbab?
Gadis yang terjaga hati dan jiwanya.
Setiap lelaki pasti memiliki ego untuk menguasai, alangkah bangganya seorang lelaki kalau bisa mendapatkan istri yang mempersembahkan kehormatannya hanya untuknya. Vein yakin, seorang lelaki akan melakukan apa saja untuk mendapatkan perempuan yang seperti itu. Tiba-tiba hatinya merasa sedikit hangat. Lalu terlintas di benaknya saat wajah Aysa disentuh preman, itu juga karena kesalahannya. Dia berjanji pada dirinya, hal seperti itu takkan terjadi lagi! Waktu itu, entah kenapa dia sangat marah, kalau bukan karena kata-kata Aysa, tangan preman itu mungkin sudah dipatahkannya.
Ah, lagipula Aysa tak pernah memandangnya sebagai pendosa, dia terlihat cuek saat tahu siapa Vein sebenarnya, bagaimana kehidupan yang dijalani Vein sehari-hari, tak pernah mendikte atau menyalahkan, tapi membuat Vein berusaha mencari kebenarannya sendiri, Aysa hanya memberikan petunjuk dan Vein sendiri yang harus mencarinya.
“Aku bukan perantara diantara Allah dan dirimu, kau memilikiNya, hanya saja kau tak menyadarinya, Dia mencintaimu, tapi kau tak mau membuka hatimu untuk merasakannya, antara Tuhan dengan hambanya, tak ada perantara kecuali doa, sekarang terserah kamu, karena kamu yang akan menjalani hidupmu. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar. Jika kau akan kembali di jalanNya, kau akan melakukan kebaikan dalam hidupmu karena Allah dan dirimu sendiri, bukan orang lain, karena dirimu sendirilah yang bisa menemukan jalan kebenaran itu …”.
“Aku merasa menjadi diriku sendiri saat bersamanya, menikmati kata-katanya, menikmati kehadirannya dalam hidupku, bahkan kemarahannya yang menyenangkan itu, tapi, apa mungkin pada akhirnya dia bisa menerimaku?”, Vein menutup kepalanya dengan bantal. “Apa yang kau lakukan di saat hatimu resah?”.
Gadis itu tersenyum.
“Berwudhu, lalu shalat … benar-benar curhat pada Allah … karena Allah akan selalu menjaga rahasia-rahasia hati kita …”.
Vein bangkit, nggak ada salahnya dicoba.
---
Dibayangkannya seorang pemuda di sinetron-sinetron religius yang sering ditonton mamanya, sopan, dan dengan kepasrahan diri berdoa dengan menangkupkan kedua telapak tangan di dada. Vein menirunya, tapi hatinya geli.
“Kayak bukan gue banget sih …”.
Lalu dipakainya peci dan berkonsentrasi.
“Anu …”, dia bingung mau bicara apa. Gimana sih cara berkomunikasi dengan Tuhan itu? rasanya aneh sekali, dia bahkan nggak bisa menangis, mungkin karena dari kecil di otaknya sudah tertanam prinsip ‘anak lelaki nggak boleh cengeng’, bahkan ketika kakeknya tercinta wafat, dia hanya berkaca-kaca, tapi tak bisa menangis, saat tangan dan kakinya patah karena kecelakaan motor, dia hanya menahan sakit tapi tidak menangis. Jangan salah, dia pun pernah patah hati, sekali, tapi dia bisa cuek dan melanjutkan hidupnya, hanya butuh seharian merasa kesal karena gadis yang disukainya hanya menganggapnya sebagai adik.
Lalu dicobanya lebih khusyuk berdoa.
“Begini ya Allah, Engkau tentulah lebih tahu keadaan diriku daripada aku sendiri, Kau mahatahu, aku ini telah banyak berbuat dosa, berbuat salah, ya … pokoknya aku lumayan sadar kalau aku ini jahat …”, Vein merasa pertamanya dia bicara sendiri kayak orang sarap, tapi lama kelamaan cukup nyaman juga, apa karena dia sudah mulai melihat Allah di hatinya? Apa hati yang gelap itu perlahan memiliki sedikit celah cahaya?
“Ya Allah, kalau ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk lebih mencintaimu, semoga ini akan menjadi yang terbaik dalam kehidupanku, semoga aku belum terlambat untuk kembali padaMu. Tapi, bukan berarti aku mencintaiMu gara-gara si manja itu, aku mencintaiMu karena diriku sendiri, jadi, tolonglah hambamu ini ya Allah, dan … “, Vein bingung mau bicara apa lagi.
“ … kalau Kau menempatkan Ivan di surga, sampaikan salamku padanya, semoga dia tenang dan bahagia di sana, sampaikan pula maafku, karena gara-gara aku nantang dia balapan di jalan ramai, kami jadi mengalami kecelakaan dan dia meninggal … Kau pasti lebih tahu, sampai saat inipun aku masih merasa sangat bersalah, semoga Ivan mau memaafkan aku …”,
“Satu hal lagi … kumohon, sampaikan doaku pada Ay … semoga dia nggak nangis lagi gara-gara ulahku ….”, lalu dengan khusyuk ditutupnya doa, “Amin…”.
Setelah itu perasaannya menjadi lebih tenang. Saat dia membaringkan tubuhnya di ranjang, hatinya tak lagi resah.
“Kun fayakun pokoknya ….”,
Lalu dia tersenyum-senyum sendiri. Tak lama dia terlelap dalam tidur yang damai.
“Siang ini mau makan dimana?”, Vein membuka pintu mobilnya mempersilahkan Aysa masuk.
Gadis itu memiringkan kepalanya.
“Aku yang pilih tempatnya?”.
“Boleh …”.
“Soalnya aku bosan ke café, gimana kalau ke angkringan, aku tahu tempat yang bagus, menunya enak tapi murah lho, kamu pasti suka!”.
Aysa meminta Vein memarkir mobilnya dan mengajak lelaki itu jalan kaki.
“Tempatnya nggak ada tempat parkirnya sih, mending parkir di sini saja, lalu kita jalan sedikit … kau nggak keberatan kan?”. Vein mengerdikkan bahu.
Gadis yang satu ini benar-benar aneh. Dia suka sekali berjalan-jalan. Mereka menyusuri trotoar dan mengamati barang-barang yang dijual di kaki lima. Sebuah bros dari kayu bertuliskan huruf A, sandal jepit batik yang unik, dan gantungan kunci lucu.
“Ini imut ya?”, kata Aysa sambil menggoyangkan sebuah gantungan kunci.
Vein mendengus. “Apa’an sih? Aku nggak terlalu mengerti imut atau nggak, aku kan bukan cewek yang suka barang-barang aneh kayak gitu!”.
Aysa malah tertawa kecil. “Benar juga, kau ini selain kaku juga sudah tua, jadinya selera kamu ya yang lebih dewasa … ada jurang generasi diantara kita, benar tidak?”.
“Tua katamu? Aku ini masih duapuluh empat tahun!”.
Aysa terbelalak, “Bohong! Aku duapuluh dua tahun dan sekarang semester delapan, kau ini kan angkatan empat tahun diatasku, umur kamu duapuluh enam … kau lulus empat tahun yang lalu kan? Bareng kakaknya Nina, Mas Attar kan umurnya dua enam…”.
“Si Attar memang angkatanku, tapi aku ini ikut asklerasi dua tahun, aku SMP dan SMU hanya dua tahun, umur enam belas masuk Westside University, umur duapuluh udah lulus, nggak kayak kamu, masa ambil jurusan ekonomi nggak selesai-selesai, IP aja nggak cumlaude!”.
Gadis itu memprotes, “Bohong ah … masa masih dua empat?”.
Dengan kesal Vein mengambil SIM dari dompetnya. “Nih, pelototin baik-baik tanggal lahirku … “, Aysa menurut. 20 Desember … dan dua tahun di atas tahun kelahirannya, umur Vein memang baru 24. “Tapi kok kayaknya wajah kamu itu lebih tua dari umurmu ya?”.
“Sembarangan!”.
“Maksudku, kayaknya kamu lebih dewasa … berarti sahabat kamu rata-rata dua tahun lebih tua diatasmu, tapi mereka kayaknya hormat banget sama kamu?”.
“Of course! Aku ini pemilik Microelectro, mereka kebanyakan berbisnis denganku, jadi nggak mungkin macam-macam sama bos besar, mereka juga tahu aku ini dedengkot Black Phanter, kalau mau tahu, polisi di seluruh kota ini aja nggak ada yang berani sama aku!”.
“Sombong bener!”.
“Kenyataan kok …”.
Aysa mencibir, “Ya, pantes aja sifat kamu agak childish kadang-kadang …”.
Vein mendengus, “Huh, bukannya kamu? Dikit-dikit nangis, cengeng banget … jangan-jangan masih takut sama kecoa, cicak ?”.
Aysa membayar brosnya dan berjalan cepat-cepat dengan agak mengomel. “Itu kan wajar, cewek kan hatinya lebih sensitif, kalau cowok perasaannya di dengkul sih, jadinya nggak sensitif …”.
“Oh ya?!”.
Setelah seminggu penuh mengurus pekerjaan di kantor, akhirnya Vein punya waktu luang selama ini dia dan Aysa tak pernah bertukar nomor HP, apa yang mereka jalani hanyalah suatu spontanitas, dan Vein tak pernah berfikir dia akan membutuhkan Aysa, sampai hari ini. Dia terkejut dengan perubahan perasaannya sekarang, apa berarti dia sudah memiliki ketergantungan terhadap gadis itu? ingin bertemu, ingin bicara? Kalau hanya ingin melampiaskan kesendirian, banyak gadis yang bersedia menemaninya, atau bahkan, dia punya sahabat-sahabat yang memiliki pemikiran yang cukup bagus kalau dia hanya menginginkan sekedar pendapat. Misalnya saja Ferrel, dia sahabat sekaligus pendengar yang baik. Mungkin karena Ferrel laki-laki? Terlalu rasionalis?
Dengan segan dia menelpon mamanya.
“Ma, tau nggak nomor HP Aysa?”.
“Lho, memangnya selama ini kamu nggak punya nomor HP nya?”
“HP Vein kena virus, datanya hilang semua, kalau nomor mama dan papa sih Vein sudah hafal, pokoknya SMSin aja deh, Vein tunggu”.
---
Aysa sedang memilah-milah bukunya setelah beberapa hari menumpuk di meja belajar karena seminggu ini mengikuti ujian semester. Dikelompokkannya setiap buku berdasarkan mata pelajaran, ada handout, kertas catatan, buku panduan, silabus, setelah itu dimasukkannya dalam plastik fotocopy sesuai mata pelajaran. HPnya yang berbunyi tak dihiraukannya. Sekilas diliriknya, nomor asing.
“….try to believe i’m look in to your eyes say u dont leave me, dont leave it’s hard to feel…oo aa
try to believe i’m look in to your heart say u dont leave me, dont leave it’s hard to feel …”.
Dengan gemas dibukanya Hp dan menjawab panggilan masuk.
“Assalamualaikum, ini siapa ya?”.
Suara di seberang sana belum terdengar.
“Hallo, ini siapa?!”.
Masih tak ada jawaban, saat jarinya hampir menekan tombol end, sebuah suara serak membuat hatinya berdetak lebih kencang.
“Galak banget sih non … “.
“Vein?”.
“Yup’s, senang rasanya kamu masih mengenali suaraku …”.
“Bodoh ….”.
“Hei, kok kedengarannya lagi senewen, ada apa?”.
“Tegang aja …”.
“Gara-gara aku? Please deh, aku memang ganteng, pinter … ah, bagian mana dari diriku yang membuatmu tegang?”.
“Bukan itu! aku habis ujian MID, kayaknya ada beberapa matakuliah yang nilainya bakalan C, soal yang kemarin sulit banget, oh ya, ngapain telpon, tumben …”.
“Oh, habis Mid ya? Kasihan, yang masih kuliah …”.
“Kututup telponnya ya …”.
“Wait … sensi banget sih, padahal mau diajak makan siang …”.
“Dalam rangka apa?”.
“Ya, ada beberapa proyek yang berhasil dimenangkan sama teamku, dan melunasi kewajiban untuk bertemu denganmu, my Viancee…”.
“Nggak terasa, sudah dua bulan ya, tinggal satu bulan lagi kita tunangan …”, Vein mencatat pesanan dan memberikan pada pelayan.
“Ya, setelah itu kau bebas …”.
“Kita bebas … ngomong-ngomong, setelah nggak tunangan lagi, apa rencanamu Ay?”.
Aysa sekuat hati meredam kekecewaan di hatinya, ternyata Vein memang akan memutuskan pertunangan ini, tapi mungkin itu yang terbaik.
“Menjalani kehidupan kayak biasanya, belajar, ikut ujian lagi, wisuda … cari kerjaan, yah, kayak gitulah …”.
“Punya planning nikah atau ta’aruf lagi nggak?”.
“Masih lama, aku masih trauma tunangan sama kamu …”.
“Memang kamu nggak ada teman dekat di kampus?”.
“Ih, kok jadi introgasi gini sih, itu kan privacy?”.
“Jawab aja non … gitu aja susah banget …”.
Gadis itu berfikir sejenak. “Kayaknya nggak ada, dalam Islam kan nggak boleh pacaran…”. Vein tertawa kecil.
“Lucu juga, em, aku sebenarnya ingin tahu, gadis-gadis sepertimu kan nggak pacaran nih, terus nikahnya nanti gimana? Aku belum ngerti prosesi yang nantinya kamu jalani sebelum menikah karena kamu nggak akan pernah pacaran …”.
“Ya ta’aruf, kayak yang kita lakukan sekarang …”.
“Kalau kita kan gara-gara dijodohin, emangnya setelah aku, ayahmu punya calon lain yang akan diajukan untukmu …?”.
“Nggak juga, kayaknya ayahku juga nggak akan ngejodoh-jodohin lagi deh, kalau di kampus sih biasanya minta tolong sama guru ngajiku, biasanya ikhwan duluan yang mengajukan ta’aruf sama akhwat, tapi pernah juga temanku yang cewek, suka sama ikhwan kakak tingkat terus minta dita’arufkan, lewat perantara gitu …”.
Vein manggut-manggut. “Kamu sendiri, pernah nggak mengajukan Ta’aruf dengan ikhwan? Atau seorang ikhwan mengajukan sama kamu …”.
Aysa tertawa. “Ih, ya enggaklah, kan malu … kalau cewek duluan yang ngajuin, kayaknya gimana … aneh aja, tapi dua kali pernah sih ada yang mengajukan, berhubung waktu itu masih sibuk kuliah dan pengennya nikah setelah kuliah, aku nggak berani menjalani ta’aruf. Dari tadi aku yang diintrogasi, buat apaan sih?”.
Lelaki itu tercenung, “Gini Ay, misalnya aku memutuskan untuk meneruskan pertunangan ini, setelah selesai kuliah kita nikah, menurutmu, itu mungkin nggak?”.
Aysa tak pernah menduga Vein bakal melontarkan pertanyaan seperti itu.
“Ya, mungkin saja sih Vein, tapi aneh, kau kan yang selama ini bersikeras memutuskan pertunangan ini?”.
“Itu … itu kan dulu, serius nih, aku tahu diantara kita belum ada cinta, tapi aku cukup tertarik memiliki istri kayak kamu … jadi, aku mita pendapatmu, apakah orang seperti aku masuk kriteria kamu? Kalau tidak, cowok kayak apa sih yang kamu pengen untuk mendampingi hidup kamu?”.
Gadis itu mengernyit dalam, dahinya berkerut-kerut, menduga ada yang salah dengan kinerja otak lelaki di hadapannya. “Vein, kok tiba-tiba nanya gitu?”.
“Jawab aja … apakah aku sudah masuk kriteria suami idaman buat kamu atau belum? Kalau belum, apa yang harus kuperbaiki?”.
Pelayan membuat interupsi dengan menghidangkan pesanan lalu pergi.
Tiba-tiba ruangan menjadi begitu sunyi, Aysa tak mampu berfikir. Sebenarnya jauh di dasar hatinya, dia menginginkan Vein, meski Vein banyak sekali kekurangannya, dirinya juga memiliki banyak kekurangan. Vein memang terlihat temperamental, sombong, menyebalkan, tapi tak pernah sekalipun berbuat kasar padanya.
“Kamu sih, bukan tipeku …”.
Lelaki itu tak bisa ditebak isi hatinya, wajahnya masih datar.
“Kenapa? Apa karena aku nggak pandai mengaji?”.
Ah, ingin rasanya dipukulnya lelaki itu, tapi Aysa menahan diri.
“Memangnya kaupikir aku pengen cowok yang kayak apa? Kalau kau sudah punya pemikiran sendiri, nggak perlu pendapatku dong …”.
“Nah, marah lagi … benar-benar childish …”.
“Habisnya kamu nyebelin sih …”.
Vein menghela nafas panjang, sambil memainkan garpu di tangannya, dia memandang lagi ke wajah Aysa yang makin merah jambu, aih, mungkin itu yang dimaksud dengan julukan Humaira … tapi makin marah, makin menggemaskan.
“Memangnya apa kekuranganku Ay?kurang ganteng? Kayaknya nggak pernah ada yang bilang aku jelek, aku juga nggak bego-bego amat yang pasti aku udah punya usaha sendiri dan kita bisa hidup lumayan mapan saat berumah tangga nanti?”.
Aysa memandang ke langit-langit, menghindari tatapan Vein, lalu menunduk perlahan, seolah nggak enak untuk ngomong jujur.
“Jujur saja, aku nggak marah …”, pancing Vein.
Gadis itu bergumam pelan.
“Soalnya … soalnya Vein kurang … sederhana …”.
Heh? Apa maksudnya kurang sederhana?
“Aku dulu, pengen punya suami yang biasa saja, ibaratnya kayak rumput, biasa saja dan nggak terlalu menarik perhatian orang, tapi ada ketegaran dalam kesederhanaannya, aku pengen punya suami yang bekerja di pedalaman gitu deh, cita-citaku kan jadi guru, kayaknya hidup di desa pedalaman itu damai banget, dari kecil aku tinggal di kota besar, kemarin waktu KKN aku ditempatkan di desa terpencil, rasanya damai banget …”.
“Maksudmu aku ini orang yang terlalu canggih?”.
Bener-bener alasan yang nggak terduga dan nggak masuk akal.
“Gitu deh, Vein kayak pangeran, punya segalanya, terlalu ganteng, terlalu kaya, aku tahu yang naksir Vein itu banyak banget, aku sering dapat telpon dari penggemar Vein, kata mereka aku nggak pantes tunangan sama kamu … tapi, bukan kata-kata mereka yang bikin aku merasa Vein bukan tipeku, ah, gimana ya, aku sendiri sulit ngomongnya”.
Lelaki itu mencoba menahan tawanya.
“Hmm, tanpaknya kau memandangku dengan kacamata yang terlalu sederhana, justru aku yang merasa tak pantas menginginkanmu jadi partner hidupku, kau begitu murni, aku bertaruh dari ujung rambut sampai ujung kaki kau belum pernah tersentuh lelaki, maksudku atas seizinmu tentu saja”.
Wajah gadis itu menyiratkan perkataan Vein benar.
“Itu …”.
“Sssh, biarkan aku bicara dulu, ini memang kubuat agak blak-blakan, sehingga saat kau menerimaku nanti, tak ada penyesalan dalam keputusanku”.
“Hei, seyakin itukan kau, kalau aku akan menerimamu”, gerutu Aysa.
“Yah, kita lihat saja, peluangnya 50:50. Aku akan jujur, dari segi pengalaman, kau belum pernah pacaran, aku sudah menyelidikimu, dan aku tak menemukan blacklist cowok yang harus kuhajar karena pernah jadi pacarmu, tapi mungkin saja kau pernah jatuh cinta pada seseorang, itu urusanmu. Sementara aku, aku mungkin memegang track record pacaran, dan kau tahu sendiri di zaman seperti sekarang, apa yang biasa dilakukan orang yang pacaran? Ciuman, itu hal biasa dan selanjutnya kau tak perlu membayangkannya, kau masih terlalu kecil nak …”.
“Vein …”.
“Tapi … aku bersumpah, catatanku bersih, aku tak punya anak di luar nikah kalau kau ingin tahu dan aku tak punya penyakit … kecuali flu di musim dingin, kau bisa mendapatkan catatan kesehatanku secara lengkap kalau kau mau. Itu semua kekuranganku, tapi, satu hal yang jadi sifatku, aku ini selalu setia, aku tak pernah selingkuh, kalau aku bosan dengan pacarku, aku selalu memutuskannya secara baik-baik dan terkadang menerima sedikit tamparan, tapi selalu baik-baik. Tunggu Ay, biarkan aku bicara … bersamamu nanti, aku tidak akan pernah menceraikanmu karena pernikahan bagiku bukan pacaran, kecuali kau yang minta dan tentu dengan alasan yang jelas, aku memang berandalan, persepsimu tentang sosok ‘pangeran’ yang ada dalam diriku itu salah besar dan sangat fatal, aku jadi anak jalanan sejak aku SMP, dan itulah sosokku yang sebenarnya, hidupku sangat keras, aku sering berkelahi dan berbuat onar, kau bisa lihat beberapa cinderamata yang terukir di tubuhku karena perkelahian. Tapi ingat satu hal, aku nggak pernah mukul cewek, nggak akan pernah. Mungkin gara-gara ibuku hampir meninggal saat melahirkan aku, aku takkan pernah menyakiti perempuan, emm, kecuali kau selingkuh di depan mataku sih, tapi kayaknya itu nggak mungkin terjadi … aku tak bisa membayangkannya … any question?”.
Gadis itu tercenung, semua itu dirasanya sangat mendadak. Vein menunggu pertanyaan Aysa dengan sikap waspada.
“Kau punya tato atau tindik?”
Lelaki itu tertawa lepas.
“Yah … kau tahu sendirilah papaku, sejak kecil aku dituntutnya bersikap kayak direktur perusahaan, aku mungkin sering bersikap liar dan keterlaluan, melukai tubuhku dan melatihnya dengan cukup keras, tapi aku tak berani mentato atau menindik telingaku, aku masih punya sedikit rasa takut pada papa, terkadang dia kejam juga. Aku pernah dikirimnya ke Rusia, jangan kaget, aku punya paman disana, waktu tingkahku sudah keterlaluan, aku disuruh mendinginkan kepalaku disana, bayangkan, aku masih kelas tiga SMP, tapi pamanku benar-benar menerapkan disiplin militer padaku disana. Berlatih keras di udara yang sangat garang, berburu rusa dan beruang, beberapa kali hampir mati kedinginan, tapi tubuhku menjadi sangat bagus gara-gara itu, nanti kau bisa melihatnya, tidak sekarang …”.
Nah, narsisnya sudah mulai kumat, lelaki yang satu ini memang nggak berkurang sifat nyebelinnya. Aysa melengos kesal.
“Lagian, siapa yang pengen lihat tubuhmu dasar narsis!”.
“Hehe … tuh dia, mungkin gara-gara narsis juga, aku tak mau ada tato di tubuhku, atau kau mau aku menulis namamu di lenganku setelah kita nikah nanti?”.
“Idih, tato itu hukumnya makruh, nanti shalat kamu nggak sah, begitu juga tindik, lelaki dilarang bertindik dan memakai perhiasan emas”.
“Aku tak pernah memakai emas, tapi perak …”
“Itu juga perhiasan … kalau kau mau melepaskan kalung dan gelangmu itu lebih baik, tapi aku tak memaksa”.
Setelah itu mereka terdiam karena Aysa tak bicara sepatah katapun, dia menikmati hidangan yang mulai dingin dan setelah separuh menghabiskan isi piringnya, gadis itu sepertinya tak mampu memasukkan apapun lagi ke mulutnya.
“Jadi gimana, will you marry me?”.
Aysa menghela nafas panjang lalu berkata tegas,
“Tidak! Tidak akan pernah, tuan sombong …”.
Vein melotot, gadis itu tersenyum tenang saat meraih tasnya dan beranjak pergi dari café sambil tersenyum manis.
“Sebelum kau mengabulkan 10 permintaanku, dan aku akan memberikan padamu daftarnya dua minggu lagi, sebelum saat itu tiba, kau jangan berani-berani menemuiku atau aku akan membatalkan pertunangan kita!”.
---
SMS nggak dibalas.
Telpon nggak pernah diangkat.
Dua minggu sudah lewat tapi tak ada tanda-tanda Aysa memberikan isyarat untuk menemuinya, mungkin gadis itu sudah lupa.
Vein berteriak kesal, baru kali ini dia merasa kalah. Baru kali ini dia mikirin cewek!
Ah, kemana si sombong Vein itu?
Yang sering dijuluki berhati beku, kayak es Himalaya?
Ada apa dengan Vein yang supercuek itu, masa seorang gadis kecil kemarin sore membuatnya kalang-kabut nggak karuan.
Apa ini namanya cinta?
Nggak! Ingin menikah kan bukan berarti jatuh cinta!
Banyak faktor yang membuat orang pengen nikah, tapi belum tentu karena cinta.
Tapi, apa yang membuatnya ingin menikah dengan Aysa?. Demi egonya yang setinggi langit, hanya untuk memiliki Aysa, tapi setelah itu? oke, dia bukan anak kecil dan tahu benar apa yang dilakukan orang setelah menikah, mungkin bakal ada anak juga, dia juga sudah memikirkannya, itu suatu tanggungjawab dan dia yakin bisa menanggungnya. Aysa cantik, itu salah satu faktor, pintar … itu juga kelebihan Aysa, polos, suci dan agak manja, butuh perlindungan, lelaki paling suka menjadi hero, itu sudah gen sejak lahir. Tapi kadang keras kepala dan itu menyebalkan, gadis itu benar-benar memberikan dua minggu penuh ketegangan yang membuat kepalanya pusing, apa sih yang akan didaftar Aysa untuk perSyaratan pernikahan? Menghafal Al-Qur’an dalam seminggu? Mungkin saja, terus ditambah suruh menghafal hadis, shalat wajib dan sunah, puasa setahun penuh, bisa saja kan? Apa yang dipikir seorang cewek alim kayak Aysa?
“Aku suka Aysa, tapi nggak mungkinlah jatuh cinta … itu beda”.
Benarkah? Toh selama ini dia pacaran juga nggak pernah serius, apakah itu cinta? Dia sendiri nggak tahu, mau tanya sama papa juga percuma, pasti diketawain, sama mama? Malu dong, sama saja bunuh diri, reaksi mamanya pasti heboh kayak pemain telenovela.
“Cinta? Ah, kau pasti jatuh cinta pada seseorang saat ini darling, cinta itu adalah suatu keindahan, musik kehidupan, dan hidup takkan lengkap tanpanya … “, lalu akan bercerita tentang kekonyolan ayahnya saat menyatakan cinta pada mama. Kisah jadul yang menyeramkan.
Pria bertampang garang kayak Yakuza itu rela mengganti jacket kulit hitamnya dengan baju norak warna-warni.
Mengganti sepeda motor Harleynya dengan vespa sok imut yang dicat merah.
Mencukur rambut gondrongnya yang tak terawat, menjadi potongan rapi jali kayak pemain dangdut era 70an ditambah minyak rambut yang dioleskannya banyak-banyak sampai lalatpun tergelincir kalau mendarat di kepalanya. Untung sekarang papa agak botak.
Membelikan bunga mawar di toko bunga tiap hari, dari Senin sampai Minggu sambil berdebat minta diskon sama pemilik toko yang tampangnya kayak tukang jagal.
Tiba-tiba selera musik Scorpionnya berubah drastis dan lebih suka mendengarkan Beatles, terkadang lagu mellow … “When I fall in love ….”.
Bleeeh! Dia nggak bakalan sekonyol itu, love in nonsense.
---
Benarkah?
Bukannya dia jadi jarang nyetel Blink 182, Sum 41, Greenday (kecuali yang Boulevard of Broken Dream), Linkin Park (kecuali yang My December), My Chemical Romance … Itu perubahan pertama.
Lihat, CD yang berserakan di meja kerjanya sekarang …
Maroon five…
Mariah Carey … The Corrs …
Sampai Daniel Bedingfield … “If you’re not the one …”.
Kedua. Nggak napsu berkelahi lagi, meski di café kemarin, saat berduaan curhat (Eh, waktu itu beneran curhat ya?) sama Diaz, dan wajah Diaz yang cantik serta gayanya yang agak femi, menjadikan mereka seperti pasangan gay. Lalu cowok di meja sebelahnya pertamanya agak caper sama Diaz, lama kelamaan memandangi Vein penuh napsu sambil menjilat bibir dan mengerling genit.
Biasanya, reaksi wajar Vein adalah meninju cowok itu sampai terpental satu atau dua meter, dan berakhir di rumah sakit, tapi waktu itu saat Diaz mengompori …
“Hajar yuk Vein …”.
“Biarin aja, kita pulang aja … aku masih banyak tugas kantor”.
Ketiga. Nggak napsu ngebut pakai Kawasaki atau Tigernya, kalau kedua motor itu bisa ngomong, pasti Vein sudah diomeli habis-habisan. “Ngapain punya penampilan keren kalau nggak pernah dipamerin, adrenalin lo mana Boz?”.
Keempat. Nggak napsu makan …
Padahal masakan Si Mukhtar, koki baru mereka, bisa dibilang sangat lezat.
Kelima. Nggak napsu kerja dan si Noir, laptopnya, udah nggak tersentuh tiga hari ini, padahal semua orang yang kenal dia tahu, nggak ada waktu sedetikpun yang bisa memisahkan dirinya dengan Noir, kemana-mana tu laptop selalu dibawa, dibelai, dielus-elus … keybordnya!
Dan masih banyak hal lain.
Aysa membuat hidupnya kacau. Dia kesal, tapi tak berdaya.
“Vein …. Buka pintunya!!!”, suara teriakan mama yang satu level lebih kencang dari sound systemnya yang sedang mengalunkan So Sick-nya Ne Yo membuatnya terbangun.
Dengan lesu dibukanya pintu kamar dan melihat mamanya tersenyum.
“Dapat surat nih, dari Aysa … jarang-jarang pak post kemari, tapi kayaknya ini berita bagus, my Shinning prince … amplopnya saja berwarna biru …”.
Dengan tergesa dibukanya amplop itu, saat disadarinya mamanya melotot ke arahnya, Vein mendorong tubuh mamanya keluar kamarnya. “Ini rahasia ….”.
Sambil ngomel, wanita itu keluar dan berteriak,
“Tapi kau wajib cerita nanti pas makan malam … okey?!”.
Dua lembar kertas biru muda itu akan mengubah hidupnya.
Busyet, ada gambar bekicotnya … dasar anak SD! Tapi tulisannya rapi juga, bau suratnya juga wangi, ah, kenapa jadi konyol gini?.
Assalamualaikum Wr. Wb
Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buat yang baca surat ini. Afwan nggak balas SMS dan Telponnya, karena aku memang butuh waktu berfikir untuk tawaran kamu yang tiba-tiba. Mm, baru sadar ternyata kamu lebih tua dariku dua tahun, boleh kupanggil ‘kakak’ kan? Kak Vein kayaknya lebih sopan daripada manggil “Vein… Vein … kayak manggil si Cimot, kelinciku. Nah, kak Vein yang dirahmati Allah, sebenarnya Aysa nggak pernah terfikir untuk menikah dengan kakak, itu kayaknya, aneh … pasti kakak juga ngerasa demikian, kita dari dunia yang beda banget, bukan versi Malaikat dan Setannya kak Vein, bukan pula versi Pangeran dan Cinderella versiku. Mungkin lebih tepat kayak Esther Blanchet ketemu Abel Nightroad (kalau kakak nggak ngerti tokoh Trinity Blood itu, cari aja di Google, hehe, pokoknya agak mirip sama kita).
Aku juga nggak ngerti kenapa aku tertarik sama tawaran kakak. : D
Padahal lelaki kayak kakak nggak pernah terfikir bakal hadir di hidupku.
Tapi tiba-tiba kakak ada di depanku, nyata, menggoda (menyebalkan dan agak jahat) dengan wajah innocent dan lumayan ganteng, tapi tentu saja playboy. Bukankah itu sifat yang sulit diubah? Resiko menikah sama playboy tentu saja perselingkuhan, aku sudah memikirkannya, selain playboy juga suka emosional dan sering berantem, tapi entah kenapa aku punya keyakinan, sejahat apapun kak Vein, sehitam apapun masa lalu Kak Vein, semua bisa dicuci bersih kalau kakak punya kemauan.
There in a will, there is a way …
Bukankah begitu kak? Klise memang …
Tapi, toh aku juga bukan gadis yang manis seperti perkiraan kakak. Aku pakai jilbab saat kelas satu SMU, karena dipaksa guru agamaku, di sekolahku, meski sekolah negeri, mewajibkan siswiya pakai jilbab, cowoknya pakai baju koko. Sering ikut pengajian karena tiba-tiba ditunjuk jadi duta agama di sekolah, dan aku selalu berdekatan dengan organisasi keagamaan sampai kuliah, tapi aku hanyalah orang yang masih belajar, mungkin masih merangkak dalam masalah ini. Hafalanku juga belum terlalu bagus, pokoknya masih perlu banyak latihan deh. Aku juga punya hobby main gitar dan main game Playstation, kakak nggak nyangka kan? Tapi itu kenyataannya, mungkin karena papa nggak punya anak cowok, akulah yang jadi lawannya main PS tapi keterusan, hehe…
Ada satu hal lagi yang agak mengganjal, sebenarnya aku agak phobia cowok, aku nggak pacaran bukan karena aku alim atau semacamnya, waktu SMP, ada seorang cowok yang maksa nyium aku, memang sih, hanya nyenggol pipi, dekat bibir, tapi aku dengan sukses nonjok dia sampai pingsan, sejak saat itu aku jadi agak benci sama cowok, maunya menghindar terus, itu salah satu faktor aku nggak mau pacaran, moga-moga kakak nggak shock, ternyata ada juga bagian diriku yang nggak bisa kujaga …
“Nih cewek jujur banget … kalau aku melakukan hal yang sama, wuih … udah berapa banyak cewek yang diciumnya? Pertama dicium cewek, pasti dari bayi … mencium cewek, waktu umur empat tahun saat jadi pengiring pengantinnya Oom Dylan dia mencium pipi gadis penabur bunga yang jadi partnernya, dan foto itu diabadikan mamanya. Ciuman di bibir? Wah, lupa, gak kehitung, pertama kali waktu SMP, kelas dua, sama Cindy, kakak kelasnya, karena kalah waktu main Truth or Dare dan terpaksa menerima hukumannya, tapi waktu itu kan Cindy yang nyium duluan”, pikir Vein. “Untung Aysa udah nonjok cowok kurangajar itu sampai KO”.Lalu dibacanya lembar kedua surat Aysa.
Aku sudah shalat Istikharah, di minggu pertama aku lumayan mantap, buat nolak kakak, tapi lama kelamaan, tiba-tiba keraguan itu malah lenyap, aku bermimpi melihat kakak jatuh di jurang, dan aku terpaksa memegang tangan kakak.
Mungkin itu pertanda.
Apa salahnya kita mencoba, tapi harap kakak ingat, bukan pernikahan ini yang kumaksudkan untuk percobaan, bagiku, apapun yang terjadi, setelah kita menikah nanti, takkan kubiarkan perceraian terlontar dari mulutku. Karena aku tak mau dibenci Allah, jadi sebagai ujian, sebelum kakak menikah denganku, aku ingin kakak melakukan beberapa hal.
1. Aku nggak mau melihat kakak merokok lagi, aku ingin kakak selalu sehat dan di masa depan nanti nggak menghadapi suami yang kena kanker paru-paru!
2. Setiap minggu kita ngaji bareng ke tempat Ustadz Yusuf, bacaan kakak masih kacau banget, kayaknya perlu banyak perbaikan.
3. Aku ini orangnya sangat pencemburu, untuk mencegah hatiku agar nggak kotor, bisakah saat kita nanti menikah, kakak nggak berfikir tentang poligami? Kalau ada kata Poligami, sepertinya aku tidak bisa bertahan … : D
4. Jangan ceritakan mantan-mantan pacar kakak padaku, karena aku kayaknya bisa marah-marah … dan jangan bandingkan aku dengan mereka …
5. Lupakan masa lalu dan kita bisa melangkah ke masa depan
6. Untuk mahar pernikahan, aku menSyaratkan seperangkat alat shalat, uang sebanyak dua ratus sembilan ribu rupiah, dibayar tunai! Pastikan uang itu hasil keringat kakak sendiri (biar lebih memiliki makna)
7. Jadilah imam yang baik bagiku, nggak hanya di dunia tapi juga di akhirat.
8. Apa lagi ya? Bisa nggak rambut gondrong kakak agak dirapikan? Dicukur kalau perlu … tapi kalau kakak nggak keberatan sih!
9. Oh ya, maukah kakak mundur jadi ketua Black Phanter? Please?
10. Kita pacaran dulu selama beerapa bulan setelah nikah, karena aku bener-bener belum kenal sama kakak, meski udah nikah, semuanya diulang dari awal, tau kan maksudku? Soalnya kalau kakak tiba-tiba berani nyium aku, kemungkinan besar bakalan aku tonjok! Jadi, kita berteman dulu, lalu pacaran …
Kalau kakak sudah yakin dengan keputusan kakak, silahkan temui ayahku dan utarakan maksud kakak, jangan pakai perantara lho, harus kakak sendiri yang ngomong, karena aku pengen tahu seberapa besar keinginan kakak menikah denganku.
Sekian dulu surat dariku … semoga kakak selalu sehat.
Wassalamualaukum Wr Wb.
Naysha Malaika
“Nih cewek memang aneh, suratnya kayak anak SD!”.
Nggak ada cup cup mmmuah nya
Nggak ada kata cinta atau rindu dendamnya
Sedikit kata cemburu …
Tapi nggak romantis! Kirain mau minta dibikinin seribu candi!
Vein membaca kembali surat itu sambil nyengir, berita yang akan dia bawa ke ruang makan nanti pasti bikin heboh, mungkin mamanya bisa pingsan saking girangnya.
---
Dia jadi kuli bangunan selama dua minggu, demi mendapatkan uang ‘jerih payah hasil keringat sendiri’, dan uang kucel yang kebanyakan receh itu akan dibingkainya. Meski mengelola toko termasuk uang jerih payah, tapi nggak ada keringat bercucuran untuk mendapatkannya. Meski kerja rodi jadi kulinya si Herman, sohibnya yang sekarang jadi direktur di perusahaan Kontraktor-Konsultan, Three Dimension, bukan berarti Herman bersikap lunak, malah karena dendam lama waktu Opspek, gara-garanya si Herman waktu itu kehilangan gebetannya, mahasiswi baru itu lebih milih jadi pacar Vein, meski pada akhirnya Tania jadi nyonya Herman Felani sekarang, Herman dengan senang hati mengawasi dengan mata kepala sendiri saat Vein mengangkuti bata dan pasir.
“Kerjanya yang semangat dong Vein, wah, ada bata yang pecah tuh, harus kupotong upahmu … ck ck … keluarin kemampuan ototmu dong!”.
Jarang-jarang bisa ngerjain bos besar Black Phanter. Direktur Microelectro yang super sombong yang entah karena angin apa, Vein nggak mau buka mulut, minta kerjaan sama Herman, yang pasti bukan karena usahanya gulung tikar lelaki bermata elang itu bekerja jadi kulinya. Mungkin Vein dikerjain Andre atau Ferrel, kalah taruhan dengan temannya dan ini konsekuensinya. Herman pasti bisa kena serangan jantung kalau tahu semua penderitaan yang dialami Vein demi mendapatkan kepercayaan seorang gadis.
Satu lembar uang lima puluh ribu, dua lembar dua puluh ribuan, delapan lembar sepuluh ribuan, tiga lembar lima ribuan, tujuh belas lembar uang seribuan, lima receh uang limaratusan, dan empatpuluh lima uang receh seratus rupiah, semuanya kucel dan yang pasti bau keringat.
Vein tersenyum puas.
Nggak merokok? Gampang, karena dia merokok kadang-kadang saja, buang stress!
Black Phanter juga sudah dialihkan ke tangan Andre. Tapi Vein tetep jadi wakilnya, kan Aysa bilang cuman disuruh ‘mundur jadi ketua Black Phanter’, kan? Jadi wakilnya masih boleh dong, tapi frekuensi berantemnya sebisa mungkin bakal dikurangi.
Syarat ke sepuluh yang masih agak membingungkan, tapi itu bisa dipikirkan nanti saja, pokoknya nikah dululah …
Vein meraih HP nya. Menekan tombol dial.
“Assalamualaikum …?”.
Aih, suara Aysa manis banget …
“Waalaikum salam, ini Vein, besok kamu kujemput, kita akan milih cincin buat pernikahan kita, kamu kujemput pukul sepuluh pagi! Jangan lelet nona manja!”.
Klik
Kalau nggak langsung ditutup, kewibawaannya bisa hilang, hehe…
Vein tersenyum-senyum sendiri.
Sudah tiga minggu sejak hari dia melamar Aysa, dan mereka nikah sebulan lagi.
Vein menjemput gadis itu di rumahnya, tampak anggun seperti biasa, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Jewelry Art Shop. Aysa hanya diam saja selama perjalanan ini, Vein menduga-duga, mungkin Aysa tegang mungkin juga sebenarnya gadis itu menyesali keputusannya untuk menikah dengannya, tapi Vein takkan mundur.
“Kok diam saja? What’s wrong?”
“Nggak tahu nih, perasaan Aysa nggak enak, apa lebih baik kita nggak keluar rumah dulu? Kata mama, pamali keluar rumah sampai empatpuluh hari pernikahan kita …”.
“Hmm, kupikir kau menyesali keputusan ini, makanya cemberut gitu, lagian tahayul dipercaya, bukannya itu bid’ah?”.
“Astaghfirullah al’adziim, bener juga … wah, kakak belajar banyak juga soal agama”.
Vein nyengir, “Biar bisa dapat bidadari di dunia en akhirat, nggak juga ding, demi diri sendiri juga … em, mungkin aku mulai mencintai Allah sekarang, karena kamu … tapi lebih demi diriku sendiri, hidup jadi lumayan tenang dan damai sekarang … kalau boleh tau, kenapa kamu menerima lamaranku?”.
“Takdir mungkin …”.
“Eh, serius nih …”.
“Terus, maunya dijawab kayak apa?”.
“Yah, karena aku ganteng, makanya kamu tergila-gila sama aku, kata-kata kayak gitulah … “.
“Narsisnya kumat tuh … cowok ganteng banyak …”.
“Hmm … karena aku kaya … “.
“Idih, emang aku keliatan kayak cewek matre? Cowok kaya juga banyak!”.
“Terus kenapa?”.
“Soalnya, cowok kaya dan ganteng yang banyak berseliweran itu nggak mau sama aku, tapi kamu mau jadi suamiku, itu aja …”.
“Huahaha, lucu juga … hanya karena aku berani melamarmu?”.
Aysa cemberut, “Pikir deh kak, bukannya itu realistis? Berarti kakak benar-benar bernyali, selama ini cowok hanya berani mengajukan tawaran supaya aku jadi pacarnya, oh ya, mungkin juga ta’aruf, tapi nggak ada yang senekat kakak, yah, aku agak-agak terharu gitu, tadinya kupikir kakak bakal lari kabur ketika aku bersikap serius terhadap lamaran kakak, eh, ternyata kakak juga serius, kun fa yakun deh …”.
Vein mencibir, “Itu pujian ya?”.
“Anggap saja gitu … “.
Mereka sudah sampai di JAS, Vein berjalan di depan Aysa dan membukakan pintu.
“Silahkan, ma’am …”.
“Arigato gozaimas … “.
“You’re welcome …”.
Lelaki itu mendatangi salah satu pelayan dan bicara sebentar, Aysa melihat-lihat sekelilingnya. toko ini benar-benar berkelas, beberapa foto pasangan artis menghiasi wallpaper toko dengan elegan, memamerkan cincin pertunangan di jari-jari mereka.
“Ay, coba lihat …”.
Vein membuka kotak kecil itu dan memberikan padanya.
Aysa tak pernah tertarik pada perhiasan, tapi bentuk cincin ini benar-benar manis, dengan satu berlian kecil menghiasinya, sederhana tapi indah, ada ukiran namanya dan Vein di dalamnya.
“Kalau kurang suka, kamu pesan saja yang lain … kau boleh memilih modelnya”.
“Eh? Tapi kakak kan pesan yang ini, sudah ada nama kita pula, buat apa pesan yang lain? Itu pemborosan! Yang ini udah bagus kok, aku suka bentuknya … mirip cincin punya mama, manis banget”.
Vein suka lesung pipit di kedua pipi merah jambu itu, aih, Humaira…
Mata mereka berpandangan sejenak, tapi kali ini Vein yang pertama membuang muka, tiba-tiba detak jantungnya bergetar, berdetak lebih cepat.
“Kami pilih yang ini mbak”, Vein mengeluarkan Credit cardnya.
Lalu kejadian itu berlangsung dengan tiba-tiba.
Dua orang lelaki bertopeng masuk lalu salah satunya meraih Aysa dan menodongkan pistol di kepala gadis itu.
“Semua diam di tempat dan bersikap tenang, atau ada yang bakalan mati!”.
Vein terpaku, kaget, juga marah.
Ini pasti kerjaan salah satu program acara TV konyol.
“Isi kantong ini sampai penuh! Cepat … !!“, pria itu melepaskan Aysa dan mendorong kasar tubuh gadis itu, menyatukan mereka dengan beberapa pengunjung toko ke dinding sebelah kanan ruangan, ada sepuluh orang, dua orang kasir dan tiga pelayan toko. Satu pelayan toko yang tersisa, dengan gugup mengambil perhiasan dari etalase.
“Cepetan! Jangan lelet!”, perampok tak sabar itu menembak sisi etalase satu kali.
Suara tembakan yang bergema menyadarkan Vein.
Ternyata ini perampokan sungguhan.
Hanya Vein dan seorang pasangan muda yang berada di sisi kiri, perlahan Vein mendekati posisi Aysa, pokoknya nggak bakalan dia membiarkan Aysa terluka.
“Hei! Ngapain kamu …!”, seorang perampok melihat gerakan Vein dan mengacungkan pistolnya ke kepala Vein dalam jarak dua meter, Aysa menjerit.
“Jangan! Jangan!”.
Jangan Vein! Jantungnya seakan mau copot melihat pistol itu terarah ke kepala Vein.
Perampok itu mendekati Vein, Aysa panik, perampok itu mendorong tubuh Vein dan hendak meraih kantong yang telah penuh perhiasan saat Vein menjegal kakinya dan perhiasan itu berserakan ke lantai.
Mata perampok itu berkilat marah, di luar terdengar sirine polisi dan lelaki di hadapannya telah mengacaukan semuanya, waktu berjalan cepat dan kegagalan dari rencana yang sudah matang itu digagalkan hanya dengan satu jegalan saja? Satu sandungan kecil saja? Tak termaafkan, dan dalam kemarahan yang menggelegak, diacungkannya pistol ke kepala lelaki berwajah dingin di hadapannya. Dan ditembakkannya …
Jeritan seorang gadis memekakkan telinga, dengan gerakan cepat, gadis di sampingnya mendorong lelaki yang menjadi sasaran tembaknya, luput. Gara-gara gadis sialan itu, si lelaki selamat, tapi tidak kali ini, dan dengan seringai puas, si perampok menembak untuk keduakalinya sebelum lari keluar dari toko.
Kali ini pasti kena … dan dia yakin akan hasilnya!
---
Vein tak pernah merasa takut, menghadapi kematian di arena balap maut, ataupun olahraga maut yang memacu adrenalinnya, dia tak pernah takut, menghadapi pistol yang teracung di kepalanya dia tak acuh, tapi rasa dingin yang mengalir cepat di nadinya saat ini, membuatnya merasa lemah, apa yang terjadi? Apa yang membuatnya gemetar?
Darah? Darah siapa?
Darah siapa yang membasahi tangannya?
Vein berteriak marah. “Aysa? Aysa!!!”.
Di mana bagian yang terluka? Vein membalikkan tubuh Aysa dengan panik. Lalu dibopongnya tubuh Aysa keluar dari toko, gadis itu kehilangan banyak darah dengan cepat, meski luka luarnya tidak mengenai bagian yang vital, tapi kematian bisa disebabkan karena kehilangan banyak cairan merah yang kini semakin lebar merembes ke lengannya. Setelah meletakkan tubuh Aysa di mobil, Vein membuka kemejanya dan dengan cepat Vein mengikat luka Aysa. “Kau harus bertahan, atau aku akan membunuhmu …!”.
Berpacu dengan waktu, dilarikannya BMW hitam itu secepat yang dia bisa, ada dua mobil polisi mengikuti di belakangnya dan dia bisa menjelaskan nanti.
---
Setelah berjam-jam yang membuatnya frustasi, menunggu operasi di ruang ICU selesai, akhirnya pintu kaca itu terbuka juga, seorang dokter keluar dan Vein memburunya.
“Gimana keadaannya, dok?”.
“Anda keluarga pasien?”.
“Suami, eh, calon suaminya … apa dia baik-baik saja?”.
“Belum bisa dikatakan selamat, dia terluka lumayan parah, dan kami kehabisan stock darah yang dia butuhkan, kita sudah mengontak bank darah, tapi baru akan sampai tiga jam lagi, coba anda hubungi keluarganya, apa orangtua gadis ini masih ada? Keduanya?”.
“Ya”.
“Salah satunya kemungkinan bisa mendonorkan darahnya …”.
---
Ayah Aysa datang saat Vein selesai memeriksakan darahnya.
“Gimana keadaan Aysa?”.
“Em, dia butuh banyak darah, apakah diantara bapak dan ibu ada yang bergolongan darah A?”.
“Ibunya, tapi saat mendengar berita ini, mamanya pingsan, saya langsung kemari, dan oh Tuhan, apa yang terjadi?”, lelaki itu tampak panik dan shock.
“Tenang pak, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mencari donor untuk Aysa, bagaimana dengan kakak perempuannya, Aysa punya kakak perempuan kan?”.
“Bella? Ah, golongan darah Bella tak sama dengan kami, dia anak angkat kami, dulu waktu Bella kecelakaan, ibu kandungnya yang mendonorkan, kalau nggak salah golongan darah Bella AB …”.
Seorang perawat menghampiri mereka.
“Golongan darah anda cocok dengan pasien”, kata perawat itu sambil memandang Vein.
Vein menepuk bahu ayah Aysa.
“Saya ke ruang perawatan dulu pak Sam, tolong kalau bisa, ibu Sam secepatnya datang ke sini, kalau-kalau Aysa butuh tambahan donor”.
“Baik nak …”.
Pak Samsul segera meraih HP dan menghubungi orang rumah.
“Gimana keadaan ibu?”.
“Sudah siuman pak”, jawab pembantunya.
“Segera ke rumah sakit Medistra, kau temani ibu, Nem, pakai taksi, kalau Bejo kusuruh jemput, nanti kelamaan, non Aysa butuh donor darah!”.
Vein memandang gadis yang berbaring di seberangnya. Perawat sudah mengganti baju Aysa dengan baju rumah sakit, dan ya Tuhan … baru kali ini dilihatnya Aysa tanpa jilbab. Rambut ikalnya yang panjang tergerai, seperti putri tidur, seperti boneka porselen Prancis yang cantik koleksi mamanya. Hanya saja wajah itu sangat pucat.
Baru kali ini hatinya merasa sakit, takut, kehilangan seseorang yang bukan keluarganya. Rasanya lebih menakutkan dari saat dia kehilangan Ivan Renaldi, sahabat karibnya di Black Phanter. Dia tak pernah berhenti menyalahkan dirinya karena dialah penyebab kecelakaan Ivan, karena dia menerima tantangan Ivan untuk balapan di jalan saat lalulintas ramai. Karena dia angkuh dan sombong, mungkin karena kedua sifat menyebalkan itu, dia mencoba bermain dengan perampok tadi, dan bukan dia yang terluka, tapi Aysa. Vein mengutuk dirinya sendiri. Gara-gara sifat egois ingin memuaskan egonya, dia hampir kehilangan Aysa.
Air matanya menetes.
Ya Tuhan, menangiskah dirinya? Baru kali ini dia bisa menangis, airmata yang sejak tadi hampir melelehkan otaknya karena tak bisa dia keluarkan, kini mengalir tenang membasahi pipinya. Sejak kapan dia perduli pada Aysa? Sejak kapan dia menyayangi gadis itu? apa mungkin ini yang dinamakan cinta?. Vein mengusap airmata di wajahnya.
“I’ll protect you, girl, apapun yang terjadi, aku akan memberikan hidupku untukmu”.
Gadis di seberangnya masih memejamkan mata. Betapa Vein ingin melihat binar mata itu lagi. Lengan Aysa masih merembeskan darah, perban putihnya agak memerah sekarang.
Rintihan Aysa membuatnya tersentak.
“Tetaplah tidur ... jangan sok kuat sekarang, tubuhmu masih lemah”, gumam Vein.
Mereka bertatapan sejenak.
“Dimana aku?”.
“Medistra …”.
---
Aysa masih sering mengigau. Saat perawat mencopot selang dari lengannya, Vein beranjak bangun dan memandangi Aysa yang tertidur.
“Dia akan baik-baik saja, masa kritis sudah lewat …”, perawat itu tersenyum.
Vein menyentuh pipi Aysa. Hal yang hanya bisa dia lakukan kalau gadis itu belum membuka matanya, kalau Aysa sadar, bisa-bisa diomelinya Vein dengan tampang galaknya. “No muhrim, tau!”. Nah, dalam keadaan seperti ini, apa yang harus dilakukan?
“Jangan … pistol … Vein …”, masih saja merancau. Demamnya agak tinggi.
“Tenanglah … semua sudah berakhir dengan baik … tenanglah …”, Vein memandangi Aysa lalu tersenyum.
“Karena aku akan merawatmu, gadis manja …”.
---
Vein mengutarakan niatnya pada Pak Syamsul. Pria itu berkaca-kaca.
“Ini serius?”.
“Sangat serius, besok saya akan mempersiapkan semuanya …”.
Bahkan orangtua Vein tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga cita-citaku … Vein, papa bakalan dukung kamu … ini hal terbaik yang pernah kamu lakukan … akhirnya kamu bisa jadi orang yang berguna juga …”. Vein mendengus, memangnya selama ini dia nggak punya arti di mata ayahnya?
Lima hari di rumah sakit, Aysa sudah kelihatan membaik, pipinya sudah agak memerah sekarang, apalagi saat Vein mengutarakan maksudnya.
“Kau … yakin?”, tanya Aysa.
“Justru aku yang harus tanya itu padamu, sudah siapkah kalau besok kita menikah?”.
Gadis itu memejamkan mata.
“Em, aku tahu dari dokter, kalau lenganku agak … cacat, aku bakalan sulit menggerakkannya, tapi, kau jangan merasa bersalah Vein, aku nggak papa kok, kamu nggak perlu bertanggungjawanb sebesar itu … kau bisa milih gadis lain yang sehat …”.
“Kamu ngomong apa sih?”.
“Aku ..”.
“Pandang aku Ay, buka matamu! Kita sudah planning nikah sebelum kejadian ini berlangsung! Aku bahkan nggak perduli kalau kamu udah nggak punya tangan lagi! Dengar, lengan kamu nggak cacat, masih ada harapan setelah terapi, tapi bukan itu masalahnya sekarang, besok kita menikah, aku ingin kamu jadi istriku, apakah kau bersedia? Jawab Ay, jawab dengan jujur …”.
Gadis itu membuka mata, memandang Vein lurus-lurus.
“Tapi, kenapa kamu pengen nikah sama aku besok? Gimana kalau setelah aku sembuh aja, lenganku …”.
“Justru karena saat ini kamu membutuhkan aku, justru saat kamu nggak bisa menggunakan satu tanganmu, biarkan aku menjadi tangan kamu, biarkan aku merawatmu, please … sialan, aku nggak pernah mohon-mohon sama cewek, tapi … please, menikahlah denganku …”.
“Tapi …”.
“Nggak ada tapi! Aku tahu kamu pengen ngomong kalau kamu ini jelek, bloon, cengeng dan di luar sana banyak gadis yang lebih cantik dan seksi dari kamu, tapi aku nggak mood sama mereka Ay, aku pengen kamu yang jadi istriku meskipun kamu ini cengeng, manja, nyebelin …”.
Nah lho, ini ngajak nikah apa ngajak perang?. Bukannya marah, Aysa malah tertawa. “Dasar gila … terserah padamulah …”,teriaknya kesal.
Vein nyengir.
“Ay, gaya bicaramu kok sudah mirip aku ya?”.
Aysa meraih salah satu bantalnya dan melempar Vein tepat di wajah.
“Ups … puas-puasin deh kalau kamu merasa kesal sama aku, tapi besok setelah akad nikah, kalau kamu bertingkah kayak gini, bisa kena dakwa tuduhan KDRT lho …”.
---
Menikah di Rumah Sakit?
Benar-benar tak terbayangkan.
Hanya keluarga mereka yang datang. Aysa memandang wajahnya di cermin, mamanya sudah mendandaninya semaksimal mungkin, tapi memang wajahnya masih agak pucat.
“Kamu cantik ...”, mama memeluknya lembut, menghindari sentuhan yang bisa menyakiti lengannya. Dia sudah bisa memakai jilbab, tapi kebaya yang dibawa mamanya mustahil bisa dipakainya karena dokter belum mengizinkan gips dan perban di lengannya dibuka. “Tiga hari lagi baru bisa dibuka”, kata dokter Deni.
Tak berapa lama, papa masuk diikuti calon suaminya dan keluarga calon suami.
Aysa memandang Vein yang tersenyum …
“Pak Penghulunya bentar lagi nyampe …”, Pak Handoko memberikan pengumuman.
Vein terlihat gagah dengan setelan jas hitamnya, dan … dasinya merah.
“Kamu terlihat kayak mau presentasi…”, gumam Aysa saat Vein duduk di sampingnya.
Lelaki itu nyengir, gigi gingsulnya yang kayak drakula membuat senyum itu agak menyenangkan.
“Lho, memang aku habis presentasi, meyakinkan ayahmu kalau aku ini sudah lumayan baik dan bisa jadi suami yang baik, gimana keadaanmu pagi ini, masih sakit?”.
“Sudah lumayan …”.
“Baguslah, jangan tidur saat aku ngucapin akad nanti …”.
Pintu terbuka dan Bella menghambur masuk.
“Aysa … gimana kabarmu? Maaf kemarin aku ada acara di Bandung, aku nggak tahu kamu sakit, tapi saat kemarin papa bilang kamu mau married … oh … wow …”.
Mata Bella menyipit melihat lelaki di samping Aysa. Lelaki itu amat sangat ganteng. Tapi ada kesan macho dan berbahaya. Mungkin kalau Aysa nggak dijodohin dengan lelaki itu, mana mau si Aysa nikah, Vein kan bukan tipe Aysa?.
“Nah, calon adik ipar … kudengar reputasimu nggak terlalu baik, tapi kuharap kau benar-benar serius dengan adikku”.
“Jangan khawatir, aku akan menghapus hitamku demi Aysa …”. Bella mencibir dan berkata pelan pada Aysa.
“Yah, semoga kamu nggak menyesali keputusanmu, kamu terlalu polos Ay, dan cowok di samping kamu ini tukang kibul … playboy … “.
Aysa heran, sejak kapan Bella khawatir akan keadaannya? Sejak kecil mereka nggak akur, Bella selalu bersikap sinis padanya. Saat kecil bahkan Bella sering mengejeknya anak pungut, sampai mereka dewasa, Bella selalu membuatnya tak nyaman. Hubungan mereka semakin buruk saat Bella kelas dua SMU dan Aysa kelas tiga SMP. Mereka ribut di jalan dekat sekolah, gara-garanya Bella disuruh menjemput Aysa yang kesorean ikut ekstrakulikuler.
“Aku lagi enak-enak tidur, eh, malah disuruh jemput si nona manja … hujan-hujan pula … “.
“Maaf kak, aku lupa bawa payung”.
“Huh, ngerepotin tau! Dasar anak manja … bisa nggak sih bikin hidup aku lebih tenang? Kenapa sih papa sama mama khawatir banget sama kamu … nyebelin!”.
Saat itulah Bella tergelincir dan sebuah sepeda motor yang melaju cukup kencang menyambar tubuhnya.
Luka Bella parah, butuh transfusi darah, saat itulah Aysa baru tahu kalau Bella bukan kakak kandungnya, papa dan mama tidak memiliki golongan darah yang sama dengannya. “Bella itu sebenarnya anak Bude Tuti, kakaknya mama …”, terang papa sambil meluk Aysa.
“Karena ayah Bella sudah meninggal dan Bude Tuti masih punya empat anak yang harus diurus, maka Bella kami asuh sejak umur satu tahun, waktu itu kami belum punya momongan. Bella adalah pancingan, dan akhirnya kami punya anak kandung, yaitu kamu, nah, setelah kamu tahu ini semua, papa harap kamu jangan berubah sama kak Bella ya, kamu harus tetap sayang sama kak Bella, dia itu kakakmu, selamanya tetap kakakmu, oke?”.
Aysa tersenyum.“Ya pa … em, kak Bella udah tahu belum tentang hal ini …”.
“Sementara kita rahasiakan saja … dia masih sakit dan shock …”.
Lamunan Aysa buyar saat seorang lelaki paruh baya masuk.
“Nah, penghulunya sudah datang tuh …”
---
You and me …
Bagi sebagian orang, mungkin ini hari yang biasa saja
Tapi bagiku, detak jarum jam terasa berhenti
Waktu-waktuku yang dulu terbuang percuma
Sekarang akan sangat berarti
Karena di samping diriku ada kau
Meski kita tak melakukan apapun
Tapi karena kau ada di sisiku
Memandang wajahmu, merasakan kau di sampingku
Itu berarti banyak hal
---
Nggak ada bunga yang terangkai
Atau baju putih berenda yang anggun
Pernikahan ini, mungkin nggak seperti bayangannya tentang suatu pernikahan saat dia kecil. Pria di sampingnya mengucapkan ijab Qabul dengan tegas dan memberikan uang kertas kucel yang dibingkai dengan rapi sambil tersenyum bangga,
“Dua ratus sembilan ribu rupian tak kurang satu senpun, dua minggu aku kerja jadi kuli, kalau nggak percaya cium aja, bau keringet tuh …”.
Setelah bersalam-salaman dengan tamu-tamu yang hadir…..
Ada Ferrel, Andre dan Diaz, yang rela berdesak-desakan di ruang yang sempit, jadi saksi pernikahan, Pak Handoko yang tampangnya kayak Yakuza tapi hatinya selembut Romeo, tengah terisak haru berdampingan dengan istrinya. Pak Syam, Bella dan mamanya … nggak ada yang lebih mengejutkan lagi saat tiba-tiba pintu kamar rawat menjeblak terbuka.
Seorang nenek berpakaian anggun dan berwajah sangar masuk.
Entah kenapa, Aysa serasa pernah melihat wajah nenek itu.
“Dasar cucu kurangajaaaaar! Nenekmu belum meninggal tapi kau selalu lupa kalau ada kejadian penting begini, bagaimana ayahmu mendidikmu sih?”, nenek itu mengacung-acungkan payungnya di muka Vein yang bengong berat.
“Wah, nenek kok di sini?”.
“Tadi pagi aku telpon rumah kalian, yang jawab si Inem, katanya kau mau nikah, aku hampir aja kena serangan jantung, aku langsung pesen tiket kemari, ternyata memang benar, kau berulah apa lagi?! Kenapa nikah nggak bilang-bilang?”.
Lelaki itu terlihat pucat, lalu nyengir.
“Ati-ati nek, sabaaar, nanti encok nenek kumat lho …”.
Wanita tua itu memasang tampang cemberut, Aysa baru sadar, wajah si nenek mirip banget sama Vein kalau sedang merajuk.
“Aku sudah penyakitan sejak kamu lahir, nah mana cucu mantuku?”.
Vein menunjuk Aysa, “Ini nek, cantik ya?”.
Sang nenek tersenyum lembut dan mengelus wajah Aysa.
“Terimakasih nak, aku sudah dengar cerita tentangmu …”.
“Berkat kau, klan kami tidak kehilangan penerus, tahukah kau, bocah banyak tingkah yang jadi suamimu itu cucuku satu-satunya, aku bisa mati mendadak kalau sesuatu terjadi sama dia … nah, demi nenek tua yang malang ini, kumohon jangan buat kebodohan yang sama seperti generasi terdahulu, bikinlah anak yang banyak ya… kalau aku punya banyak keturunan, aku pasti mati dengan tenang …”.
Si nenek dengan wajah berseri membuka tasnya.
“Vein, lihat ini, nenek udah bawa jamu kuat resep rahasia keluarga … nanti malam kamu harus meminumnya ….”.
Vein bengong, lalu menepuk jidatnya.
“Ya ampun nek, sempat-sempatnya … lagian lihat tuh, istriku sedang luka parah, masa nenek tega …”.
Setelah segala keributan yang memusingkan dan perdebatan konyol antara Vein dan neneknya, akhirnya perawat dengan susah payah menyuruh semua tamu keluar dari ruang perawatan dan membiarkan pasien beristirahat dengan tenang.
“Hei … kan belum kasih ciuman perpisahan nih …”, teriak Vein saat didorong keluar.
“Nanti juga bisa …”, perawat yang cantik itu tersenyum dan saat pintu tertutup, Aysa baru bisa bernafas lega, akhirnya bisa tidur juga…
---
Mimpinya kacau balau, tapi indah
Udah nikah?
Benarkah pernikahan itu sudah terjadi?
Aysa membuka matanya, diangkatnya tangan kirinya yang tidak terluka, ada dua cincin di jari manisnya. Apakah dia benar-benar sudah menikah?
Perawat membuka jendela kamarnya dan membiarkan cahaya matahari masuk.
“Gimana keadaan pengantin baru kita hari ini?”, sapa perawat itu sambil tersenyum lalu memeriksa tensi Aysa.
“Masih ingin istirahat, atau kau akan memperbolehkan suami yang nggak sabar ketemu istrinya itu masuk? Sudah dua jam dia menunggu di luar lho …”.
Sebelum Aysa menjawab, sesosok tubuh dengan tinggi 180 cm muncul dari pintu dan lelaki itu meletakkan serangkai bunga mawar di meja samping tempat tidur.
“Sudah siap pulang belum? Nona … eh, nyonya …?”.
Tangan Vein yang satu, meletakkan sebuah tas besar di samping ranjang.
“Kata dokter kamu boleh rawat jalan … gimana, mau pulang ke rumahmu atau sudah siap langsung ke rumahku?”.
---
“A… aku nggak … eh, bisakah aku tinggal di rumahku saja dulu?”.
“Sudah kuduga, baiklah, suster, tolong bantu dia berkemas, satu jam lagi kita pulang, aku akan menemui dokter dulu …”.
Sosok tinggi itu berjalan keluar dengan santai dan melambaikan tangan. Aysa berdecak kesal.
“Masih sok cool juga dia … dasar …”.
Dengan enggan, disibaknya selimut dan dibantu suster dia membasuh tubuhnya dengan waslap hangat, sementara belum bisa mandi, lalu mengganti perban luarnya. Keadaannya hari ini dirasanya jauh lebih baik dari kemarin.
“Kok rumah sepi?”, Aysa membuka pintu rumahnya.
Bi Inem menyambut mereka.
“Tuan dan nyonya sedang keluar non, sebentar lagi juga pulang … saya senang non Aysa sudah boleh pulang …”.
“Makasih bi …”, Aysa menaiki tangga menuju kamarnya. Ah, hampir seminggu tidur di rumah sakit, sama sekali nggak nyaman, paling nyaman ya di kamar sendiri…
Gadis itu tersentak kaget saat menyadari Vein disampingnya, asyik melihat-lihat sekeliling kamar.
“Lho, kok kamu ikutan kesini sih?”, tanya Aysa.
Vein mengernyit.
“Memang kenapa?”.
Wajah Aysa memerah. “Ya… ini kan kamarku …”.
“…and then? Kita kan sudah muhrim … nyonya Farrazi, kalau kau butuh diingatkan, dan karena aku belum dapat perawat untuk menjagamu, terpaksa nanti aku yang ganti perban di lenganmu itu, em, ngomong-ngomong, kamarmu kecil banget sih?”.
Tempat tidur hanya cukup untuk satu orang, sebuah lemari untuk menyimpan baju dan dua buah lemari penuh buku sudah membuat ruangan 3x4 meter itu terlihat sesak. Vein melihat koleksi buku Aysa.
“Busyet, buku keagamaan semua …”.
“Nggak juga, yang rak bawah ada novel em, remaja …”.
Vein berjongkok.
“Habibburahman, ah, nggak heran… eh, kau suka Andrea Hirata juga? Aku juga suka yang Edensor. Em, Samurai : Kastel Awan Burung Gereja?… kamu suka novel ginian juga? Wuih, komik juga ada… nggak nyangka kamu suka Conan juga, eh, Bleach? Oh … Deeper Kyo … Ay, ini punyamu atau kamu ngembat punya tetangga?”.
Aysa duduk di ranjang sambil mengeluh.
“Ya…ya…itu punyaku, apanya yang aneh?”.
Vein nyengir, “Nggak, nggak aneh kok, nggak nyangka aja …”, lalu tangan Vein meraih laptop Aysa dan membukanya.
“4730 … ada rahasianya nggak?”.
“Nggak, hanya skripsi aja, tapi, meski kamu suamiku, itu privacy …”.
“Pelit …”.
“Emang, baru tahu?”.
Vein mengambil tempat di samping Aysa lalu tersenyum-senyum.
“Nah, mumpung rumah sepi nih …”,
Aysa mengambil jarak, kayaknya Vein sudah mulai aneh.
“Kamu cantik Ay ….”, cengiran Vein makin lebar. Aysa berdiri dan berlari keluar kamar sambil berteriak, “Mamaaaaa!!!!”, Vein terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
---
Aysa merasa kesal, sejak menikah, Vein selalu ngacangin dia. Kayaknya suka banget bikin orang panik dan deg-degan, nyebelin banget.
“Apa lihat-lihat?”, Aysa memandang Vein galak.
“Wuih, Ge Er … nggak ngeliatin kamu kok, hehe … pokoknya ini lucu banget, biasanya cewek-cewek yang nempel sama aku, tapi kamu, begitu deket-deket sama aku langsung kabur, coba, buat apa kita nikah, menikah itu adalah …”.
“Berisik!”.
“Menikah itu intinya adalah …”.
“Aku juga nggak ngerti kenapa kita bisa nikah, waktu itu mungkin karena aku masih strees sehingga waktu kamu memanfaatkan keadaan itu …”.
“Aku nggak manfaatin kamu …”.
Aysa sudah hampir nangis.
Vein menghela nafas, “Okey, jangan nangis … jadi, apa maumu?”.
Belum lagi Aysa menjawab, orangtuanya datang dan mamanya dengan penuh semangat menghambur ke arah Aysa.
“Tau nggak? Mama sama papa udah nemu gedung buat resepsi … nggak perlu nunggu bulan depan, kalian bisa melangsungkan resepsi dua minggu lagi …”.
Cengiran Vein makin lebar. Aysa tertunduk, kesal setengah mati …
---
Vein bersikap sangat baik dua minggu ini, selain merawatnya dengan telaten, mengganti perbannya (tapi sambil diawasi mama Aysa), mengunjunginya secara rutin kayak dokter dadakan, bercerita sedikit tentang kerjaannya, menginstalkan beberapa game online baru bahkan memasak bubur untuk Aysa meski bubur instant.
Mereka sudah menikah, dan dia cukup dewasa untuk menyadari sentuhan ringan Vein di lengannya membuatnya berdebar, tapi Aysa berusaha cuek, toh lelaki itu juga tak lagi bersikap menyebalkan dengan menggodanya. Vein agak serius akhir-akhir ini. Untungnya pula, mereka nggak pernah bisa berduaan, kalau nggak ditemani bi Inem, mamanya atau kadang Bella yang akhir-akhir ini sering banget pulang. Mungkin karena kuliahnya tinggal menyusun skripsi aja, kemarin Vein sempat memperbaiki data Skripsi Bella yang terkena virus, hubungan mereka juga lumayan baik, meski Vein agak sulit menganggap Bella yang lebih muda satu bulan darinya sebagai kakak.
Seminggu menjelang pernikahan, setelah prosesi melelahkan, terutama saat mengepas baju, memilih design undangan sampai souvenir (yang ini Bella dengan senang hati membantu), sampai menu katering. Ternyata mempersiapkan semua dalam waktu singkat memang melelahkan, contoh undangan yang diberikan Vein sangat unik, bentuknya seperti koran-koranan. “Khusus terbit hari ini … 20 09 2009 … menikah : Vein dan Aysa …”, foto preweddingnya juga unik. Pakaian Aysa kayak putri seribu satu malam, lengkap dengan cadarnya, tapi Vein justru memakai baju tuxedo hitam modern. Benar-benar menggambarkan dua dunia yang berbeda, bertabrakan, tapi cuek.
“Kalau didandani, kamu lumayan juga …”, bisik Vein saat memeluknya. Pengarah gaya sudah senewen menyuruh Aysa tersenyum. “Lihat kamera say, mesra dikit dong …”.
“Mesra dikit dong …”, gumam Vein, memamerkan gigi drakulanya. Kadang Aysa bertanya-tanya, gimana bisa Vein punya gigi taring yang unik begitu, tapi bukannya menambah kesan seram, Vein tampak … tampan, seperti serigala gunung yang cantik.
“Bukannya lebih indah kalau undangannya nggak perlu pakai foto?”, gerutu Aysa.
“Kenapa sih nona ini eh, nyonya ini sulit banget difoto? Sesekali nampang kan nggak papa, kita nikmati aja deh Ay, oke?”, digandengnya tangan Aysa menuruni tangga.
Adegan terakhir, Vein mengecup tangan Aysa di tangga.
“Bagus … sekali lagi ….”, pengarah gaya yang agak bencong itu tersenyum puas.
“Besok akan saya kirim hasilnya, kalian boleh istirahat !”.
Acara berjalan dengan lancar, tamu yang hadir sangat puas dengan pestanya. Aysa melirik Vein yang asyik berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatnya.
“Suami kamu ganteng Ay”, Nabila menjajari Aysa.
“Aku kaget lho, tahu-tahu ada kabar kamu nikah, sama Vein pula, dia kan ladies killer, kalian kenalan di mana sih?”.
“Dijodohin”, gerutu Aysa.
“What?”, Cheryl memandang Aysa.
“Kayak Siti Nurbaya aja, terus, kok kalian bisa nikah sih, dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?”.
“Maksudnya?”.
“Ya … aneh aja, cowok kayak dia memutuskan nikah muda, kayak bukan sifatnya aja, maaf lho Ay, bukannya mau ngegosip she, tapi pacar si Vein kan banyak … playboy kayak dia yang gonta-ganti cewek setiap menit, aneh aja kalau tiba-tiba nikah … tapi, kalau ceweknya kamu sih, kayaknya sulit percaya kalau kalian MBA”.
Aysa tersenyum kecut.
“Ya enggaklah … kita nggak seperti itu, kalau nggak percaya, biar waktu yang buktiin, kalian sendiri gimana, ada planning nikah muda?”, Aysa memandang sahabat-sahabatnya.
Nabila tersenyum, “Ya, doain ajalah, pengennya sih gitu”.
Cheryl mendengus, “Ih, amit-amit, pokoknya aku mau selesaiin S2 di Jerman dulu baru mikir nikah …”.
“Jangan kelamaan pacarannya, kalau bisa nggak usah pacaran, langsung aja nikah, kayak Aysa”, nasehat mbak Indri.
“Pokoknya, goodluck deh Ay, semoga happy forever after … kamu cantik malam ini”, mbak Anna memeluk Aysa. “Lagian, kayaknya Vein udah berubah, mungkin itu yang membuat kamu berani menempuh masa depan bareng dia, ya nggak?”.
Aysa memandang Vein yang tersenyum ke arahnya.
“Mungkin, doain aja mbak …”.
---
Mulai malam itu, selama empat puluh hari, ada ketentuan adat yang mengharuskan Aysa tinggal di rumah mertuanya, apapun yang terjadi, nggak boleh ngambek dan pulang ke rumah sebelum waktu yang 40 hari itu berakhir.
“Wow, indah banget kamarnya”, Bella terbelalak, kamar bernuansa putih perak dan berhiaskan mawar putih di sekelilingya.
“Ini kayak kamar ratu … jadi iri nih …”, Bella menyentuh untaian mawar yang menghiasi kanopi. Aysa merasa kepalanya pening. Ini menyebalkan.
Bella dan mama membantu Aysa melepas baju pengantinnya, kebaya putih itu berat banget, Aysa merasa lega saat melepasnya.
“Lihat nih Ay … aku yang beliin lho …”, Bella mengacungkan selembar baju tidur yang seksi abis, Aysa tercenung.
“Itu … berlebihan …”, gerutu Aysa.
“Well, ini kan malam pengantin …”, goda Bella. “Ya nggak ma?”.
Mama hanya tersenyum.
“Itu kan style kamu … “, Aysa mengeluh lalu memandang mamanya.” …aduh, ma, malam ini nginep sini ya?”.
“Ya, nanti mama sama papa juga Bella nginep, tapi nggak di kamar ini …”.
Setelah mendandani putrinya, dan memaksa Aysa memakai gaun biru yang lebih sopan dari baju tidur yang disodorkan Bella, keduanya meninggalkan Aysa sendirian.
“Jangan kayak anak kecil, sekarang kamu udah nikah …”, mama mencium kening putrinya dan tersenyum. “ … baik-baik sama Vein ya …”.
Bella memandang Aysa dan memeluknya sejenak.
“Bilang sama Vein, perangnya pelan-pelan aja, soalnya kamu masih pera…”.
“Idih, kak Bella … apaan sih …”, Bella tertawa.
“Kamu beruntung Ay, banyak lho cewek yang antre untuk mendapatkan Vein, jadi, jaga dia baik-baik, dulu aku juga pernah naksir dia … hehe … “.
Bella mengandeng mamanya dan berlalu.
“Dah adik kecil … salam buat Vein …”.
---
Aysa memilin-milin rambutnya.
“Kabur .. enggak … kabur …”.
Terdengar kenop pintu berputar…
Vein membuka pintu kamarnya.
Matanya terbelalak, kayaknya dia salah kamar, wanita di hadapannya …
Dengan gaun biru bertali dan make up yang membuat wajahnya terlihat dewasa dan menantang. Busyet, cewek mana yang nyasar ke kamarnya? Cantik banget …
Vein memandang gadis itu dengan seksama.
“Ini kamu Ay?”.
Aysa mengernyit, “Kenapa? Ada yang aneh dengan wajahku? ini mama yang dandanin, jelek banget ya?”.
Vein menutup pintu kamarnya lalu menyuruh Aysa duduk.
“Kamu kayak tante-tante …”, Vein nyengir.
“Benarkah? Udah kuduga, pantes tadi mama sama Bella senyum-senyum gitu, mana di kamar ini nggak ada cermin lagi, ih, nyebelin ….udah-udah, jangan ngeliatin gitu, aku mau ke kamar mandi, ngehapus make-upnya!”.
Vein malah meraih tangan Aysa.
“Tunggu …. Lihat ini …”, Vein meraih remote dan seketika saat tirai terkuak, ada cermin besar di hadapan mereka. Aysa perlahan melihat wajah asing di hadapannya.
“Cantik kok, aku sampai kaget, kirain bidadari dari mana gitu …”.
Gadis itu memang cantik, bermata besar, berambut ikal …
Itu … apakah gadis itu adalah dirinya?
“Whoa … mama! Ya Tuhan, make-upnya tebel banget …”.
Vein terbahak-bahak. “Nggak kok, hanya karena kamu nggak pernah dandan aja, makanya ngerasa make upnya terlalu tebal, tapi, ngeliat kamu tanpa jilbab dan pakai gaun kayak gitu, memang terlihat seperti orang lain, lebih dewasa, lebih cantik, tapi sifatnya ternyata masih sama aja, childish, hehe …”.
Vein melepas jasnya dan hanya memakai kaos dalam dan celana panjang.
“Wuih, capek banget … ayo tidur Ay, malam ini aku terlalu capek, kamu nggak tersinggung kan kalau aku belum bisa melaksanakan tugas sebagai suami…”.
Bugh! Lemparan bantal tepat di wajah Vein.
“Vein nyebelin!!”, Aysa merasa kesal dan gemas, Vein menjulurkan lidahnya.
“Nah kan, childishnya kumat …”.
“Nggak perlu suit kan? Ini kamarku, dan ini kasurku, aku bakalan berbaik hati deh, kita bagi wilayah kasurnya, pokoknya aku nggak mau tidur di sofa …”.
“Gimana kalau kamu bobok di bawah saja?”.
“No way …”, Vein merebahkan diri dan tersenyum.
“Tuh, masih luas, masih separo bagian, tidur gih …”.
Aysa menumpukkan bantal dan guling membuat tembok untuk memisahkan mereka. Setelah itu menarik selimut melingkupi seluruh tubuhnya.
“Kamu kayak kepompong …”.
“Biarin …”.
“Oh, ayolah, kita kan udah muhrim nih, aku kan suami kamu”.
“Bodo amat, kan udah janjian pacaran dulu … tiga bulan gitu deh”.
“What?! Eh, satu minggu aja … gini-gini aku cowok normal, masa tiap hari bersebelahan sama istri sendiri nggak ngapa-ngapain?”.
“Kalau kamu masih dirty mind gitu … aku besok pulang aja!”.
“Oke, oke, pacaran dulu ya? Baiklah … aku turuti Syarat kamu … tapi, boleh dong minta ciuman selamat malam, kalau orang pacaran kan biasa ciuman gitu …”, kata Vein sambil bangun.
Aysa membuka selimutnya. Memandang Vein sejenak lalu tersenyum manis sekali.
“Utang dulu deh ciumannya ….”, lalu bergulung lagi dengan selimutnya. Vein bengong, setelah sadar dari shocknya, dia menyumpah-nyumpah dalam hati lalu kembali merebahkan diri. “Awas Ay, lihat aja besok … tunggu pembalasanku!”.
---
Vein tak berani mengganggu Aysa, gara-gara semester kemarin ada beberapa nilainya yang dapat C, terpaksa Aysa ikut semester pendek, dan di musim ujian yang bikin gadis itu senewen berat hingga belajar sampai larut, ditemani bercangkir-cangkir teh, cemilan dan kadang kopi kental.
Memakai kaos oblong dan rambut ikalnya digelung cantik pakai jepit rambut, rasanya pengen disentuhnya wajah boneka Prancis itu, tapi Aysa sepertinya tak memperhatikan tatapan Vein karena bibirnya sibuk komat-kamit menghafal rumus dan teori ekonomi. Aysa benar-benar konsen di depan meja belajar sambil sesekali mencatat.
“Hei, jangan dihafalin tau, tapi dimengerti, pantes aja IPmu standar banget! Kalau Teori Ekonomi itu dipahami, apa sih maunya si tua adam Smith sama si Keynes, bandingkan teori mereka, bikin kesimpulan, pakai bahasa kamu sendiri …”, Vein mengambil kursi dan duduk di dekat Aysa.
“Kamu kuliah, bukan untuk jadi ensiklopedi hidup, tapi pakai otak kamu bikin teori baru yang revolusioner … nih … jidat ini bukan buat ngumpulin informasi lama dan menyimpan data-data usang … tapi untuk input data baru …”, gurau Vein sambil menunjuk kepala Aysa.
“Baiklah, baiklah, tuan Smart … please bantu aku … kamu yang nanya aku yang jawab … em, nih Akuntansi Internasional, kemarin aku dapat C!”.
Vein mengambil buku tebal berbahasa Inggris itu dari tangan Aysa.
“Ay … habis ujian liburan yuk …”.
“Terserah, yang penting aku ujian dulu … liburannya dipikir nanti saja …”.
“Oke … pertanyaan pertama ….”.
Vein memandang Ay serius, “Siapa cowok yang paling baik hati sedunia … tet tot… jawabannya Vein, ehm, serius nih, jangan memandangku kayak gitu, nah, menurut lo, apakah teorinya mbah Adam Smith masih eksis kalau diterapkan di era Millenium?”.
Ay menggaruk kepalanya.
“Baca tetralogi Laskar Pelangi nggak sih?”, gumam Vein sambil nyengir….
----
“Ada apa, tumben pengen ketemuan?”, tanya Vein.
Para dedengkot Black Phanter malah diam.
Andrea Juanda, yang sekarang jadi ketua, asyik memainkan gelas blue martini memakai jemarinya yang lentik, cowok yang kesannya paling gelap di Black Phanter itu memandang Vein dengan tajam.
“Gimana kehidupan pernikahanmu, bro?”.
Vein tercenung, “Sebenarnya aku nyesel nikah sekarang…”.
“Nah, kan, kubilang juga apa, nikah tuh bullshit, nggak nyaman kan bro, apalagi dijodohin”, kata Andre sambil berdiri mendekati Diaz dan Ferrel lalu menepuk bahu keduanya, “… dan kita nggak perlu meniru jejak mantan ketua kita yang bego itu, hahaha”.
Vein yang tahu sifat keras Andre hanya tersenyum, “Maksudku, aku nyesel nikah sekarang bro, tau kalau enak gini, nikahnya dari dulu-dulu aja, hehe, nah, tumben kita ketemuan …ada apa?”.
Tiba-tiba dua orang pemuda tampan memasuki ruangan pertemuan.
Vein nyengir, “Bahkan Abel dan Ben … what? Ada apa ini?”.
Mereka berenam duduk melingkar seperti dulu, ksatria meja bundar lengkap sudah.
“Pesta bujangan, bro … hehe …”, kata Abel sambil meletakkan sampanye yang dibawanya ke atas meja.
“Dulu kan kita nggak sempat bikin … nah, let’s start the party…”, Ben menjentikkan jari, seorang pelayan masuk dan membawa piring-piring kaviar dan gelas sampanye.
“Untuk Vein, bersulang, biar pernikahannya abadi … sampai tua … sampai keriput, haha… pengen punya anak berapa Vein?”, goda Ferrel.
“Dua anak cukup”, kata Vein sambil melentingkan gelas sampanye ke gelas Ferrel.
“Wah, setelah Vein siapa nih yang nyusul?”, teriak Abel.
“Andre…mukanya paling mesum diantara kita…”, kata Diaz, yang disindir tertawa dan menggeleng.
“No Women No Cry, bro … gue bukan orang bego …”.
“Loe masih hetero kan, coy?”, Abel memanaskan suasana. Diantara mereka berenam, Andre adalah yang paling menarik, bukan karena bentuk wajah, kalau wajah yang tampan dimiliki Diaz, otak brilian dimiliki Vein, tapi kemisteriusan yang magis bagai magnet yang menarik gadis-gadis ke pelukan … dimiliki casanova Black Phanter itu, mata Andre sangat hitam dan memukau, gayanya lembut, anggun tapi berbahaya. Nggak ada gadis yang diinginkannya nggak takluk di hadapannya. Setiap gadis yang dia sentuh bisa jadi budaknya dalam sekejap, dia tahu bagaimana cara menguasai, tapi juga tahu saat melepaskan. Kekuasaan yang dimilikinya membuatnya selalu bisa bergerak bebas.
“Nah, party nggak lengkap tanpa gadis-gadis…”, Andre membuka pintu dan empat makhluk berbody mulus langsung menyerbu Vein tanpa ampun, menciumi cowok itu hingga Vein berteriak geli. “Kurangajar kau Andreeeeeeeeee!!”.
“Kuharap, saat pulang nanti kau dihajar istrimu”, kata Andre kalem.
Aysa memandang Vein dengan dahi berkerut.
Suaminya pulang dengan keadaan kemeja acak-acakan, bekas lipstick di sana-sini.
“Kamu minum?”, taya Aysa.
“Yups, dikit, tadi pesta bujangan sama anak-anak… em, aku bisa jelasin …”.
Aysa hanya diam, kesal.
“Ini kerjaan Andre, sumpah, aku nggak…”.
Gadis itu membalikkan badan dan masuk rumah sambil mengomel.
“Ay … please, ini nggak seperti dugaanmu …”.
Andre yang memperhatikan pertengkaran itu dari mobilnya tertawa puas, baru kali ini dilihatnya Vein mati kutu, di hadapan cewek pula, gadis itu cantik sih, tapi bodynya,aih, apa sih yang dilihat Vein dari istrinya. Diam-diam tadi dia mengikuti Vein pulang.
Saat melihat pintu dibanting di depan wajah Vein, Andre menyeringai, lalu turun dari mobil dan menghampiri Vein yang berdiri bengong di depan pintu.
“Ternyata wajah lo bisa tolol gitu ya? Nyesel nggak? Nikah kok sama anak kecil”, sebelum Vein sempat ngomong, Andre memberikan sebuah kaset DVD.
“Tonton nih, bareng bini lo, gue pastiin dia nggak marah lagi … bye Vein …”.
---
Aysa tertawa terbahak-bahak. Vein bengong berat, biasanya gadis itu hanya tersenyum atau tertawa sopan, baru kali ini Aysa terlihat tertawa seperti kesurupan.
“Udah ya Ay… kamu percaya kan aku tadi nggak main sama cewek…”.
“Huahaha, aduuh, jangan dimatiin, habis… hahaha…”.
Di layar home theatre terlihat Vein kelabakan dikerjain gadis-gadis mulus aspal, alias bencong. Cowok itu terlihat gelagapan di cubit dan dicium sana-sini oleh banci-banci itu.
“Habis, mau dipukul mereka kan bukan cowok, lagian geli gitu, aku paling takut sama bencong, Andre tahu kelemahanku, kurangajar anak itu …”.
Aysa masih tertawa-tawa.
“Nah, aku dimaafkan nih…”, tanya Vein. “Itu tadi Andre yang jebak aku…”.
“Iya, iya … afwan ya, tadi aku sempet marah-marah…”.
“Makanya, lain kali jangan ngambek kayak di film-film, dengerin dulu penjelasannya, baru putuskan, mana yang benar atau salah…”.
Gadis itu menghela nafas, diingatnya sosok Andre yang tampan, tapi dingin, setiap kali bertemu, tak pernah dilihatnya cowok itu tersenyum atau tertawa, paling tersenyum sinis atau mengejek, herannya, gadis-gadis betah aja di pelukannya.
“Andre temanmu yang rambutnya ikal itu?”.
“Yups, anak itu memang perangainya paling keras di antara kami, tapi pada dasarnya dia baik, dia … hanya kesepian, sama seperti aku dulu sebelum ketemu sama kamu”.
“Mulai lagi deh ngerayunya… tapi dia kok gimana ya, ngomongnya sinis, ketus, sombong, tapi gadis-gadis kayaknya lengket gitu”.
“Uangnya banyak sih, bokapnya direktur bank, nyokapnya punya toko jewelry, belum lagi warisan dari eyangnya, makanya dia sering stress ngurus begitu banyak hal dengan banyak aturan, dilampiaskannya keruwetan hidupnya dengan bergabung di Black Phanter, dia sama sepertiku, anak tunggal, kesepian, aku kadang kasihan melihatnya…”.
“Gitu ya, tapi dia baik juga, kalau aku nggak liat DVD ini, aku bisa salah paham, nah, mandi sana, bajumu bau rokok dan alkohol, alkohol itu haram hukumnya, jangan diulangi lagi ya! Lain kali tiada ma’af”, kata Aysa galak.
---Andre terpekur di hadapan ayahnya.
“Ini demi perusahaan kita Ndre, demi kelangsungan keluarga kita, kau harus melakukannya…”.
“Memang nggak ada jalan lain, pa?. Kita bisa jual sebagian saham hotel dan apartemen … juga properti di Bali … villa … toko…”.
“Terlalu banyak yang harus dikorbankan, sementara kita punya solusi yang bagus? Tidak! Kau harus menikah dengan cucu Tuan Gerard, semua hartanya akan menjadi milikmu dan menyelamatkan semuanya. Nggak ada salahnya kan kamu menikah, kamu sudah cukup umur dan gadis itu selain cantik juga baik, kamu nggak bakalan menyesal, Ndre”.
“So, papa bakalan ngorbanin aku buat kepentingan papa?”.
“Nggak gitu Ndre, ini bukan hanya menyangkut keluarga kita, tapi juga ribuan kehidupan keluarga lain, kau nggak ngerti? Papa bukannya ngorbanin kamu, tapi ini keadaan darurat. Kita butuh dana segar secepatnya, karena isyu maraknya korupsi oleh petugas bank, papa nggak berani ambil pinjaman di bank, padahal perusahaan terancam kolaps karena adanya perubahan harga yang drastis karena naiknya harga minyak dunia”.
Andre tak menjawab, seperti biasa, kalau moody side nya lagi nggak bagus, langsung ke Caesar café, dikeluarkannya jaguar hitam dari garasi dan langsung ngebut sambil menelpon Diaz.
“Sorry Ndre, lagi ada sesi pemotretan, ntar gue susul dah”.
Lalu ditelponnya Abel dan Ben.
Ferrel malam-malam gini pasti masih lembur di Micro, Vein mungkin baru bulan madu, kalau beruntung, haha, kemarin istrinya marah besar saat Vein belepotan lipstick.
“Mau ngebut lagi coy?”, Ben yang kayak kembar siam dengan Abel muncul.
“Ya, udah lama nggak ngebut neh … mau taruhan?”.
“Apa’an?”.
“Yang kalah musti nikah …”, gerutu Andre.
Ben dan Abel berpandangan.
“No way …. Amit-amit, lo boleh minta Ferrari gue atau salah satu koleksi motor gue bro, tapi kalau nyusul Vein, amit-amit”, gumam Ben.
“Kalau nikah sama Luna Maya gue mau, hehe… “, kata Abel. “Atau Angelina Jolie, gak papa deh, bekasnya Brad, gue mau … tapi kalau produk lokal, nggak lah … emang yang mau dinikahi siapa bro?”.
“Gue dijodohin sama cucunya partner bokap gue, yang kalah harus gantiin gue nikah sama cewek ini, gimana?”.
Abel nyengir setelah tahu duduk permasalahannya, “Calm down man, ini sih bukan masalah kecil lagi, pasti gadis yang mo dijodohin sama elo bukan gadis sembarangan, kita nggak berani sentuh, ya nggak Ben?”.
“Yo’a, sekarang lo rileks dululah, ntar kita susun rencana, gimana caranya kita culik lo waktu resepsi, oke?”.
“Gampanglah diatur, pokoknya malam ini kita have fun, forget all problem, but, kayaknya kejadian kayak gini pernah menimpa Vein kita yang malang, tapi akhirnya happy end juga kan? Jadi nggak usah terlalu cemas lah Bro, inget nggak, dulu Vein bersumpah-sumpah nggak bakalan setuju dikawin paksa, sekarang malah enjoy aja tuh, malah ketagihan, ya gak?”.
Andre pulang dalam keadaan mabuk berat, Ben, Abel dan Diaz yang mengantarkan sampai nggak enak dengan Pak Harris Juanda, ayah Andre.
“Maaf pak, daripada dia pulang sambil nekat ngebut, kami terpaksa campurkan sedikit obat tidur, tadi dia hampir ngamuk …”, kata Abel.
“Yah, nggak apa-apa, tekanan yang dia hadapi akhir-akhir ini cukup berat. Tapi dia memang harus menghadapi kenyataan”, gumam pak Harris.
“Pak Mien, pak Dani, tolong bawa Andre ke kamarnya, mulai besok, kalian awasi tuan Andre”, suruh pak Harris pada bodyguardnya.
“Kalau gitu, kita permisi pak …”, Diaz berpamitan, begitu pak Harris mengangguk, ketiganya langsung ngacir.
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar