Sabtu, 23 Mei 2009

I'll Never find someone like you

“Kita akan bertaruh besar. Apakah kau sudah benar-benar memikirkannya?”. Dia bertanya tanpa memandangku. Masa bodoh dengan cinta. Aku merasa tertantang dengan ide gilanya dan aku memasang diriku sendiri, seluruh kehidupanku, untuk kutukar dengan cinta. Aku akan menjual apapun yang kumiliki, untuk mendapatkan cinta yang satu ini. Danif memiliki setiap hal yang kuinginkan dan dia memenuhi kualifikasi yang kutentukan. “Temui ayahku besok setelah maghrib. Kau boleh mundur jika kau mau”, jawabku, tak ingin kalah dengan tantangan Danif. Pemuda yang baru aku kenal empat bulan yang lalu itu tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, aku akan datang”.
Kakakku memandangku takjub. “Are yau crazy?. Come on, kamu nggak kenal pemuda itu sama sekali”. “Dia pun tak mengenalku sama sekali”. “Bagaimana mungkin kau yakin padanya”. “Aku sendiri tidak tahu, hanya insting saja, dia bisa membuatku bertemu Marik, dia bisa membuatku memiliki satu tiket ke surga. Dia pewaris al-Qur’an, 30 juz hafal diluar kepala, dia juga orang yang bertanggung jawab, selama aku membutuhkannya dia selalu datang, memberikan pertolongan dan tak tanggung membagi ilmunya padaku, aku pikir, ada kecocokan diantara kami”. Ayahku girang bukan kepalang saat aku mengatakan keputusanku. “Akhirnya, kamu jadi perempuan juga...”. aku mengernyit, memangnya selama ini aku bukan perempuan?. Ada-ada saja!.
Kupandang foto Marik. Saudara kembarku. Di surgakah dia kini? Apakah dia merindukan aku seperti aku merindukannya? Tujuhbelas tahun kamu tumbuh besar bersama, saling berbagi, menyayangi. Hingga kebahagiaan kami tiba-tiba terenggut. Marik, tahukah kau, berapa banyak malamku berada dalam kegelapan? Tanpa kamu, aku telah tersesat jauh. Aku tak pernah bisa mencintai Tuhan dan mungkin, Syachdanif al Wahid, adalah suatu jawaban. Apakah dia bisa menghapus seluruh catatan hitam dalam jejak kehidupanku?. Apakah pemuda itu sanggup?. Aku sendiri tak yakin pada diriku.
---
09 -09 -09
Akan menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Hari ini, aku mengenakan jilbab panjang yang menutup rambutku yang biasanya menantang angin. Bunda memandangku lewat cermin dan tersenyum. “Kau cantik, cantik sekali”. Sebenarnya aku lebih menyukai gaun berwarna hitam, gothic. Tapi Danif menolak. “Jika kau menerima tawaranku, kita nggak bisa tanggung-tanggung. Ikuti caraku, apapun yang kuberikan dan sesuai yang mampu kulakukan”. Itu persyaratan tegas Danif atas tantanganku. Tak seperti pernikahan kakakku yang berlangsung meriah di gedung besar, Danif memilih sebuah masjid sebagai tempat pernikahan dan semua berlangsung sederhana tapi hikmad. Aku tak merasakan hari ini istimewa. Meski aku menambah satu kata di belakang namaku, statusku akan berubah dalam hitungan menit. Aku sama sekali tidak merasa istimewa. Mungkin, karena tak ada rasa cinta di antara aku dan Danif. Pernikahan ini hanya sebuah taruhan besar. Untuk cinta Nya.
Aku belum pernah jatuh cinta. Meski di sekelilingku banyak lelaki ganteng, cowok berkualitas dan tajir. Aku tak pernah menyukai makhluk yang kuanggap menyebalkan dan nggak toleran. Mereka hanya makhluk berisik dan egois, aku tak pernah tertarik membina hubungan selain persahabatan, itupun, biasanya akulah yang diuntungkan karena persahabatan itu. Satu kali ada lelaki yang mengatakan cinta padaku, aku cuek, tiga kali ada perempuan mengatakan cinta padaku, aku takjub. Aku bukan lines, tapi, mungkin penampilan tomboi-macho-ku, membuat temanku banyak mengira aku berada di wilayah luar jalur. Oke, aku sering ke cafe, dugem, tapi aku tak pernah melantai, aku hanya memanfaatkan fasilitas Hot Spot gratis di dalam Cafe, toh temanku, pemilik Cafe ini yang mengizinkanku masuk secara gratis. Mungkin temanku para pemabuk, berandalan, tukang dugem, tapi mereka tahu diri dan tak pernah menyentuh area keegoisanku dan kesendirianku, bagi mereka, aku hanyalah alat untuk mempermudah penyelesaian tugas kampus dan bagiku, mereka sarana untuk meluluskan diri dengan cepat dari kampus, mereka punya uang dan aku punya otak.
Tapi aku terlanjur dicap sebagai berandalan yang sering keluar malam. Gadis nakal yang sombong dan tak toleran. Individualistis.
Karena itu, penghuni kolong langit tempat aku tinggal, merasa kaget bukan kepalang setelah mengetahui calon suamiku adalah Al-Havids. Dosa apakah pemuda ini sampai memiliki calon istri sepertiku?. Pemuda jangkung berwajah innocent berbingkai kacamata minus yang lumayan tampan, berotak cerdas, menerima gadis berandalan berwajah biasa saja dan tanpa prestasi apapun?. Mungkin pemuda itu kena guna-guna. Entahlah, atau kacamatanya buram, sehingga tak bisa membedakan mana gadis cantik dan jelek, atau aku hanya sebuah taruhan Danif pada Allah?. Taruhan besar. Apakah dia bisa memperbaiki diriku, ataukah dia yang akan terseret arusku?. Entahlah, aku sendiri takjub, hari ini bisa terjadi di dunia. Pernikahan Danif dan aku. Yang tak pernah kusadari, telah tertulis dalam kitab Lauh Mahfudz-Nya.
Pertemuan pertama kami pagi itu.
Di sebuah pondok di suatu desa terpencil.
Aku sedang berlibur di rumah sahabatku, Layla, yang kebetulan putri seorang Kyai di desa kecil berhawa dingin itu. Di pondok yang memiliki lima ratus santri itu, terdapat madrasah mungil tempat belajar anak-anak kampung. Ada beberapa orang guru di sana. Ayakku sudah muak dengan kelakuanku, membolos kuliah selama satu semester dan bekerja serabutan di toko komputer, beliau mengantarku dengan paksa ke pondok Kyai Yusuf, ayah Layla. “Tolonglah pak Kyai, bimbing putriku ini, paling tidak dia bisa meniru sedikit saja kelemah lembutan Layla”. Layla yang mungil dan cantik. Aku senang sekali menakutinya dengan laba-laba, dia akan menjerit panjang dan aku tertawa, tapi dia tak pernah jengkel dalam waktu yang lama. “Lihat, kayaknya jambu di pohon itu sudah matang”, aku tersenyum jahil. Layla memandangku kesal. “Ingat, kau sekarang memakai rok panjang dan berjilbab, masa masih mau berkelakuan seperti monyet?”. Aku tak perduli, aku memanjat pohon itu tanpa perduli, embun pagi melicinkan batang-batang pohon. Dengan cekatan kupanjat pohon dan memetik buahnya, tapi naas, langkahku memijak batang licin dan aku terjatuh. Kakiku terkilir, Layla berteriak dan kebetulan lewatlah pemuda berkacamata itu. “Akh Danif... Akh Danif! tolong!”, teriak Layla. Aku berusaha mencegah. Siapapun boleh menolongku, asalkan bukan makhluk berjenis lelaki. Tapi terlambat!

Aku benci sekali menjadi lemah, dalam pelukan kokoh Danif aku merasa tak nyaman. “Jangan bergerak ... nanti tambah sakit”. Dia membaringkan aku di tempat tidur Layla. Gadis itu menggigit bibir dengan panik. “Aih, lihat kakimu, membiru, biar kutelpon dokter...”, sebelum Layla beranjak, Danif berteriak. “Tunggu Ukhti, biarkan saya keluar dulu dari ruangan ini ...”. aku hanya merasa lelah dan sakit, tapi aku terbiasa untuk tidak menangis, setelah kematian Marik, aku tak pernah bisa menangis. Marik adalah kehidupanku, dan aku sekarang hanya seperti sebuah robot bernyawa, yang tak memiliki air mata.
Karena kakiku harus di gips, ayahku memutuskan aku harus tinggal lebih lama di pondok, keluargaku akan berlibur ke rumah nenek dan aku hanyalah makhluk invalid yang akan merusak kesenangan liburan mereka. Bagus! Aku akan menikmati keadaan buruk ini. Kubuka laptopku dan karena kesal menyadari aku tak bisa chatting, aku merasa sangat kesal. Layla menemaniku dengan sabar, dia benar-benar sahabat yang baik. Aku diperlakukan seperti adik perempuannya sendiri, mungkin karena dia anak tunggal.
---
“Sudah lebih baik?”, suara tenor lembut itu menyapaku, tak perlu memandang ke arahnya, aku tahu pemilik suara itu. Suara menyebalkan yang membangunkan aku setiap subuh, juga mengingatkan aku untuk waktu Isya. Suara yang melantunkan ayat al-Qur’an setiap malam Jum’at. Suara Lurah Pondok Putra Al-Quds yang membawahi 100 santriwan. “Masih nyeri, tapi mendingan”. Dia memberikan sebotol obat pada Layla. “Oleskan setiap menjelang tidur, semoga bermanfaat”. Layla memandangku. “Tidakkah kau seharusnya mengucapkan sesuatu pada Akh Danif?”. Aku memalingkan mukaku. “Syukron ...”. “Sama-sama, semoga... em, siapa namanya ya?”. “Riza...”, jawabku. Layla memekik. “Syahriza, panggilannya Syahri ...bukan Riza”. “Tapi, di kampus aku dipanggil Riza”. “Itu kayak nama cowok, nggak pantas”, gerutu Layla. Danif tersenyum. “Kalau nama saya Syachdanif, hampir mirip ya ... baiklah Riza, semoga cepat sembuh ...”.
“Aslm, bagaimana keadaanmu?”. Sebuah pesan pendek masuk ke HPku. Dari Danif. Sejak saat itu kami sering berkomunikasi lewat SMS, berdebat, aku sering gencar mendebat dan Danif membalasnya dengan nasehat. Kehidupan gelap dari sudut pandangku dan kehidupan bermandikan cahaya dari kacamatanya. Kepesimisanku, keoptimisannya, sifat kanak-kanakku, kedewasaannya. Kekasaranku, kelembutannya. Keegoisanku, kesabarannya.
“Sebenarnya, pengen juga punya suami Ikhwan, tapi, dia nggak boleh pemarah, harus bisa membuatku alim tanpa kekerasan, tahukah kau, berapa banyak guru mengaji yang telah dimintai tolong ayahku untuk membuatku pandai membaca Al-Qur’an?. Aku tak pernah betah mengaji. Aku ingin sekali, memiliki guru privat yang sabar”. Aku meneruskan “Tapi, bukankah Allah memasangkan orang yang baik dengan makhluk yang baik pula? Impianku untuk memiliki Ikhwan mungkin hanya impian kosong, Danif, apakah kau punya sahabat yang mau dan mampu menjawab tantanganku ini?”. Danif menjawab singkat. “Ada, besok kalian akan bertemu di depan masjid”.
Aku memandang lelaki itu. Wajahnya keras, pandangan matanya tajam. Cukup berkarakter, tapi umurnya sudah tua. Danif memperkenalkan kami. “Fahri Saiful”, kata pria itu sambil menangkupkan tangannya. Layla duduk di sampingku, aku tersenyum kecut pada gadis itu. “Alim sih, tapi apa nggak terlalu tua?”, bisikku. Danif membuka pembicaraan. “Baiklah, Ustadz Saif akan menjadi saksi di pembicaraan kita kali ini. Syahriza, aku ingin mengkhitbahmu, Insya Allah jika kamu bersedia, aku akan menghadap kedua orangtuamu”.

“Aku akan jujur, aku berasal dari keluarga biasa saja dan sederhana. Aku tak memiliki banyak hal yang bisa kubagi denganmu untuk saat ini. Aku bahkan belum menyelesaikan studyku, tapi aku sudah memiliki usaha sendiri yang semoga saja bisa menjadi berkah untuk kita nantinya. Kau pernah bilang, kau tidak mengharapkan pemuda tampan, kaya dan terhormat, asalkan pemuda itu bisa mengajarimu mengaji, itu menjadi kualifikasi utamamu. Insyaallah aku sudah hafal al-Qur’an dan semoga itu bisa memenuhi persyaratan yang kau tentukan”.
Duniaku gelap. Orang ini gila. Diantara ratusan bidadari surga yang menjelma, mengejawantah menjadi santriwati di pondok ini, kenapa dia memilih berandalan yang luarbiasa bandel untuk mendampingi hidupnya. Danif nggak waras, mungkin dia salah minum obat. Atau baru jetlag? Atau terbentur bedug masjid?.
Aku berfikir cepat.
“Apa yang membuatmu berfikir seperti ini?”.
“Istikharahku tadi malam, dan aku yakin pada hatiku, Insyaallah”.
Aku merasa tertantang dan menjawab taruhan darinya.
“Baiklah...aku bersedia”.
-----
Kupikir pemuda berwajah innocent itu hanya main-main, paling dua hari lagi dia akan SMS membatalkan semuanya. Tapi, dia tak pernah menarik ucapannya. Tak pernah hingga hari ini menjadi kenyataan. Sebulan setelah dia melamarku, walimatul’ Ursy diselenggarakan. Semua dibiayai olehnya, dalam kesederhanaan. Dia membuat satu persyaratan, karena aku akan memasuki kehidupannya, aku harus mematuhi aturannya. Tak ada pesta besar, hanya syukuran di rumah dengan mengundang tetangga sekitar. Aku masih JetLag dengan pernikahan ini, hingga tak menyadari, satu hati seorang gadis hancur lebur, patah berkeping. Hati sahabat baikku, Layla.
Aku tak pernah mengerti dan mengenal cinta. Aku tak menyadari bertapa kagum Layla akan Danif. Gadis itu memuja Danif, mencintai Danif. Menyebut nama Danif dalam permintaan malamnya di kala aku terlelap. Memberikan surat-surat cinta untuk Danif di setiap akhir shalatnya, sementara aku masih sibuk menghafal shalawat dan melagukannya dengan menghianati nada, sumbang minta ampun. Karena mencampur adukkan dengan nada lagu Encore. Aku benar-benar tidak peka, kenapa Layla tiba-tiba sakit setelah Danif melamarku. Kupikir hanya masuk angin biasa. Aku baru tahu, ayah Layla pernah melamar Danif untuk Layla, tapi pemuda itu menolaknya.
Jika aku menjadi seorang pria, aku akan lebih memilih Layla yang cantik, baik hati dan pintar mengaji. Danif benar-benar kehilangan akalnya. Apa yang bisa dia dapatkan dariku?. Aku kalah segalanya dibanding Layla. Aku merasa menyesal, tapi aku tak bisa menarik ucapanku. Aku hanya bisa meminta maaf pada Layla, yang sepertinya masih kesal padaku. Aku sangat menyesal.
“Baiklah Tuhan, aku tidak akan menjadi bocah badung lagi, aku akan belajar menjadi orang baik”. Kupandang pemuda di sampingku. Seperti malaikat, begitu jernih dan bersih. Suaranya lantang dan tegas saat mengucapkan Ijab-Qabul dalam bahasa arab yang fasih. Aku heran, manusia sebaik ini ... apa yang dia inginkan dariku? Tantangan? Rasa penasaran? Atau gara-gara dia terpaksa bersentuhan denganku saat aku jatuh dari pohon jambu dulu?. Aku benar-benar tak bisa menemukan hipotesis yang tepat untuk hal ini.

Ranjang pengantin.
Aku benar-benar panik, Masya Allah, aku lupa, menikah tak lepas dari hal ini. Berkali-kali kusebut nama Tuhan. Seumur hidupku, aku sudah senewen dengan makhluk berjenis lelaki, berkenalan saja tak sudi, apalagi bersentuhan. Aku jadi teringat pelajaran Biologi waktu kelas tiga IPA dulu. Kepalaku pening membayangkan makhluk asing akan menyentuhku. Tidak! Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Danif, aku nggak siap. Aku sebenarnya phobia sama cowok! Makanya aku selalu ketus sama mereka.
Aku semakin panik, karena dari tadi membalas SMS yang terus menerus masuk, aku tak sadar, bunda dan kakakku sudah tak menemaniku lagi, aku sendirian di kamar ini. Aku ingin berdiri dan berlari ke arah pintu, tapi kakiku tak bisa bergerak, di detik aku mencoba beranjak, pintu terbuka dan Danif masuk. Berjalan perlahan menghampiriku, melepas kacamatanya dan meletakannya di meja, ternyata dia lebih tampan tanpa kacamata, sorot mata itu terasa lebih tajam, seperti mengupasku.
Bibirnya bagus.
Itu hal pertama yang terfikir ketika aku bertemu dengannya saat aku jatuh dulu. Tebal, berwarna merah, karena anti rokok. Dan aku segera mengenyahkan pikiran kotor itu.
Aku berusaha Stay Cool. “Tenangkan dirimu Riz, kalau orang ini macam-macam, masa jurus taexwondomu nggak mempan?”. Whattt? Taexwondo?. Apa aku harus menghianati kewajibanku?. Meski umurku hampir seperempat abad, aku merasa masih sama begonya dengan anak kelas dua SD. Pacaran saja tidak pernah, tiba-tiba menikah, gandengan tangan sama cowok, hanya sama ayah dan kakakku. Lelaki yang pernah kusentuh hanya mereka, perkecualian waktu aku berantem dan tawuran, menyentuh rahang lelaki dengan kepalan tanganku bukanlah hal yang romantis.
Danif tersenyum dan semakin dekat, lalu duduk di sampingku. Aku seperti berhadapan dengan Osama Bin Laden dengan Bom siap meledak di tangannya. Keringat dinginku mengalir.
“Kok jilbabnya belum dibuka?”.
Danif mengurai pita jilbabku dan melepasnya. Tubuhku kaku. Tidak! Tidak! ini gawat, masa gara-gara senyum pepsodent itu aku jadi bego dan gagu? Aku harus kabur. Tapi dia mengunciku dengan pandangan matanya.
“Kamu cantik”, dia memainkan ikal rambutku. Tuhan, apa dia tidak tahu? Jantungku sudah hampir berhenti berdetak, aku sangat takut, tapi juga merasa aneh. Biasanya, reaksi wajarku adalah menonjok wajah pria manapun yang berani menyentuhku.
Dia mendekatkan bibirnya di keningku dan mengucapkan basmallah. Lalu, seperti menyadari sesuatu, dia tertegun melihat airmataku. Dia menyadari perlahan, ketakutan yang ada dalam diriku. Danif memegang tanganku yang sedingin es. Aku terisak. “A...aku...phobia cowok...”, bisikku pelan. Sejenak wajah Danif tak bereaksi. “Wak..waktu SMP, aku lewat gang yang sepi, aku hampir dicium Oom-oom, lalu aku panik dan melemparnya dengan batu, sejak saat itu, aku phobia cowok, aku sebenarnya takut, makanya aku selalu menghindari cowok... “. Tampaknya Danif mulai faham, dia tersenyum dan menenangkanku seperti seorang kakak pada adiknya. “Aku belum pernah pacaran ...”, bisikku. Mungkin semula Danif tak mengerti lalu otaknya mencerna kata-kataku. “Subhanallah, kau belum pernah ... pacaran? Ternyata kau masih lebih suci dariku, aku pernah pacaran waktu SMU”. Danif berdiri dan berjalan mondar-mandir di depanku. “Jadi, kita mulai dari awal nih? Kita bersahabat dulu, pacaran... lalu menikah?”. Aku mengangguk cepat. “Ya, sobatan dulu, deal!”.
Aman.aman. aman...
Dia bersedia tidur di bawah beralaskan bedcover. Aku jadi penguasa kasur malam ini, ditemani Alfred, bonekaku yang berkacamata. Ah, kasihan si kacamata yang satu lagi. Aku tersenyum memandang wajah damainya yang tertidur di bawah ranjang. Maafkan aku, sobat! Aku salut akan pengorbananmu dan aku semakin yakin, pilihanku mungkin nggak salah. Danif orang yang baik, sangat baik, aku terlelap dalam damai.
---
“Hei, bangun!”, tubuhku terasa remuk redam. Sebuah suara berbisik halus di dekat telingaku. Perlahan kubuka mataku. Aku menjerit kaget. Kenapa ada lelaki di kamarku? Danif membekap mulutku lalu menatapku penuh pengertian. “Masih Jet Lag ya? Sudahlah, cuci muka, lalu berwudhu, ini sudah hampir subuh, kita shalat malam dulu sambil menunggu waktu subuh”. Aku hampir rebah lagi di kasur sebelum suara tenor itu mengancam, mengingatkan. “Katanya pengen jadi anak baik?. Kamu harus jadi murid yang baik ya ... kau sudah berjanji padaku ... sobat!”.
Suaranya jernih sekali, aku merasa shalatku kali ini khusuk karena dipimpin orang yang benar. Aku meminta banyak hal dalam sujudku. Semoga aku bisa membahagiakan orang yang menjadi imam dalam shalatku ini. Aku akan menjadi manusia baik, tidak nakal lagi, tidak bolos kuliah lagi, aku akan menata masa depanku dengan serius.
Kau pikir menikah itu enak?.
Seminggu pertama, saat masih liburan di rumahku, semua dikerjalan orang rumah, tapi, minggu kedua lain lagi. Danif membereskan barang-barang kami. Dia hanya memperbolehkan aku membawa pakaian dan laptopku. “Aku punya beberapa unit komputer, komputermu kau copot Harddisknya saja. Lalu tersenyum manis sekali. “Gimana kalau segala jeans dan setan ... maksudku, jacket-jacket distro ini kau loakkan saja?”. Aku berkaca-kaca. Koleksi jacket dan kemeja distroku yang keren abis, cool... arrgh! Tahukah dia, demi mendapatkan jacket hitam Army look itu aku rela gajiku sebulan magang di Distro untuk membelinya. “Nggak bisa ... kalaupun aku tak bisa memakainya lagi, aku ingin kau yang pakai, itu all size!”. Tinggi Danif hanya 172 cm, body-nya masih bisa ditoleransi, belum terlalu kekar, jacket itu melekat pas di tubuhnya. Aku memandangnya takjub. Ah, betapa indah dunia ... Leonardo D’Caprio aja kalah macho. Brad Pitt aja kalah ganteng. Danif memandang dirinya di cermin. “Wah, jadi inget waktu aku nge-band dulu...”, gumamnya pelan. Aku melotot. What? Pak ustadz pernah nge-band? Kapan? Dimana?.
Seolah mengerti sorot bertanya di mataku, dia tersenyum. “Masih ingat D’Garde? Band SMU 1? Aku Bassistnya!”. Bohong! Bohong! Masa sih... aku mencoba mengingat-ingat...enam tahun yang lalu ... waktu perpisahan SMU-ku, kami mengundang Band dari SMU 1 Tunas Bangsa. D’Garde yang terkenal itu? Aku kenal Vocalistnya, Ferrial, temen SMPku dulu, Drummernya Icus, rumahnya tak jauh dari rumahku. Dan... ya ampun! Aku menuju ke lemariku, membuka album foto lamaku. Ada foto D’Garde waktu ngeband. Seorang cowok kurus berdandan Gothic asyik mencabik gitar elektrik tepat di sebelah Ferrial yang sedang meraung. Cowok itu berambut lurus, belah tengah pula, kenapa sekarang berambut ikal?. “Kok kamu sekarang ikal?”, tanyaku. Danif nyengir. “Kebanyakan kegiatan, mungkin, hahaha...udah mulai ubanan juga ...”. melengkapi keherananku, dia berujar. “Dulu, nama panggungku Dhany ... aku penggemar berat Dewa 19 soalnya, hehe...”. ternyata, banyak hal yang tak kuketahui tentang suamiku satu-satunya ini. “Aku juga pernah kerja nge-band di Caesar cafe...”. “Apaaaa?!!!”.
“Tukang dugem, berandalan juga ... sering berantem di bar ... cowok tak bermasa depan dengan Impian jadi anak band ...”. cerita yang keluar dari bibirnya tak bisa ku percaya. “Nah, masa laluku tak kalah hitam darimu, tapi .. aku bisa jadi a better person sekarang, ku yakin, kamu pun bisa”, dia merapikan koperku. “Ayo berangkat....”.
Aku memeluk bunda dan ayahku. Air mataku mengalir. Tumben ayahku hanya cengar-cengir, dulu, setiap kali aku mau berangkat kuliah ke Yogya, ayah bisa berkaca-kaca. Ibuku pun tampak berbunga-bunga. Hei, padahal aku mau pindah rumah, ke tempat yang jauh ... apa mereka nggak sadar ya?. Rumah Danif dan rumahku tiga jam perjalanan dari sini. Danif memboncengkan aku dan berlalu ... rumahku, aku akan merindukanmu.
“Nah, sudah sampai...turunlah”.
Aku ternganga. “Ini rumah siapa?”. Kami turun di Blok O Perumahan Asri Indah. “Ini Rumahku ... masuklah!”. Ah, ah, aku kaget!. Masa sih?.
“Bukannya rumah kamu di Banjar itu? Aku kenalan dengan orangtuamu kan di sana? Kamu punya dua rumah?”. Danif nyengir. “Itu rumah orangtuaku, ini rumahku ...”. aku faham. “Ibuku setiap minggu kesini, biasalah, anak pertama, tunggal pula, orangtuaku sering main kemari, jangan kaget ya, ibuku sebenarnya agak cerewet, tapi beliau baik kok”. Rumah mungil dengan dua tingkat. Lantai satu berfungsi sebagai toko komputer beserta pernak perniknya, masih tutup, kan pemiliknya baru kawinan. Lantai dua sebagai rumah tinggal, ada dua buah kamar, satu dapur, dua kamar mandi, ruang tamu mungil, ruang makan, semuanya dalam keadaan berantakan. “Dulu aku tinggal sendirian sih, maaf ya, berantakan ... biasanya dijadikan base camp teman-temanku di pondok, ada dua anak yang bekerja di bawah kalau aku sedang pergi. Namanya Eqbal dan Arif, nanti kalian bisa berkenalan”.
“Ehm, tunggu dulu, kok kamu nggak bilang kalau rumahmu hanya berjarak limaratus meter dari rumahku?”. “Kamu nggak nanya”. “Tapi kan... Masya Allah, kupikir kita akan tinggal di rumah orangtuamu, lagipula, kalau kita tetanggaan gini, aku di Blok A dan kamu di Blok O, kenapa kita nggak pernah ketemuan?”. “Aku kuliah di Semarang, kamu di Yogya ... aku sering di pondok, kamu jarang keluar rumah karena hobby main game kamu yang gila-gilaan itu, ya kan? Padahal kita dulu satu SD kalau kamu mau tahu!”. Aku tertegun. “Masa sih?”.
“Sebelum ortuku pindah ke Banjar, aku pernah lama tinggal di sini, sampai kelas lima SD. Lalu aku pindah rumah dan perumahan ini disewakan selama puluhan tahun sebelum aku kembali lagi ke kota ini. Waktu SD aku di kelas C, kamu kelas A ... memang sih beda kelas ... ah, sudahlah, anggap saja kita baru bertemu dan Ta’aruf, okey ... “.
Jadi, selama ini dia telah tahu banyak tentang aku. Dia mengenalku dan aku samasekali tak mengenalnya. Tunggu, dia tadi bilang di kelas C. “Kamu dulu sekelas sama Marik? Saudara kembarku?”, aku memandangnya. Danif tersenyum. “Ya... aku sangat akrab dengan Marik, lihat saja foto-foto waktu Marik SD dulu, kemungkinan ada aku disana, di SD kami satu Bus waktu Dharmawisata, kami sering dikira saudara’an, padahal sama sekali nggak mirip, kami bahkan sering belajar bareng di rumahmu, kaget ya? Sebenarnya, waktu kamu datang ke pondokan pak Yusuf, aku sudah mengenalmu, aku datang waktu pemakaman Marik ...”, Danif memandangku dalam, penuh kesedihan. “Besok kita akan berkunjung ke tempat Marik, nah sekarang kita beres-beres rumah dulu, nanti sore keluargaku akan berkunjung, kamu bisa masak nggak?”.
Mati aku. Hal yang paling tak bisa kulakukan dengan baik adalah memasak. “Ya, kayaknya bisa, kita lihat saja nanti ...”, gumamku tak yakin.
Kami bekerja rodi seharian membereskan semuanya. Bau kulkas sampai tak tertahankan lagi, dasar cowok, semuanya dimasukkan di dalamnya dan di tempat yang salah pula, padahal tenpat untuk daging dan sayur itu beda. Banyak juga jamur kaleng yang sudah kadaluwarsa. “Kebersihan itu, sebagian dari Iman, pak Ustadz...”. “Ya deh, maaf bu, aku sibuk sekali sih”. Sesibuk apa sih Danif?. Dua hari lagi, setelah liburan berakhir, aku baru mengerti, kehidupan seperti apa yang dijalani Danif. Mungkin Presiden SBY masih kalah sibuk dengan suamiku ini. Danif sangat ... sangat ... Workaholic.
Dia berangkat mengajar di suatu SMK sebagai guru Elektro setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at, mengajar di SMA Swasta sebagai guru komputer setiap Selasa dan Kamis. Mengajar sampai pukul dua siang. Kuliah setiap Sabtu dan Minggu dari pukul 2 sampai menjelang Maghrib. Sore hari setiap Senin sampai Rabu bekerja sebagai Drafter di suatu perusahaan konsultan, kadang pulang menjelang subuh, masih ditambah pula harus bolak-balik ke pondok mengurus Al-Quds. Sekarang, bebannya bertambah, mengurusku di rumah. Aku jadi merasa bersalah, mungkin aku kurang tepat tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.
“Besok aku izin ke Yogya, aku akan menyelesaikan kuliahku selama 3 bulan di SP dan Insya Allah bulan ke empat aku sudah wisuda, aku mendapat tawaran mengajar Ekonomi di suatu sekolah, tadi ayahku telpon, dan aku minta pendapat kamu, boleh atau tidaknya?”. Dia tidak akan kehilangan aku, dia terlalu sibuk bekerja. Danif menyuruhku duduk di sofa. “Rhytmenya terlalu kencang ya?”. “Apa?”. “Rhytme hidupku, apakah terlalu kencang? Maafkan aku ... hampir satu bulan kita menikah, aku tak punya waktu untuk kita, Riz, aku nggak bermaksud ...”. “Sudahlah, it’s okey, masih banyak waktu, kita berpisah dulu selama empat bulan ini ... aku sendiri pun tak siap menjalani kehidupan seperti ini, aku ternyata masih ingin sendiri ...”.
Aku memang butuh waktu untuk berfikir. Banyak waktu.
Apakah suatu pernikahan itu seperti ini?. Kami seperti dua anak kost yang tinggal satu atap, beda kamar. Aku dengan duniaku, dia dengan dunianya. Sebagai suami-istri, waktu untuk berpacaran saja tak ada, bagaimana bisa saling mengenal?. Kadang aku bertanya-tanya, apa mungkin karena tak ada rasa cinta diantara kami? Selama ini dia memperlakukan aku seperti sahabat, tapi, mungkin karena pertama kali aku sendiri yang memintanya. Aku belum siap jadi istrinya.
---
Tampangku hari ini, seperti menantu yang baru diusir dari rumah mertuanya. Aku menelepon bunda untuk menyiapkan sarapan setiap pagi untuk Danif selama aku pergi, bunda sempat marah-marah. “Memangnya suami kamu itu kau anggap apa, Riza? Sebaiknya kau transfer saja, kuliah di sini”. “Nggak bisa bunda, toh hanya empat bulan, Danif juga sudah mengizinkan, please bunda”. Meski rumah orangtuaku dekat dengan tempat tinggalku, demi menghormati Danif, aku hanya pulang setiap hari Minggu, itu pun aku sudah diusir-usir bunda. “Tapi di rumah sepi, bun, hanya ada anak yang kerja di toko, Danif keluar terus”. Bunda tak mau tahu, aku merasa, bunda sudah terlanjur jatuh hati pada Danif. Bunda menemukan Marik dalam diri Danif, hingga cintanya pada Danif lebih besar dari cintanya padaku. Beberapa hari yang lalu, Bunda membeli koko di Rabbanni hanya untuk Danif, bunda lupa membeli jilbab untukku. Ah, Danif bisa membuat siapa saja jatuh cinta padanya, tapi, entahlah, aku tidak bisa mencintainya.

Setengah tahun meninggalkan kost-ku, kamarku masih sama seperti dulu, Mbak Nah tetap membersihkannya walau aku tak menempatinya. Renny, Jesse dan Anita berteriak girang menyambutku. “Kuliah lagi Riz... kau tinggal suamimu yang cakep itu begitu aja? Nggak takut diambil orang?”. Suami yang super sibuk? Buat apa?. Aku mencoba tersenyum. “Ya, empat bulan doang, Danif masih tahan kutinggal kok, oh ya... gimana kabar kampus?”.
Bahkan, kamar kostku yang selama ini kuanggap tempat paling nyaman sedunia, tempat pelarianku waktu aku diomeli ayahku untuk segera menyelesaikan studyku, kini terasa gerah. Aku rindu kamar rumah Danif yang sejuk, aku rindu jendela kecil yang menyajikan pose gunung yang biru tiap kali aku membukanya. Aku rindu sapaan lembutnya membangunkan aku setiap subuh. Suaranya yang berat saat menjadi Imamku. Masakannya, yang tak bisa dianggap enak, tapi lumayanlah untuk ukuran cowok, aih, kenapa aku merindukannya?. Aku memandang buku-buku Ekonomiku. Aku harus kelar, tinggal dua mata kuliah, enam SKS, dan selesailah sudah. Aku harus tahan dengan kuliah yang membosankan dan ujian SP yang menyebalkan.
“Maaf, aku nggak janji bisa datang, tapi kuusahakan yah”, SMS pendeknya masuk. Ya Tuhan, ini hari wisudaku dan dia nggak bisa datang? Keterlaluan!. Hatiku terasa sakit. Rasanya ingin kubuang toga yang akan ku kenakan esok pagi.
Aku berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatku. Aku tak peduli lagi pada Danif. Dia tak datang, aku memasuki gedung dan menjalani prosesi wisuda yang singkat. Sampai akhir acara, Danif bahkan tak meninggalkan pesan apapun di HPku. Sebenarnya, dia menganggapku apa?. Bahkan, seorang sahabat saja akan datang untuk merayakan wisudaku. Suamiku sendiri, sangat cuek. Mungkin ini kelemahan Danif. Aku benci dia.
Kuingat-ingat, selama aku kuliah, dia hanya satu kali menjengukku di kost, itu saja untuk memberikan kartu ATM. “Kalau aku tidak memberimu nafkah selama tiga bulan, itu sangat gawat, jadi, sementara, pakai kartu ini dulu ya...pergunakan dengan baik, jangan terlalu boros!”. “Memangnya kau isi berapa?”. “Enam ratus ribu, hehe... di sini kan banyak toko game, aku takut kamu gila-gilaan beli kaset game terbaru”. “Baiklah, dua kaset boleh ya?”. “Nggak, satu kaset aja! Kalau pakaian bolehlah, terutama untuk uang makanmu, nanti tiap bulan aku isi enam ratus, di hemat ya! Nyari uang nggak gampang!”. Dia menepuk kepalaku lalu pamit. Setelah itu, SMS saja jarang. Harga diriku terlalu besar untuk balik SMS menanyakan kabarnya. Salah siapa mau kawin sama aku!. Dia cuek, aku tambah cuek. Tapi sakit juga sih kalau tak mendengar kabarnya, aku sangat sakit, tapi kutahan.
“Cemberut ya?”, sosok tinggi yang tiba-tiba hadir di sampingku membuatku kaget. Aku tak mau menoleh ke arahnya, tapi tak tahan juga. “Jahat! jahat! Jahaaaat!”, dengan gemas kupukuli tubuhnya, dia memelukku lalu tertawa. “Ehm. Maaf terlambat, jalanan macet tadi...”. Aku masih terisak. “Ayah dan Bunda di luar... ah, lihat wajahmu, jelek sekali...”, dia mengusap air mataku yang berlinangan, hari ini, aku merasa menjadi perempuan, yang lemah, yang cengeng, yang butuh seorang lelaki untuk mendampingiku. Keangkuhanku runtuh sudah. Danif menggandengku keluar ruangan, sahabat-sahabatku bersuit tak karuan. “Pengantin baru neh...”, teriak Davin. “Dijemput nih ye, habis ini langsung ke hotel...”, gurau Eka sambil ngakak. Aku hanya bergumam kesal. Danif tertawa dan melambai pada teman-temanku. Di luar orangtuaku sudah menunggu. “Selamat ya, sudah jadi orang sekarang”, ayah memelukku. Hei, memangnya selama ini aku bukan orang?. “Nah, kau mau ikut kami, sekalian ke tempat nenek, atau sama nak Danif?”, tanya ayahku. Aku tertawa. “Biar barang-barangku di kost yang ikut ayah, aku mau bicara sama Danif dulu...”.
Setelah menghapus make-up tebal dan berganti pakaian, aku menemui Danif. “Mau ke mana nih?”, tanya Danif. “Pacaran, boleh kan? Sekarang aku sudah wisuda, sudah S1”. Danif memasang wajah sedih. “Aku belum lulus S1 je, masih enam bulan lagi ...”. aku menepuk kepalaku. “Wah, beginilah kalau menikah dengan cowok bego...lemot...”. “Yah, aku memang banyak kekurangan, tapi Tuhan berbaik hati menutupinya, ah sudahlah, kita langgar aturan sedikit, peraturan ada untuk dilanggar, ya nggak?”. “Ustadz kok ngomongnya gitu?”. Danif nyengir, wajah ustadznya memudar, berganti menjadi berandalan jahil. “Ah, baiklah, kita pacaran yuk, ke Malioboro, gimana? Uang yang kukasih masih berapa? Atau sudah habis?”. “Masih utuh”. “Lho, terus, selama ini kamu makan dari mana?”. “Aku masih dijatah sama ayahku, nggak papa kan?”. Kupikir dia akan marah dan menyinggung soal harga diri, tapi dia malah tersenyum. “Asyik dong, mungkin malah cukup buat nginep di Novotel tiga hari?”. “Jangan mimpi, buktikan dulu, kamu bisa jadi pacar yang baik nggak?”.
Aku baru sadar, motor Danif baru. Motor balap. Tadi otakku terlalu kacau jadi tak menyadarinya. “Ah, jadi alasanmu bekerja keras selama ini hanya untuk beli motor? Terus, dua motormu yang lain kau kemanakan?”. “Di garasi, hehe, lho, ini kan hobby, boleh dong bersenang-senang dikit”, dia melajukan motornya dengan kencang, kali ini aku terpaksa memeluk pinggangnya. “Sengaja ya...sengaja ya.... jangan terlalu kencang!”, dia tertawa saja.
---
Tiga hari di Yogya. Acaranya cuman main, makan, minum, dan...ranjang tetep pisah lah yaw. Entah kenapa... pokoknya aku masih saja merasa asing dengan status sebagai Istri, biar...biarlah pacarannya diperlama saja, biarlah norak begitu, aku kan belum pernah pacaran, hehe, jadi dipuas puasin dululah. Toh Danif tak pernah merayu mesra, paling banter hanya menggandeng tanganku saja. Setelah itu pulang ke rumah, pakai motor tentunya, perjalanan panjang tapi mengasyikkan. Tapi, aku rindu dengan motor RX-King versi lama milik Danif, aku lebih cinta motor itu daripada motor barunya ini. Sumpah mati, Danif lebih Macho dengan King-nya, saat dia pertama kali menginjakkan kaki ke rumahku, aku terpana bukan karena Danif-nya, tapi karena RX-King hitam yang cute abis itu, karena sejak kecil aku suka motor RX-King.
Kami berhenti sejenak di Pondok Makan yang terletak di kaki gunung, pemandangannya sungguh Indah, adem pula, Danif menyampirkan jacket hitamnya padaku. “Paru-parumu, masih lemah ya? Dari tadi batuk terus?”. “Ya, begitulah, tiap kali kena udara dingin badanku nggak enak”. “Makanya, olahraga dong, jangan di rumah mulu, gimana kalau kita atur jadwal buat lari pagi?”. Aku memandangnya. “Memang kamu sanggup? Tiap kali kamu pulang pukul dua malam, setelah habis subuh, masih bisakah marathon? Ah, nggak, kamu istirahat saja, aku takut malah kamu yang tepar”. Danif nyengir. “Tepar? Nggak pernah tuh, tubuhku sangat...sangat...sangat fit”.
Pelajaran moral pertama : Jangan sombong terhadap kekuatan diri sendiri!. Duapuluh empat jam empatpuluh lima menit dan tigapuluh detik kemudian Danif merasakan kepalanya sangat pening, tepar! Masuk angin!. Seharian dia tak bisa keluar kamar, shalat terpaksa di tempat tidur. Aku hampir-hampir menangis, gimana nih ngerawat anak orang segede ini?. Aku kompres dahinya, panasnya nggak turun juga, aku telpon bundaku, ayah dan bunda datang, memberikan obat penurun panas. Saat mulai mendingan, bunda pamit. “Jangan lupa obatnya diminumkan, biarkan Danif istirahat, siapkan air minum setiap saat, oh ya, sebaiknya kamu bikinkan bubur saja, setiap yang masuk mulutnya pasti terasa pahit ...”.
“Tolong dong, aku dikerokin...”, pintanya manja. Masya Allah, aku aja kalau dikerokin emak-ku gelinya minta ampun, gimana ngerokin anak orang. “Aku nggak bisa”, bisikku pelan. “Biar mendingan...please”, ah, anak ini pasti dari kecil dimanjain emaknya. Tuhanku yang maha baik, maafkan aku. Danif membuka bajunya. Gile...Six Pack, diapain tuh perut? Perasaan aku jarang lihat dia olahraga. Kupikir dia berlemak, karena selama ini dia selalu pakai kaos lengan panjang di manapun dan kapanpun. Kaos kesayangannya lengan panjang warna ijo yang selalu kucuci dua hari sekali saking dia demen pakai tuh kaos, padahal sudah kubeliin banyak kaos keren, aku pernah cemburu pada kaos ijo itu. “Loe pasti dibeliin sama mantannya Danif ya? Ngaku aja deh loe!”, tuh kaos malang kuucek-ucek, kuinjek-injek, lalu kubanting-banting trus ku smack down, kalau tuh kaos bisa ngomong, pasti sudah merintih-rintih kayak TKW Indonesia yang disiksa majikannya. Belakangan baru ketahuan kalau kaos itu ternyata kenang-kenangan dari Pak Kyai Yusuf karena Danif menamatkan hafalannya. Dibeli di Arab sono, waktu pak Haji baru pulang Umroh yang ke tigabelas kalinya.
Kembali ke six pack. Kalau buat nyuci kaos boleh juga tuh...aku menelan ludah (bukan berarti aku jadi bernafsu untuk menggoreng atau memanggang Danif). Aku mendekat perlahan-lahan, seperti Samuel Winchester di Drama Supernatural berhadapan dengan Drakula, dan entah darimana, tiba-tiba terdengan warning yang suaranya mirip punya bang Napi terngiang-ngiang :Waspadalah! Waspadalah!, kejahatan terjadi karena ada kesempatan untuk pelakunya!. Wah, kacau, ini mungkin gara-gara pikiran ngeres doang, apa sih yang bisa dilakukan seorang cowok yang sedang masuk angin berat?. Bernafas saja susah.
Aku bersenjatakan sekeping uang logam limaratus perak dan minyak angin yang tidak perlu disebutkan mereknya, mendekati pasien berwajah Nicky Hayden tapi berambut kayak Valentino Rossy itu...ah, juga punya sifat cool-nya Dany Pedrosa tentunya. “Di sini ya?”, aku mulai beraksi, anggap saja lagi ngerok undian di tutup gelas Ale-ale, siapa tahu dapat motor. “Kurang keras tuh, nggak ada rasanya. Baru kutahu, kulit Danif ternyata setebal kulit badak, untung mukanya nggak mirip badak. Kupakai seluruh kekuatanku, akhirnya dia nyaman juga. “Nah, nanti yang situ dipijitin yah, pegel banget tuh”. Sialan, emang sekarang posisiku jadi tukang pijit?. Enak ajah, emang dia siapa berani nyuruh-nyuruh anak pak RT. Ku baru sadar, dalam Al-Qur’an, Danif sudah memiliki hak untuk menyuruh-nyuruh aku, istrinya.
Lullaby....
Akhirnya dia tertidur juga, keringatnya banyak sekali, kasihan. Tapi, kalau dilihat-lihat, wajahnya bisa imut juga, taruhan deh, tuh jenggot pasti dia pelihara supaya lebih kelihatan dewasa, kalau dicukur, pasti tampangnya innocent abis!. Terkadang, aku merasa kasihan padanya, punya dosa apa sih Danif sampai punya bini kayak aku, ngurus dia nggak becus, masak gak enak, tampang nggak jelas, otak pas-pasan, wah, dan apa yang nenek moyangku lakukan dulu hingga aku bisa mendapat anugrah terindah seperti makhluk manis di hadapanku ini.

(aduuuhhhh, aku nggak bisa nerusin cerita ini...hiks...hiks..............kenapa ya...sobat...tolong, kalian saja yg nerusin, aku pusiiinggg!!!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar