Sabtu, 23 Mei 2009

Masjid Cinta

Feel’s Like Today

“Kaifa haluk?”, dia tersenyum, menyambutku hangat. Entah kenapa, setiap pertemuan yang kami alami, selalu terjadi di masjid. Menurutku, masjid begitu indah, tenang dan sempurna. Masjid adalah tempat umat memadu rindu pada Allah, begitu banyak doa, permintaan dan rasa syukur dipanjatkan, seperti butiran debu emas yang naik ke langit, sangat indah. Entah berapa ribu malaikat mengepakkan sayapnya di atas masjid ini ketika malam seribu bulan tiba?. Sayup terdengar alunan Al-Qur’an yang sedang dibacakan. Rasa lelahku selama beberapa jam duduk di bus terbayar sudah. Kami duduk di lantai luas batas suci. Marmer hitam yang melingkupi kami menjelang sore hari terlihat seperti laut hitam yang teduh. Kulihat matahari mulai terbenam, duh, indahnya.
“Kamu semakin kurus, apa terlalu memaksakan diri?”, dia merebahkan tubuh jangkungnya dan menatap langit yang bersemu warna orange, aku melihat pantulan langit dari kacamatanya. “Tubuhku sudah kurus dari dulu, hehe, aku tak pernah memaksakan diri kok”. “Paling tidak, jangan terlalu maksain diri, kalau begadang, bawa bekal makanan atau sari buah, bagaimanapun kau tetaplah manusia biasa, bukan superman”. Aku melihat lelah di wajahnya yang teduh. “Istirahatlah, kau akan terbangun nanti jika Adzan dikumandangkan”, aku membuka ranselku dan membaca buku karangan Kang Abik. Mihrab Cinta. “Kita kan baru bertemu, nggak apa-apa kalau kutinggal tidur?”. “Tidurlah, melihatmu baik-baik saja aku puas, meski terkadang kau tidak memberi kabar selama berbulan-bulan, jarang SMS, telpon dan membalas E-mail, aku selalu yakin kau memiliki alasan yang tepat, bisa bertemu seperti ini saja, aku sudah bahagia”, kulihat dia perlahan memejamkan mata dan menikmati angin membelai halus helai rambutnya. Allah yang Agung, jika diperbolehkan, tentu akan berpuas diri untuk memandang wajahnya, wajah yang kurindukan dan selalu hadir dalam mimpiku, tapi aku harus menjaga keindahan wajah itu dan menjaga hatiku sendiri. Sesaat aku ingin membelai helai rambutnya dan menggenggam tangannya, aku ingin memastikan dia baik-baik saja. Tapi dia adalah permata yang diberikan Allah padaku, permata terindah dan aku tak ingin tangan ini menggoresnya, aku akan selalu berhati-hati menjaganya.
Sayup kudengar Fussilat 30 dibacakan, dalam keheningan, aku merasakan kepakan sayap halus melingkupi kami,”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh surga yang dijanjikan Allah”. Ada saat di mana manusia merasa berputus asa dan bersedih hati, tapi akan datang saat kita bisa tersenyum dan tertawa. Pemuda di sampingku adalah Fitrah, yang harus kujaga dengan baik, dulu aku tak pernah ingin mengerti akan cinta, aku tak mau jadi orang yang bodoh dan jatuh hati, tapi saat aku melihat kebesaran cinta Allah, aku menyadari, hatiku yang begitu kecil ini, mungkin seperti butiran debu di pasir, tapi Allah selalu menghargai dan mencintaiku. Saat cinta mendatangiku dan meletakkan kepercayaan di kedua tanganku, aku ingin menjaganya dengan baik, hingga akhir waktu. Cinta adalah kepercayaan, seperti saat Allah memberikan surat-surat cintanya yang terrangkum dalam Al-Qur’an, seperti itulah keindahan cinta, apa adanya, tak lekang oleh waktu, tak perlu revisi, karena cinta adalah kemurnian dan kejujuran. Tak perlu dikurangi dan ditambahi. Cinta terlahir Balance.
Orang-orang mulai berdatangan, mereka memenuhi panggilan cinta. Masjid ini adalah magnet besar, mengumpulkan kemurnian hati dan kepasrahan jiwa. Tunduk pada sang Khalik. Dia membuka mata dan merasakan panggilan itu, Adzan. “Rasanya tenang sekali, meski agak dingin”, dia bangkit dan duduk. “Masih ingat, tidak? Waktu pertama kali kuajak kau kesini, aku juga duduk-duduk di sini, lalu kau mengambil fotoku, apakah, perasaan setahun yang lalu dengan saat ini tak ada yang berubah?”. Kami memandang gemerlap lampu kota yang mulai menyala, bermunculan bagai kunang-kunang. “Masih sama, dan semoga seperti itu, tidak akan pernah berubah, meski pada dasarnya manusia selalu berubah, meski ribuan mil jarak yang sudah kita lalui dan waktu yang terlah lama berlalu, bersamamu seperti ini aku seperti menemukan tempat yang tepat, untuk pulang”. “Wah, memangnya aku terlihat seperti rumah?”. “Lebih terlihat seperti tiang listrik, sebenarnya”. “Ah, andai kau lelaki, sudah kupeluk kau sekarang”, dia memandangku sejenak lalu tertegun. “Afwan jiddan, aku nggak bermaksud menggodamu lho”. “Aku tahu, ah sudahlah, kita memang hanya manusia”. “Yang mencoba menjadi pribadi yang lebih baik, hei, kau masih ingat puisi yang kubuatkan untukmu?”. “Tentang mawar, rembulan dan wangi kesturi?”. “Yup’s, yang kau gubah menjadi puisi tentang kunang-kunang”. “Memangnya kenapa?”. “Aku sekarang mengerti mengapa kau mencintai kesederhanaan, karena kesederhanaan menjauhkan kita dari kesombongan”. “Ternyata kau pintar juga, akhi”. Dia tersenyum. “Jazakumullah”.
Aku selalu menikmati setiap pertemuan kami, walau hanya sejenak, tapi di situlah kutemukan keindahan dari bunga kesabaran. Keterbatasan yang dimiliki manusia akan membuat manusia menyadari siapa dia sebenarnya, karena hanya Allah yang tak terbatas. Waktu yang terbatas, tidak boleh disia-siakan. Karena keimanan kadang datang dan pergi. Mungkin, ada saat dimana kita kecewa dan marah, dan keangkuhan dalam diri kita yang sangat besar, menghalangi kita untuk mengakui kelemahan kita pada Allah, padahal, diantara manusia yang diciptakan Allah, masih ada yang lebih baik daripada kita. Suatu saat tubuh ini akan mati, jadi, disaat kita bisa hidup dan memahami kedamaian, biarkan diri kita menikmatinya.
“Mari shalat”, dia bangkit dan berjalan ke arah masjid. Ya Allah, aku ingin pemuda di depanku ini kelak yang mengimami jalanku. Dia mungkin bukan orang yang paling sempurna, tapi aku yakin, aku akan menjadi pribadi yang lebih baik dengan dia menjadi imamku. Kami melewati ruang pertemuan dan menyusuri bawah tangga ruang akad nikah. Aku memandang anak tangga ruang itu dan berharap, akan ada kesempatan untuk memasukinya. Setahun yang lalu, kami pernah berfoto di sana. Dia berdiri di belakangku dan berkata. “Bagaimana kalau memakai mahzab Imam Abu Hanifah ra?”. Seketika air mataku meleleh. Aku ingin sekali mengamalkan surat An-Nisa ayat 34 tentang wanita yang saleh. “Aku pegang janjimu, baiklah, ayo kita ambil wudhu”. Dia tersenyum penuh arti.
Entah kenapa, pertemuan kami selalu terjadi di masjid. Tapi, mungkin masjid adalah tempat terbaik untuk setiap pertemuan yang halal. Kami berpisah karena harus berwudhu di ruang yang berbeda. Aku menuju ke saf yang diperuntukkan untuk perempuan. Aku memakai mukena dan mengikuti aliran manusia yang mengagungkan Allah. Ya, aku mungkin nanti akan meninggalkan Masjid ini, tapi aku berharap hatiku tertinggal di sini.
teruntuk : Matahari yg suka Ge Errrrr...nah, puas kau? puas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar