UNTUKMU SELAMANYA
(Buat Someone yang terlalu cuek sama keadaan).
Ada yang aneh dengan Kak Nisya belakangan ini, dia selalu murung, senyum indahnya tak lagi bisa kunikmati. Tadinya sih aku nggak nyadar, tapi beberapa hari ini dia selalu ngedengerin lagu mellow kayak punya Ungu, D’ Masiv sampai Afgan yang berjudul Confession. Emang Kak Nisya mau bikin pengakuan sama siapa?. Selama ini dia nggak pernah dekat sama cowok, soalnya dia galak banget kalau sama cowok, dia juga lebih cerdas dari kebanyakan cowok yang ada di kota ini. Mas Ivan yang Insinyur itu? Lewat! Mas Mayheri yang dokter Mer C itu? Bisa skak mat kalau ngebahas masalah agama sama Kak Nisya!. Yang omongannya paling nyambung sama Kak Nisya ya cuma Oom Indra, adiknya ayahku. Mungkin karena Oom Indra udah banyak pengalaman hidup, maklum, sudah tua, hehe.
Kak Nisya udah empat tahun nge-kost di rumahku jadi aku sudah anggap dia kayak kakakku sendiri, kadang apa yang dia rasakan, kegundahannya, kesedihannya, bisa aku rasakan dan dia juga sering curhat kalau ada masalah, tapi kayaknya kali ini masalahnya cukup berat. Tapi, tipe orang kayak Kak Nisya yang selalu lurus dan jujur, kayaknya nggak mungkin melakukan hal yang buruk kayak cewek lain. Ada apa dengan kak Nisya?.
----
Sebelum berangkat magang, pagi-pagi kulihat Oom Indra asyik banget ngelap motor barunya. Motor balap Yamaha YZR itu adalah hasil kerja kerasnya setelah lima tahun kerja di Uni Brooch sebagai teknisi. Oom ku yang satu ini emang pekerja keras tahan banting, dia sempat bekerja serabutan demi menamatkan kuliahnya di Teknik Mesin UNDIP, sebagai anak bontot plus yang paling bandel, pada akhirnya dia bisa unjuk gigi kalau dia nggak seburuk sangkaan kakek. Meski udah lumayan sukses dan setahun lalu bisa beli rumah sendiri, entah kenapa dia masih saja tinggal di rumahku dan malas menempati rumah barunya. “Sepi sih, nggak ada ponakanku yang cerewet plus menyebalkan ini”, alasan Oom Indra seraya melirikku setiap kali bunda bertanya padanya. “Makanya cari istri dong”, kataku. “Iya Ndra, umurmu hampir tiga puluh lho, mumpung masih ganteng dan ada yang mau, emangnya kamu mau nunggu apa lagi?”, tanya bunda. Oom Indra hanya cengar-cengir kayak kuda. Nggak seperti ayahku yang berani berkomitmen dan menikah muda, Oom ku yang satu ini mungkin merasa trauma, gara-gara Nenek dulu meninggal waktu Oom Indra masih balita, mungkin dia merasa takut kehilangan orang yang dia sayangi. “Lebih baik tidak memiliki, karena dengan memiliki kita akan merasa kehilangan”, kata-kata itu pernah kulihat melintas di Screen Saver Laptopnya.
“Pokoknya yang satu ini benar-benar cantik deh, nggak kalah sama Tamara Blezinsky”, promosiku pada Oom Indra. Seperti biasa, kami sepakat menjodohkannya dengan anak teman arisan Bunda. “Yah, udah tua dong”, gerutu Oom Indra.”Emang situ oke?”, candaku. “Ya, seleraku khan yang mirip Zaskia Mecca gitu”, tawarnya. “Oom terlalu tua kalau sama Zaskia”. “Enak aja kamu ngatain Oom udah tua, kita cuman selisih delapan tahun tau? Delapan!”, teriaknya sambil melotot padaku. “Terserah kata Oom deh, pokoknya kata bunda, kali ini Oom harus nurut, kalau tidak, bakalan diusir dari rumah, hehe”. “Sialan”. “Besok siang dandan yang cakep ya? Kita mau kenalin Oom sama Mbak Anna, sambil makan siang di Quality”. “Aku sibuk!”. “Hari minggu khan Oom libur, nggak usah banyak alasan deh, masa ketemuan sama cewek aja takut?”, sindirku. Oom ku yang satu ini malah memble sambil garuk-garuk rambut jigriknya yang udah tiga hari nggak keramas. Hiy!.
“Kak Nisya besok ikut ya?”, kataku sambil mendekati Kak Nisya yang asyik membaca novel. “Kemana?”. “Quality, kita sekeluarga mau makan-makan, sambil itu tuh, nyoba ngejodohin Oom Indra sama anak temannya Bunda, sekalian ngerayain kalau aku udah diterima kerja, gimana kak?”. “Aduh, sayang ya, kakak lagi persiapan sidang tesis kakak nih, gimana kalau lain hari aja?”. “Kakak mo ujian tesis kok baca novel?”, kulihat judulnya Ketika Cinta Bertasbih, karya kang Abik. “Yah, ngilangin stress”. “Mendingan ikutan kita aja, sesekali kakak jalan ke luar rumah, biar nggak pusing”. Kulihat akhir-akhir ini wajah Kak Nisya selalu murung, aku jadi tak tega. “Ya kita lihat aja nanti Vie, kalau kakak bisa akan kakak usahain”.
---
Aku memeriksa e-mail yang masuk hari ini. Ada beberapa kiriman e-mail dari Fegan, sahabat kecilku sekaligus cowok yang paling kusayangi di dunia ini. “Hai Sylvie, kapan main lagi ke Old Town, aku kangen nih?”. Ah, aku juga kangen kamu Feg, tapi aku benar-benar sibuk, tapi beberapa minggu lagi aku liburan, mungkin nanti kita bisa bertemu. Lalu ada beberapa pesan singkat lewat comment dari beberapa sahabatku waktu kuliah S1 dulu. “Vie, kapan kawin?”, tanya Arifin. Aku jadi ingat Oom Indra. “Targetku menikah Insya Allah satu tahun lagi, kalau ada yang berani melamar”, jawabku singkat. Ya, kalau Fegan say, “Would you married me?”. Yeah! I’ll say “I do”. Memang, menikah itu butuh pertimbangan, tapi aku nggak mau sepengecut Oom Indra-ku yang menyebalkan itu. Mungkin dia menikmati dikejar-kejar banyak cewek, karena sekarang dia muda, cakep, lumayan sukses pula, tapi sampai kapan? Semua ada batas waktunya dan semua akan berlalu kalau dia tak menyadarinya. Atau jangan-jangan dia pernah sakit hati? Pernah ditolak? Entahlah, hanya Tuhan dan Oom Indra yang tahu.
Indra Fadjar Bhuana.
Konon Nenek memberinya nama seperti itu karena nenek nge-Fans banget sama Presiden Pertama negeri ini yang punya julukan Putra Sang Fadjar. Mungkin kebetulan, Oom Indra punya senyum gingsul kayak Bung Karno dan menjadi daya tarik buat para cewek. Dengan gaya sok coolnya ditambah motor balap besarmya, dia tampak semakin menarik, kadang aku bangga dengan oom Cool-ku ini, apalagi banyak sahabatku yang juga nge-fans sama oom Indra. Tapi Oom Indra ternyata punya banyak kekurangan, mungkin saking sibuknya sama kerjaan, kadang dia ling-lung, pernah dia nyari kacamata minusnya, padahal tuh kacamata asyik nangkring di hidung mancungnya, dan entah udah berapa kali dia ganti HP karena hilang gara-gara lupa naroh letaknya, tapi aku heran, kok dia nggak pernah lupa sama kerjaannya? Atau laptopnya? Coba dia lupa sama laptopnya! Udah kuambil tuh laptop kesayangannya!. Bahkan laptop itu dia beri nama kesayangan : Tovarishch, yang artinya : sahabat tersayang, wuiiih!. Ada lagi yang aneh sama Oom ku ini, dia agak narsis, penampilannya necis, tapi dia selalu menolak kalau di foto, sok Cool nggak sih?. Pernah suatu hari diam-diam aku potret wajahnya dari samping lalu aku rekayasa pakai Photoshop, dia seperti ciuman sama Aming, dia malah tertawa melihat hasilnya. “Lumayan”, katanya waktu itu, tapi saat aku lengah, dia menghapusnya, nggak tanggung-tanggung, sampai Recycle Bin!. Dasar aneh!.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. “Mulai lagi deh, si Oom masih tidur tuh”, aku ngadu sama Bunda saat melihat kamar Oom Indra yang tertutup rapat. Padahal hari minggu pagi biasanya dia udah lari marathon keliling komplek. “Menghindar lagi kayaknya”. Bunda hanya tersenyum mendengar gerutuanku. “Oom, bangun oom, udah pagi!”. Nggak ada jawaban. “Klek”, lenganku menyenggol knop pintu, ternyata nggak dikunci, tumben. Kulihat si Oom lagi asyik bermimpi, kertas HVS bertebaran di mana-mana, terlihat beberapa rancangan gambar mesin dan model mobil, mungkin semalam dia lembur. Terpaksa aku merapikan kertas-kertas itu. Rancangan model mobil yang digambar Oom Indra lumayan oke. Tiba-tiba ada satu kertas yang menarik perhatianku, di situ tertulis:
Adakah yang salah dengan cinta?
Dia begitu dekat, tapi terasa sangat jauh
Kenapa aku tak bisa memilih cinta?
Apakah waktuku sudah lewat untuk mencintainya?
Mata ini selalu memandangnya, tapi mulut ini selalu terkunci
Di mataku dia bagaikan sekuntum bunga indah
Dan apalah aku, daun yang mulai mengering oleh waktu
Terperangkap mimpi yang tak pernah ku mengerti
Aku jadi merasa bersalah membaca kertas itu. kusebar lagi kertas HVS di lantai dan diam-diam keluar dari kamar Oom Indra. Aku jadi penasaran, apa sih maksud puisi si Oom?. Sampai mengumpamakan gadis yang dia suka bagai sekuntum bunga dan Oom adalah daun kering?. Jangan-jangan Oom Indra naksir cewek ABG?. Siapa?. Si Farah? Tetangga sebelah yang masih SMP tapi centilnya setengah mati itu?. ah, nggak mungkin, Oom-ku nggak suka cewek kecentilan, soalnya dia nge-fans sama Zaskia Mecca. Atau Rani? Anaknya pak Hasan yang kelas satu SMU?. Apa mungkin? Memang sih, Rani cantik banget, sering terlihat ngobrol juga sama Oom Indra, tapi Oom Indra malah agak cuek kalau ngomong sama Rani, malah terkesan agak menghindar. Tapi bisa jadi, karena Oom merasa minder karena sudah merasa tua terus takut jatuh cinta sama Rani? Bisa aja kan? Tapi aku jadi merasa aneh. Kalau Rani jadi tanteku? Ihhh! No way! Bisa-bisa dia tinggal di rumah ini juga dong, padahal selama ini aku agak sebel sama Rani, soalnya kalau Fegan mampir ke rumah, Rani agak keganjenan sama Fegan. Amit-amit deh, jangan sampai Rani jadi tanteku tapi masih rebutan Fegan sama aku!.
“Vie, Oom mu sudah bangun?”, tanya bunda. “Belum Bun, kayaknya masih kecapekan tuh, semalam dia lembur”. “Ya udah, toh acaranya nanti siang, kalau jam sembilan lewat Oom mu masih tidur, bangunin aja ya, bunda sama ayah ke rumah tante Iin dulu, ambil baju jahitan”. “Ya Bun”. Aku bermaksud menuju ruang tengah dan nyalain TV, sedikit menghibur hati. Ternyata kak Nisya udah di ruang tamu. “Hari minggu kok udah mandi en rapi banget kak?”, tanyaku. “Katamu nanti kita makan siang di Quality?”. “Oh iya, kakak mau ikut? Asyik, jadinya aku nggak bete en jadi obat nyamuk!”, aku merasa bersemangat dan memutuskan untuk segera mandi.
Sesudah mandi, rapi dan sedikit dandan, kugedor kamar Oom Indra. “Oom, bangun, udah siang nih, kita mo makan-makan masa lupa?”. Tak lama wajah kusutnya nongol dari balik pintu. “Cerewet banget sih Vie, kepala Oom pusing nih”. “Makanya mandi, ntar pusingnya ilang, kan mau ketemu cewek cakep, oh ya, kak Nisya juga mo ikut, kita dukung Oom sepenuhnya!”. “Nisya ikut?”, Oom kelihatan kaget. “Ya iyalah, kemarin aku yang ajak, daripada aku jadi obat nyamuk, Bunda sama ayah pasti asyik ngobrol sama ortunya kak Anna, terus Oom pasti ngobrol juga sama kak Anna, aku nggak mau dong ngobrol sama lantai, jadi kak Nisya kuajak, udah deh, sono gih mandi, lalu dandan yang rapi!”. Oom Indra mengerdikkan bahu, “Iya deh...”, gumamnya.
Satu jam kemudian si Oom keluar kamar dengan dandanan yang lain dari biasanya, kali ini nggak cuek pakai kaos oblong hitam kesayangannya plus jeans belel favoritnya waktu memimpin demo kenaikan harga minyak saat dia mahasiswa, tapi kemeja kerja warna hitam dan dasi perak, sok millenium banget, tapi umurnya jadi tambah muda lima tahun. Heran, ke mana perginya cambang dan kumis si Oom?.
Sepintas Oom Indra jadi mirip Bang Arka, sepupuku yang kuliah semester akhir di UGM, malah lebih ganteng. Dia nggak lagi mirip orang Taliban nyasar, dengan wajah seramnya. “Nah, gitu khan ganteng Oom, jadi tambah muda lho”, ledekku. “Baru tahu ya, kalau Oom kamu ini guanteng?”, katanya menyombong. Idiih! Jadi ngerasa rugi muji-muji dia. “Nggak ngerjain Tesis Nis?”, tanya Oom Indra sama kak Nisya seraya duduk di sampingku. “Udah selesai, besok tinggal sidang, doain ya Oom”. “Pasti, kalau melihat kerjaanmu, oom yakin kamu sukses, udah punya rancangan pengen kerja di mana?”. “Belum, tapi sahabat ayahku menawariku magang di perusahaannya sebagai Programmer, kemungkinan, dua bulan lagi aku pindah ke Bandung”. Aku tersentak mendengar ucapan kak Nisya. “Secepat itu kak?”. “Itu kalau kakak bisa wisuda bulan depan Vie, doain aja ya”. “Yah, kak Nisya, kenapa nggak nyari kerja di sini aja sih, kita bisa tinggal bareng terus”. Kak Nisya tersenyum manis. “Ada perjumpaan pasti juga ada perpisahan Vie, kamu pun selamanya nggak akan tinggal di sini kan kalau suatu hari nanti menikah sama Fegan?”. Aku menoleh pada Oom Indra. “Nggak juga, kalau Oom Indra nikah sama Mbak Anna nanti, si Oom bakal keluar dari sini terus kamar si Oom buat Fegan, ya nggak oom?”. Oom Indra menjitak kepalaku sebagai jawabannya. “Enak aja, si monster kecil itu mau menempati kamarku? No way! nanti kusuruh ayahmu buatin kandang buat Fegan!”.
Tak lama bunda dan ayah datang. “Kebetulan sudah pada siap, ayo kita berangkat!”, kata bunda saat melihat kami berkumpul di ruang tamu. Aku merasa hari ini sangat cerah, tapi Oom ku kelihatannya nggak sependapat. Beberapa kali dia terlihat menghela nafas berat. “Tegang ya oom?”, godaku. Oom Indra hanya diam. Ternyata bukan hanya Oom Indra yang lesu, kak Nisya juga. Aneh! Mereka malah asyik memandang keluar kaca mobil, kebetulan aku duduk di tengah-tengah mereka. Untungnya tak lama kemudian kami sudah sampai tujuan.
Ternyata kak Anna dan keluarganya sudah menunggu. Kak Anna kelihatan anggun dengan jilbab biru mudanya. Tapi bajunya nggak matching sama Oom Indra yang malah terlihat serasi dengan kak Nisya yang memakai sweater abu-abu. “Silahkan pak Adi...”, ayah kak Anna mempersilahkan kami sekeluarga duduk. “Sudah lama pak Anton?”. “Belum, kami juga baru sampai”, pak Anton memandang Oom Indra, kayaknya setuju kalau si Oom jadi mantunya. Wah, tiba-tiba hatiku merasa sedih, memang sih, Oom Indra kadang-kadang reseh, nyebelin, suka ngebos kalau di rumah, nyuruh ini-itu, cerewet masalah makanan, bahkan telor ceplok bikinanku bisa bikin dia ngomel karena kurang matang, tapi rumah bisa sepi dong kalau dia nikah nanti, nggak ada lagi yang ngerecokin aku, ngomelin aku, mungkin aku akan rindu siulan paginya dan derum motor balapnya. Tapi, si Oom kayaknya juga nggak demen dijodohin, dari tadi manyun terus dan hanya menjawab pertanyaan pak Anton dengan kalimat pendek. “Ya pak”. “Begitulah Pak...”. “Semoga aja Pak”.
“Menurutmu, Anna bagaimana?”, tanya pak Anton. “Cantik Pak”. “Yah, siapa tahu kalian berjodoh, atau, kalau kalian cocok, gimana kalau kita langsung tentuin tanggalnya saja?”. Digoda seperti itu, kak Anna tertawa, sementara oom Indra hanya memasang wajah datar. Ayah yang ngelihat gelagat acara ini bakalan gagal, segera menyodok kaki Oom Indra. “Sepertinya Anna sesuai dengan tipe kamu kan Ndra?”, tanya ayah. Oom Indra nyengir kesal lalu berdehem kencang. “Aduh, sebentar yaa, saya mau ke belakang dulu”, katanya sambil bangkit dari duduknya. Busyet dah, jangan-jangan si Oom mau kabur?. Ayah memberi isyarat padaku untuk mengikuti Oom Indra.
“Oom mau kabur ya?”, tanyaku sambil menjajari langkah kaki oom Indra yang panjang. “Nggak!”. “Kenapa oom kelihatannya nggak tenang tadi? Kalau nggak suka sama kak Anna, Oom harusnya nolak pertemuan ini setelah melihat foto dan biodatanya, kenapa sekarang malah kabur?”. “Oom nggak kabur!”. “Tapi oom berusaha menghindar, kenapa Oom?”, tiba-tiba Oom Indra menghentikan langkahnya dan memandangku tajam. “Semua gara-gara kamu, tau!”. Aku kaget. Belum pernah kulihat sorot mata Oom Indra berkilat seperti itu. “Kenapa? Apa salah Silvie?”. Oom Indra mencengkeram lenganku. “Kenapa kamu ajak Nisya? Tadinya Oom sudah mantap menerima Anna, tapi Oom nggak bisa karena...”. Oom Indra nggak bisa meneruskan kata-katanya. Semula aku tidak mengerti maksudnya, tapi tiba-tiba aku teringat puisi yang kutemukan tadi pagi. Jangan-jangan.... “Oom suka sama kak Nisya?”. Aku ternganga. Jadi, selama ini Oom Indra suka sama kak Nisya?. Kenapa aku nggak menyadarinya? Memang selama ini mereka akrab, tapi kukira Oom Indra menganggap Kak Nisya sebagai keponakannya juga. Mereka sering berdebat, bertengkar, adu argumen, seperti aku dengan Oom Indra. Aku nggak pernah berfikir kalau Oom Indra bisa menyukai kak Nisya. “Kenapa Oom nggak bilang dari awal? Nggak ada salahnya kok kalau Oom suka sama kak Nisya”. “Nisya itu terlalu muda buat Oom Indra, Vie, lagipula dia punya teman akrab seusianya, dia... dia sering curhat sama Oom tentang temannya, Tyo, minta pendapat Oom tentang Tyo, dia masih anak-anak, kayak kamu!”. “Tujuh tahun bukanlah jarak yang nggak bisa oom jadikan alasan untuk mencintai kak Nisya, bunda sama ayah saja jaraknya enam tahun, bahkan nabi Muhammad SAW sama Bunda Khadijah lebih tua Bunda Khadijah kok, dalam agama nggak ada larangannya Oom!”. “Ya ampun Vie, Nisya tuh sudah menganggap Oom seperti pamannya, Oom nggak bisa menghianati kepercayaannya”.
“Kepercayaan siapa?”, dari belakangku terdengar suara bening seseorang. Aku menoleh. “Kak Nisya?”. Mungkin dia mendengar banyak pembicaraan kami tadi. Gadis cantik itu memandang Oom Indra dengan sedih. “Aku nggak pernah menganggap oom seperti pamanku, tak pernah, tahukah kamu, selama ini aku merasa sedih harus memanggilmu dengan sebutan Oom? Tahukah kamu selama ini aku....”.
“Selama ini aku banyak belajar agar aku bisa mengejar pengetahuan yang kau miliki? Agar aku bisa beradu argumen denganmu, memahami yang kau pikirkan dan menghapus semua jarak diantara kita agar kau tidak menganggapku seperti anak kecil?. Aku ingin mendapat pengakuan darimu bahwa aku bisa mengimbangi pemikiranmu agar kau berfikir aku bisa mendampingi kamu?”. Oom Indra memandang Kak Nisya tak mengerti. “A.. apa maksud kamu, Nisya?”. Kak Nisya menyeka air matanya dan berkata pelan. “Aku ingin kamu menyadari, aku mencintaimu, sejak pertama kali kita bertemu...”.
“Tapi, bagaimana dengan Tyo?”. “Aku sering curhat tentang dia supaya kamu cemburu, aku ingin tahu apakah kamu memiliki rasa yang sama kepadaku, tapi kamu nggak pernah menunjukkannya, kamu malah mendukung Tyo menjadi kekasihku, waktu kau berkata seperti itu, rasanya harapanku sudah habis, kau hanya menganggapku anak kemarin sore yang nggak sepadan untuk kehidupanmu...”. Oom Indra kelihatan shock mendengar pengakuan kak Nisya.
“Jadi selama ini ... kita memiliki perasaan yang sama?”, oom Indra mendekati kak Nisya, tangannya terulur ke wajah kak Nisya dan menghapus air mata gadis itu dengan lembut. Aku seperti melihat adegan film romantis. Mereka berdua saling memandang dan...
“Woi!. Jadi, acara perjodohannya di batalin nih?”, teriakku.
Dari pandangan mata Oom Indra, kelihatan banget kalau dia nggak menginginkan kehadiranku di sini. “Aku sih pengen banget pergi dari sini biar kalian bisa saling mengutarakan isi hati, tapi kak Anna gimana dong?”. Oom Indra meraih tangan Kak Nisya lalu menggandengnya menuju Restoran. “Baiklah, acara perjodohannya tetap akan berlangsung, tapi calon pengantin perempuannya diganti”, katanya kalem. Aku hanya bisa mengerdikkan bahu. “Terserah deh!”.
---
Nggak disangka, hanya dalam hitungan bulan, aku melihat Oom ku tersayang memakai setelan jas hitam rapi dan menggandeng seorang gadis cantik menuju ruang akad nikah. Ruang akad Masjid Agung ini akan menjadi saksi kebahagiaannya. Aku terharu melihat adegan akad nikah oom ku, akhirnya, ternyata kejujurannya berbuah manis. Aku memandang sosok jangkung berkacamata en berkulit item di sampingku. Bagaimana dengannya? Apakah dia sudah siap dengan acara seperti ini?. Bocah nakal itu malah terlihat agak bosan dan mengantuk. “Feg, kapan ya giliran kita?”. Fegan memandangku tajam, hatiku berdebar, agaknya dia akan mengatakan sesuatu yang serius. “Aduduh Vie, bulan ini aku ujian, musti nyiapin bahan praktikum, belum lagi harus memperbaiki laporanku beberapa minggu lalu, pusing deh mikirin gituan!”, komentarnya. Yah, satu lagi cowok yang punya sikap kayak Oom Indra. Giliran aku yang manyun!. “Dasar Cowoooook!!! Nyebelin!”.
Sabtu, 23 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar